Dosa Sungut-sungut

Sat, 17 May 2014 23:55:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Bilangan (1)

Nats: Bilangan 11:1-35, 1 Korintus 10:5-10

 

Saya percaya kecanduan minuman keras, kecanduan berjudi, dan berbagai kecanduan yang lain, itu semua adalah problem yang besar dan serius dan kita harus menangani hal itu. Tetapi jarang orang menganggap kecanduan bersungut-sungut sebagai satu problem yang besar dan serius. Mengapa? Sebab boleh kita katakan tidak ada hari dimana hidup kebanyakan orang tidak bersungut-sungut, dan kita tidak anggap itu sebagai satu problem sebab semua orang melakukannya. Sungut-sungut dimulai dari mengeluh, ketika seseorang menganggap dia tidak diperlakukan selayaknya dan sepantasnya. Sungut-sungut juga menjadi ekspresi ketidak-puasan terhadap perlakuan orang kepada kita. Sungut-sungut membuat hal-hal yang baik dalam diri orang tidak lagi dilihat baik adanya dan justru menyebarkan hal-hal kebalikannya daripada apa yang dilakukan orang itu, menyatakannya sebagai hal yang buruk dan menjadi alasan untuk bersungut-sungut.

Tetapi yang mengherankan, peristiwa dalam Bilangan 11 memperlihatkan sungut-sungut itu bisa keluar di dalam kondisi yang sederhana saja yaitu oleh karena hidup mereka ‘boring’. Tidak ada hal yang men-‘trigger’ bangsa Israel di situ untuk bersungut-sungut. Mereka tidak kekurangan makanan. Yang ada cuma dari hari ke sehari mereka hanya makan manna. Jadi bukan soal tidak ada makanan, bukan soal perjalanan hidup susah dan sulit, tetapi karena ‘life is so boring.’ Ada orang di dalam kesusahan dan kesulitan tetap bisa tahan dan tidak mengeluarkan keluhan dan sungut-sungut dari mulutnya. Tetapi ada orang, hidupnya tidak ada kesulitan, perjalanan biasa dan jalan dengan lancar, apalagi yang kurang? Kisah ini memperlihatkan bangsa Israel mulai bosan dan bangsa ini mulai bersungut-sungut.

Dalam 1 Korintus 10:5-10 Paulus memperingatkan orang Kristen ada 5 macam dosa yang sangat serius luar biasa yang dilakukan oleh bangsa Israel, yaitu dosa menginginkan hal yang jahat, dosa menyembah berhala, dosa percabulan, dan dosa mencobai Tuhan. Tetapi unik dosa kelima yang diingatkan Paulus di sini adalah dosa bersungut-sungut merupakan dosa yang sangat serius luar biasa dan mendatangkan kematian yang sangat mengerikan.

Bilangan 11 merupakan kelanjutan dari catatan perjalanan bangsa Israel di padang gurun setelah mereka selesai mendirikan Kemah Suci, Alkitab mencatat kemuliaan Allah turun dengan indah dan agung, dalam kabut awan bercahaya luar biasa. Tuhan hadir, Tuhan beserta, Tuhan mencukupkan, Tuhan memelihara hidup mereka. Tuhan tinggal berdiam di tengah-tengah mereka, dan ketika awan Tuhan terangkat naik, berangkatlah bangsa ini dari situ menuju ke tempat lain. Betapa indah pengalaman dan perjalanan hidup rohani bangsa Israel sampai Bilangan 10 ini, bukan? Tetapi Bilangan 11 menceritakan mulailah bangsa Israel bersungut-sungut. Yang pertama, singkat dan pendek saja di ayat 1-3 mencatat mereka bersungut-sungut di satu tempat, maka bangkitlah marah dan murka Tuhan dengan apiNya membakar merajalela tepi tempat perkemahan. Kemarahan Tuhan ini wajar dan sepatutnya oleh sebab terlalu banyak hal yang Tuhan sudah kerjakan dan lakukan tetapi mereka tetap bersungut-sungut. Lalu mereka tiba di satu tempat lain dan mengulang kembali bersungut-sungut,dan kali ini peristiwa sungut-sungut itu diceritakan dengan panjang lebar.

