Gospel, Deposit Entrusted

Sun, 04 May 2014 04:46:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Kebaktian Syukur Ulang Tahun RECI ke 15

Nats: Roma 1:8-15

 

“Banyaklah yang telah Kau lakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatanMu yang ajaib dan maksudMu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung” (Mazmur 40:6).

Ada satu hari di setiap tahun yang kita jalani dimana Tuhan memberikan hari yang khusus itu untuk mengingatkan kita akan kesetiaan Tuhan yang memelihara kita, rencanaNya yang indah dan sempurna bagi setiap kita dan mengingat akan kasihNya yang selalu menyertai dan menyegarkan iman kita. Mungkin itu adalah hari ulang tahun, hari anniversary pernikahan, pergantian tahun yang baru, atau seperti hari ini saat kita merayakan ulang tahun ke 15 Gereja yang kita kasihi ini.

Mari kita coba melihat bagaimana kita me-review perjalanan hidup kita. Waktu kita memperingati ulang tahun pernikahan kita, kita duduk sama-sama, kite merefleksi bagaimana perjalanan pernikahan kita selama ini dan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Waktu kita berulang tahun kita juga melakukan hal seperti itu; waktu setiap pergantian tahun kita juga seperti itu, bukan? Kita melihat lagi ke belakang apa yang sudah kita kerjakan dan lakukan di waktu-waktu yang lalu di dalam hidup ini. Setelah itu kita menatap ke depan, meminta Tuhan memimpin perjalanan kita dengan anugerah pemeliharaan dan penyertaanNya bagi kita.

Waktu kita mencoba me-review perjalanan hidup kita, kita menemukan ada dua level, yaitu level yang di permukaan, segala hal yang kelihatan yang kita kerjakan, pekerjaan sehari-hari yang rutin, kesibukan bekerja, membesarkan anak, dsb. Tetapi semua yang kelihatan di permukaan itu tentu digerakkan oleh apa yang tidak kelihatan, yang di bawah permukaan. Mengapa kita mengerjakan sesuatu, itu semua berkaitan dengan rencana, dengan tujuan hidup kita, dengan hal-hal yang men-drive hidup kita sampai kita mengerjakan hal itu. Apa yang tidak kelihatan, apa yang tersembunyi di bawah permukaan, hal-hal itu bisa mendatangkan ‘level of satisfaction’ di dalam hidup kita. Semakin dekat apa yang sudah kita rencanakan dan cita-citakan, hal-hal yang menjadi keinginan yang men-drive hidup kita dengan apa yang menjadi realita membuat hati kita puas menjalani hidup ini, bukan? Tetapi hati kita menjadi tidak puas kalau ‘gap’-nya makin besar, jikalau apa yang kita sudah pikir, kita sudah rencana, kita lihat tujuan dan motifnya baik, tetapi kenapa tidak bisa tercapai, akhirnya menyebabkan kita tidak puas dan bahagia dengan hidup kita. Paulus di dalam bagian pembukaan surat Roma ini juga tidak jauh berbeda dengan kita, cuma bedanya dia spesifik bicara tentang pelayanan, tetapi tidak berarti apa yang dibicarakan hari ini tidak bersentuhan dengan hidup kita sehari-hari, planning yang kita buat bagi keluarga kita, bagi pekerjaan kita, termasuk juga Gereja memikirkan planning dan rencana di depan. Saya harap semua hal yang sedang kita pikirkan, rencanakan  dan bicarakan di dalam hidup kita semoga dipimpin oleh prinsip dan ‘guidelines’ yang sangat indah dari firman Tuhan ini.

Di dalam Roma 1:8-15 ini secara ringkas dan singkat memperlihatkan keindahan Paulus menyatakan bagaimana pelayanan yang dia kerjakan di hadapan Tuhan. Dia bicara soal pelayanan itu di dalam perencanaan yang baik, di dalam perencanaan yang matang.

“Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia…” (Roma 1:8). Kita melihat Paulus mempunyai hati yang senantiasa bersyukur. Dia bersyukur bukan karena apa yang dia capai; dia bersyukur bukan atas apa yang sudah dia kerjakan; dia bersyukur karena dari apa yang dia kerjakan, orang lain boleh menjadi berkat bagi dunia ini. Dia bersyukur melihat iman mereka menjadi harum tersiar di hadapan orang luar. Itu sebab Paulus betapa rindu mengunjungi mereka di Roma sehingga iman mereka menjadi berkat menguatkan iman Paulus, dan sebaliknya Paulus juga beroleh kesempatan untuk memperlengkapi mereka dengan karunia rohani untuk menguatkan mereka. Semua itu bertujuan supaya nama Tuhan makin harum tersiar ke segala tempat di seluruh dunia.

Terjemahan bahasa Indonesia dengan baik sekali mengatakan, “…Aku telah sering berniat untuk datang kepadamu, agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah…” (Roma 1:13). Memiliki rencana, itu baik. Tetapi kalau hanya sebagai rencana tanpa niat untuk menggenapkan rencana itu, tentu percuma merencanakan apa-apa. Perlu ada planning dan perlu ada niat untuk menggenapkan rencana itu. Dalam bagian ini kita juga bisa melihat Paulus bicara soal bagaimana semua planning itu dibawa di dalam kerendahan hati yang takluk kepada kehendak Tuhan, di dalam doanya kepada Tuhan kiranya rencana dan kehendak itu terjadi. Namun sampai hari dimana Paulus menulis surat ini niat dan rencana itu tidak pernah kesampaian. Paulus memberi penjelasan kenapa niat itu tidak pernah tercapai dengan kalimat “tetapi hingga kini selalu aku terhalang…”

Orang sering berkata, “Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan.” Kalimat ini penting dan baik, kalimat yang menekankan pentingnya planning dan perencanaan itu. Jangan sampai ada di antara kita hidup tidak mempunyai perencanaan. Tua muda, besar kecil, kita hidup dan bekerja, dimanapun, kita perlu mempunyai perencanaan. Pada waktu kita meletakkan perencanaan bagi hidup kita, ada beberapa aspek yang kita pikirkan di dalam perencanaan itu yaitu pertama tentu kita memikirkan apa yang kita rencanakan, apa tujuan dan goal yang ingin kita capai di dalam perencanaan itu. Sesudah itu kita perlu memikirkan sarana-sarana apa yang diperlukan untuk mencapai perencanaan itu. Dari situ baru kita bisa lihat perencanaan itu adalah sesuatu yang ‘feasible’ untuk dikerjakan, masuk akal dan bukan mimpi di siang bolong. Tetapi bukan itu saja, di dalam perencanaan itu kita tentu perlu memikirkan “time-frame”-nya, short term planning dan long term planning. Saya percaya orang yang mempunyai prinsip-prinsip di dalam perencanaan seperti ini akan lebih indah dan lebih bijaksana lagi jika dia memasukkan aspek yang keempat, yaitu mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi di dalam rencana dan planning itu. Bagaimana kalau apa yang kita rencanakan tidak tercapai, apa yang harus kita lakukan, dsb.

Namun pada saat yang sama kita harus ingat baik-baik bahwa tidak semua yang sdr dan saya rencanakan bisa tercapai. Apa yang kita rencanakan bisa jadi tidak tercapai tetapi tidak berarti kita sudah gagal di situ. Jadi kalimat “gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan” hanya menekankan aspek pentingnya perencanaan itu. Tapi pada waktu kita sudah atur dan rencanakan ternyata tidak tercapai, jangan sampai membuat kita berpikir bahwa hidup kita sudah gagal. Pada waktu hati kita merasa gagal, sebagai orang Kristen, sebagai anak-anak Tuhan harap kita mengoreksi baik-baik kenapa kita tidak boleh berpikir bahwa hidup kita sudah gagal? Kita berpikir hidup kita sudah gagal kalau kita merasa kita sudah berencana, kita sudah siapkan sarananya, kita atur short dan long term planning-nya, tetapi akhirnya itu semua membuat kita berpikir bahwa kitalah satu-satunya orang yang bisa mengatur dan menentukan perencanaan itu pasti berhasil. Sebagai anak-anak Tuhan kita percaya kalau tidak tercapai bukan berarti rencana itu tidak baik; kalau tidak tercapai bukan berarti kita tidak giat memikirkan dan mengusahakan perencanaan itu. Tetapi pada waktu hal itu tidak tercapai, kita diingatkan bahwa memang bukan kita yang menjadi penentu akhir apa yang terjadi di dalam hidupku.

