We never Lose Heart

Sun, 10 Aug 2014 00:37:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Radjali Ramli MDiv.

Tema: We never Lose Heart

Nats: 2 Korintus 4:16-18

 

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”

 

Paulus mengatakan dengan begitu jelas, “Do not lose heart,” jangan menjadi tawar hati. Berarti setiap dari kita mungkin akan dan bisa menjadi tawar hati. Kita tidak memungkiri setiap dari kita mengalami penderitaan kita di dalam konteks kita masing-masing. Setiap orang yang bekerja harus mengalami pergumulan masing-masing di dalam konteks pekerjaannya. Setiap ibu yang mengasuh anak ada “penderitaannya” masing-masing yang harus dia lalui hari demi hari. Setiap pelayan Tuhan, Tuhan ijinkan harus ditindas, seperti Paulus yang ditindas. Pelayan Tuhan mengalami apa yang namanya dianiaya, mengalami apa yang namanya kesesakan, mengalami apa yang namanya challenge tantangan, setiap hari. Termasuk Gereja Tuhan yang harus bergumul dari hari ke hari. Paulus mau mengatakan kepada kita, do not lose heart! Jangan menjadi tawar hati.

Paulus adalah orang yang mempunyai kualifikasi untuk mengatakan kalimat ini karena dia sendiri memberikan kesaksian di dalam hidupnya bahwa dia harus mengalami semuanya ini tetapi kita menyaksikan melalui terang kebenaran firman Tuhan dan dari sejarah Gereja dan dari tulisan bapa-bapa Gereja, bahwa dia bertekun, endurance, sampai kepada garis akhir pertandingan yang Tuhan tetapkan bagi dia. Paulus tidak menjadi mundur dari pertandingan yang harus dia jalani. Dia menjadi seorang prajurit yang disiplin, petani yang tekun, olahragawan yang ulet, yang terus menjalani pertandingan itu, terus berlari secara marathon sampai kepada garis akhir dari pertandingan yang Tuhan tetapkan baginya (1 Korintus 9:26, 2Timotius 2:4-6).

Apa yang menjadi rahasianya? Bagaimana dia melakukannya? Bagaimana cara dia memandang situasi dan kondisi yang harus dialaminya dari hari ke hari? Ini menjadi begitu nyata karena kita juga mengalaminya, bukan? Itu sebab Paulus berkata, “…kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami…” (2 Korintus 4:7). Paulus memberitahu kepada kita kekuatan yang menopang dia, kekuatan yang membuat dia boleh terus maju dari sehari ke hari sampai dia mencapai garis akhir itu adalah bukan bersifat fisik, tetapi kekuatan yang bersifat rohani dan kuasa yang bersifat rohani. Maka dia mengatakan meskipun manusia jasmaniah kami semakin merosot namun manusia batiniah kami semakin dibaharui dari sehari ke sehari. Tubuh fisiknya Paulus yang adalah bejana tanah liat itu semakin merosot dan mengalami kemerosotan. Paulus sering mengalami kelaparan, Paulus sering mengalami kurang istirahat, kurang tidur, Paulus mengalami sakit berkali-kali dan dianiaya secara fisik, didera sedemikian rupa sampai dia mengatakan I bear on my body the marks of Jesus (Galatia 6:17). Luka yang begitu banyak, carut-marut dari bekas luka yang keloid itu. Dilempar batu sampai semaput, oh semua itu dia alami, secara fisik dia alami (2 Korintus 11:23-28). Namun dia mengatakan pada saat yang sama, the inner being dia yang di dalam itu, yang tidak kelihatan itu, jiwanya, kerohaniannya itu, pada saat yang sama terus dibaharui, terus disegarkan. Menarik, bukan? Paulus tidak mengabaikan apa yang dia alami secara fisik; Paulus tidak mengabaikan apa yang dia alami di dalam pelayanan dia. It is real. Betul. Tetapi dia memberikan kepada kita satu terang yang begitu indah, at the same time dari hari ke hari dia mengatakan manusia batiniah dia, kekuatan rohani dia itu bertambah. Mengapa bertambah? Bagaimana bisa mengalami ekskalasi menaik? Karena ada kalimat “dibaharui dari sehari ke sehari.”

