Sungut-sungut akibat Hati yang Iri

Sat, 24 May 2014 23:46:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Bilangan (2)

Nats: Bilangan 12:1-16

 

Dalam surat Yakobus kita diingatkan betapa tidak mudah dan tidak gampang seseorang bisa mengontrol satu bagian anggota tubuh yang kecil dan tidak bertulang itu, yang namanya lidah (Yakobus 3:8). Seringkali kita tidak sadar hal yang seolah kecil dan sepele itu, keluarnya kata-kata keluhan, ekspresi sungut-sungut, ketidak-puasan, kata-kata gerutu yang keluar dari mulut kita. Dan kita tidak merasa sungut-sungut itu sebagai sesuatu yang berbahaya, karena kita tidak memukul orang dan tidak ada bekas biru lebam dan berdarah dari seseorang; kita tidak melakukan sesuatu secara fisik menghantam dan menyerang orang lain. Itulah sebabnya terkadang sungut-sungut, kata-kata yang keluar itu terlalu gampang dan terlalu mudah mengalir begitu saja tanpa orang memikirkan ‘impact’ dan bahaya yang dihadapi dari sungut-sungut itu. Justru sungut-sungut yang keluar dan menjadi satu fenomena yang rutin dalam hidup seseorang memperlihatkan ada suatu persoalan rohani, satu ketidak-beresan rohani sedang terjadi di dalam hidup orang itu. Maka kita bisa memahami betapa seriusnya peringatan Yakobus akan hal ini. Bagaimana bisa hidup yang rohani ini yang seharusnya dari situ keluar kata-kata rohani yang baik, kata-kata yang membangun, kata-kata yang memberkati, pada saat yang sama keluar kata-kata yang mengutuk orang? Yakobus ingatkan, tidak boleh dari pohon yang satu keluar dua buah yang berbeda (Yakobus 3:9-12).

Dua kasus dalam Bilangan 11 dan 12 ini menjadi dua kasus yang penting di dalam perjalanan bangsa Israel. Kasus pertama adalah sungut-sungut berkaitan dengan kondisi hidup yang tidak terlalu nyaman di padang pasir yang terik panas setengah mati. Tetapi Alkitab mencatat setiap pagi Tuhan memberi manna kepada mereka; mereka tidak kekurangan makan; mereka berkecukupan di dalam perjalanan itu. Mereka tidak perlu menanam, mereka tidak perlu bekerja untuk mendapatkan manna itu. Tetapi makanan yang sehari-hari mereka terima dengan mudah itu tidak lagi menjadi berkat dan anugerah berharga, dan tidak lagi dilihat sebagai mujizat yang turun dari langit, mereka mencela dan menghinanya.

Kasus kedua di Bilangan 12 sungut-sungut ini terjadi di kalangan ‘elite’ paling atas, dari “orang kedua” yang namanya Harun dan yang ‘unofficially’ adalah “orang ketiga” yaitu Miriam. Mereka bukan orang lain, tetapi kakak kandung Musa sendiri.

Musa mungkin “agak sungkan” mencatat bagian ini tetapi Tuhan ingin kita melihat dan belajar sama-sama apa artinya sungut-sungut itu berkaitan dengan reaksi kita kepada orang lain dan bagaimana Tuhan mengajar kita di tengah-tengah situasi seperti ini belajar menahan diri dan bertumbuh menjadi anak Tuhan atau orang Kristen yang boleh menjadi berkat yang luar biasa.

