Gereja sebagai Oasis Rohani

Sun, 22 Jun 2014 05:35:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: Gereja sebagai Oasis Rohani

Nats: 1 Korintus 2:14 – 3:15

 

Firman Tuhan hari ini menjadi trilogy dari rangkaian thanksgiving syukur kita kepada Tuhan. Gedung gereja ini Tuhan berikan kepada kita, dan biar setiap hati kita melimpah dengan syukur kepada Tuhan. Tetapi gedung tetap menjadi gedung kalau kita tidak melihat keindahan apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui sesuatu benda mati yang Tuhan beri di dalam hidup kita. Itulah sebabnya setiap kita kiranya berkata kepada Tuhan, gedung yang Tuhan beri ini tidak bisa bergerak dan bekerja kemana-mana, tetapi kita rindu gerakan dari anak-anak Tuhan yang ada di dalam gedung gereja ini boleh menghidupkan gedung ini; boleh menjadi sesuatu gairah di dalam kehidupan kita. Kiranya di dalam gedung gereja ini ada Gereja Tuhan, itulah engkau dan saya. Gereja adalah tubuh Kristus, Gereja lebih dari sekedar gedung. Pada waktu Tuhan memberikan gedung ini kita ingin menjadi seperti apa? kita mau menjadi apa? Mari kita berdoa kiranya kehadiran gereja ini boleh menjadi sebuah oasis rohani.

Oasis adalah satu tempat perhentian di tengah perjalanan padang gurun yang terik, di tengah orang-orang mengalami keletihan dan keputus-asaan, di tengah perjalanan yang panjang dalam kehausan tidak ada air dan sulit mendapatkan minum, dan waktu mereka tiba di oasis itu, di situlah mereka menemukan kesegaran, pengharapan dan hidup yang baru. Kita rindu, orang-orang yang berjalan di dalam perjalanan hidup mereka yang belum mengenal Tuhan kiranya mereka boleh mengenal dan menemukan Tuhan Yesus Kristus sebagai Sumber Air Hidup yang akan memuaskan dahaga rohani mereka. Mari kita berdoa kiranya anak-anak Tuhan datang ke rumah Tuhan mereka juga mendapatkan oasis rohani yang indah adanya. Di tempat seperti inilah melalui pelayanan gerejaNya kita dikuatkan, kita disembuhkan, kita disegarkan, kita dikenyangkan. Itulah fungsi dari sebuah oasis, oasis rohani yang indah karena mereka bukan saja mendapatkan kepenuhan dari hal fisik tetapi dipenuhi oleh hal rohani. Oasis juga berarti ini bukan tempat perhentian terakhir; oasis berarti ini adalah langkah awal tempat dimana kita akan melanjutkan perjalanan kita. Setelah dikenyangkan kita fokus lagi, setelah disegarkan kita keluar dari tempat ini supaya kita boleh menjadi berkat.

Pada waktu Yesus naik ke atas gunung bersama 3 orang muridNya di dalam peristiwa transfigurasi Ia berubah di dalam kemuliaanNya, sehingga murid-murid dengan mata kepala melihat siapa sesungguhnya Yesus Kristus, Guru mereka yang sehari-hari dilihat sebagai manusia biasa yang hidup di tengah-tengah mereka adalah Tuhan yang dengan kemuliaan yang luar biasa. Di tengah-tengah peristiwa itu, Petrus mengatakan, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan kemah untuk tinggal di sini…” Tetapi Yesus membawa mereka turun dari gunung itu karena itu bukan destinasi terakhir, tetapi di situ adalah satu pengalaman rohani murid-muridNya dikuatkan, disegarkan, digairahkan lagi, sebab begitu turun dari gunung itu langsung mereka menghadapi tantangan mengusir roh jahat yang tidak bisa diusir oleh murid-murid yang lain (Lukas 9:28-43).

