Yesus Kemah Suci Sejati

Sun, 27 Apr 2014 05:01:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (37)

Nats: Keluaran 25 – 30

 

“Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yohanes 2:19). Kalimat Tuhan Yesus ini adalah kalimat yang sangat kontroversial dan jelas kalimat yang menyakitkan hati pemimpin-pemimpin agama orang Yahudi karena itu adalah kebanggaan ibadah mereka. Dari semua bangunan Bait Allah, Bait Allah yang dibangun oleh Herodes untuk menyenangkan hati orang Yahudi pada waktu itu adalah bangunan yang megah luar biasa. Mendengar kalimat Yesus itu mengamuklah mereka, “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” (Yohanes 2:20). Siapa Engkau? Alkitab memberitahukan kepada kita kalimat Tuhan Yesus itu tidak lain dan tidak bukan untuk menyatakan Bait Allah itu akan berubah dari bentuk fisik dan bangunan sekarang menjadi Bait Allah Yesus Kristus Tuhan kita (Yohanes 2:21).

Penulis Ibrani mengatakan, “…Musa membuat kemah itu menurut contoh yang telah ditunjukkan Allah kepadanya di atas gunung itu” (Ibrani 8:5) yang mengutip dari Keluaran 25:40. Dalam Keluaran 25-30 Tuhan menyatakan kepada Musa bagaimana Kemah Suci itu harus dibangun. Namun sesudah itu di Keluaran 32 justru umat Israel membangun patung lembu emas. Itu sebab kemudian Tuhan harus mengulang sekali lagi bicara mengenai detail pembangunan Kemah Suci di dalam Keluaran 36-40. Jadi ada dua bagian di dalam kitab Keluaran dimana pembangunan Kemah Suci ini diuraikan secara teliti luar biasa. Puji Tuhan dengan Tuhan memberikan secara detail ini mempunyai maksud dan tujuan yang sangat indah sekali.

Perjanjian Baru memperlihatkan Yesus Kristus adalah Bait Allah yang sejati itu sesungguhnya bukan menggantikan Bait Allah atau Kemah Suci dalam Perjanjian Lama. Kemah Suci dan Bait Allah dalam Perjanjian Lama justru dibuat mengikuti contoh Kemah Suci Yesus Kristus. Konsep ini tidak boleh dibalik, karena ayat ini mengatakan demikian. Musa membuat Kemah Suci dengan Tuhan memperlihatkan Kemah Suci yang ada di surga. Itulah sebabnya setiap peralatan yang ada di dalam Kemah Suci, setiap ritual yang ada untuk menjadi satu bayang-bayang terhadap kedatangan Tuhan Yesus Kristus, kematianNya dan penebusanNya di kayu salib bagi kita. Ia selesaikan semua itu sehingga kita tidak perlu lagi seperti kaum Dispensasionalis yang masih menantikan dan menginginkan Bait Allah dibangun kembali di Yerusalem. Bagi saya ini adalah konsep yang keliru di dalam menafsirkan nubuatan di dalam PL bahwa Bait Allah harus didirikan lagi. Bait Allah itu adalah diri Yesus Kristus.

Tuhan Allah memperlihatkan kepada Musa visi dari surga mengenai Kemah Suci. Visi itu penting karena dengan visi itu Musa merealisasikan kedatangan Allah Imanuel itu karena Allah sudah berjanji mau tinggal bersama-sama dengan umatNya. Tempat dimana Tuhan hadir di tengah-tengah mereka dimana Kemah Suci itu dibangun. Tuhan tidak menurunkan emas, perak, barang-barang yang berharga dari surga tetapi kehadiranNya adalah hal yang paling penting. Maka dari situ menjadi kerinduan mereka untuk bagaimana Kemah Suci itu terealisasi.

