Makna Keselamatan dan Perbuatan Baik

Sun, 06 Jul 2014 00:26:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Nats: Titus 3:1-8

 

Titus 3:1-8 adalah bagian firman Tuhan yang indah sekali, dalam delapan ayat dibuka dan diakhiri dengan satu frasa yang sama, dan di tengahnya frasa itu disebutkan kembali yaitu “pekerjaan yang baik.” Di ayat pertama Paulus berkata, “Ingatkanlah mereka untuk siap melakukan setiap pekerjaan yang baik.” Ayat delapan, “Agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik.” Namun di ayat ke lima menjadi kontrasnya, “Dia telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan.”

Ada dua pengertian tentang apa itu “perbuatan baik” muncul di bagian ini. Pengertian yang pertama ayat 1 dan 8 Paulus bicara kita menunjukkan diri sebagai orang Kristen yang telah ditebus Tuhan, buktinya apa? Kelihatan dari hal apa? Yaitu perbuatan baik kita nyata di tengah orang-orang lain. Tetapi pada saat yang sama bagian ini juga memberikan kita pengertian yang lebih dalam dari kebenaran firman Tuhan, kita diselamatkan bukan dengan perbuatan baik.

Kekristenan bukanlah ajaran yang tidak menghormati dan menghargai perbuatan baik. Kekristenan bukanlah ajaran ‘karena percaya Tuhan kita diselamatkan lalu tidak mau berbuat baik, toh bukan karena perbuatan baik kita diselamatkan.’ Memang kita diselamatkan bukan oleh perbuatan, tetapi tidak berarti bahwa sebagai orang Kristen kita tidak concern dan tidak memberikan perhatian kepada hidup yang nyata, suatu perubahan hidup dan karakter yang telah diubah oleh Tuhan. Ini penting sekali.

Kenapa orang Kristen sulit menjadi berkat di antara orang-orang beragama lain? Kenapa orang Kristen sering menjadi cemooh dan sandungan bagi orang-orang yang tidak percaya Tuhan? Paulus berkata kepada Titus dan jemaat di Kreta ini yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, meminta mereka menunjukkan diri dengan hidup mereka, kelakuan mereka, sebagai orang-orang yang berbeda dari hidup mereka dahulu sebelum menjadi anak Tuhan dan dengan nyata menunjukkan mereka adalah orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh. Melalui apa? Melalui perbuatan baik mereka. Paulus mendesak dan mendorong mereka supaya sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik dan biar melalui perbuatan baik itu berguna bagi banyak orang dan itulah yang menjadi bukti hidup seorang Kristen sejati (ayat 8).

Dalam konteks hidup kita masing-masing kita akan bertemu dengan banyak orang, orang-orang yang senantiasa akan berkata ‘Buat apa menjadi orang Kristen? Etika dan kelakuan orang-orang dari agama lain masih jauh lebih baik dari mereka yang menyebut diri orang Kristen. Kita di agama lain juga diajarkan berbuat baik dan hidup kita lebih baik daripada kalian orang Kristen’ Harus kita akui banyak perbuatan baik dan sacrifice mereka beramal jauh lebih baik daripada orang Kristen. Mendengar komentar-komentar seperti itu, kita tidak boleh masuk dengan perdebatan dengan mencela, “Ah, itu bukan perbuatan baik. Motivasi kalian tidak benar.”

Perhatikan, pada waktu Paulus bicara bahwa kita diselamatkan oleh Tuhan Yesus bukan karena perbuatan baik kita, ayat ini tidak boleh dimengerti bahwa orang Kristen itu menghina perbuatan baik. Mari kita coba mengerti dan membedakan konsep ini supaya ketika kita bertemu dengan orang-orang yang beragama lain, mereka yang mengabdikan diri dalam agama dengan perbuatan baik yang luar biasa di dalam hidupnya, yang melakukan ritual agamanya dengan disiplin dan tekun, kita tahu bagaimana memberi jawab kepada mereka tentang berita Injil anugerah.

