Harta Bagian yang Terbaik

Sat, 20 Sep 2014 22:47:00 +0000

Pengkhotbah: Ev. Kezia Susanto STh.

Tema: Harta Bagian yang Terbaik

Nats: 2 Petrus 1:3-11; Lukas 10:38-42

Surat 2 Petrus 1:3-11 merupakan bagian yang membukakan kepada kita ketika Tuhan menyelamatkan kita bukan saja Tuhan memberikan hidup kekal yang nanti akan kita nikmati sepenuhnya tetapi Ia juga membekali kita dengan segala sesuatu yang kita perlukan di dalam hidup kita untuk lebih mengenal Tuhan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Inilah keindahan Tuhan menebus hidup kita. Di tengah-tengah perjalanan itu Tuhan memanggil kita untuk menjalani hidup seturut dengan kehendak dan rencanaNya kepada setiap kita masing-masing. Tuhan memanggil setiap kita menjadi anak-anakNya; Tuhan memanggil kita menjadi hamba-hambaNya. Setiap kita mendapatkan panggilan yang unik dari Tuhan supaya semua anugerah yang Tuhan berikan menjadi indah di dalam hidup kita. Tuhan memanggil kita menjadi seorang penatalayan atas waktu kita, atas talenta dan bakat kita, atas skill yang kita miliki, atas uang kita, dan atas segala hal lain yang kita peroleh. Itu semua menjadi satu keindahan melengkapi kita boleh melayaniNya. Kiranya dengan mengerti dan memahami hal ini, kita dibawa untuk hidup kita semakin mengalami Tuhan.

Lukas 10:38 dimulai dengan satu kalimat, “Ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.” Lukas memakai frasa “ketika Yesus dalam perjalanan” bukan dalam konteks mission trip biasa, tetapi dengan satu pengertian khusus. Lukas 9:51 mengatakan, “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem.” Dalam 10 pasal berikutnya lebih daripada 10 kali Injil Lukas menyebut frasa ini. Inilah konteks peristiwa demi peristiwa yang dipilih dan dicatat oleh Lukas untuk mengarahkan hati dan pikiran kita untuk memahami perjalanan seperti apa yang sedang Yesus jalani. Perjalanan ini adalah jalan salib, perjalanan yang Yesus tahu persis apa yang akan Dia hadapi ke depan. Di Yerusalem Dia akan dikhianati, Dia akan mengalami olok-olok penghinaan, penyiksaan, dan pada puncaknya penyaliban yang membawa kepada kematian. Yesus mengerti waktunya sudah semakin dekat, karena untuk moment itulah Dia datang ke dalam dunia ini. Ini bukan satu perjalanan yang mudah dan gampang, ini adalah satu perjalanan ‘point of no return’ di dalam ketersendirianNya Yesus harus menjalaninya. Perasaan seperti apa yang berkecamuk di dalam hati Yesus pada saat itu, dan intermezzo dari peristiwa di rumah Marta ini menjadi satu sukacita yang indah Yesus nikmati di antara orang-orang yang dekat denganNya dan yang mengasihiNya.

Marta membuka rumahnya, menerima Yesus untuk tinggal beberapa waktu bersama mereka. Di sini kita melihat sifat generosity dan hospitality yang indah dari pribadi Marta. Kedatangan Yesus mungkin unexpected, kedatangan Yesus bukan seorang diri. Yesus bersama murid-murid, paling sedikit ada 12 orang, atau mungkin 70 orang kalau kita lihat konteks Lukas 10:1. Dapat dibayangkan seketika itu betapa hiruk-pikuk, betapa crowded, betapa penuh ramai rumah yang tadinya hanya diisi oleh 3 orang, Marta, Maria dan Lazarus itu.

