ARMAGEDDON, THE DAY OF THE LORD

ARMAGEDDON, THE DAY OF THE LORD

2 Petrus 3:8-13

Pdt. Effendi Susanto STh.

Orang sering terusik kuriositas rasa ingin tahunya setiap kali mendengar kata “kiamat” atau “Armageddon.” Maka tidak heran seminar-seminar yang membicarakan topik ini selalu ramai dan penuh sesak oleh pengunjung. Semua orang ingin tahu misteri apa yang ada di balik kata ini. Padahal sejujurnya, tidak ada misteri apa-apa. Alkitab begitu gamblang dan terbuka bicara mengenai kiamat ‘Armageddon Day’ ini. Tidak ada misteri, tidak ada rahasia, tidak ada hal yang ditutupi. Alkitab mengingatkan kepada kita bahwa ada sesuatu hari, ada sesuatu masa akan menjadi hal yang menakutkan bagi semua manusia sebab itu adalah hari dimana Tuhan akan datang. Tetapi bagi anak-anak Tuhan, hari Tuhan bukan sesuatu yang menakutkan dan menghancurkan, tetapi justru itu menjadi hari bahagia dimana Tuhan kita Yesus Kristus datang kembali, hari itu semua yang kita alami selama di dunia, derita, air mata, itu akan dihapus selesai. Pengharapan menanti-nantikan Dia selesai sudah.

Pada waktu mata murid-murid memandang ke langit melihat Yesus naik ke surga, muncullah malaikat di depan mereka dan berkata, “Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” (Kisah Rasul 1:11). Rasul Petrus mengingatkan, hari Tuhan itu pasti akan tiba. Tetapi di tengah perjalanan menantikan Yesus Kristus datang kembali, mungkin banyak orang merasa Dia tidak datang-datang juga, mereka mengira Tuhan sudah lupa akan janjiNya. Itu yang juga telah terjadi di tengah penderitaan dan kesulitan yang terjadi pada jemaat, di tengah iman yang sudah makin lemah, kelepasan yang Tuhan janjikan kenapa tidak datang-datang juga dan mungkin itu melemahkan iman dari sebagian orang Kristen. Maka rasul Petrus mengingatkan, jangan kita lupa sesungguhnya kitalah yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bagi kita seribu tahun itu seribu tahun; tetapi bagi Tuhan seribu tahun itu bagaikan satu hari. Jangan merasa Tuhan lalai, karena satu kali kelak Tuhan Yesus akan datang kembali.

Saya ingin mengajak sdr melihat perspektif apa yang terjadi di dalam hidup kita dengan satu perspektif yang membawa kekuatan dan kelegaan bagi hati kita. Pada waktu hari Tuhan itu datang, bagaimana kita mengertinya, itu memberikan pengaruh kepada seluruh perjalanan hidup kita. 2 Petrus 3:11 mengingatkan bagaimana pada hari Tuhan itu, ‘what kind of fear, what kind of respect’ yang seharusnya muncul di dalam hati kita. “Jadi jika segala segala sesuatu itu akan hancur sedemikian rupa, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.” Hari Tuhan itu memang menjadi hari yang menakutkan bagi orang yang tidak percaya, tetapi hari Tuhan itu menjadi hari yang sungguh menyenangkan dan menjadi sukacita bagi setiap kita, hari dimana Yesus Kristus datang kembali ke dalam dunia milik kepunyaanNya.

Ada tiga karakteristik yang penting dari hari kedatangan Tuhan Yesus.

Yang pertama, hari itu akan bersifat personal “Dia” yang pernah datang dua ribu tahun yang lalu, “Dia” akan datang kembali. Yang kedua, pada waktu itu semua mata akan memandang Dia (Wahyu 1:7). Yang ketiga, kedatangan Yesus yang kedua tidak akan sama dengan kedatanganNya yang pertama. KedatanganNya yang pertama adalah kedatangan Anak Allah di dalam kesederhanaan, berbalut kain lampin dan berbaring di palungan yang hina di tengah keluarga yang tidak terlalu kaya. Tetapi pada kedatanganNya yang kedua Dia akan datang sebagai Raja yang mulia dan agung. Sekaligus hari Tuhan berarti itu adalah hari kebangkitan semua orang.