Kedua, visi diberikan, janji kehadiran Tuhan dimaklumkan, penyertaan Tuhan disampaikan, bagaimana Kemah itu terealisasi? Setelah visi pertama detail pembuatan Kemah Suci itu Tuhan beritahu, mereka memang mengalami kejatuhan spiritual yang sangat dalam dengan membuat patung lembu emas. Mereka sedih, mereka menyesal, mereka bertobat atas kesalahan mereka. Apa gunanya memberikan semua emas untuk membuat patung seperti itu? Maka hal yang luar biasa terjadi, setelah peristiwa pertobatan itu, waktu Tuhan menyuruh Musa memberitahukan untuk kedua kali untuk membangun Kemah Suci itu, Alkitab mencatat hal yang begitu indah, seluruh umat Tuhan itu memberi persembahan dengan sukarela kepada Musa sampai lebih daripada yang diperlukan (Keluaran 36:3b-7). Muncullah orang-orang yang tergerak memberi persembahan, dan muncullah ahli-ahli yang bekerja membuatnya.

Mulai dengan visi yang Tuhan beri, Tuhan memimpin kita berjalan kemana, lalu kemudian masing-masing mau berjalan menggenapkan apa yang dipercayakan kepada mereka. Perlu waktu, perlu persiapan, perlu tenaga, perlu pemberian, perlu pengorbanan, itulah ‘ingredient’ dasar dari pembangunan Kemah Suci. Saya percaya banyak hal Tuhan inginkan kita mempunyai prinsip seperti ini. Bukan Tuhan kita tidak kaya, bukan Tuhan kita tidak sanggup bisa mencukupi dan memberikan semua itu, tetapi Ia memberikan semua itu secara bertahap, memperlihatkan kepada kita di tengah ketidak-mungkinan dan ketidak-mampuan kita berjalan ikut Tuhan menggenapkan rencanaNya, Tuhan menggugah dan menggerakkan hati kita untuk melihat apa yang bisa kita kerjakan berbagian di situ. Yang indah, yang berarti dan yang berharga, visi dari Tuhan diberi kepada kita, sudah cukup menggerakkan totalitas hidup kita.

Alkitab mencatat perkakas dan peralatan yang diperlukan di dalam ruang maha kudus itu adalah Tabut Perjanjian (Keluaran 25:10-22). Tabut itu terbuat dari kayu penaga dan dilapisi dengan emas murni, luar dan dalamnya. Lalu pada empat sisi di ujung dipasang gelang-gelang supaya orang tidak menyentuh tabut itu ketika memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain. Di situ mereka diingatkan dan disadarkan bahwa tabut ini adalah representasi dari Tuhan yang agung, suci dan mulia adanya. Tuhan menyuruh Musa menaruh dua loh batu 10 hukum, sebagai tanda perjanjian dan hukum Tuhan. Dalam perjalanan umat Israel selanjutnya ada dua benda lagi yang dimasukkan di dalam tabut itu yakni buli-buli emas berisi manna dan tongkat Harun yang bertunas (Ibrani 9:4). Manna adalah roti yang turun dari langit Tuhan berikan kepada bangsa Israel selama 40 tahun berjalan di padang gurun. Mereka simpan sebagian dari manna itu ditaruh di dalam buli-buli emas sebagai satu memori mengingatkan bagaimana Tuhan memelihara dan mencukupkan mereka. Tongkat Harun yang bertunas melambangkan dari benda kayu yang mati keluar kehidupan (Bilangan 17:8). Di atas tabut itu Tuhan menyuruh mereka membuat “tutup perdamaian” (Keluaran 25:17) yang oleh William Tyndale diterjemahkan dengan istilah yang indah “a mercy seat” atau dalam NIV “atonement cover.” Di atas tutup itu dibuat dua kerub atau malaikat dari emas murni. Dalam Keluaran 25:18-20 Tuhan memberi detail bagaimana bentuk dan posisi kerub itu. Dalam Yehezkiel 1:5-14 nabi Yehezkiel menggambarkan bentuk kerubim di dalam penglihatan yang dia lihat, yang deskripsinya mirip dengan yang dituliskan oleh rasul Yohanes dalam kitab Wahyu 4:6.

