Menjalani Kekinian dari Perspektif Kekekalan

Sun, 31 Aug 2014 11:28:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (6)

Tema: Menjalani Kekinian dari Perspektif Kekekalan

Nats: 1 Korintus 7:29-32a

 

Hidup ini singkat dan sementara, kita tidak akan hidup selama-lamanya di atas muka bumi ini. Saya percaya fakta ini bukan saja diketahui dan dimengerti oleh orang Kristen belaka. Di dalam hati manusia sedalam-dalamnya, baik dia percaya Tuhan atau pun tidak, tak ada yang memungkiri fakta realita ini. Namun sangat ironis sekali, di tengah kesadaran itu manusia di dalam hati sedalam-dalamnya tetap tidak ingin diseret dan dibawa pergi oleh kesementaraan itu. Apa yang diraih selama di dunia, apa yang dimiliki selama hidup ini, kalau bisa terus digenggam dan dipegang erat-erat selama-lamanya.

Penggalian arkeologi menemukan raja-raja tempo dulu setelah meninggal mereka tidak mau meninggalkan dunia ini hanya membawa tubuh jasad mereka sendiri. Semampu dan sebisa mungkin mereka akan membawa apa saja yang mereka miliki selama mereka hidup di dunia ini di dalam kuburan mereka. Mungkin raja-raja yang tidak terlalu kejam hanya membuat replika apa yang mereka miliki selama hidupnya untuk dimasukkan bersama di kuburannya. Sehingga kita bisa menemukan di dalam kuburan raja ada patung replika pasukan tentara perangnya, patung replika dari isteri dan selir-selirnya, serta berbagai barang-barang berharga miliknya semua ada di dalam. Tetapi raja-raja yang kejam tidak ingin hanya membawa replika saja. Hari dimana dia meninggal, semua yang di sekitarnya, isteri-isterinya, selir-selirnya, budak-budaknya, bahkan termasuk menteri-menteri dan sampai tukang masak favoritnya, semua dibunuh dan dikubur bersama dia. Karena dalam hatinya dia ingin di dunia “sana” dia juga memiliki hidup yang sama dengan di dunia yang di sini.

Firman Tuhan yang kita baca hari ini merupakan bagian yang sangat indah dan sangat penting sekali. Bukan saja mengingatkan kita waktu hidup kita ini singkat dan sementara, tetapi yang tidak ada di dalam pemahaman orang dunia adalah bagaimana melihatnya dengan satu perspektif yang lain terhadap kesementaraan dan singkatnya waktu yang kita miliki ini. Firman Tuhan memimpin kita bagaimana melihat waktu yang singkat itu dan menjalaninya. Paulus berkata, “Waktu ini singkat, itulah sebabnya aku mau engkau menjalani hidup ini memang engkau memiliki sesuatu tetapi jalanilah dengan seolah-olah tidak memilikinya.” Orang yang beristeri harus berlaku seolah tidak beristeri; orang yang berduka seolah tidak berduka; orang yang bergembira seolah tidak bergembira; orang yang membeli seolah tidak memiliki apa yang dibelinya; orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah sama sekali tidak mempergunakannya. Yang lebih dalam dan lebih penting lagi adalah aspek yang kedua ini: karena apa yang ada di atas muka bumi ini satu kali kelak akan berlalu.

Di dalam menjalani hari-hari yang ada ini Paulus mengingatkan kita untuk tidak terlalu ‘overwhelmed’ dengan hal-hal sosial dan material dunia tetapi untuk hidup sebagaimana bagi Tuhan.Orang yang beristeri harus berlaku seolah tidak beristeri, artinya menempatkan hidup bagi Tuhandi dalam pernikahanmu. Orang yang berduka seolah tidak berduka, artinya ketika hidup ini membawamu kepada dukacita, live beyond it, do not be bound by it. Orang yang bergembira seolah tidak bergembira, artinya ketika hidupmu ada di dalam tawa dan kesuksesan, jangan sampai mabuk dan terhanyut di dalamnya. Anak-anak Tuhan yang diberkati dengan banyak berkat materi jangan sampai terikat kepada semua itu dan menggeser persandaran hidupnya bukan lagi kepada Tuhan tetapi kepada kekuatan dan kuasa materinya. Materi dan harta benda tidak akan ada selama-lamanya.