Maka ayat 13 ini menunjukkan bukan berarti Paulus tidak punya rencana. Paulus mengatakan, “Aku telah sering berniat…” berarti mungkin setiap tahun rencana trip ke Roma itu dia buat, bahkan bukan saja sampai ke kota Roma, tetapi kalau bisa dia akan terus melanjutkan sampai ke tempat yang lebih jauh lagi. Tetapi setiap tahun dia planning seperti itu tidak pernah berkesampaian. Tetapi kita tidak boleh melihat itu sebagai satu kegagalan, karena di situlah kita belajar menjadi orang Kristen yang menyadari Tuhan memberi saya tugas dan tanggung jawab merencanakan semampu mungkin, semaksimal mungkin, sebaik mungkin, apa yang pelu di dalam hidup ini. Tetapi sebagai orang Kristen pemahaman saya berbeda dengan orang lain karena di balik semua yang saya pikirkan dan rencanakan itu saya mau taklukkan rencanaku dan hidupku di dalam kehendak Allah. Dan pada waktu saya taklukkan rencanaku dan hidupku di dalam kehendak Allah, saya juga harus menjadi orang yang senantiasa responsif atas pimpinan Tuhan di dalam segala pembentukanNya yang terjadi di dalam hidupku.

Paulus berkata, “Aku berdoa semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu…” (Roma 1:10). Aspek kedua muncul di sini. Tujuannya sama, Paulus ingin mengunjungi jemaat di Roma. Di dalam keinginan untuk mengunjungi itu dia berencana dan planning setiap tahun. Namun di ayat 10 ini Paulus mengajarkan kita aspek “if it is God’s will,” jikalau itu adalah kehendak Allah akhirnya Paulus bisa datang ke Roma.

Kadang kita sering kecewa karena apa yang kita pikir dan rencanakan di dalam hidup ini tidak tercapai. Kita mempersalahkan situasi, keadaan dan kondisi di sekitar kita, kita mempersalahkan orang-orang yang kita anggap menyebabkan planning kita tidak tercapai, kita menjadi guilty dan self-pity, mengasihani diri sendiri dan merasa kita adalah orang yang tidak kompeten, dsb. Semua sikap negatif itu muncul ketika kita menganggap diri sebagai penentu semua ‘outcome’ dari perencanaan kita sampai sukses. Sebagi anak Tuhan mari kita belajar setiap apa yang ada di dalam hidup kita yang kita pikir, kita atur dan rencanakan senantiasa kita rindu semua itu kita taruh di dalam satu kesadaran Tuhan berkehendak akan semua itu. Waktu kita bilang, “if God is willing” kita percaya di dalam kehendak Allah yang maha bijaksana semua kehendak Tuhan itu indah, agung dan sempurna. Tetapi menyadari kehendak Tuhan yang baik, yang mulia dan sempurna itu tidak berarti melepaskan kita dari tanggung jawab untuk merencanakan sesuatu di dalam hidup ini. Dengan meletakkan semua di dalam rencana dan kehendak Tuhan yang indah bagiku itu adalah satu penaklukan diri dan satu pengakuan bahwa saya bukan sumber dan penghasil akhir dari perencanaan hidupku.

Sehingga di dalam bagian ini kita bisa perhatikan Paulus menggabungkan dua aspek ini di dalam hidupnya, berencana baik-baik dan membawa rencana itu di dalam doa dan takluk kepada kehendak Allah. Pada waktu rencana itu belum berhasil dan belum tercapai itu tidak membuat dia mundur dan dia pikir dan rencanakan lagi untuk kesempatan-kesempatan yang lain ke depan. Dan pada waktu semua hal itu tercapai dan terjadi, Paulus letakkan semua itu di dalam satu prinsip yang penting: God’s will. Tuhan, Engkau yang pimpin, Engkau yang atur. Ketika saya sampai ke sana, ketika saya mencapai hal itu, semuanya di dalam kehendak Tuhan yang luar biasa.

