JANGAN MENJAJAKAN FIRMAN TUHAN

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

 

“Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah” (2 Korintus 2:17a).

Paulus menegur Jemaat Korintus dengan kalimat-kalimat yang begitu keras, bukan karena Paulus membenci mereka, tetapi justru karena Paulus sangat mengasihi mereka. Tidak gampang untuk bisa menggabungkan antara teguran dengan kasih. Dalam hidup kita, terutama kepada anak-anak kita, sulit sekali kita bisa menggabungkan kedua hal itu. Karena yang sering kita lihat teguran adalah tanda benci dan tidak pernah melihat teguran sebagai tanda kasih. Paulus mencetuskan perasaannya dengan kalimat yang begitu ekspresif, “Aku cemas, aku mencucurkan air mata, aku marah, aku menegurmu.” Semua ini bukan karena Paulus ingin menyedihkan hati mereka, bukan tanda Paulus membenci mereka, tetapi sebaliknya Paulus mengasihi mereka dengan kasih yang luar biasa besar.

Sebagai Gereja Tuhan, beranikah kita melakukan satu ‘self-critic’ kepada gereja kita? Bagaimanakah seharusnya kita sebagai Gereja hidup dan membuktikan kepada dunia inilah Gereja yang Tuhan inginkan? Kita sayang kepada Gereja. Kita rindu Gereja Tuhan itu bertumbuh. Itu sebab kita perlu memberikan teguran, sekalipun teguran itu keras. Anda boleh menegur saudara seiman yang lain, bahkan kalau perlu memberi teguran itu kepada saya sebagai hamba Tuhan, bukan karena kita membenci dia tetapi karena kita sayang dan kita ingin orang itu bertumbuh.

Tidak semua orang yang memakai label dan nama Kristen itu adalah sungguh-sungguh menjadi model bagi Gereja Tuhan. Paulus dalam 2 Korintus 2:17 berkata dengan keras dan marah sekaligus sedih. Dia melihat ada orang-orang tertentu menjadi penyebab yang menimbulkan kesulitan di dalam Jemaat Korintus dan dia terpaksa harus menyebutkan orang-orang itu dan menegur motivasi mereka yang tidak benar. Hal ini tidak gampang karena secara jumlah kuantitas orang yang tidak benar selalu jauh lebih banyak daripada orang yang benar. Paulus berkata, “…kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah” (2 Korintus 2:17a). Kata “mencari keuntungan” di sini boleh diterjemahkan dari bahasa aslinya “orang yang menjajakan pelayanan.” Banyak orang seperti itu, kata Paulus.

Kita mesti mawas diri. Apakah Gereja kita juga terjebak dan jatuh menjadi Gereja yang tidak tulus dan tidak jujur, dan kita rindu untuk menjadi Gereja Tuhan yang baik. Kalau kita menyaksikan banyak pelayanan dari Gereja yang lain yang “menjajakan Kristus” seperti ini, mari kita tegur. Kita tegur bukan karena kita benci mereka. Kita tegur karena kita tidak ingin orang lain akhirnya menghina Gereja Tuhan.

Ada dua macam kritik yang bisa datang kepada sdr dan saya. Yang kesatu, kritik yang datang karena orang itu sangat membenci kita. Yang kedua, teguran dan kritikan yang keras datang kepada kita karena orang itu sangat mengasihi kita. Pada jaman Reformasi, John Knox menegur ratu Inggris yang ingin menikah lagi. Ratu marah luar biasa, begitu benci dan ingin membunuh John Knox. Tetapi John Knox menegaskan, dia menegur ratu karena kasih. Akhirnya beberapa hari kemudian ratu menyadari bahwa John Knox adalah seorang yang sungguh-sungguh hamba Tuhan. Orang yang lain tidak berani dan diam; hanya John Knox yang berani menegur dia.

Inilah yang Paulus lakukan kepada Jemaat Korintus supaya motivasinya tidak disalah-mengerti. Paulus mengatakan dia menegur dengan mengeluarkan air mata karena dia amat mengasihi mereka. Ini juga yang seharusnya menjadi motivasi hati kita menegur dan mengkritik Gereja, karena kita ingin memanggil satu pelayanan yang murni dan sejati. Setiap orang Kristen, suka atau tidak suka, adalah surat bagi Yesus. Apakah engkau adalah sebuah surat Yesus yang siap dibaca orang sehingga mereka boleh melihat dan mengenal siapa Yesus itu melalui hidupmu?

