Harta tak Ternilai di dalam Bejana Tanah Liat

Sun, 03 Aug 2014 04:33:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Radjali Ramli MDiv.

Tema: Harta tak Ternilai di dalam Bejana Tanah Liat

Nats: 2 Korintus 4:7-10

 

Siapakah diri kita sebagai hamba-hamba Tuhan, sebagai pelayan-pelayan Tuhan, sebagai Gereja Tuhan ini digambarkan? Rasul Paulus dalam surat kepada gereja Korintus ini dengan begitu teliti memberikan rincian penjelasan siapa diri kita yang melayani Tuhan, kita adalah bejana-bejana tanah liat adanya. Mari kita memikirkan akan bejana tanah liat. Dalam Kejadian 2:7 Musa menulis dengan begitu indah, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah da menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup.” Kita ini dicipta dari debu tanah adanya. Dalam Mazmur 8:5-8 memberitahu kita bukan saja dicipta dari debu tanah, tetapi kita dicipta untuk menyandang kemuliaan Tuhan Allah. Manusia itu rapuh tetapi saat yang sama Tuhan memberitahu kita dalam kitab Kejadian 1:20, Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa Tuhan sendiri. Satu-satunya mahluk yang mempunyai tulang yang begitu kokoh tetapi juga lentur sehingga kita bisa menyembah Dia, kita bisa membungkukkan badan kita, kita bisa bersujud di hadapan Tuhan. Rapuh karena dari tanah liat, tetapi sekaligus mulia karena kita dicipta untuk memuliakan Tuhan dan kita dicipta untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, sebagai representatif Tuhan di tengah dunia ini. Kita akan menyatakan Tuhan yang indah, yang mulia, yang tidak kelihatan itu di dalam hidup kita yang kelihatan oleh banyak orang. Kita akan menjadi saluran dari kuasa Tuhan yang begitu besar dan begitu limpah itu. Kita akan menjadi orang-orang yang akan Tuhan pakai untuk menyatakanNya bagi dunia ciptaan Tuhan, bagi banyak orang di dalam dunia ini.

Pada waktu Paulus dalam pimpinan Roh Kudus menulis 2 Korintus 4:7 Paulus mengkomparasikan kita dengan bejana tanah liat, dan tujuan komparasi itu bukan berhenti pada diri kita, kita yang dicipta dari debu tanah dan tanah liat itu, tetapi untuk memastikan apa yang ada di dalam bejana tanah liat itu. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai stainless steel yang unbreakable, tetapi sebagai bejana tanah liat jar clay yang sederhana; yang kalau kebentur, retak, somplak; yang kalau jatuh, pecah. Tuhan mau kita melihat content dari bejana tanah liat itu, ada harta yang begitu bernilai dan begitu kilau yang akan terpancar dari bejana tanah liat itu.

Apa yang menjadi harta yang tidak ternilai itu? Apa yang menjadi kilau yang begitu terang memancar dari bejana tanah liat itu? Harta yang sangat berkilau dan tidak ternilai itu adalah Injil Yesus Kristus, Injil Allah yang mulia, the Gospel of the glory of God in the face of Christ Jesus, the Gospel of Christ Jesus. Injil Allah yang mulia, itu harta kita. Dan harta itu tersimpan, disimpan di dalam bejana tanah liat yang bisa retak. Bukan saja demikian, Paulus mengatakan harta yang indah dan bernilai kekal itu memiliki kuasa yang berlimpah. “Supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami…” (2 Korintus 4:7). Dalam Roma 1:16 Paulus “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya…” Injil memiliki kuasa yang begitu limpah untuk menyelamatkan orang-orang berdosa yang ada di dalam dunia ini. Itu sebab dalam 2 Korintus 4:6 Paulus dengan begitu indah mengatakan, Bapa segala terang itu memberikan cahaya surgawi ke dalam hati kita sehingga mata hati kita boleh melihat Allah yang mulia, kemuliaan Allah yang nampak pada Yesus Kristus.