Maka dari ayat 4 seterusnya kita bisa melihat natur sifat dari dosa sungut-sungut. Yang pertama, sungut-sungut itu memiliki sifat menular luar biasa. Kisah sungut-sungut ini dimulai dari ujung luar tepi perkemahan, dari kelompok “orang-orang bajingan” (ayat 4) atau “the rabble” atau dalam bahasa aslinya “hasapsup.” Siapakah mereka? Sangat besar kemungkinan mereka adalah kelompok orang-orang bukan Yahudi yang ikut keluar bersama-sama orang Israel dari Mesir, mereka ikut keluar karena mereka telah melihat betapa berkuasa Tuhan orang Israel itu, namun mereka tidak sungguh-sungguh mengalami dan menghargai besarnya anugerah Tuhan yang telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan padahal mereka juga “kecipratan” berkat Tuhan karena bisa bebas dari tulah hukuman yang datang kepada bangsa Mesir.

Dari tepi perkemahan mulailah orang-orang ini bersungut-sungut, ‘kita makan apa ini? Lalu kemudian sungut-sungut itu menjalar terus sampai kepada perkemahan bangsa Israel, dan bukan saja kepada orang Irael tetapi sampai kepada pemimpin-pemimpin kelompok kaum di perkemahan masing-masing. Maka ramailah terdengar tangisan, teriakan, ratapan, sungut-sungut dari mulut orang-orang ini bahwa mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan baik dan indah. Sungut-sungut adalah sesuatu yang sangat berbahaya sekali dan demikian cepat dia menular. Kita harus menyadari dan mawas diri akan hal itu. Yakobus berkata, “Lidah walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar…” (Yakobus 3). Hati-hati dengan lidah kita, karena dia seperti api yang bisa membakar hutan yang besar tanpa bisa dikontrol. Kita mungkin tidak bisa mencegah telinga kita mendengar orang lain mengatakan sesuatu, tetapi kita bisa mencegah mulut kita untuk tidak memperpanjang sungut-sungut itu sampai ke orang lain. Kita juga bisa mempunyai pilihan untuk tidak mau mendengar sungut-sungut dan gerutu ketidak-puasan, kalimat-kalimat yang terus-menerus mengeluh, hal yang baik dijadikan tidak baik, segala yang didapat tidak dilihat sebagai ‘blessing’ dan anugerah. Alkitab mencatat sungut-sungut itu menular begitu cepat sampai kepada pemimpin-pemimpin bangsa Israel. Maka mereka datang kepada Musa dan berkata, “Berilah kami daging. Sekarang ini kami kurus kering, tidak ada sesuatu apapun kecuali manna ini saja…” (ayat 6).

Yang kedua, sungut-sungut itu mendistorsi perspektif hidup kita. Bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah perjanjian, saya percaya apa yang mereka alami dan jalani persis sama dengan perjalanan hidup kita. Kita dibawa keluar dari perbudakan dosa, kita sekarang adalah anak-anak Tuhan yang sedang berjalan dalam perjalanan iman menuju ke tanah perjanjian surgawi. Dalam perjalanan itu bisa jadi ada realita yang susah dan sulit tetapi yang terjadi adalah bangsa Israel melihat hal yang susah dan sulit di dalam perjalanan di padang gurun itu membuat mereka menoleh ke belakang melihat apa yang mereka tinggalkan di masa yang lalu itu lebih baik daripada yang sekarang.

Kita tahu tidak gampang dan tidak mudah orang yang keluar dari penjara, setelah bebas di masyarakat mencari kerja setengah mati, lalu pikir-pikir rasanya hidup di dalam penjara lebih enak daripada bebas di luar. Maka dia terus berbuat melanggar hukum supaya bisa masuk ke penjara lagi. Wanita bekas pekerja seks di pelacuran ditebus, diselamatkan, coba diberi kesempatan bekerja berkarya dengan kerja keras mengeluarkan tenaga menjahit dan bekerja di pabrik, uang yang diterima begitu sedikit, bisa membuat dia ingin kembali hidup seperti dulu, dengan menjual diri bisa mendapat uang lebih banyak tanpa perlu bersusah-susah.

