To Every Thing a Season

Sun, 17 Aug 2014 04:57:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (4)

Nats: Pengkhotbah 3:1-15

 

Dalam Lukas 12:54-56 Tuhan Yesus Kristus memanggil setiap kita untuk memiliki bijaksana untuk menilai jaman. Rupa dari natur alam, cuaca, prediksi dari ekonomi dan segala aspek dalam hidup ini sanggup untuk kita bisa lihat. Yesus menegur orang-orang Farisi dan orang-orang yang hadir di sekitarNya pada waktu itu, “Rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya …tetapi bagaimana dengan kebutuhan rohanimu? Mengapa engkau tidak sanggup menilai jaman?” Kalimat itu indah sekali karena dari situ Tuhan ingin memberitahukan kepada kita keunggulan dan keunikan kita sebagai manusia. Kita bukan saja orang yang hidup berjalan di dalam waktu tetapi kita juga adalah orang yang sanggup bisa mendahului waktu dimana kita hidup. Kata ‘menilai jaman’ itu berarti kita adalah manusia yang mampu memiliki mimpi, kita mampu memiliki imajinasi, kita sanggup memprediksi ke depan di dalam hidup ini. Ketiga kata ini: mimpi, imajinasi, prediksi, semuanya itu merupakan satu kemampuan manusia sanggup melompat jaman, mendahului hidupnya, ada di depan. Itulah hal yang luar biasa indah yang Tuhan karuniakan kepada kita.

Namun Tuhan Yesus sekaligus mengingatkan kita juga melihat lebih dalam, bukan sekedar apa yang kelihatan, apa yang ada dalam dunia ini, karena hidup kita bukan hanya di sini, hidup kita tidak berhenti sampai di sini. Satu kali kelak kita akan bertemu dengan Tuhan kita, di situ kita tahu ada hidup yang lain sesudah hidup yang di sini, pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan Allah, bagaimana kita?

Kita sanggup bisa mengambil keputusan sekarang berdasarkan apa yang kita bisa lihat di depan. Kita bsa prediksi apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi. Itulah sebabnya kita berhati-hati dengan hidup kita sekarang, kita berhemat dan menabung dengan berpikir bahwa kita perlu bersiap menghadapi apa yang akan terjadi di depan kalau prediksi itu betul-betul terjadi. Mengantisipasi melampaui waktu jaman, itu adalah hal yang kita bisa kerjakan. Kita bisa prediksi, kita bisa imajinasi, kita sanggup bisa pikirkan 20 langkah ke depan. Dengan memikirkan 20 langkah itu kita kira-kira tahu apa hasil akhir dari prediksi yang kita pikirkan itu. Tetapi ada hal yang penting sekali, apa yang membedakan mimpi itu hanya menjadi mimpi di siang bolong dengan mimpi yang direalisasikan? Kita boleh mimpi 20 langkah ke depan, tetapi langkah ke 20 itu baru bisa terjadi kalau kita melangkah di langkah ke 19. Langkah ke 19 tidak akan pernah terjadi kalau kita tidak melangkah di langkah ke 18. Dan langkah ke 18 kita boleh pikir tetapi itu tidak akan pernah terjadi kalau kita tidak menjalani langkah yang ke 17, dst. Kita boleh mimpi, boleh pikir, boleh imajinasi, boleh prediksi 20 langkah ke depan, tetapi pada saat yang sama kita tahu kita tidak akan mungkin hadapi kalau kita tidak step by step di dalam hidup ini. Kenapa kita harus step by step? Itulah yang dikatakan oleh Alkitab kita, kita bisa menilai jaman, kita boleh sanggup melihat di depan, tetapi kita adalah orang yang tidak bisa melampaui jaman di dalam perjalanan hidup ini. Kita bukan Tuhan. Kita dilingkupi dan dibatasi oleh proses perjalanan waktu. Imajinasi kita melampaui waktu tetapi hidup kita harus melewati perjalanan waktu. Kita bisa menilai jaman, but we have to live season by season. Kita harus hidup ada waktunya ini, ada waktunya itu. Itulah perjalanan hidup kita harus melewati apa yang ada sehari ke sehari. Ketika waktu yang diberi Tuhan kepada setiap kita, ingatkan ada seasons dalam hidup setiap kita. Tidak ada orang yang bisa lepas dari hal itu. Seasons dan siklus itu tidak bisa kita ubah hanya karena kita tidak mau menjalaninya lalu kita harap dia tidak ada. Tetapi setelah selesai Alkitab memberikan fakta ini, Alkitab memberi beberapa dimensi ini.

