Make the Best Use of the Time

Sat, 23 Aug 2014 21:15:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (5)

Tema: Make the Best Use of the Time

Nats: Kolose 4:2-18

 

Hati nurani kita terusik, kesedihan kita memuncak, kemarahan kita tersumbat dalam tiga minggu terakhir ini ketika kita bisa melihat dengan jelas dan nyata bagaimana evil dan kejahatan dilakukan atas nama agama tanpa perikemanusiaan merusak nurani dan menghancurkan kemanusiaan. Itu bisa kita lihat sebab televisi dan sosial media sanggup menyebarkannya dengan luas. Tetapi hal-hal seperti itu bukan terjadi sekarang ini saja. Puluhan tahun yang lalu, ratusan tahun yang lalu, bahkan di abad-abad yang lalu, orang atas nama agama dan atas nama pengajaran kepercayaan mereka bisa berlaku jahat dan penuh dengan evil di dalamnya.

Tidak heran mungkin orang yang tidak beragama berkata hidup kelakuan mereka jauh lebih baik daripada orang yang beragama. Namun kita tidak bisa terjebak di situ sebab dengan posisi tidak beragama dan atas nama Komunisme dan Ateisme pun kekejaman dan kekerasan dilakukan oleh mereka.

Semua itu harus membuat kita memikirkan dengan lebih dalam dimana letak keindahan, otentik dan limpahnya kita memiliki fellowship dengan Tuhan melampaui ritual agama lebih daripada sekedar jubah agama yang kita pakai, karena Kekristenan bukan soal agama tetapi itu bicara soal bagaimana relasi kita di hadapan Tuhan dan kita mengenal dengan dalam keselamatan yang diberikan oleh Yesus. Christianity is not only about religion. It is more than that. It is about how we have a true relationship with God and Jesus Christ.

Kepalsuan dan kebohongan juga bisa menunggangi agama, bukan demi untuk memuliakan Allahnya tetapi demi keuntungan dan kenikmatan pribadi. Di atas mimbar juga pendeta-pendeta bisa dengan gagah perkasa seolah-olah menjadi super spiritual yang sangat dekat dengan Tuhan bisa menunjuk orang dari podium sambil mengatakan, “Roh Kudus membisikkan ke telingaku, engkau sedang sakit kanker…; Tuhan memberikan penglihatan kepadaku, ibu berbaju merah itu sedang ada masalah dengan suaminya…” dan benar apa yang dia katakan itu. Fenomena seperti itu bisa membuat orang tercengang, “wah, kok bisa tahu ya.” Tetapi belakangangan baru diketahui ternyata di telinga pendeta itu ada earphone yang menghubungkan dia dengan petugas yang ada di pintu masuk, yang memberinya informasi berdasarkan form isian yang didapat dari orang yang hadir apa yang menjadi kesulitannya.

Hal-hal seperti itu juga terjadi pada waktu Paulus menulis surat Kolose ini, sehingga bagian yang kita baca hari ini harus kita lihat di dalam satu konteks yang besar. “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya… oleh penglihatan dan membesar-besarkan diri oleh pikiran duniawi” (Kolose 2:16-18). Kita harus sedih jikalau di dalam religious Kekristenan orang bisa memakai uang demi kepentingan dan kenikmatan pribadi, mengatas-namakan “untuk pelayanan” namun membeli mobil mewah dan barang antik. Yang menyatakan diri lebih rohani daripada orang lain, dengan segala yang tidak boleh dilakukan dan yang mana harus dilakukan, lalu mengatakan sesuatu tabu dan memutlakkan segala sikap eksternal yang seolah-olah menjadikan seseorang jauh lebih rohani daripada orang yang lain. Inilah yang terjadi di Kolose dan Paulus sedang menghadapi kelompok itu yang sedang mencoba masuk mempengaruhi Jemaat di Kolose dan di Laodikia. Itu sebab surat ini juga harus dibacakan kepada Jemaat di Laodikia (Kolose 4:16). Paulus mengingatkan mereka jangan terpengaruh dengan orang-orang yang super rohani seperti ini sebab mereka bukan menyembah Allah tetapi melayani diri mereka sendiri, sekalipun mereka mengaku melihat malaikat, sekalipun mereka mengaku mendapat penglihatan, sekalipun mereka kelihatan lebih rohani daripada orang yang lain dengan segala aturan dan tata ibadahnya. Dengan konteks seperti itulah maka sekarang Paulus bicara kalau begitu, bagaimana kita sebagai orang Kristen, dan apa yang kita lakukan itu menjadi satu bukti bagaimana supaya nama Tuhan itu tidak dicemarkan dan dihina orang.

