God’s Most Precious Gift: Forgiveness

Sun, 05 Oct 2014 04:17:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: God’s Most Precious Gift: Forgiveness

Nats: Efesus 2:1-7

 

Di sepanjang jaman kisah “Anak yang Hilang” merupakan satu kisah yang begitu menyentuh hati orang yang membaca dan mendengarnya. Dalam kisah itu kita bisa melihat seorang ayah yang telah diperlakukan dengan tidak adil, yang dengan kurang ajar anaknya meminta separuh dari harta kekayaannya tanpa ada rasa terima kasih untuk setiap apa yang ayahnya sudah berikan baginya. Anak itu pergi dan melakukan berbagai macam kesalahan dan keputusan-keputusan yang tidak benar dalam hidupnya dan akhirnya dia harus menanggung semua konsekuensi dari perbuatannya. Seluruh hartanya habis tandas, bahkan harkat martabat diri hilang lenyap diganti dengan perlakuan hina dari masyarakat. Walaupun anak itu sudah berbuat salah kepada ayahnya tetapi pada waktu dia datang kembali dengan penuh penyesalan dan pertobatan, tangan ayahnya dengan terbuka menerima dan mengasihinya. Kisah itu menyentuh hati kita, sebab di situ Tuhan kita Yesus Kristus memberi gambaran bagaimana cinta Allah mengasihi orang yang berdosa.

Lukisan dari kisah ini boleh mewakilkan kepada kita satu sisi dari hidup manusia yang berdosa yang membutuhkan belas kasihan Tuhan. Kita mengaku kita telah bersalah, kita berbuat banyak kesalahan. Kita memohon belas kasihan Tuhan kepada kita, dan kita percaya tangan Bapa terbuka lebar menjangkau orang-orang yang di dalam keberdosaan seperti itu.

Kita mungkin mempersalahkan situasi di sekitar yang memaksa dan mendorong kita akhirnya berbuat kesalahan seperti itu. Kita juga bisa mempersalahkan orang tua yang salah asuh terlalu memanjakannya, mungkin orang itu tidak pernah dianggap keliru dan salah, apa saja yang dia minta selalu diberi, sehingga hidup dengan tidak benar dan mengambil keputusan semaunya sehingga berantakan hidupnya. Kita juga mudah untuk mengampuni orang yang seperti itu, terutama kalau itu adalah anak kita sendiri. Kita mungkin terluka tetapi setidak-tidaknya dia tetap anak kita. Apalagi dia sudah jatuh dan kita kasihan melihat keputusan-keputusan yang diambilnya tidak bijaksana dan langkah-langkahnya yang keliru telah menciptakan berbagai kerumitan dan hidupnya jadi berantakan. Kita tidak tega dan kita ikhlas mengampuni kesalahan orang-orang yang telah berbuat salah seperti itu, karena mereka patut dikasihani.

Namun sayang sekali sisi koin dari dosa seringkali menipu sehingga kita menganggap diri sebagai korban dalam situasi, dosa seolah-olah aktif dan kita dipermainkan olehnya. Kita tidak melihat sisi yang lain dari manusia yang berdosa yaitu sebenarnya kita itu juga adalah pelaku-pelaku biang kerok dari dosa itu. Kita yang aktif berinisiatif, kita yang merencanakan hal itu.

Alkitab tidak hanya bicara orang yang berdosa patut dikasihani oleh Allah. Dalam bagian ini kita menemukan satu bagian yang mungkin membuat hati kita terganggu karena di sini Alkitab mengatakan kita bukan orang-orang yang patut dikasihani tetapi orang-orang yang patut dimurkai oleh Allah. Ayat 3, “Sebenarnya kita juga terhitung di antara mereka… Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang patut dimurkai.” Di sini kita melihat sisi lain kita patut menerima segala konsekuensi dan hukuman Allah karena kita bukan saja korban dari situasi, kita bukan saja korban penipuan dari kelicikan Setan sehingga kita mengambil langkah-langkah yang keliru dan salah yang tidak kita maksudkan dalam hati. Tidak. Ayat ini bicara manusia berdosa itu juga pelakunya, biang keroknya, conceptor-nya, collaborator-nya dosa itu sendiri. Dan pada waktu kalimat “kita sepatutnya dimurkai,” saya percaya tidak mudah bagi kita, bahkan mungkin hampir kecil kemungkinan kita rela mengampuni orang-orang yang secara aktif berinisiatif menjadi biang kerok pencipta kerusakan dan kerugian akibat dari perbuatannya.

