Rahasia Menilai Hidup dan Waktu

Sat, 12 Jul 2014 23:52:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (1)

Nats: Lukas 11:53 – 12:21

 

Catatan kecil Lukas di akhir pasal 11 dan awal pasal 12 adalah bagian yang penting luar biasa karena ini memperlihatkan puncak dari pelayanan Tuhan Yesus. Lukas 12:1 mencatat jumlah orang yang berkerumunan mencapai ribuan orang dan “mereka berkerumun hingga berdesak-desakan.” Atau dalam bahasa aslinya menggambarkan ribuan orang itu saling dorong, saling desak, saling injak satu sama lain, trampling on one another. Semua mau mendekat kepada Yesus, berkerumunan di tengah-tengahNya seperti itu.

Saya percaya kalau ditarik dari sisi seorang hamba Tuhan atau pelayanan gereja, bukankah itu impian dan cita-citanya, ketika kerumunan orang banyak dalam jumlah begitu besar terjadi kepada pelayanan seseorang, bagaimana orang itu bereaksi dan bersikap. Semakin banyak jumlah orang yang hadir berbakti, semakin penuh sesak orang memenuhi gedung ibadahnya, semakin senang dan bangga hamba Tuhan dan gereja itu, seolah-olah jumlah yang besar itu mewakili kesuksesan dan achievement pelayanan dia.

Oh, betapa bagian ini luar biasa penting sekali untuk kita belajar.

Bagaimana hati Yesus meihat kerumunan ribuan orang mengelilingi Dia, mengikutiNya kemana saja Dia pergi? Kerumunan yang ada itu tidak menjadikan Yesus Kristus “ge-er,” Yesus sama sekali tidak terganggu, hatiNya tidak menjadi besar oleh karena bagaimana Dia menilai diriNya bukan dari kerumunan orang banyak di sekitarnya. Yesus tidak menilai diriNya berdasarkan berapa banyak tepuk tangan kekaguman orang kepadaNya.

Dari bagian ini kita menemukan orang-orang itu datang penuh dengan motivasi yang berbeda; orang-orang itu datang seolah-olah ikut Tuhan, tetapi dengan maksud yang berbeda-beda. Murid-murid perlu mengerti dan belajar akan hal itu. Dan konsep pertama yang Tuhan Yesus berikan kepada murid-murid adalah bagaimana menilai hidup di hadapan Allah. Jangan terlalu cepat bangga ketika orang banyak mengelilingimu, jangan terlalu cepat silau dengan besarnya jumlah orang datang mengagumimu. Karena nilai hidup bukan diukur oleh berapa besar kesuksesan yang kita dapat; bukan diukur oleh berapa meriah tepuk-tangan applause kerumunan orang kepada kita; bukan diukur dengan berapa banyak desakan pengagum yang mengikuti kita; bukan itu semua. Nilai hidup kita harus dilihat di hadapan Tuhan.

Di bagian ini paling sedikit kita bertemu ada dua macam kelompok orang. Kelompok yang pertama adalah kerumunan pemimpin-pemimpin agama mengikuti Yesus (Lukas 11:53-54). Orang-orang Farisi dan pemimpin-pemimpin agama itu memiliki motivasi yang dari luar kelihatan luar biasa rohani dan mungkin membuat murid-murid sedikit minder karena pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan pengetahuan mereka akan kitab suci begitu luas luar biasa. Dan bukan hanya satu dua pertanyaan, Lukas mencatat mereka “membanjiri” Yesus, membombardir Dia dengan berbagai pertanyaan teologis. Bagaimana hati murid-murid tidak menjadi ciut? Secara pendidikan teologi, mereka ini orang-orang hebat dan pintar. Jelas mereka bertanya mengenai kitab-kitab Perjanjian Lama dan mengenai hukum Taurat, seolah-olah mereka rohani, seolah-olah mereka mau mengerti apa yang diajarkan Yesus. Namun Alkitab jelas mencatat mereka datang dengan motif ingin menjebak Yesus dan berusaha mencari celah menemukan alasan untuk menangkap Dia (Lukas 11:54). Kelompok yang kedua kerumunan orang yang datang ada orang datang bukan karena mau mendengar firman Tuhan, bukan karena mau mengikut Tuhan, tetapi justru karena mau mendapatkan keuntungan dan benefit dari Yesus (band. Yohanes 6:2, 26).