Sebagai orang percaya, betapa penting dan perlu kita memahami hal ini dengan benar, sehingga perspektif kita mengenai hidup dipimpin oleh pengertian yang benar. Dalam 1 Tesalonika 4:13-18 Paulus menjelaskan secara detail mengenai kebangkitan orang mati pada waktu Yesus datang kembali. Pada waktu itu orang yang masih hidup tidak lagi melewati proses kematian tetapi akan langsung diubah memiliki tubuh kemuliaan. Mereka yang sudah meninggal di dalam Tuhan, rohnya sudah bersama-sama Tuhan di Firdaus, namun tubuh mereka yang sudah hancur di kuburan baru akan dibangkitkan dan bersatu kembali dengan rohnya di dalam tubuh kebangkitan itu. Paulus mengatakan, “jangan kamu berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Tidak berarti orang Kristen tidak boleh berduka waktu orang yang dikasihi meninggal dunia. Yang dilarang oleh Paulus di sini adalah kita tidak boleh berduka seperti orang yang tidak punya pengharapan. Ketika kita meninggal dunia, kita pergi kepada Tuhan yang jauh lebih mengasihi dan mencintai kita, karena pada waktu hidup kita selesai di atas muka bumi ini kita ketemu Tuhan di sana, sudah tidak ada lagi air mata, sudah tidak ada lagi sakit, sudah tidak ada lagi hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Yang ada hanyalah sukacita yang penuh. Ayat 15, kalimat ini berarti mereka yang sudah lebih dahulu meninggal mendahului kita tidak akan menikmati lebih dahulu kesempurnaan kenikmatan bersekutu dengan Tuhan lebih daripada kita. Pada waktu nanti Yesus Kristus datang barulah sama-sama kita menikmati sukacita dengan penuh. Ayat 17, pada waktu Tuhan Yesus datang kembali, kita yang masih hidup akan diangkat bersama-sama dengan mereka yang sudah mati itu ke awan-awan untuk menyongsong Tuhan. Maksudnya, bukan seperti konsep Eskatologi Dispensationalist yang mengajarkan kita akan terbang di angkasa, lalu sampai di atas lalu ada yang namanya “Perkawinan Anak Domba” selama tujuh tahun, seperti film “Left Behind” yang mempunyai konsep ‘rapture.’ Di sini kekeliruan di dalam penafsiran. Konsep menyongsong Tuhan di angkasa sekali lagi harus dipahami karena kebudayaan dan tradisi Timur Tengah seperti itu pada waktu orang yang sangat dihormati datang. Seperti Melkisedek menyongsong Abraham; atau Lot menyongsong malaikat yang datang ke kota Sodom; atau seperti perwira di Kapernaum yang menyongsong Tuhan Yesus. Waktu orang yang datang ke rumah kita itu adalah orang yang lebih tinggi posisinya dan lebih agung dan lebih mulia betapa kurang ajarnya kita kalau kita hanya menunggu di depan pintu rumah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus begitu agung dan mulia dan kita menyongsong kedatanganNya di angkasa. Yang datang ialah Raja di atas segala raja, Tuhan akan turun dari surga, maka waktu Dia turun kita semua menyongsong Dia.

Waktu hari Tuhan datang, terjadilah kebangkitan kita sebagai orang percaya dan juga akan terjadi kebangkitan yang universal. Mereka yang memberontak dan tidak percaya Tuhan hari itu juga akan dibangkitkan dan mendapatkan tubuh kebinasaan, di dalam segala penyiksaan api neraka bagi mereka dan bagi Iblis dan sekutu-sekutunya. Itu adalah saat dimana Tuhan membuang mereka jauh-jauh dari hadapan Tuhan. Tetapi dunia yang ditebus olehNya akan menjadi tempat dimana kita tinggal bersama-sama dan Allah hadir bersama-sama kita untuk selama-lamanya. Kita meninggal di dalam tubuh yang hina, yang akan hancur dan rusak, tetapi sesudah kebangkitan kita akan memiliki tubuh kemuliaan yang tidak lagi binasa dan tidak akan pernah mati lagi.