Dalam Efesus 3:16, Paulus berdoa “…supaya Ia menurut kekayaan kemuliaanNya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu…” Paulus mengalami pembaharuan di dalam dirinya yang tidak kelihatan. Yang di luar mungkin yang kelihatan di wajahnya ada luka, merosot secara penampilan fisik, tetapi ada satu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, dan dia sadar itu dan dia memberitahu kita, his inner strength, kekuatan yang di dalam ini, kuasa rohani yang di dalam ini bertambah, karena Tuhan memperbaharuinya dari hari ke hari. Tuhan Allah yang begitu kaya di dalam kekayaan kemuliaanNya di dalam diri Kristus memperbaharui dia dari hari ke hari.

Kelemahan yang ada pada kita, kekurangan yang ada pada kita, keterbatasan yang ada pada kita dari sudut pandang Tuhan Allah secara biblika justru kita akan mengalami pembaharuan di dalam ini. Dalam 2 Korintus 12:10 dia berkata, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan, dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah maka aku kuat.”

Yesaya adalah seorang hamba Tuhan yang harus melayani Tuhan waktu dia bicara menyampaikan firman Tuhan orang menjadi tuli karena tidak mengerti, tetapi dia harus terus khotbah, harus terus melayani tetapi matanya melihat tidak ada orang yang datang kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berkata, dia harus pergi dan terus berbicara karena message dia akan menjadi penghakiman dari Tuhan Allah kepada orang-orang yang tidak mau respons kepada Tuhan. Saya bisa membayangkan dalam hati Yesaya sedalam-dalamnya betapa dia rindu ada orang-orang yang berespons kepada Tuhan, betapa ingin dia melihat ada hasil. Yesaya mengatakan, “Tidakkah kau tahu dan tidakkah kau dengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya… Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru…” (Yesaya 40:28-31). Tuhan mau mencurahkan kekuatan dan semangat yang baru. Setiap pelayan Tuhan perlu semangat yang baru. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam, kita yang sudah berjerih lelah di bawah matahari, di hari yang baru itu kita perlu semangat yang baru lagi dan Tuhan yang memberikannya. Dan kita akan terus berjalan lagi dan berjalan lagi dan berjalan lagi, dan Tuhanlah yang akan ditinggikan dan dimuliakan.

Satu point lagi yang indah, pada waktu kita harus mengalami kesukaran, kesesakan, kesulitan, ada kebenaran yang sangat indah yang Tuhan singkapkan kepada kita dari orang yang sudah mendahului kita. Dalam Ulangan 8:2-4 Musa mengingatkan bangsa Israel, “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kau lakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, untuk merendahkan hatimu dan menguji engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu…” Inilah tujuannya. Ini keindahannya, supaya kita tahu isi hati kita. Bukan Tuhan tidak tahu isi hati kita, tetapi kita yang tidak tahu isi hati kita, sehingga Tuhan membukakan kehendakNya yang indah, yang penuh kasih karunia itu memimpin engkau di dalam perjalananmu mengikut Dia. Ada yang sudah 50 tahun, ada yang sudah 60 tahun, ada yang sudah 70 tahun ikut Tuhan ada yang baru beberapa tahun, ada yang baru beberapa bulan. Biar kita makin bergumul, bukan menjadi sempit jiwa kita, tetapi justru makin lapang. Biar kita makin bergumul, kita itu makin indah dan penuh dengan kasih karunia Tuhan yang makin keluar. Keterbatasan itu justru membuat kita kepada Dia yang tak terbatas. Kelemahan kita justru membawa kita untuk datang kepada Dia yang dahsyat dan kuat. Sehingga kerohanian kita yang di dalam ini menjadi kuat, dikuatkan oleh Tuhan, ditempa oleh Tuhan.

