Apa Harta yang Paling Bernilai Bagimu?

Sun, 19 Oct 2014 11:21:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt.DR. Buby Ticoalu

Tema: Apa Harta yang Paling Bernilai Bagimu?

Nats: Matius 6:19-24

Tema dari Matius 6:19-24 adalah tema yang kadangkalaagak sensitif, tetapi kalau kita berbicara tentang harta, itu memang menarik. Tetapi pada sisi yang lain yang paling berbahaya adalah bukan soal hartanya tetapi persoalannya adalah apabila yang disebut dengan harta itu menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Dan bukankah Yesus Tuhan mengatakan dengan sangat jelas dalam Lukas 12:15 “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap berbagai ketamakan”? Ini dua kata imperativeyang digunakan oleh Tuhan Yesus, ‘berjaga-jagalah dan waspadalah,’ berarti menunjukkan sesuatu yang sangat serius. Apakah seks yang tidak pada tempatnya adalah dosa? Dosa. Dan sederet bagiannya tentu kita tahu tentang masalah dosa, dan dosa, dan dosa, itu banyak. Tetapi secara luar biasa, penekanan pengajaran Tuhan Yesus tentang masalah harta dan keserakahan itu sangat dominan, walaupun sekali lagi soal seks kalau tidak pada tempatnya itu adalah dosa yang sangat serius tetapi itu tidak mendominasi pengajaran Tuhan Yesus dibandingkan dengan soal ketamakan dan harta.

Waktu kita membaca Matius 6:19-24, Tuhan Yesus mengatakan jangan kamu mengumpulkan harta di bumi, mengapa saya katakan ini adalah sesuatu yang sensitif? Karena biasanya kita hanya berpikir soal harta itu semata-mata soal uang. Bukankah perintah Yesus untuk menjual segala milikmu sebelum mengikut Dia, itu bukan saja ditujukan kepada orang yang kaya tetapi juga kepada murid-muridNya yang notabene perak dan emas tidak ada pada mereka? Kita lihat kontrasnya bukan? Berarti itu bukan semata-mata berbicara tentang masalah uang, tetapi apa yang menjadi prioritas, yang menjadi utama dalam kehidupan kita, itu yang menjadi penekanan yang disebutkan dengan harta dalam kehidupan kita.

Pada waktu kita membaca bagian ini ada sesuatu yang kita rasakan sepertinya tidak pas. Kalimat “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” langsung disambung dengan kalimat “mata adalah pelita tubuh.“Apa maksudnya? Apa hubungannya di sini? Kata “mata” digunakan dua kali dalam Injil Matius yang bisa kita dapati dalam konteks yang sepertinya berbeda sekali tetapi sebenarnya saling melengkapi. Matius 20:15 berkata, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku atau iri hatikah engkau karena aku murah hati…” Kita tahu ini adalah cerita perumpamaan bagaimana sang Tuan memberikan upah satu dinar bukan saja kepada pekerja yang mulai bekerja sejak pagi hari tetapi juga kepada pekerja yang hanya bekerja tidak lebih daripada satu jam saja hari itu. Perhatikan, mengapa pekerja yang bekerja mulai dari pagi hari complain dan bersungut-sungut padahal dia mendapat upah satu dinar sesuai dengan kesepakatan dengan sang Tuan? Menarik sekali, sang Tuan ini membayar upah mulai dari pekerja yang datang paling belakang lebih dulu. Coba kita balik posisi apabila orang yang bekerja dari pagi hari mendapatkan upah mereka lebih dulu, bukankah dia akan pulang dengan nyanyian haleluya, puji Tuhan? Tetapi kenapa kemudian terjadi complain? Karena dia melihat pekerja yang baru datang belakangan mendapatkan upah satu dinar sehingga pekerja yang datang dari pagi mengira dia akan mendapatkan lebih daripada itu. Maka dia menganggap sang Tuan itu tidak fair ketika ternyata dia mendapat jumlah yang sama dengan mereka. Kelihatannya sepertinya demikian. Persoalannya salah satunya adalah karena dia melihat. Coba kalau dia tidak melihat, barangkali tidak ada iri hati. Jadi intinya adalah soal memandang. Itu sebab pada waktu dikatakan “atau iri hatikah engkau…” kata ‘iri hati’ di sini sama dengan kata ‘evil eye’ dalam Matius 6. Artinya cara memandang, bagaimana kita memandang sesuatu dalam kehidupan kita yang menjadi prioritas. Karena memandang kita kemudian iri hati; karena memandang kita kemudian berdosa; karena memandang lalu kemudian kita membeda-bedakan orang. Dan ini adalah satu soal yang serius karena mata kita memandang harta dalam kehidupan ini, dalam pengertian secara luas adalah hal yang menjadi prioritas.

