Karya Kelahiran Baru

Sun, 28 Sep 2014 12:49:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Karya Kelahiran Baru

Nats: Efesus 2:1-5

Alkitab memberikan gambaran yang begitu gelap dan suram mengenai dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Pertanyaan yang kita angkat adalah jikalau gambaran dari Alkitab bicara mengenai hidup manusia dalam dunia yang sudah berdosa seperti ini, apakah berarti tidak ada hal yang baik dan yang indah yang bisa kita lihat dari dunia ini? Apakah berarti dunia ini semata-mata penuh dengan kejahatan demi kejahatan di dalamnya? Bukankahtiap hari kita masih bisa keluar dari rumah dengan secure dan aman kemana saja kita pergi? Bukankah di tempat pekerjaan kita masih bertemu dengan orang-orang yang baik? Bukankah masih ada aturan-aturan yang kita jalani dalam dunia ini sehingga kita bisa tenang teduh dan aman? Kita mungkin tidak menyaksikan orang-orang jahat berkeliaran ingin membunuh orang, kita mungkin tidak menyaksikan kekejian dan kekejaman itu secara kasat mata di hadapan kita. Oleh sebab itu kita bertanya, apa maksud Alkitab berkata seperti ini: kita semua telah dicengkeram oleh kejahatan dan dosa, kita berada di dalam penguasaan dari roh-roh yang jahat yang ada di angkasa?

Kita bersyukur kepada Tuhan, sebab walaupun dunia ini sudah jatuh di dalam dosa, walaupun dunia ini dicengkeram dengan kuasa kegelapan, kita tetap tahu Allah kita adalah Allah yang berkuasa, Allah yang ‘in control’ di dalam dunia ini. Kita juga bersyukur Allah kita yang menguasai dunia ini bukan saja Allah yang berkuasa tetapi Ia juga adalah Allah yang kaya dengan segala rahmat dan kekayaan itu juga dinyatakan dan disampaikan bukan saja kepada kita orang-orang percaya tetapi juga Ia nyatakan kepada dunia yang melawan dan memberontak kepadaNya. Itulah sebabnya di dalam teologi kita mengenal istilah “Common Grace” atau anugerah umum. Anugerah umum adalah pemberian Allah tidak berkaitan dengan bagaimana sikap manusia kepadaNya, tetapi memang karena Dia adalah Allah yang kaya dengan rahmat, Sang Penguasa dan Pengatur alam semesta ini, yang memberikannya dengan segala kelimpahan dengan murah hati dan dengan cuma-cuma adanya. Yesus berkata, “Bapamu yang di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”(Matius 5:45). Bapa di surga dengan murah hati memberi tanah yang subur dan tanaman yang menghasilkan buah yang baik kepada semua orang.

Dan bukan itu saja, meskipun manusia sudah jatuh di dalam dosa, Alkitab mengatakan manusia dicipta berbeda dengan mahluk ciptaan yang lain. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Gambar dan rupa Allah itu tetap ada di dalam diri manusia sekalipun manusia sudah jatuh di dalam dosa. Meskipun gambar itu sudah sedemikian rusak adanya, namun benih-benih dari apa yang ada di dalam gambar dan rupa Allah itu tetap ada di dalam diri manusia. Beberapa hal yang bisa kita lihat yang membuat kita sadar manusia sekalipun dalam keadaan jatuh dalam dosa hatinya tetap masih memiliki perasaan dan nilai-nilai kemanusiaan, kesadaran harus berbuat baik dan harus hidup di dalam satu norma tertentu. Walaupun manusia berdosa adanya, ada satu kesadaran hidup ini tidak berhenti sampai di dunia ini saja. Sifat kekekalan merupakan satu ciri dari adanya gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia. Allah itu kudus adanya, maka sifat itu ada di dalam diri manusia yang tetap menginginkan satu hidup yang kudus adanya. Allah itu benar adanya, itulah sebabnya manusia tetap menginginkan di dalam hatinya percikan kebenaran itu mengalir dalam dirinya. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa masih memiliki perasaan kesadaran perlu ada Allah tetap ada di dalam dirinya, namun manusia tetap tidak sanggup dan tidak sampai bisa mengerti dan mengenal Allah yang sejati itu. Roma 1:23 memperlihatkan manusia ingin mengenal Allah tetapi akhirnya manusia menggantikan kemuliaan Allah yang kekal itu dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana dan dengan binatang ciptaan, dengan patung-patung berhala yang mereka sembah. Manusia memiliki perasaan benar, tetapi kita bisa lihat manusia akhirnya menggunakan kebenaran dan kesalehan bukan melihatnya dari standar Allah tetapi melihatnya demi untuk menyenangkan hatinya, what is right for my benefit. Itulah sebabnya mengapa Yesus harus datang karena tidak mungkin melalui kebenaran di dalam diri manusia yang sudah berdosa manusia bisa sampai kepada Allah.