Point yang kedua di ayat 17 Paulus memperlihatkan bagaimana dia menilai akan hari-hari yang harus dia lalui, it is so real karena dia harus alami secara fisik, it is so real karena kelihatan secara fisik, it is so real begitu nyata karena dia sendiri yang harus melaluinya. Bagaimana menilai situasi dan kondisi itu, Paulus mengajarkan kepada kita, menilai kondisi sekarang bukan dari sudut pandang kekinian tetapi dari sudut pandang kekekalan. Itu sebab Paulus mengatakan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal…” Ada satu komparasi, satu perbandingan, satu penilaian yang Paulus lakukan. Dan dia memandang penderitaan dan pergumulan dia, semua hal yang harus dia alami, yang betul-betul secara real dialami di dalam fisik, dialami di dalam emosi, dialami di dalam seluruh keberadaan diri dia, dia bandingkan dengan yang namanya kemuliaan yang kekal yang menanti dia. Maka dia mengatakan penderitaan yang sekarang ini ringan; dia mengatakan penderitaan yang sekarang ini sementara. Ini satu hal yang kita perlu mempelajarinya, mempelajarinya bukan di dalam ruang kelas, juga bukan di dalam ruang kebaktian ini, tetapi engkau akan mengalaminya dan akan melakukannya di dalam hidupmu masing-masing yang Tuhan pimpin. Penderitaan yang sekarang ini ringan dan bersifat sementara.

Roma 8:17, “Jika kita adalah anak maka kita adalah ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama Kristus jika kita menderita bersama Dia supaya kita juga dipermuliakan bersama Dia…” Paulus terus menilai dan mengkomparasi apa yang dia alami sekarang ini dengan kemuliaan yang akan datang, kemuliaan kekal yang akan datang, kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya. Dan bukan hanya Paulus yang menghubungkan penderitaan dengan kemuliaan yang kekal, Petrus juga menuliskan hal yang sama. 1 Petrus 1:6-7, “Bergembiralah akan hal itu sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan…” Petrus mau mengatakan pada waktu engkau mengalami, pada waktu engkau melewati dari hari ke hari, pada waktu imanmu diuji, pada waktu engkau harus mengalami berbagai macam pencobaan life trials, Petrus mengatakan akan ada puji-pujian, akan ada penghormatan, akan ada kemuliaan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego pada waktu seluruh massa yang begitu banyak itu berkumpul di lapangan yang begitu luas, seluas mata memandang, pada waktu musik dibunyikan, dimainkan, lalu kemudian perintah untuk menyembah patung raja yang dimuliakan sebagai allah itu dikumandangkan, seluruh manusia itu berlutut, sisa tiga orang ini yang tetap berdiri di atas kakinya. Hari itu, moment itu, Alkitab mencatat tiga orang ini kemudian dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala yang dipanaskan tujuh kali lebih panas daripada biasanya. Yang saya amazed, waktu mereka keluar dari api pembakaran itu, bau kebakaran pun tidak ada pada mereka. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka itu baru melalui dapur api. Dari ujung rambut di kepala sampai kaki, bau kebakaran pun tidak ada (Daniel 3). Waktu orang percaya diuji oleh api, karakter yang harus keluar itu menurut kitab suci seharusnya mereka tidak ada bau kebakaran.

Karakter yang indah akan muncul, kemurnian iman itu muncul, iman yang betul-betul depends on God itu muncul. Sdr boleh periksa itu di dalam dirimu, sdr boleh refleksi kemurnian motivasi itu muncul setelah melalui ujian iman. Kemurnian dari pelayanan itu muncul. Kenapa? Karena Tuhan mengasihi engkau, karena Tuhan mengasihi GerejaNya. Gereja Tuhan itu harus diuji imannya supaya murni. Dan Yesus Kristus mengatakan Aku akan mempersembahkan mempelai wanitaKu, yaitu GerejaNya, murni tak bercacat dan sedang di dalam progress, berarti kita semua.

