Mengalami Hidup yang Diberkati Tuhan

Sun, 08 Jun 2014 04:41:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Kebaktian Syukur Thanksgiving

Nats: Kejadian 1:28; Hagai 1:2-6, 2:4-6; 2 Korintus 12:9-15

 

Mungkin bagi sebagian orang Protestant kata “blessing” atau “berkat” agak alergi membicarakannya di mimbar. Seolah-olah kata ‘berkat’ itu hanya berkonotasi kepada teologi kemakmuran bicara hal-hal materi berlimpah, hidup lebih kaya daripada orang lain, karir sukses, dsb. Itulah sebabnya konsep kata ‘berkat’ mungkin tidak sering dibicarakan.

Apa itu berkat? Kenapa berkat Tuhan tidak mengalir di dalam hidup kita? Bagaimana kita mengerti konsep Allah itu memberkati? Bagi saya topik tentang ‘berkat’ itu harus menjadi sentral di dalam kita mengerti karya keselamatan dan bagaimana Tuhan memulihkan dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Akibat dari kejatuhan itu tidak merubah natur pekerjaan Adam sebelumnya. Adam tetap harus bekerja seperti waktu berada di taman Eden, Hawa tetap harus melahirkan anak, dsb. Namun akibat dari kejatuhan kita melihat segala usaha dan kerja menjadi susah payah dan berat luar biasa.

Kejadian 1:28 setelah Adam dan Hawa dicipta Tuhan, yang pertama-tama kali Tuhan katakan kepada mereka adalah Tuhan memberkati mereka. Allah memberkati mereka dengan cara yang bagaimana? Dengan cara memberikan taman Eden untuk mereka tinggali. Semua buah yang ada di taman itu boleh mereka nikmati; Allah meminta mereka mengelola taman ini dengan baik; Allah memberkati mereka dengan kehidupan seksualitas yang indah dan baik; mereka boleh beranak-cucu dan Allah memberkati mereka dengan keluarga yang indah dan baik. Itu semua berkat yang Tuhan berikan di dalam hidup mereka, di dalam anugerah Tuhan kepada dunia yang sudah Ia ciptakan. Saya percaya berkat itu tidak menjadi hilang begitu saja. Di awal permulaan pelayananNya, Tuhan kita Yesus Kristus mengawali Khotbah di Bukit dengan rangkaian berkat demi berkat, “Blessed are those… diberkatilah mereka” (Matius 5:3-12). Itulah makna ‘shalom’ ketika damai sejahtera Allah menaungi di dalam relasi kita yang benar dengan Tuhan menghasilkan relasi kita yang benar dengan alam semesta yang Ia cipta bagi kita untuk kita pakai dan gunakan; dan menjadi shalom yang indah juga di dalam relasi kita dengan sesama kita.

Namun kita perlu melihat dari sisi negatif seperti yang diangkat oleh nabi Hagai, Hagai menegur bangsa Israel dengan kata-kata yang begitu keras, “Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang!” (Hagai 1:6).

Mengapa bangsa Israel kehilangan berkat? Mereka berjuang dengan susah payah, mengerjakan dengan segiat-giatnya, mencari dengan sebanyak-banyaknya, namun mereka tidak mendapatkan kepenuhan dan kelimpahan? Bukankah hal yang sama mungkin engkau dan saya alami di dalam hidup kita? Hagai membukakan kepada kita satu fakta, ada lubang kebocoran yang harus kita tambal supaya kita tidak kehilangan konsep berkat dan mengerti bahwa berkat Tuhan itu sesungguhnya berkelimpahan di dalam hidup kita.

Pundi-pundimu berlubang dan bocor berarti bukan berkat dari atas berkurang. Berlubang dan bocor berarti bukan berkat dari atas itu terhambat dan tidak tercurah kepada mereka. Berlubang dan bocor sebab mereka tidak pernah menyadari ada sesuatu yang salah di dalam hidup mereka dan mereka tidak tahu berkat itu tidak pernah penuh karena di dasarnya ada lubang menganga yang tidak mereka bereskan. Betapa menyakitkan ketika kita sudah bersusah payah mengumpulkan dan terus mengumpulkan, tetapi hasilnya tidak pernah cukup, sampai kita menyadari ada kebocoran demi kebocoran di dalam hidup kita.