Manusia yang jatuh di dalam dosa, manusia yang dikuasai oleh dosa, hatinya dipenuhi oleh kegelapan dan tidak sanggup dan tidak bisa melihat Allah yang begitu mulia, maka mereka memilih illah palsu. Mereka tidak bisa melihat Allah itu begitu berharga, maka hati mereka tertarik kepada hal-hal yang fana. Itu yang menyebabkan manusia berdosa tidak mau datang kepada Allah yang hidup dan yang sejati karena mata hati mereka buta, dibutakan oleh illah jaman. Sampai pada satu moment Bapa sumber segala terang itu memberikan terangNya untuk menerangi mata hati kita. Dan dengan mata hati yang diterangi oleh cahaya surgawi itu kita akan memandang kepada Tuhan Allah yang mulia, melihat Dia begitu indah, begitu mulia, sehingga hati kita begitu terpesona, hati kita begitu tertarik untuk terus memandang kepada Dia.

Paulus juga memberikan kita satu pengertian yang begitu indah tentang diri kita sebagai bejana tanah liat. Bejana tanah liat itu harus retak, tidak bisa tidak retak, karena apa? Karena content yang ada di dalam bejana tanah liat itu. Kalau bejana itu retak, maka kilau cahaya itu keluar dari retakan, cahaya yang begitu terang bercahaya dan orang-orang bisa melihat kilauan harta yang tak ternilai yang tersimpan di dalam bejana tanah liat itu. Itulah passion dari Tuhan Allah untuk meretakkan kita sebagai bejana-bejana tanah liat, agar Injil Yesus Kristus yang mulia, yang bernilai kekal itu boleh disaksikan oleh banyak orang, disaksikan oleh seluruh dunia.

Allah Tritunggal, Allah Bapa, Allah Putera yaitu Yesus Kristus, Allah Roh Kudus, sedalam-dalamnya hati Mereka adalah Injil. Dari permulaan kitab suci Allah Bapa memberitakan Injil. Di tengah-tengah dari kitab suci, dalam kitab-kitab Injil Yesus Kristus memberitakan Injil. Di bagian surat-surat pesan kepada Gereja Roh Kudus memberitakan Injil. Dalam Kejadian 3:15 Allah berkata kepada si Ular, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Keturunan dari perempuan itu adalah membicarakan kelahiran Yesus Kristus dari anak dara Maria. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, ini adalah membicarakan tentang kebangkitan Yesus pada hari ketiga dimana Dia meremukkan kepada si Ular, menyatakan kuasa kebangkitanNya dari antara orang mati. Engkau akan meremukkan tumitNya, ini membicarakan kematian Yesus di atas kayu salib. Jadi ayat ini berbicara mengenai kelahiran Yesus, kebangkitan Yesus dan kematian Yesus. Kebangkitan Yesus Kristus itu diapit oleh kelahiran dan kematianNya, karena ini begitu penting sebagai core-belief dari iman Kristen kita. Dalam Lukas 4:43, Yesus dengan jelas berkata kepada mereka, kepada murid-muridNya dan kepada orang banyak, “Juga di kota-kota lain, Aku harus mengabarkan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Allah Putera yaitu Yesus Kristus diutus oleh Allah Bapa ke dalam dunia ini untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah. Dan dalam 1 Petrus 1:8-11, khususnya ayat 11 sebagai fokus dari bagian ini, “Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu…” Berita Injil, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, disaksikan dan diberitakan oleh Allah Roh Kudus.

Kiranya setiap kita makin berhasrat sesuai dengan hasrat Tuhan Allah yang paling dalam untuk kita beritakan Injil Tuhan. Kita cari orang, dan relasi yang ada pada kita, cari orang-orang yang belum kenal Tuhan, karena engkau mempunyai harta yang tak ternilai yang engkau mau berikan kepada mereka. Kiranya gereja-gereja Tuhan makin berhasrat memberitakan Injil Yesus Kristus, dan kiranya setiap mimbar akan bercahaya terang yang akan menerangi setiap tempat, setiap kota dan cahaya itu begitu kilau lalu menarik orang-orang itu datang. Kita bisa melihat keindahan seperti itu terjadi dalam Gereja Mula-mula yang dicatat dalam Kisah Rasul. Ada gereja Tuhan, ada orang-orang Kristen yang tersebar dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Saya percaya setiap kita ada ujung buminya kita masing-masing. Paulus akan mencapai ujung buminya Paulus, Timotius akan mencapai ujung buminya Timotius. Kita sekarang akan mencapai ujung buminya Tuhan yang akan memberikan anugerah kepada kita, tempat yang paling jauh yang kita bisa capai, ada di situ, bekerja di situ, tinggal di situ. Lalu bejana tanah liat itu akan diretakkan oleh Tuhan Allah sehingga kemudian content-nya itu, Injil damai sejahtera itu, kilauan harta yang tak ternilai itu keluar.

Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 4:8-9 ini pada waktu membicarakan bagaimana seharusnya kita memandang kehidupan kita dan bagaimana orang-orang memandang kehidupan kita dan pelayanan kita. “Dalam segala hal kami ditindas namun tidak terjepit…” Pressed but not crushed; perplexed but not despair; persecuted but not forsaken; struck down but not destroyed. Ini semua adalah perpaduan yang begitu komplit. Jangan hanya melihat satu sisi saja dari kehidupan ini. Jangan hanya memandang kepada “pressed, perplexed, persecuted, struck down,” jangan berhenti sampai di situ karena itu hanya satu sisi dari kehidupan, hanya satu sisi dari mata uang. Itu belum seluruh totalitas kehidupan kita di hadapan Tuhan. Satu sisi mata uang bukan satu mata uang. Harus lihat dua sisi mata uang, harus lihat dua sisi dari kehidupan kita. Paulus mengatakan pressed but not crushed; perplexed but not despair; persecuted but not forsaken; struck down but not destroyed. Ini semua balancing, counter-balance dari Tuhan sehingga mencegah kita dari kerohanian yang kering; mencegah kita dari hati yang pahit. Dan tipuan Setan bagi Gereja Tuhan adalah membuat kita hanya memandang dan mereduksi kehidupan itu dari satu sisi kehidupan saja. Itu bukan hidup. Hidup kita fokus, kita memiliki lensa yang lebar, yang membuat kita bisa melihat landscape, yang membuat kita melihat bagaimana Tuhan mengatur hidup kita, bagaimana Tuhan meretakkan hidup kita, bagaimana Tuhan menentukan langkah-langkah kaki kita di dalam semua situasi yang terjadi di dalam hidup kita. Paulus mengatakan di dalam kelemahan dia kuasa Kristus itu turun menaunginya. Ini kalimat yang sangat menggugah saya. Tidak apa-apa kita lemah, karena Tuhanlah kekuatanku, kata pemazmur. Tidak apa-apa kita out of source dan hampir habis karena God is resourceful, ada Tuhan yang merupakan sumber yang tidak akan habis-habis. Setiap orang yang melayani Tuhan harus mengalami ini. Karena melalui pisaunya Tuhan yang akan mengerat ranting pohon kita, waktu pisau itu mengerat kita, ketajaman pisaunya Tuhan itu tajam, membuat kita kaget, membuat kita celik, membuat kita kembali memandang kepada Dia dan membuat kita bisa melihat kehidupan ini betapa indah karena kita bisa melihat bagaimana kita yang lemah dan yang harus juga mengalami kematian, Paulus mengatakan supaya kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kita, supaya kuasa kebangkitan Kristus itu nyata di dalam GerejaNya dan di dalam hidupmu masing-masing.

Paulus juga mengajak kita untuk menjadi orang-orang yang lebih daripada orang-orang yang menang. You are more than conquerors. Kalimat ini bukan kalimat motivator. Kalimat ini adalah kalimatnya Tuhan yang ditujukan Tuhan kepada GerejaNya yang harus mengalami semua afflictions, sufferings di dalam dunia.