Marta menyiapkan apa yang bisa dia lakukan dengan sepantasnya bagi tamu istimewa, tamu penting ini. Kita bisa membayangkan dia akan menyuruh pembantu-pembantunya menyembelih anak lembu tambun untuk dimasak, memetik buah-buah dan mempersiapkan perjamuan yang besar bagiNya. Di tengah semua kesibukan itu, Marta melihat adiknya duduk tenang-tenang dekat kaki Yesus. Ketika melihat hal itu, apa yang berkecamuk di dalam hati Marta? Barangkali dia tidak langsung berkonfrontasi dengan Maria karena urusan tata krama, tentu tidak pantas bertengkar di depan Yesus. Barangkali dia sudah berusaha sedapat mungkin memanggil Maria dengan berbagai kode, tetapi Maria tidak bereaksi. Maria terus memandang Yesus, mendengar dan menyimak perkataan Yesus dengan konsentrasi penuh. Akhirnya Marta tidak tahan lagi, dengan emosi kemarahan dan frustrasi dia menghampiri Yesus dan berkata kepadaNya, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku!”(Lukas 10:40). Apa yang Marta harapkan dari Yesus? Jawaban seperti apa yang Marta ingin dengar dari Yesus? Apakah Marta ingin mendengar jawaban simpati dariNya, yang bisa meredakan kemarahan dan frustrasinya, jawaban yang menyatakan apresiasi dan penghargaan terhadap semua kerja keras yang dilakukannya? “Oh, maafkan kami Marta, dasar kita semua kurang sensitif, ayo Maria dan semua kalian ramai-ramai ke dapur membantu Marta.” Tetapi kenapa jawaban Yesus berbeda? Yesus malah menegur dia, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya” (Lukas 10:41-42). Kalimat ini seolah tidak ‘matching’ dengan kebutuhan Marta waktu itu, bukan? Kalimat ini pasti tidak sesuai dengan apa yang Marta mau dengar. Dan logika kita juga otomatis berpikir, kalau saat itu serta merta Marta duduk dekat kaki Yesus, apa tidak terbengkalai semua pekerjaan di dapur? Mau makan apa mereka semua? Apakah di situ berarti Yesus tidak menghargai usaha Marta melayani Dia?

Jawaban Yesus menegur Marta dan menegur setiap kita yang melayani Tuhan, yang di dalam kesibukan dan kerja keras atas nama pelayanan telah membuat kita kehilangan fokus utama dan pertama kita. Yesus mengingatkan, “Hanya satu yang perlu, bagian yang terbaik…” menjadi esensi penting yang perlu kita ambil, kita miliki, kita pegang selama-lamanya saat kita melayani Tuhan, yang menjadi the source of energy yang bukan saja men-sustain pelayanan kita, tetapi terus membawa hati kita dengan sukacita melayaniNya. ‘Bagian yang terbaik’ itu adalah duduk dekat kaki Tuhan, mendengarkan suaraNya, menikmati fellowship yang intim dan erat bersamaNya. Kenapa bagian yang terbaik ini selalu kita perlukan dalam perjalanan kita mengikut Tuhan?

Pertama, bagian terbaik ini, duduk mendengar suara Tuhan, merenungkannya, menikmati hadiratNya akan membawa hati kita kembali fokus kepada siapa yang kita layani, apa yang Dia mau bagi kita.

Marta begitu lelah bukan saja secara fisik, tetapi juga secara mental cape hati atas semua yang dia kerjakan. Marta merasa beban begitu berat dan begitu sulit untuk dia selesaikan seorang diri. Marta marah, Marta frustrasi, Marta merasa tidak dihargai dan tidak mendapatkan apresiasi atas semua kerja keras pelayanan dan pengorbananNya buat Tuhan. Ini adalah faktor-faktor yang sering terjadi bukan saja di antara hamba-hamba Tuhan, tetapi juga setiap pelayan dan aktifis yang melayani di dalam gereja. Orang-orang yang begitu rajin, begitu indah, begitu bertalenta, begitu setia melayani Tuhan akhirnya meninggalkan pelayanan karena luka hati.