Bukan saja anugerah umum merupakan pemberian dan pemeliharaan Allah kepada umat manusia, ada aspek yang lain dari anugerah umum yaitu satu, Allah memberi hati nurani. Hati nurani itu adalah suara yang berbeda dengan dirinya. Paulus dalam Roma 2:15 berkata, suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Kita bisa memperalat hati nurani kita waktu melakukan sesuatu yang salah lalu meminta hati nurani itu setuju untuk kita melakukannya. Tetapi pada saat yang sama hati nurani juga bisa berkata dan menuduh jikalau apa yang kita lakukan itu tidak benar adanya. Hati nurani mencegah manusia yang sudah jatuh di dalam dosa bisa berbuat dosa sejahat-jahatnya. Maka anugerah umum Tuhan berikan untuk mencegah kerusakan itu lebih jahat. Selain hati nurani, anugerah umum termasuk adanya sistem pemerintahan, dimana sistem pemerintahan yang baik akan melakukan upaya sebaik-baiknya, yang benar dilindungi, yang salah dihukum. Adanya pemerintahan yang baik yang mengatur keteraturan di dalam dunia ini. Yang ketiga, adanya perasaan ketakutan manusia akan kematian, satu perasaan setelah mati ada sesuatu misteri yang tidak diketahui, dan ketakutan itu sanggup membuat manusia tidak berani untuk berbuat sejahat-jahatnya. Manusia coba berusaha mem-balance hidupnya, berupaya untuk berbuat baik dan tidak melakukan hal yang jahat, barangkali itu bisa menjadi back up saat menjalani kehidupan setelah kematian yang mereka kira bisa membekalinya menjalani hidup di akhirat.

Tetapi pada waktu hati nurani manusia mulai kebal, tidak ada lagi sensitivitas kepekaan di dalam hidupnya, manusia itu bisa berlaku sejahat-jahatnya. Pada waktu tidak ada lagi ordo aturan dalam masyarakat untuk melindungi masyarakat dan aparat pemerintah tidak menjalankan tugasnya, pada waktu yang berkuasa malah membela orang yang jahat, dimana tidak ada lagi keamanan dan hukum tidak lagi ditegakkan dan dihormati di situ, maka dengan segera negara itu menjadi anarki dan kekacauan serta kejahatan merajalela. Ketika rasa takut manusia akan kematian dan menganggap kematian itu nothing, maka kita bisa melihat rasa takut kepada Tuhan juga tidak ada lagi. Dengan demikian anugerah umum tetap tidak sanggup bisa membuat manusia bisa lebih baik.

Inilah status yang dikatakan oleh Efesus 2:1-2, manusia berdosa itu mati di dalam dosa. Kata ‘mati’ di situ jelas tidak berarti mati secara fisik. Tuhan berkata kepada nenek moyang kita Adam dan Hawa, “Pada waktu engkau memakan buah itu pastilah engkau mati,” dan pada waktu Adam dan Hawa makan buah itu Alkitab mencatat secara fisik mereka tidak langsung mati, masih ada ratusan tahun sesudahnya baru kemudian mereka mati secara fisik. Apakah Tuhan berdusta kepada mereka? Tuhan tidak berdusta. Tidak berdustanya adalah ketika mereka makan buah itu, maka pada saat itu, pada hari itu Adam dan Hawa mati secara rohani, terpisah dari Allah, digambarkan dengan diusirnya mereka keluar dari taman Eden. Maka ‘mati’ di situ berarti tidak ada kemungkinan dan kemampuan dari posisi manusia untuk bisa mendapatkan belas kasihan Tuhan. Tidak ada kemungkinan dari kelakuan dan perbuatan baik manusia untuk bisa menyelamatkan mereka. Tidak ada cara lain selain cara dari Allah dan datang dari sisi Allah, baru manusia bisa diselamatkan. Yang kedua, mati secara rohani karena pelanggaran dan dosa-dosa membuat manusia tidak ada kemungkinan dan keinginan inisiatif manusia mau percaya kepada Tuhan. Itulah yang digambarkan oleh rasul Paulus dalam Efesus 2:1-3 ini.

