Fix Your Eyes on Jesus

Sun, 07 Sep 2014 11:55:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (7)

Tema: Fix Your Eyes on Jesus

Nats: Ibrani 12 : 1 – 2

 

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan…” (Ibrani 12:2a). Kita ingin terus memandang kepada Tuhan Yesus Kristus, agung, indah, mulia dan baiknya Dia dan biar semua kekayaan Kristus, keindahanNya, keteduhanNya, kebenaranNya, kesucianNya memenuhi hidup setiap kita.

Waktu kita itu singkat dan sementara, di tengah waktu yang singkat itu Paulus ingin kita bagaimana melihat hidup yang singkat itu dari perspektif surga adanya. Punya barang, punya resources, punya keluarga, punya pekerjaan, punya relasi yang indah dan intim, semuanya itu adalah anugerah yang indah dan baik bagi kita. Tetapi kita harus lihat semua itu menjadi instrument dan bukan tujuan akhir hidup kita, yang kita pakai dan pergunakan dengan perspektif surgawi adalah bagaimana kita menginvestasi semua yang sementara yang tidak akan kita bawa dari dunia ini menjadi harta kita di surga yang tidak akan hilang selama-lamanya. Kalimat ini harus dan patut untuk digaris-bawahi baik-baik, bahwa waktu kita menginvestasi semua itu ke “sana,” tetap itu bukan jasa kita, tetap itu bukan perbuatan baik kita, tidak akan dan tidak boleh kita jadikan bahwa kita diselamatkan oleh Yesus Kristus karena kasih karunia, lalu plus dengan perbuatan baikku, dengan apa yang aku lakukan menjadi jasaku di dalam dunia ini supaya aku bisa berkenan kepada Tuhan.

Itulah sebabnya hari ini mari kita tutup seri “Orang Kristen dengan Waktu dan Hidupnya” ini dengan satu prinsip: only by grace, hanya karena kasih karuniaNya, hanya karena anugerahNya, hanya karena pemberian Allah itu kepada kita membuat kita sanggup bisa memberi; hanya karena pemberianNya itulah kita boleh hidup dengan limpah dan kaya. Tidak ada hal yang lain yang boleh kita tambahkan kepada the grace of God itu.

Adakah kelimpahan dari kekayaan Yesus Kristus itu memenuhi hidupmu pada hari ini? Engkau dan saya berkumpul hari ini karena satu nama saja, nama itu tidak lain adalah nama Yesus Kristus. Orang luar terlalu sering menyebut nama Yesus sebagai kata swearing, orang menjadikan nama itu sebagai hinaan, orang menjadikan nama itu sumpah serapah mereka saat nama itu keluar dari mulut mereka. Tetapi bagi kita nama itu adalah nama yang kita tinggikan dan kita tidak boleh sekali-kali melupakan nama itu begitu agung, begitu mulia, begitu indah bagi kita. Tetapi apakah nama ini, apakah pribadi ini, apakah sosok yang pernah hidup 2000 tahun yang lalu di dalam kekayaan dan kelimpahanNya sungguh-sungguh memenuhi hati kita dan tidak ada nama lain selain nama itu yang sanggup boleh memberi kelimpahan di dalam hati kita?

Di tengah media, di tengah hidup kita hari-hari, mata dan telinga kita sering melihat dan mendengar banyak hal dan seringkali focus kita tergeser kepada semua itu. Kita bangun pagi membaca koran, maka pikiran dan mata kita mungkin terfokus kepada harga rumah yang terus merayap naik, yang entah kapan bisa terbeli. Pikiran kita terfokus kepada ekonomi yang terus mengalami perubahan. Atau pada saat yang sama ketika kita membaca atau menyaksikan berbagai berita di media, pikiran kita penuh dengan segala kesulitan, penderitaan dan penganiayaan yang terjadi, dan hati kita menjadi gundah-gulana karenanya. Kita bangun pagi lalu mata kita mulai fokus kepada rumah yang berantakan, tumpukan baju yang belum disetrika, anak-anak yang lari sana-sini dan berbagai pekerjaan yang belum kita selesaikan dan itu semua membuat kita bisa kehilangan sukacita, bukan? Belum lagi ketika kita buka facebook, mata kita mulai fokus makanan apa yang dimakan orang-orang hari ini. Ketika kita buka Instagram, kita memikirkan apa yang orang lakukan, kemana mereka pergi, dsb. Itukah yang menjadi fokus yang memenuhi hidup kita? Itukah yang akan menghabiskan waktu kita selama hidup di dunia ini? Apa yang kita lihat mau tidak mau akan mempengaruhi hati kita dalam banyak hal.