Hari Tuhan bukan saja hari kebangkitan bagi kita; hari Tuhan juga berarti hari pengadilan Tuhan secara adil terjadi kepada semua orang. Segala keadilan Tuhan yang sebelumnya tertunda akan digenapkan sepenuhnya. Pada hari itu mungkin ada orang yang selama di dunia ini sampai dia mati terus-menerus melakukan kejahatan dan merugikan orang lain, nanti pada hari penghakiman dia akan mendapatkan balasannya. Hari Tuhan bukan lagi menjadi hari penghukuman bagi kita tetapi tetap menjadi hari penghakiman bagi kita. Dalam 2 Korintus 5:10 Paulus mengatakan kita semua harus berdiri di depan tahta pengadilan Allah, mempertanggung-jawabkan hidup kita selama di dunia ini. Wahyu 20:12-13 mengatakan di hadapan semua orang akan terbuka satu kitab yang memperlihatkan semua perbuatan mereka selama di dunia. Semua akan dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Kita semua akan menghadap tahta pengadilan Kristus; apa yang baik, apa yang tidak baik kita kerjakan akan diadili oleh Tuhan. Allah yang adil akan memberi kepada kita seturut dengan apa yang kita lakukan di dalam hidup ini. Maka Paulus mengingatkan bagaimana kita seharusnya membangun hidup kita, apakah itu dibangun dengan rumput dan jerami yang kering ataukah dibangun dengan batu permata yang tidak mungkin bisa dimusnahkan dengan api (1 Korintus 3:10-15). Juga Petrus mengingatkan biar hidup kita jalani dengan hormat, respek dan tulus dan takut akan Tuhan sebab pengadilanNya akan bersifat adil adanya. Di atas muka bumi ini ada keadilan-keadilan Allah yang tertunda; ada orang yang benar namun tidak pernah dibenarkan; ada orang yang salah tidak pernah dipersalahkan; ada orang yang mengalami ketidak-adilan tidak pernah dimenangkan. Tetapi kelak waktu kita bertemu dengan Tuhan semua itu tidak akan terjadi lagi. Orang yang melakukan begitu banyak kebaikan di dalam hidup ini tidak mendapat pujian dan kehormatan, ada orang yang mengambil dan merebut pujian dan kehormatan yang tidak sepatutnya; satu kali kelak semua itu tidak terjadi lagi. Maka kejarlah apa yang agung, apa yang mulia, nyatakanlah cintamu yang lebih besar kepadaNya, dan itu akan menjadi satu ‘reward’ yang tidak mungkin bisa direbut dan diambil oleh siapapun.

Hari Tuhan datang itu berarti hari dimana Dia meng-inaugurasi ‘the new heaven and the new earth.’ Yesaya 65:17-25 menggambarkan konsep ‘new heaven and new earth’ di situ. Demikian juga 2 Petrus 3:13 dan Wahyu 21:1-3 juga menyebutkan hal yang sama, langit dan bumi yang baru dimana yang ada hanyalah kebenaran di situ. Kota yang kudus, Yerusalem baru turun dari langit dan tabernakel Allah ada bersama-sama dengan umatNya. Sekarang ini bumi yang dicipta olehNya tidak mungkin bersatu dengan surga tempat kediaman Allah sebab ada dosa yang memisahkan kita. Tetapi Allah tetap ingin untuk bersama-sama dengan kita, maka Ia mulai dengan menyatakan diri dengan simbol hadirnya kemah suci sebagai tabernakel, Allah mau tinggal dengan umatNya. Dalam Yohanes 1:14 dikatakan, “Firman itu menjadi daging dan diam di tengah-tengah kita…” Kata ‘diam’ yang dipakai dalam bahasa Yunaninya adalah menerjemahkan kata tabernakel ini, sehingga konsep tabernakel ini memperlihatkan kehadiran Yesus Kristus di dalam dunia menjadi satu ‘foretaste’ Allah akan tinggal diam bersama-sama dengan kita. Sehingga waktu Yesus mati di atas kayu salib menyelesaikan penebusan dosa bagi kita, maka tirai ruang maha kudus di bait Allah sobek melambangkan tidak ada lagi separasi yang memisahkan kita dengan Allah. Maka kita tunggu hari Tuhan datang, dimana langit dan bumi yang baru bersatu dan kota Yerusalem yang suci turun dan finalitas Allah tabernakel selama-lamanya bersama dengan kita.