Obat yang bisa menyembuhkan luka hatinya bukanlah mengirimkan bantuan untuk meringankan pekerjaannya. Obat yang bisa menyembuhkan dia adalah duduk di kaki Tuhan. Matanya yang distracted oleh banyaknya pekerjaan dan tuntutan yang tidak habis-habis untuk diselesaikan, harus diarahkan dan ditujukan kembali kepada mata Tuhan. Itulah yang akan membawa dia, membawa engkau dan saya kembali kepada pusat pandangan melihat kepada Yesus, pusat dan sentral hidup kita yang utama. Di situlah hati kita dihiburkan karena dengan lembut Ia akan mengingatkan kita kasihNya yang tidak berkesudahan kepada kita, kasih yang bukan kita peroleh dengan segala achievement dan kesuksesan pelayanan kita, kasih yang bukan berdasarkan usaha dan performance kita. Di situlah kita akan kembali mendengar gema kalimatNya, “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45). Kita melayani karena Dia telah terlebih dahulu melayani kita. Kita mengasihi karena Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita. Hidup kita mempunyai arti dan makna karena Dia telah terlebih dahulu menebus kita dari hidup yang tidak ada pengharapan dan tujuan ini. Kita perlu moment ini, kita perlu saat-saat yang seperti ini membawa pandangan mata kita tertuju kepada Dia semata-mata. Di situ kita ditarik kembali oleh Tuhan, dibawa kembali kepada fokus ini, maka hati kita akan kagum dan terpesona dan di situlah kita mendapatkan kekuatan dan penghiburan.

Kedua, kita tidak boleh mengkontraskan atau menjadikan ibadah dan pelayanan menjadi dua antagonis yang berlawanan. Tuhan tidak mengatakan kepada Marta bahwa dia tidak perlu melayani. Tuhan tidak mengatakan kepada Marta dia harus menghabiskan waktunya hanya duduk di kaki Tuhan tanpa melakukan apa-apa. Tuhan tidak menghina dan meremehkan pelayanan Marta. Tuhan menegur Marta karena dia telah memenuhi hatinya dengan kekuatiran dan menyusahkan dirinya dengan banyak perkara” (Lukas 10:41). Tuhan menegur Marta karena porsi pelayanannya telah overwhelming menguasai hati dan pikirannya, dan karena Marta memberikan hatinya secara aktif mempertuhankan pelayanan itu lebih daripada Tuhan sendiri. Betapa mudah kita pun bisa jatuh ke dalam jerat ini.

Tuhan Yesus pernah memberikan peringatan yang begitu keras, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan, kami sudah bernubuat, mengusir setan, melakukan mujizat demi namaMu…’ Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!” (Matius 7:22-23).

Dunia sudah terobsesi dengan performance, dengan produktifitas dan achievement. Besarnya gaji dan uang yang dimiliki, besarnya rumah dan barang-barang yang diisi di dalamnya, posisi dan status pekerjaan, semua itu menjadi bagian dari performance yang menggambarkan siapa orang itu. Orang berlomba-lomba menciptakan penampilan, kesuksesan dan apa yang orang pikir tentang dia, semua begitu penting buat dia. Sebagai individu maupun sebagai gereja, kita tidak immune dari hal itu. Kita tergoda untuk menjadi gereja yang produktif, kita tergoda untuk mencapai achievement demi achievement dengan semua program dan kegiatan kita, kita berbangga dengan semua yang kita telah lakukan di dalam pelayanan kita. Tidak salah kita rindu melayani dengan lebih giat, tidak salah kita mau mencari jiwa sebanyak-banyaknya, tidak salah kita mengadakan pelayanan misi dan berbagai program, tidak salah kalau kita bangga dengan hal-hal yang sudah kita lakukan. Tetapi adalah salah kalau kita telah kehilangan fokus untuk apa dan untuk siapa kita melakukan semua itu. Adalah salah kalau dia telah menjadi tuhan yang kita sembah dan menggeser Tuhan sendiri dari tempatnya. Dan adalah salah kalau akhirnya di tengah semua aktifitas dan produktifitas itu membuat kita kehilangan sukacita dan hidup kita menjadi frustrasi, marah dan penuh dengan sungut-sungut, merasa tidak dihargai dan diapresiasi dengan sepatutnya dan selayaknya. Adalah salah kalau semua pelayanan itu menjadi identitas kita, harga diri dan kebanggaan kita, dan mengambil semua itu menjadi kemuliaan bagi diri.

