Mengapa Lambat Menilai Jaman?

Sun, 27 Jul 2014 01:30:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (3)

Nats: Lukas 12:54 – 13:5

 

Waktu adalah harta yang paling penting yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kita tidak perlu kuatir dan takut akan berapa sedikit barang dan harta yang kita miliki dalam hidup ini. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan ketika kita menyadari Tuhan masih memberi kita waktu dan kesempatan karena melalui itu kita sanggup bisa melipat-gandakan apa yang ada di dalam hidup kita. Masing-masing kita diberi waktu yang sama yaitu 24 jam, tetapi kita bisa melihat ada orang-orang yang menjalani waktu kehilangan banyak hal dan sebaliknya ada orang-orang yang menjalani waktu mendapatkan banyak hal dan melipat-gandakannya. Hal itu bergantung kepada apa?

Kita bukan saja hidup di dalam waktu, kita bukan saja pasif diseret di dalam perjalanan waktu sehingga kita boleh melewati hari-hari kita tahun berganti tahun sampai hidup kita selesai di dunia ini. Kita sanggup bisa melampaui waktu dimana kita hidup sehingga melalui kita melampaui waktu itu kita menilai dan mengetahui apa yang ada di depan, kita sanggup bisa melakukan sekarang untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di depan.

Dalam Lukas 12:54-56 Yesus berkata, “Rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai jaman ini?” Yesus mengambil ilustrasi prediksi cuaca yang sederhana sekali pada waktu itu. Musim hujan musim kemarau dapat dilihat dengan cukup jelas. Di sebelah barat adalah laut Mediteranian, di daerah selatan Israel adalah daerah gurun. “Pada waktu engkau melihat ke barat…” Jelas sekali itu adalah petanda bagi daerah Israel musim hujan akan segera tiba. “Kalau angin datang dari selatan…” dari jazirah Arab, angin panas dari padang gurun luar biasa panas membuat suhu di daerah Israel bisa mencapai 40-50 derajat celcius, maka Yesus mengatakan orang tahu itu berarti musim panas datang. Maka berdasarkan observasi bijaksana itu manusia bisa memprediksi dan mengantisipasi apa yang ada di depan melalui pola alam yang ada.

Yang kedua, dalam Lukas 12:57 Yesus mengatakan, “Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?” Kita masing-masing diberi waktu yang sama, kita mengalami proses yang kurang lebih sama, tetapi perbedaan bisa terjadi sebab ada hati dan keberanian untuk memutuskan sesuatu. Keputusan-keputusan yang kita ambil jelas memiliki konsekuensi di dalam hidup ini, tetapi kadang-kadang di dalam waktu dan kesempatan yang Tuhan beri kepada kita, kita gagal sebab kita ragu dan takut. Padahal kita tidak sadar sebetulnya orang yang tidak mau ambil keputusan sesungguhnya sudah mengambil keputusan. Selain kita belajar mengambil keputusan, Yesus mengatakan dalam bagian ini belajar mengambil keputusan yang benar. Walaupun mungkin pertimbangan kita, prediksi kita atau analisa kita kuranglah tepat tetapi lebih baik orang itu mengambil keputusan dan meskipun keputusan itu keliru setidak-tidaknya dia bisa belajar di dalamnya daripada orang sudah pikir bolak-balik, sudah prediksi segala macam, sudah tahu ini dan itu, tetapi tidak pernah mau melangkah mengambil keputusan.

Tetapi meskipun manusia ada kepintaran, kemampuan, kesanggupan bisa menilai dan memprediksi ke depan terhadap persoalan-persoalan seperti itu, Yesus kemudian menegur keras kepada orang yang hadir, mengapa dengan mata seperti itu dan dengan kepekaan seperti itu terhadap urusan fisik dan hidup, engkau tidak memiliki kesanggupan menilai apa yang menjadi kebutuhan hidupmu secara rohani? Rupa bumi engkau bisa tahu, kondisi alam engkau bisa menilai, sehingga engkau bisa dengan bijaksana mengatur waktu yang ada di depan, tetapi mengapa engkau tidak sanggup menilai jaman ini dan mengambil keputusan yang benar?