Kenapa Miriam dan Harun bersungut-sungut? Belakangan kita tahu Miriam yang mendapatkan tulah hukuman dari Tuhan, maka dari situ kita tahu sumbernya adalah Miriam. “Miriam dan Harun mengatai Musa…” (Bilangan 12:1), apa alasan yang dipakai oleh mereka mengata-ngatai Musa? Alkitab mencatat dengan sederhana, “berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya.” Alkitab tidak menyebut nama perempuan Kush ini siapa. Yang kita tahu sebelumnya Musa lari ke tanah Midian dan menikah dengan Zipora, yang disebut perempuan Midian (Keluaran 3:21). Data yang tidak terlalu jelas ini menimbulkan kesulitan di antara penafsir apakah ini wanita yang sama yaitu Zipora ataukah ada isteri yang lain yang dinikahi oleh Musa? Apakah Zipora sudah meninggal sehingga ini adalah pernikahan Musa yang kedua? Apakah waktu Yitro mertua Musa selesai mengunjungi Musa dan kembali ke Midian, Zipora pulang bersama ayahnya sehingga Musa tersendiri di situ lalu kemudian dia menikah lagi dengan perempuan Kush ini? (band. Keluaran 18:2) Ataukah Midian dan Kusy itu adalah dua nama sebutan yang sama, sehingga berarti di sini yang “dikata-katai”oleh Miriam adalah Zipora, dengan mencari-cari “case” alasan berdasarkan apa untuk mengata-ngatai Musa? Apakah ini dalam konteks kasus Musa baru menikah dengan seorang perempuan Kush, ataukah ini kasus lama, ketidak-cocokan Miriam dan Zipora yang kemudian memuncak menjadi peristiwa yang dicatat di sini?

Yang memegang penafsiran yang dimaksud perempuan Kush adalah Zipora merujuk Habakuk 3:7 “Aku melihat kemah-kemah orang Kusyan tertekan, kain-kain tenda tanah Midian menggetar…” Ini adalah penulisan Habakuk yang mensejajarkan Kusyan dan Midian. Dan dalam PL daerah Kush itu meliputi dua lokasi terpisah: Midian dan Etiopia. Saya cenderung melihat yang dimaksud perempuan Kush ini adalah perempuan yang sama yaitu Zipora. Kenapa Miriam menyebutnya “perempuan Kush” sangat besar kemungkinan dia ingin mengangkat soal perbedaan warna kulit. Kulit Zipora berwarna hitam. Nanti Tuhan memberi hukuman kepada Miriam dengan kusta yang membuat kulitnya putih seperti salju, sekedar menjadi satu teguran oleh Tuhan (Bilangan 12:10).

Jadi apa alasan iri hati terjadi? Ada perbedaan etnis, latar belakang suku, perbedaan kulit dari pernikahan Musa dengan wanita itu. Kalau itu adalah Zipora, itu adalah pernikahan yang sudah begitu lama lewat, semua rakyat sudah tahu dan ‘understood.’ Jadi dengan demikian kita bisa tahu ada maksud, rencana dan keinginan dari Miriam dan Harun untuk menggunakan pernikahan Musa yang sudah lama lewat itu sebagai sekedar sebenarnya satu tameng saja dengan maksud dan tujan konspirasi yang lebih besar daripada itu.

Tetapi kita bisa melihat aspek perbedaan warna kulit, perbedaan latar belakang sanggup bisa membuat prasangka buruk terhadap orang yang berbeda. Lalu dengan sikap ‘prejudice’ itu dengan tanpa pikir lagi kita cepat sekali untuk mengasosiasikan orang tertentu atau karakter orang tertentu berdasarkan perbedaan-perbedaan seperti itu, padahal tidak sepatutnya dan tidak seharusnya kita seperti itu. Ini adalah satu aspek kebahayaan yang harus kita sadari.

Yang kedua, mereka berkata “Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja?

Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman? Dan kedengaranlah hal itu kepada Tuhan” (Bilangan 12:2). “They said and He heard” itu kata yang dipakai memberitahukan kepada kita Miriam dan Harun tidak mengatakan hal itu secara langsung kepada Musa. Mereka mengatakan hal itu kepada rakyat yang ada di sekitar situ.