Itulah sebabnya hari ini saya mengajak kita semua untuk kembali di tengah semua hal yang kita lihat, biar firman Tuhan memanggil kita kembali untuk mengingat sumber dan kelimpahan hidup kita tidak lain dan tidak bukan adalah hanya fokus kepada satu tempat, fokus kepada satu pribadi saja dan Dia akan menjadi kelimpahan hidup kita. Setelah kita fokus kepada Pribadi itu maka kita bisa melihat orang lain sebagaimana Yesus melihat orang itu; setelah kita fokus kepada Pribadi itu maka kita bisa melihat persoalan hidup kita; setelah kita fokus kepada Pribadi itu baru kita bisa melihat hidup kita sebagaimana sepatutnya.

Saya senang sekali dengan terjemahan bahasa Inggris NIV untuk Ibrani 12:2 ini, “Let us fix our eyes on Jesus.” Kalimat itu menyentuh hati kita. Pada ayat sebelumnya penulis Ibrani mengatakan, “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun di dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita…” (Ibrani 12:1). Konteksnya kepada Jemaat yang menerima surat ini penulis Ibrani mengingatkan mereka yang saat itu merasa tersendiri karena iman kepada Yesus Kristus. Karena iman kepercayaan mereka maka harta benda mereka dirampas, di berbagai tempat lain orang Kristen dibunuh, belum lagi di tempat-tempat lain oleh karena kepercayaan kepada Kristus mengalami intimidasi, penculikan, pemerkosaan seperti itu.

Dan pada waktu peristiwa-peristiwa itu terjadi kita tidak usah bertanya apa yang terjadi? Kenapa hal itu terjadi kepada mereka? Sama seperti percakapan yang terjadi antara murid-murid dengan Yesus dalam Lukas 13, bukan kita bertanya kenapa hal itu terjadi kepada mereka, tetapi sepatutnya engkau dan saya bertanya, kenapa hal itu tidak terjadi kepadaku? Jangan bertanya tragedi dan bencana yang terjadi itu dosa siapa, tetapi bagaimana respons kita terhadapnya? Biar semua peristiwa itu akan menguatkan iman kita. Mungkin sebagian orang di tempat itu hanya Kristen tradisi percaya Yesus karena keturunan, sudah terlalu lama mengaku diri orang Kristen tetapi datangnya penderitaan, kesulitan dan penganiayaan karena nama Yesus di situ sekarang mereka betul-betul tahu betapa berharganya nama itu menjadi iman dan kepercayaannya dan akhirnya menguatkan iman orang-orang yang mengalami kesulitan seperti itu.

Penulis Ibrani mengatakan pada waktu kita berada di dalam perjalanan hidup seperti ini, kita tidak sendirian. Lihat ada begitu banyak saksi mengelilingi kita. Mereka itu adalah orang-orang penting di dalam sejarah iman. Di dalam dunia ini mereka mungkin dihina dan dipermalukan karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Boleh kita lihat di situ ada Abraham, ada Musa, ada Paulus, ada Yakobus, ada orang-orang yang menjadi tokoh iman yang begitu indah sampai akhir hidupnya. Mungkin itu adalah kakek kita bagaimana berjuang di dalam perjalanan imannya, semua itu membuat hati kita dibakar lagi, membuat iman kita dikuatkan lagi, menjadikan kita lebih excited lagi sekalipun di dalam dunia ini kita berjalan mengalami kesulitan dalam mengikut Tuhan, it is a worth journey. Selain tokoh-tokoh itu memberikan inspirasi, menguatkan kita, kita melihat pengorbanan yang diberikan oleh Hudson Taylor, kita melihat pengorbanan yang diberikan Mother Teresa, kita menyaksikan orang-orang yang mati karena Kristus di ladang misi, itu semua menggugah hati kita dan memberi inspirasi bagi kita. Tetapi di tengah semua saksi-saksi iman yang mengelilingi kita bagaikan awan, penulis Ibrani meminta kita melihat Satu Pribadi itu, fix your eyes to Him! Jesus, the Author and the Perfecter of our faith.