Ada orang yang berbuat dosa dengan keji menculik, memperkosa, menjual mereka menjadi budak seks, menyiksa dan membunuh orang yang tidak berdaya membela dirinya. Ada orang-orang dalam perdagangan narkotik dengan keji tidak mau melihat air mata kesedihan dari keluarga korban.

Lagu “Amazing Grace” yang indah dan agung diciptakan oleh seorang pedagang, yang mendapat uang dari menculik dan mengangkut orang-orang yang tidak berdaya, yang menyaksikan dengan pasif awak-awak kapal ramai-ramai memperkosa dan mempermainkan gadis-gadis muda yang tidak punya masa depan lagi. Saat Tuhan datang kepadanya, di situ dia sadar betapa berdosa dan jahatnya dia. Dia bukan korban dalam situasi keberdosaan. Dia adalah pelaku. Bagaimana mungkin Tuhan mau mengampuni orang seperti ini?

Ada seorang bapak bercerita, puterinya yang sangat dia kasihi menikah dengan seorang pria dari agama lain. Belum sampai 5 tahun, suaminya lari dan menikah dengan wanita lain. Puterinya dan cucunya dibiarkan hidup terlantar begitu saja. Lalu tidak lama setelah menikah dengan wanita itu, bekas menantunya lari lagi dengan perempuan lain, seorang wanita Kristen dan bekas menantunya ini juga ikut menjadi orang Kristen dan satu gereja dengan dia. Apakah Tuhan masih menerima dan mau mengampuni orang seperti itu? kata sang ayah mertua. Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dan akan lebih sulit lagi saat sang ayah mertua menyaksikan betapa bahagia keluarga bekas menantunya bagaimana Tuhan bukan saja mau menerima orang seperti ini tetapi juga memberkatinya dengan keluarga yang bahagia. Dia sulit menerima bahwa pertobatan pria itu otentik. Dia lebih sulit lagi menerima kenapa Tuhan mau menerima dia. Hatinya mungkin akan sedikit lega kalau pendeta mau menegur dan mengutuk orang itu.

Kalau kita melihat orang-orang ISIS dengan sangat keji memancung kepala orang yang tidak berdaya dan menyiarkannya kemana-mana, layak orang bilang, neraka pun tidak pantas bagi mereka dan kita pun sulit mengampuni orang-orang seperti ini. Kita lebih mudah mengampuni orang yang perlu belas kasihan karena dia telah ditipu oleh dosa, seperti kisah anak yang hilang yang sadar dan berbalik dari kesalahannya. Tetapi orang-orang yang dengan aktif berinisiatif melakukan perbuatan dosa dengan jahat dan keji kita anggap memang patut untuk dimurkai Tuhan. Kita anggap mereka tidak layak menerima tawaran Injil keselamatan untuk mereka berbalik dan bertobat.

Puji Tuhan, Alkitab tidak bicara kasih Tuhan hanya menjadi kasih yang hanya mengampuni orang-orang yang patut dikasihani oleh Tuhan. Dia juga memberikan pengampunanNya, kasihNya dan cintaNya kepada orang-orang yang patut dimurkai olehNya, yang dengan sengaja melawan dan menghina Tuhan, yang dengan berani melawan Tuhan, yang melakukan hal-hal yang keji di luar batas perikemanusiaan. Orang-orang seperti itu pada waktu mereka berbalik bertobat dan sadar akan segala dosanya, orang-orang yang patut untuk dimurkai, juga adalah orang-orang yang dikasihi dan dicintai oleh Tuhan.

Sebenarnya kita juga tidak layak untuk menerima akan kasih itu. Kita hanya merasa kita sedikit lebih baik daripada orang-orang itu, tetapi di mata Tuhan kita tidak ada bedanya dengan mereka. Kita juga telah melawan Tuhan dengan tindakan, perkataan dan pikiran kita; kita mempersalahkan situasi dan lingkungan seolah-olah kita hanyalah korban yang diperlakukan dengan tidak adil oleh dosa yang menipu kita.