Film-film mengenai Armageddon umumya adalah film-film yang terlalu dipengaruhi oleh konsep Premillenium kaum Dispensationalist dimana seolah-olah ada komet menabrak sehingga bumi hancur lebur lalu ada ledakan nuklir menghancurkan segala sesuatu lalu kita semua terbang ke surga. Tidak seperti itu yang dikatakan oleh Alkitab. Allah kita adalah Allah yang maha kuasa. Kalau dunia yang pada mulanya Allah ciptakan begitu sempurna adanya, kemudian dirusak oleh Setan dan dosa dan Allah tidak sanggup merestorasinya, secara implisit berarti kuasa Setan lebih besar daripada kuasa Allah. Memang lebih mudah bagi Allah untuk menghancurkan dunia yang sudah rusak ini dan membuat satu dunia yang baru, tetapi Tuhan tidak melakukan hal seperti itu. Ia akan memperbaharui dunia yang sudah dirusak Setan dengan satu penebusan sehingga menjadi bumi yang baru. Di dalam hal ini penafsiran ini penting, sebab kita menemukan cara penerjemahan 2 Petrus 3:10 yang terjemahan bahasa Indonesia belum memperbaikinya. “Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan segala yang di atasnya akan hilang lenyap…” Kata ‘hangus dalam nyala api’ dan ‘segala yang di atasnya akan hilang lenyap,’ memberikan satu gambaran bahwa pada hari Tuhan semua akan hancur lebur dan lenyap dibakar dan dimusnahkan. Tetapi terjemahan bahasa Inggris yang terbaru menerjemahkannya sebagai satu tindakan Allah akan menyucikan bumi ini dan bumi ini akan di-‘exposed’ dan terbuka telanjang dan tidak mungkin tertutupi. Konsep ini sinkron dengan perkataan Petrus di dalam 1 Petrus 1:7 karena memakai kata yang similar di situ, “Semuanya ini untuk membuktikan kemurnian imanmu yang diuji kemurniannya dengan api…” Jadi kita mengalami kesulitan dan penderitaan itu sebenarnya seperti api yang menguji iman kita, iman kita bukannya luntur tetapi justru makin suci dan murni adanya. Maka dua kalimat ini sebenarnya sama. Kenapa terjadi penerjemahan yang berbeda? Karena LAI dan King James Version menerjemahkan Alkitab dengan mengacu kepada salinan manuskrip Alkitab yang dianggap tertua yang kita miliki pada waktu itu, sedangkan beberapa terjemahan bahasa Inggris yang terbaru telah menemukan salinan manuskrip yang jauh lebih tua lagi dan dari sana menerjemahkan kata yang ternyata berbeda salinannya. Sehingga kata “obscure” disini lebih tepat diterjemahkan dengan kata ‘terbuka dan akan terpampang semuanya.’

Maka pengertian dari 2 Petrus 3:10 adalah bumi ini akan disucikan dan dikuduskan oleh Allah, sehingga menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan.