Sungut-sungut terhadap susahnya hidup sekarang di dalam perjalanan itu membuat mereka terdistorsi di dalam melihat keseluruhan hidup ini. Distorsi melihat apa yang terjadi di belakang nampaknya lebih baik dan lebih enak. “Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih tetapi sekarang kita kurus kering…” (ayat 5). Mata yang terdistorsi melihat seperti itu.

Kesulitan perjalanan hidup kita sekarang harus kita lihat menjadi perjalanan yang sementara, kita berjalan mendaki dengan berat, kelak kita akan duduk di atas puncak gunung menikmati dengan sukacita keindahan kemegahan pemandangan. Paulus dalam Roma 8:18 mengatakan kesulitan kita sekarang tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang kelak akan kita terima. Tetapi sungut-sungut akan membuat orang itu berpikir hidup di dalam dosa dahulu sebelum ditebus Tuhan lebih enak daripada hidup ikut Tuhan. Inilah yang dialami oleh bangsa ini.

Mari kita perhatikan baik-baik, karena akhirnya Tuhan menyatakan kemarahan dan murkaNya kepada mereka. Itu berarti mereka melakukan penghinaan kepada Tuhan yang sudah menebus mereka dari perbudakan, yang sudah membawa mereka keluar dari penindasan di Mesir. Bukankah hal itu jauh lebih penting, itu jauh lebih besar, itu jauh lebih berharga daripada sekedar makan dan minum? Dengan mengatakan, “Sekarang kita kurus kering tidak ada sesuatu apapun kecuali manna ini saja…” artinya bukan tidak ada makanan, tetapi mereka sudah muak dan bosan dengan manna yang Tuhan beri kepada mereka, mereka mencela manna yang tiap hari turun dari langit mencukupkan kebutuhan mereka.

Alkitab tidak setuju dan tidak terima sikap dan pernyataan mereka yang tidak menghargai manna yang mereka makan setiap hari. Ayat 7-9 memberi koreksi terhadap celaan kata mereka “manna ini saja.” Manna adalah berkat Tuhan yang begitu berharga. Betapa berharga manna itu, tidak pernah engkau lihat dan bisa perbandingkan dengan apapun. Penulis Bilangan ini menggambarkan, “Bentuknya seperti ketumbar, kelihatannya seperti damar bedolah.” Apa itu damar bedolah? Dalam Kejadian 2:12 menyebut damar bedolah itu adalah satu substansi yang ada di taman Eden, untuk menyatakan ini barang berharga, disejajarkan dengan emas dan batu krisopras. Kedua, setiap pagi mereka bangun dan keluar dari perkemahan, manna itu sudah ada. Mereka bilang mereka makan ikan di Mesir dengan tidak bayar, sebetulnya mereka bayar dengan kerja yang sangat keras menjadi budak Firaun sepanjang tahun tanpa pernah dibayar, lalu merasa senang bisa dapat ikan tanpa membayar. Bukankah itu satu hal yang sangat keterlaluan? Yang seharusnya mereka sadar dan tahu justru manna itu mereka peroleh tanpa kerja apa-apa, tanpa menanam, tanpa menuai, mengapa sekarang mereka anggap itu sepele? Yang ketiga, siapa bilang manna itu membosankan? Mereka bisa menggilingnya, mereka bisa menumbuknya, mereka bisa goreng, mereka bisa rebus, mereka bisa panggang. Manna bisa dimakan dengan nikmat dengan kreatifitas mereka mengolahnya. Alkitab menolak penghinaan mereka. Uang berapa banyak di atas muka bumi ini bisa membeli berapapun harga termahal makanan yang ada, selama makanan itu ada. Tetapi siapa yang bisa membeli manna hari ini? Tidak ada yang bisa. Tetapi pada waktu mereka merasa apa yang mereka dapat hanya itu-itu, seperti itu, dan mereka melihatnya bukan menjadi kebaikan, bukan menjadi keindahan, mereka menjadikannya sungut-sungut.

Nanti selanjutnya kita bisa melihat pemberontakan mereka adalah mereka menolak pergi ke tanah yang dijanjikan Tuhan tetapi mereka mau balik kembali saja ke Mesir, berarti bukan saja melihat susahnya di padang gurun membuat mereka bersungut-sungut, tetapi mereka juga tidak melihat kepada apa yang ada di depan sebagai tanah perjanjian yang Tuhan beri kepada mereka. Itulah efek dari sungut-sungut.