Kita bertobat dan percaya Kristus, kita beriman kepada Kristus, kata ini, “the author of my faith,” berarti itu iman pun pemberian dari Yesus Kristus. Saya bisa bertobat kepadaNya, itu pun bukan inisiatif yang datang dari diriku sendiri. Itu adalah pemberian dari Dia. Maka kata “author” itu menjadikan kita penuh dengan sukacita luar biasa. Semua yang kita perlukan, segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, sudah selesai dikerjakan oleh Kristus. Dialah yang menjadi sumber keselamatan kita. Dialah yang menjadi pencipta bagi iman kita. Semua itu terjadi dalam hidup kita karena kasih karunia dan anugerah Tuhan.

Dalam setiap surat-suratnya rasul Paulus selalu mengawalinya dengan salam seperti ini, “Kasih karunia dan damai sejahtera…” Dua kata ini, “kharis” atau “grace” dan “eirene” atau “shalom” tidak boleh lepas satu sama lain. Tidak pernah ada shalom sebelum ada grace. Ini adalah salam yang sangat baik disebutkan di antara orang Kristen bertemu, bukan hanya “shalom” saja, tetapi dua kata sekaligus, “kharis dan shalom,” mengingatkan kita shalom terjadi di antara anak-anak Tuhan karena kharis dari Tuhan telah lebih dulu datang menjamah hidup kita. Ini adalah tema yang sudah begitu sering kita dengar, tetapi biar hari ini hati kita disegarkan kembali oleh pengertian ini, what is grace, sehingga kita kembali menghargai anugerah ini.

Kepada Jemaat yang mengalami kesulitan hidup, penulis Ibrani hanya mengatakan satu kalimat, “Fix your eyes on Jesus, the author and the perfecter of your faith.” Tidak ada hal yang bisa saya perbuat, tidak ada hal yang bisa saya kerjakan, kecuali yang satu itu. Karena memang hanya pada Yesus Kristus sajalah sang Pemberi segala sesuatu, Dialah sumber yang memberi kita segala kelimpahan dan biarlah melalui mata yang memandang kepada Kristus kita boleh melihat yang lain dengan benar, karena mata ini sedang memandang mata sang Pemberi kasih karunia demi kasih karunia. Kita menjadi anak Tuhan, kita boleh melayani Tuhan, itu semua adalah karena kasih karunia. Dalam Efesus 2:8-9 Paulus berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman. Itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri.” Kita bisa cape di dalam pelayanan, kita bisa tersinggung mungkin karena kita merasa orang tidak menghargai kita, dan semua itu bisa akan terkubur dan segera hilang karena kita tidak ingin ada jasa kita masuk ke dalam kasih karunia Allah. Waktu kita sanggup bisa mengeluarkan uang untuk memberikan sesuatu kepada Tuhan, kita juga harus senantiasa selalu tahu uang yang kita beri kepada Tuhan itu pun juga datangnya dari Tuhan. Grace itu senantiasa akan membuat kita limpah dengan syukur menyadari sumbernya itu dari Tuhan kita Yesus Kristus.

“Fix your eyes on Jesus, the author of your faith.” Pada waktu kita mengatakan itu adalah kasih karunia, berarti itu adalah anugerah, itu adalah pemberian, it is a gift, it is granted to us. Waktu kita apply visa, kita tidak punya kekuatan apa-apa untuk memperolehnya. Kita hanya bisa menantikan visa itu “granted” kepada kita. Kita tidak bisa apa-apa. Kalimat itu mengingatkan kita visa itu diberi, itu adalah hak dari pemerintah memberi grant untuk menerima engkau masuk dan tinggal menjadi permanent resident di negaranya. Itu adalah granted, pemberian.