Di tengah-tengah kerumunan itu berbaliklah Yesus lalu mengajar murid-muridNya secara khusus mempersiapkan mereka, karena akan datang waktunya nanti satu-persatu kerumunan orang-orang yang berdesak-desakan itu meninggalkan Yesus, bahkan menjadi sepi dan sunyi ketika Yesus seorang diri tergantung di atas salib di bukit Golgota.

Kalau hidup kita dinilai dari berapa banyak yang kita miliki, kita akan sangat kecewa pada waktu kita tersendiri di dalam puncak kesulitan hidup kita; pada waktu sdr dan saya pernah jaya lalu kemudian kehilangan segala-galanya, kita bisa hancur dan kecewa terhadap hidup ini. Itulah sebabnya pada waktu kita melihat nilai hidup kita di bagian ini, kita tidak menaruh ukuran seperti itu melainkan bagaimana kita mengerti nilai hidup kita di hadapan Allah.

Yesus berkata kepada murid-muridNya, kataNya, “Waspadalah terhadap ragi yaitu kemunafikan orang Farisi”(Lukas 12:1). Nilai hidup di hadapan Allah adalah sebuah hidup yang transparan, sebuah hidup yang tidak ditutup-tutupi; nilai hidup di hadapan Allah adalah sebuah hidup yang otentik. Orang lain bisa kita kelabui, kerumunan orang di sekeliling kita seolah-olah bisa memperlihatkan kepopuleran kita. Tuhan Yesus mengingatkan bagaimana engkau dan saya nantinya berdiri di hadapan Allah. Kemunafikan adalah satu sikap apa yang kelihatan di luar tidak sama dengan apa yang ada di dalam hati. Yesus menggunakan kata ‘ragi’ karena itu mudah sekali mengkontaminasi. Itu adalah satu godaan yang tidak boleh kita anggap sepele di dalam hidup ini. Kita ingin berprilaku dan bertindak rohani supaya kerumunan orang itu kagum dan terpesona melihat kita, itu godaan kemunafikan yang gampang sekali menjangkiti kita, khususnya kepada hamba-hamba Tuhan dan pemimpin-pemimpin agama yang berdiri di mimbar. Kemunafikan bisa terjadi di dalam seluruh aspek hidup manusia, di dalam dunia politik, di dalam dunia keagamaan, dimana saja. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan murid-murid, mereka juga bisa jatuh ke dalam hal yang sama seperti orang Farisi, itulah ragi kemunafikan. Ragi itu kecil, mudah menyelusup dengan tidak kentara di tengah adonan, ragi itu akan mengembangkan adonan daripada ukuran sebenarnya. Dengan kata lain, ragi adalah suatu “bubble rohani.” Kalau di dunia ekonomi kita mengenal istilah “bubble economy” dimana harga bisa mengembang tidak sesuai dengan real-nya; demikian juga yang terjadi dengan dunia property ada “bubble property” dimana harga property begitu melambung. Maka “bubble rohani” adalah kondisi rohani yang diciptakan oleh ragi kemunafikan, pada waktu ego kita menjadi lebih besar, kita rasa diri paling penting dan paling utama dan bukan Tuhan lagi di situ, maka bahaya-bahaya dari pemimpin-pemimpin agama bisa tanpa ragu memanipulasi kebenaran atas dasar Tuhan dan agama. Di dalam kondisi seperti itu Yesus katakana, waspada! be careful! Itu juga bisa terjadi kepada kita. Bagaimana supaya itu tidak terjadi? Bagaimana bentuk dan tindakan waspada yang harus kita lakukan untuk menghindari ragi kemunafikan itu? Yesus ktakan, takutlah kepada Tuhan.

