Hidup Sementara di bawah Bayang Kekekalan

Sun, 20 Jul 2014 03:40:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seri The Right Use of Time (2)

Nats: Yakobus 4:13 – 5:6

 

Ini adalah seri kedua dari khotbah saya bicara mengenai orang Kristen berkaitan dengan waktu dan hidupnya. Sentralitas yang paling penting memahami waktu dan hidup ini bukan terhadap apa yang kita capai di luar, bukan terhadap segala achievement dan kesuksesan kita, bukan terhadap apa yang menjadi persepsi orang terhadap kita, tetapi bagaimana kita mengaitkan makna waktu dan hidup kita dengan Tuhan yang di atas, sehingga kita menempatkan perspektif hidup yang sementara ini di dalam bayang-bayang kekekalan.

Hari ini kita tiba kepada satu bagian yang begitu jelas memberitahukan kepada kita inilah pertanyaan yang paling penting yang pasti akan muncul dari hidup manusia: Apa arti hidupmu? What is your life? What is your life like? Anak kecil bertanya, mama, saya datang darimana? Itu pertanyaan yang keluar dari rasa ingin tahu darimana sesungguhnya dia berasal, siapa yang menjadikan dia.

Setelah kita tumbuh dewasa, usia kita makin bertambah, kita tidak lagi bertanya saya darimana, pertanyaan kita berlanjut: setelah ini saya kemana? Pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai hidup, apa tujuan hidup ini, apa makna dari hidup ini, apa tujuan yang Tuhan mau saya menjalani hidup ini? Semua mahluk mempunyai nafas hidup namun kita bisa menyaksikan perbedaan yang paling mendasar manusia berbeda dengan mahluk yang lain karena manusia bukan sekedar menjalani hidup, kita bukan sekedar menghirup udara, makan dan minum dan melakukan aktifitas, karena kita tahu itu semua tidak sama dengan hidup itu sendiri. Hidup memiliki nilai yang lebih dalam daripada semua itu.

Pertanyaan ini diajukan oleh Yakobus kepada jemaat Tuhan, kepada orang-orang Kristen yang ada di perantauan. Di antara mereka ada orang Kristen yang di dalam perjalanan hidupnya digambarkan senantiasa sukses, maju terus, apa saja yang mereka kerjakan dan lakukan berhasil luar biasa. Akibat dari keberhasilan hidup itu sebagian mereka memiliki kehidupan yang tidak menyadari bahwa hidup itu harus takluk dan tunduk kepada Tuhan. Indikasi yang lebih dalam lagi kita bisa melihat mereka juga akhirnya menjadi tuhan atas hidup orang lain dan mengumbar kepuasan hidup mereka sehingga Yakobus menegur dengan keras orang-orang Kristen seperti itu, orang Kristen yang hidup di dalam arogansi yang luar biasa. “Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu…” Mereka bisa berkata, “Hari ini atau besok kami akan pergi ke sini atau ke sana, kami akan berdagang dan mendapat untung…” (Yakobus 4:13). Kepada kelompok orang Kristen seperti ini Yakobus mengingatkan mereka kebahayaan akan arogansi dalam hidup ini. Arogansi itu evil adanya di mata Tuhan.

Semua kita lahir ke dalam dunia ini diberi oleh Tuhan dua harta yang paling penting yaitu hidup dan waktu. Karena kita mempunyai waktu maka melalui waktu yang ada kita bisa bekerja; melalui waktu yang ada kita bisa berencana, melalui waktu yang ada kita sanggup melakukan sesuatu di dalam waktu itu. Karena kita mempunyai hidup maka melalui hidup yang Tuhan berikan itu kita bisa melakukan banyak aktifitas di dalamnya. Tetapi setelah aktifitas itu berhasil, setelah waktu yang panjang itu mengerjakan sesuatu seturut dengan yang kita rencanakan, betapa mudah kita bisa berbalik menganggap hidup dan waktu itu adalah milik yang sanggup kita kontrol semau kita. Itulah sebabnya kenapa Yakobus memberikan beberapa prinsip yang penting bagaimana kita memahami apa itu hidup.