Hagai bicara akan hal ini di dalam konteks bagaimana mereka ingin membangun Rumah Tuhan namun keinginan itu tidak pernah kesampaian. Tidak bisa kita abaikan dan kesampingkan fakta ketika bangsa Israel pulang dari pembuangan, mereka kecil, miskin dan tidak punya apa-apa. Dengan susah dan mulai dari awal mereka membangun hidup mereka di tanah pusaka mereka. Tuhan tidak pernah mempersoalkan Bait Allah yang mereka bangun lebih sederhana dan lebih kecil dibanding dengan kemegahan dan kebesaran Bait Allah yang dibangun oleh raja Salomo. Itu bukan persoalan yang diangkat oleh Tuhan, karena Tuhan berjanji bahwa penyertaanNya, kehadiranNya dan kemuliaanNya tetap akan menaungi mereka sama seperti Tuhan perbuat kepada Bait Allah buatan Salomo (Hagai 2:4-6). Mereka tidak sanggup membangun Bait Allah semegah Bait Allah buatan Salomo sebab kemampuan mereka kecil dan terbatas, namun yang menjadi persoalan di sini bukan ketidak-mampuan mereka melainkan persoalan yang Tuhan angkat adalah ketidak-relaan mereka. Persoalan itu bukan karena tidak adanya anugerah dan berkat Tuhan di dalam hidup mereka, persoalan yang Tuhan angkat adalah urutan prioritas yang tidak ada di dalam hidup mereka (Hagai 1:2-4). Itulah sebabnya meskipun berkat Tuhan tidak berkesudahan dalam hidup mereka, namun Alkitab mencatat fakta realita yang terjadi mereka tidak pernah merasa satisfied dan fulfilled sebab kantongnya bocor. Bocor itu bisa diselesaikan dengan satu hal, ubah urutan prioritas dalam hidupmu. Tuhan bilang, jikalau engkau menjadikan Dia lebih utama, menyadari setiap berkat dan usaha yang kita kerjakan di dalam hidup ini meskipun memang datangnya dari usaha kita tetapi kita tidak boleh mengabaikan dan melupakan itu adalah blessing dari Tuhan. Itu dulu. Setelah itu Tuhan berkata, “Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat.” Perhatikan kata yang penting ‘mulai hari ini,’ karena hari itu bicara soal perubahan prioritas. Pada waktu bangsa Israel mengatakan, “Baik, kami akan selesaikan pembangunan Rumah Tuhan,” maka Tuhan menjawab mereka, “Mulai dari hari diletakkannya dasar Bait Tuhan, perhatikanlah apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung? Dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!”(Hagai 2:20). Perhatikanlah, apakah lumbungmu masih terus kosong? Apakah pekerjaanmu tidak membawa hasil? Apakah hasil yang engkau dapat masih berkurang? Mengapa berkat itu tidak penuh di dalam hidup bangsa Israel? Karena kantong pundi-pundi mereka bocor dan berlubang.

Berkali-kali Alkitab mengajarkan dan mengingatkan konsep yang sama. Ketika Marta menerima dan menjamu Tuhan Yesus tinggal di rumahnya, Tuhan Yesus mengingatkan Marta ada hal yang paling utama dan paling penting, hal yang tidak bisa diganti dan direbut orang yaitu memahami dan mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan (Lukas 10:41-42). Dari situ akan menghasilkan energi dan semangat melakukan kegiatan dan aktifitas untuk melayani dengan sukacita sebab kita mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan kita. Tuhan Yesus mengatakan, “Janganlah kamu kuatir, tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:31-33). Rasul Paulus memperlihatkan keindahan jemaat-jemaat di Makedonia, “Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh kehendak Allah juga kepada kami” (2 Korintus 8:5).