Lukas 11:53-54 memperlihatkan situasi apa yang sedang ada pada waktu itu. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat terus-menerus ada di sekeliling Yesus, membanjirinya dengan berbagai pertanyaan yang menjebak dan berusaha mencari-cari kesalahan Yesus sebagai alasan untuk menangkapNya. Inilah konteks yang terjadi pada waktu itu. Yesus tidak takut. Yesus kemudian menantang orang banyak itu, “Mengapa engkau tidak mau mengambil keputusan yang benar?” Yang hadir di situ bukan orang-orang bodoh, yang hadir di situ adalah pemimpin-pemimpin agama, yang hadir itu bukan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan intelektual, mereka bisa memprediksi apa yang ada di depan, kehidupan mereka, tetapi mereka tidak sanggup menilai kondisi rohani mereka. Mesias sudah ada di depan mata mereka, mereka perlu Mesias itu, Juruselamat itu, dan Yesus hadir di tengah-tengah mereka. Seharusnya dengan melihat Yesus mereka bisa menilai siapa Dia, dan setelah menilai siapa Dia, mereka harus mengambil keputusan yang benar. Di dalam konteks Tuhan Yesus ada dua hal yang jelas secara kasat mata yang tidak bisa mereka abaikan dan pungkiri, mereka lihat pribadi Yesus dengan jelas, hidupNya tanpa noda, mereka melihat kasihNya kepada orang-orang yang butuh uluran tanganNya, kasihNya nyata. Dia menghidupi apa yang Dia ajarkan. Dia menyentuh seluruh aspek strata sosial masyarakat. Dia berdialog dengan para pemimpin agama tanpa peduli apakah mereka mau menjerat Dia ataukah sungguh-sungguh mau mencari kebenaran. Tetapi Dia juga mencintai dan mengasihi pemungut cukai dan perempuan berdosa, orang-orang yang dihina masyarakat pada waktu itu. Anak-anak kecil yang datang kepadaNya diberkati dan diterimaNya dengan luar biasa. Alkitab mencatat mereka dapat melihat apa semua yang dilakukan Yesus. Yang kedua, yang secara kasat mata yang tidak mungkin tidak mereka lihat Yesus memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 ketul roti dan dua ekor ikan, mujizat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di dalam sejarah bangsa Israel paling tidak pernah terjadi dua nabi besar dalam Perjanjian Lama yang hidup mereka bersentuhan dengan banyak mujizat, yaitu Musa dan Elia. Selebih daripada itu tidak banyak nabi lain yang melakukan mujizat. Tetapi dalam pelayanan Tuhan Yesus mereka menyaksikan itu dari hari ke hari. Yesus mencelikkan mata orang buta, Yesus membangkitkan orang mati, Yesus mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan, Yesus membuat orang tuli bisa mendengar, Yesus menahirkan orang yang sakit kusta. Dua aspek ini membuat mereka secara objektif mengakui inilah Seorang yang mereka sangat butuhkan dan perlukan bagi rohani mereka; inilah Mesias yang sejati yang datang. Jikalau mereka mampu menilai jaman, masakah hal-hal seperti ini mereka tidak sanggup untuk menilainya?

Kalimat Yesus ini saya percaya bukan saja menjadi kalimat teguran bagi orang-orang yang ada pada waktu itu, tetapi juga berlaku kepada manusia yang hidup pada masa kini. Pada waktu kita membaca Alkitab, pada waktu kita mendengarkan kisah mengenai Tuhan Yesus Kristus, orang-orang yang betul-betul mencari kebenaran boleh mengerti dan memahami apa yang Dia katakan dan apa yang Dia ajarkan. Mereka akan tahu dan mereka mengakui Dia adalah Orang yang berbeda, Dia adalah Manusia yang agung yang pernah hidup di atas muka bumi ini. Kita sudah mendengar banyak tentang Dia, hari ini dari mimbar ini satu saja tawaran dan permintaan saya sampaikan kepadamu, sudahkah engkau mengambil keputusan yang benar dalam hidupmu? Sudahkah engkau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Mesias bagi hidupmu? Jikalau waktu hidup kita kita planning ke depan, alangkah perlunya keselamatan dan hidup rohani kita juga harus kita planning dengan bijaksana. Itulah yang Yesus ingin katakan kepada kita hari ini dan kepada orang-orang yang hadir pada waktu itu.