Takutlah akan Tuhan! Yesus mengatakan hal itu kepada murid-muridNya. “Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!”(Lukas 12:5). Takut akan Tuhanlah yang menyebabkan murid-muridNya belajar menahan diri dalam segala tindakan perbuatan mereka karena “…tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Lukas 12:2). Dan belajar untuk menahan diri dalam perkataan mereka karena “…apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah” (Lukas 12:3). Segala perkataan, perbuatan dan tingkah laku kita selama hidup di dunia ini satu kali kelak harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan Tuhan. Itu sebab Yakobus mengingatkan kita, “…janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru sebab kita tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat” (Yakobus 3:1). Setiap perkataan yang keluar dari mulut kita harus kita pertanggung-jawabkan. Takutlah kepada Tuhan!

Takut akan Tuhan itulah yang akan menyebabkan murid-murid tidak perlu munafik, murid-murid tidak perlu takut terhadap pressure dan tekanan, murid-murid tidak perlu takut terhadap orang-orang yang berusaha mencari kesalahan dari hidupmu, sama seperti pemimpin-pemimpin agama mengikuti Yesus kemana-mana untuk mencari kesalahanNya.

Siapa kita? Kita cuma orang kecil, kita kurang, kita penuh dengan kelemahan, kita bisa sekali jatuh di dalam banyak hal. Tetapi mari kita belajar hari ini walaupun kita bisa bikin kesalahan tetapi biarlah di dalam kekurangan kelemahan kita, kita murni terbuka dan menjadi orang yang otentik. Itulah arti kata tidak munafik. Orang boleh lihat kekurangan kita, dan kita juga tidak usah malu dengan kekurangan kelemahan kita, memang kita bukan orang sempurna dan tidak akan menjadi sempurna. Hidup yang otentik, itu yang Tuhan Yesus mau dari kita. Otentik itu lahir oleh sebab dari hati kecil kita sedalam-dalamnya kita takut kepada Tuhan. Di manapun, tidak ada hal yang perlu kita sembunyikan. Secara keuangan, kita tidak main sembunyi, kalau itu tidak ada, kita tidak usah takut dan malu. Tidak ada maksud jahat kita kepada orang, sehingga kita tidak usah takut untuk mengatakan suatu kebenaran karena kita memang tidak punya maksud seperti itu. Dari situ orang akan tahu keindahan hidup sdr satu kali kelak hidup kita lurus dan otentik, lahir dari sikap nilai ini, saya takut kepada Tuhan. Takut itu akan menyebabkan kita selalu gentar karena suatu hari kelak saya akan mempertanggung-jawabkan apa yang saya katakan di hadapan orang. Takut itu berarti saya gentar, dimana saya saya pergi dan berada, Tuhanku selalu ada dan hadir di dalam hidup kita. Takut akan Tuhan itulah yang menyebabkan murid-murid bisa bersiap hati satu hari kelak mereka bisa ditekan dengan berbagai pressure untuk meninggalkan iman kepercayaannya demi untuk mengikuti arus dunia ini. Tidak gampang apalagi kalau tekanan itu datang dari kerumunan massa yang menggila mengelilingi kita; kerumunan itu bisa menyebabkan kita bukan saja tidak bisa berbalik melawan arah, bergerak pun begitu sulit. Tetapi dalam situasi seperti itu engkau dan saya bisa bertahan kalau kita berangkat dari prinsip tadi yaitu takut akan Tuhan di dalam hidup kita. Orang yang takut akan Tuhan pasti tidak pernah takut kepada tekanan manusia di dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah takut kepada pressure yang diberikan oleh manusia.