Prioritaskanlah Dia di dalam hidupmu, itu akan menambal semua hal yang bocor dan lubang yang ada. Dari situ kita melihat bukan anugerah Tuhan tidak melimpah dalam hidupmu, tapi pada waktu kita menjadikan Tuhan yang paling utama dan pertama-tama dalam hati kita di situlah mata kita terbuka melihat berkat demi berkat Tuhan mengalir dengan indah. Dengan sendirinya kita akan memikirkan setiap pekerjaan Tuhan yang Ia berikan menjadi tanggung jawab kita. Dengan sendirinya kita akan memikirkan Rumah Tuhan untuk kita kerjakan sama-sama. Dengan sendirinya kita akan memikirkan kebutuhan orang-orang yang perlu di dalam kehidupan mereka dan kita dukung mereka. Dengan sendirinya kita akan hidup dengan memuliakan Dia sebab kita menjadikan Tuhan prioritas di dalam hati kita.

Yang kedua, kita seringkali tidak melihat dan memahami blessing berkat Tuhan di dalam hidup kita sebab kita memilah-milah dan mengkotak-kotakkan ini yang kita bilang blessing, itu kita bilang bukan blessing; ini yang kita bilang berkat, itu kita bilang bukan berkat dan tidak boleh terjadi di dalam hidup kita; ini yang kita bilang advantage, itu kita bilang disadvantage; ini yang kita bilang untung, itu kita bilang sial. Kita menyebut berkat kepada semua hal-hal yang kita anggap baik dan membuat kita ‘feel good’, kita bilang sial kepada hal-hal yang tidak baik di dalam hidup kita, hal-hal yang mengganggu kenyamanan hidup kita dan tidak sepatutnya ada di dalam hidup kita. Pengkotak-kotakkan seperti ini membuat kita tidak bisa melihat totalitas jalinan yang indah dari berkat Tuhan. Ada blessing di dalam disadvantage; ada blessing di dalam kelemahan; ada blessing di dalam sakit; ada blessing di dalam kekurangan.

Dalam 2 Korintus 12:9 Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” menghasilkan respons Paulus, “sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” My grace is sufficient for you, for My power is made perfect in weakness, demikian firman Tuhan. Di dalam penderitaanmu, kuasa Tuhan menjadi nyata; di dalam kekuranganmu, Tuhan menyatakan kelimpahan. Kita tidak bisa melihat blessing Tuhan di dalam hal itu sebab memang ada hal-hal yang tidak kelihatan yang menghambat kita sehingga kita lihat seolah-olah bukan berkat tetapi pada waktunya kita bisa melihat itu adalah berkat Tuhan, sayangnya respons kita selalu terlambat.

Umumnya inilah wejangan normal kita terima sebagai “Conventional Wisdom” yaitu ‘disadvantage is something that ought to be avoided, because you will be worse off than others, you cannot compete and win against others.’ Bagaimana kita bisa menghindari disadvantage itu? Kita minta anak kita rajin belajar, rajin ke sekolah, kalau bisa selesai jadi sarjana lanjutkan sampai gelar master, dengan itu paling tidak mereka bisa bersaing dan menjadi pemenang di dalam masyarakat. Bukan semua ini tidak perlu, bukan semua ini tidak penting, tetapi ini yang kita sebut sebagai “Capitalisation Learning” yaitu apa aspek yang engkau bisa unggul dan baik, pelajari terus-menerus supaya makin maju dan makin melampaui orang-orang yang lain, we get good at something by building on the strengths that we are naturally given.