Apa maksudnya Tuhan membentuk Tabut Perjanjian dengan bentuk seperti itu? Dalam Mazmur 99:1 dikatakan, “TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang.” Tabut Perjanjian di atasnya ada Tutup Pendamaian yang terbuat dari emas, di tutup itu ada dua kerubim dan di tengah-tengah kerubim itu seperti yang Tuhan katakan kepada Musa, “Di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan berbicara dengan engkau…” (Keluaran 25:22). Tahta Tuhan meskipun tidak bisa digambarkan dengan imajinasi karena hanya ruang kosong di situ, tetapi dengan adanya kerubim di atas Tabut Perjanjian, di situ Tuhan bertahta. Kalau Mazmur mengatakan “TUHAN bertahta di atas kerub,” maka loh batu yang terdapat di dalam Tabut Perjanjian boleh dikatakan sebagai tempat berpijaknya kaki TUHAN. Tempat berpijak kaki Tuhan adalah hukumNya yang Ia beri kepada kita dan rasul Paulus dalam surat Roma mengatakan kita tidak akan pernah sanggup bisa menjalankan hukum itu. Tuhan memberi hukumNya kepada kita sehingga kita selalu mengetahui Ia suci dan kudus adanya dan sekaligus mengingatkan betapa kotor dan berdosanya kita. Kita tidak mungkin bisa suci, kudus dan senantiasa melakukan hukum Tuhan tanpa pernah melanggarnya. Kalau begitu, bagaimana? Itulah sebabnya kita menemukan fungsi dari Tutup Pendamaian penting luar biasa. Tutup Pendamaian berada di antara Tabut Perjanjian dengan Tuhan yang ada di atas. Kata “Tutup Pendamaian” itu belakangan hari dipakai oleh rasul Paulus dalam Roma 3:25 “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darahNya…” Tutup Pendamaian Musa adalah contoh bayang-bayang dari apa yang diperlihatkan dari surga, Yesus Kristus itulah Tutup Pendamaian itu. Kalau darah lembu jantan dan domba jantan dipercikkan di atas Tutup Pendamaian itu setahun sekali, maka dalam Perjanjian yang Baru, darah Yesus Kristus sendiri yang dicurahkan.

Di dalam Kemah Suci ada dua ruang terpisah dengan dua tirai, pertama tirai masuk ke dalam ruang suci dan tirai kedua untuk masuk ke dalam ruang maha suci. Di dalam ruang suci ada tiga benda, yaitu meja roti sajian yang di atasnya ditaruh dua belas roti yang disusun dalam dua tumpukan, masing-masing enam. Setiap tujuh hari, mereka menaruh roti yang baru. Tidak ada yang boleh makan roti itu kecuali keluarga imam (Imamat 24:5-9). Apakah ini konsep mirip dengan orang menaruh makanan di meja pendupaan buat sesajen? Tidak sama. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak memerlukan makan dan minum tetapi roti itu dibuat justru untuk mengajar orang Israel mengingat Allah mencukupkan makan dan minum mereka.

Peralatan yang kedua adalah kandil atau kaki dian yang berupa tujuh cabang, yang sekarang ini dikenal sebagai simbol dari Yudaisme yang dalam bahasa Ibrani disebut “menorah.” Kaki dian itu juga terbuat dari emas murni, di tengahnya dibuat kelopak bunga, sehingga menorah itu sekaligus juga menjadi sïmbol “the tree of life” atau pohon kehidupan, menorah juga menjadi pohon terang abadi. Secara fungsi masuk ke dalam Kemah Suci ini gelap luar biasa sebab kemah ini dibuat empat lapis. Lapisan dalam adalah dari kain lenan, lalu kain ungu, lalu dilapis bulu dan kemudian bagian paling luar dalam terjemahan Indonesia disebut “kulit lumba-lumba” tetapi lebih tepat itu adalah kulit dugong atau ‘cowfish’ sehingga kedap air. Di dalam Kemah Suci yang gelap lampu kandil ini berfungsi menerangi ruangan itu.

Maka kalau kita melihat Yesus Kristus sebagai gambar Bait Allah seperti kandil itu melambangkan Kristus adalah terang dunia, Kristus adalah sumber kehidupan kita. “Terang yang sesungguhnya itu sudah datang ke dalam dunia…” (Yohanes 1:9). Yesus mengatakan, “Akulah Terang Dunia,” (Yohanes 8:12, 12:46). Yesus mengatakan, “Akulah Roti Hidup, barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi…” (Yohanes 6:35).