Yang kedua, Yesus kemudian memberikan satu pengajaran yang penting luar biasa sebaliknya. Kalau demikian jangan lagi takut akan hal yang lain, tidak usah takut dengan hal-hal yang sepele di dalam hidup ini. Tidak usah takut apa yang akan kamu makan dan minum, karena Allah mengetahui semua yang engkau butuhkan. Yesus masuk ke dalam aspek pemeliharaan Tuhan di dalam hidup engkau dan saya. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguh pun demikian tidak seekor pun daripadanya yang dilupakan Allah…” (Lukas 12:6). Kalau kita membaca dari Matius 10:29 Tuhan Yesus berkata, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit?” Di sini kita menemukan satu aspek yang kecil tetapi sangat menarik. Harga burung pipit di pasar, 2 ekor satu duit, seharusnya dua duit orang mendapat 4 ekor, tetapi di sini 5 ekor dua duit. Berarti burung yang ke 5 adalah burung “imbuh” yang saking tidak ada harganya diberi secara gratis oleh penjual burung. Sekalipun demikian, burung yang tidak ada harganya itu tetap tidak dilupakan Allah. “Karena itu jangan takut karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.” Lalu Yesus menyebutkan lebih dalam lagi hal yang kadang-kadang sepele tetapi sangat mengganggu dan mengkuatirkan kaum pria, “Bahkan rambut di kepalamu pun terhitung semuanya”(Lukas 12:7).

Kita tidak perlu takut dan kuatir akan hal-hal seperti itu karena nilai hidup kita tidak terletak dan tidak ditentukan oleh hal-hal seperti itu. Namun ironisnya setelah Yesus mengatakan hal-hal ini, tetap saja ada orang yang masih tidak mengerti. Sudah diberi khotbah dan perumpamaan seperti itu pun tetap saja tidak mengerti. Sehingga ada di tengah kerumunan itu ada seorang yang sudah tidak sabar lagi dan menyela Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya dia berbagi warisan dengan aku!” (Lukas 12:13). Di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu dia memikirkan urusan domestik rumahnya, meminta Yesus menjadi pengantara untuk membagi harta warisan dengan saudaranya. Kalau sampai minta pengantara berarti harta orang ini sangat banyak. Tetapi dari situ kita tahu kalau bicara mengenai uang dan hal-hal materi yang ada, tidak peduli itu saudara sendiri, relasi persahabatan, semua ditabrak saja. Adik kakak bisa saling bunuh berkaitan dengan berebut warisan. Yesus menjawab dia, “Siapa yang telah mengangkat Aku menjadi pengantara atas kamu?” Artinya, apa urusannya Aku dengan engkau? Yesus kemudian mengangkat soal waspada yang kedua, “Waspadalah terhadap segala ketamakan” (Lukas 12:15). Kalau waspada terhadap kemunafikan bicara mengenai hal yang orang “show off” hal-hal yang dipamerkan keluar, waspada terhadap ketamakan bicara mengenai hal yang tersembunyi di dalam.

Yesus mengingatkan kita, waspadalah terhadap ketamakan. Hidup kita tidak tergantung dari kekayaan; nilai hidup kita tidak berdasarkan materi yang ada pada kita. Kaya atau miskin bukan urusan di sini, tetapi urusan di “sana.” Yesus mengingatkan betapa celaka orang yang hanya menumpuk kekayaan bagi dirinya sendiri tetapi miskin dan melarat di hadapan Allah.

Kemudian Yesus memberikan satu kisah perumpamaan tentang seorang kaya raya (Lukas 12:16-21). Apa yang harus aku perbuat? Ini adalah pertanyaan orang kaya tersebut. Nilai hidup kita berkaitan dengan bagaimana penilaian Allah kepada kita, bukan tergantung kepada reaksi penilaian kerumunan orang banyak di sekeliling kita. Nilai kita di hadapan Allah tidak ditentukan dengan bagaimana orang bersikap dan bagaimana penerimaan orang terhadap kita. Nilai kita di hadapan Allah penting pada waktu kita terbuka dan jujur di hadapanNya. Nilai hidup kita tidak boleh ditentukan dengan seberapa banyak yang ada dan terwariskan bagi kita.