Kita tidak akan lupa perkataan Ayub pada hari dimana dia sekaligus kehilangan semua yang ada padanya, anak-anaknya yang sangat dikasihinya dan semua harta bendanya habis tandas. Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Kalimat itu diucapkan bukan oleh seorang yang tidak memiliki apa-apa, tetapi justru kalimat itu keluar dari mulut seseorang yang pernah memiliki segala-galanya karena dia adalah salah seorang yang paling kaya daripada semua orang yang hidup pada waktu itu. Kalimat itu keluar ketika Ayub kehilangan segala-galanya, dari seorang yang terhormat, memiliki anak-anak yang sangat dia banggakan, memiliki segala harta benda yang begitu berlimpah dengan sekejap mata semua itu hilang lenyap dari hidupnya. Bukan saja demikian, dia juga mengalami penyakit kulit yang sangat menjijikkan sampai isterinya sendiri menyuruh dia meninggalkan Tuhan dan mengutuk Tuhan yang Ayub sembah itu.

Dalam Lukas 12:20 Tuhan Yesus mengatakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). “Apa gunanya engkau menjadi orang yang mengumpulkan harta bagi diri sendiri jikalau engkau tidak kaya di hadapan Allah?” (Lukas 12:21). Dalam Khotbah di Bukit Yesus juga mengingatkan, “Janganlah engkau mengumpulkan harta di bumi. Di bumi ngengat dan karat akan merusaknya dan pencuri akan mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga…” (Matius 6:19-20).

Biar kita menjadi orang yang kaya bukan kaya di dalam dunia ini, tetapi biarlah kita menjadi orang yang kaya pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan. Anak-anak Tuhan yang mencintai Tuhan, yang mengerti firman Tuhan dengan jelas, akan mengetahui dengan indah dan baik apa yang Tuhan ajarkan kepada kita dari ayat-ayat ini. Namun pertanyaan yang paling penting adalah apakah orang-orang yang telah mengerti ajaran Alkitab ini betul-betul semua yang kita telah ketahui ini sungguh-sungguh mempengaruhi decision making kita? Mempengaruhi lifestyle kita? Mempengaruhi choice dan option yang kita ambil? Mempengaruhi planning kita dalam membeli dan menggunakan barang-barang di dalam hidup ini?

Paul David Tripp mengatakan orang-orang Kristen yang mengerti Alkitab seringkali tidak sungguh-sungguh embrace akan hal itu, karena kita bisa lihat dari cara pilihan, keputusan dan tindakan sehari-hari yang diambil banyak memperlihatkan orang Kristen tidak menjalani hidupnya yang sementara dalam dunia ini dengan satu perspektif kekekalan yang ada dari Tuhan. Kalau kita tidak pernah melihat perspektif hidup kita yang singkat dan sementara ini dari perspektif surgawi, kita pasti tidak akan bisa memahami rencana Allah atas hidup kita, atas resources kita, atas uang dan semua apa yang ada di dalam hidup kita.

Alkitab bukan saja mengajarkan bahwa hidup ini singkat dan sementara, karena kalau kita hanya berhenti sampai di situ kita akan menjadi orang-orang yang pesimistik. Tetapi Alkitab mengajarkan kita hidup yang sementara ini dilihat dari perspektif kekekalan. Itulah yang menjadi point yang paling penting yang ingin diangkat Alkitab hari ini.

Budaya kita adalah budaya yang penuh dengan sudut pandang worldview yang bersifat selfish dan egois. Itulah isme dari budaya kita sehari-hari. Sehingga kita harus waspada sebagai anak-anak Tuhan supaya kita tidak terjebak jatuh menjadi orang Kristen yang pada satu sisi mengerti dan memahami apa yang Alkitab ajarkan tetapi pada sisi yang lain ketika mengambil satu keputusan, pilihan dan direksi dari hidup kita tidak dipimpin oleh perspektif kekekalan.