Kalau kita rindu rumah Tuhan ini menjadi tempat oasis rohani berarti kita juga merindukan setiap kita yang hadir dan datang ke dalam gedung gereja ini manusia-manusia rohani. Ini adalah point yang penting yang diangkat oleh rasul Paulus di dalam 1 Korintus 3. Paulus menggunakan istilah “pneumatikos” dan hanya di bagian ini satu-satunya kata ini muncul. Kata ini menjadi kontras perbandingan dengan istilah “sarkikos” dan “psikikos” yaitu soal jiwanya saja; ada jiwa tetapi tidak pneuma. Maka Paulus bilang karena engkau manusia duniawi, kita tidak bisa berkata-kata secara rohani sebagai pneumatikos, manusia rohani.

Bukan saja hamba-hamba Tuhan yang patut dikenakan sebutan “rohaniwan” dan setiap kita mau dan kita rindu satu figur dari hamba Tuhan yang melayani itu adalah betul-betul seorang manusia yang rohani adanya. Tetapi Paulus di sini tidak bicara hanya bagi hamba-hamba Tuhan saja; Paulus tidakhanya bicara bagi pemimpin-pemimpin gereja, para majelis dan orang-orang yang melayani Tuhan; Paulus bicara bagi seluruh jemaat di Korintus untuk menjadi pneumatikos, manusia-manusia yang rohani.

1 Korintus 2:14-16 menjadi dasar untuk kelanjutan secara praktis apa yang menjadi hidup di pasal-pasal selanjutnya bagi jemaat Korintus ini. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan. Dan ia tidak dapat memahaminya sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain. ‘Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan sehingga ia dapat menasihati Dia?’ Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.”

Seseorang menjadi pneumatikos manusia rohani tidak ada kaitannya bahwa dia adalah seorang lulusan sekolah teologi; dia menjadi pneumatikos manusia rohani bukan karena dia pernah menjadi seorang yang rajin mengikuti seminar dan pembinaan teologis; dia menjadi pneumatikos manusia rohani bukan karena setiap kali keluar kata “shalom, haleluya, puji Tuhan” dari mulutnya saja.

Point pertama Paulus mengatakan seseorang menjadi manusia rohani sebab kita tahu ada Roh Allah tinggal di dalam dirinya. Tetapi itu baru point pertama, langkah pertama, sebab selanjutnya manusia rohani yang memiliki Roh Allah di dalamnya itu nyata dari segala hal yang dia lakukan, segala hal yang dia katakan, dia melakukan segala sesuatu, dia menilai segala sesuatu di dalam konsep yang bersifat rohani. Paulus mengatakan, kalau orang itu adalah seorang rohani dan dari mulutnya keluar kalimat rohani, kita langsung tahu. Orang yang rohani juga mengerti bagaimana cara berpikir dan cara berkata orang itu, tidak perlu kita menyelesaikan segala sesuatu dengan terlalu banyak frase rohani, tetapi pada waktu dia menyelesaikan sesuatu kita tahu itu berangkat dari prinsip yang rohani. Manusia rohani hidupnya selalu berjalan dan dipimpin oleh Roh Kudus, dipenuhi oleh Roh Kudus.

Kita bisa menjadi orang percaya itu datangnya bukan dari kehendak keinginan kita sendiri. Alkitab mengatakan seseorang bisa menjadi percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat karena Roh Kudus masuk ke dalam hatinya dan memampukannya berespons kepada panggilan Tuhan. Kita menjadi orang Kristen oleh sebab Roh Kudus sudah tinggal di dalam hidup kita. Tetapi kita bisa menyaksikan ada orang yang hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus, berjalan bersama Roh Kudus, dipimpin oleh Roh Kudus,namun ada orang Kristen kata Paulus di sini adalah bayi rohani sebab meskipun dia sudah menjadi anak Tuhan tapi masih berlaku seperti manusia duniawi.

