7 Pertanyaan Kristus yang Bangkit

Sun, 20 Apr 2014 07:36:00 +0000

Kebaktian Paskah RECI 2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

7 PERTANYAAN KRISTUS YANG BANGKIT

 

1. “Ibu, mengapa engkau menangis?” (Yohanes 20:15a)

2. “Siapakah yang engkau cari?” (Yohanes 20:15b)

3. “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (Lukas 24:17)

4. “Bukankah semua yang sudah terjadi ini sudah tertulis dalam seluruh kitab suci?” (Lukas 24:27)

5. “Hai anak-anak, adakah makanan padamu?” (Yohanes 21:5)

6. “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?” (Yohanes 21:15)

7. “If I want him to remain alive until I return, what is that to you?” (Yohanes 21:22)

 

Hari ketiga, Yesus bangkit! Yesus yang bangkit mengeluarkan kalimat-kalimat yang sangat menarik sekali di antaranya berupa pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul oleh sebab Yesus ingin mengarahkan hati kita kembali, membawa kita untuk fokus lagi. Bukan selama ini kita tidak tahu akan semua itu, maka Ia bertanya. Kita sudah tahu akan semua itu, tetapi pertanyaannya, mengapa kita kurang yakin dan percaya? Dia bertanya, bukan meragukan kita. Dia bertanya, hanya untuk membawa kembali hati kita bagaimana harus berespons dan bersikap kepada Tuhan kita Yesus Kristus.

Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Kita tidak bisa menahan ketika kematian datang ke dalam hidup kita. Ketika orang yang kita kasihi dan cintai pergi meninggalkan dunia ini sulit kadang kita bisa terima dan atasi. Kehilangan dari orang-orang yang kita cintai pasti akan memberikan goresan kesedihan yang dalam, keengganan untuk bangkit dan bangun lagi. Sesiap-siapnya kita menghadapi hal itu, tetap tidak ada orang yang benar-benar siap ketika fakta realita kematian datang ke dalam hidupnya. Yesus sebelum naik ke kayu salib telah berkali-kali mempersiapkan murid-muridNya akan peristiwa ini. Tetapi Alkitab mencatat mereka tidak terlalu mendengarkan semua hal itu. Karena siapa yang sangka, Yesus yang berkuasa melakukan berbagai mujizat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, bagaimana mungkin Dia tidak memiliki kekuatan dan kuasa untuk melindungi diriNya sendiri dari tangan-tangan orang jahat itu? Mana mungkin seorang yang masih muda, umur 33 tahun, masih kuat dan sehat meninggal seperti itu?

Setelah Yesus ditangkap dan dieksekusi, murid-murid pasti berpikir, ‘who’s next?’ Kita mencoba membayangkan itu adalah situasi dan kondisi yang terlalu riskan bagi mereka. Maka wanita-wanitalah yang pagi-pagi benar datang ke kubur Yesus. Murid-murid yang lain kemana? Kita tidak boleh menghina mereka sebab pada waktu berada di situ kita pun akan takut dan gentar seperti mereka. Dari situ kita bisa bayangkan bagaimana peristiwa penangkapan, penyiksaan dan penyaliban Tuhan Yesus itu sungguh membuat semua keberanian murid-murid hancur berkeping-keping. Berlakulah kalimat Yesus, “Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai…” (Markus 14:27). Satu-persatu murid-murid itu tercecer di sana-sini.

Pertanyaan Tuhan Yesus ini juga mengingatkan rasul Paulus sehingga dia memberikan kekuatan dan penghiburan kepada jemaat di Tesalonika bagaimana mereka menghadapi kematian, “…supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Di dalam dukacitamu, di dalam tangisanmu engkau tidak boleh sampai kehilangan pengharapan. Kenapa kalimat ini muncul? Sebab kita adalah orang-orang percaya yang memiliki pengharapan yang berbeda dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Fakta kematian akan datang secara sama kepada siapapun, tetapi reaksi kita berbeda adanya. Kematian yang datang kepada kita, anak-anak Tuhan, berbeda sebab kita tahu itu adalah keterpisahan yang bersifat sementara. Kelak kita akan bertemu lagi dengan mereka, orang-orang yang kita kasihi, kita akan bertemu dengan Tuhan yang kita kasihi, karena kita tahu Tuhan kita sudah bangkit.

