Hanya Tinggal Selangkah Lagi

Sun, 01 Jun 2014 10:11:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Bilangan (3)

Nats: Bilangan 13 – 14

 

Jangan terlalu takut dan kecewa jikalau di dalam hidupmu, sdr ketemu dengan kata “hampir.” “Hampir saja saya mati, hampir saja saya ketabrak mobil, hampir saja saya tidak lulus ujian,” sebab berarti hal itu belum terjadi. Tetapi sebaliknya jangan terlalu cepat senang kalau engkau “hampir menang” dalam pertandingan, dalam auction, dalam tender, dsb karena itu tandanya sdr tidak mendapatkannya alias kalah. Banyak orang menghibur diri dengan kata “hampir menang atau hampir dapat,” khususnya di depan mesin judi karena kata itu akan memberi efek psikologis “coba lagi, siapa tahu kali ini dapat…” padahal walaupun barang itu begitu dekat, tetap masih terlalu jauh untuk diraih.

Apa gunanya perjuangan yang selama ini sudah ditempuh dengan susah payah berjalan terus, jatuh bangun tapak yang susah dan sulit itu dihadapi, tapi tinggal selangkah lagi, hanya tinggal satu gunung saja yang harus dilewati, namun engkau tidak berani dan tidak mau ambil, akhirnya itu menggagalkan seluruh perjalanan dan perjuangan yang sudah dilewati dengan darah, keringat dan air mata? Itulah yang terjadi kepada umat Israel ini. Tinggal satu gunung yang harus mereka lewati sebelum sampai di tanah perjanjian dan menikmati sepenuhnya janji Tuhan kepada mereka, gunung dimana orang Amalek, orang Het, orang Yebus dan orang Amori berdiam, serta orang Kanaan dan orang Enak yang kuat dan perkasa tinggal. Di balik gunung itu terhampar tanah perjanjian itu begitu agung, begitu indah. Memang benar, gunung yang menghadang mereka di depan itu belum mereka lihat, tetapi bukankah sudah banyak sekali gunung-gunung rintangan lain yang telah mereka lewati bersama Tuhan? Bukankah saat mereka dikejar tentara Firaun, laut Teberau yang menghadang mereka Tuhan belah menjadi dua? Bukankah penyertaan Tuhan begitu nyata mereka alami setiap hari?

Kisah ini menceritakan betapa tragisnya peristiwa ini menjadi satu ‘turning point’ menentukan sejarah perjalanan bangsa Israel akhirnya berputar-putar tanpa arah tujuan di padang gurun selama 40 tahun berikutnya. Bahkan akhirnya seluruh orang dewasa yang berumur 20 tahun ke atas tidak ada yang masuk ke tanah perjanjian itu, kecuali Kaleb dan Yosua. Kasihan dan sedih luar biasa, ‘so close yet so far.’

Bilangan 13 dimulai dengan kalimat Tuhan yang begitu jelas, Tuhan pasti akan memberikan tanah perjanjian itu. Meskipun mereka belum menerimanya tetapi setidaknya Tuhan menginginkan umat Tuhan mendapatkan sedikit ‘foretaste’ mendapatkan gambaran nyata bahwa tanah perjanjian dan apa yang ada di situ begitu indah dan menakjubkan. Tidak perlu semuanya pergi melihat, maka Tuhan memberi perintah kepada Musa untuk mengirim beberapa pemimpin dari 12 suku Israel untuk mengintai tanah Kanaan yang Tuhan janjikan. Sudah tentu orang-orang pengintai ini ‘reliable’ dan ‘diversity’ karena mereka adalah pemimpin-pemimpin yang mewakili 12 suku. Tujuan dari pengintaian ini bukan untuk menentukan apakah mereka bisa masuk atau tidak bisa masuk ke tanah perjanjian itu, karena Tuhan sudah bilang mereka pasti akan masuk. Tetapi pengintaian itu bertujuan supaya paling tidak mereka tahu bagaimana mereka bisa masuk ke tanah perjanjian itu. Selain itu tujuan dari pengintaiuan itu juga adalah supaya mereka lebih senang dan lebih bersyukur karena tahu apa yang akan mereka dapatkan dari janji Tuhan itu. Ini bagian yang penting sekali kita mengerti.