Penuh dengan Roh Kudus adalah orang itu memiliki Roh Kudus dan orang itu mempersilahkan hidupnya, cara berpikirnya dan karakternya itu dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Orang yang sudah percaya Tuhan Yesus tidak akan pernah menghujat Roh Kudus, tetapi orang yang percaya Yesus di dalam relasinya dengan Roh Kudus yang tinggal di dalam dirinya, kita bisa mendukakan Dia. “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memateraikan kamu menjelang hari penyelamatan” (Efesus 4:30). Kalimat terakhir ini penting, Roh Kudus yang sudah memateraikan kita sampai pada hari penyelamatan, itu berarti keselamatan kita di dalam Kristus itu aman, secure, kita sudah milikNya selama-lamanya karena Roh Kudus itu tinggal permanen di dalam diri kita. Pada waktu kita jatuh di dalam dosa, kita lemah, kita mungkin mendapatkan serangan Setan yang berkata dalam hatimu, ‘engkau bukan anak Tuhan lagi, Bapamu di surga sudah tidak mencintai engkau lagi, apa yang engkau minta dariNya toh Dia tidak beri.’ Dalam perjalanan hidupmu yang begitu susah ikut Tuhan mungkin engkau mendengar suara-suara seperti itu. Tetapi Alkitab berkata ada suara yang lain yang juga selalu akan berkata di dalam hati kita, ‘engkau adalah anak Allah.’ Roh Kudus bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Roma 8:16). Di dalam proses perjalanan kita bergaul dengan Tuhan kita melihat ayat ini betapa indah. Pertama, Roh Kudus hadir dan tinggal di dalam diri kita, Dia tidak take over kontrol dalam diri kita sehingga kita kehilangan personalitas kita, sama sekali tidak. Dia ada di samping kita, Dia bekerja membimbing kita, mendampingi kita, menggerakkan dan menggairahkan kita. Namun di dalam personalitas kita, kita bisa mengikuti keinginan duniawi atau kita ikut dan tinggal di dalam ketaatan kepada RohNya yang kudus. Di dalam perjalanan seperti itu ayat ini mengingatkan kita jangan kita mendukakan Roh Kudus. Mendukakan berarti pada waktu Dia berkata-kata, pada waktu Dia mengingatkan sesuatu di dalam hati kita, kita menolak, kita menyingkirkan Dia dan tidak taat kepadaNya.

Paulus berkata, jangan menilai orang lain dan jangan juga menerima bulat-bulat penilaian orang kepada kita, itu bukan hal yang paling penting. Yang paling penting adalah bagaimana kita menilai segala sesuatu dengan kacamata bagaimana Roh Allah itu menilainya. Pada waktu hati kita ditegur oleh RohNya yang Kudus, pada waktu kita melihat ada sesuatu yang tidak benar, kita adalah orang-orang yang telah dipimpin Roh Kudus memiliki satu kerendahan hati, belajar untuk merendahkan diri dan taat dan selalu bertanya kepada Tuhan apakah yang kita kerjakan bagi Tuhan ini sungguh-sungguh memang Tuhan ingin kita kerjakan? Apakah semua yang kita lakukan ini, apakah semua yang kita pikirkan ini apakah itu sesuatu yang Tuhan mau, yang Tuhan inginkan, yang menjadikan nama Tuhan dipermuliakan? Di situlah kita itu menjadi manusia rohani.

Kedua, Paulus berkata seorang manusia rohani memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16). Kata “kami” berarti bukan hanya Paulus dan sebagian orang secara eksklusif saja, tetapi ini menjadi milik kita bersama, seorang manusia rohani adalah seorang yang memiliki pikiran Kristus. Seorang hamba Tuhan bernama Richard Foster berkata, “Memiliki pikiran Kristus berarti kita memiliki ‘lifestyle’ seperti Kristus, bukan itu saja, kita juga memiliki rule, tingkah laku kita, tidak abstrak sebab kita punya pola cermin waktu kita berjalan, waktu kita melayani Tuhan, dan pada waktu kita tidak seturut sama dengan lifestyle dan cara Tuhan kita melayani, kita kehilangan pikiran Kristus itu.