Kita mungkin bertemu dengan seorang muslim yang luar biasa saleh, yang sembahyang lima waktu tidak pernah alpa. Kita bisa paksa diri bangun subuh buat nonton bola, sedangkan mereka bangun subuh untuk beribadah. Bagaimana hidup kita bisa menjadi daya tarik bagi mereka kalau kita sendiri punya ibadah tidak excel melebihi apa yang mereka lakukan? Kita mungkin bertemu dengan seorang Budha yang berdarma dengan sangat baik, memberi sedekah dan sumbangan sosial bagi orang miskin dengan sangat besar, yang tidak pernah marah di dalam hidupnya, bagaimana kita bisa excel dengan cara hidup kita di hadapan mereka?

Mari hari ini saya menggugah sdr melakukan beberapa prinsip dan langkah praktis ketika kita berhadapan dengan orang-orang seperti itu.

Pertama-tama, mari kita klarifikasi konsep kita melalui pengajaran rasul Paulus di sini, jelas Paulus sendiri mengatakan ini yang menjadi pegangan kita, seseorang diselamatkan karena Tuhan Yesus Kristus, karena perubahan yang dikerjakan Roh Kudus di dalam diri seseorang, bukan karena perbuatan baiknya.

Untuk memahami kalimat ini, mari kita ingat latar belakang siapa Paulus sebelum dia menjadi orang Kristen. Dalam Filipi 3:4b-6 Paulus memberi kesaksian siapa dirinya dahulu, dari keturunan ‘pedigree’ keluarga Ibrani yang saleh, disunat pada hari ke delapan, seorang Farisi yang taat kepada Taurat dengan tidak bercacat, aktif dan giat membela agama sampai rela menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen. Inilah Paulus sebelum dia menjadi seorang percaya Tuhan Yesus, sebelum Tuhan merubah hatinya. Dari kecil dia dibesarkan dengan ketaatan dan kesalehan yang tidak bisa dicela oleh siapapun; dari sudut pandang mengikuti aturan ibadah dan memegang apa yang dia percaya sebagai kebenaran dari agama Yahudi, sama sekali dia tidak bercacat. Aktifitasnya, kegiatannya begitu luar biasa, dia bukan saja menaati hukum Taurat, tetapi dengan fanatik dia membela hukum Taurat dengan membunuh orang-orang yang tidak mau menerima hukum Taurat. Namun di bagian lain Paulus menyatakan semua ketaatan dan kesalehan agamanya ini dari sudut perspektif yang lain, Roma 7:14-26 memperlihatkan sisi gelap hidup agamanya, tidak ada sesuatupun yang baik yang dia lakukan. Hukum Taurat itu baik, hukum Taurat itu rohani, hukum Taurat itu sempurna, hukum Taurat mengajarku harus berbuat baik, tetapi di dalam diriku yang tidak baiklah yang aku kerjakan dan lakukan. Aku tahu itu semua tetapi tidak ada sesuatupun yang baik yang aku lakukan.

Kalau kita bertemu dengan orang yang beragama lain, jangan pernah kita itu menyinggung pengajaran agamanya, sebab rasul Paulus sendiri berkata hukum Taurat itu rohani, hukum Taurat itu baik. Jadi kita keliru dan salah dan usaha penginjilan kita tidak mungkin efektif kalau kita mengatakan agamamu mengajarkan hal yang tidak baik. Paulus di sini menyatakan hukum Taurat itu yang mengajarkan hal yang baik itu, saya sendiri adalah seorang yang tidak sanggup dan tidak mampu mengerjakan dan melakukan hukum Taurat itu karena di dalam diriku sendiri ada sesuatu yang memberontak, ada sesuatu yang tidak ingin dan tidak mau melakukan apa yang diajarkan oleh hukum Taurat itu.