Itu sebab Yesus ingin menarik kita duduk di kakiNya, menarik kita kembali kepada fokus diriNya. Tuhan menginginkan pelayanan kita semua dimulai dengan satu hati yang mengerti dan mengalami Tuhan sebagai yang utama di dalamnya. Tuhan senantiasa ingin mengingatkan, Kekristenan bukan mengenai pengorbanan kita bagi Yesus, tetapi pengorbanan Yesus bagi kita. Kekristenan bukan mengenai apa yang sudah kita lakukan bagi Yesus, tetapi apa yang telah Yesus lakukan bagi kita. Marta menggerutu, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli?” menjadi satu pertanda kesibukan yang mengisi hidupnya begitu menguasai dan menyebabkan dia tidak bisa melihat kehadiran dan kepedulian Tuhan di dalamnya. Bukan saja kesibukan, problema dan masalah yang kita hadapi sehari-hari bisa begitu besar menguasai hati kita sehingga kita tidak lagi bisa merasakan kehadiran dan kepedulian Tuhan di dalam hidup kita. Di situlah perlunya kita berhenti sejenak dan duduk di kaki Tuhan, mengalami hadiratNya dengan indah mengisi hati kita, mengingatkan kita setiap hari setiap saat Dia peduli dan Dia memperhatikan kita.

Ketiga, Tuhan memberi kita hidup ini untuk apa? Hidup ini kita jalani bukan hanya untuk menunggu Dia datang memberi kita hidup kekal yang dijanjikanNya. Apa yang menjadi tujuan utama hidup setiap manusia, terutama kita anak-anak Tuhan? Hidup kita ada untuk memuliakan Tuhan; hidup kita ada untuk kita menikmati Tuhan. Inilah yang Tuhan ingin menjadi bagian terbaik yang kita ambil di dalam hidup kita.

Paulus pernah mengingatkan, “Kristus telah mati untuk semua orang supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Korintus 5:15). Di dalam implementasi memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan, kita dipanggil mengisi hidup kita bagi Kristus. Hidup yang dipakai untuk Kristus menjadi hidup yang terus mengalami transformasi semakin hari semakin menyerupai Kristus, menerima pelatihan untuk hidup di dalam kesalehan, kekudusan dan kebenaranNya. Setiap hal yang kita kerjakan di dalam dunia ini menjadi pelatihan sehingga kehidupan spiritual kita menjadi indah, menjadi kuat. Pekerjaan kita, segala resources yang kita miliki, bakat, skill, waktu dan uang, orang-orang yang kita kasihi di sekitar kita semua itu memperlengkapi kita untuk hal ini dan bukan sebaliknya menjadi pusat hidup kita. Tuhan memberikan kita panggilanNya supaya kita justru keselamatan yang telah kita miliki kita jalani dengan meng-expand kapasitas spiritual yang Tuhan telah beri bagi kita. Rasul Petrus memerintahkan kita untuk “harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan ”kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan dan kasih kita dengan limpah sehingga kita tidak menjadi buta dan picik dan lupa segala anugerah Tuhan yang telah mengampuni segala dosa kita (2 Petrus 1:5-9).

Firman Tuhan senantiasa mengingatkan, seperti tubuh ini membutuhkan air dan makanan yang sehat untuk bisa men-sustain hidup, spiritual kita juga membutuhkan hal yang sama. Makan sembarangan, makan junk-food, makan tidak teratur akan membuat tubuh menjadi malnutrisi. Kurang minum atau tidak minum sama sekali akan membuat tubuh menjadi dehidrasi. Ini adalah hukum natural yang tidak bisa kita tolak dan abaikan. Kepada perempuan Sikhar yang dijumpai Yesus

di tepi sumur, Yesus berkata, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air itu akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14). Air yang Yesus berikan menjadi air yang akan memberi hidup spiritual kita kesegaran, kepuasan, kesehatan dan menjadi mata air yang mengalir kepada dunia di sekitar kita.