Maka pergilah ke 12 pengintai itu. Selama 40 hari 40 malam mereka pergi keliling ke berbagai tempat, menjelajah seluruh daerah itu dari kiri kanan atas bawah, lalu mereka kembali ke perkemahan sambil membawa pulang berbagai macam hasil dari tanah itu. Mereka membawa setandan buah anggur, buah delima dan buah ara (Bilangan 13:23). Sampai di sini, ke 12 pengintai memberikan laporan yang sama, “Kami sudah masuk ke negeri itu dan memang negeri itu berlimpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya…” (Bilangan 13:27). Tuhan kita tidak bohong pada waktu Ia berkata bahwa Ia akan membawa kita keluar dari Mesir menuju tanah yang berlimpah susu dan madu. Ke 12 pengintai juga memberitahukan kepada bangsa Israel fakta yang kedua, yaitu kota-kota yang mereka datangi adalah kota yang dijaga oleh benteng-benteng yang kuat dan orang-orang yang tinggal di sana tinggi besar. Ini fakta yang mereka amati, ini hasil observasi mereka.

Tetapi dari sini kemudian suasana mulai berubah. Dari 12 orang itu, yang 10 orang mengatakannya dengan negatif, negeri itu berlimpah susu dan madunya, “tetapi” bangsa yang tinggal di situ kuat dan besar. Sedangkan yang 2 yaitu Kaleb dan Yosua mengatakan negeri itu berlimpah susu dan madunya, “dan” bangsa yang tinggal di situ kuat dan besar. Kita akan maju dan menduduki negeri itu sebab kita pasti akan mengalahkannya (Bilangan 13:30). Kata “tetapi” yang keluar dari mulut 10 pengintai itu menjadi kata penambahan dari interpretasi mereka. Mereka diutus Musa untuk mengumpulkan fakta, mereka pulang membawa fakta yang sama. Penambahan kata “tetapi” membuat bangsa Israel yang mendengar mengambil kesimpulan berdasarkan fakta yang ada itu mereka tidak mungkin bisa masuk ke tanah perjanjian itu. Maka terlihatlah di balik dari kalimat yang mereka nyatakan tersembunyi sikap hati yang tidak percaya kepada Tuhan. Hati yang tidak percaya, hati yang tidak yakin, hati yang memang tidak mau menjadikan Tuhan itu menyertai dan memimpin hidupnya, itu yang menjadi sumber segala kemelut ini. Bukan karena mereka tidak memaparkan fakta yang sama, bukan karena mereka kurang kemampuan, bukan karena mereka menyampaikan laporan yang tidak benar, tetapi persoalannya adalah mereka sudah tidak percaya kepada Tuhan.

Orang yang hidupnya percaya kepada Tuhan tidak berarti perjalanan hidupnya lebih lancar, lebih baik, lebih sukses daripada orang yang tidak percaya Tuhan. Orang yang hidupnya percaya kepada Tuhan tidak berarti semua doa-doanya senantiasa dijawab dan segera dikabulkan oleh Tuhan. Tetapi yang membedakan orang yang hatinya percaya kepada Tuhan dengan orang yang tidak percaya akan menentukan bagaimana orang itu berespons dan bersikap terhadap pergumulan dan persoalan yang sama. Di situlah perbedaannya.

Kaleb dan Yosua menyampaikan fakta yang sama. Benar, negeri itu berlimpah susu dan madu. Benar, orang-orang yang tinggal di situ kuat, besar, dan perkasa. Mereka tidak bilang orang-orang yang tinggal di situ kurus dan lemah.

Banyak hal yang terjadi di dalam hidup kita “humanly speaking” kita diperhadapkan dengan kesulitan di dalam hidup yang kita rasa kita tidak sanggup bisa hadapi. Sebagai seorang janda miskin, mengirim anak bersekolah ke luar negeri dengan biaya dollar yang sangat tinggi, bagaimana bisa? Membayar dan melunasi hutang mortgage dengan pemasukan yang pas-pasan, bagaimana bisa? Kita sering mengatakan semua itu dari kacamata “humanly speaking” seperti ini. “Humanly speaking” mereka adalah raksasa dan kami lihat diri kami seperti belalang, demikian kata 10 pengintai ini. Sehingga kita melupakan bahwa sebagai orang percaya seharusnya kita mengatakan “Godly speaking.” Allah yang beserta dan memelihara, penyertaan dan pemeliharaanNya adalah satu janji yang kita percaya dan pegang baik-baik, walaupun dari kacamata manusia hal itu betapa sulit dan berat kita jalani. Kaleb dan Yosua tidak mengecilkan persoalan yang ada, tetapi mereka percaya Tuhan sudah berjanji dan memampukan mereka mengalahkan orang-orang itu.