Ada tiga diagnosa bagaimana hidup yang dipimpin oleh sikap selfish dan egois. Yang pertama kalau orang itu bertindak seolah-olah memang hidup itu semuanya cuma di “sini,” itu adalah gejala pertama yang kita bisa lihat orang itu dipengaruhi dengan sudut pandang selfish dan egois. Bertindak seolah-olah memang hidupnya semuanya di sini. “Hidup ‘kan singkat dan hanya satu kali, maka…” sering kita mendengar kalimat seperti itu, bukan? “Ya sudah, selama masih kuat, ayo makan-makan di tempat yang paling mahal dan paling enak; selagi masih bisa, mari kita enjoy hidup ini…” (band. Yesaya 22:13, 1 Korintus 15:32). Alkitab bilang hidup ini sementara, dia harus dikorelasikan dengan konsep bagaimana hidup yang sementara ini dari perspektif kekekalan. Hidup sementara tidak boleh hanya dikorelasikan dengan konsep “memang hidup ini sementara…” Dimana salahnya? Salahnya di sini: kalau engkau hidup mengakui dan menerima hidup ini memang sementara tetapi di-drive dengan konsep karena hidup ini sementara maka kita harus meraih sebanyak-banyaknya sebelum hidup itu berakhir. Kita bisa menguji diri, apakah kita di-drive oleh konsep seperti itu kalau hidup kita penuh dengan kekuatiran. Maka kalimat Paulus ini penting sekali, “Aku ingin supaya hidupmu tanpa kekuatiran…” (1 Korintus 7:32a). Karena kita sadar hidup ini singkat dan sementara, kemudian karenanya kita di-drive oleh keinginan untuk terus meraih dan mendapatkan sebanyak-banyaknya, merasa kita perlu ini dan itu, semua yang orang lain punya, semua yang kita belum miliki, segala tempat yang belum pernah kita pergi, semua makanan dan kuliner yang belum pernah kita nikmati. Apalagi kalau melihat facebook penuh dengan foto-foto teman-teman yang makan ini-itu, pergi kesana-sini, beli ini-itu. Kita menjadi iri dan terobsesi ingin memperoleh semua itu.

Yang kedua, ciri dari budaya selfish dan hanya melihat bagi diri sendiri yaitu jikalau orang itu berpikir hanya hal-hal materi dan hal-hal fisik yang bisa memuaskan dia, maka dia terus mengejar untuk memiliki sebanyak-banyaknya dan menikmati sebanyak-banyaknya, membuat dia akhirnya hanya memikirkan diri sendiri dan semua yang dia raih semata-mata ingin dinikmati bagi diri sendiri sampai maut menjemput dan hidupnya berakhir.

Kita tahu istilah “The Bucket List” things you want to do before you die. Apa hal-hal yang engkau ingin lakukan sebelum engkau mati? Kalau kita tahu tidak lama lagi kita akan meninggal, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Ada orang memakai uang yang ada padanya pergi makan ke restoran-restoran paling mahal yang selama ini belum pernah dia coba; ada orang yang pergi berpesiar ke berbagai tempat yang belum pernah dia datangi; ada orang yang mencoba berbagai hal yang belum pernah dia lakukan.

Benda, barang, scenery yang indah, makanan yang enak kita melihat dari kacamata Alkitab semua itu dicipta oleh Tuhan. Dicipta oleh Tuhan menjadi sign petunjuk betapa baiknya Tuhan dan betapa indah pemeliharaanNya kepada kita. Benda-benda itu dicipta Tuhan bukan untuk menjadi destinasi hidup dan tujuan akhir kita. Benda-benda itu dicipta Tuhan supaya dia boleh menjadi penyerta di dalam hidup kita. Dia ada bersama kita berjalan nanti bertemu dengan Tuhan. Tujuan dia ada di sekitar kita adalah sebagai penolong saja, pada saat engkau perlu dan butuh dia, sebagai barang-barang yang mempermudah hidup kita saja, membantu kita. Tetapi dia bukan menjadi tujuan akhir dari hidup kita. Benda-benda itu dicipta oleh Tuhan untuk menjadi petunjuk mengarahkan hati kita melihat Sang Pemberi, supaya kita bersyukur dan menikmati semua yang Dia kasih kepada kita dengan menghargai Dia.