Dalam kisah perumpamaan orang kaya yang bodoh ini muncul satu pertanyaan reflektif dari orang kaya ini, “Apa yang harus aku perbuat?” Dia mendapatkan hasil panen begitu berlimpah, dia mendapat keuntungan yang sangat besar, dia menjadi semakin makmur. Maka dia memperbesar lumbung-lumbungnya, dia memperluas tanahnya, itu yang dia kerjakan dan lakukan. Jika pertanyaan itu muncul di dalam hatimu hari ini dan engkau juga menjawab dengan cara yang sama, membesarkan rumah dengan segala kemewahan, menambah ini dan itu, mengumpulkan ini dan itu, kita juga bisa jatuh ke dalam perangkap yang sama, karena perangkap itu hanya satu dimensi. Perangkap itu bersifat “selfishness.” Kita tidak menangkap multidimensi dari hidup ini. Pertanyaan yang sepatutnya keluar dari diri kita adalah “Apa yang harus aku perbuat untuk berbagi? Apa yang harus aku lakukan sebagai penatalayan dari segala yang Tuhan percayakan bagiku dalam hidup yang singkat dan sementara ini? Apa yang bisa aku berikan atas setiap anugerah yang sudah aku peroleh? Pertanyaan itu penting, apa yang harus aku perbuat?

Orang kaya ini bodoh, kata Tuhan Yesus, bukan karena dia kurang pengetahuan dan rendah intelektualnya; bukan karena dia kurang pendidikan dan pengalaman. Yesus menyebut orang kaya ini bodoh karena oleh karena dia hanya berpikir sesaat dan hanya berpikir bagi diri sendiri untuk hidup dimensi yang sekarang.

Orang yang pintar adalah orang yang berpikir sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun ke depan. Tetapi orang yang bijaksana adalah orang yang berpikir bagi hidupnya hingga kepada kekekalan. Dimana kita berada? Saya berharap dan berdoa, kiranya kita berada di posisi yang ketiga, menjadi orang yang bijaksana rohani karena kita berpikir sampai kepada kekekalan.

Kalimat Yesus simple dan sederhana, tetapi menyentuh seluruh aspek hidup kita termasuk kepada pengelolaan harta kita. Takutlah kepada Allah. Kita satu kali kelak akan berdiri di hadapanNya. Kita bukan hanya bicara soal apa yang kita katakan, tetapi juga soal bagaimana pengelolaan hidup kita. Yesus berkata, “Apa gunanya engkau memiliki semuanya di dunia ini, tetapi pada waktu bertemu Tuhan engkau kehilangan segala-galanya?” Mari kita belajar menjadi orang Kristen yang penuh dengan bijaksana rohani. Itulah artinya takut akan Tuhan sebagai awal dari segala bijaksana dan pengetahuan, bagaimana hati yang takut akan Tuhan itu menyentuh segala aspek dan dimensi hidup kita. Mohon Tuhan pimpin dan berkati setiap kita bagaimana menilai waktu dan hidup kita, karena hanya dua hal itu harta yang Tuhan beri kepada setiap orang yang pernah lahir di dalam dunia ini. Tuhan tidak beri emas batangan di tangan kita pada waktu kita lahir ke dunia ini. Tuhan hanya beri kita dua hal itu, waktu dan hidup. Hari ini biar firman Tuhan membawa hati kita kepada sentralitas bagaimana kita menempatkan dan menilai semua bagaimana kita berdiri di hadapan Allah.

Kiranya Tuhan menjaga dan memelihara hidup setiap kita karena Tuhan ada di dalam setiap dimensi hidup kita. KepadaNya kita hidup dan kepadaNya kita bertanggung jawab. Kiranya Tuhan Yesus memberikan kekuatan kepada setiap kita untuk tidak lagi takut kepada hal-hal yang tidak sepatutnya kita takuti dan selalu ingat untuk takut kepada Tuhan yang sepatutnya kita gentar dan hormat kepadaNya. Jangan sampai mata kita disilaukan dengan keinginan untuk memiliki lebih banyak bagi diri kita semata-mata. Biar hati kita gentar dan takut sebab kita tahu semua yang kita miliki tidak akan kita bawa di hadapan Tuhan, yang kita bawa adalah apa yang telah kita lakukan dan kerjakan selama hidup kita demi untuk hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Kiranya Tuhan memberi kita hidup yang berbijaksana di hadapan Tuhan. Ingat, Tuhan Yesus yang kaya telah menjadi miskin karena kita, supaya kita boleh menjadi kaya di dalam keselamatanNya.(kz)