Peralatan yang terakhir yang ada di dalam ruang suci yang paling dekat dengan ruang maha suci adalah mezbah pembakaran yang di dalamnya dibakar rempah-rempah dengan bara api, memberikan wangi dan harum di dalam Kemah Suci. Setiap pagi dan sore imam masuk ke ruang itu membawa kemenyan dan membakarnya. Dalam Mazmur 141:2 Daud berkata, “…biar doaku adalah bagiMu seperti persembahan ukupan…” Dalam penglihatan Yohanes di Wahyu 5:8b, “Di hadapan Anak Domba itu masing-masing memegang satu cawan emas penuh dengan kemenyan, itulah doa-doa orang kudus…” adalah apa yang diwakilkan oleh harumnya bau bakaran rempah-rempah itu yaitu doa.

Tidak ada kekuatan lain setelah kita menerima terang hidup, kita menerima makan minum dari Tuhan, di situ kita membawa hidup kita yang berdoa dan beribadah kepada Tuhan. Pernahkah kita merasa dan mengingat baik-baik dalam hidup kita betapa manis dan harumnya doa kita itu di hadapan Tuhan? Jangan sampai doa menjadi satu tugas yang menjemukan, atau menjadi sesuatu yang paling akhir dari daftar hidup kita. Waktu Yohanes dalam kitab Wahyu mengatakan doa itu seperti kemenyan yang harum di hadapan Tuhan dan Daud berkata, Tuhan, dengar doaku seperti bau harum pembakaran ukupan di hadapanMu, mari kita jadikan hidup doa kita hidup yang wangi, indah dan manis di hadapan Tuhan. Dengan doa kita menyadari hanya Tuhan yang sanggup, dengan doa kita tahu kepadaNyalah kita meminta, dengan doa kita mengaku tidak ada yang bisa kita lakukan dengan kemampuan dan kekuatan kita sendiri kalau kita tidak mendapatkan kemampuan dan kekuatan itu dari Tuhan.

Kemudian Kemah Suci ini juga dikelilingi oleh halamannya yang harus ditutup dengan kain lenan putih halus dan Tuhan menyuruh mereka membuat dua peralatan untuk diletakkan di situ, untuk mereka datang memberi persembahan kepada Tuhan. Yang pertama adalah mezbah tempat pembakaran yang terbuat dari tembaga yang tahan api.

Kenapa semua peralatan di ruang suci dan ruang maha suci harus terbuat dari emas? Emas menjadi lambang dan simbol keagungan majesty dari the Holy God, Allah yang kita agungkan dan muliakan dengan hal yang terbaik dari hidup kita. Ini adalah simbolisasi yang penting Tuhan ajarkan kepada kita, mana yang terindah dan terbaik yang diberikan dan dipakai olehNya seturut dengan karakter dan sifat dari Tuhan kita. Di mezbah tempat pembakaran di situ umat Tuhan membawa korban bakaran sebagai satu simbolisasi mereka hanya boleh datang kepada Tuhan ketika ada korban yang menggantikan hidup mereka. Bukan itu saja, korban bakaran dan korban penghapus dosa itu harus dibakar habis, tetapi ada yang namanya korban fellowship, korban itu sebagian dibakar, sebagian lagi dimakan bersama-sama orang miskin, sebagian diberi kepada keluarga imam. Dari situ kita bisa melihat bagaimana imam-imam yang tidak punya pemasukan dari tanah pusaka dicukupkan oleh Tuhan melalui persembahan itu.

Segala peraturan ini mewakili penebusan, korban itu dibakar habis lalu baru kita bisa menghampiri Tuhan.

Sesudah itu ada satu peralatan lagi yaitu bejana pembasuhan. Di situ para imam harus membasuh tangan dan kaki mereka sebelum masuk ke dalam Kemah Suci. Yang pertama, tempat mewakili penebusan. Yang kedua, tempat mewakili penyucian. Saya percaya demikian prosesnya. Tuhan mau setelah kita ditebus dan dibebaskan dari dosa-dosa kita, kita harus bertumbuh di dalam hidup kesucian kita. Kesucian yang membasuh kita dari segala kekotoran kita.