Pertanyaan Yesus kedua, “Siapakah yang engkau cari?” Maria ada bersama-sama dengan Yesus selama beberapa waktu, dia sudah cukup familiar dengan suaraNya berbicara dan mengajar. Bukankah baru saja tiga hari dia tidak mendengar suara Yesus? Tetapi pada waktu Yesus bertanya, “Siapa yang engkau cari?” heran, Maria tidak bisa mengenali suara itu. Maria mengira itu adalah penjaga taman kuburan. Suara itu tidak didengarnya sebagai suara dari Tuhan Yesus.

Seringkali hal-hal yang ada di sekitar kita menghasilkan suara yang begitu riuh dan membisingkan telinga kita, mengkaburkan ketajaman telinga kita untuk mendengar karena jiwa kita begitu tertekan dan gundah gulana. Persoalan demi persoalan mengganggu emosi kita sehingga kita sulit untuk bisa teduh di hadapan Tuhan dan dengan jernih membuka telinga kita mendengarkan suaraNya. Kadang persoalan-persoalan itu sudah terlalu dahsyat menekan kita sehingga hati kita berkecamuk dan tidak bisa teduh dan berpikir dengan jelas lagi.

Pertanyaan Yesus ini penting karena pertanyaan ini menggugah Maria, “Siapakah yang engkau cari?” Kenali Siapa Dia, itulah yang paling penting terlebih dahulu engkau tahu. Dan itu yang dikatakan oleh malaikat kepada dia, “Mengapa engkau mencari Dia yang hidup di antara orang mati?” (Lukas 24:5). Dia yang hidup tidak mungkin ada di tengah orang mati. Dia yang maha ada tidak mungkin tidak ada sedetikpun di dalam hidupmu. Dia yang maha kasih tidak mungkin sejengkal Dia lalai mencintaimu. Tidak perlu engkau takut dan kuatir kalaupun dalam sedetik dan sekejap engkau tidak melihat Dia di sisimu, tidak berarti Dia menghilangkan pandangan dan perhatianNya kepada engkau dan saya. Maria di dalam keadaan terlalu susah, terlalu cape, terlalu sedih, tidak bisa mengenali Yesus. Itulah sebabnya hari ini pertanyaan reflektif ini mari kita bawa kepada diri kita masing-masing. Pada waktu kita kecewa, putus asa, merasa tidak ada perjalanan yang pasti di depan, biar pertanyaan ini menggugah kita lagi. “Siapakah yang engkau cari?” Who is your Lord? Semakin kita memahami betapa besar, agung dan dahsyatnya Tuhan kita, semakin kecil kita melihat persoalan-persoalan itu menghalangi hidup kita. Tetapi orang yang merasa memiliki Allah yang kecil pasti akan selalu berpikir terlalu banyak persoalan-persoalan yang menghimpit hidupnya begitu besar, Tuhan sendiri pun tidak sanggup menolong dan menyelesaikannya.

Pertanyaan ketiga dari Yesus muncul di dalam perjalanan dua orang murid menuju ke Emaus, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (Lukas 24:13-33). Semakin banyak kita membicarakan persoalan-persoalan kita, semakin membuat kita berkutat di tengah lumpur persoalan itu, semakin banyak kita bicara, semakin sedikit yang bisa kita kerjakan dan lakukan. Semakin kita membicarakan persoalan-persoalan kita, semakin lama semakin besar rasanya persoalan-persoalan itu. Akibat terus melihat, membicarakan, mendiskusikan, kedua murid itu mendengar ini dan itu, semua itu membuat mereka menjadi begitu kuatir dan bingung dan putus asa. Akibatnya, Alkitab catat, mereka pulang ke Emaus. Itu sebab pertanyaan ini muncul, “What are you talking about?” Jernihkan baik-baik, apa sebenarnya subjek pembicaraan kalian. “Tidakkah Engkau tahu? Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Murid-murid ini keluar dari Yerusalem menuju ke Emaus, apa artinya? Karena nanti setelah selesai berbicara dan mengenali Tuhan Yesus, malam itu juga mereka kembali lagi ke Yerusalem (ayat 33a).