Yang kedua, Yesus katakan kepada mereka mengapa mereka tidak sanggup bisa menilai jaman? Yesus mengatakan ini adalah supaya mereka bijaksana kembali melihat ke dalam sejarah apa yang sedang terjadi dan mengapa di dalam perjalanan hidup bangsa Israel mendengarkan suara para nabi selalu saja peristiwa ini berulang, yaitu nabi-nabi datang menyampaikan kebenaran, menegur kesalahan mereka namun umat Tuhan senantiasa menolak nabi yang seperti itu. Akibatnya penghukuman Tuhan tiba membuat mereka sadar dan berbalik lagi kepada Tuhan, tetapi sejarah terus berulang lagi. Diagnosa dari nabi-nabi yang tulus dan jujur tidak gampang didengar oleh mereka. Nabi-nabi palsu berteriak, “Damai sejahtera bagimu…” hanya nabi Yeremia yang berkata, “Tidak. Penghukuman Tuhan akan datang ke atasmu. Bertobatlah!” Mendengar kalimat seperti itu maka mereka melempar Yeremia masih ke dalam sumur dan banyak hal keji dilakukan kepada dia.

Jaman sekarang juga tidak lepas daripada itu. Dan sungguh memalukan memang peristiwa pemilu di Indonesia dimana politik diagamakan dan agama dipolitikkan. Politik diagamakan, yaitu bagaimana politik dibawa masuk ke dalam gereja, lalu atas nama Tuhan dan dengan mencari dukungan umat Tuhan dan dengan memakai doa dengan bahasa rohani mendukung seseorang, lalu pada saat yang sama agama dipolitikkan. Kita tidak berani berdiri dengan benar menyampaikan kebenaran firman Tuhan apa adanya dan memakai mimbar supaya suara dari kebenaran firman Tuhan menuntun jaman ini.

Semua itu seringkali tidak pernah ditangkap oleh manusia dengan jelas sampai tiba bagian yang penting sekali di dalam Lukas 13:1-5. Setelah Yesus selesai berbicara, datanglah murid-murid memberitahukan dua tragedi yang belum lama terjadi pada waktu itu. Tragedi yang pertama ada sekelompok orang Galilea yang sedang dalam konteks berbakti beribadah di Bait Allah, datang membawa persembahan korban dan sedang berdoa di hadapan Tuhan, menaikkan syukur dan berbakti kepada Tuhan. Lalu datanglah tentara-tentara Roma atas perintah Pilatus membunuh dan membantai orang-orang Galilea itu dengan kejam, lalu bukan saja membunuh, mereka mencampurkan darah orang-orang Galilea itu dengan darah binatang korban yang dituang di atas mezbah persembahan. Ini terjadi di dalam konteks dimana mereka sedang mempersembahkan korban, satu tindakan yang sangat menghina luar biasa.

Seringkali pertanyaan yang sama muncul, mengapa orang yang cinta Tuhan dan beribadah kepada Tuhan mati dengan cara yang tragis seperti itu? Manusia selalu memiliki pikiran yang seperti ini: kalau orang itu cinta Tuhan, kalau orang itu hidup taat kepada Tuhan, Tuhan pasti mengasihi dan memberkati orang itu. Tuhan akan menjaga dan melindungi dia, Tuhan akan menghindarkan dia dari tragedi dan bencana. Kalau orang-orang Galilea yang sedang berbakti kepada Tuhan mengalami kejadian tragis dan brutal seperti itu, bisa jadi orang-orang itu ada dosanya yang tersembunyi. Yesus menangkap apa yang ada di belakang pikiran orang-orang itu dan menjawab mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea itu dosanya lebih besar daripada kalian semua? Tidak!” Yang kedua, tragedi yang terjadi tidak ada kaitannya dengan apa-apa, hanya satu peristiwa alam saja, orang-orang itu tepat berada di bawah menara dekat Siloam ketika secara tiba-tiba menara itu roboh menimpa mereka. Hal yang sama bisa kita katakan ketika sebuah pesawat jatuh, atau ada orang yang sedang antri hendak menyeberang di lampu merah tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya, atau ada anak berdiri di depan sekolah tiba-tiba ada bus melindasnya. Itu semua bisa terjadi kapan saja kepada siapa saja. Orang yang menyangka bahwa mereka yang tertimpa tragedi dan malapetaka seperti itu pasti ada yang tidak beres sehingga dihukum Tuhan, Yesus membereskan konsep mereka dengan jawaban yang tegas, “Tidak! Orang-orang ini mengalami hal itu bukan karena dosa mereka lebih besar daripada dosa orang-orang lain.” Ini penting sekali kita memahami, supaya kita tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan sendiri.