Pengkhotbah berkata, “For everything there is a season and for every matter under heaven there is a time” (Pengkhotbah 3:1). Ada waktunya bagi segala sesuatu artinya perjalanan itu adalah satu perjalanan yang harus kita lewati. “There is a season for everything, there is a time for every matter. A time to be born and a time to die; a time to plant and a time to uproot; a time to kill and a time to heal; a time to tear down and a time to build; a time to weep and a time to laugh; a time to mourn and a time to dance; a time to scatter stones and a time to gather them; a time to embrace and a time to refrain; a time to search and a time to give up; a time to keep and a time to throw away; a time to tear and a time to mend; a time to be silent and a time to speak; a time to love and a time to hate; a time for war and a time for peace” (Pengkhotbah 3:1-8).

Pertama, segala sesuatu fakta kehidupan yang ada di dunia ini harus kita jalani dan fakta kehidupan ini saling inter-koneksi satu sama lain. Tidak mungkin kita menuai kalau kita tidak menabur. Itu yang namanya inter-koneksi di dalam fakta kehidupan. Tetapi sebelum kita tabur, kita tahu kita perlu cabut akar dari rumput liar di ladang kita. Dan setelah kita menuai, kita juga tahu kita perlu membuat tanah itu beristirahat seketika waktu tidak menghasilkan apa-apa. Inilah fakta kehidupan. Tidak ada musim menuai, menuai dan terus menuai di dalam hidup ini. Tidak ada yang namanya berhasil, berhasil dan terus akan berhasil di dalam hidup ini. Tidak ada di dalam fakta kehidupan ini orang lancar, lancar dan terus saja lancar. Ada waktunya kita gagal, ada waktunya kita harus bersabar karena belum datang waktunya, ada waktunya kita kehilangan dan merugi. Menyadari bahwa di dalam hidup kita, kita menghadapi fakta kehidupan seperti itu. Ada siklus, ada masa, ada periode. Kita harus melihat segala sesuatu dengan komplit. Tidak boleh hanya melihat dari satu sisi saja. Dan bagian ini dengan indah sekali membawa kita dari perspektif Allah mau mendidik, mengajar dan melatih kita melihat seluruh fakta hidup kita dan bagaimana reaksi emosi kita, reaksi pengetahuan kita, terhadap fakta yang terjadi ini.

Tidak gampang dan tidak mudah ketika seseorang telah mencapai puncak ketenaran, menjadi seorang selebriti yang dipuja dan dikagumi banyak orang, tetapi setelah perjalanan waktu kemudian satu persatu orang meninggalkan dan tidak mengingat dia lagi. Tidak gampang dan tidak mudah pada waktu seseorang telah mencapai kejayaan dan kesuksesan, uang melimpah ruah memenuhi kantongnya sampai penuh sesak. Tetapi tidak selamanya masa seperti itu terus ada, bukan? Dan apa jadinya ketika di akhir hidup dia mulai mengalami kesulitan keuangan? Ada orang yang bisa menerima perubahan itu, tetapi ada yang tidak bisa menerimanya. Dan semakin dia menyimpan realita itu di belakang orang, berusaha memperlihatkan performance yang sama dengan hutang demi hutang akhirnya menjadi depresi dan tidak ada jalan keluar.

Kedua, melewati season demi season, khususnya saat-saat yang berat dalam hidup, penting sekali untuk bagaimana memahami reaksi emosi kita. Di tengah-tengah keadaan seperti itu kita kadang-kadang tidak sanggup bisa menyelami akan hal-hal itu. Emosi kita berkecamuk.