Paulus tidak memakai kata ‘orang-orang yang patut dimurkai’ hanya bagi mereka, tetapi dia memakai kata ‘kita semua.’ Saat kita semua berdiri di hadapan Allah yang suci, Allah yang kudus, Allah yang indah, Allah yang baik itu akan nampaklah siapa diri kita. Kita semua patut sepatut-patutnya menerima cawan murka Allah tertuang di atas kepala kita. Puji Tuhan! Oleh kasih karunia demi kasih karunia kita terima di dalam Kristus, bukan sebab jasa perbuatan baik kita, bukan sebab kita yang mau, bukan sebab kita terlebih dahulu datang kepada Tuhan. Tetapi karena di dalam Yesus Kristus Dia memberikan kelimpahan kekayaan keselamatan itu kepada engkau dan saya.

Kita datang ke rumah Tuhan sebab kita tahu kita telah mendapatkan hubungan yang baru dan total dari Tuhan. Kita dipulihkan olehNya. Bukan karena kita lebih baik daripada orang-orang lain, tetapi pada waktu Allah melihat kita, Dia melihat Sang Mediator yang telah memulihkan hubungan kita dengan Bapa di surga yaitu Yesus Kristus. Di dalam kasihNya Allah mengampuni kita, menghidupkan kita kembali di dalam Kristus sekalipun kita sudah mati oleh dosa.

Kita harus menghargai Kristus, menghormati keindahan kemuliaan kekayaan atas kayu salib itu bagi engkau dan saya sehingga kita boleh hadir pada hari ini. Ketidak-layakan kita di hadapan Tuhan bisa dilayakkan sebab Kristus sudah menjadi penebus keselamatan bagi engkau dan saya. Waktu kita datang kepada Tuhan hari ini kita tidak boleh mengabaikan core penting ini yaitu tidak ada authentic relationship yang terjadi sebelum diawali dengan pengampunan. Tidak ada relasi yang indah, relasi yang asli, yang sungguh dan otentik boleh kita dapatkan sebelum diawali dengan pengampunan. Kita manusia yang berdosa pada waktu menjalani sebuah relationship dengan orang yang lain, dengan pasangan, dengan teman sahabat, dengan siapa saja, ini konsep yang harus kita taruh sebab tidak akan bisa muncul satu relasi yang baik dan indah kalau tidak ada forgiveness. Forgiveness itulah yang membuat kita mutual satu dengan yang lain. Kita tidak akan tuntut orang terus-menerus dalam satu relasi karena kita tahu kita juga berbagian di dalam kesalahan dan kekeliruan dalam relasi itu. Itulah sebabnya kita mengatakan, “Saya salah, maafkan saya.” Orang itu boleh tidak perlu mengampuni, kita boleh perlu tidak mengampuni kalau orang itu telah melampaui dua syarat ini: pertama, kalau kita bisa reverse dan tipp-ex semua kesalahan yang kita telah perbuat sebelumnya. Tetapi apakah hidup kita bisa seperti itu? Kita boleh tidak mau mengampuni dan kita boleh tidak meminta maaf kalau kita sendiri bisa reverse dan tipp-ex apa yang sudah lewat. Pengampunan bukanlah soal kita bisa merubah apa yang sudah lewat di belakang. Pengampunan adalah membuka mata kita lebih luas melihat apa yang perlu kita lakukan di depan. Syarat kedua, sdr boleh tidak merasa perlu mengampuni dan merasa tidak perlu mengucapkan maaf dan penyesalan kalau “gigitan” itu terjadi tidak memberi bekas. Bisa jadi orang sudah lupa bagaimana sakitnya gigitan itu tetapi pada waktu dia meraba kembali bekas gigitan itu, dia bisa kembali ingat betapa sakitnya apa yang dia alami mungkin sepuluh tahun yang lalu. Setiap perbuatan dosa dan tindakan kita tidak perlu minta ampun kalau tidak mendatangkan bekas dan luka kepada orang. Tetapi kita hidup di dalam dunia yang kita tidak bisa membalik waktu atau mundur. Hidup ini akan terus berjalan dan waktu akan maju ke depan, kita tidak akan bisa membalik apa yang sudah terjadi dan tidak bisa merubah yang sudah lalu. Yang bisa kita katakan adalah saya mau memperbaiki apa yang di depan.