Dalam Bilangan 11 penyebab bangsa Israel bersungut-sungut soal makanan, dimulai dari kelompok orang yang dicatat Alkitab “hasapsup” yaitu kelompok orang asing, yang lain ras, yang tingggal di luar perkemahan akhirnya menular kepada bangsa Israel yang minta daging kepada Tuhan. Peristiwa itu akhirnya menyebabkan sebagian besar orang-orang itu mati binasa di dalam kerakusan mereka. Mudah sekali rakyat terpengaruh sungut-sungut dari Miriam dan Harun sebab mereka sudah punya nada miring ‘gara-gara orang asing hidup kami jadi susah.’ Sekarang mereka angkat kasus Musa menikah dengan orang asing. Saya percaya kalimat “maka kedengaranlah hal itu kepada Tuhan” memperlihatkan betapa terpojoknya posisi Musa di situ. Musa menulis sendiri peristiwa ini dengan menambahkan kalimat “sebab memang dia telah mengambil seorang perempuan Kush” (ayat 1b). Mari kita lihat aspek fakta itu dipakai oleh Miriam dan Harun untuk membangkitkan rasa sentimen rasial. Pemimpin-pemimpin yang lain menikah dengan bangsa sendiri, tetapi ini Musa menikah dengan orang asing.

Dari sikap ini membuat kita sebagai orang Kristen juga senantiasa harus waspada dan hati-hati dengan bahaya legalisme, khususnya berkaitan dengan apa yang Alkitab katakan lalu kemudian kita pikir itu sesuatu yang harus dengan kaku kita pegang. Alkitab memang mengatakan, “jangan menikah dengan orang Kanaan,” jangan menikah dengan bangsa asing supaya jangan sampai dewa-dewa bangsa asing itu membuat engkau melupakan Yahweh dan menyembah dewa asing itu (band. Keluaran 34:14-16, Ulangan 7:3-4). Inti larangan itu memperingatkan mereka supaya tidak meninggalkan Tuhan namun tidak berarti kita tidak menemukan di dalam Alkitab ada orang-orang asing yang menikah dengan orang-orang Israel dan hidup mereka indah dan baik dan mencintai Tuhan dan Tuhan memberkati mereka.

Ada Rahab, ada Rut, mereka adalah orang-orang asing dari bangsa lain. Jadi berdasarkan ‘term’ kalimat jangan menikah dengan orang asing, sebagian orang yang ada pada waktu itu tentu bisa mempersalahkan koq Musa sendiri tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan. Namun Musa

mencatat fakta ini: aku menikah dengan orang asing dan pernikahanku membawa orang-orang asing itu akhirnya mengenal Tuhan orang Yahudi yang aku sembah dan percaya (band. Keluaran 18:9-12). Paulus di dalam pelayanan memiliki beberapa rekan kerja, salah satunya adalah Timotius yang merupakan anak dari suatu pernikahan campur antara ayah yang orang Yunani dan ibu yang orang Yahudi. Tetapi karena pelayanan yang dilakukan oleh Paulus bersama Timotius itu lebih banyak kepada orang Yahudi maka di dalam Kisah Rasul 16:3 dicatat Paulus menyunatkan Timotius cara itu lebih mudah bagi Timotius melayani di kalangan budaya orang Yahudi. Tetapi ada rekan-rekan Paulus yang lain yang bukan orang Yahudi, di antaranya adalah Titus. Paulus tidak menyunatkan Titus dan Paulus tegas tidak menerima tekanan dari orang-orang Kristen Yahudi untuk melakukan hal itu (band. Galatia 2:3-5). Dari kasus ini kita melihat Paulus mmegang prinsip yang penting luar biasa, pada waktu dia menyunatkan Timotius, bukan sunat itu yang penting tetapi dengan cara seperti itu Paulus mau setidak-tidaknya pelayanan Timotius bisa menjangkau lebih banyak orang Yahudi. Tetapi kepada tekanan orang-orang Kristen Yahudi di Galatia, Paulus tegas tidak mau menyunatkan Titus karena memang bukan sunat yang menyelamatkan seseorang dan dengan itu Paulus memberitahu orang-orang Yahudi Kristen bukan sunat yang menyelamatkan dan Paulus tidak menyunatkan Titus karena jelas Paulus mengutus Titus pergi melayani ke tempat-tempat orang non Yahudi bisa lebih banyak dijangkau olehnya.

