KENAPA AKU MEMBAWA ANAKKU KE GEREJA?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

 

“Kenapa aku harus membawa anakku ke gereja? Kenapa aku harus menyerahkannya kepada Gereja untuk dibaptis? Bukankah itu berarti memaksakan agamaku kepada dia? Bukankah dia sendiri yang berhak nanti memutuskan apa yang dia mau percaya?”

Tidak sedikit orang tua, bahkan yang rutin ke gereja mencetuskan kalimat-kalimat seperti ini. Bukan saja orang tua, bahkan tidak sedikit Gereja yang menyetujui kalimat-kalimat seperti ini.

Bagi Gereja atau mereka yang menolak Sakramen Baptisan Anak, salah satu argumentasinya adalah biar anak itu nanti kalau besar mengaku sendiri Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Itu sebab ada Gereja yang tidak melaksanakan Sakramen Baptisan Anak karena mengatakan iman adalah pengakuan satu individual yang bebas kepada Tuhan. Kalau anak itu sejak kecil, apalagi sejak bayi, sudah dibaptis berarti sudah memaksakan mereka. Tetapi herannya, Gereja yang menolak Baptisan Anak melakukan satu upacara yang namanya Penyerahan Anak. Bayi itu diserahkan ke Gereja tetapi tidak melaksanakan baptisan. Kalau kamu serahkan di Gereja, berarti di dalam hatimu sedalam-dalamnya engkau mau anakmu dari kecil sudah milik Tuhan, bukan?

Yang saya mau perdebatkan adalah logika yang ada di belakang kalimat, “…biar dia nanti yang memilih sendiri…” Ada orang tidak mau membaptis anak sebab beralasan biar anak itu sendiri yang nanti memilih imannya. ‘Kalau sekarang waktu bayi sudah saya baptis tapi ternyata dia besar nanti tidak mau percaya Tuhan, atau nanti dia mempersalahkan saya kenapa mama paksa saya jadi orang Kristen, bagaimana?’ Saya bisa balik argumentasi yang sama: ‘kalau engkau tidak baptis dia sekarang, anakmu nanti besar juga bisa mengatakan mengapa mama tidak membawa saya dibaptis waktu saya kecil, padahal saya mau jadi orang Kristen,’ bagaimana?

Tetapi yang saya ingin ajak sdr perhatikan adalah soal: pada waktu orang mengatakan ‘saya ingin memberi kebebasan bagi dia.’ Saya mempertanyakan ini. Pertama, theologically speaking, manusia yang sudah jatuh di dalam dosa diberi kebebasan, kebebasan yang ada padanya bukanlah kebebasan yang bisa membawa dia sendiri datang mencari Tuhan. Alkitab mengatakan kebebasan dari manusia yang berdosa adalah kebebasan yang selalu memberontak kepada Tuhan. Sehingga waktu engkau suruh anakmu pilih secara bebas, pilihannya sendiri sudah tidak netral. Sebab di dalam keberdosaan, pilihannya adalah cenderung tidak pilih Tuhan malah lari meninggalkan Tuhan dan memilih dosa. Itu adalah argumentasi yang pertama.

Argumentasi kedua, di balik dari filsafat yang menekankan hak kebebasan dan dignitas manusia, tidak sadarkah kita di balik dari pemikiran membiarkan anak itu bebas memilih sendiri itu bukan dignitas yang dijunjung tinggi tetapi sebenarnya tersembunyi filsafat yang bersifat Evolusionistik, berarti di situ anak manusia disamakan dengan anak binatang.

Ada bedanya, anak sapi begitu lahir, tidak lama kemudian dia bisa berdiri dan berjalan tanpa dibantu induknya. Tetapi anak manusia tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Itu adalah kebebasan binatang, biar dia survive hidup memilih sendiri. Dengan konsep Evolusionistik seperti itu, kita ingin terapkan kepada anak karena kita pikir kalau kita paksakan ide dan pikiran dan kehendak kita kepada anak kita itu berarti melanggar kebebasan dia. Hal-hal seperti itu menjadi kebablasan adanya, maka hati-hati dengan pikiran seperti itu. Maksudmu dengan ‘bebas’ berarti biar dia memilih semau dia sendiri dan melakukan apa yang dia inginkan, bukan? Anak manusia tidak bisa demikian, itu sebab di dalam dunia manusia ada yang namanya ‘Edukasi.’ Di dalam dunia binatang hanya ada insting. Engkau bilang, kenapa harus memaksa anak pergi ke Gereja setiap minggu? Anak juga protes, kenapa aku harus ke Sekolah Minggu? Lalu engkau pikir, sudahlah, dia tidak suka pergi ke Gereja, tidak suka ke Sekolah Minggu, tidak boleh dipaksakan, biar nanti dia pilih sendiri. Dengan berpikir seperti itu berarti engkau tidak mengerti kenapa Alkitab menekankan perlunya pendidikan dan edukasi bagi anak. Sebab anak itu lahir, dia harus dibesarkan oleh kita. Dia tidak bisa pilih sendiri karena dia perlu dibimbing oleh orang tuanya.

Argumentasi yang ketiga, pada waktu orang bicara mengenai hak dan kebebasan, orang itu lupa aspek ketiga: di dunia ini satu-satunya konsep bebas yang truly betul-betul independent bebas dan tidak bergantung kepada siapapun itu hanya Allah. Hanya Allah yang bebas, tidak bergantung kepada siapa-siapa, tidak membutuhkan apa-apa. Ia ada pada diriNya sendiri, Ia bisa hidup pada diriNya sendiri sebab Ia Allah yang bebas. Itulah bebas yang sesungguh-sungguhnya.