Ada satu kejadian yang memprihatinkan saya, seorang hamba Tuhan dipecat oleh gerejanya karena selain dia melayani jemaat yang ada, dia juga memiliki cinta kasih dan berbeban melayani orang-orang yang ada di luar, yang terbuang dan outcast. Dia menginjili orang-orang yang homeless, dia pergi di depan nightclub menjumpai orang-orang yang putus asa, kecewa terhadap hidup, yang kena drug, dia ajak berbicara, dia tolong, dia Injili, dia menggunakan waktunya dan usahanya supaya orang-orang ini boleh mengenal dan percaya Tuhan. Dan ada di antara mereka percaya Tuhan, ada di antara mereka yang akhirnya melepaskan diri dari kecanduan obat bius lalu mereka dibawa oleh pendeta itu ke gerejanya. Tetapi celakanya gereja dia tidak sanggup menerima orang-orang seperti itu dan hamba Tuhan ini dipecat mereka. Akhirnya dia support hidupnya dengan bekerja menjadi tukang kebun untuk hidup menjadi hamba Tuhan tetapi jiwa dan beban pelayanannya tetap melayani orang-orang seperti itu. Di situ kita melihat pikiran Kristus ada pada diri orang seperti ini. Gereja tidak boleh kehilangan aspek ini. Kita tidak boleh jatuh kepada “one dimension side” di dalam setiap pelayanan kita. Mungkin kita tidak sanggup mengerjakan tetapi hati kita tidak boleh tertutup untuk melihat dengan cara bagaimana Kristus melihat segala sesuatu. We have the mind of Christ, kita punya lifestyle Kristus, cara Kristus berpikir, cara Kristus melayani. Di situlah Gereja menjadi oasis rohani sebab di dalamnya anak-anak Tuhan hadir sebagai manusia-manusia rohani adanya.

Paulus berkata dengan sedih “…waktu itu tidak dapat berbicara seperti kepada manusia rohani,” entah berapa lama selang waktunya “dan sekarang pun kamu masih belum dapat menerimanya karena kamu masih manusia duniawi…” betapa painful kalau sudah lewat lima tahun, sepuluh tahun, tetap mereka masih kekanak-kanakan secara rohani. Dimanakah letak perbedaan seorang manusia rohani dengan manusia duniawi? Di sini perbedaannya, “sebab masih ada iri hati dan perselisihan di antara kamu.” Paulus bicara jelas perbedaan antara orang Kristen yang masih berprilaku sebagai manusia duniawi dengan mengatakan “susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras” jelas yang diangkat di sini point ketiga adalah ciri kekanak-kanakan di situ adalah iri hati atau jealousy, dan perselisihan atau strife. Satu ketidak-mampuan untuk duduk sama-sama menyelesaikan masalah yang ada. J. Oswald Sanders mengatakan “when you always want to pick a fight and never want to solve a problem you will never become a spiritual leader.”

Sebagai hamba Tuhan kita juga harus belajar tidak boleh mempunyai keinginan pemikiran bersifat jealousy di dalam pelayanan. Paulus bilang karena dia tahu ada keunikan panggilan yang berbeda “aku menanam, Apolos menyiram…” Yang rasa hebat sebenarnya adalah yang memetik, karena langsung kelihatan hasilnya konkrit. Tetapi yang memetik jangan lupa, sebelumnya ada orang yang menanam, ada orang yang menyiram, ada yang memberi pupuk. Tetapi yang terpenting dan terutama ada Allah yang memberi pertumbuhan dan pelayanan itu adalah milik Allah selama-lamanya. Mak, Paulus bilang, kenapa kamu harus iri? Kenapa kamu harus berselisih?

Kalimat ini menjadi mengejutkan luar biasa, “Apa itu Apolos? Apa itu Paulus?” Ini bukan untuk menghina atau tidak menghargai orang dan apa yang telah dikerjakannya, tetapi pertanyaan ini penting luar biasa sebab di situ dia menempatkan orang yang melakukan sesuatu dan itu dia lakukan bagi Tuhan, kita senantiasa harus menjadikan Allah kita yang diagungkan, ditinggikan, dimuliakan selama-lamanya.

Oswald Sanders memberikan apresiasi kepada seorang pionir misionari ke Burma yaitu Adoniram Judson. Dia adalah seorang yang hebat dan brilliant, membuat dictionary Inggris – Burma yang sampai sekarang masih berguna, itu adalah satu sumbangsih yang begitu besar bagi masyarakat Burma. Selama berpuluh tahun dia melayani, hanya satu orang saja yang bertobat tetapi itu tidak mengecilkan hatinya. Dia menjadi seorang hamba Tuhan yang memiliki “self-forgetfulness,” tidak mau diingat.