Wahyu 21:20 kita bisa melihat satu perbandingan yang sangat unik dengan Kejadian 1-2. Di dalam Kejadian, Tuhan menciptakan ‘taman’ Eden; tetapi di langit dan bumi yang baru yang turun adalah ‘kota’ suci Yerusalem. Di taman Eden terdapat banyak emas dan batu permata yang mulia, demikian juga di kota Yerusalem ada banyak emas dan batu permata. Di tengah taman Eden ada sungai yang mengalir, demikian juga di kota suci Allah ada sungai air kehidupan mengalir. Di taman Eden ada pohon Kehidupan yang dijaga dengan kerub yang berpedang menyala-nyala, dan di kota Yerusalem yang baru pohon Kehidupan itu ada. Tetapi ada beberapa perbedaan yang kita perhatikan. Taman adalah natur yang Tuhan ciptakan menjadi indah di dalam kreatifitas Tuhan. Kota adalah tanda dari kreatifitas manusia yang diciptakan oleh Tuhan menghasilkan sesuatu yang digunakan mengelola natur yang Tuhan sudah cipta menjadi indah adanya. Tuhan tidak akan membuang ‘culture’ karya kreatifitas manusia itu. Tuhan tidak membawa kita kembali ke taman Eden, tetapi kota Yerusalem. Anggur adalah natur, tetapi ‘wine’ adalah kultur. Gandum adalah natur, tetapi roti adalah kultur. Maka nanti pada perjamuan terakhir dengan Anak Domba Allah, kita tidak makan buah anggur dan biji gandum, tetapi kita akan menikmati roti dan wine. Di taman Eden manusia telanjang, tetapi nanti di kota Yerusalem baru kita semua akan berpakaian baju, hasil dari kultur. Sound is nature, music is culture.

Kolose 3:23-24 Paulus mengingatkan, apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah itu dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan sebagai upah bagimu, satu upah yang kekal adanya. Jadilah seorang dokter Kristen yang baik, jadi businessman yang baik, jadi orang tua yang baik, jadi pelajar yang baik, jadi anak yang cinta Tuhan, pergunakan musik bagi Tuhan, pakai semua keuntunganmu bagi hormat kemuliaan Tuhan, lakukan segala sesuatu demi untuk Tuhan, maka pekerjaan kita tidak akan pernah sia-sia. Segala kehebatan manusia kalau itu hanya untuk memuaskan diri dan bagi kepentingan diri sendiri, satu kali kelak api Tuhan menyala, semua itu akan hangus terbakar. Segala sesuatu yang engkau kerjakan bagi dan untuk kemuliaan Tuhan, walaupun itu tidak terlihat oleh orang lain, waktu api Tuhan datang, semua itu akan ter-exposed. Itu sebab mengapa hari Tuhan itu menjadi hari yang penting di sini. Terakhir, di hari Tuhan nanti semua kita akan ‘rest,’ rest tidak boleh dimengerti sebagai sikap ‘lazy’ and  ‘inactive.’ Bukan berarti nanti di langit dan bumi yang baru kita tinggal ongkang-ongkang kaki lalu bilang, “Hei monyet, ambilkan pisang buat aku.” Kerja adalah bukan akibat dosa. Ingat baik-baik, sebelum dosa masuk ke dalam dunia, Tuhan telah memberi tugas kerja kepada Adam. Berarti apakah nanti di langit dan bumi yang baru kita tetap bekerja? Ya. Di langit dan bumi yang baru kita tetap makan? Ya. Tetapi semua itu bukan lagi untuk men-sustain hidup kita, tetapi ‘to enjoy God forever and ever.’

Biar kita sadar satu kali kelak kita akan bertemu Tuhan, itu adalah hari dimana kita menggantikan pekerjaan yang sia-sia, pekerjaan yang kadang-kadang tidak adil, melelahkan, meletihkan hidup kita, menjadi pekerjaan yang indah, agung, mulia dan penuh dengan sukacita. Di situlah hari dimana kita boleh menikmati semua yang menjadi anugerah pemberian Tuhan kepada kita.