DalamMatius 13:44 Yesus mengatakan hal kerajaan surga itu seumpama harta yang terpendam.Dalam perumpamaan ini orang yang mendapatkan hal kerajaan surga itu mengerti betapa bernilainya hal itu sehingga dia rela melepaskan segala sesuatu karena dia mendapatkan yang terbaik. Bukankah ini menantang kita sudahkah melihat kerajaan surga seumpama harta? Kalau kita menemukannya, relakah kita melepaskan semua harta yang lain untuk memilikinya?

Pada waktu Yesus mengatakan ‘juallah segala milikmu’ kepada orang yang tidak punya apa-apa berarti Ia mengingatkan ada sesuatu yang menjadi prioritas di dalam kehidupan kita, kenyamanan hidup menjadi yang paling utama. Pada waktu hal itu menjadi prioritas dalam kehidupan kita, maka itu menjadi masalah.

Alkitab mengajar kepada kita dengan sangat jelas dalam 2 Korintus 4:7 “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat.” Kata ‘harta’ yang dipakai adalah sama. Harta apa yang Paulus sedang katakan di sini? Itu adalah harta rahasia berita Injil yang diterima oleh Paulus dan yang dipercayakan dalam bejana tanah liat ini. Satu hal yang sangat kontras sekali. Dalam kesementaraan dan keterbatasan fisik ini rahasia keselamatan Allah yaitu berita baik bagi dunia ini dipercayakan kepadanya menjadi satu harta yang tersimpan dalam bejana tanah liat.

Pada waktu kita melihat cara memandang Paulus itu didahului dari pertobatannya, saya melihat satu konteks yang sangat kuat sekali bagaimana Tuhan Yesus membuat dia menjadi buta pada waktu pertama kali berjumpa denganNyadan Paulus perlu dicelikkan matanya untuk melihat kebenaran hal ini, harta yang sejati ini. Pandangan matanya menguasai segala ambisi pribadinya, segala gengsi dan prestise yang dia kejar, sehingga Tuhan harus membutakan dia dan kemudian mencelikkan matanya untuk akhirnya melihat bahwa semuanya itu nothing dibandingkan dengan harta yang bernilai kekal itu. Itu sebabnya dalam Filipi 3:7 Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus…” Di situ ada satu perbandingan, sebelum dia mengenal Tuhan apa yang dia anggap sebagai keuntungan setelah dia mengenal Tuhan dia anggap rugi. Tetapi lebih lagi, di dalam ayat 8 dia katakan “…malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Itu berarti apa? Saya menafsir segala sesuatu ini adalah setelah dia mengenal Tuhan, dia sukses dalam pelayanan, dia dipakai oleh Tuhan mendirikan gereja-gereja, tetapi semua pencapaian itu bagi dia nothing. Luar biasa. Tidak ada kebanggaan yang ditonjolkannya, tetapi dia mengatakan semuanya itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus. Dia tidak mengatakan jasanya sebagai pendiri. Tidak. Dia tidak menyatakan dirinya sebagai hamba Tuhan yang dipakai oleh Tuhan menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak. Bukankah dosa yang seringkali melanda gereja itu adalah kesombongan danarogansi pendetanya?