Roma 8:35-37, “tetapi dalam semua itu…” di dalam semua yang di ayat 35-36, di dalam penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, pedang, di dalam semuanya itu engkau lebih daripada pemenang. Untuk bisa menjadi orang yang lebih daripada orang-orang yang menang, kita harus ada di dalam semua itu. Bukan karena kita diri kita yang kuat, tetapi oleh Dia yang telah mengasihi kita. Oleh Kristus yang telah mengasihi GerejaNya, yang telah memberikan nyawaNya di atas kayu salib, yang telah mengalirkan darahNya untuk membasih kita daripada segala kenajisan dan dosa kita, dan Ia telah bangkit kembali pada hari ke tiga untuk memberikan kuasa kebangkitan dan kemenangan kepada kita sebagai GerejaNya, bahkan sebagai orang-orang percaya untuk hidup di dalam dunia ini.

Setiap kita sebagai hamba-hamba Tuhan, banyak sekali orang Kristen salah mengerti frasa “hamba Tuhan” itu hanya berlaku bagi pendeta, bagi penginjil, bagi orang-orang yang bersekolah teologi lulusan seminari. Tetapi mari kita baca surat-surat dari rasul Paulus, dia memakai kata hamba, doulos, budak, itu bukan saja bagi dirinya tetapi juga bagi setiap kita sebagai Gereja Tuhan. Budak, doulos, slaves, kita ini terikat bukan kepada institusi, bukan kepada denominasi, bukan kepada manusia, tetapi sebagai budak, sebagai doulos, sebagai slaves, kita terikat kepada Kristus Tuhan. Itu yang harus ada di dalam hati setiap kita. Kita terikat kepada Tuhan, kita terikat kepada Kristus, we commit ourselves to God. Tidak ada pengertian yang melebihi pengertian ini di dalam etos kerja kita, di dalam pelayanan kita. Seumur hidup, selama kita masih hidup di dalam dunia ini, kita terikat, hati kita itu diikat kepada Kristus dan kepada kerajaanNya. Itulah yang membuat Gereja Tuhan akan commit sampai Yesus datang kembali. Itulah yang akan membuat pelayan-pelayan Tuhan itu commit sampai dia bertemu kembali dengan Tuhannya. Bukan manusia yang membuat dia melayani. Bukan pujian dari manusia yang membuat dia giat melayani. Tetapi dia memandang kepada wajah Tuhan yang memberikan damai sejahtera dan kasih karunia kepadanya. Dan seluruh yang dia kerjakan itu adalah dia persembahkan kepada Tuhan karena dia terikat kepada Tuhan Allah, dia terikat kepada Kristus sendiri. Engkau terikat kepada siapa?

Dan sebagai budak, tidak ada budak yang tidak bekerja. Kalau ada budak yang tidak bekerja, dia bukan budak tetapi majikan. Jika kita menyatakan diri kita dengan membaca firman Tuhan itu kita mengerti bahwa kita adalah budaknya Kristus, kita budaknya Tuhan, maka kita akan dengan penuh kerelaan, penuh dengan sukacita terus bekerja dan terus bekerja. Itu sebab dalam perumpamaan talenta, sang Tuan terus menambahkan talenta itu kepada orang yang terus bekerja, terus bekerja dan terus bekerja. Sudah selesai satu pekerjaan, maju kepada pekerjaan yang lain, tuan itu tambahkan lagi, tambahkan lagi. Sampai kapan? Sampai nanti yang Tuan itu akan berkata, “Mari masuk, hambaKu yang setia, dan turutlah ke dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:15-30).

