Penipuan dan Penyesatan Dosa

Sun, 14 Sep 2014 09:48:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Penipuan dan Penyesatan Dosa

Nats: Efesus 2:1-10

 

Ada satu program dokumentari yang baru-baru ini diputar di televisi Australia yang sangat mengganggu hati karena ada satu kalimat yang muncul, “There is no sin because there is no God.” Apakah orang yang mengucapkan kalimat itu hendak mengatakan diasama sekali tidak mau ada Allah? Ataukah dia mau mengatakan bahwa konsepmu akan Allah dan dosa itu mengganggu pemandangan saya? Atau dia mau mengatakan gara-gara ada orang yang percaya Tuhan akhirnya mengganggu kesukaanku mau hidup bagaimana dan seperti apa, karena lepas dari judgment orang-orang yang mengaku ada Allah. Jadi pointnya adalah bukan soal tidak ada Tuhan, bukan soal tidak ada dosa, tetapi orang yang mengatakannya ingin mendefinisikan hidupnya seturut dengan apa yang dia mau dan siapakah yang harus menjadi “tuhan” menurut apa yang dia mau. Dengan kata lain berarti dia ingin standar penilaian hidupnya itu tidak boleh ditentukan dari luar kepada dia.

Mari coba kita lihat pada diri orang ateis, apa sih yang membuat mereka begitu benci kepada Tuhan? Apa yang bikin darah mereka mendidih mendengar nama Yesus? Tidak ada tindakan Yesus yang merusak dan menyakitkan mereka, tetapi kenapa mereka mau menyingkirkan Dia?Ada apa di dalam nama Yesus yang membuat mereka merasa di-offended? Apa yang ada di pikiran mereka yang dianggap sangat merusak di dalam kepercayaan akan Allah di dalam Kekristenan, seolah-olah Tuhan telah menjadi “hazardous” dan “harmful” bagi society sehingga Dia harus disingkirkan dari dunia ini? Dan apa yang Allah telah lakukan membuat mereka harus menyingkirkanNya?

Beberapa sekolah public di Amerika berawal dari pelayanan misi gereja. Masyarakat dibangun, dari orang-orang yang tidak berpendidikan menjadi berpendidikan. Mereka yang tadinya tidak berkesempatan akhirnya bisa mengecap fasilitas pendidikan yang baik. Lalu setelah beberapa waktu sekolah-sekolah itu mulai bertumbuh dan menjadi sekuler. Gambar lukisan Tuhan Yesus, salib dan lambang Kekristenan yang selama ini dipajang di aula dan chapel sekolah, atas nama kesamaan hak azasi dan merasa offended, maka semua itu dicopot dan diturunkan. Protes di sana-sini terhadap apa saja yang berkaitan dengan nama Yesus, seolah-olah dunia ini mengalami problem dengan Pribadi itu.

Tetapi hari ini kepada orang-orang seperti itu kita men-challenge mereka dan memberitahukan kepada mereka problema-problema yang dialami oleh dunia ini bukan “the problem of God,” bukan “the problem of the existence of God,” tetapi problem yang dialami oleh dunia ini adalah “the problem of sin and evil.” Problem itu telah menjalar ke seluruh aspek hidup manusia, dari yang jelas-jelas kelihatan sampai kepada yang tidak kelihatan. Dunia ini mengalami gap yang tidak ada henti-hentinya ketidak-adilan, pemerkosaan hak azasi, dan jurang antara yang kaya dan miskin. Kita melihat orang dengan tanpa perikemanusiaan melakukan kekerasan, pembunuhan, penculikan dan pemerkosaan dilakukan oleh orang-orang kepada kelompok yang lemah dan minoritas. It is not the problem of the religion, it is a problem of sin and evil. Bagaimana dunia berusaha mencari jalan keluar dari problem ini?

