Menjalani Hidup yang Melayani Tuhan

Sun, 15 Jun 2014 04:55:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Menjalani Hidup yang Melayani Tuhan

Nats: 1 Petrus 5:1-6

 

Tema “Menjalani Hidup yang Melayani Tuhan” merupakan sisi koin yang tidak boleh lepas dari tema “Mengalami Hidup yang Diberkati Tuhan.” Melayani menjadi satu respons yang indah ketika seseorang mengalami hidup yang diberkati Tuhan. Bukan saja mereka yang duduk di dalam jabatan, bukan saja mereka yang berada di dalam satu pelayanan di dalam gereja, setiap anak Tuhan sepatutnya dan seharusnya memiliki prinsip hidup kita adalah hidup yang melayani Tuhan.

Surat 1 Petrus, khususnya pasal ke 5 adalah satu bagian dimana Petrus yang sudah tua sedang berbicara kepada hamba-hamba Tuhan yang masih muda, dan juga kepada badan-badan pengurus gereja dimana mereka melayani. Tetapi saya juga yakin dan percaya firman Tuhan ini relevan diberikan untuk setiap kita, memberi direksi bagaimana sikap kita, hidup kita melayani Kristus yang sudah datang terlebih dahulu sebagai Gembala kita yang agung yang melayani kita semua.

Ada 3 bagian di sini, bagian pertama, ayat 1 berbicara mengenai dasar kenapa hidup kita melayani Tuhan, yaitu karena Dia terlebih dahulu telah melayani kita. Bagian kedua, ayat 2-5 kita melihat ada 4 karakteristik hal yang tidak boleh hilang dan tidak boleh tidak ada di dalam hidup setiap anak-anak Tuhan yang melayani. Pertama, soal kerelaan hati di dalam melayani; kedua, soal pengabdian diri di dalam melayani; ketiga, soal kerendahan hati di dalam melayani; dan keempat soal menjadi teladan di dalam melayani. Bagian ketiga, ayat 4, rasul Petrus berbicara ada upah, ada reward di dalam hidup yang melayani.

Bagian ini dibuka oleh rasul Petrus dengan kalimat penting, bukan saja aku melayani Tuhan tetapi aku juga menjadi saksi mata bagaimana Tuhan kita Yesus Kristus melayani. Jemaat yang menerima surat ini belum pernah melihat Yesus karena era yang berbeda. Kita juga tidak pernah melihat Yesus secara fisik karena era kita jelas berbeda dengan dia. Kita tidak melihat sosok Yesus hadir secara manusia dengan mata kita, bagaimana Dia dengan jerih payah, dengan air mata tangisan, dengan keringat Dia melayani di tengah-tengah murid-murid yang ada. Tetapi kita bersyukur rasul Petrus menjadikan hidup pelayanannya berdasarkan kalimat yang penting ini, aku menjadi saksi mata di tengah-tengahmu bagaimana Tuhan menjadi Gembala yang agung di tengah-tengah kita. Bukan saja Petrus menyaksikan bagaimana Yesus melayani, tetapi Petrus memberikan kalimat penekanan yang penting seluruh pelayanan Yesus itu “that ministry is a suffering ministry.” Aku menjadi saksi mata Gembala yang agung itu melayani di tengah-tengahmu dengan pelayanan yang penuh dengan penderitaan.