Jangan kita lupa, orang luar melihat kita, orang luar mengamati kita, orang luar itu memperhatikan kita, bagaimana kita menjadi terang dan garam di tengah mereka. Bukan hanya kata-kata kita yang penting tetapi bagaimana hidup kita di tengah-tengah mereka; bagaimana jalan kita di tengah-tengah mereka; bagaimana kita berdampingan dengan orang-orang di luar dan bagaimana mereka menyaksikannya. Saya senang sekali Paulus memilih satu kata yang khusus mengenai hal ini yaitu “walk in wisdom towards outsider, making the best use of the time” (Kolose 4:5).

Kalimat dari ayat ini sederhana saja, “Make the best use of the time,” tetapi mari kita ingat sekali lagi yang mengeluarkan kalimat ini siapa? Dia adalah rasul Paulus. Dan waktu dia mengucapkan kalimat ini, di dalam kondisi yang bagaimana? Dia sedang dibelenggu di dalam penjara (Kolose 4:18). Oh, indahnya bagian ini menyentuh hati saya. Seseorang yang terkurung dalam penjara, seseorang yang sedang dibelenggu, sedang menyampaikan kalimat ini kepada engkau dan saya, “Make the best use of the time.” Badan boleh dikurung di penjara, tetapi hatinya tidak. Tangan boleh dibelenggu, tetapi attitude-nya tidak. Kaki boleh dirantai, tetapi pikiran tidak.

Seringkali kita berpikir make the best use of the time berarti seseorang itu harus produktif, seseorang itu harus efektif, seseorang itu harus maksimal melakukan sesuatu. Tetapi pada waktu seseorang sudah tua, sedang terikat dibelenggu dan dipenjara seperti Paulus, apa yang bisa engkau dan saya kerjakan dan lakukan? Biar kalimat ini menyentuh kita, yang mengeluarkan kalimat ini adalah seorang yang sedang terbelenggu, yang memberikan kalimat ini adalah seorang yang sedang di dalam penjara. Kita bisa cacat, kita bisa sakit, kita bisa tidak bergerak, kita tidak bisa kemana-mana, tetapi kita tidak bisa bilang kita adalah orang yang useless dalam hidup ini. Kita tidak boleh ter-discouraged dan mengatakan diri kita tidak berguna, sebab pada waktu kita mengatakan diri kita tidak berguna, di situ kita sudah menghina Allah kita yang sanggup bekerja melampaui prison, rantai belenggu dan sakit kita di atas tempat tidur. Jangan pernah kita bilang kita orang yang tidak berguna karena kita sudah tua; jangan pernah kita bilang kita adalah laskar yang tidak berguna hanya karena kita terbelenggu di dalam kelemahan keterbatasan fisik kita. Kita mungkin tidak bisa kemana-mana, kita mungkin tidak bisa mengerjakan banyak aktifitas, tetapi kalau orang yang seperti Paulus mengeluarkan kalimat ini, “make the best use of the time,” seharusnya kita malu. Kalau kita orang yang merdeka dan bebas, bisa pergi kemana saja, pergi ke sana-sini tetapi kita tidak melihat waktu dan hidup itu menjadi indah dan berarti dan berharga dan di dalamnya kita dipanggil untuk menyatakan keindahan hidup itu.

Hati saya tergugah sekali dan sekaligus saya juga ingin meng-encourage setiap kita. Kalau kita datang membesuk orang yang sedang terbaring sakit, tetapi dari orang itu kita bisa menemukan keindahan, meskipun dia hanya terbaring di atas tempat tidurnya tetapi hati dan pikirannya melampaui kungkungan tembok rumah sakit, memikirkan kebutuhan orang lain dan melakukan begitu banyak hal walaupun dia terbaring di tempat tidur.