Kita perlu mengerti Alkitab mencatat bagian ini dalam konteks Yesus sedang menyuruh orang untuk menilai jaman dan mengambil keputusan yang benar. Jangan sampai, kata Yesus, engkau diseret ke pengadilan di hadapan raja, sampai kepada titik itu engkau belum ambil keputusan dan hukuman akan dijatuhkan dan engkau dipenjarakan, kesempatan itu tidak akan ada lagi. Kita masing -masing diberi waktu, mari kita peka bukan saja menjalani waktu itu tetapi menjadi orang Kristen yang bijaksana menilai apa yang ada di depan kita. Seringkali orang menganggap waktunya masih panjang dan dia mengira dia sanggup dan bisa bermain-main, sampai bencana tragedi tiba kepadanya menjadi “wake up call” baginya. Wake up call untuk mengingatkan mereka peristiwa tragis yang menimpa orang-orang Galilea yang sedang berbakti itu dan peristiwa tragis yang menimpa orang-orang yang mati tertimpa tembok menara dekat Siloam, semua itu harus mengingatkan orang-orang yang ada di situ seharusnya bertanya, “Kenapa hal itu terjadi kepada mereka? Kenapa tidak terjadi kepadaku?” Mungkin orang yang datang bertanya baru saja sehari sebelumnya baru berbakti di Bait Allah, atau baru beberapa menit sebelumnya berdiri dekat menara yang roboh itu. Yesus tidak mempersoalkan orang-orang yang mengalami bencana itu, Yesus mengingatkan mereka yang hidup melalui peristiwa itu kita dipanggil untuk menyadari dan menghargai bagaimana waktu yang Tuhan beri kepada kita. Itu berarti setiap anak Tuhan yang diberi kesempatan hidup dan berjalan dan menikmati waktu yang ada, Tuhan meminta setiap kita untuk menebus waktu kita dan mengisi dan memakai waktu itu, bagaimana kita bisa memikirkan apa yang ada di depan bukan untuk diri kita saja tetapi juga dengan peka menilai jaman, supaya melaluinya kita bisa melayani Tuhan dengan lebih baik.

Yang terakhir, kalau demikian bagaimana kita sebagai individu belajar mengantisipasi jaman yang ada di depan? Bagaimana kita sebagai Gereja bisa melayani jaman yang ada di depan? Ini adalah point yang penting di dalam aplikasi bagi setiap kita dan bagi gereja dimana kita berbakti dan melayani.

Paulus dalam Efesus 5:15-16 mengatakan tebuslah waktumu karena hari-hari ini adalah jahat adanya. Make the most of every opportunity. Artinya jikalau waktu itu dibiarkan berjalan begitu saja, dia akan bertendensi menuju kepada corruption. Sederhana saja, hal-hal sehari-hari yang terjadi di dalam hidup kita, kita merasa tidak ada waktu untuk merawat taman atau memotong rumput, apa yang terjadi dengan rumput itu? Dengan sendirinya tanpa kita apa-apakan, rumput itu akan terus tumbuh tinggi dan taman itu akan segera dipenuhi oleh ilalang. Itu cara kita mengerti kalimat rasul Paulus, mengapa kita harus menebus waktu dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, karena hari-hari ini jahat adanya. Time is evil, it is not neutral. Ketika kita tidak mengambil keputusan apa-apa, ketika kita tidak memakai waktu ini dengan baik, ketika kita tidak mau menghadapi tantangan jaman ini, kita akan ditinggalkan jaman ini.