Yang pertama, Yakobus mengeluarkan pertanyaan penting ini, what is your life? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja lalu lenyap. Life is temporary, hidup itu singkat sementara adanya. Tidak ada orang yang sanggup menolak fakta ini. Hidup itu tidak lebih dari uap kabut yang muncul di pagi hari, yang segera lenyap seketika. Ketika kita menjalani hidup ini tanpa menghadapi halangan dan hambatan yang berarti, segala sesuatu berjalan seturut dengan apa yang kita pikirkan dan rencanakan, semua berjalan dengan indah dan lancar, maka kita mengira bahwa hidup itu ada selama-lamanya. Sampai pada satu titik dan satu momen dimana ada hal-hal yang tidak terduga terjadi di dalam hidup seseorang barulah kita dihentakkan dengan satu kesadaran yang dalam bahwa hidup itu begitu singkat dan sementara.

Hidup ini sementara, kita tidak bisa menduga berapa singkat, berapa panjang, berapa lama hidup kita diberi. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti hal itu. Peristiwa-peristiwa tragedi yang terjadi beberapa hari belakangan ini betapa mengejutkan hati kita, bukan? Hidup cepat sekali berubah. Kematian bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Kalau hal-hal seperti itu terjadi di dalam hidup kita dalam sekejap mata, sulit luar biasa bagi kita untuk bisa menanggungnya. Semua peristiwa itu menjadi tragedi mendalam tetapi sekaligus menjadi satu pembelajaran akan hidup yang mengajarkan kepada kita prinsip yang paling penting betapa hidup ini singkat dan sementara.

Maka Yakobus mengingatkan ketika kita berkata “Hari ini atau besok kami akan pergi ke sini atau ke sana, kami akan berdagang dan mendapat untung…” (Yakobus 4:13) itu bukan berarti kita tidak boleh membuat rencana dan plan di dalam hidup kita, tetapi kita diingatkan kepada prinsip yang jelas: kita memiliki hidup hanya karena anugerah Tuhan dan kita tidak boleh takabur menganggap kita sanggup bisa mengontrol hidup itu. Kita memiliki waktu hanya karena anugerah Tuhan dan di tengah waktu yang kita miliki kita jangan pikir kita bisa mengontrol waktu dan memerintahkan apa yang akan terjadi di hari-hari ke depan.

Sampai pada waktu hal-hal yang tidak terduga dan di luar dari kemampuan dan perencanaan kita, kita dikembalikan kepada kebenaran ini, waktu dan hidup adalah anugerah pemberian Tuhan yang diberikan dan dipercayakan kepada setiap kita dan satu kali kelak akan diambil kembali olehNya. Banyak orang berpikir karena waktu itu singkat sementara maka mari kita nikmati sebaik-baiknya; karena waktu itu singkat sementara maka mari kita lakukan apa saja selagi bisa; karena waktu itu singkat sementara maka tidak perlu bikin perencanaan apa-apa; karena waktu itu singkat sementara maka tidak ada arti apa-apa.

Ketika kita berangkat dengan prinsip waktu itu sementara, kita tidak boleh berhenti sampai di situ. Ada dua hal Yakobus ingatkan kepada kita, pertama letakkanlah hidup kita di bawah kedaulatan Allah. “Sebenarnya kamu harus berkata, jika Tuhan menghendaki kami akan berbuat ini dan berbuat itu… (Yakobus 4:15).