Yang kedua, dasar ketidak-percayaan orang-orang itu disebabkan karena persepsi dan konsep yang keliru mengenai siapa Allah. Di balik dari sikap memberontak dan melawan Tuhan yang menyebabkan mereka tidak bisa masuk ke tanah perjanjian adalah karena mereka mau Tuhan memberikannya kepada mereka tanpa mereka perlu berjuang dan bersusah payah dan mengambil tanggung jawab dan kewajiban mereka merebut tanah itu. Kita percaya bahwa setiap janji Tuhan, setiap pemberian Tuhan, semua ‘ya dan amin.’ Tuhan hanya menuntut satu hal, berjalan dan berani mengambilnya.

Perjalanan iman tidak berarti kita tidak menghadapi rintangan. Perjalanan iman berarti saya tidak sendirian berjalan. Dalam firmanNya ada janji Allah yang berkuasa menyertai dan memelihara kita. Waktu ke 12 pengintai pulang, mereka harus ingatkan baik-baik kenapa Tuhan menyuruh mereka mengintai negeri itu, yang sudah saya katakan tadi di awal, bukan supaya mereka memperhitungkan bisa masuk atau tidak, tetapi membuat mereka mempunyai gambaran dan strategi bagaimana masuk ke sana. Dengan mengintai selama 40 hari menjelajah seluruh negeri itu, ke 12 pengintai ini sudah mempelajari baik-baik lokasi itu, artinya sebenarnya point yang paling penting adalah mari kita duduk sama-sama, kita pikirkan sama-sama bagaimana kita bisa masuk dan menaklukkan negeri itu. Itu adalah responsibility, itu adalah kewajiban, itu adalah panggilan Tuhan, itu adalah tuntutan Tuhan kepada setiap orang percaya untuk berespons kepada anugerahNya. Kepada anak-anak kita, kita pun seperti itu. Kita memberi mereka janji-janji dan penghargaan kita dan memberikan apa yang mereka butuhkan. Tetapi saya percaya kita pun tidak mau mereka sembarang mempermainkan janji-janji itu dan tidak melakukan tanggung jawab dan kewajiban mereka sebagai anak.

Orang-orang Israel ini mau ‘take it for granted’ dan di situlah persoalannya. Sehingga dari situ meletuslah respon yang seperti itu. Intinya sebenarnya, Tuhan kasihlah tanah itu supaya kami masuk dengan gampang dan mudah, tanpa perlu berjuang dan berusaha.

Tidaklah gampang dan tidaklah mudah jikalau seorang wanita demi karena imannya kepada Tuhan dia harus dipenjara dan divonis hukum gantung. Itu adalah perjalanan iman yang berat luar biasa. Tidaklah gampang dan tidaklah mudah engkau sebagai orang Kristen yang minoritas tinggal di satu tempat yang tidak percaya Tuhan, waktu engkau sedang berdoa, engkau dipukul dan ditimpuki batu oleh orang-orang. Apa yang terjadi kepada anak-anak Kristen yang diculik, keluarganya hanya bisa menangis menantikan anak mereka tidak pernah kembali sampai hari ini. Tidak gampang dan tidak mudah perjalanan iman seperti itu.

Tetapi keberanian untuk mengambil sikap berjalan dengan iman karena tahu di dalam kita mengikut Tuhan, apapun yang menjadi halangan dan hambatan itu tidak lebih besar dibandingkan janji yang Tuhan beri. Tanah perjanjian itu pasti Tuhan akan beri kepada mereka hanya disertai oleh satu keinginan Tuhan: mereka masuk, mengambil dan merebutnya. Itu yang dikatakan Tuhan nantinya kepada Yosua, ”Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu akan Kuberikan kepadamu seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa” (Yosua 1:3).