Kata itu juga dipakai oleh Alkitab, mengingatkan kita tidak ada sesuatu dalam diri kita, tidak ada hal yang bisa kita kerjakan dan lakukan untuk kita deserve dan layak mendapatkan grace itu. Kepercayaanku, pertobatanku, apapun yang terjadi di dalam hidupku semua karena anugerah Tuhan. Pengertian akan anugerah itu akan membuat kita menjadi limpah dengan sukacita.

Kalau begitu sebelum kita mendapatkan anugerah kasih karunia Tuhan, saya sebenarnya layak mendapatkan apa? Kita gampang menilai orang itu jahat dari perbuatannya yang kriminal, tetapi sulit melihat diri sendiri sebagai orang yang jahat, bukan? Tetapi Paulus dalam Efesus 2:3 mengingatkan kita dahulu juga sama seperti mereka. Kita sepatutnya juga mendapatkan hukuman yang sama. Kita tidak lebih baik daripada orang-orang yang lain. Manusia berdosa memiliki sifat dan jiwa yang sama, kita semua memberontak kepada Allah.

Ada orang yang lebih jahat daripada orang lain cuma dalam dua hal. Satu, waktu dia punya kuasa. Kedua, kalau dia ada kesempatan. Banyak orang waktu masih ada di “bawah” begitu rendah hati dan seolah tidak akan melakukan korupsi dsb. Namun fakta membuktikan setelah seorang memegang kekuasaan dan mempunyai banyak kesempatan, dia akan melakukan banyak hal. Orang menjadi lebih jahat karena dia punya kuasa. Dia bisa melanggar hukum tanpa takut diadili karena dia adalah hukum itu sendiri. Dialah yang menentukan yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah. Itulah sifat dosa.

Kita melihat Paulus sebelum bertobat, walaupun dia adalah seorang Farisi yang saleh dan taat kepada hukum Taurat, setelah Tuhan mencerahkan hatinya, dia bisa berkata, kita dahulu juga sama seperti mereka, kita tidak lebih baik daripada orang-orang jahat ini. Pada dasarnya kita juga patut dimurkai oleh Tuhan.

Grace itu mengingatkan kita, we deserve punishment dari Tuhan. Kita sepatutnya dan selayaknya menerima hukuman yang kekal dari Dia. Dan pada waktu Yesus Kristus mati di kayu salib bagi kita, kematianNya adalah kematian yang menebus engkau dan saya, dan itu adalah kasih karunia yang luar biasa.

Yesus Kristus bukan saja “the author of our faith,” Dia juga adalah “the perfecter of our faith.” Dia bukan hanya di awal yang menghasilkan iman kita, tetapi Dia juga adalah Tuhan yang pasti akan menyempurnakan iman kita. Dialah yang melakukannya dari awal sampai akhir. Maka dengan demikian grace bukan saja sesuatu yang tidak layak dan tidak patut kita terima, grace itu sepenuhnya adalah pemberian Allah dan pemberian itu adalah tuntas. Kita tidak perlu membayar balik. Tidak ada sesuatu yang kita tambahkan untuk melunasinya. Anggaplah kita berhutang $10,000 lalu Tuhan bilang, ini Aku bayarkan $9,000, yang $1,000 kamu yang selesaikan. Tidak seperti itu. Tuhan sudah bayar tuntas. Bagian kita hanya bersyukur atas anugerah yang Tuhan beri itu. Dan pada waktu kita bersyukur terhadap anugerah yang Tuhan kasih, kita juga melakukannya berdasarkan kita sudah diberi terlebih dahulu oleh Tuhan kepada kita.