Repotnya, tidak ada gereja yang membuat tata gereja yang melarang apabila ada orang yang jatuh dalam dosa kesombongan tidak boleh ikut serta dalam perjamuan kudus. Tidak ada. Kalau dosa perselingkuhan ada. Tetapi sombong, siapa mau ukur? Kita bilang kepada orang itu, “kamu sombong,”dia jawab, “tidak, kamu yang sombong.” Bagaimana mengukurnya? Jadi yang sombong itu ikut perjamuan kudus, padahal Alkitab mengatakan apa? Dosa seks, betul itu dosa. Mencuri, itu dosa. Namun yang disebutkan Alkitab sebagai kebencian Tuhan, apa itu? Kesombongan. Mengapa lalu kemudian boleh layak mengikuti perjamuan kudus? Silakan pikirkan.

Paulus mengatakan semuanya itu kuanggap rugi, tidak ada apa-apanya, sesuatu yang tidak dia sombongkan. Senantiasa menganggap diri hanya seorang hamba yang dipercayakan di dalam bejana tanah liat yang dia miliki, sehingga tidak ada kebanggaan apa-apa. Dan Paulus mengatakan karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku, lebih mulia daripada semua ini. Dalam seluruh tulisan Paulus, hanya di sini satu kali saja dia menyebutkan “my Lord.” Biasanya Paulus menyebut Yesus “our Lord,” Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi di sini satu-satunya kali Paulus mempergunakan kata “Tuhan-ku” saat memperbandingkan apa yang menjadi prioritas dalam kehidupannya, apa yang menjadi harta dalam kehidupannya, dia mengatakan semuanya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan-ku. Bagi saya ini adalah satu hal yang sangat-sangat dalam sekali. Pernyataan dari seorang yang sudah dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa tetapi dia tidak merasakan ada harta lain yang lebih bernilai selain daripada “my Lord” yang ada di dalam kehidupannya yang menjadi prioritas dalam kehidupannya.

Dalam Ibrani 11:24-25penulis Ibrani mengatakan, “Karena iman maka Musa setelah dewasa menolak disebut anak puteri Firaun karena dia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Musa dikatakan lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” Mengapa? Jawabnya di ayat 26, Musa menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir sebab dia mengarahkan pandangannya kepada upah, reward yang dari Tuhan. Kata “kekayaan” dan “harta” adalah kata yang sama dipakai di sini. Ini adalah satu perbandingan, berarti jelas Musa melihat penderitaan bersama dengan umat Allah, harta yang lebih daripada segala-galanya. Penghinaan karena Kristus adalah harta yang lebih dan melampaui segala kekayaan Mesir. Ayat ini sekali lagi mengingatkan kita untuk kita tidak serakah dengan hal yang bersifat sementara, tetapi justru kita mengarahkan pandangan kita kepada harta yang bernilai kekal.

Kelemahan manusia adalah seringkali ingat yang salah dan lupa yang benar; ingat yang sementara dan lupa yang bersifat kekal. Itulah kelemahan manusia sehingga kita biasanya hanya hidup dalam kesementaraan tanpa melihat harta yang Tuhan sediakan yang bernilai kekal. Ini adalah sesuatu yang perlu kita ingat di dalam kehidupan kita. Apa yang menjadi terpenting dalam kehidupan kita? Adakah harta-harta yang menjadi halangan dalam kehidupan kita, halangan dalam relasi kita dengan Tuhan? Masalah keinginan kita, masalah kehendak dosa dalam diri kita, keserakahan dan ketamakan dalam diri kita, yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Kita perlu dicelikkan dari kebutaan mata kita.

Kepada gereja Laodikia dalam kitab Wahyu 3:14-18 Tuhan Yesus menegur mereka, “Engkau berkata aku kaya dan tidak kekurangan apa-apa. Engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, malang, miskin, buta dan telanjang.” Engkau menganggap diri ok, tetapi matamu perlu diberi pelumas, perlu dicelikkan dulu. Untuk apa? Untuk dapat melihat apa yang menjadi harta yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan ini. Jadi di sini kita melihat bukan soal besar dan kecil kehidupan bergereja, tetapi yang melakukan kehendak Tuhan, yang melakukan firman Tuhan, itulah yang Tuhan kehendaki di tengah-tengah jaman ini.