Kita tidak perlu lagi sebenarnya bertanya kenapa kita harus melayani; kita tidak perlu lagi berkata apa yang Tuhan sudah berikan bagiku sehingga aku harus melayani Dia; kita tidak perlu merasa minder merasa tidak ada hal yang bisa kita kerjakan di dalam pelayanan; kita juga tidak boleh berkata tidak ada yang bisa kita beri sebab kita tidak punya. Mari pertama-tama kita melihat ayat pertama ini meletakkan satu fondasi yang penting: karena hidup kita itu sudah mendapatkan terlalu banyak hal, kita sudah menikmati setiap anugerah dari Tuhan, terlebih lagi kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus dan digembalakan olehNya dengan indah. Kata ini penting sekali: pelayanan Tuhan Yesus sebagai seorang gembala. Gembala yang jelas tidak akan menerima ucapan terima kasih dan apresiasi dari domba-domba yang dilayani. Gembala berarti apapun yang Dia kerjakan dan lakukan adalah bagaimana ‘care,’ bagaimana perhatian kepada domba-domba itu yang bisa lari kesana-kemari, yang kawanan itu berjalan tentu tidak memiliki tujuan yang sama, ada yang mau ke kiri ada yang mau ke kanan, ada yang mau berhenti ada yang mau lari, dsb. Biar kata itu mengingatkan kita betapa besar cinta kasih pengorbanan Tuhan bagi setiap kita di dalam Dia melayani kita. Rasul Petrus mengingatkan para penatua gereja dan juga hamba-hamba Tuhan dan termasuk jemaat, kenapa harus melihat Yesus Kristus sebagai contoh teladan, mengapa Dia menjadi gembala kita yang agung. Sangat sedih dan sangat disayangkan terlalu banyak hamba Tuhan yang melayani demi untuk jabatan itu sendiri, melayani demi untuk profesi itu sendiri, melayani karena melihat orang, melayani karena organisasi. Kita lupa bagaimana hidup pelayanan itu melihat dan mencontoh Tuhan kita Yesus Kristus.

Wajar kita merasa tidak layak melayani Tuhan; wajar kita merasa ragu apakah kita mempunyai karunia dan bakat untuk boleh menggenapkan pelayanan itu. Tetapi di tengah-tengah semua yang ada dan yang kurang dari kita, yang paling penting adalah bagaimana sikap, hati dan motivasi kita di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya Petrus meletakkan 4 hal yang paling penting di dalam hati setiap kita yang mau melayani Tuhan.

Pertama, sukarela. “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu jangan dengan paksa tetapi dengan sukarela…” (1 Petrus 5:2). Sukarela berarti kita tidak melakukannya karena terpaksa. Sukarela berarti kita boleh memaksa. Sukarela itu keluar dari jiwa yang tahu apa yang ada padanya adalah sesuatu yang sudah diberi terlebih dahulu. Sukarela berarti saya tahu apa yang saya lakukan ini bukanlah suatu jasa yang saya harus dipuji oleh orang lain tetapi sesuatu yang memang ada dan mengalir keluar limpah di dalam hidup setiap kita. Sukarela memberikan satu kesadaran tidak ada sesuatu yang kita rasa berat pada waktu itu mengalir dengan sukarela. Tetapi jikalau hati kita tidak ada sukarela, sesuatu yang ringan pun tidak akan bisa bergerak dalam hidup kita sebab kita rasa terlalu berat untuk kita tanggung.

Tuhan berhak untuk menuntut, sebab Dia yang memberi. Tuhan berhak meng-klaim segala sesuatu sebab itu datangnya dari Dia. Tetapi Allah kita yang memberi dengan sukacita, yang mengalirkan anugerahNya kepada kita justru menyatakan sesuatu keindahan yang luar biasa, Dia waktu meminta orang memberi sesuatu kepadaNya Ia katakan dengan kalimat, ‘marilah kita memberi dengan sukarela.’ Kita akan menemukan keindahan dari orang yang memberi dengan sukarela. Kita senang, kita bersyukur, hati kita terharu karena tindakan orang yang memberi dengan sukarela itu yang paling penting.