Jadi pada waktu Paulus berkata bukan karena perbuatan baik sesorang itu diselamatkan, maka dalam konteks seperti rasul Paulus, kita mungkin bertemu dengan orang yang saleh dan taat beragama maka bagian ini memberikan kepada kita dua aspek. Pertama, rasul Paulus mengatakan hukum Taurat dan peraturan-peraturan agama semua itu baik. Hukum Taurat mengajarkan hal-hal yang rohani, memberi informasi apa kewajiban yang harus dilakukan kepada Allah; memberikan informasi bagaimana mereka seharusnya berbakti dan beribadah kepada Allah. Tetapi hukum Taurat dan peraturan-peraturan agama itu tidak bisa memberi manusia kekuatan untuk bisa melakukannya. Hukum Taurat itu seumpama aturan yang tertulis di samping kolam renang. “Kolam ini dalam. Yang tidak bisa berenang dilarang masuk ke dalam kolam, bisa tenggelam.” Aturan itu baik, aturan itu perlu, tetapi aturan itu tidak memiliki kekuatan sanggup membuat orang tidak tenggelam.

Hormati orang tuamu, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan ingin memiliki harta milik orang lain, aturan itu semua baik, semua hukum itu memberi informasi bagaimana kewajiban kita, bagaimana sikap kita kepada Allah dan manusia. Tetapi kalimat itu tidak sanggup memberikan kekuatan untuk orang tidak melakukannya, tidak sanggup memberikan kekuatan untuk orang taat kepadanya.

Yang kedua, di dalam setiap tingkah laku agamawi, ada hukum yang tidak kelihatan, yang tersembunyi di dalamnya yaitu yang Paulus sebut sebagai hukum dosa. Hatiku mau setia melakukan apa yang diperintahkan oleh hukum Taurat tetapi di dalam hatiku aku tahu ada hukum dosa yang senantiasa membawa aku untuk melakukan apa yang justru dilarang oleh hukum Taurat, dan kekuatan dan kuasa hukum dosa itu begitu besar sehingga kalau kita ingin bertemu dengan orang-orang yang seperti itu, yang patut kita angkat janganlah kita mengatakan ajaran agama mereka salah. Yang patut kita angkat dalam berdialog dengan mereka adalah hukum ini membuat mereka sadar sebaik-baiknya hukum dan aturan itu tidak bisa seseorang dengan sempurna memenuhinya. Dalam hal itu saya sebagai orang Kristen juga sama seperti engkau, Alkitab memberi hukum ini hal-hal yang harus kita kerjakan dan lakukan, sebagai orang yang berdosa di hadapan Tuhan, saya pun tidak sanggup bisa mengerjakan dan melakukannya. Hanya ada satu hal yang membedakan kita, di dalam Kekristenan saya menerima janji dan pengharapan yang baru, bahwa keselamatan itu diberikan kepadaku oleh karena Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat yang mati dan menebus dosa-dosaku. Di situlah perbedaannya.

Titus 3:3 “…karena dahuku kita juga hidup di dalam kejahilan, tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci…” Paulus memperlihatkan itulah kita, tindakan, kelakuan sampai kepada sikap hati yang tidak kelihatan. Paulus bicara soal iri hati, jahat, dengki, keji, benci semua itu berurat-akar di dalam hidup kita yang lama.

Kalau ada orang mengatakan dirinya adalah orang yang saleh dan taat melakukan semua aturan agamanya, jangan hina dan cela apa yang dia ktakan. Bawa orang itu kepada satu introspeksi apakah dia yakin dan percaya di dalam segala perbuatan baik yang telah dia lakukan itu bisa membawa mereka kepada keselamatan. Anggaplah mereka percaya nanti di hadapan Tuhan hidup kita akan ditimbang baik dan jahatnya, apakah baiknya pasti lebih berat daripada jahatnya? Dalam hati kecil sampai berapa lamapun dia taat dan terus tekun melakukan ketaatan di dalam agamanya, ada satu hal sedalam-dalamnya menyadari belum cukup, belum sanggup, belum mampu menjamin keselamatan mereka.