Kalau dunia ini sama sekali tidak mau ada Allah, yang adalah sumber dan standar kebenaran, dapatkah manusia hidup tanpa standar nilai atau hidup dengan standar nilai menurut dia sendiri? Dan apakah manusia bisa hidup dengan konsisten tidak ada standar kebenaran? Saya rasa tidak ada orang yang bisa hidup seperti itu. Sederhana saja. Sebab pada waktu seseorang mengatakan “benda ini pendek,” berarti dia sudah memiliki satu standar terlebih dahulu untuk mengatakan bahwa benda ini pendek. Pada waktu dia bilang, “Kain ini saya beli kurang dari 1 meter,” berarti mau tidak mau dia terlebih dahulu harus mempunyai satu standar yang namanya 1 meter. Itu baru bicara soal patokan ukuran seperti itu. Lebih dalam lagi, bagaimana dia bisa mengatakan sesuatu itu benar atau salah? Bagaimana dia bisa mengatakan orang itu jahat atau tidak jahat? Suruh dia buka teve, tanyakan kepada dia, kalau atas nama agama seseorang memperkosa orang lain, jahat atau baik? Kalau orang dengan semena-mena mengeksploitasi bumi dan menimbulkan polusi yang dahsyat demi keuntungan dan kekayaan pribadi, itu salah atau benar? Waktu kita sampai kepada pertanyaan-pertanyaan seperti itu mari kita ingatkan, tidak ada orang yang bisa hidup tanpa satu ukuran standar yang benar-benar benar. Saya tahu, yang dia mau adalah dia tidak mau konsep agama mempengaruhi dia. Yang dia mau adalah saya atur diri saya sendiri. Waktu saya bilang itu jahat dan salah, itu karena saya punya standar sendiri. Kalau berdasarkan manusia punya standar, standarnya manusia yang mana? Budaya dan kulturyang mana yang bisa dipakai sebagai standar patokan penilaian akan hal itu? Contoh sederhana, kalau di satu daerah seorang bapak tua yang sudah punya tiga isteri lalu kemudian menikahi seorang anak gadis umur 12 tahun untuk menjadi isterinya yang keempat, dan mengatakan apa yang dilakukannya benar sesuai dengan kultur budaya di situ, sdr bilang dia benar atau salah?

Apapun yang didiskusikan atau diperdebatkan, sdr dan saya tidak bisa melepaskan standar penilaian kita. Dengan membuang dan menyingkirkan Allah maka mereka tidak mau memakai standar penilaian benar dan salah, tidak boleh ada lagi penilaian orang ini melakukan kejahatan, dsb karena tidak ada standar itu. Tetapi tidak mau Allah menjadi penilai atau pengontrol dan mengatakan mereka mau menilai berdasarkan standar diri sendiri, manusia tetap mengalami benturan bagaimana mereka men-justified perbuatan mereka.Sehingga pada waktu kalimat itu keluar, “there is no sin because there is no God,” di situ kita bisa lihat dan saksikan manusia menyingkirkan Allah karena manusia tidak ingin hidupnya dinilai dan diatur dengan apa yang menjadi standar absolut yang Tuhan mau menjadi penilaian atas hidupnya. Kesampingkan manusia tidak senang kata “dosa,” kesampingkan manusia tidak senang apa yang dipersoalkan Alkitab, tetapi silakan bertanya kepada semua manusia di muka bumi ini, beritahu kepada mereka jujur dunia ini bukan mengalami the problem of God, tetapi the problem of sin and evil. Kita sebagai orang Kristen pada waktu bicara tentang Injil, Alkitab kita sedang memberi jawaban terhadap the problem of sin and the problem of evil tsb.

Banyak orang sulit menerima bahwa Allah itu baik sebab persoalan evil dan kejahatan yang datang e dalam hidupnya, ada penderitaan dan injustice terjadi di dalam hidupnyau menyebabkan dia kecewa kepada Allah dan menyingkirkanNya dari hidup dia. Kalau kita berjumpa dengan orang yang skeptis kepada Tuhan, mari kita sedikit bersimpati dan aware kepada argumentasi mereka, tetapi yang paling bijaksana adalah kita memberikan kepada dia jawaban seperti ini.Membuang Allah tidak dengan sendirinya otomatis menyingkirkan kesulitan, penderitaan dan dosa. Problem itu tetap ada, persoalan itu tetap ada. Tetapi kasihan, dia tidak punya lagi tempat untuk mengadu dan meminta pertongan, kekuatan dan penghiburan.