Lalu kemudian di ayat 4-5 terjadi pemutar-balikan yang indah luar biasa. “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat oleh karena kasihNya yang besar yang telah dilimpahkanNya kepada kita…” Kontras muncul. Di dalam dosa dan pelanggaran kita, kita mati secara rohani, berarti tidak ada keinginan dalam diri mau percaya Tuhan. Keinginan manusia semata-mata cuma satu, selalu ingin membalikkan badan dan lari menjauh dari Tuhan. Kedua, kata mati berarti tidak punya kemampuan untuk bisa menyelamatkan diri keluar dari cengkeraman dosa dan keluar dari cengkeraman si Jahat. Maka dosa dan belenggu setan seperti lumpur hidup yang terus menarik manusia masuk ke dalamnya.

Ayat 4 memberikan kontras, keselamatan itu datang inisiatifnya semata-mata dikerjakan oleh Allah Bapa kita di surga. Hal itu lahir semata-mata berdasarkan belas kasihan Tuhan, mercy Tuhan yang tidak ada syarat, tidak ada hal apapun orang itu bisa diselamatkan kecuali oleh karena belas kasihan. Kalau berdasarkan keadilan Allah, tidak ada satu orang pun yang bisa lolos dari keadilan Allah. Karena Allah yang adil itu akan menyatakan manusia yang berdosa hanya layak atas satu hal: hukuman maut dan kematian selama-lamanya. Tetapi pada waktu Allah melihat kita berdiri di hadapanNya, sudah kotor dengan lumpur, bau dan hancur semuanya, kita sepatutnya dibuang dan disingkirkan olehNya. Namun kasihNya datang memeluk kita. Tidak ada di antara kita yang boleh berbangga dan berkata ada sesuatu yang baik dari diri kita yang membuat Allah melakukan hal itu. Tidak seorang pun yang boleh berkata karena aku telah melakukan sesuatu yang baik sehingga itu telah menggerakkan Allah mencintai dan mengasihi kita.

Allah yang kaya dengan rahmat melimpah kasih karuniaNya, itulah starting point inisiatif Allah menyatakan keselamatan itu kepada kita. Allah menghidupkan kita yang mati di dalam dosa menjadi hidup secara rohani, baru kita bisa berespons kepadaNya. Melalui cara itu dikerjakan oleh Allah Oknum yang ketiga yaitu Allah Roh Kudus. Allah Bapa yang mencintai dan mengasihi kita berinisiatif, tetapi dasar kita diselamatkan perlu melalui penggantian dari Allah Anak yang mengganti posisi orang yang berdosa mati bagi kita, lalu Allah Roh Kudus berkarya sehingga keselamatan itu bisa dimiliki oleh engkau dan saya. Di situ Roh Kudus melahir-barukan kita.

Kita masuk ke dalam poin ini, bagaimana Tuhan bekerja, bagaimana Tuhan membawa orang yang mati dalam dosa, kita semua, boleh percaya dan mengenal Dia, itu adalah pekerjaan dan karya Roh Kudus. Pekerjaan yang Ia lakukan adalah melahir-barukan kita, menghidupkan kita kembali, menjadikan kita ciptaan baru. New creation, regeneration, born again, alive.