Memang tidak mudah dalam kehidupan kita tetapi itulah yang Tuhan inginkan. Betapa manisnya kalau firman Tuhan menyebutkan pengenalan akan Kristus Yesus, menikmati kehadiran Tuhan dalam kehidupan ini adalah harta yang melebihi segala sesuatu.

Bukankah itu yang pemazmur Daud katakan dalam Mazmur 23:1, “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku”? Apa maksudnya? Apakah Daud tidak pernah mengalami kekurangan? Dia mengalami hidup yang sama seperti kita dengan berbagai macam tantangannya. Tetapi pada waktu dia mengatakan ‘takkan kekurangan aku’ itu yang artinya dia menikmati suatu relationship. Dia menikmati kehadiran Gembala yang baik. Bukan berarti semua selalu berada di padang rumput yang hijau. Dia tahu apa artinya kegersangan, tetapi Tuhan sebagai Gembalanya itu yang berkuasa mengubah. Bukan dia selalu berada di air yang tenang, tetapi Tuhan sebagai Gembalanya berkuasa mengubah gejolak-gejolak dan itulah yang merupakan harta yang indah. Semuanya itu bisa kita lihat pada waktu dia berkata “Ia menyegarkan jiwaku” He restores my soul. Artinya apa? Kalau terus berada di padang rumput yang hijau, apa yang perlu di-restore? Kalau hanya terus berada di air yang tenang, apa yang perlu di-restore? Artinya jelas, dia melewati pergumulan-pergumulan kehidupan yang luar biasa tetapi Gembala yang baik itu “He restores my soul.” Bukankah ini kekayaan yang luar biasa yang diterapkan dalam kehidupan Daud?

Daud dalam pengenalannya akan Tuhan melakukan hal yang luar biasa. Dalam 1 Tawarikh 22:14 apa yang menjadi harta yang tertinggi dalam kehidupan Daud? Daud begitu ingin mendirikan Bait Allah, tetapi Tuhan mengatakan tidak. Anakmu Salomo yang akan membangun BaitKu. Mari kita bayangkan sebagai manusia berdosa ini kita cenderung bersikap, “Ya sudah, saya sudah punya niat baik, Tuhan, karena Engkau tidak mau, apa boleh buat.” Daud tidak seperti itu. Meskipun tidak akan ada nama dia pada Bait Allah itu, karena Bait Allah tidak pernah disebut Bait Allah Daud, tetapi Bait Allah Salomo, namun demikian dia berjuang mati-matian sekalipun tidak ada namanya di situ. “Sesungguhnya sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan bagi Rumah Tuhan itu 100,000 talenta emas…” with great pain and trouble dia berusah menyediakan segala yang bisa dia kumpulkan bagi Rumah Tuhan yang namanya tidak akan tercantum di sana tetapi itu tidak menghalangi dia melakukan yang terbaik. Dalam 1 Tawarikh 29:15 “karena cintaku kepada Rumah Allahku aku menambahkan…” memberitahu kepada kita mengapa dia melakukan semua dalam konteks harta itu. Berapa itu 100,000 talenta emas, yang kemudian masih dia tambahkan lagi 3,000 talenta emas? Itu adalah jumlah yang luar biasa besar, yang oleh Daud dikatakan ‘karena cintaku kepada Rumah Allahku.’ Dia melihat itu sebagai Tuhan adalah harta yang melampaui segala sesuatu, seperti Paulus semuanya yang lain dianggap rugi dan tidak ada artinya, seperti Musa semua kekayaan istana Mesirnya itu dianggap tidak ada apa-apanya, demikian Daud memberikan dengan sukarela sekian banyak emas dia persembahkan. Itulah hati orang yang telah menemukan harta kerajaan surga akan menjual seluruh miliknya, keinginannya, prioritas dalam kehidupannya, karena dia telah menemukan harta yang lebih bernilai yaitu kerajaan surga. Tidak mudah. Pada waktu kita harus berhadapan dengan soal kenyamanan, kepentingan diri dan panggilan Tuhan, hal itu tidak mudah, bukan?Mungkin itu harus kita jalani ‘with great pain and trouble.’ 