Orang generous bukan saja bicara soal orang itu memberi banyak karena dia orang Kristen, karena kita bisa lihat ada orang yang bukan Kristen juga banyak yang memberi dengan murah hati. Kita melihat ada orang-orang yang baik di dunia ini, orang-orang yang punya banyak kekayaan dan orang-orang philanthropist yang sangat memperhatikan kemanusiaan, mereka rela memberi sebagian dari uang yang mereka miliki bagi orang-orang yang miskin dan kekurangan. Kita menghargai orang-orang seperti ini. Mereka tahu apa yang mereka miliki tidak bisa mereka bawa pergi ke sana. Tetapi yang kita kerjakan dan lakukan sebagai orang Kristen harus memiliki konsep yang lebih daripada itu. Kita bukan mau dihargai oleh orang, kita bukan mau nama kita dikenal sebagai philanthropist yang terkenal, bukan itu. Kita tahu apa yang ada di tangan kita ini hanya sementara dan apa yang Tuhan kasih di dalam dunia yang sementara ini juga adalah pemberian dari Tuhan. Memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya bukan menjadi goal dalam hidupku tetapi apa yang aku miliki menjadi instrument yang saya boleh pakai bagi pekerjaan Tuhan.

Seorang hamba Tuhan bernama Randy Alcorn menulis dalam bukunya, “The Treasure Principle” satu kalimat yang begitu indah, “God prospers me not to raise my standard of living, but to raise my standard of giving.” Kalimat ini begitu menggugah seorang Kristen bernama Scott Neeson, seorang yang menjabat posisi tertinggi sebagai president dari 20th Century Fox International, di bawah pengawasannya diluncurkan film-film blockbusters yang sangat berhasil seperti “Titanic, Braveheart, Independence Day, X-Men, the Star Wars Trilogy,” dsb. Tahun 2003 Neeson berencana untuk pindah ke Sony Pictures Entertainment, tetapi sebelumnya dia mengambil cuti perjalanan ke Asia, dan perjalanan itu merubah total hidupnya. Di Kamboja dia melihat keluarga dan anak-anak pemulung yang melarat dan tidak ada pengharapan. Dari situ hatinya tergerak untuk melepaskan karirnya dari hidup glamour Hollywood, menjual rumah, mobil-mobil mewah dan yatch dan dengan uang yang dia miliki Neeson membuka yayasan Cambodian Children’s Fund (CCF) menjadi berkat besar untuk menolong anak-anak yang tinggal di pemukiman tempat pembuangan sampah di sana.

Bagaimana engkau menggunakan resources yang Tuhan berikan bagimu di dunia ini menjadi sebuah investasi dalam kekekalan yang memuliakan Tuhan? Waktu Tuhan memberkati kita dengan harta benda, semua itu bukan untuk menaikkan standar hidup kita melainkan untuk menaikkan standar pemberian kita so we can give generously. Itulah yang terjadi saat seseorang mengerti apa makna grace dari Tuhan.

Grace bukanlah sebuah sentimental feeling. Grace adalah satu power yang sanggup bisa membuat orang yang tidak memiliki apa-apa sanggup bisa menghasilkan dan mengalirkan sesuatu dan aliran itu tidak pernah berhenti keluar dari hidupnya. Itulah yang Yesus katakan dalam Yohanes 4:14 “Air yang Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus-menerus memancar.” Itulah juga yang dikatakan dalam Yohanes 1:16 “Karena dari kepenuhanNya kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia…” grace upon grace terus melimpah mengalir keluar. Dan kita bisa menyaksikan keindahan itu dalam fakta hidup banyak orang Kristen yang mengalami grace itu. Itulah yang memberikan kita keberanian, encouragement dan yang terindah adalah, “Fix your eyes on Jesus…” ketika matamu fokus kepada Dia, betapa indah dan agungnya Yesus Kristus itu. Di dalam nama Yesus terkandung kekayaan lebih daripada segala-galanya. Kita ngin memuliakan Dia yang sudah menjadi pemberi, penyempurna iman kita. Biar mata kita fokus terus menerus supaya makin jelas dan makin tajam melihat hidup kita di dalam dunia ini sebagaimana mata Tuhan melihat.(kz)