Kisah penyembuhan kepada 10 orang kusta dalam Lukas 17:12-19 memperlihatkan hanya satu orang saja yang berbalik kepada Tuhan Yesus untuk bersyukur dan berterima-kasih kepadaNya. Kenapa hanya satu orang ini saja yang kembali? Karena kesembuhannya bukan menjadi tujuan akhir sedangkan yang sembilan orang yang lain melihat kesembuhan itu menjadi tujuan akhir mereka. Satu orang yang kembali kepada Yesus menyadari kesembuhan itu menjadi petunjuk untuk dia tahu dan baliklah dia kepada Sang Penyembuh untuk bersyukur dan berterima-kasih. Dari peristiwa itu kita bisa melihat kalau dari sepuluh orang hanya satu yang ada hati menyadari itu dan kembali, memberitahukan kepada kita itu adalah hal yang jarang terjadi. Kita perlu kepekaan kesadaran mengerti akan hal itu.

Yang ketiga, kalau orang itu tahu hidup ini singkat sementara dan dia didorong oleh perasaan hati untuk memenuhi hidup yang sementara ini bagi dirinya sendiri, menjadikan dunia ini sebagai paradise baginya. Kita mendengar orang yang makan makanan yang enak sekali berkata, “Oh, I’m in heaven!” Orang yang tiba di satu tempat yang begitu indah berkata, “Wow, this is paradise!” Barangkali cetusan ini adalah mewakili perasaan hati yang kagum dan menghargai sesuatu yang good dan beautiful, tetapi jangan sampai kita menginginkan dan merasa bahwa semua yang baik dan indah itu harus terjadi sekarang di dalam hidup kita di dunia ini.

Maka itu sebabnya Paulus mengingatkan marilah kita hidup di dalam waktu yang singkat ini bagaimana kita melihatnya dengan benar, itu yang terpenting. Aku rindu relasi suami dan isteri, perasaan hati bukan menjadi hal yang final; benda dan barang yang engkau beli dan miliki tidak boleh menjadi hal yang final. Maka biarlah relasi kita dengan hal-hal itu bersifat seperti ini, tidak ada attachment yang kita taruh di situ. Bukan karena kita tidak butuh dan tidak perlu semuanya itu, tetapi yang Paulus ingin adalah kita melihat semua itu dari perspektif kekekalan.

Adanya kekekalan senantiasa mengingatkan kita bahwa kita didesain untuk peduli kepada hal-hal yang lebih besar, lebih penting, lebih daripada soal relasi kita, pikiran kita, perasaan kita, kepuasan kepemilikan kita atas apa yang kita miliki. Konsep kekekalan itu harus mengingatkan kita, kita didesain bukan untuk itu. Kita didesain oleh Tuhan untuk peduli akan hal-hal yang lebih penting, lebih besar daripada hal-hal yang kita lakukan di dalam dunia ini.

Adanya kekekalan memberitahukan kepada kita bahwa hidup di sini adalah sebuah persiapan, bukan tujuan akhir; sebuah persiapan kepada tujuan yang terakhir, dan goal kita itu bukan memakai resources yang ada di dalam dunia ini untuk menciptakan surga dunia bagi diri kita, tetapi menjadi persiapan kita untuk kelak bertemu dengan Tuhan kita.

Adanya kekekalan membuat pengharapan kita itu indah, bahwa semua yang kita lakukan di sini tidak akan pernah menjadi sia-sia. Ada kepuasan tersendiri danada kenikmatan surgawi pada waktu nantinya kita bertemu dengan harta kita itu di dalam kekekalan. Itulah kepuasan yang sejati, karena kita tahu ada kekekalan maka pengharapan kita ke depan itu indah adanya.