Emosi itu seperti cuaca bagi situasi hidup kita. Kita bisa merasakan badai kemarahan, kita bisa mendeteksi panasnya kedengkian, kita bisa merasakan gelapnya dukacita, dingin bekunya penolakan orang yang berdiam diri terhadapmu dengan membatu, sejuknya sebuah senyuman, hangatnya pelukan dan jabat tangan yang menyambut engkau. Itulah emosi kita.

Firman Tuhan menyatakan inilah fakta hidupmu dan bagaimana engkau bereaksi terhadapnya? Biar setiap kita bereaksi dengan tepat dan benar seturut dengan apa yang Tuhan ajarkan di dalam firmanNya kepada kita hari ini. Kita tidak boleh abaikan semua gejolak pergumulan emosi yang muncul. Dari situ kita menyadari kita hanya manusia biasa. Kita lemah dan kecil. Kita menangis sebab kita mengalami betapa rusaknya dunia yang sudah berdosa ini. Tetapi melewati seasons seperti itu di dalam waktu hidup kita, kita tidak boleh di-discouraged oleh apapun. Kita tidak boleh membiarkan diri dikecewakan oleh semua hal itu. Kenapa? Mari kita lihat ayat ini baik-baik.

“Tuhan membuat segala segala sesuatu indah pada waktunya. Bahkan Ia memberi kekekalan di dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11). Kata “menyelami” berarti sesuatu kesadaran turun lebih dalam, bukan hanya sampai ke area kognitif tetapi masuk kepada satu dimensi yang lebih dalam area emosi kita. Banyak orang tahu hidup itu susah, tetapi tidak semua emosi orang setuju menjalani kesusahan itu. Banyak orang mengerti ada waktunya menuai dan ada waktunya tidak mendapat apa-apa, tetapi emosi menjalaninya bukan hal yang gampang dan mudah. Ada waktunya tenar dan terkenal, ada waktunya dilupakan dan tidak diingat lagi oleh orang di dalam dunia ini. Tidak mudah menyelami bagian wilayah seperti itu. Kita menghargai cinta kasih kita, sukacita kita, ada waktu untuk lahir, ada keindahan bayi yang manis lahir di tengah-tengah keluarga kita. Kita mengadakan ucapan syukur housewarming ketika kita selesai membangun rumah kita. Kita bersukacita karena kita dicintai dikasihi, kita memeluk orang itu. Tetapi bagaimana perasaan hati ketika ada waktu orang yang kita kasihi itu meninggal dunia? Ketika situasi membuat kita menahan diri untuk tidak memeluk? Ketika waktunya tiba kita terpaksa membongkar dan merombak habis apa yang sudah kita bangun dengan susah payah? Waktu damai semua senang dan suka, tetapi Alkitab mengingatkan, “there is a time for war” masa-masa yang sulit dan berat bagi orang yang mengalaminya. Sebagian besar dari kita tidak mengalami masa-masa perang seperti ini. Namun kita bisa membaca dan melihat di media, betapa berat dan tidak mudahnya hidup dari orang-orang yang mengalami masa peperangan, di Iraq dan di Siria, orang-orang minoritas dibunuh dan dibantai dengan kejam. Sulit kita bayangkan, bagaimana sambil menggendong anak, kita lari dari kejaran orang yang ingin memotong kepala kita. Pointnya adalah bagaimana semua fakta ini kita tafsir dengan benar dan harus kita pahami dengan solid dan benar berdasarkan bagaimana firman Tuhan memberikan pencerahan itu kepada kita. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak akan lepas dari seasons itu, tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita bisa memiliki sinar cahaya dari Tuhan bagaimana bisa melihat dan menyaksikan dari perspektif Tuhan akan hal-hal ini.

Dalam refleksi perjalanan hidup Robin Williams ada seorang menulis artikel dan kalimat-kalimat yang sangat baik bagi saya, “Ada perbedaan antara menutup pintu dan mengunci pintu. Menutup pintu adalah tindakan untuk mencegah diri dari hal-hal di luar yang mungkin bisa merusak anda, mencegah apa yang sudah ada di dalam supaya tidak keluar. Itulah arti dari menutup pintu. Tetapi ada bedanya dengan mengunci pintu. Mengunci pintu adalah tindakan memenjarakan diri. Anda tidak mau orang dari luar masuk dan anda juga tidak mau keluar meminta pertolongan dari orang di luar anda.”