Efesus 2:1-3 memberikan gambaran yang begitu jelas. “Dahulu kita mati oleh pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita…” Bandingkan ucapan rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 3:4 mengatakan, “Setiap orang yang berbuat dosa melanggar juga hukum Allah sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah…” Dalam ESV ayat ini berbunyi demikian, “Everyone who makes a practice of sinning also practices lawlessness, sin is lawlessness.” Dosa bukan saja soal desire, itu bukan saja soal sesuatu yang tidak baik dan tidak indah, itu bukan soal perasaan hati ‘it is wrong because it hurts me,’ itu bukan saja soal sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi di dalam budaya. Ayat ini memberitahukan kepada kita lawlessness is sin, satu pelanggaran terhadap satu standar atau barrier atau batasan yang sudah diberikan yang tidak boleh dilanggar. Standar itu adalah dari Allah yang menciptakan kita, dan kita tidak bisa menyingkirkan dan membuang Allah itu, sebab tidak bisa kita hidup tanpa ada standar nilai, standar moral, siapapun dia termasuk orang ateis, kita semua tidak bisa hidup tanpa standar.Allah Pencipta langit dan bumi. Siapakah Dia? Dia adalah sumber kebenaran. Siapakah Dia? Dia adalah sumber kesucian. Siapakah Dia? Dia adalah sumber segala keindahan. Siapakah Dia? Dia adalah Allah sumber segala kebaikan.

Dosa itu bukan sekedar selfishness, yaitu saya ingin sesuatu demi untuk saya saja. Dosa itu lebih daripada selfishness. Dosa itu bukan sekedar orang egois dan mementingkan diri sendiri, ingin segala sesuatu untuk dirinya saja. Dosa adalah lawlessness. Kata ‘lawlessness’ berarti di dalam keberdosaan manusia itu violently melakukan suatu pemberontakan kepada standar Allah, standar yang paling tinggi dan paling agung. Itulah sebabnya kita katakan dosa berarti memberontak kepada Tuhan.

Kejadian 2:16-17 menjadi pertanyaan yang terus muncul sepanjang waktu, kalau Tuhan tahu bahwa manusia bisa berdosa, kenapa Tuhan memberikan larangan kepada Adam dan Hawa untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat dan menyebabkan mereka akhirnya melanggar dan berdosa? Ada beberapa hal. Pertama, tidak mungkin orang itu akan mengetahui apa yang menjadi standar penilaian yang perfect di dalam diri Allah kita yang adalah Roh yang sempurna itu tanpa itu dinyatakan secara konkrit melalui aturan dan hukumNya.

Sederhana saja, di rumah orang tua mengatakan kepada anak-anaknya, “Papa mama mengasihi engkau,” lalu dengan dasar itu mereka memberikan bukti secara konkrit apa itu kasih, dengan memberikan pelukan, ciuman, proteksi dan mencukupkan kebutuhan mereka. Tetapi di dalam kasih itu, tidak berarti di rumah itu lalu tidak ada larangan dan semua orang boleh berbuat semaunya. Dalam kasih Allah terdapat penuntutan yang konkrit untuk manusia tidak melanggar dan melakukan yang tidak baik sesuai dengan peraturan yang diberikanNya. Kasih yang abstrak itu harus dinyatakan dengan ketaatan yang konkrit.

Jadi Tuhan memberikan pohon pengetahuan baik dan jahat itu bukan supaya manusia berdosa, tetapi itu diberi supaya manusia tahu how good God is, how righteous He is, how wonderful He is. Semua sifat-sifat Allah yang agung itu abstrak dan perlu Dia turunkan menjadi peraturan yang konkrit. Aku mengasihimu. Aku memberikan semua buah pohon dalam taman ini untuk engkau nikmati. Tetapi Aku juga ingin engkau belajar taat kepadaKu. Bagaimana taat kepada Tuhan? Hal ini yang Tuhan kasih, jangan makan buah pohon yang satu ini. Aku mau engkau tidak melakukan yang ini, Aku mau engkau melakukan yang ini; Aku mau engkau mencintai hal ini; Aku mau engkau jangan mencintai yang itu. Itulah yang kita sebut sebagai hukum Allah. Hukum itu tidak memberatkan kita. Hukum itu untuk membuat kita sinkron dengan Dia. Tetapi sekaligus hukum itu merefleksikan siapa Dia yang mau mencintai dan mengasihi kita.