Dalam Titus 3:5 Paulus berkata, kita selamat bukan karena perbuatan baik kita, kita selamat karena kita dilahirkan kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam diri kita. Yohanes 3:8 memberitahukan kepada kita bagaimana kejadian peristiwa kelahiran baru itu. Kelahiran baru diilustrasikan oleh Yesus seumpama angin yang bertiup. Jelas yang ingin Yesus maksudkan adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Peristiwa kelahiran baru begitu misteri sehingga pada waktu firman Tuhan dikabarkan, tawaran Injil keselamatan diberikan, ada dua orang kembar sekalipun, yang satu berdiri menerima panggilan Tuhan, yang satu tidak. Suami isteri duduk berdampingan, yang satu berdiri menerima panggilan Tuhan, yang satu tidak. Apa yang terjadi? Saat Roh Kudus bekerja Yesus menggambarkannya seperti angin yang bertiup kemana dia mau, berarti kita melihat di situ karya Roh Kudus bersifat efektif merubah hati orang karena Dia mau berkarya pada diri orang itu. Yang kedua, karya Roh Kudus tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan. Orang lain tidak tahu karena hal itu tidak kelihatan secara eksternal. Tetapi orang yang disentuh oleh Roh Kudus bisa merasakan perubahan nyata sedang terjadi di dalam dirinya. Orang itu yang akhirnya datang dan bereaksi kepada Tuhan, mengaku segala dosa dan kesalahannya, memohon pengampunan Tuhan dan mengundangNya tinggal bertahta dalam hatinya selamanya dan berkata, “Tuhan, aku percaya kepadaMu.” Yang melihat peristiwa itu akan berpikir orang itu percaya Tuhan karena orang itu mau, sebab yang kelihatan adalah orang itu berdiri, orang itu bilang ‘aku percaya,’ orang itu bilang ‘aku mau.’ Tetapi keinginan dan kemauan bereaksi kepada Tuhan itu adalah karena pekerjaan Roh Kudus.

Ada dua macam orang yang disentuh oleh kebenaran firman Tuhan. Yang semacam adalah orang yang datang bukan dari keluarga Kristen, yang tidak pernah berada dalam environment yang kondusif dengan Kekristenan, bahkan mungkin orang itu tidak pernah mendengar nama Tuhan Yesus atau mungkin berasal dari kelompok yang sama sekali resistant terhadap kebenaran Injil. Wajar kalau orang seperti ini tidak pernah punya keinginan mau percaya Tuhan Yesus, sehingga pada waktu orang itu akhirnya percaya dan menerima Tuhan, kita melihat Tuhan bekerja dalam hatinya dan 100% dia mengaku hal itu terjadi karena Tuhan merubah hatinya. Contoh yang bisa kita lihat pada diri rasul Paulus pada waktu belum percaya Tuhan Yesus dia adalah berlawanan dengan Tuhan, dia menangkap dan menganiaya anak-anak Tuhan. Dan sebetulnya dalam perjalanan menuju Damaskus dengan penuh kebencian dia ingin menangkap orang-orang Kristen yang ada di sana, tetapi di tengah perjalanan Tuhan Yesus datang menampakkan diri dan terjadilah pertobatan dan perubahan total dalam hidupnya. Kalau Paulus ditanya, apakah dia yang mau percaya Tuhan atau karena Tuhan yang merubah hatinya sehingga dia mau percaya, jawabnya jelas karena Tuhan semata-mata. Kita bisa melihat hal yang sama terjadi pada diri orang-orang Kristen yang dulunya berasal dari agama lain, dari latar belakang orang yang membenci Tuhan. Ketika Tuhan bekerja dalam hati orang-orang seperti ini kita bisa melihatnya.

Tetapi berbeda dengan Lidia dalam Kisah Rasul 16:14, meskipun mungkin dulunya dia adalah seorang Yunani, dia rajin beribadah di sinagoge orang Yahudi, jadi sedikitnya dia memang sudah tertarik dan tersentuh dengan ajaran Yudaisme. Pada suatu hari Paulus datang ke sinagoge dan mengajar di sana tentang Tuhan Yesus. Di situ Tuhan membuka hatinya. Orang dari luar hanya bisa melihat Lidia rajin beribadah kepada Tuhan. Maka pertanyaan kita, dia menjadi pengikut Tuhan karena dia seorang yang rajin beribadah ataukah Tuhan membuka hatinya? Dari luar yang kelihatan adalah dia seorang yang memang terbuka dengan ajaran tentang Tuhan, dia rajin beribadah, tetapi Alkitab jelas mencatat dia menjadi percaya dan dibaptis karena Tuhan membuka hatinya. Tuhan membuka hatinya, tidak kelihatan secara eksternal karena pekerjaan Roh Kudus yang tidak kelihatan.

Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang akan merubah pikirannya dan pemahamannya sehingga dia bisa mengenal Tuhan yang benar dan yang sejati. Bukan itu saja, lahir baru pasti mendatangkan perubahan dalam hati orang dan membuat orang itu kemudian berani mengambil keputusan mengikut Tuhan Yesus Kristus. Sehingga lahir baru tidak hanya akan membuat orang itu insyaf dan sadar akan dosa-dosanya, tetapi akan mendatangkan satu perubahan total di dalam diri orang itu. Kelahiran baru adalah satu proses menyucikan orang itu dari dosa-dosanya dan Roh Kudus tinggal dalam diri orang itu dan memberikannya hati yang baru.

Itulah sebabnya banyak orang mencoba bertanya apa maksud Tuhan Yesus dalam Yohanes 3:5 “jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan roh…” Kesalahan dari tafsiran gereja Roma Katolik di abad pertengahan adalah menjadikan baptisan itu sebagai salah satu syarat keselamatan berdasarkan ayat ini. Kemudian dalam perkembangan teologi selanjutkan terjadi kekeliruan dari tafsiran gereja Pentakosta dan Karismatik terhadap ayat ini yang mengatakan ada dua level baptisan, yaitu baptisan air dianggap sebagai baptisan yang kita terima pada waktu mengaku percaya dan baptisan roh yang menjadi baptisan yang mengesahkan sebagai step kedua. Ini yang kita lihat di dalam penafsiran dari dua arus gereja ini.

Kenapa Yesus menggunakan kata “air dan roh” ini? Banyak penafsir setuju Yesus sedang mengangkat apa yang dibicarakan di dalam Yehezkiel 36:25-26, 27a. Yehezkiel memberikan satu nubuatan yang akan datang, bukan lagi dengan menaati hukum Taurat tetapi Tuhan akan memberikan hati yang baru karena RohNya akan tinggal di situ. “Aku akan mencurahkan air jernih yang akan mentahirkan kamu.Kepadamu Aku akan memberikan hati yang baru, dan Roh yang baru di dalam batinmu…” Demikian berarti kata ‘air’ di sini bicara soal pembersihan penyucian yang dinyatakan dengan tinggalnya Roh Kudus di dalam hati seseorang. Inilah yang Roh Kudus kerjakan di dalam karya kelahiran baru yang terus-menerus akan berlangsung bagi manusia untuk kembali kepada Tuhan.Kelahiran baru adalah sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan. Kita hanya bertanggung jawab dan bertugas sebagai anak-anak Tuhan menyampaikan panggilan Injil kepada orang. Kita hanya bertugas menyampaikan dan menjadikan kesaksian hidup kita mengikut Tuhan Yesus kepada orang. Kita tidak perlu kuatir dan takut mungkinkah orang yang berdosa dan orang yang paling jahat di dalam dunia ini masih bisa percaya kepada Tuhan. Itu dimungkinkan karena ada kuasa Roh Kudus yang merubah hati orang itu. Siapapun dia, baik orang seperti Lidia yang mungkin tidak memiliki resistansi kepada Injil, maupun orang yang resistan terhadap Injil, dua-dua adalah jenis orang yang sudah mati dalam dosa. Ketika Roh Kudus menghidupkan orang itu barulah dia bisa percaya Tuhan.

Bersyukur kita boleh mendengar firman, kita boleh mengenal dan percaya Tuhan, karena Roh Kudus telah menghidupkan kita kembali. Kita hargai keselamatan itu, kita bersyukur kepadaNya karena kita tidak lebih baik daripada orang-orang yang lain.Kiranya seluruh pikiran, kehendak dan hati kita disucikan olehNya sehingga kita bukan saja ingin mengetahui dan mengenal Tuhan tetapi hati kita juga mencintai Tuhan dan berkehendak ingin memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Kiranya Tuhan mempertumbuhkan iman, kasih dan pengharapan kita senantiasa.(kz)