Apa yang pertama Paulus bilang di sini untuk mengelaborasi inilah pemakaian waktu yang terbaik? Yang pertama Paulus bilang, mari kita bertekun dalam doa dan berjaga-jaga (Kolose 4:2). Mungkin kita tidak bisa dengan aktif berdiri dan melakukan berbagai hal secara produktif dalam hidup kita, tetapi kita masih bisa berlutut berdoa di hadapan Tuhan bagi pekerjaan Tuhan, memikirkan pekerjaan Tuhan. Doa itu bukan sekedar sikap badan kita; doa itu bukan sekedar berapa banyak kata-kata yang keluar dari mulut kita. Doa itu bicara soal bagaimana sikap hati kita. Kita akan terus-menerus berdoa dan kita akan terus-menerus waspada di dalam doa oleh karena doa itu keluar dari sikap hati ada kesadaran kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Mungkin situasi kita berada di dalam hal yang tidak mampu, kita berada dalam situasi yang kita rasa hopeless, tetapi kenapa kita perlu berdoa? Pertama, karena kita tahu kehadiran Tuhan; kita tahu Dia sanggup dan mampu mengerjakan melebihi apa yang menjadi kondisi hidup kita. Kedua, karena saya sadar hal-hal yang sekecil apapun di dalam hidupku semua itu bergantung kepada Tuhan. Ketiga, kita berdoa bagi orang-orang lain sebab ada kepekaan di dalam diri kita memikirkan kebutuhan orang itu. Itulah sebabnya setelah Paulus bicara prayerful and watchful, Paulus menambahkan aspek ketiga, thankful. Kita mungkin tidak bisa menjadi misonari ke pedalaman tetapi kita bisa di rumah memakai waktu yang ada berdoa bagi mereka yang berada di dalam penderitaan kesulitan karena Injil. Dan biar itu menjadi indah di dalam hidup setiap kita.

Yang kedua, di dalam hal apa kita bisa making the best use of the time yang Tuhan beri kepada kita? Kolose 4:5-6, waktu yang ada kita pakai secara fullness komunikasi kita kepada Tuhan di dalam doa kita, waktu yang ada kita pakai dengan fullness juga bagaimana kita komunikasi dengan orang dunia ini. Paulus minta Jemaat untuk berdoa supaya di tengah penjaranya, di tengah belenggunya Tuhan justru buka kesempatan bagaimana Injil bisa disampaikan. Tetapi Paulus bukan saja minta dirinya yang didoakan tetapi juga kita yang hidup di luar bersama dengan orang yang tidak percaya Tuhan, kita berjalan dengan penuh wisdom tetapi di dalamnya ada kesempatan, di situ akhirnya kita bisa mengkomunikasikan Injil Tuhan dengan indah kepada mereka. Ini adalah satu tuntutan dan panggilan kepada setiap kita selalu berpikir bagaimana Injil itu tetap jelas, tetap relevan kepada dunia ini.

Yang kedua, use the best time of life berarti di dalam hidup hari-hari ini kita bagaimana kita berjalan dan bagaimana kata-kata yang keluar dari mulut kita sungguh menyentuh hati begitu banyak orang. Saya suka sekali dengan kata-kata yang dipakai Paulus ini, “Let your conversation full of grace, let your speech gracefully full of encouragement to others.” Biar setiap kali orang luar bertemu mereka ingin duduk di sekitar kita sebab mereka mendapatkan kesegaran karena kita menebar benih kebaikan kepada mereka; kita membawa kata-kata yang meng-encouraged orang di dalam kesulitan; kita memberikan blessing di tengah kesulitan dia. Jangan sampai kita baru duduk di dekat dia, belum lima menit orang itu sudah pergi karena apa yang kita bicarakan hanya diri kita terus; yang kita bicarakan hanya kesulitan kita; yang kita bicarakan hanya pesimistis hidup kita; yang kita sampaikan adalah gossip dan kejelekan orang lain; yang kita semaikan kepada mereka adalah kata-kata yang tidak berguna adanya.