Tim Stevens menulis satu buku berjudul “Pop goes to the Church,” mengatakan “Here is the bottom line. The Christian’s message never changes, but methods must. Studies show spiritual hunger in the US at an all-time high, but church-attendance at an all-time low and dropping. A lot of people feel church is irrelevant, so it is time to change.”

Di Amerika banyak orang yang haus rohaninya, tetapi jumlah orang yang ke Gereja justru menurun. Kenapa? Dia menyimpulkan karena Gereja sudah tidak relevan lagi, itu sebab harus terjadi perubahan.

Gereja harus relevan. Itu adalah motivasi yang ingin supaya orang lebih banyak datang ke gereja, salah satu motivasi yang mulia. Tetapi kalau sampai menggunakan dan menghalalkan segala cara demi supaya orang datang ke Gereja akhirnya Gereja tidak lagi menjadi Gerejanya Tuhan, saya rasa itu tidak menjadi benar adanya.

Bukan saja sekarang, tetapi di jaman Paulus dahulu orang sudah memperdagangkan Yesus, menjual-belikan firman Allah. Paulus berjuang menolak hal ini karena dia tahu apa artinya menjadi Gereja. Dia menangisi Jemaat Korintus yang mengalami ‘mixture’ antara pelayanan yang baik dengan motivasi yang tidak baik. Paulus mengatakan, banyak orang menjual-belikan firman Tuhan dengan hati yang tidak jujur dan maksud yang tidak murni. Banyak orang Kristen yang menjajakan Injil dan mencari keuntungan dari pelayanan.

Hari ini mari kita telusuri apa yang sedang terjadi di dalam dunia Kekristenan yang ternyata sungguh memperlihatkan hal dan situasi yang sama dengan apa yang Paulus katakan ini. Coba “google” kata “merchandising Jesus,” maka sdr akan menemukan 220.000-an website mengenai hal ini. Salah satu website “Ethical Atheist Ridiculous Religious Merchandise” kita bisa menemukan satu hal yang sangat menyedihkan dan memalukan. Website orang ateis ini mengumpulkan segala macam barang yang dijual oleh orang Kristen, yang hanya karena menuliskan nama Yesus  atau segala macam simbol Kristen lalu akhirnya menjadi barang rohani. Patung-patung yang dijual seharga $20, Yesus bermain ‘football’ dengan anak-anak, Yesus bermain ‘baseball,’ Yesus ‘slam-dunk’ bola basket, dsb. Lalu ditaruh kalimat “To remind children that Jesus is with them always. Jesus is with us in everything we do, watching over us and involves in all of our activities.” Segala barang pernak-pernik, cangkir kopi, dsb asal diberi nama Yesus langsung jadi barang rohani.

Banyak orang Kristen rohani mulai dari keset di depan pintu rumahnya, vas bunganya, tekonya, semua ada ayat Alkitab dan simbol Kristen. Dalam website www.alittleleaven.com ada artikel yang prihatin dengan cara orang Kristen membisniskan nama Yesus. Di situ ada t-shirt bergambar Yesus bermain ‘surfing’ di pantai, Yesus tidak pakai ‘surfboard’ karena Dia bisa berjalan di atas air. Dengan tulisan ayat “Yesus meneduhkan angina,” jadilah kipas angin Kristen. Ada ‘paintball’ Kristen, main tembak-tembakan sambil bilang ‘Haleluya.’ Kalau Paulus hari ini masih hidup, saya yakin dia akan mengeluarkan kalimat teguran keras atas semua hal ini. Banyak orang Kristen membisniskan nama Yesus dan banyak Gereja membisniskan nama Yesus. Tidak salah kalau kita mau membeli satu pigura bagus dengan lukisan pemandangan bertulis “Tuhan adalah Gembalaku yang Baik.” Tetapi yang dimaksud dengan membisniskan nama Yesus adalah orang itu sendiri tahu dengan membawa nama Yesus atau menuliskan ayat-ayat firman Tuhan lalu itu mendatangkan keuntungan yang begitu besar bagi diri sendiri. Orang ateis tertawa geli dengan cara ini dan orang Kristen sendiri dengan naif membelinya dan merasa mereka sudah memberitakan nama Yesus kepada orang lain, padahal itu sebetulnya mempermalukan nama Tuhan.