Kita tidak perlu kuatir karena segala hal yang terjadi temporer dan bisa hilang dari hidup kita. Kita tidak perlu kuatir sebab kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan dan lakukan dengan taat dan dengan setia kita letakkan itu di bawah kedaulatan dari Allah kita yang baik. Kita percaya Allah yang kita sembah adalah Allah Pencipta, yang menciptakan alam semesta ini dengan segala keindahan dan keteraturan, supaya engkau dan saya boleh menikmati apa yang baik dari Allah Pencipta itu. Itulah sebabnya mengapa kita tidak perlu gelisah dan kuatir dan merendahkan diri di bawah kedaulatan Allah yang dengan indah dan sempurna mengatur semuanya. Dan kita bukan saja percaya Ia adalah Allah Pencipta, Ia juga adalah Allah Penebus. Allah Penebus adalah Allah yang ‘in control’ dalam segala sesuatu. Seperti dikatakan oleh para rasul, “Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh…” (Kisah Rasul 5:30). Allah itu adalah Allah Penebus yang sanggup bisa menenun segala hal di dalam rencana manusia yang jahat itu justru untuk menggenapkan jalan keselamatan dan penebusan bagi kita. Manusia bisa mereka-rekakan hal yang jahat kepada hidup orang percaya tetapi Allah memiliki kekuatan dan kemampuan merubah hal-hal dan rencana jahat menjadi kebaikan bagi orang percaya. Yakobus mengingatkan kepada orang-orang kaya yang arrogant di dalam hidupnya untuk menaklukkan diri kepada kedaulatan Allah, bukan supaya kita tidak boleh merencanakan sesuatu di dalam hidup kita, melainkan supaya kita menaklukkan diri dengan hormat, dengan cinta, dengan peaceful terhadap apa yang Tuhan kerjakan di dalam kedaulatanNya bagi kita. Allah berdaulat bukan saja membuat kita teduh tenang dan bersandar kepada kebaikan Tuhan mengontrol hidup kita, kita pun tidak boleh menjadi orang Kristen yang pasif. Yakobus mengatakan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yakobus 4:17). Ada kaitan erat ayat ini dengan ayat-ayat di atasnya.

Dalam teologi kita bukan saja mengenal dosa dalam konsep “the sin of commission” yaitu dosa yang

kita lakukan dan perbuat dengan melanggar perintah Tuhan dan melakukan apa yang dilarang Tuhan. Kekristenan memiliki konsep tentang dosa yang lebih dalam daripada itu. Ayat ini dalam teologi kita kenal dengan konsep “the sin of omission.” Ada hal-hal yang benar dan baik, yang seharusnya kita membela dan menegakkannya tetapi kita tidak melakukan itu. Yakobus mengingatkan itu adalah dosa.

Kita sering tidak peka terhadap sesuatu yang baik yang seharusnya kita bela dan perjuangkan karena kita merasa hal itu tidak ada kaitannya dengan kita. Ketika kita melihat ada orang diperlakukan dengan tidak adil, kita diam seribu bahasa. Apakah itu dosa? Ayat ini mengatakan, ya, itu dosa karena kita tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi kita tidak melakukannya. Kenapa ayat ini muncul di sini? Bagaimana kita melihat hubungannya? Kalau kita tahu Allah itu berdaulat, maka orang Kristen tidak boleh menjadi orang Kristen yang pasif. Kita bukan saja menerima apa yang baik dari Tuhan tetapi dengan mengerti akan kedaulatanNya, kita dituntut Tuhan untuk berani berdiri menegakkan apa yang patut, apa yang benar dan apa yang sebaiknya di dalam hidup ini.

Semua “whistleblower” dalam company yang besar atau dalam struktur pemerintahan di tengah setiap ketidak-benaran yang terjadi dalam sebuah struktur merupakan pekerjaan yang tidak gampang dan risky luar biasa. Tetapi pada waktu mereka berani berdiri di tengah mayoritas menyatakan ada sesuatu yang tidak beres, mereka siap apa pun resiko yang harus mereka tanggung.

Apa arti hidupmu? Hidup dan waktu adalah pemberian Tuhan, kita hanya mendapat hak guna pakai dan tidak punya hak mutlak memilikinya. Hidup itu berjalan di dalam waktu, kita tidak bisa menggenggamnya sampai akhir. Hidup itu begitu singkat dan sementara, dengan segera akan berlalu. Mari kita belajar rendah hati di hadapan Tuhan, mengakui semua apa yang kita kerjakan dan rencanakan biar kehendak Tuhan yang jadi. Kita tidak lagi kuatir dan gelisah, kita percaya Tuhan mempersiapkan apa yang indah dan baik bagi setiap kita yang bersandar kepadaNya. Kita juga percaya Ia sanggup merubah apa yang tidak baik menjadi keindahan bagi hidup kita. Dengan percaya Ia berdaulat dan berkuasa, tidak berarti kita tutup mata diam dan pasif tidak berani menyatakan satu kebenaran dan keadilan di dalam hidup kita.