Kita tidak sanggup bisa memaksa orang bertobat karena itu adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam karya keselamatan. Tetapi setiap tindakan dan kata-kata dan sikap kita itu menjadi jembatan Tuhan bekerja melaluinya merubah hati orang. Itulah the best use of the time yang Tuhan beri kepada kita. Only one word of encouragement, God bless you, grace be with you, itu bisa merubah hati orang, karena dia tahu Allah itu hidup di dalam hidupmu. Kata itu keluar bukan dari mimbar ini. Kata itu keluar dari ruang penjara yang sempit dan gelap. Kata itu keluar dari belenggu dan rantai yang berat dan menyakitkan.

Yang ketiga, the best use of the time, memang Paulus dipenjara, memang kakinya dibelenggu, tetapi kita bersyukur kepada Tuhan orang-orang di sekitarnya tidak terbelenggu dan orang-orang di sekitarnya menjadi rekan kerja yang baik sehingga pekerjaan Tuhan tidak pernah terhambat. Paulus mengatakan aku boleh dipenjara tetapi ada Tikhikus, ada Onesimus, ada Lukas, ada Onesiforus. Make the best use of your time denga menghargai the fullness of fellowship. Jangan lagi kita menjadi orang yang terus-menerus dilayani, kita harus mulai menjadi orang yang melayani. Jangan lagi kita menjadi orang yang terus-menerus menuntut, kita harus mulai belajar menjadi orang yang berkorban. Pada waktu kita berada di dalam sebuah gereja dan sebuah fellowship, di situ menjadi satu test litmus apakah kita menghargai otentisitas fellowship kita di hadapan Tuhan. Mari mulai hari ini kita melihat hal itu dengan konkrit. Kita datang beribadah ke gereja bukan sekedar demi untuk kepentingan kita tetapi itu menjadi satu test apakah kita mencintai fellowship kita sebagai anak-anak Tuhan, melayani satu dengan yang lain.

Saat kita meneliti nama-nama yang Paulus sebutkan ini satu demi satu, kita makin kagum menyaksikan indahnya sebuah fellowship. Paulus menyebut nama Onesimus, bekas budak Filemon yang dia jumpai di penjara dan akhirnya Onesimus boleh percaya kepada Tuhan (Filemon 1:10). Puji Tuhan!

Yang kedua, Paulus bicara mengenai dua orang, Markus dan Barnabas. Barnabas, sebelumnya namanya adalah Yusuf, seorang Lewi dari Siprus namun oleh para rasul diberi nama Barnabas sebagai satu titel, “He is the son of encouragement” (Kisah Rasul 4:36). Siapakah Markus? Paulus pernah cekcok dengan dia. Siapakah Barnabas? Paulus pernah ribut mulut dengan dia. Namun Barnabas itu adalah seorang yang luar biasa indah menjadi satu contoh dan menyentuh dan merubah hati Paulus yang waktu itu masih muda dan juga keras. Kisah Rasul 9:26-27 “Saulus mencoba menggabungkan diri… tetapi mereka tidak dapat percaya kepadanya… Tetapi Barnabas menerimanya dan membawanya.” Waktu Paulus datang ke Yerusalem mau bergabung, semua tidak bisa percaya dia. Apa betul dia sudah bertobat? Apa betul dia sudah lahir baru? Apa betul dia murid Tuhan sejati? Siapa tahu jangan-jangan dia mata-mata yang berpura-pura jadi orang Kristen?

Susah sekali fellowship, bukan? Kepada orang yang sudah cacat reputasinya, sudah mengalami kerusakan dalam hidupnya, orang yang tidak bisa dipercaya untuk mendapat kesempatan kedua. Siapa yang datang memeluk dan memberi kesempatan kedua kepada Paulus? Dia adalah Barnabas. Barnabas dengan hati besar menerima Paulus, percaya dan trust kepada orang ini. Dan bukan saja demikian, Barnabas bisa meyakinkan para rasul dan orang percaya di Yerusalem bahwa Paulus sungguh adalah seorang murid Kristus yang sejati. Yang luar biasa adalah bagaimana bisa para rasul dan gereja di Yerusalem bisa percaya kepada Barnabas? Itu satu jiwa dan satu karakter fellowship yang embrace orang lain ada pada diri Barnabas. Dalam perjalanan pertama, Barnabas memimpin, Saulus nomor dua. Kisah Rasul 12:25, urutan penulisan nama siapa yang ada di depan? Barnabas. Kisah Rasul 13:50 dan terus ke belakang, nama siapa yang sekarang ada di depan? Paulus. Betapa indah pribadi Barnabas ini. Seorang yang rela mundur memberi kesempatan yang leader lebih mulia lebih besar dari dia. That is the fullness of fellowship.