Sikap legalistik yang terlalu keras kepala mempertahankan aturan dan tradisi manusia di dalam pelayanan gereja seringkali menjadi satu problem besar. Sehingga kita lebih mencintai aturan dan tradisi akhirnya melukai orang lain dengan tuduhan dan sikap yang keliru di dalam pelayanan gerejawi. Farisi-farisi modern menghambat anak-anak Tuhan menjadi orang-orang yang rendah hati dan terbuka tangannya menyambut orang yang berbeda dan seringkali gereja terlalu lambat untuk bisa melayani jaman ini. Saya berharap prinsip ini penting kita terapkan di dalam pelayanan kita. Ada kelompok-kelompok orang tertentu yang mungkin perlu dijangkau dengan style yang berbeda. Kita tidak boleh mengorbankan apa yang Alkitab katakan sebagai prinsip namun sebaliknya tidak boleh juga kita mengabaikan dan tidak mau mengerjakan panggilan Tuhan dengan memegang prinsip seperti yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 9:19-22.

Kedua, apa dasar dan alasan Miriam dan Harun mengata-ngatai Musa? Jelas alasan di balik itu adalah karena mereka iri hati terhadap kepemimpinan Musa. Pernikahan Musa dengan perempuan Kush menyebabkan mereka mengata-ngatai Musa. Itu adalah fakta yang tidak bisa dirubah, tidak bisa diapa-apakan dan selama ini tidak menjadi problem. Yang menjadi problem adalah apa yang ada di dalam hati Miriam dan Harun yang tidak kelihatan. Karena yang bisa kelihatan adalah Musa kawin dengan perempuan Kush, orang bisa dengan mudah menunjukkan jari kepada fakta itu. Bagaimana waktu Musa mengajar mereka, melarang mereka untuk tidak boleh menikahi perempuan asing, sedangkan dia sendiri melanggar hal itu? Karena itu kita bisa mengerti apa kaitannya dengan kemudian Miriam dan Harun mengatakan, “Memangnya Tuhan hanya bicara dengan perantaraan Musa saja? Tuhan juga bicara dengan perantaraan kami.” Ini sesuatu yang tentu tawaran yang mudah diterima oleh rakyat. Pilih Harun menjadi pemimpin jelas lebih baik, dia tidak kawin dengan perempuan asing, keluarga Harun lebih “kosher,” lebih otentik, isterinya orang Yahudi, isteri Musa tidak.

Dalam hal ini kita melihat betapa indah reaksi Musa terhadap semua hal ini. “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (ayat 3). Musa tidak bicara apa-apa, Musa diam, Musa tidak membela diri, dikatakan Alkitab tidak ada orang di atas muka bumi ini yang karakter dan jiwanya begitu lembut seperti dia. Lemah lembut di situ bukan berarti dia tidak marah atau tidak terluka atau tidak menyatakan prinsip tegas, tetapi di situ berarti Musa bukan seorang yang mau membalas semua hal jahat yang datang menyerangnya dengan membalaskan hal yang jahat juga. Sampai moment itu kita bisa membayangkan bangsa Israel bersungut-sungut marah kepada Musa, kedua kakaknya mengata-ngatai Musa, Musa tidak bicara apa-apa membela diri dan posisinya.

Kedua, iri hati Miriam dan Harun itu berkaitan dengan status Musa. Kita gampang sekali hidup membanding-bandingkan diri dengan orang lain, kita gampang sekali tidak menjadi puas, kita senantiasa merasa apa yang kita alami tidak sepatutnya dan selayaknya dan apa yang orang lain terima selalu lebih baik daripada kita. Terlebih lagi jikalau perbandingannya dia dapat jauh lebih banyak daripada kita, betapa gampang dan mudah kita menjadi iri hati dan cemburu kepada orang. Dalam Yakobus 3:14 Yakobus melakukan operasi membongkar sampai ke relung hati terdalam apa sebab orang itu iri hati. Yakobus mengatakan penyebab iri hati terjadi karena kamu mementingkan diri sendiri, hati yang egois, hati yang berpusat hanya kepada diri sendiri; hanya dia yang boleh dapat yang terbaik dan orang lain tidak boleh dapat; dia ingin menjadi pusat perhatian, segala-galanya harus menjadi miliknya. Itu yang menjadi penyebab Miriam dan Harun iri hati, “Memangnya Tuhan hanya bicara dengan Musa? Tuhan juga bicara dengan kita!”