Ketiga, gara-gara bangsa Israel bersungut-sungut, Musa juga ikut bersungut-sungut. Ayat 10-13 di situ Musa bersungut-sungut. Sungut-sungut Musa memperlihatkan dia juga orang biasa, meskipun dia seorang nabi yang menjadi pengantara bangsa Israel dengan Tuhan, dia tetap manusia yang lemah, kecil dan terbatas. Di situ kita sungguh-sungguh membutuhkan dan memerlukan seorang pengantara meskipun kita tidak menghargaiNya, mencintaiNya, menghormatiNya, Dia tetap menjadi Pengantara yang berdoa syafaat bagi engkau dan saya karena Dia tahu segala kekurangan dan kelemahan kita, hanya saja Dia tidak melakukan dosa. Itulah Yesus Kristus. Dia tidak pernah jemu dan bosan. Ketika anak-anak Tuhan jemu dan bosan bersyukur, ketika anak-anak Tuhan lalai berdoa kepada Bapa di surga, kita mempunyai seorang Pengantara yang senantiasa setia memikirkan, berdoa, mengasihi dan melindungi engkau dan saya, di situlah indahnya kita memiliki Tuhan Yesus Kristus di dalam hidup kita. Puji Tuhan.

Tetapi di bagian ini bangsa Israel bersungut-sungut karena situasi makanan di padang gurun, Musa bersungut-sungut bukan karena situasinya. Musa bersungut-sungut karena mengapa sungut-sungut bangsa ini membuat hidup dia susah dan berat sehingga Musa berkata, ‘apa yang aku lakukan? Aku kan tidak bikin apa-apa. Aku tidak sepatutnya menerima perlakuan yang tidak baik dari bangsa ini.’

Maka dia bersungut-sungut, dia menyatakan perasaan itu kepada Tuhan.

Dua hal terjadi di sini. Pertama, sungut-sungut bangsa Israel dijawab oleh Tuhan dan jawabnya Tuhan itu sungguh luar biasa. Mereka mau makan daging? Tuhan beri mereka makan daging. Satu hari? Dua hari? Tidak. Tuhan beri mereka daging satu bulan lamanya. Itulah sebabnya Alkitab mencatat bertiuplah angin dari Tuhan menghamburkan burung puyuh ke perkemahan orang Israel. Itulah berkat dan anugerah Tuhan tetapi sekaligus menjadi penghukuman Tuhan. Penghukuman Tuhan melalui berkatNya yang turun tergantung daripada bagaimana reaksi dan sikap orang itu. Alkitab mencatat hal yang kecil, “Selagi daging itu ada di mulut mereka…” Sebelum daging itu masuk ke batang leher untuk mereka telan, akhirnya karena kerakusan mereka tersedak dan tercekik sendiri. Mati semua. Tetapi bukan itu yang menjadi point-nya. Ayat 32 memperlihatkan dari situ kita tahu berkat Tuhan datang berlimpah tidak berarti seseorang itu boleh dengan rakus mengambil dan merebut semuanya. Ayat itu mengatakan “setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer.” Sepuluh homer itu kira-kira ukuran volume 3.600 liter, jadi bayangkan ada berapa ember kira-kira burung puyuh yang mereka kumpulkan hari itu? Mau bikin apa? Hal ini penting luar biasa. Bukan 10 ekor burung, tetapi berember-ember? Kerakusan itulah yang menjadi dasar yang tidak kelihatan dari sikap bersungut-sungut. Ketidak-percayaan kepada berkat Tuhan dan Tuhan yang bisa memberi dengan berkelimpahan, tetapi merubah berkat itu menjadi tidak benar. Itulah kerusakan dari sungut-sungut. Sungut-sungut juga membuat orang setelah menerima berkat tidak bersyukur tetapi ambil sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri. Hari itu sebelum daging itu tertelan masuk ke perut, mereka ambil lagi, makan lagi. Akhirnya mereka mati tercekik.