Seorang pendeta televisi di Amerika bernama Woody Martin di websitenya www.woodymartin.org memberi minyak urapan ‘blood of Jesus oil’ gratis kepada orang yang membeli satu kerudung doa bertuliskan ayat-ayat dari PL dan PB. Dengan memakai kerudung seharga $100 itu dijamin doa sdr langsung sampai ke surga karena meng-cover doa PL dan PB. Semua barang-barang yang dijual di toko buku Kristen dari pena, pensil, cangkir, dll, kalau mau jujur, harganya lebih mahal daripada barang di toko biasa yang punya kualitas sama. Orang Kristen membelinya dengan berpikir ‘tidak apa-apa sedikit lebih mahal, demi nama Yesus kita berkorban lebih banyak dan menguntungkan dompet saudara seiman.’

Kita harus memisahkan mana hal yang benar dan mana yang tidak benar di dalam kita menggunakan nama Yesus. Paulus ingin Gereja Tuhan bersih, jujur dan sungguh menjadi Gereja Tuhan. Dari hamba Tuhan yang melayani sampai kepada semua Jemaat, kita jangan menjadi orang Kristen yang membisniskan nama Yesus.

Yang kedua, apa yang menjadi kategori membisniskan nama Yesus? Ada satu Gereja di Amerika, “Gringer Community Church” yang pendetanya Tim Stevens yang saya sebut di atas, karena punya motivasi ingin supaya Gerejanya menjadi relevan dan banyak orang datang, dia mengundang rock band Van Halen yang notabene tidak percaya Tuhan, untuk memimpin kebaktian. Mick Huckabee, pendeta yang pernah mencalonkan diri menjadi kandidat presiden Amerika dari partai Republik mendesain satu kebaktian “30 minute Church Service” dengan kalimat “design with you in mind, your time is valuable.” Nyanyi 10 menit, khotbah 15 menit, persembahan 5 menit, selesai.

Kita menjadi orang Kristen yang membisniskan Yesus kalau kita beribadah bukan Tuhan lagi menjadi sentralnya. Kalau kenyamanan diri, kesenangan, urusan waktu, apa yang orang suka dan anggap baik menjadi sentralnya, kita tidak sungguh-sungguh datang beribadah menyembah Tuhan. Ibadah berarti orang Kristen berkumpul memuji kemuliaan Tuhan. Ibadah berarti orang Kristen mengagungkan kesucian Tuhan. Ibadah berarti orang Kristen memuliakan kehormatan dan kuasa Tuhan.

Kalau kita dipanggil audiensi kepada ratu Inggris beranikah kita bilang, “Sorry yah, Ratu, saya sangat sibuk. Saya cuma bisa meluangkan waktu 15 menit untukmu”? Itu yang kita lakukan kepada Tuhan kita.

Ibadah yang membawa unsur-unsur yang non-Kristen dengan musik yang tidak sepatutnya, dengan pemimpin-pemimpin ibadah yang bukan orang percaya melainkan anggota band yang terkenal, bolehkah? Ada Gereja yang ‘kebacut’ takut tidak disukai kelompok homoseksual menulis satu kalimat di plang gerejanya, “Jesus affirmed a Gay Couple.”

Joel Osteen yang salah satu hamba Tuhan muda yang memiliki Gereja terbesar di Amerika dengan 30.000 jemaat, the smiling pastor yang selalu ingin khotbahnya memberikan hal-hal positif, akhirnya tidak pernah menggunakan kata-kata yang keras pada waktu bicara mengenai keselamatan dan penebusan dosa. Dia tidak mengatakan “Yesus menyelamatkan kita dari dosa.” Dia mengatakan “Yesus menyelamatkan kita dari ‘bad habits’ kebiasaan buruk kita. Yesus membaya harga supaya manusia bebas: bebas dari kecanduan dan kebiasaan buruk, bebas dari ketakutan, kuatir, kemiskinan dan ‘low self-esteem.” Inilah berita Injil yang sudah dioles gula-gula, yang bukan berita Injil yang sejati. Paulus mengatakan kepada Jemaat Korintus, jangan mengikuti orang-orang yang membisniskan firman Tuhan seperti ini.

Hari ini dengan cinta kita kepada Gereja Tuhan, mari kita belajar mencintai pelayanan Tuhan dengan murni dan hati nurani yang bersih. Menjadi orang Kristen berarti hidup kita adalah surat pujian Kristus. Perhatikan perilaku hidup kita, pada waktu orang melihatnya mereka tidak menertawakan Kekristenan karena kita salah mempresentasikan Yesus di dalam hidup kita. Gereja kita harus menjadi Gereja yang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi Tuhan yang sudah membeli kita dengan darah yang mahal dan berharga itu (1 Petrus 1:18-19).

 

Disadur dari Seri Khotbah Eksposisi Surat 2 Korintus “Jangan Menjajakan Firman Tuhan”