Pada waktu kita meletakkan semua itu di dalam kerangka kehendak Allah, ada dua respons yang muncul pada diri Paulus. Pertama, Roma 1:8, “Pertama-tama, aku bersyukur kepada Allah…” Kedua, Roma 1:10, “Aku berdoa…” Kalau saya punya bakat, saya punya talenta, saya punya uang, saya punya kesempatan, maka “aku merencanakan.” Tetapi pada waktu kita masuk ke dalam wilayah kehendak Allah, dua respons ini harus muncul, “Aku bersyukur dan aku berdoa.” Berdoa menjadi satu sikap hati yang indah dan agung pada waktu kita menyadari banyak hal kita tidak bisa atur dan kontrol. Berdoa juga berarti meminta Tuhan yang pimpin dan buka jalan bagi kita. Tetapi pada saat yang sama Paulus berkata, “Aku bersyukur,” bersyukur berarti pada waktu rencana itu terjadi dan tercapai, dia menyadari itu bukan “personal gain” dan “personal achievement.” Thanks be to God, bersyukur kepada Tuhan! Ia tidak melihat semua yang diraih dan dicapainya sebagai suatu personal gain.

Paulus berkata, aku mengucap syukur oleh karena imanmu telah tersiar menjadi iman yang didengar, diakui, dihormati, tersebar sampai kepada wilayah hidup orang yang tidak percaya Tuhan. Maka keinginan rasul Paulus cuma satu, supaya dia bisa datang ke tengah-tengah mereka mendapat berkat dan kekuatan dari apa yang indah dilihat dan didengar orang, dan pada saat yang sama Paulus bisa memberi karunia rohani untuk menguatkan mereka sehingga dengan kehadiran Paulus mereka boleh menjadi berkat terus-menerus bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Senantiasa bersyukur sebab di situlah Paulus tahu apa yang direncanakan bisa berhasil oleh anugerah Tuhan. Dia bersyukur sebab yang dia kerjakan dan lakukan bukan karena kehebatan rencana dan apa yang dia kerjakan secara pribadi tetapi apa yang Tuhan beri dalam hidup dia.

Ketiga, setiap kali kita me-review hidup kita, kita memikirkan apa yang telah kita rencanakan, kita juga melihat semua yang kita rencanakan itu di dalam kehendak Allah yang baik. Kita juga senantiasa tahu dan tidak akan mundur dan kecewa atau mengalami kesulitan kalau kita tahu perjalanan ke depan itu adalah tujuan yang sepatutnya untuk kita perjuangkan; sesuatu yang kita tahu apa yang kita lakukan ini adalah hal yang paling indah, paling agung dan paling mulia. Di tengah perjalanan mungkin akan ada banyak hal yang bisa memuat kita berpikir dan bertanya-tanya akankah kita sampai di sana, tetapi saya percaya semua hal yang terjadi di tengah perjalanan itu mungkin memperlambat, mungkin bisa terhenti, mungkin bisa menarik emosi kita menjadi ‘down.’ Tetapi sesudah itu mari kita terus maju berjalan lagi karena kita tahu apa yang di depan itu mulia dan baik.

Kita selalu harus berdoa meminta Tuhan ‘the best outcome,’ tetapi kita juga selalu harus bersedia menikmati ‘the least’ yang tersedia. Itu akan membuat hidup kita penuh dengan syukur di dalam perjalanan hidup ini. Kita senantiasa berharap dan berdoa Tuhan boleh memberi yang terbaik bagi kita, namun kita sedia dan rela hati menikmati apa yang ada dan tersedia bagi kita. Sampai di situ apapun tidak menjadikan kita bersungut-sungut dan menggerutu, kita bisa menikmati dengan indah semua itu dengan syukur. Jalan sama-sama susah, nanti senang sama-sama. Di dalam kesusahan tetap ada kesenangannya sendiri. Di dalam kesenangan juga ada kesulitannya sendiri.

Pada waktu Paulus bilang ada hambatan, ada rintangan, ada kegagalan, ada kesulitan, itu semua tidak mengganggu dia. Paling tidak kita menemukan ada beberapa tujuan hidupnya yang ditaruh di bagian ini. Tujuan yang pertama jelas dari awal Tuhan panggil dia untuk menjadi hambaNya, Paulus bilang Tuhan memanggil dia untuk melayani bangsa-bangsa bukan Yahudi (Roma 1:14), untuk dia pergi mengabarkan Injil ke tempat dimana orang lain belum pergi. Kedua, Paulus mengatakan kenapa dia mau pergi ke Roma, yaitu dia ingin Roma menjadi batu loncatan dia untuk pergi hingga ke Spanyol, tempat yang belum ada orang ke sana mengabarkan Injil Tuhan (band. Roma 15:24).