Di sinilah pengakuan Paulus akan hidupnya yang lama, ada satu hukum dosa yang terus berjuang di dalam dirinya yang selalu akan membuat diri kita lebih suka melakukan apa yang dilarang Tuhan dan tidak mau melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Di situlah kita sampai dalam pemahaman, kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan. Sebagi orang Kristen, kita menawarkan sesuatu kepada orang lain, bersyukur untuk jaminan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Di situ kita percaya, bukan kita yang sanggup merubah hati orang itu.

“…tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (ayat 5b). Orang itu berubah, orang itu bisa percaya Tuhan Yesus tidak lain dan tidak bukan, kalau Roh Kudus bekerja di dalam hatinya melalui pemberitaan kita, melalui apa yang kita katakan kepadanya. Injil yang kita sampaikan mungkin perlu proses waktu, kita perlu setia dan taat, kadang-kadang kita merasa tidak sanggup bisa membuat orang itu berubah. Memang kita tidak akan pernah sanggup membuat hati orang berubah, kita tidak akan pernah sanggup membuat orang itu bertobat kepada Tuhan. Firman Tuhan memberitahukan kepada kita hanya melalui pekerjaan Roh Kudus perubahan itu Ia kerjakan dan lakukan di dalam proses kelahiran baru pada diri seseorang.

Ayat 3-6 membimbing kita secara sederhana bagaimana menjelaskan keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus kepada orang yang belum mengenal Tuhan. Pertama, “karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan…” Kedua, “tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita…”

Perlukah bersekolah teologi dulu baru kita bisa bersaksi? Tidak perlu. Perlukah ikut seminar dan training penginjilan? Tidak perlu. Ayat-ayat ini dengan simple dan sederhana mengkristalkan berita Injil kabar baik itu. “Dahulu saya seperti ini… tetapi karena kemurahan Tuhan, Dia telah menyelamatkan saya…” Bukan karena saya lebih baik daripada orang lain, bukan karena perbuatan baikku yang membuat Tuhan menyelamatkan aku. Oleh anugerah Tuhan semata-mata aku menerima keselamatan itu melalui Yesus mati bagiku. “Supaya kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya berhak menerima hidup yang kekal itu…”

Paulus menyuruh Titus memberitahu kepada Jemaat, kuatkanlah mereka dengan segala perkataan ini, the sayings is trustworthy, this word is true. Bukan apa yang engkau lihat, bukan apa yang engkau saksikan, tetapi perkataan ini benar adanya. Maksud Paulus adalah umat Tuhan harus senantiasa diyakinkan bahwa Injillah yang menyelamatkan orang di dalam keselamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Kita tidak akan bisa punya kekuatan untuk menjadi saksi bagi orang lain kalau kalimat-kalimat ini sendiri belum menguatkan dan meyakinkan kita terlebih dahulu. Kita harus diyakinkan sungguh-sungguh dengan kalimat-kalimat ini.  Kita mungkin takut, kita mungkin kelu, kita mungkin tidak berani, karena kita merasa hidup kita belum siap, hidup kita belum sempurna, kesaksian hidup kita belum nyata sehingga kita belum berani bersaksi kepada orang lain. Tetapi Paulus mau kita pertama-tama diyakinkan lebih dahulu akan perkataan ini. Keselamatan yang kita terima memang bukan usaha kita. Tidak ada kontribusi atau peran kita di situ. Keselamatan itu anugerah pemberian dari Tuhan kepada kita yang tidak layak ini, yang sesungguhnya memang tidak lebih baik hidupnya daripada orang-orang yang lain. Engkau harus mengerti penuh akan hal ini dan apa yang engkau mengerti dan percayai ini benar-benar harus engkau yakin. Kalau kita yakin dengan bulat hati, betul, bukan karena hidupku, bukan karena perbuatanku, tetapi karena anugerah Tuhan keselamatan itu datang kepadaku. Tuhan Yesus telah menyelamatkan aku terlebih dahulu. Setelah keyakinan itu memenuhi hidup kita, kita dikuatkan senantiasa, kita diperbaharui oleh Tuhan lagi, barulah hidup kita boleh bersaksi dan berkata, “Saya dahulu…” masing-masing kita memiliki konteks hidup yang berbeda, bukan? Bagi rasul Paulus, dia berkata, “Saya dulu orang yang sangat taat beragama. Kalau mau tanya bagaimana cara hidupku menjalani ibadahku, tidak ada yang salah. Tetapi itu semua tidak lagi menjadi kebanggaanku. Christ is my life.”