Ayat yang dikatakan oleh rasul Petrus itu sangat menggugah saya, waktu seseorang itu harus melewati api yang menyala-nyala, itu adalah perkenan Tuhan terhadap engkau. Sdr jangan salah mengerti, pada waktu kita bergumul harus melalui semua hal yang menurut kacamata kita itu adalah sulit dan harus mengalami kesesakan, Alkitab memberitahu kepada kita sebenarnya Tuhan sedang mengarahkan mataNya kepadamu. Mengapa? Karena pada waktu seseorang harus melewati ujian, Tuhan menyatakan janjiNya bahwa Ia tidak akan memberikan ujian itu melebihi kekuatan kita. Maka waktu anak-anak Tuhan yang sedang mengalami ujian, mata Tuhan dari surga melihat dan terus meneliti seberapa jauh dia melewati itu semua. Itu yang harus membuat kita melaluinya dengan penuh pengharapan karena kita tahu Tuhan tidak pernah mangkir dan memungkiri apa yang Dia katakan di dalam kitab suci. Air mata memang boleh ada di matanya Paulus. Saya percaya setiap kita pernah meneteskan air mata ketika kita melewati yang namanya dapur ujian. Tetapi air mata yang mengalir dari kedua mata fisik Paulus tidak membutakan pandangannya, tidak mengaburkan pandangannya akan kemuliaan surgawi itu, kemuliaan surgawi yang dilihat Paulus dengan mata hatinya, meskipun Paulus yang harus kehilangan nyawanya. Petrus melihat itu dengan mata hatinya, meskipun harus disalib terbalik. Mari kita boleh menilai kondisi dan keadaan kita dengan benar. Bukan berhenti di dalam kondisi yang sekarang ini sedang kita alami, tetapi dari sudut pandang kekekalan itu memandang segala sesuatu dan dari sudut pandang apa yang dicantumkan dalam kitab suci.

Terakhir, Paulus mengatakan, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan melainkan yang tidak kelihatan…” Endurance, ketekunan untuk mencapai garis akhir itu akan terjadi kalau kita mempunyai arah pandang yang benar. Paulus memberitahu kepada kita dia memperhatikan yang tidak kelihatan. Oh, kita cenderung memperhatikan apa yang kelihatan, bukan? Kita akan cenderung menghitung dengan semua source yang ada pada kita. Kita harus mengakui itu. Tetapi Paulus mengatakan dia memperhatikan yang tidak kelihatan. Dia menempatkan yang kelihatan itu pada tempatnya dan pada porsinya sedemikian rupa. Rasul Yohanes mengingatkan dalam 1 Yohanes 2:17 “Dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya…” Semua resources yang ada pada dunia ini, termasuk resources yang ada pada kita, itu bisa habis, itu bisa hilang. Jangan engkau taruh hatimu sepenuhnya kepada resources perhitunganmu lalu engkau berkata, “Ini sudah secure, saya sudah hitung…aman!” Ada banyak yang kita hitung yang meleset, bukan? Ada banyak yang kita rencanakan tidak berjalan, tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Ada “aktor x” di dalam hidup orang percaya yang sangat indah yang Tuhan kerjakan, yang melampaui akan apa yang pernah kita pikirkan dan yang pernah kita minta (1 Korintus 2:9). Itu kalimat dari kitab suci. Yang kelihatan itu Paulus tempatkan pada porsinya. Rekan kerjanya, resources yang ada pada dia. Tetapi apa yang tidak kelihatan, ‘things which are not seen,’ justru yang tidak kelihatan itu Paulus lensa mata hatinya begitu fokus.