Kepada murid-murid yang lapar, Yesus berkata, “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya”(Yohanes 4:34). Makanan menjadi kebutuhan dan the source of energy bagi tubuh jasmani. Yesus membawa konsep ini di dalam kebutuhan spiritual kita, melakukan kehendak Tuhan, menyelesaikan pekerjaan yang Tuhan berikan, melayani Tuhan, menjadi kebutuhan dan the source of energy bagi rohani kita.

Dua aspek ini, “the Living Water” dan “the Bread of Life” hanya bisa kita nikmati di kaki Tuhan. Kita minum Air Hidup yang menyegarkan, kita makan Roti Hidup yang mengenyangkan melalui firman yang kita baca dan renungkan menjadi nutrisi yang mempertumbuhkan dan dari situ kita mendapat kekuatan untuk melakukan setiap panggilan Tuhan bagi kita masing-masing. Dengan alasan berbagai kesibukan yang membuat kita mengabaikan makan dan minum rohani justru akan menyebabkan kita menjadi lemah, immune system spiritual kita gampang diserang oleh berbagai bakteri dan penyakit, akhirnya hidup spiritual kita dikuasai oleh berbagai hal negatif dan tidak membangun.

Keempat, duduk di kaki Tuhan akan membawa kepada transformasi hidup. Injil Lukas tidak mencatat apa reaksi Marta setelah mendengar teguran Yesus, tetapi dengan memperbandingkan pribadi Marta dalam Yohanes 11-12, kita bisa melihat dengan jelas transformasi ini telah terjadi kepada dirinya. Dari mulut Marta keluar kalimat, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah yang datang ke dalam dunia” (Yohanes 11:27). Kepada Maria yang discouraged karena Lazarus meninggal, Marta menguatkan dia dan membawa Maria datang kepada Yesus (Yohanes 11:28). Pribadi yang diperbaharui, pribadi yang ditransformasi oleh karena dia dengan teachable menerima teguran Yesus dan kemudian mengambil “bagian yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya.” Marta menjadi sosok pribadi yang indah. Marta tetap melayani ketika Yesus datang ke rumahnya enam hari sebelum Yesus disalib (Yohanes 12:1-2). Dia melayani dengan hati yang baru, dengan tenang, dengan indah, dengan sukacita. Tidak ada gerutu, tidak ada sungut-sungut, tidak ada frustrasi dan kemarahan di dalam pelayanannya. Dia tidak mengkritik Maria memecahkan minyak narwastu yang mahal, minyak yang disimpan seorang gadis untuk hari pernikahannya, parfum yang mahal dan berharga lebih dari $30.000 atau Rp.300 juta, dan menuangkannya ke kaki Yesus. Inilah Marta yang telah mengalami transformasi hati yang baru. Transformasi yang terjadi saat seseorang memberikan dirinya dibentuk oleh Tuhan, diubahkan menjadi manusia baru yang terus-menerus diperbaharui (band. Kolose 3:10, Efesus 4:24). Hidup yang mengalami transformasi akan menjadi inspirasi yang indah bagi orang-orang Kristen yang lain. Inspirasi yang menular, menggugah dan mendorong orang-orang Kristen yang lain juga rindu hidupnya mengalami transformasi yang sama. Transformasi itu terjadi bukan dengan kekuatan dan kemampuan sendiri; transformasi itu terjadi karena kita membuka diri kita untuk Roh Kudus bekerja lebih leluasa, melengkapi kita untuk menghasilkan buah-buah kebenaran di dalam hidup kita. Kiranya anugerah dan damai sejahtera Tuhan memelihara setiap kita.(kz)