Rasul Petrus menggunakan kata ‘sukarela’ ini, demikian rasul Paulus juga mengeluarkan kata yang sama dalam 2 Korintus 8:1-9, khususnya ayat 9 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya,” itu menjadi ‘core’ dasar kenapa hati yang sukarela itu keluar karena kita sadar sudah menerima kasih Kristus yang bukan saja melimpah kepada kita. Dia beri membuat diriNya menjadi miskin supaya kita menjadi kaya. Dalam 2 Korintus 8:8 Paulus menyebut “usaha orang-orang lain” untuk jemaat-jemaat Makedonia yang memberi tidak mau disebut namanya satu-persatu. Waktu mereka memberi, sambil mereka memberi, sambil mereka tidak mau dikenal dan disebut. Dengan demikian kita bisa lihat sekaligus Alkitab mencetuskan mereka bukan saja memberi dengan kerelaan tetapi kerelaan itu terbukti dari sikap mereka tidak mau dikenal. Mereka hanya ingin mengatakan ‘kami semua’ memberi sebagai jemaat-jemaat. Tentu jemaat itu dengan tingkatan yang berbeda-beda, ada yang memberi lebih banyak, ada yang memberi sedikit, ada yang sebagai satu jemaat memberi lebih banyak daripada jemaat tetangga, tidak jadi soal berapa besar berapa banyak. Tetapi firman Tuhan memberitahukan kepada kita itu disebut dalam bentuk plural. Sesudah itu point yang sangat penting sekali adalah di ayat 8 ini Paulus mengatakan “Aku tidak mau memberikan perintah tetapi aku mau menguji keikhlasan kasihmu.” Kita perlu juga senantiasa evaluasi diri, kita harus uji seberapa jauh keikhlasan kita itu di dalam melayani dan di dalam memberi. Kita senantiasa harus menguji diri, melihat berapa banyak yang sudah kita miliki dan seberapa kaya kita di dalam kasih supaya kita dijauhkan dari mengalami hidup berkelimpahan secara harta tetapi mengalami kemiskinan di dalam mental kita memberi. Paulus sama sekali tidak memaksa tetapi memotivasi kita untuk mengalami satu hidup yang ikhlas dan terus-menerus sukarela.

Maka saya mengharapkan setiap pengurus yang akan duduk di dalam jabatan mari kita belajar melihat bukan ‘karena saya telah terpilih itu sebab saya melayani.’ Mari kita belajar melihat seluruh hidup kita adalah hidup yang melayani dan memberi. Jemaat Makedonia menjadi jemaat yang penuh dengan kerelaan, di dalam kerelaan itu kita menemukan mentalitas yang kaya berlimpah di dalam hidup mereka dan mereka tidak mau pemberian mereka diketahui orang, itu sikap yang indah luar biasa.

Tidak gampang memiliki mentalitas yang limpah kaya. Ada kisah ironis di West Palm Beach Florida, seorang wanita tua berumur 71 tahun ditemukan meninggal di rumahnya. Polisi yang menemukannya mengatakan rumah ibu ini begitu bau dan penuh dengan sampah dimana-mana. Sisa makanan di sana-sini dan bau busuk yang menyengat. Wanita ini dikenal sebagai wanita yang suka minta-minta makanan ke tetangga. Apa saja makanan sisa pun dia makan. Tong sampah dikorek dan dia juga menjadi pengunjung reguler di kitchen Salvation Army untuk mendapat makanan di sana. Setelah dia meninggal, polisi membersihkan rumah itu. Di antara sampah yang ada polisi menemukan dua buah kunci deposit box dari sebuah bank. Di boks pertama ditemukan banyak kertas saham berharga dan diperkirakan bernilai $200.000. Di safety deposit boks kedua betapa mengejutkan karena ditemukan kotak itu penuh dengan mata uang asing yang jumlahnya lebih daripada $600.000. Sehingga total uang yang ditinggalkan oleh wanita ini diperkirakan sekitar $1 juta. Waktu mayat wanita ini ditemukan beratnya kira-kira 30 kg dan sebab kematiannya adalah karena kekurangan makanan. Waktu berita ini tersiar, kagetlah semua orang bagaimana dia mati karena kekurangan makanan sedang duduk di kamar dengan kunci menuju uang satu juta dollar. Satu cerita fakta yang ironis terjadi. Ketika seseorang berlimpah dengan kekayaan begitu besar secara materi tetapi senantiasa merasa selalu miskin secara mentalitasnya.

Hendaklah kita melayani dan berbagian memberi, dan pada waktu kita melayani dan memberi kita tidak menghitung-hitung berapa yang kita beri kepada Tuhan karena di dalam mentalitas kita melayani di situ hadir satu karakter yang indah, aku melayani dan memberi dengan sukarela. Penuhlah pengabdian diri, kata rasul Petrus, jangan ada ‘shameful gain’ demi mencari keuntungan diri, selalu mau dilihat menjadi fokus dan pusat perhatian terus-menerus. Firman Tuhan ini muncul 2000 tahun yang lalu karena bukan hanya di jaman kita sekarang, itu juga menjadi godaan kuat bagi hamba-hamba Tuhan dan orang-orang Kristen jaman dulu karena itulah dasar jiwa dan sifat dari setiap orang yang ingin mendapatkan sesuatu dari memberi.