Apa itu Apolos? Apa itu Paulus? Apa itu? Satu jiwa yang pneumatikos adalah orang yang ingat apa yang baik yang engkau terima dan tidak mau ingat-ingat apa yang baik yang engkau kerjakan, tidak pernah menjadi sesuatu yang melekat di dalam pikirannya. Self-forgetfulness menjadi ciri dari seorang manusia yang rohani adanya. Self forgetfulness adalah orang-orang yang senantiasa melihat apa yang dia kerjakan, yang baik yang dia lakukan itu adalah nama Tuhan yang agung dan mulia yang ditinggikan. Mereka sebisa mungkin membuat jasa-jasanya tidak diingat orang, tetapi mereka tidak mampu membuat Tuhan melupakan semua yang mereka kerjakan. Itulah sebabnya Tuhan berkata, satu cangkir gelas air sejuk kepada orang yang paling hina Tuhan tidak pernah melupakannya. Mungkin kita sudah lupa itu dan kita tidak pernah mau mengingat-ingatnya, namun Allah tidak pernah melupakannya.

Dengan demikian manusia rohani adalah seseorang yang selalu mengingat kebaikan apa yang telah aku terima dan tidak pernah mengingat hal apa yang baik yang aku kerjakan bagi Tuhan. Jika itu tertanam kuat, kita tidak pernah strifing karena kita tahu Tuhan memberi orang dengan anugerah yang berbeda-beda. Kita tidak akan pernah jealous lagi sebab kita tahu di situ menjadi satu rangkaian indahnya Tuhan bekerja sama-sama. Puji Tuhan! Itulah sebabnya Gereja Tuhan menjadi oasis yang indah sebab semua yang datang bukan berpikir apa yang akan aku terima; semua datang dengan berpikir apa yang bisa aku berikan kepadamu. Dengan demikian setiap orang yang datang pasti akan dikenyangkan sebab ada orang-orang luar yang datang ingin disegarkan, dia mendapatkan kesegaran itu sebab semua orang yang datang ke rumah Tuhan ingin menyegarkan orang. Orang-orang yang mengalami kekecewaan datang ke rumah Tuhan pasti akan dikenyangkan oleh oasis rohani sebab semua orang yang datang ke dalam rumah Tuhan ingin menyembuhkan orang seperti itu. Orang-orang yang dikucilkan oleh dunia dan ditertawakan oleh dunia, dia datang ke rumah Tuhan, mereka akan disayang dan dipeluk oleh oasis rohani ini sebab semua orang yang datang ke rumah Tuhan ini ingin memeluk dan mencintai orang seperti ini. Di situlah itu yang namanya Gereja.

Tetapi menangislah gereja kalau yang terjadi seperti gereja di Korintus ini, bukan? Orang itu mau datang ke rumah Tuhan untuk menikmati hal rohani, yang dijumpainya adalah manusia-manusia duniawi. Yang ingin lepas dari pertikaian dan strifing dari dunia yang menggencetnya, sampai di rumah Tuhan ketemu dengan orang-orang yang penuh dengan perselisihan, sedih dan hancurlah dia sebab rumah Tuhan tidak menjadi oasis yang menguatkan, menyelamatkan, menyembuhkan, menghibur, menyegarkan dan mencintai orang.

“Karena yang penting bukanlah siapa yang menanam, bukanlah siapa yang menyiram melainkan siapakah Allah yang memberi pertumbuhan.” Masing-masing kita yang menanam, yang menyiram, indah sama-sama karena masing-masing kita akan menerima upah dari Tuhan berdasarkan pekerjaan kita masing-masing. Biarlah di hadapan Tuhan kita masing-masing berdoa, Tuhan jadikan aku manusia rohani, supaya dari tutur kataku dan tingkah lakuku orang-orang lain bisa menjadi manusia rohani dan nama Tuhan diagungkan dan dimuliakan. Jadikan gerejaMu menjadi oasis rohani, yang sakit disembuhkan; yang dahaga dipuaskan, yang lemah dikuatkan, yang lapar dikenyangkan. Kiranya Tuhan memegang tangan setiap kita dan menjadikan kita sebagai anak-anakNya yang mencintai dan mengasihi Tuhan selama-lamanya karena kita dikasihi oleh Tuhan, diberi dengan indah dan baik dan kita bersatu padu bergandeng tangan bekerja bagi Tuhan.(kz)