Bagaimana mereka tahu mereka sudah bersih? Keluaran 38:8 memberikan catatan kecil, “Dibuatnya bejana pembasuhan dan alasnya dari cermin-cermin…” Cermin ini bukan seperti cermin kita sekarang, tetapi terbuat dari sejenis tembaga yang murni yang saking murninya bening bagai kaca bisa merefleksikan wajah. Itu cermin jaman dulu. Dan jangan lupa cermin jaman dulu itu mahal dan tidak banyak wanita yang memilikinya. Jadi memiliki cermin menyatakan status sosial yang tinggi. Darimana wanita-wanita ini bisa memiliki cermin? Saya percaya waktu mereka masih di Mesir mereka menjadi budak di rumah-rumah orang kaya dan waktu mereka keluar dari Mesir, majikan-majikan mereka memberikan barang-barang berharga antara lain cermin seperti itu.

Untuk membuat bejana pembasuhan itu dipakai materi bahan yang paling baik supaya imam bisa melihat apakah wajah mereka sudah bersih bisa nampak dari cermin di dasar bejana itu. Satu-satunya jenis metal yang bisa dipakai untuk fungsi itu adalah cermin tadi. Puji Tuhan Alkitab mencatat wanita-wanita itu memberikan cermin mereka sebagai persembahan bagi Tuhan. Sama seperti Maria memberikan minyak narwastu yang mahal dan berharga untuk mencuci kaki Tuhan Yesus, hari itu wanita-wanita ini tidak lagi memikirkan tidak bisa lagi memandang wajah mereka yang cantik tetapi dengan rela memberikan cermin itu bagi Tuhan. Cantik fisik tidak sebanding dengan cantik hati mereka yang mengasihi Tuhan. Itulah ‘sacrifice’ mereka memberikan cermin yang mereka punya untuk dipakai bagi pekerjaan Tuhan. Maka bagian catatan kecil ini begitu indah bagi saya, kerelaan mereka mendapatkan apresiasi dari Tuhan yang menghargai setiap pemberian yang lahir dari satu sikap keindahan dari hati perempuan-perempuan yang memberikan pengorbanannya sehingga boleh menjadi perangkat bejana pembasuhan di Rumah Tuhan.

Itulah fungsi dari Kemah Suci bicara mengenai kita ditebus, bicara mengenai kita perlu dikuduskan sehingga kita boleh masuk ke dalam Kemah Suci itu. Di dalam Kemah itu kita boleh diingatkan Tuhan memberikan kita makanan, di dalam Kemah itu kita diingatkan Ia adalah sumber terang dan sumber kehidupan, di dalam Kemah itu kita datang membawa doa-doa kita kepada Tuhan. Yang terpenting dan terindah semua itu bisa sampai dan diterima di hadapan Tuhan sebab ada “Tutup Pendamaian” dengan percikan darah Domba yang memperlayakkan sehingga kita boleh bertemu dengan Tuhan Allah kita. Semua perangkat dan ritual itu selesai dan tidak lagi kita lakukan oleh karena Yesus Kristus telah menggenapkannya bagi kita, tetapi spirit dan semangat itu tidak boleh hilang di dalam hidup spiritual kita.

Waktu kita datang ke rumah Tuhan mari kita membawa ‘the beauty of our sacrifice’ di hadapan Tuhan. Waktu kita datang beribadah setiap minggu kita juga membawa ‘the sweetness of our prayer’ kepada Tuhan. Waktu kita datang beribadah kita juga membawa satu pengakuan syukur kita, pulang dari tempat ini kita tahu Tuhan peduli apa yang kita butuhkan dan kita perlukan dalam hidup kita. Jangan kita kuatir dan gelisah. Kita datang ke rumah Tuhan kita diingatkan Ia adalah sumber kehidupan dan sumber terang yang memimpin hidup kita. Biar semua itu menjadi nilai yang tidak berubah sebab Allah yang dahulu menyuruh Musa dan bangsa Israel membuat Kemah Suci itu adalah Allah yang tidak berubah dulu, sekarang dan selama-lamanya.

Dengan indah Tuhan mengatur bagaimana umatNya boleh datang menghampiri Tuhan. Kita sadar tidak sanggup kita bisa berdiri di hadapan Tuhan karena kita manusia yang kecil, hina, lemah dan berdosa adanya, kecuali kita berdiri di dalam kasih dan penebusan Tuhan Yesus Kristus yang sudah mati bagi kita. Kita bersyukur atas semua itu.(kz)