Pada hari dan moment sebelum Yesus naik ke surga, Ia bertanya kepada Petrus yang telah mengkhianati Dia, dan yang telah menyangkaldan mengutuk Dia, di hadapan orang banyak, “Simon bar Jonah, Simon anak Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?” tiga kali Yesus bertanya seperti itu kepadanya. Petrus menjawab Yesus, “Aku mengasihi Engkau. Aku mengasihi Engkau. Aku mengasihi Engkau” (Yohanes 21:15-17). Waktu itu Petrus hanyalah orang sederhana, tidak ada resource apa-apa, tidak punya tabungan deposito apa-apa, seorang nelayan Tuhan yang sederhana yang belajar dari Tuhan Yesus Kristus, yang juga masih belum lulus. Tetapi hari itu Yesus Kristus mengkonfirmasi dia, “I want your heart.” Tuhan hanya mau hatimu. Dari hati yang committed to God, dari situ mengalir keluar seluruh kelimpahan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita, seluruh kelimpahan hidup yang akan mengalir keluar dari hidup kita karena kita serahkan hati kita committed to God. Dan orang-orang yang commit to God, orang-orang yang devoted to God itu, Tuhan janji di dalam perkataanNya Dia akan memberikan kekuatan, melimpahkan kekuatan kepada mereka, orang-orang yang bersungguh hati kepada Dia, dan kalimat itu muncul satu kali dalam kitab suci. “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia…” (2 Tawarikh 16:9). Raja Asa disebut oleh Tuhan bodoh karena dia megandalkan resource yang bukan dari Tuhan Allah. Dia mengandalkan kekuatan manusia untuk berperang. Tuhan Allah mengatakan, engkau bodoh! Dia ingin tidak ada peperangan, dia ingin kerajaannya damai, maka dia mengandalkan sekutu, mengandalkan manusia, mengandalkan raja yang lain. Engkau ingin damai? Engkau tidak akan memilikinya karena engkau salah mengandalkan pribad, yang terjadi justru peperangan.

Tetapi ayat ini mengatakan, “For the eyes of the Lord run to and fro throughout the whole earth…” Bayangkan mata Tuhan menjelajah seluruh bumi, sampai di tempat ini Tuhan sedang mencari siapa orang-orang yang bersungguh hati kepada Dia. Mata Tuhan menjelajah, mencari dan menemukan Daud di tengah-tengah padang gurun yang sunyi. Tuhan menemukan inilah orangnya, this is the man after My own heart. Mata Tuhan menjelajah di seluruh padang gurun dan menemukan Musa di situ. Inilah orang yang bersungguh hati kepada Tuhan. Tuhan mau mencari orang-orang yang bersungguh-sungguh hati kepadaNya. Orang-orang yang devoted to God, orang-orang yang committed to Him, as slaves to God. Budak yang penuh rela dan sukacita karena kita menghambakan diri kita bukan kepada manusia tetapi kepada Raja seluruh alam semesta, Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan yang telah menyelamatkan engkau, Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi engkau dan memberikan diriNya kepada GerejaNya.

Jangan lupa, kalau hari ini kita bisa menjalankan perjalanan gereja ini sebagai satu komunitas iman, satu komunitas orang percaya, jangan kita lupa ini karena Allah melakukannya bagimu. Darimana kita tahu? Yesaya 26:12 “Engkaulah yang melakukannya bagi kami…” Alangkah indahnya, sebagai budaknya Tuhan kita bekerja dan terus bekerja, namun Alkitab memberikan kepada kita pengertian yang indah, adalah Tuhan yang melakukannya bagi kita. Adalah Tuhan yang memberikan damai sejahtera kepada kita. Ini keindahan dari kitab suci.

Saya mengajak kita kembali mendedikasikan hati kita kepada Tuhan, untuk tahun-tahun yang akan datang, bahkan seumur hidup kita sampai kita bertemu kembali dengan Dia. Mari kita juga boleh melihat Tuhan terus memberikan damai sejahteraNya, Tuhan yang terus melakukannya bagi kita. Sehingga kita setiap minggu akan datang penuh dengan ucapan syukur, penuh dengan segala pujian penyembahan kepadaNya, dan Dia melakukannya di dalam kita.

Biar cahaya Injil Tuhan boleh keluar memancar dari hidup setiap kita. Semua tantangan dan kesulitan yang tidak akan pernah menghancurkan bejana tanah liat kita. Tetapi biarlah melalui setiap retak yang dihasilkan kita boleh memancarkan kemuliaan Tuhan. Biar setiap kita tidak pernah kecewa dan putus asa dan iri bahkan benci oleh sebab bejana kita diretakkan Tuhan. Tetapi kita bersyukur melaluinya harum kemuliaan Tuhan menyebar keluar, sinar cahaya yang boleh memimpin orang mengalir darinya. Biar kita mengikut jejak Tuhan kita Yesus Kristus, tidak akan ada kemuliaan tanpa penderitaan, tidak akan ada hidup tanpa melalui kematian.(kz)