Apa yang menjadi hambatan yang dialami Paulus? Paulus mungkin harus menetapkan prioritas, karena tentu dia tidak bisa pergi dan berada di beberapa tempat pada saat yang bersamaan karena badannya cuma satu. Kita dalam hidup ini juga punya beberapa tujuan yang mulia dan agung, tetapi kita perlu memutuskan apa yang paling penting dan paling utama untuk dilakukan. Paulus dalam Roma 15:20-29 menjelaskan prioritasnya itu, kenapa dia sampai terhalang. Pertama, karena selesai memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, orang-orang yang akhirnya percaya Tuhan itu mau bersyukur atas Injil yang datang kepada mereka sehingga mereka mengumpulkan uang persembahan bagi saudara-saudara seiman di Yerusalem. Meskipun saat itu Paulus sudah berada di daerah yang dekat sekali menuju ke Roma, dia mesti pergi dulu ke Yerusalem mengantarkan uang itu. Dia tidak bisa sekaligus ke Yerusalem sekaligus ke Roma, maka dia tentukan prioritas Yerusalem dulu. Hal yang sama Paulus jelaskan kepada Jemaat di Korintus yang kecewa kenapa Paulus tidak datang mengunjungi mereka. Hambatan yang kedua, Paulus menghadapi halangan-halangan yang tidak terduga terjadi. Sebelum akhirnya dia bisa sampai di Roma, dia mesti mengalami dipenjara di Kaisarea selama 2 tahun (band. Kisah Rasul 23). Itulah sebabnya kita tidak tahu kira-kira dimana Paulus menulis surat Roma ini, tetapi paling tidak kita mengerti akan halangan-halangan yang datang ke dalam hidupnya sebelum akhirnya dia bisa pergi ke Roma. Waktu Paulus sampai di Yerusalem akhirnya terjadi huru-hara di Bait Allah menyebabkan Paulus ditangkap dan dipenjarakan.

Keempat, Paulus punya planning namun banyak hambatan dan halangan yang harus dia hadapi. Di tengah situasi seperti itu apa yang paling penting? Hanya dua hal yang paling penting harus ada di dalam kita menjalankan apa yang menjadi tujuan hidup kita. Pertama, kita harus punya pengharapan. Kedua, kita perlu ketekunan. Pengharapan dan ketekunan. Selalu rencanakan yang terbaik di dalam hidupmu, namun senantiasa bersiap hati menghadapi yang terburuk dan tak terduga. Selalu doakan ‘outcome’ dan hasil yang terindah dan terbaik, tetapi tidak menjadi kecewa dan senantiasa bersyukur menikmati apa yang tersedia di hadapan kita.

Kita bersyukur kepada Tuhan, kita berterima kasih oleh karena sewaktu kita menjalani hidup ini, kita merencanakan semua yang kita pikirkan yang terindah dan terbaik bagi keluarga kita, bagi pekerjaan kita, bagi Gereja kita, bagi pelayanan kita, kita bersyukur kepada Tuhan. Sebab di situ kita melihat Tuhan di dalam kehendak dan rencanaNya yang terindah dan terbaik selalu mencukupkan kita. Kita bersyukur kepada Tuhan sebab kita tahu hanya di dalam tangan Tuhan perjalanan hidup ini, teduh dan aman adanya. Hari ini biar kehendak dan rencana Tuhan menyertai dan memelihara setiap kita. Kita bersyukur hari ini sama-sama sebab kita boleh menyerahkan di mezbah Tuhan semua yang ada di dalam hidup kita untuk menjadi berkat bagi pelayanan, supaya dengan pemberian itu kita bersyukur karena hasilnya memuliakan Tuhan adanya. Kita hanya alatNya yang dipakai oleh Tuhan, kita milik Tuhan yang diberi kepada Tuhan. Tuhanlah yang patut kita muliakan selama-lamanya.(kz)