Adanya kekekalan senantiasa mengingatkan kita untuk melakukan investasi yang memberikan hasil kekayaan yang berlimpah-limpah di dalam Yesus Kristus. Bagaimana kita mengerti kata “kumpulkan harta di surga”? Bagaimana kita memahami investasi di dalam kekekalan? Cost yang kita keluarkan dalam hidup ini ada bermacam-macam, ada yang kita kategorikan sebagai spend, waste, dan investasi. Tidak ada orang yang membeli asuransi kesehatan mengatakan itu adalah buang-buang uang. Kita akan bilang itu adalah suatu investasi ke depan, untuk menjaga kemungkinan ke depan kesehatan kita berubah drastis. Kita membeli asuransi jiwa sebagai investasi ke depan karena memikirkan agar anak-anak bisa terjamin jika ada hal-hal yang tidak terduga terjadi kepadaku. Tetapi investasi tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Karena kita mempunyai konsep ada kekekalan maka kita melakukan investasi supaya pada waktu kita bertemu dengan Tuhan kita boleh disebut sebagai hamba yang setia dan baik.

Adanya kekekalan akan memperjelas konsep nilai kita akan apa yang sebenarnya sungguh-sungguh penting, apa yang sebenarnya sungguh-sungguh bernilai, maka Paulus katakan “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil… pikirkanlah semua itu” (Filipi 4:8). Itu bisa terjadi sebab kita memahami konsep nilai berdasarkan prinsip kekekalan.

Adanya kekekalan senantiasa mengingatkan kepada kita bahaya dari godaan menyembah ciptaan lebih daripada Sang Pencipta. Jangan biarkan perspektif kekekalan tidak menyentuh seluruh hidup kita. Melihat kebutuhan kita di dalam dunia dari kepentingan surgawi, ini adalah panggilan dari rasul Paulus kepada setiap kita hari ini. Tuhan tidak mengabaikan kita perlu makan minum pakaian dan barang. Tuhan tidak mengabaikan kita butuh semua itu, tetapi kebutuhan itu tidak boleh menganulir dan menggeser the importance of eternity. Lihatlah kebutuhan kita hidup di dunia ini with the perspective of the importance of eternity. Itu lebih penting daripada obsesi terhadap pemenuhan akan kebutuhan itu. Prinsip ini akan membuat kita menjadi orang Kristen yang akan lepas dari hati yang penuh dengan kekuatiran; kita tidak takut lagi hidup menjadi orang yang tidak punya apa-apa; kita bisa dimampukan melihat keindahan berkat Tuhan yang besar di dalam hidup kita.

Kita prihatin dan sedih, karena begitu banyak orang Kristen hidup dengan konsep miskin. Miskin itu bukan soal kuantitas; miskin itu soal mentalitas. Miskin secara mentalitas tidak akan pernah bisa melihat apa yang dia miliki merupakan sesuatu anugerah dan berkat. Mentalitas kemiskinan akan senantiasa membuatnya melihat memang dia miskin, apa saja yang dia perbuat tidak akan merubah kemiskinan itu. Paulus pernah berkata, “Aku miskin tetapi aku sanggup memperkaya hidup banyak orang…” Dalam hal ini Paulus tidak bicara soal berapa yang kita punya dan berapa yang tidak kita punya dari segi kuantitas, tetapi dari segi mentalitas secara eternal perspectives.

Kiranya hati kita senantiasa penuh syukur atas segala anugerah dan pemberian Tuhan dalam hidup setiap kita masing-masing. Biar kita senantiasa didorong menjalani hidup ini dari sudut pandang bagaimana kekekalan Tuhan memimpin hidup kita. Di situ akan memampukan kita bersyukur dengan limpah menyadari setiap pemberian Tuhan. Kita bersyukur karena kita tahu hidup kita tidak selesai sampai di sini sehingga kita tidak akan memakai segala sesuatu yang kita punya hanya untuk diri kita sendiri tetapi melihatnya dari perspektif surgawi.(kz)