Dalam buku berjudul “David and Goliath,” penulisnya Malcolm Gladwell mengangkat beberapa kisah yang inspiratif mengenai beberapa orang yang memiliki disadvantage seperti Daud yang kecil bisa mengalahkan raksasa seperti Goliat. Dari kisah beberapa orang yang seperti ini dia mengangkat beberapa konsep bahwa tidak selamanya hal-hal disadvantage di dalam hidup seseorang itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Anak kita mungkin tidak sepintar anak lain, mungkin tidak secerdas anak lain, tetapi di situ bisakah dia belajar mengembangkan jiwa yang ulet, dia belajar bersandar Tuhan dengan lutut yang berdoa? Itu hal-hal yang tidak bisa dipelajari di bangku sekolah. Tidak usah kuatir, lihat blessing Tuhan di situ. Itu yang diajarkan oleh Alkitab pada waktu Paulus berdoa minta Tuhan mencabut duri dari dagingnya. Tuhan menolak dan berkata, “Cukup anugerahKu bagimu,” karena di dalamnya Tuhan ingin memberi berkat dan anugerah yang indah bagi dia.

Yang ketiga, kita tidak pernah merasa itu berkat Tuhan sebab hidup kita senantiasa dipenuhi dengan kuatir. Kita kuatir karena kita hanya melihat apa yang tidak ada akhirnya kita tidak melihat apa yang ada. Dalam Filipi 4:5-6 Paulus berpesan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat. Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa permohonan dan ucapan syukur.” Ada tiga hal yang sangat indah di-connect oleh Paulus: let your goodness be seen to everyone; don’t be anxious; bring thanksgiving to God. Orang yang penuh kekuatiran tidak bisa melakukan dua hal ini: bersyukur dan memperlihatkan goodness kepada orang lain, karena orang seperti itu selalu berkecencerungan hanya memperhatikan diri sendiri. Orang yang penuh kekuatiran, mana bisa keluar syukur thanksgiving dari mulutnya? Itu sebab ayat ini menjadi ayat yang mengajarkan kita, bukan kita tidak bisa kuatir, bukan kita tidak punya kesulitan, bukan kita tidak perlu memikirkan apa yang menjadi kebutuhan kita, tetapi mari kita melihat ketiga hal itu menjadi satu rantai yang saling berkait: hendaklah kebaikan hatimu dilihat semua orang, jangan kuatir, ucapkan syukur kepada Allah. Sifat dari kuatir adalah sifat yang selalu melihat apa yang tidak ada, akhirnya kita tidak pernah bisa melihat apa yang ada dalam hidup kita.

Mungkin kita tidak kuatir, mungkin hidup kita oke-oke saja, tetapi kita juga tetap hidup tidak penuh berkat dan tidak merasa ada kelimpahan di dalamnya oleh sebab semua yang kita dapat itu kita ‘take for granted.’ Memang begitu terjadi sudah sepantasnya saya terima; memang sudah seharusnya ada dalam hidupku; sehingga kita tidak menghargai itu sebagai satu berkat dari Tuhan yang kita hargai, sampai satu waktu ketika kita kehilangan apa yang kita terima sebagai bagian dari hidup kita. Kita tidak menghargai kesehatan yang baik sampai kita jatuh sakit; kita tidak menghargai keluarga yang indah dan orang tua yang baik sampai mereka tiba-tiba meninggal dunia; kita tidak menghargai barang yang kita punya sampai barang itu hilang dicuri orang. Namun yang lebih menyedihkan adalah kalau kita rasa kita tidak punya sesuatu lalu itu membuat kita iri, benci dan dengki kepada orang lain yang punya; kita bukan saja hidup di dalam kekuatiran tetapi kita akan menghasilkan hidup yang terus-menerus membanding-banding dan compare dengan orang lain dan kita ingin mendapatkan lebih, lebih dan terus lebih daripada orang lain. Dengan demikian kita tidak akan pernah merasa hidup kita penuh dengan berkat Tuhan.

Blessing akan muncul pada waktu kita berhenti melihat apa yang tidak ada, selalu lihat apa yang ada di dalam hidup ini. Itulah berkat anugerah Tuhan yang terus muncul di dalam hidup sdr. Pada waktu kita memegang apa yang ada, menghitungnya dan memakainya, kita akan kagum dan terpesona melihat ternyata dari apa yang ada pada kita masih banyak yang tersisa dari hidup kita.