Kita bersyukur masih ada banyak orang yang berani berdiri, dan saya juga berharap kita sebagai orang-orang Kristen tidak takut menyatakan kebenaran, siap dengan segala konsekuensinya. Kita tidak takut karena kita berangkat dari prinsip “jika Tuhan menghendaki.”

Ketiga, hidup itu sementara dan akan berakhir di sini, tidak mungkin bisa kita perpanjang ketika waktunya tiba. Tetapi hidup yang sementara dan akan berakhir di sini akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah yang kekal. Di situ kita akan berdiri memberikan kesaksian di hadapanNya. Yakobus 5:1-6 berbicara mengenai aspek itu. Hidup yang sementara itu akan berakhir di dunia ini tetapi tidak akan lenyap begitu saja. Segala apa yang kita kerjakan di dalam dunia ini akan kita bawa di hadapan Allah yang kekal.

Yakobus 5:1 dimulai dengan kalimat yang sangat menggentarkan hati, “Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!” William Barclay mengatakan ini bukan sekedar menangis dan meratap, tetapi lebih berupa lolongan yang menggambarkan ‘the frantic terror’ dari orang-orang yang berdiri di hadapan tahta pengadilan Tuhan.

Kita tidak bisa tahan mendengar seorang ibu menangis dengan melolong dalam kesedihan atas tragedi kematian yang tiba-tiba atas anak yang dikasihi. Tetapi bulu kuduk kita akan berdiri tegak ketika kita mendengarkan teriakan dan lolongan manusia di hadapan pengadilan Tuhan Allah. Teriakan dan lolongan itu terjadi bukan karena hidup yang ada diputus di tengah jalan tetapi satu lolongan permohonan supaya Tuhan boleh membalikkan kembali masa lampau yang mereka sudah jalani selama hidup di dunia dan memohon ada kesempatan kedua untuk memperbaikinya. Kalau kita pahami ayat-ayat ini selama kita masih hidup di dunia, biar kita dengan hormat dan gentar menjalani hidup yang diberikan Tuhan ini.

Kepada orang-orang Kristen yang memiliki kesuksesan dan kekayaan dalam hidupnya dan akhirnya kita melihat prilaku hidup mereka tidak mencerminkan pengakuan iman mereka sebagai orang Kristen, Yakobus menegur mereka atas beberapa hal. Pertama mereka menjadi orang Kristen yang kaya tetapi nilai Kekristenan sama sekali tidak menyentuh hidup mereka. Itu terlihat dari sikap mereka yang hanya mengumpulkan dan mengakumulasi barang-barang materialistik dalam hidup mereka, harta kekayaan, pakaian, emas dan perak. Hidup kita berjalan, kita akan mengumpulkan banyak hal. Namun pertanyaan yang paling penting, apakah kita hanya mengumpulkan satu macam benda saja dalam hidup kita yaitu materi belaka? Jikalau itu terjadi, kita diingatkan oleh firman Tuhan ini, satu kali kelak semua itu akan hilang lenyap, busuk dan berkarat. Dalam menjalani hidup ini kita pasti akan mengumpulkan banyak hal dan firman Tuhan mengingatkan kita, menjadi kayalah dengan mengumpulkan banyak hal yang tidak akan hilang dimakan ngengat dan karat dan terbakar oleh api.