Ke 10 orang ini menginginkan tanah perjanjian itu namun mereka tidak mau rintangannya. Sikap itu menyebabkan mereka tidak percaya kepada Tuhan, dan apa yang akhirnya terjadi ketika orang itu sudah tidak percaya kepada Tuhan? Hidup takut kepada Tuhan itu adalah hal yang terpenting di dalam hidup setiap anak-anak Tuhan. Takut akan Tuhan berarti kita sedang berdiri di hadapan Tuhan, mengambil keputusan untuk hidup bersama Dia, mengutamakan kehendakNya. Jadi bukan memilih hidup dengan jalan lebih lancar atau tidak. Orang yang takut akan Tuhan pasti tidak akan takut kepada apapun dan siapapun yang melawan Tuhan. Tetapi orang yang hidupnya tidak takut akan Tuhan pasti mudah digentarkan oleh apapun dan siapapun. Peristiwa ke 12 pengintai melaporkan hasil pengintaian mereka begitu luar biasa. Bayangkan, 10 orang ini pulang memberitahukan kepada bangsa Israel pertama-tama faktanya, tetapi mereka menambahkan interpretasi negatif yang akhirnya menghasilkan “irrational thought” dan merubah semua perspektif positif yang ada sebelumnya.

Dimana irrasionalnya? Dalam Bilangan 13:31 mereka mengatakan, “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu karena mereka lebih kuat daripada kita…” Kemudian di Bilangan 13:32 Alkitab mencatat bukan saja mereka membesar-besarkan fakta yang ada, mereka membusukkan dan membelokkan fakta itu. Orang Enak yang tinggi dibilang “Nephilim” raksasa yang menakutkan. Penduduk makan penduduk sendiri. Yang tersisa kurus-kurus dan kecil. Jadi sendirinya saling bertolak-belakang. Akhirnya bangsa Israel bereaksi dengan irrational juga, mereka seperti orang gila berteriak, menangis meratap. Mereka bersungut-sungut kepada Musa, “Ah! Lebih baik kita kembali ke Mesir dan mati di sana. Buat apa cape-cape jalan sampai dari sini, toh mati juga.” Lalu mereka mempersalahkan Tuhan kenapa membawa mereka ke negeri ini. Dan mereka mau mengangkat seorang pemimpin lain membawa mereka kembali ke Mesir (Bilangan 14:1-4).

Boleh dikatakan dari pasal 12-14 sungut-sungut dan gerutu bangsa ini terakumulasi di sini. Bukan saja mereka bersungut-sungut mempersalahkan Tuhan, Alkitab mencatat mereka kemudian mengambil batu untuk melempari Kaleb, Yosua dan tentunya Musa dan Harun (Bilangan 14:10).  

Maka jatuhlah penghakiman Tuhan yang luar biasa kepada mereka. Tuhan turun di dalam kemuliaanNya, mencegah mereka membunuh Yosua dan Kaleb, tetapi terlebih lagi, mereka bertemu dengan penghakiman Tuhan, mereka semua akan habis dimusnahkan oleh Tuhan karena mereka telah menolak Tuhan menjadi Tuhan yang memimpin mereka. Di tengah hukuman yang Tuhan beri itulah kita perhatikan bagaimana Musa berdiri dan bersikap di tengah-tengah mereka. Tuhan di dalam kemurkaanNya berkata, “Aku akan membasmi dan memusnahkan bangsa ini dan Aku akan membangkitkan satu bangsa yang baru dari keturunan Musa.” Mendengar hal itu dengan serta-merta dia berlutut di hadapan Tuhan dan di tengah-tengah bangsa yang tegar tengkuk itu Musa berdoa syafaat kepada Tuhan. Yang diangkat oleh Musa di dalam doanya bukan minta perlindungan Tuhan dari orang-orang yang hendak melemparinya dengan batu, tetapi di dalam doanya Musa mengangkat dua hal yang paling penting. Yang pertama adalah soal kemuliaan Tuhan. Yang kedua adalah soal belas kasihan Tuhan. Yang pertama Musa bilang, Tuhan kalau Engkau memusnahkan bangsa ini, dan tindakan itu kedengaran sampai ke telinga orang Mesir, namaMu akan menjadi olok-olok mereka “For the sake of Your name, for the sake of Your glory, please forgive them.” Itulah sebuah doa syafaat. Doa syafaat bagi orang berdosa bukan saja menuntutmu memakai waktu untuk berdoa. Doa syafaat juga berarti engkau meminggirkan rasa harga diri yang diinjak-injak.