Janda miskin yang memberi persembahan di Bait Allah bukan hidup dalam kelimpahan, tetapi dia menyadari segala sesuatu yang dia punya dan pakai ternyata masih ada kelebihan yang bisa dia bawa ke rumah Tuhan. Jangan pikir bahwa orang yang memiliki banyak dan berlimpah itu selalu bisa melihat ada kelebihan dari hidupnya untuk dibawa kepada Tuhan. Kita juga menemukan orang yang kurang dan miskin adalah orang yang juga bisa tidak bersyukur kepada Tuhan. Tuhan Yesus mengingatkan ada 10 orang kusta yang datang kepadaNya minta disembuhkan, lalu setelah Tuhan Yesus sembuhkan, ternyata hanya satu yang kembali kepadaNya untuk berterimakasih, dan orang itu adalah seorang Samaria. Di dalam kemiskinan dan kepapaan mereka tetap tidak bisa melihat Tuhan berkarya dalam hidup mereka dengan anugerah dan berkatNya. Belum tentu karena dia miskin otomatis bikin hatinya lebih peka bersyukur terhadap apa yang dia miliki. Itu berkaitan dengan kelimpahan jiwa yang ada di dalam diri seseorang.

Dalam 2 Korintus 6:10 Paulus mengucapkan kalimat yang begitu indah dan mengharukan hati saya, “Sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang; sebagai orang yang tak bermilik sekalipun kami memiliki segala sesuatu.” Paulus bilang, aku miskin tetapi aku memperkaya banyak orang; aku tidak memiliki apa-apa sekalipun aku memiliki segala sesuatu. Itu adalah kelimpahan di dalam hati orang yang menyadari anugerah dan berkat Tuhan, yang tidak pernah kuatir kepada sesuatu yang tidak ada tetapi senantiasa menghargai apa yang dia miliki.

Terakhir, blessing itu harus senantiasa berada di dalam “a circle of blessings.” Pada waktu Tuhan memberkati Abraham, Tuhan berkata “Aku akan memberkati engkau dan engkau akan menjadi berkat” (Kejadian 12:2). Itu adalah siklus daripada berkat yang tidak boleh terputus di dalam hidup kita.

Dalam 2 Korintus 9:2 Paulus memuji “…dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang.” Paulus memperlihatkan lingkaran siklus berkat ini di dalam 2 Korintus 9:10-15, dimulai dari Tuhan yang menyediakan benih untuk ditabur dan roti untuk dimakan, dengan lipat ganda Ia menumbuhkan buah-buah kebenaran sehingga kita bisa memberi dengan murah hati. Dari kemurahan hati kita mendatangkan ucapan syukur kepada Allah. Dalam siklus itu berawal dari berkat Allah memberi benih, berakhir sukacita dan pujian kepada Allah. Dan yang terlebih indah lagi apa yang Paulus katakan di ayat 2, kegiatanmu menjadi perangsang bagi banyak orang. Kata itu indah karena kata itu memperlihatkan ketika ada satu orang mulai bergerak, maka itu akan menggerakkan banyak orang. Ketika iman dari seseorang tergugah, maka itu akan menggugahkan iman banyak orang. Biarlah kita tahu, kata Paulus, your zeal, your work, your activity has stirred up most people. Semangat dan kegiatanmu menjadi percikan api yang merambat kepada banyak orang, menjadi ‘catalyst’ yang menggerakkan banyak orang.

Kita mungkin tidak bisa membawa banyak orang, kita mungkin tidak bisa menghasilkan result dan achievement yang besar, tetapi kita bisa menjadi catalyst di dalam hidup ini. Kita akui kita tidak bisa mengerjakan segala sesuatu seorang diri, ada banyak hal yang perlu tetapi tidak mungkin itu menjadi sesuatu yang indah sebelum menjadi suatu catalyst yang merambat membakar semangat orang lain. Berkat Tuhan senantiasa menghasilkan satu lingkaran berkat yang tidak henti-henti terjadi. Saya bersyukur dengan ayat ini karena inilah keindahan dari anak-anak Tuhan yang boleh memberikan satu konklusi bagi sebuah hidup yang diberkati Tuhan. (kz)