Allah hanya berfirman seperti itu, manusia hanya diminta sama Tuhan untuk taat. Dan ada satu suara lagi muncul di taman Eden, yaitu suara Setan. Setan bilang, “Makan saja. Pada waktu engkau memakannya, engkau akan menjadi seperti Allah…” Di situ Adam mau percaya kepada perkataan siapa? Ketimbang percaya kepada perkataan Allah, manusia lebih percaya kepada perkataan Setan. Jadi manusia berada dalam penilaian seperti ini, saya mau percaya perkataan suara Tuhan atau suaranya Setan? Pada waktu mereka berada dalam posisi itu, di situ mereka sudah menempatkan diri sebagai tuhan yang mau menilai mana yang sepatutnya menurut dia benar dan mana yang sepatutnya menurut dia salah. Pada waktu orang mengeluarkan kalimat seperti itu, “There is no sin because there is no God,” dia berada dalam posisi seperti apa yang Adam dan Hawa lakukan, artinya engkau mau memiliki standar nilai yang engkau tentukan sendiri menurutmu ini yang benar, ini yang tidak benar; ini salah, ini yang tidak salah. Itulah yang kita sebut sebagai lawlessness.

Sin is not about selfishness, sin is about lawlessness, suatu pemberontakan dengan inisiatif, dengan violently ingin melakukan hal itu. Dosa itu mengherankan, tidak tahu siapa yang ajar, tahu-tahu bisa muncul begitu saja dari diri anak kita yang masih kecil, bukan? Waktu papa bilang, “Don’t touch it.” Apa yang dilakukan anak kita? Dia akan test otoritas kita. Dia akan semakin coba untuk melanggarnya.

Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti bagaimana orang bisa sampai percaya Tuhan. Namun kadang-kadang kita juga tidak bisa habis mengerti mengapa orang begitu keras tidak bisa dan tidak mau percaya Tuhan. Mari kita coba pikir baik-baik lebih dalam lagi, apa hambatan dari penjahat di sebelah Yesus di kayu salib sampai akhir tidak mau percaya akan Dia? Apa yang masih tersisa pada dirinya yang menghambat dia untuk itu? Sudah terpaku di kayu salib, tinggal menanti nafas terakhir selesai dihembuskan, sudah melihat penjahat yang lain di sebelah Yesus mengaku dan percaya Yesus, dia tetap tidak mau percaya juga.

Kita bisa menemukan orang yang begitu congkak dan sombong tidak mau percaya Tuhan, mungkin melalui sakit dan kesulitan penderitaan yang datang kepadanya membuat orang itu menjadi humble lalu sadar betapa dia membutuhkan Tuhan dan kemudian terbuka dengan tawaran Tuhan untuk percaya. Kita menyaksikan Tuhan bisa menyatakan anugerah keselamatan kepada mereka melalui hal-hal seperti itu. Tetapi yang menjadi pertanyaan kita yang tidak habis-habis adalah mengapa penjahat di sebelah Tuhan Yesus sampai akhir tetap tidak pernah mengeluarkan kalimat penyesalan dan minta pengampunan Tuhan baginya.

Yesus pernah mengatakan, “Setiap orang yang mengatakan sesuatu yang melawan Anak Manusia dia akan diampuni, tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus ia tidak akan diampuni” (Lukas 12:10). Apa maksud kalimat Tuhan Yesus ini? Prof. Wayne Grudem dalam Systematic Theology mengatakan cara penjelasan yang paling mungkin kita bisa beri adalah orang itu secara persistent terus-menerus menolak Tuhan dan melihat setiap karya Tuhan yang ajaib dan besar itu sebagai pekerjaan Setan. Itulah sebabnya kalimat “barangsiapa menghujat Roh Kudus itu tidak akan diampuni,” karena pada waktu Yesus selesai melakukan mujizat mengusir roh jahat, orang Farisi dan pemimpin-pemimpin agama mengatakan itu adalah pekerjaan Setan. “Dengan kuasa penghulu setan Dia mengusir setan”(Matius 9:34). Dari konteks itulah kemudian Yesus mengatakan “Setiap orang yang mengatakan sesuatu yang melawan Anak Manusia ia akan diampuni, tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus ia tidak akan diampuni.” Menghujat Roh Kudus berarti dengan kesadaran penuh, dengan persistent, dengan penuh kebencian menolak kebenaran yang dibukakan Roh Kudus baginya mengenai Tuhan Yesus Kristus.