Paulus fokus  dan memperhatikan kepada yang tidak kelihatan itu, Allah Tritunggal yang tidak kelihatan, itu justru Paulus perhatikan. Komitmen dia kepada Allah, keterikatan dia kepada Kristus sebagai budak Kristus itu begitu nyata di dalam surat-suratnya, sdr bisa baca dalam lembaran demi lembaran dari goresan tangannya. Di dalam surat-suratnya sdr akan menemukan kecintaannya kepada Allah, komitmennya kepada Kristus, lalu kemudian seluruh kerinduan dia nyatakan itu, dia mengatakan ‘saya rindu menjadi pengikut Kristus,’ itu goal dia. Dia mengatakan ‘teladanilah aku seperti aku meneladani Kristus’ (1 Korintus 11:1). Kecintaan dia kepada jiwa-jiwa yang terhilang itu sampai dia berani dan bisa mengatakan ‘celakalah aku apabila aku tidak memberitakan Injil’ (1 Korintus 9:16). Paulus committed kepada Allah Tritunggal yang telah mengutus dia. Paulus menyatakan cintanya kepada jiwa yang terhilang, yang tidak kelihatan secara kasat mata. Hatinya itu betul-betul menyala-nyala untuk melayani Tuhan. Dalam surat terakhir menjelang kematiannya, Paulus berkata, “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal…” (2 Timotius 2:10).

RECI Sydney dan Gereja Tuhan dimana pun, utamakanlah yang utama yang absolut, yaitu kebenaran firman Tuhan. Prinsip management bukanlah kebenaran yang absolut. Pentingkanlah relasi yang hidup, yang organis, lebih daripada struktur organisasi yang hanyalah bagan di atas kertas. RECI Sydney dan Gereja Tuhan dimana pun, berdoalah Tuhan memberikan cinta kasihNya di dalam hatimu untuk engkau setiap kali keluar dari pintu gereja, sedalam-dalamnya hatimu engkau melihat Tuhan yang tidak kelihatan yang begitu indah yang telah memimpin hidupmu untuk engkau dipakai olehNya untuk menyatakan kasih Tuhan di tengah-tengah tempat dimana engkau berada.

Kita refleksi diri kita sejenak di hadapan Tuhan seturut dengan kebenaran Tuhan yang kita dengar pada hari ini. Ambillah waktu berkata-kata kepada Tuhan. Di depan tahta Tuhan, mata kita yang hanya bisa melihat apa yang kelihatan ini sedang ingin melihat apa yang tidak kelihatan, yang adalah kemuliaan Tuhan. Kita percaya kepada Tuhan, kita yang terbatas ingin bersandar kepada lengan Tuhan yang berkuasa dan yang tidak terbatas. Kita hidup di dalam dunia ini menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Pekerjaan kita membuat kita ragu, kehidupan keluarga kita memberikan berbagai kesulitan di dalam hidup kita. Tetapi apapun yang membuat kita berbeban berat di dalam hidup ini, tubuh kita menjadi letih, lesu dan sakit. Tetapi kita boleh mendengar firman dan memuji nama Tuhan, biar Roh Tuhan yang berkuasa itu mengalir berlimpah di dalam hati dan hidup setiap kita. Kita percaya janji Tuhan, “Barangsiapa minum air yang akan Aku berikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada kekekalan” (Yohanes 4:14). Biar hari ini kita diikatkan dengan saudara seiman di seluruh dunia, di tengah setiap pergumulan anak-anak Tuhan, Tuhan mendengar seruan kita dan menguatkan kita satu persatu. Kita yang hidup di dalam kelimpahan bisa memahami kesulitan anak-anak Tuhan yang mengalami kekurangan. Kiranya anak-anak Tuhan yang berada di dalam kesulitan kita doakan supaya mereka mendapatkan kelegaan. Karena kita tahu apa yang kita kerjakan dan lakukan bagi Tuhan tidak pernah pulang dengan sia-sia dan tidak akan pernah hilang lenyap begitu saja. Serahkan pelayanan dan hidup kita di hadapan Tuhan.(kz)