Gereja western mengalami masa Post-Christian era, tetapi sejarah memberikan beberapa percikan-percikan yang harus kita lihat dan amati dengan seksama. Tahun 1960-an adalah masa mundurnya gereja-gereja western, titik dimana Vietnam post-war era, banyak tentara mati terbunuh di medan perang, meninggalkan janda dan duda yang ada, anak-anak yatim yang tidak punya orang tua, itu adalah titik kritis di dalam kehidupan bergereja. Keluarga-keluarga yang dysfunctional, kondisi ekonomi yang amat sulit membuat suami isteri harus bekerja dari pagi sampai malam, itu mempengaruhi harmonisasi hubungan keluarga dan berefek kepada pendidikan anak-anak. Sehingga isu soal terjadinya terlalu banyak perceraian, hubungan di luar nikah, isu pernikahan kembali setelah pasangan meninggal, dsb. Sayang sekali Gereja kaku tidak menanggapi dan tidak mau menjawab isu itu. Gereja hanya terus pikir pokoknya menikah dari awal sampai akhir dan tidak mau membuka mata melihat persoalan itu dan tidak mau menggembalakan mereka. Orang-orang ini akhirnya kecewa dan meninggalkan Gereja. Kita tidak bisa tolak ada peristiwa yang jauh dari gambaran ideal, tetapi amat disayangkan Gereja tidak melayani mereka, tidak membimbing mereka menghadapi situasi itu dalam terang firman Tuhan, mencintai dan menerima mereka dengan cinta kasih Tuhan, mengerti kesulitan dan pergumulan mereka seperti itu, dsb.

Buku yang ditulis oleh Randall Bradley bicara mengenai gereja dan perkembangan ibadah di dalam gereja dalam bukunya, “From Memory to Imagination, Reforming the Church Music,” mengatakan ibadah Gereja mengalami krisis sekarang ini sebab kita menolak akan perubahan budaya yang sedang terjadi dan perubahan itu mempengaruhi gereja. Namun gereja tidak mau menjawab tantangan itu. Ketimbang membuka diri dan melayani mereka, Gereja memilih melakukan “worship war,” perang antara yang tradisional dan kontemporer. Krisis itu terjadi disebabkan karena Gereja menolak untuk melakukan perubahan terhadap budaya yang sedang terjadi dan perubahan itu mempengaruhi hidup gereja, karena anak muda itu tidak mungkin lepas dari kehidupan budaya.

Itu point yang saya percaya Yesus katakan kepada kita. Mengapa kita tidak menilai jaman? Apa yang bisa kita pikirkan, apa yang harus kita kerjakan dan lakukan di dalam jaman kita melayani Tuhan seperti ini? Kita harus stand firm, semua yang substance, yang penting, yang menjadi core-belief kita tidak boleh kita encerkan atau ubah berdasarkan jaman. Kebenaran firman Tuhan, Allah Tritunggal, Yesus yang mati dan bangkit bagi kita, Yesus Juruselamat satu-satunya, Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, the only way, kita pegang itu semua menjadi substances yang tidak pernah berubah dan dikompromikan. Tetapi jaman itu mengalami perubahan, bentuk itu berubah, bentuk tidak boleh menjadi kaku, bentuk itu harus liquid. Supaya isi dari yang benar itu menjadi senantiasa indah, baru, fresh, dan relevan bagi jaman. Kita seringkali terlambat karena kita tidak belajar dari sejarah. Ketika ada tragedi, tantangan, hambatan, baru kita terbangun dan tersadar akan hal itu. Biar hari ini kita boleh terdorong mendengar panggilan Tuhan bagi setiap kita. Biar kita bawa hidup kita masing-masing di hadapan Tuhan, apa yang Tuhan mau bagi engkau yang hidup di dalam jaman ini untuk kita melayani Tuhan. Kita yang sudah mengerti, kita yang sudah tahu menilai jaman, maukah kita mengambil keputusan yang benar?(kz)