Maka rasul Petrus mengatakan penuhlah dengan pengabdian diri. Dia bukan saja seorang yang menjadi saksi mata penderitaan pelayanan Tuhan kita Yesus Kristus, dia juga pernah menjadi seorang yang belajar dari kesalahan dan kegagalan yang pernah dia perbuat sebagai seorang hamba Tuhan. Dia pernah arrogant, dia rasa dia yang paling hebat, dia yang paling berjasa kepada Yesus, sampai akhirnya dialah yang menyangkal Yesus secara langsung di hadapan seorang perempuan budak, “Aku bersumpah, aku tidak kenal Dia!” (Lukas 22:54-62). Pengalaman itulah yang membuat dia mengeluarkan kalimat yang penting ini, kita hidup melayani Tuhan penuh dengan pengabdian diri. Tidak ada shameful gain yang perlu kita ambil sebab kita sudah mendapat segala-galanya. Maka dia keluarkan dua kriteria yang penting, rendah hati.

Kerendahan hati penting dan perlu karena di tengah jabatan dan kedudukan kita sebagai seorang yang melayani Tuhan terlalu gampang dan mudah kita rasa kita layak dan congkak di sana. Rendah hati selalu membawa hati mawas diri dan retrospeksi dalam hidup kita. Seberapa rendah hatikah saya jikalau saya ditegur dan dikoreksi, dan saya ingin membela diri? Mungkin begitu saya sadar akan hal itu saya tahu saya belum rendah hati.

Ada satu kesadaran kita ingin terus-menerus menolong orang tanpa peduli bagaimana sikap dan respons orang itu menghargai dan berterimakasih atas pelayanan kita atau tidak, itu boleh menjadi salah satu tolok ukur berapa rendah hatinya kita. Tetapi pada waktu kita sudah menolong orang lalu kita mendapat respons yang tidak sepadan dari orang itu lalu kemudian itu membuat kita marah dan kehilangan sukacita, di situ mungkin kita perlu belajar bisa jadi “kerendahan hati” kita menolong orang lain dengan satu tujuan supaya kita dipuji oleh orang itu. Tidak gampang dan tidak mudah, tetapi itulah natur kerendahan hati.

Melayani Tuhan di dunia ini kepada tetanggamu, kepada rekan yang ada di kantormu, dimana Kristus kita kabarkan dan sampaikan, jangan pernah membuat hati kita kecewa, kecut, takut, malu pada waktu kita terus-menerus mengalami ejekan dan penolakan karena itulah bagian hidup seorang yang melayani. Rasul Petrus berkata, setiap kita waktu melayani “action speak louder than word.” Dengan teladan, dengan sikap kita saling mendahului satu dengan yang lain kita membuktikan diri sebagai orang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan. r

Kita bersyukur dan berterimakasih di dalam pelayanan kita boleh menyaksikan begitu banyak orang yang mencintai dan mengasihi Tuhan yang boleh terus-menerus menjadi contoh teladan di dalam hidup pelayanan kita.