Yang kedua, Yakobus mengingatkan orang-orang kaya yang hanya mengaku diri Kristen tetapi hidup mereka tidak menyatakan dinamika Kristen menyentuh seluruh aspek hidup mereka, yaitu kekayaan itu mereka peroleh dengan cara memperalat bawahan dan orang-orang yang bekerja kepada mereka dengan menahankan upah mereka, dengan tidak membayar pada waktunya, dengan memotong segala hak mereka, dengan tidak memberi sepantasnya dan selayaknya atas kerja keras mereka (Yakobus 5:4). Kekayaan itu mereka tumpuk dengan cara seperti itu.

Yakobus mengingatkan mereka selama di dunia mereka bersenang-senang dan berfoya-foya menikmati semua yang mereka miliki tetapi sekaligus mereka mencekik dan membunuh orang-orang benar yang tidak bisa melawan mereka (Yakobus 5:6). Bukan saja di jaman Yakobus, sampai di jaman kita sekarang kita bisa melihat dengan mata kepala kita hal-hal ini masih terus terjadi. Tetapi kita akan lebih sedih lagi jikalau hal itu terjadi di tengah-tengah kehidupan banyak anak-anak Tuhan yang terus memperkaya hidup mereka dan kekayaan itu mereka dapat dengan menindas dan mengeksploitasi orang-orang yang kecil dan lemah. Bukan saja hak dan kesejahteraan hidup mereka dirampas, semua upah mereka ditahan dan diambil.

Yang ketiga, Yakobus memperingatkan mereka, “…dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan,” (Yakobus 5:5). You have fattened your hearts for the day of slaughter. Orang-orang Kristen yang kaya ini dengan foya-foya menggunakan semua kemakmuran itu bagi diri mereka sendiri, mengumbar segala nafsu dan hidup dalam kemewahan. Jiwa yang hanya mementingkan diri sendiri dan menikmati bagi diri sendiri, itu akan membawa mereka kepada kehancuran. Yakobus mengingatkan mereka yang memilih lifestyle cara hidup seperti itu pada saat yang sama telah memilih bagaimana akhirnya, yang dia gambarkan seperti sapi yang menggemukkan diri untuk siap disembelih.

Di hadapan Allah, jangan sampai hidup kita yang singkat sementara ini kita jalani seperti itu karena satu kali kelak kita akan berdiri di hadapanNya. Selama di dunia ini, Tuhan mendengar teriakan lolongan orang yang ditindas di dunia ini, tetapi nanti di depan pengadilanNya teriakan dan lolongan itu keluar dari mulut orang yang menindas mereka selama di dunia yang menangis tersedu-sedu dan meminta belas kasihan Tuhan memberi mereka kesempatan memperbaiki masa lampau, tapi sudah terlambat.

Itulah sebabnya kenapa Yakobus sekali lagi membawa kita mengerti apa arti dan nilai hidup ini. Semuanya singkat dan sementara. Mari kita membawanya di dalam kehendak Tuhan; biar kita tahu di dalam kesementaraan ini mungkin orang lupa segala kebaikan yang kita lakukan, dan kita pun bisa lupa kebaikan orang kepada kita, tetapi Tuhan tidak akan pernah lupa dan mengingatnya di dalam kekekalan. Tuhan meminta kita bertanggung jawab atas semuanya.

Kita bersyukur sekali lagi kita boleh disegarkan dan dibawa kepada betapa indahnya hidup yang Tuhan beri dan betapa baiknya Tuhan mengatur dan merencanakan semuanya. Semua yang kita miliki hari ini, sekaligus kita menyadari semua itu bukan hak kita untuk menggenggam semuanya bagi diri kita sendiri karena satu kali kelak semua yang kita miliki, semua yang kita kerjakan dan lakukan selama di dunia akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan tahta pengadilan Tuhan. Tidak ada satu pun yang kita kumpulkan selama di dunia ini yang akan kita bawa setelah kita mati, semuanya kita tinggalkan di dunia ini. Yang kita bawa adalah sesuatu yang memberi buah di dalam kekekalan nanti. Biar semua kita boleh disebut hamba-hamba Tuhan yang setia adanya. Kiranya Tuhan memimpin kita untuk senantiasa kaya di dalam kebajikan, kemurahan dan kasih Tuhan.(kz)