Penyebab kedua seseorang iri hati adalah karena dia memegahkan diri, ‘narcissistic pride,’ merasa “I am the best!” semua orang harus menghargai aku dan tunduk respek kepadaku. Sehingga pada waktu ada orang yang lebih di atasnya, lebih banyak kekayaannya, lebih banyak talenta dan bakatnya, dia akan menjadi iri hati.

Penyebab ketiga, iri hati berbahaya karena hal itu sanggup membuat seseorang berdusta melawan kebenaran. Kalau sekedar rasa cemburu melihat orang bisa mendapat sesuatu yang lebih bagus daripada kita, lalu membuat kita berjuang supaya bisa mendapatkan hal yang sama seperti dia, itu baik. Tetapi kalau itu menjadi iri hati yang mau merebut dan merusak apa yang orang lain punya, itu jahat. Tetapi yang lebih lagi, bukan saja dia mau ambil dan rebut, atau merusak apa yang tidak bisa didapatnya, tetapi bisa memfitnah dan membalikkan orang itu dengan hal-hal yang jahat.

Itu sebab Yakobus memperingatkan supaya kita menjauhkan aspek-aspek negatif ini, karena “itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan” (Yakobus 3:15).

Kepada orang-orang yang iri hati kepada kita, mari kita bersikap seperti Musa, tidak perlu lakukan apa-apa, karena sikap Harun dan Miriam seperti itu, Musa hanya berdiam dan membawa semua hal itu di hadapan Tuhan. Tuhan sendiri yang menyatakan konfirmasi dan peneguhan kepada Musa. Sikap Musa ini mengajar kepada engkau dan saya bagaimana berdiam diri di hadapan Tuhan karena dia tahu nilai hidupnya dan kepuasan hidupnya ada di dalam relasi dengan Tuhan. Kita tidak perlu berdiri di balik status dan aksesori kita. Kita berdiri di hadapan Tuhan dan mengetahui nilai kita di sana. Di dalam Kristus kita memiliki segala sesuatu, di dalam relasi dengan Dia kita menikmati kepuasan yang indah yang hanya bisa kita nikmati bersama-sama Tuhan (Efesus 1:314). itu adalah sukacita yang kita ingin dan rindukan ada di dalam hidup kita.

Yakobus memberikan kita obat yang penting bagaimana hidup untuk menjauhkan diri dari sikap hati yang terlalu gampang membuat kita cemburu dan iri hati kepada orang. “Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yakobus 3:18). Alkitab mengingatkan, jangan kita menjadi anak Tuhan yang iri karena itu bukan sifat yang berasal dari Tuhan dan itu bukan buah spiritual dalam hidup kita. Kalau ada orang yang lebih baik, lebih talented, lebih maju, itu harus bikin kita lebih bersyukur. Kalau kita membiarkan hati kita penuh dengan rasa iri, kita menjadi egois, kita narcissist, kita akhirnya menjadi orang yang rela memutar-balikkan kebenaran. Buah yang paling penting keluar dari diri kita adalah buah yang membawa damai, berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan diri, berdamai dengan orang lain, taburlah damai di dalam diri kita. Memang kita tidak hidup untuk membenci dan melawan orang.

Tuhan menghukum Miriam, tubuhnya terkena kusta, membuat seluruh kulitnya putih seperti salju. Akhirnya Miriam harus diusir keluar dari perkemahan karena najis. Melihat hal itu Harun menjadi sadar dan minta ampun kepada Musa. Musa lalu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mengampuni Miriam dan menyembuhkannya dari kustanya. Inilah sikap yang indah luar biasa dari Musa, inilah artinya menjadi pembawa damai. Dia dikata-katai oleh Miriam tetapi sekarang dia datang kepada Tuhan supaya mengampuni dan menyembuhkan Miriam. Menabur damai berarti memberhentikan iri hati dan konflik. Menciptakan suasana hati yang tidak mau negatif seperti itu. Kalau Tuhan memberikan banyak anugerah dan keindahan sukacita dan berkat, terimalah dengan syukur kepada Tuhan. Kiranya Tuhan memberi kita kekuatan untuk menjalankan firmanNya dari hari lepas sehari.(kz)