Kedua, Paulus mengajar kita bagaimana hidup menjadi orang Kristen yang boleh menyaksikan hidup kita kepada orang lain. Bagi Jemaat di Kreta, kalimat ini merupakan terobosan dan challenge suatu perubahan hidup yang luar biasa. Kreta adalah satu pulau kecil yang semua orang yang dari situ tidak bisa dipercaya. Kreta dikenal sebagai daerah orang pemabuk; Kreta dikenal sebagai daerah orang yang kasar dan keras; Kreta dikenal sebagai daerah orang-orang yang penipu, pemalas, pencuri. Maka sudah tradisi dan stereotype jaman itu, kalau seseorang dibilang berasal dari Kreta, orang sudah langsung mengasosiasikan dia orang yang tidak benar dan tidak jujur. Alkitab sendiri memuat catatan ini, “Seorang dari kalangan mereka, nabi mereka sendiri pernah berkata, ‘dasar orang Kreta pembohong, binatang buas, pelahap yang malas.’ Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman,” kata Paulus (Titus 1:12-13). Kepada orang Kristen yang dulunya hidup seperti itu, Paulus memberikan terobosan konsep hidup yang baru ini, yang harus nyata dan terbukti. Orang Kreta boleh berkata, “Aku dulu hidup seperti ini. Hidupku tidak bermoral. Aku seorang penipu dan pembohong. Aku menghambakan diri kepada uang dan seks, itulah saya dahulu. Tetapi oleh kemurahan Allah aku boleh menjadi anakNya, aku diberi hidup yang baru, sifat yang baru, cara hidup yang berbeda dengan dahulu.” Biar dengan kesaksian hidup seperti itu kita boleh semakin hari semakin menunjukkan cara hidup dan pekerjaan baik kepada orang lain. Good works itu berbeda dengan yang pertama, good works kita sekarang adalah “missional good works.” Pekerjaan baik yang saya lakukan harus senantiasa menjadi pekerjaan baik dengan konsep misi. Saya sudah ditebus, saya sudah diselamatkan di dalam Yesus Kristus, maka perbuatan baik yang saya kerjakan dan lakukan bukan supaya aku mendapat keselamatan itu, itu sudah kita terima dan tidak akan hilang selama-lamanya. Perbuatan baik yang kita lakukan juga bukan supaya kita menambahkan sesuatu supaya kita masuk surga. Konsep kita tidak seperti itu. Kita berbuat baik juga bukan supaya kita mendapat keuntungan dari orang lain. Perbuatan baik kita haruslah di dalam konsep missional good works. Sehingga kita tidak perlu lagi menghitung dan mengkalkulasi untung dan rugi di dalam berbuat baik; kita tidak menghitung-hitung berapa banyak yang kita keluarkan; kita tidak perlu lagi pikir apa untungnya saya berbuat baik; kita tidak perlu berpikir seperti itu lagi, karena semua yang kita kerjakan dan lakukan kiranya berguna bagi orang lain sehingga melalui itu mereka boleh mengenal Tuhan dan percaya kepadaNya.

Kiranya Tuhan memulihkan kita, menguatkan kita, dan memberikan kita keberanian supaya setelah kita menjadi orang percaya, kita senantiasa berusaha hidup dengan benar dengan menyatakan perbuatan yang indah dan baik di dalam hidup kita. Kiranya banyak orang lain yang seperti kita dahulu akhirnya juga boleh mengenal dan percaya Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita pulang ke rumah kita masing-masing, ke dalam masyarakat dimana kita berada kita senantiasa ingat akan firman Tuhan ini.(kz)