Pemulihan hubungan kita manusia yang berdosa dengan Allah Pencipta diawali dengan Allah mengampuni kita. Dan pada waktu Allah mengampuni kita mari kita lihat pattern ini untuk kita juga belajar mengampuni orang lain. Waktu Tuhan mengampuni dosa kita, Paulus sebutkan kata itu “you are condemned,” kita patut dimurkai. Kita adalah pelaku, pikiran kita yang jahat dan durhaka, Tuhan tidak tutup dan sembunyikan di belakang. Pengampunan yang Tuhan beri kepada kita harus lebih dahulu dimulai dengan menyebut kesalahannya.

Umum orang bilang, minta maaf belum sungguh-sungguh minta maaf kalau orang yang bersalah mengatakan, “Kalau kamu rasa saya salah, saya minta maaf…” atau “Maafkan saya jika saya sudah salah.” Dengan kalimat seperti itu berarti dia belum tahu salah dia dimana. Pengampunan terjadi dengan menyebut kesalahan terlebih dulu dan kesalahan itu patut dihukum. Itulah sebabnya pada waktu Alkitab berkata Allah mengampuni kita melalui kematian Yesus Kristus, di atas kayu salib Dia menanggung segala dosa kita. Kenapa Allah tidak langsung saja mengampuni manusia tanpa perlu mengorbankan Yesus Kristus? Roma 3:23 berkata upah dosa itu maut, Allah perlu terus mengingatkan kita ada satu peristiwa kematian Anak Allah dimana upah dosa kita ditanggung olehNya. Segala penghinaan, segala ejekan, segala penyiksaan sampai kepada kematian ditanggung olehNya. Tidak ada sifat dosa manusia yang tidak muncul menjadi penyebab membawa Yesus Kristus mati di atas kayu salib. Ada dosa atas nama ciuman pengkhianatan Yudas Iskariot. Di balik tindakan ekspresi cinta dan ciumannya tersimpan kebengisan daripada dosa. Yudas Iskariot melakukan hal itu. Ada dosa menjual orang yang tidak pernah berbuat salah dalam hidupnya, atas dasar uang yang tidak seberapa manusia bisa melakukan tindakan keji seperti itu.

Ada dua struktur organisasi berbenturan dan saling berkolaborasi terjadi pada waktu penyaliban Yesus Kristus, dua struktur itu adalah agama dan politik. Yesus Kristus mati di kayu salib karena politik dan agama. Atas nama agama dan atas nama praktik politik sebuah negara, manusia bisa berbuat dosa dan kekejian apapun dan bisa langsung di-“stempel” sebagai tindakan yang benar dan mulia. Atas nama agama, dosa kekejian bisa distempel sebagai pahala masuk surga. Atas dasar politik, kerakusan bisa distempel sebagai kebenaran. Agama bisa membuat orang seolah membela kebenaran dan kemurnian agama membunuh orang lain. Inilah tipu muslihat bertopeng agama dari pemimpin-pemimpin agama, meskipun tidak melakukan aksi cuci tangan, mereka tidak mau ikut-ikut dianggap berbagian dengan kejahatan itu, sehingga mereka mengalihkannya kepada para saksi dusta. Cari orang lain untuk berdusta bagi mereka. Dan minta orang lain untuk membunuh orang itu. Mereka tidak mau agama yang dipersalahkan. Tetapi Pilatus juga “pintar,” Pilatus juga tidak mau politik dipersalahkan maka dia terbuka cuci tangan di hadapan semua orang.

Janji setia sampai rela mati akhirnya sampai di kayu salib terbukti hanya sebuah janji palsu. Petrus dan murid-murid yang pernah menyatakan hal itu kepada Yesus akhirnya lari bersembunyi jauh-jauh. Orang-orang yang tahu penangkapan itu suatu tindakan yang salah tetapi mereka berdiam diri demi posisi dan keselamatan diri, tidak berani membela kebenaran, itu terjadi di kayu salib.

Di dalam ketidak-berdayaan, dosa tetap dosa. Di dalam ketidak-berdayaan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengakui betapa diri patut dikasihani dan tidak ada kebanggaan yang tersisa dari dirinya. ‘Aku adalah seorang berdosa, selama ini aku telah melakukan banyak hal yang tidak layak di hadapan Tuhan.’ Tetapi justru sebaliknya orang itu merasa dia tidak layak menerima hukuman, bahkan sampai detik-detik terakhir pun dia tetap tidak mau mengakui kesalahan dan dosanya. Kita melihat itu pada diri penjahat yang disalib di sebelah Yesus.