Tetapi pada sisi yang lain dikatakan oleh Daud dalam 1 Tawarikh 29 ini adalah pemberian yang dengan sukacita, bukan dengan susah dan sedih. Mengapa? Karena di situlah yang dimaksudkan dengan “kumpulkanlah hartamu yang di surga, tidak ada ngengat dan karat yang akan merusaknya.”

Persoalan dan pertanyaan kita pada hari ini adalah apa yang menjadi harta kita? Apa yang menjadi prioritas kita? Apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kita? Kita perlu bertanya kepada Tuhan. Dalam bejana tanah liat ini yang sebentar akan berlalu Tuhan percayakan harta yang indah, apakah kita menjadi hamba yang baik yang melakukan segala kehendak Tuhan?

Kejadian 47:8 adalah pernyataan Yakub ketika dia bertemu dengan Firaun, lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun. Firaun bertanya kepadanya, berapa usia Yakub. Yakub menjawab, “Tahun-tahunku sedikit dan buruk adanya…” Mengapa Yakub berkata seperti itu? 130 tahun bukan sedikit. Apakah dia sekedar memperbandingkan dengan nenek moyangnya yang lebih panjang umurnya dalam kehidupan ini? Saya kira tidak. Mengapa? Dia bukan saja mengatakan sedikit saja, tetapi dia juga mengatakan buruk adanya. Apa artinya? Waktu Yakub menoleh melihat kehidupannya dia tahu anugerah demi anugerah dia dapatkan. Hanya dengan tongkat ini aku menyeberangi sungai ini, sekarang aku kembali dengan dua pasukan, dengan harta kekayaan. Bukankah itu berkat Tuhan? Tetapi mengapa dia mengatakan buruk di tengah-tengah berkat kelimpahan? Bukankah Yakub kaya? Mengapa dia mengatakan buruk? Karena waktu dia menoleh ke belakang dia tahu berkat Tuhan begitu besar tetapi pada waktu dia harus mengakui kehidupannya anugerah demi anugerah yang dia terima respons kehidupan dosa demi dosa yang dia lakukan. Kesetiaan demi kesetiaan Tuhan dia alami, ketidak-setiaan dan pemberontakan dalam kehidupannya itu nyata. Sehingga dia menyatakan hidupku singkat dan buruk adanya. Dengan kata lain Yakub pada waktu menoleh ke belakang ada satu penyesalan, kalau saja boleh diulang, aku sebenarnya bisa melakukan yang lebih baik. Hidup ini terlalu singkat dan segera lewat, kalau saja boleh diulang aku akan melakukan yang lebih baik. Anugerah demi anugerah yang didapatkan tetapi dia tidak menjadi orang yang menjadi berkat yang sebenarnya dan seharusnya secara maksimal. Itulah sebabnya dia katakan buruk adanya.

Alangkah celakanya tatkala kita mengakhiri hidup ini kita mengatakan dengan satu penyesalan hidup inisingkat dan buruk adanya. Tetapi alangkah indahnya kalau kita mengakhiri hidup ini lalu kita mengatakan, ok, singkat memang, namun Tuhan telah melakukan indah dalam kehidupanku. Tidak ada penyesalan karena kita telah melakukan yang terbaik bagi Tuhan.

Anugerah demi anugerah Tuhan berikan untuk kita nikmati tetapi jangan sampai kita lebih menikmati anugerah Tuhan daripada menikmati kehadiran Tuhan. Jangan sampai kita lebih puas dengan kenyamanan hidup daripada puas terhadap Tuhan. Jangan sampai kita lebih berorientasi kepada yang sementara daripada hal yang bernilai kekal. Kiranya Tuhan menolong kita supaya sungguh-sungguh dalam kehidupan kita walaupun ada kesulitan dan kesesakan tetapi kiranya Tuhan berkenan memakai kita untuk sungguh-sungguh dapat menggenapkan rencana Tuhansebagai bejana tanah liat yang dengan harta yang dipercayakan kita, Tuhan dapati sebagai hamba yang setia sampai pada akhirnya.(kz)