Reaksi kekerasan hati orang seperti itu membukakan mata kita, lawlessness hidup berdosa dan tindakan dosa manusia itu memberikan efek yang terus-menerus kepada manusia, makin mempertebal dan makin membuat hati nurani manusia itu tidak bisa bekerja dengan normal dan terus-menerus akhirnya membikin keadaan satanic adanya. Tetapi kita tidak perlu kaget akan hal itu. Efesus 2 mengingatkan kita di dalam keberdosaan manusia bukan saja secara aktif melanggar dan melakukan kesalahan, Alkitab juga memberitahukan kepada kita orang-orang berdosa itu di bawah dari influence dari satanic power. Sehingga kita bisa menyaksikan orang-orang itu bertindak lebih daripada kadar kemanusiaan yang ada dalam dirinya. Kita bisa melihat ada orang bukan saja tidak berperikemanusiaan, dia bisa bertindak melebihi nafsu binatang, kita juga bisa menyaksikan kejahatan yang sudah bisa disetarakan dengan demonic possession di dalamnya, yang penuh dengan kegelapan, yang tidak ada ruang celah yang lain selain daripada betapa jahat, betapa kotor dan betapa kejinya dosa manusia itu.

Yang ketiga, itulah sebabnya firman Tuhan ini berkata, “Kamu hidup di dalamnya karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu menaati penguasa kerajaan angkasa yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami juga terhitung di antara mereka…” Manusia tidak pernah sadar dan tidak pernah tahu bahwa hidup di dalam dosa itu sesuatu yang menghancurkannya. Kata yang Paulus pakai di sini adalah “kamu hidup di dalamnya.” Kita mati di dalam dosa tetapi kita juga hidup di dalam dosa. Hidup di dalam dosa senantiasa mengingatkan kita orang tidak pernah sadar dan tidak pernah tahu bahwa akhir dari berbuat dosa itu selalu berakhir kepada kematian atau sesuatu yang menghancurkan dan merusak. Sampai kesadaran itu muncul seringkali manusia sudah terlambat. Kenapa? Karena sifat dosa yang menipu ini, ‘actually we die in sin but we live in it.’ Hidup di dalam dosa justru seolah mendatangkan kebaikan dan keuntungan baginya. Dia kerjakan itu justru seolah membawa keberhasilan baginya. Di dalam situasi dan kondisi seperti itu Paulus senantiasa mengingatkan kita, kita juga dahulu seperti itu adanya.

Kita boleh menjadi anak Tuhan, kita bisa berbakti di rumah Tuhan, itu bukan karena kita orang baik dan berlayak di hadapanNya. Kita menjadi umat tebusan Tuhan bukan karena kita secara moral adalah kelompok yang lebih baik daripada masyarakat yang lain. Kita datang ke rumah Tuhan dan berbakti kepadaNya karena kita tahu justru kita adalah orang-orang berdosa yang telah mendapatkan belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Kita tidak lebih baik daripada orang-orang lain. Kita ditebus oleh kasih Tuhan, kebesaran keagungan Tuhan, indah luar biasa tak terkatakan telah datang ke dalam hidup setiap kita. Senantiasa kita juga diingatkan dahulu kita juga seperti mereka, bukan supaya kita hidup di dalam rasa bersalah tetapi justru boleh menjalani hidup yang baru dengan menghargai karya penebusan Tuhan bagi kita. Sekarang setelah kita memiliki hidup yang baru di dalam Tuhan, jangan lagi kita membiarkan diri ditipu lagi oleh dosa. Kiranya kita senantiasa menjalani hidup kita dengan indah di hadapanNya.(kz)