Tindakan mencaci-maki, meludahi, memukul, menghina, ini semua tindakan yang mengekspresikan hati manusia berdosa yang ‘enjoy the sufferings of others.’ Kita menemukan teriakan kegilaan dan histeri massa seperti itu.

Tindakan penyiksaan dengan cambuk yang merobek daging, paku yang tajam menusuk, tombak yang menghujam, mahkota duri yang merajam kepala, segala kekejaman yang bisa diciptakan dan dibuat dengan tujuan menghasilkan sakit yang paling maksimal kepada orang yang sudah tidak berdaya, semua bisa kita lihat pada peristiwa kayu salib.

Semua itu bisa kita lihat terjadi pada peristiwa kayu salib, untuk memberitahukan kepada kita sebut satu-persatu, itu yang dipaku di kayu salib, itulah yang menghantar Yesus Kristus ke kayu salib, itulah dosa-dosa kita yang disalibkan bersama-sama dengan Dia. Kayu salib bukan accident atau hal lain, kita tidak bisa menemukan kebengisan daripada dosa di situ. Tetapi kalau kita membaca Alkitab baik-baik kita bisa lihat, pengampunan terjadi sebab Allah sebut dan hukum dan menyatakan dosa sebagai dosa.

Kita baru menikmati pemulihan dari Tuhan jikalau kita menyadari aspek ini. Tidak akan ada hubungan yang otentik dengan Allah jikalau tidak diawali dengan forgiveness. Dan pada waktu kita berdiri di hadapanNya, kita sebut satu-persatu semua bagian dari hidup kita yang tidak benar dan tidak layak di hadapan Tuhan, karena itu dosa adanya.

Kedua, pengampunan itu benar-benar terjadi dalam hidup kita ketika kita menyadari memang pengampunan itu adalah grace, a gift, anugerah, pemberian. Sebab kita yang diampuni ini sama sekali tidak punya hak untuk menuntut kita harus diampuni. Pengampunan itu satu pemberian cuma-cuma dari Tuhan, sebab dari dosa kita itu yang layak kita terima adalah murka dan hukuman Allah. Forgiveness is not our right. Forgiveness is grace. Forgiveness is a gift. Dan pada waktu kita menyatakan itu kepada orang lain, kita jangan bilang “Enak saja minta maaf,” memang benar tidak ada hak dia untuk mendapat maafmu, itu adalah pemberianmu.

Itulah sebabnya di dalam bagian ini Efesus 2:1-7 engkau dan saya membaca berkali-kali Paulus menyebutkan kita mendapat anugerah, belas kasihan, grace dan kita mendapatkannya dengan berlimpah-limpah. Grace yang ditunjukkan kepada kita di dalam dan melalui AnakNya yang kekasih, Yesus Kristus. Kita menerima forgiveness dari Tuhan, kita jangan lagi takut, gelisah dan kuatir bahwa Tuhan marah dan tidak cinta dan tidak baik kepada kita. Dia mau memulai dan menjalankan relasi yang otentik dan benar dan indah bersama engkau dan saya yang Dia awali dengan “Aku mengampunimu.” Dan pada waktu Dia mengampuni kita, kita berdiri di hadapanNya mengaku “Benar, Tuhan, aku adalah orang yang berdosa. Ini aku. Ampunilah dosaku.” Di situ kita bersyukur menerima pengampunanNya sebagai anugerah dari Tuhan bagi kita. Mari kita datang menghampiri Dia, tidak ada hal yang bisa kita banggakan dan simpan, kecuali hanya satu syukur karena Yesus Kristus sudah membayar tuntas upah dosa kita di atas kayu salib.

Kita teduh di hadapan Tuhan, kita terima firmanNya, kita menghargai keselamatanNya, kita bersyukur untuk penebusanNya. Kita dimateraikan sebagai milik Tuhan selama-lamanya. Kelak kita akan menikmati kasih karunia kekayaan Kristus yang telah disediakanNya pada waktu kita berdiri di hadapanNya.(kz)