Tetapi semua yang ada di dalam dunia ini, kebebasan kita bergantung kepada yang lain. Setidaknya, sebebas-bebasnya kita, tetap kita harus bergantung kepada aspek yang tidak bisa tidak ada di dalam hidup ini yaitu oksigen. Kalau begitu, sebenarnya tidak ada apapun di dalam dunia ini yang bebas dalam pengertian bebas sebagai satu entitas yang bisa lepas dari apapun. Karena kita bergantung satu dengan yang lain, maka tidak ada yang namanya purely freedom. Kita hidup pasti akan dipengaruhi oleh banyak hal. Itu sebab ada yang namanya kebudayaan; ada yang namanya pendidikan; ada yang namanya kebiasaan. Pada waktu kita katakan, biarlah anakku memilih sendiri dan kita tidak bawa dia ke gereja karena takut nanti offend kebebasan dia dan memaksakan iman orang tua kepada anak, bahayanya adalah dia tidak bisa pilih sendiri, sebab dia masuk ke dalam satu environment yang membentuk dia.

Kenapa saya bawa anak saya ke Gereja? Karena saya mau lingkungan budaya Gereja membentuk dia. Tidak bisa saya lepas anak saya sendiri, sebab tidak ada yang namanya orang yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan, kebiasaan, pola pikir yang ada di sekitarnya. Kalau engkau tidak taruh anakmu di dalam lingkungan budaya Kristen, maka otomatis dia berada di dalam lingkungan budaya non Kristen. As simple as that. Dan pada waktu dia berada di dalam lingkungan budaya non Kristen, maka filsafat cara berpikir, kebiasaan yang ada, lingkungan dan nilai yang ada akan mempengaruhi dia.

Hari ini saya ingin mencabut konsep itu dari pikiran sdr, konsep mengenai independensi dan hak yang sudah keliru. Kebebasan yang sesungguhnya adalah kebebasan di dalam ‘rule’ dan aturan. Itu yang Yesus sendiri katakan, “…kebenaran itu akan memerdekakan kamu…” (Yohanes 8:32). The truth will set you free. Kebebasan di situ tidak berarti semau dan sesuka hati sendiri tetapi di dalam koridor kebenaran Tuhan. Sama seperti sebuah kereta api baru benar-benar bebas berjalan di dalam ketidak-bebasan dia, yaitu kereta itu hanya boleh bebas berjalan di atas relnya. Dia tidak bisa bilang ‘aku tidak perlu rel, aku mau berjalan ke mana saja yang aku mau.’ Justru dia akan hancur dan liar pada waktu tidak berada di relnya.

Argumentasi yang keempat, ada kalimat dilontarkan seperti ini, “Sama seperti saya dulu, saya bukan orang Kristen. Tetapi di tengah saya mencari-cari akhirnya saya menemukan Tuhan. Maka saya juga mau biar anak saya punya pengalaman yang sama dengan saya. Setelah dia cari ke sana ke mari, akhirnya baru dia temukan Tuhan.” Bagaimana sdr menjawab orang yang berkata seperti ini? Saya akan menjawab dia seperti ini: Kalau seandainya saya seorang dokter dan baru saja menerapkan satu cara operasi, dan ternyata pasien saya meninggal. Dari pengalaman itu saya baru tahu seharusnya saya tutup bagian ini dulu, baru potong yang bagian sebelah sana. Kali ini saya sudah potong bagian ini, tidak keburu tutup yang di sana. Maka dalam operasi kedua, prosedurnya saya ubah dan berhasil. Apakah di kelas, lalu saya akan bilang kepada mahasiswa, ‘terserah kalian cari sendiri, supaya kalian juga melewati pengalaman yang sama seperti saya’? Apakah engkau akan membiarkan dokter-dokter itu juga akan melewati proses yang sama, terlalu banyak orang jadi korban mati dulu, baru dia bilang ‘oh iya, aku salah…’ Itu yang namanya the accumulation of wisdom. Knowledge yang kamu dapat, kamu teruskan kepada yang lain. Dalam dunia kedokteran terus berkembang, generasi selanjutnya menemukan ternyata cara yang awal belum sempurna, lalu mereka menemukan cara yang lebih baru, dsb. Itulah ilmu kedokteran. Sdr tidak perlu kembali ke jaman Heraklitos atau Plato, yang waktu ada pasien sakit kepala, langsung batoknya dibolongi supaya menghilangkan pressurenya. Jaman dulu belum ada Panadol. Berapa banyak orang yang kepalanya dibolongi baru akhirnya tahu itu cara yang salah? Itulah knowledge di dalam sepanjang sejarah, dan Alkitab beri kita bijaksana seperti ini.

Itu sebab kenapa kita membawa iman yang kita pegang, dengan conviction yang dalam, kita turunkan iman itu kepada anak kita. Itu adalah edukasi, itu adalah pendidikan, itu adalah hal yang kita kerjakan dan menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang tua yang beriman kepada Tuhan Yesus kepada anak-anak kita. Turunkan iman yang benar kepada mereka dan pada waktu kita melayani Tuhan dalam hal apapun, lakukanlah dengan hati nurani yang tulus di hadapan Tuhan.

 

Disadur dari Seri Khotbah Eksposisi Surat 2 Timotius, “Menjadi ‘Man of God’ yang Sejati.”