Jangan malu untuk berseru meminta pertolongan saat engkau sangat membutuhkannya. Jangan enggan mengakui bahwa engkau sedang dalam kesulitan. Jangan merasa malu kalau saat ini engkau kehilangan pekerjaan, sebab dignitas hidupmu tidak equal dengan pekerjaanmu. Jangan merasa malu kalau saat ini engkau sedang dirundung kesedihan dan kehilangan orang yang engkau kasihi. Mengapa? Ada 2 alasannya. Pertama, itulah yang mengingatkan kita the humanity of us as human. Kita bukan malaikat, dan sudah tentu kita bukan tuhan di dalam hidup ini. Karena kita human, kita diciptakan oleh Tuhan di dalam limitasi dan keterbatasan. Kedua, karena kita menyadari inilah dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Dunia ini mengalami ketidak-adilan dan kita tidak terlepas darinya. Itulah sebabnya di dalam melewati season demi season ini ada masanya kita menangis tidak berdaya ketika ada hal yang tidak baik dipaksakan orang terjadi di dalam hidup kita. Belum waktunya mungkin untuk kita merombak sesuatu, orang lain sudah menghancurkannya lebih dulu. Belum waktunya mungkin untuk kita rest dan membiarkan rugi, orang lain sudah merugikan kita lebih dulu. Jangan malu untuk berseru minta pertolongan dari orang di dekatmu, melewati season sulit dalam hidup. Tetapi pada saat yang sama jadilah orang yang peka untuk melihat sekitarmu yang membutuhkan sebelum orang itu berseru ‘I need help.’

Inilah perbedaan yang penting, inilah ayat yang indah, inilah perspektif dari kebenaran firman Tuhan bagaimana kita menafsir fakta kehidupan kita. Seasons itu hanyalah satu perjalanan yang normal kita berada di dalamnya, kita hanya bisa mencoba menavigasi hidup kita di dalam seasons itu. Dalam cuaca dingin menyengat, kita memproteksi diri dengan jaket yang tebal dan hangat. Dalam badai yang gelap, kita berusaha menavigasi. Tetapi firman Tuhan ini memberitahukan kepada kita ada yang di atas dari seasons itu, ada yang in control di atas seasons itu dan Ia sanggup merubah seasons itu, itulah Allahmu dan Allahku. Itulah sebabnya kita tidak pernah menjadi discouraged; itulah sebabnya kita tidak perlu menjadi kuatir dan gelisah. Tidak usah takut menghadapi persoalan yang besar.

Sebagai Gereja, kumpulan anak-anak Tuhan, kita juga tidak perlu discouraged terhadap segala kesulitan dan tantangan. Pada waktu kita menghadapi kesulitan keuangan, orang akan memberi oleh karena mereka tahu mereka telah diberkati oleh Tuhan dan mereka disentuh oleh kebenaran firman Tuhan yang mengalir dari mimbar dimana gereja itu berada. Kalau kita memberikan laporan keuangan bahwa kita tekor lalu orang memberi karena dia kasihan sama kita, bukan jiwa seperti itu yang akan menghasilkan sesuatu yang indah. Tetapi pada waktu orang menikmati berkat dan merasakan bagaimana suara Tuhan membimbing dan menolongnya melalui janji kebenaran firman Tuhan yang diberitakan, yang meng-encouraged hidup mereka dan mereka boleh menyaksikan betapa baiknya Tuhan, di situ dia mengucap syukur dan memberi.