Kita bisa tidak sependapat. Kita bisa ribut mulut. Kita bisa argumentatif, sdr marah, saya juga marah. Kita mungkin kecewa dan merasa orang itu kok tidak bekerja dengan baik. Kita bisa berantem. Paulus bilang, saya tidak mau pakai lagi Markus, orang yang di tengah jalan pergi begitu saja meninggalkan pelayanan (Kisah Rasul 15:37-39). Tetapi nantinya orang yang terakhir tinggal di sisi Paulus selain Lukas dan Timotius saat kematian begitu dekat adalah Markus (2 Timotius 4:11b). Orang yang tadinya pergi meninggalkan engkau bisa jadi di akhir hidupmu adalah orang yang ada di samping kita. Itulah keindahan sebuah fellowship. Melampaui kemarahan, kebencian, sakit hati; melampaui persinggungan yang pernah terjadi; melihat dan menghargai orang. Lebih dalam lagi keindahan fellowship bisa kita lihat dari bagian ini, Paulus fellowship dengan ras yang berbeda; ini tiga orang Yahudi yang menjadi teman sekerjaku (ayat 11) selebihnya adalah orang-orang Yunani. Yang diuji, yang bersatu oleh karena cintanya kepada Kristus. Encouragement itu terus muncul satu dengan yang lain sehingga menghasilkan satu sukacita yang dalam dan besar. Dulu Barnabas pernah ribut keras dengan Paulus dan dia separated jalan, Paulus pergi ke satu tempat dan dia pergi ke tempat lain. Entah kapan akan bertemu lagi. Tetapi mereka tidak saling hina dan saling benci satu dengan yang lain, dan pada waktu mereka ketemu mereka bisa berdoa berlutut sama-sama melihat keindahan yang Tuhan beri kepada mereka masing-masing.

Kita sedih dan kecewa jikalau ada hamba Tuhan yang menelpon hamba Tuhan yang lain supaya jangan bekerja sama dengan hamba Tuhan yang dia tidak suka, lalu melarang sebuah gereja untuk mengambil seorang hamba Tuhan yang dia tidak suka untuk kesempatan pelayanan. Itu bukan jiwa dari seorang pelayan Tuhan yang agung.

Kita tidak boleh menjadi orang Kristen yang kehilangan satu jiwa melihat kerajaan Allah yang besar melampaui perbedaan ras, melampaui perbedaan temperamen dan karakter, melampaui ketidak-cocokan kita dengan orang itu. Dari bagian ini kita bisa melihat betapa agung, betapa luas dan besar hati orang yang memang cinta Tuhan dan cinta akan Injil.

“…perhatikanlah supaya pelayanan yang kau terima dalam Tuhan kau jalankan sepenuhnya (Kolose 4:17). Ayat ini memperlihatkan Tuhan mempunyai maksud kepada masing-masing orang genaplah rencana Tuhan atas orang itu. Apa yang engkau terima dari Tuhan berbeda dengan apa yang saya terima dari Tuhan. Setiap kita mari melihat apa pelayanan yang Tuhan beri bagimu dan jalankan sepenuhnya. Use the best of time kita, fullfil keindahan relasi kita dengan Tuhan. Engage dengan orang lain, jangan menarik diri dari orang luar. Jangan hidup eksklusif, bawa hidup kita dengan gracefully orang luar melihat hidup kita yang percaya Tuhan. Fullfil the wonderful fellowship, orang itu berbeda dengan engkau, dia bukan saja berbeda, dia bisa cekcok dan ribut dengan engkau tetapi fellowship kita dalam Tuhan melampaui itu karena ada forgiveness, ada graceful talking, ada kasih dan keindahan melihat apa yang Tuhan ingin genapkan dalam hidup kita masing-masing.(kz)