Terakhir, menjalani hidup yang melayani Tuhan ditutup dengan prinsip yang penting, ada upah, ada reward yang diberikan Tuhan kepada kita. Alkitab tidak bicara secara jelas tetapi Alkitab memakai kata “mahkota.” Mahkota kehidupan, mahkota kebenaran, mahkota abadi, mahkota yang tidak dapat layu, itu kata yang dipakai menunjukkan satu penghargaan yang diberikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang melayaniNya. Alkitab memberitahu dengan jelas pasti ada reward dari Tuhan. Dalam 1 Korintus 3:8 Paulus berkata “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” Dalam 1 Korintus 15:58, ia mengingatkan, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan, sebab jerih payahmu tidak sia-sia.” Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku akan datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (Wahyu 22:12). “Hai, hamba yang setia dan baik masuklah dan turutlah ke dalam kebahagiaan tuanmu…” ayat-ayat ini senantiasa mengingatkan kita tidak ada yang hilang dari apa yang kita kerjakan dan lakukan bagi Tuhan. Tetapi ayat-ayat ini juga mengingatkan kepada kita mungkin reward itu tidak kita lihat dan terima pada waktu kita berada di atas muka bumi ini tetapi reward itu pasti kita akan terima dan alami pada waktu kita bertemu dengan Tuhan di surga. Tidak hilang, hanya tertunda saja, karena itu kenapa kita perlu takut dan kuatir dan tidak memiliki kerinduan hati untuk mencintai mengasihi Tuhan kita dengan lebih sungguh lagi? Kedua, reward itu tidak pernah berkaitan dengan kuantitas, reward itu berkaitan dengan kualitas.

Dalam Matius 10:42 Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini karena ia muridKu, dia tidak akan kehilangan upahnya…” Apa yang berharga dari secangkir air sejuk? Apa yang bisa diingat dari secangkir air dibandingkan dengan hal-hal besar di dalam memberi? Ayat ini menunjukkan manusia bisa tidak ingat apa yang dilakukan tetapi Tuhan tetap ingat. Barangsiapa mengerjakan dan melakukan sesuatu sesederhana segelas air sejuk kepada orang yang paling kecil dan tidak dihargai di dalam masyarakat, tetapi pada waktu hal itu dikerjakan karena orang itu tahu dia mengerjakannya bagi Tuhan, dia berikan karena itu adalah murid Tuhan, dia lakukan itu karena cinta dan kasih kepada mereka, upahnya tidak akan lalu daripadanya. Seorang ibu Kristen yang baik yang mengasuh anaknya dan mengganti popoknya upahnya tidak lebih kecil daripada seorang pendeta yang berdiri di mimbar memberitakan firman Tuhan. Seorang ibu dengan cinta membesarkan seorang anak di dalam anugerah dan kasih Tuhan mendoakan anak itu, upahnya tidaklah lebih kecil daripada kita yang berdoa bagi pekerjaan Tuhan.

Itulah sebabnya Petrus mengatakan, kelak Gembala kita yang agung datang, Dia akan memberikan upah kepada kita, upah itu tidak akan layu adanya. Puji Tuhan. Tidak layu berarti selalu fresh, selalu baru, selalu memiliki daya menghasilkan hal-hal yang baru di dalam hidup kita. Itulah upah dari Tuhan yang senantiasa akan menggairahkan kita untuk lebih mengasihi dan mencintai Tuhan.

Sebutlah satu-persatu setiap pemberianNya di dalam hidupmu. Bersyukurlah akan semua itu berlimpah dan banyak di dalam hatimu. Tahukah engkau Dia juga akan memberikan upah yang tidak akan pernah layu atas setiap pelayanan yang engkau lakukan bagiNya? Janji itu pasti, janji itu tidak akan hilang, janji itu mungkin tertunda sampai kita bertemu denganNya, tetapi syukur dan puji kepada Tuhan tidak tertunda sampai kita meninggal. Hari ini kita boleh bersyukur kepadaNya karena kita boleh mengalami hidup yang diberkati Tuhan, kita juga rindu menjalani hidup yang melayani Tuhan. Bukan soal bagaimana kita melayani dalam rumah Tuhan, jabatan apa yang kita terima, pekerjaan apa yang kita ambil, tetapi hidup kita selama-lamanya dan sepenuhnya melayani dan mengasihi Tuhan. Bersyukur kalau Tuhan memberi kita hati yang rindu melakukan dan memberi bahkan secangkir air yang sejuk kepada orang yang kecil dan sederhana, anugerah Tuhan indah bagi kita. Ingatkan kita selalu memiliki Gembala Agung yang terlebih dahulu sudah melayani kita di dalam pelayanan, kasih dan penderitaanNya, yang telah mati bagi kita dan bangkit memberi janji pengharapan satu kali kelak kita akan bertemu denganNya. Menjalani hidup yang melayani Tuhan kiranya boleh menjadi panggilanNya kepadamu pada hari ini. (kz)