Ketiga, Ia adalah Allah yang bisa dan sanggup menenun segala sesuatu menjadi indah pada waktunya. Indah pada waktunya. Mengetahui bahwa Allah in control tidak berarti kita bisa mengetahui dan memahami waktunya Tuhan. Ayat 11 mengatakan, “…Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Sejujurnya di dalam proses dan season yang kita jalani, kita bisa menjadi frustrasi karena kita belum sampai kepada akhirnya. Inilah yang menjadi dilema kita sebagai manusia yang terbatas. Orang kadang mengkritik Tuhan terlalu lambat bertindak, atau terlalu cepat, atau merasa Tuhan silent dan tidak peduli dengan hidupnya. Tetapi ayat ini menyatakan Allah adalah Allah yang berdaulat dan dengan bijaksanaNya yang sempurna Dia berbagian secara aktif di dalam semuanya. Bukan saja Dia sanggup mengontrol segala apa yang terjadi dalam dunia ini, tetapi Dia bisa membuatnya menjadi indah. Beautiful tidak berarti tidak ada cat hitam di situ. Beautiful tidak berarti tidak ada goresan tajam di sana. Beautiful berarti pada waktu engkau melihat the whole picture dari lukisan itu, engkau dan saya baru mengerti mengapa perlu ada warna kelabu gelap di situ, mengapa perlu ada goresan yang tajam di sana, itu semua menjadi indah luar biasa. Itulah artinya melihat segala sesuatu secara lengkap dan komplit di dalam hidup ini.

Karena Dia sanggup membuat segala sesuatu indah pada waktunya, Allah in control, maka bukan saja kita tidak boleh discouraged dalam hidup ini, kita juga harus menjadi orang Kristen yang sabar menanti waktunya Tuhan. Sabar menanti waktunya Tuhan di dalam hidup engkau dan saya, bagaimana mendefinisikannya? Saya tidak sanggup mendefinisikannya. Waktunya Tuhan itu berarti bagaimana memang Tuhan membentuk dan memproses itu dalam hidup kita. Kita hanya bisa katakan waktunya Tuhan itu setelah retrospeksi perjalanan kita sampai di langkah ke 20. Tetapi pointnya adalah langkah ke 20 tidak bisa terjadi kalau tidak ada langkah ke 19. Langkah ke 19 tidak akan terjadi kalau kita tidak melangkah ke langkah 18. Yang hanya bisa kita lakukan adalah melangkah satu step lalu satu step, dan di situ firman Tuhan ini memberi kita kekuatan, Tuhan membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya.

Keempat, “I have seen the business that God has given to the children of man to be busy with… I perceived that there is nothing better for them than to be joyful and to do good as long as they live” (Pengkhotbah 3:10,12). Waktu dua ayat ini kita hubungkan, kita menemukan gabungan pengertian yang begitu indah. Ayat ini tidak bicara soal enjoyment saja tetapi setiap kita harus melakukan “God’s business.” Apakah “God’s business” itu? Engkau makan, minum dan bersenang di dalam pemberian Allah yang baik, engkau menikmati hidupmu karena Allah memberikannya kepadamu. Namun tidak berhenti sampai di sana, kita juga tidak boleh diam dan acuh tak acuh melihat kebutuhan orang karena itu adalah bagian dari God’s blessing selama kita hidup di dalam dunia ini.

Dalam Efesus 2:10 Paulus mengingatkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya…” Allah sudah persiapkan segala good works yang harus kita kerjakan supaya di dalamnya kita bisa memuliakan Dia di dalam hidup kita. Kita menikmati, kita bersyukur, kita menghargai pemberian Tuhan karena kita tahu semua itu karunia yang indah dan baik adanya. Kalau itu waktunya menuai, nikmati dengan sukacita makan dan minum. Pada saat yang sama jangan lupa memperhatikan orang yang menangis yang harus mencabut tanamannya.

Kiranya hati kita dipenuhi oleh syukur dan damai saat kita merenungkan bagian firman Tuhan ini. Syukur dan damai karena kita diingatkan, Ia adalah Allah yang hidup, Allah yang baik, Allah yang kita kasihi, Ia adalah Allah yang lebih dahulu mencintai dan mengasihi kita. Bersyukur firman Tuhan senantiasa mengangkat dan menghibur hati kita melihat lebih dalam dan lebih indah melihat bagaimana Tuhan berkarya. Kita tidak akan pernah kehilangan akal dan lose heart dalam hidup ini karena kita tahu Allah in control di dalam segala sesuatu. Dan Tuhan menjadikan hidup kita yang menaruh harapan indah di hadapanNya.(kz)