Bolehkah dari bagian ini mengingatkan kita tidak berkat, kelancaran, kesuksesan, keuangan yang banyak, menyebabkan kita melihatnya sebagai berkat Tuhan tanpa ada ‘warning sign’ di belakangnya? Ayat ini seolah mengingatkan kamu merasa tidak ada berkat Tuhan? Sekarang Aku beri berkat itu, Aku lemparkan berkat itu sebanyak-banyaknya ke pangkuanmu. Tetapi pada waktu Tuhan lemparkan berkat itu sebanyak-banyaknya, kita perlu mawas diri dan perhatikan baik-baik, mengambil semua sebanyak-banyaknya justru menjadi pencobaan yang Tuhan beri kepada kita, Tuhan ingin tahu berapa rakusnya dan dalamnya sebenarnya hati kita tidak menghargai berkat Tuhan. Sehingga tidak boleh kita mengambil kesimpulan otomatis ketika seseorang merasa segala sesuatu itu datang seperti air bah berlimpah-limpah dalam hidupnya lalu tanpa sadar dan mawas diri dia pikir ini semua pasti berkat Tuhan lalu ‘I can do what I want,’ lalu berbaliklah berkat menjadi malapetaka bagimu, betapa berbahaya dan harus hati-hati kita akan hal itu.

Melalui kisah ini kita bisa melihat hukuman Tuhan itu datang dengan kelimpahan yang diberikan kepada mereka. Yang sadar akan anugerah Tuhan menerima dan mengambil secukupnya, bersyukur karena Tuhan boleh memberi daging hari itu. Menikmati, makan dan mengolahnya pada hari itu. Menghargai itu sebagai anugerah dan berkat Tuhan yang datang dan diberi kepada kita. Tetapi bagi mereka yang rakus, setelah mereka bersungut-sungut kepada Tuhan dan mendapatkan apa yang diberi mereka lupa untuk mengucap syukur karena mulutnya sudah tersumpal dengan daging yang tidak bisa ditelan sehingga menjadi kutukan dan hukuman bagi orang-orang seperti itu.

Tuhan Yesus berkali-kali mengingatkan kita untuk menjaga hati kita dari ketamakan dan berhati-hati terhadap harta (band. Lukas 12:15-21). Pada waktu Ia menceritakan perumpamaan pesta kerajaan Allah dalam Lukas 14:16-24, sang Tuan Rumah mengundang banyak orang datang ke pestanya, namun mereka menolak dengan berbagai alasan. Orang-orang yang sudah menerima dan mengalami hidup yang lancar dan baik dengan berkat seperti ini belum tentu menghargai dan menikmati itu sebagai berkat dan anugerah Tuhan. Maka Tuhan berkata, undang orang-orang di pinggir jalan, yang miskin, cacat, buta dan lumpuh. Mereka akan menghargai undangan pesta itu dan menikmatinya.

Kepada Musa yang berkeluh kesah, Tuhan menyatakan kasih dan simpati kepadanya. Tuhan menjadikan Musa sebagai seorang pemimpin yang mendelegasikan itu kepada 70 orang tua-tua yang lain. Tuhan tahu kelemahan, kekurangan dan keterbatasan seseorang, dan di situ Tuhan kemudian menjadikannya sebagai satu tim kerja yang mengerjakan pekerjaan yang indah dan baik bersama Musa. Bagian ini juga mengajarkan kepada kita, kita tidak kuat, tidak sanggup dan kadang-kadang kita tidak bisa mengerjakan sesuatu seorang diri sehingga kita perlu belajar membagikan kepada orang lain. Di situ kita tidak menjadi bersungut-sungut. Maka Tuhan menyuruh Musa memanggil dan mengumpulkan 70 orang tua-tua dan membagikan sebagian dari Roh yang Tuhan beri kepada Musa untuk dibagikan kepada mereka (Bilangan 11:16-17).

Biar firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita di dalam perjalanan hidup kita di depan hati kita penuh dengan berkat syukur. Jangan sampai perjalanan yang sulit dengan tantangan berat membuat kita tergoda untuk bersungut-sungut kepada Tuhan. Mari kita belajar senantiasa lambat untuk berkata-kata tetapi cepat untuk mendengar suara Tuhan. Biar kita boleh berjalan dengan iman, senantiasa peka menghargai anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Dan setiap pemberian Tuhan itu begitu indah dan baik bagi kita. Jangan biarkan setiap hal yang rutin yang terjadi di dalam hidup kita menyebabkan kita menganggap remeh ‘take for granted’ semua yang kita terima.(kz)