Itulah sebabnya pada waktu Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma, ketika orang menghinamu, berdoalah bagi mereka. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan (Roma 12:17-21).

 Kita memberitakan siapa Kristus bagi orang, kita bisa ditertawakan oleh orang itu. Di kantor mungkin engkau menjadi orang Kristen, diam-diam boss-mu memperlakukan engkau dengan jahat, menahanmu untuk tidak mendapat promosi dan kenaikan jabatan. Pada waktu kita tahu akan hal itu hati kita mungkin ‘hurt.’ Tetapi bisakah di tengah-tengah kita mengalami seperti itu kita berdoa syafaat baginya? Bagian ini mengajarkan akan hal itu. Bukan demi untuk saya, kata Musa, tetapi demi untuk nama Tuhan dan kemuliaan Tuhan. Itulah sebabnya kita berdoa bukan demi diri kita sendiri, tetapi karena sikap dan iman kepercayaanku kepada Tuhan, aku bersyukur kepada Tuhan. Kenapa kita kekurangan hati untuk berdoa syafaat? Perhatikan Musa, dalam berdoa syafaat dia bukan ‘spare time,’ dia juga harus membuang harga dirinya. Doa syafaat berarti kita ‘sacrifice’ sesuatu, kita sacrifice segala-galanya. Dan itulah satu-satunya senjata bagi orang Kristen untuk menang di dalam perjalanan imannya.

Dunia membenci murid-murid Tuhan, ini fakta yang tidak bisa kita tutupi dan hindari. Yesus sendiri berdoa syafaat bagi kita dalam Yohanes 17, bukan? “Mereka bukan dari dunia ini…” Dunia akan mentertawakan dan menganiaya orang Kristen, bahkan kalau mereka punya kekuatan dan kesempatan mereka akan membunuh orang percaya. Itulah lingkungan yang keras kita hadapi hidup sebagai anak-anak Tuhan. Di dalam hidup menjadi orang Kristen seperti ini engkau dan saya dipanggil oleh Tuhan menjadi orang Kristen yang berkorban di hadapan Tuhan.

Itulah sebabnya melalui firman yang kita renungkan hari ini saya menggugah engkau sekali lagi datang kepada Tuhan dan mengatakan ‘aku mau memberi dan berkorban karena Tuhan sudah terlebih dahulu berkorban bagiku.’

Saya tidak tahu apa yang menjadi kesulitan yang engkau hadapi di dalam perjalananmu ikut Tuhan, mungkin kita terluka dan mengalami betapa berat menjadi anak Tuhan di dalam lingkungan dimana engkau hidup. Di dalam perjalanan iman kita, kita tidak terlepas dari banyaknya rintangan. Secara manusia mungkin kita tidak kuat menjalaninya. Biar hari ini kita berseru kepada Tuhan. Kita bersyukur kepada Tuhan akan firmanNya dan janjiNya. Kalau kita kurang dan belum memberikan hati kita untuk berdoa syafaat bagi orang lain, bagi begitu banyak orang-orang yang membenci Tuhan, yang membenci dan menertawakan kita, ingat itu hanya urusan kecil. Urusan yang paling besar adalah kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kehinaan yang kita alami. Kiranya Tuhan menuntun dan memelihara langkah perjalanan kita mengikut Tuhan. Kita bersyukur untuk pengalaman hidup bangsa Israel yang mengingatkan kita Allah itu panjang sabar dan penuh dengan belas kasihan dan memberikan janji-janji yang indah menguatkan kita sepanjang perjalanan hidup kita.

Tuhan Yesus akan segera datang kembali, di situlah segala janji-janji Tuhan akan terpenuhi lebih daripada tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu, kita akan melihat segala keagungan dan kemuliaan Tuhan kita. Itulah yang menjadi fokus langkah perjalanan iman kita ke sana.(kz)