Alkitab mencatat waktu Yesus mengeluarkan pertanyaan ini, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” wajah mereka sedih dan muram (ayat 17). Berarti apa yang mereka percakapkan bukanlah percakapan yang ‘uplifting spirit,’ itu bukan percakapan yang saling menguatkan satu sama lain, itu bukan percakapan yang menopang di tengah kesulitan, tetapi justru itu adalah percakapan yang depresi, percakapan putus asa, wajah mereka tertunduk, kaki mereka lemah melangkah pulang ke Emaus.

Pertanyaan Yesus penting, karena pertanyaan ini kembali mengingatkan dan menyadarkan murid-murid ini, mengapa kalian hanya mendengarkan kata-kata dan berita-berita yang akhirnya justru bukan membuat kalian lebih solid, lebih indah dan lebih baik, tetapi membuatmu tercerai-berai? Ini adalah pertanyaan bagi setiap kita orang percaya. Kalau bukan murid-murid saling menggenggam tangan murid yang lain, siapa lagi yang harus melakukannya? Kalau bukan kita yang sama-sama kemudian bersatu-padu untuk menghadapi tekanan dan serangan dari luar dan tekanan dari dunia ini, siapa yang bisa kuat bertahan?

Maka muncul pertanyaan keempat yang membuka mata murid-murid, “Bukankah semua yang sudah terjadi ini sudah tertulis dalam seluruh kitab suci?” Yang mereka percakapkan semua adalah fakta bercampur dengan gossip, bercampur dengan ketidak-mengertian, itu yang terjadi di tengah-tengah mereka. Pertanyaan Kristus ini membawa hati kita lagi kepada fokus yang paling penting sebagai anak-anak Tuhan. Banyak kali yang kita dengar dalam hidup ini bisa mendistorsi hidup kita. Kita bisa menjadi kuatir dan takut. Persoalan ekonomi yang kita baca, persoalan politik yang ada, tekanan demi tekanan yang kita alami dalam pekerjaan dan hidup sehari-hari, semuanya bisa mendistorsi pikiran dan hati kita. Mari kita bawa hati kita sekali lagi untuk menyadari apa yang paling penting, mana yang lebih utama, apa yang harus memimpin dan mengarahkan hidup kita. Adakah firman Tuhan, kitab suci yang kita miliki itu yang menjadi sentralitas yang memimpin pikiran kita? Murid-murid diingatkan sekali lagi, itu bukan sesuatu yang baru, tidak usah takut dan kuatir karena Alkitab sudah memberitahukan semuanya dengan jelas. Kalimat ini sekaligus juga menggugah anak-anak Tuhan, kita yang sudah menerima kemenangan dari kebangkitan Kristus, jangan sampai hidup kita tidak di-saturate, tidak dipenuhi oleh kebenaran firman Tuhan dalam segala aspeknya. Kita menilai segala sesuatu, kita melihat apa yang terjadi di dalam hidup kita, semuanya kembali bagaimana firman Tuhan menuntun memelihara hati engkau dan saya.

Pertanyaan Tuhan Yesus yang kelima kepada murid-muridNya, “Hai anak-anak, adakah makanan padamu?” Yohanes 20 mencatat Yesus sudah menampakkan diri kepada semua murid-murid, tetapi Yohanes 21 kemudian mencatat peristiwa dimana murid-murid berada di tepi danau Tiberias untuk menjala ikan. Kalau urutan peristiwa itu demikian, penampakan Tuhan Yesus kepada mereka di pasal 20 mendatangkan sukacita excitement kepada murid-murid sekaligus juga masih belum ada kepastian sungguhkah Ia sudah bangkit? Karena kita menemukan murid-murid itu kemudian berkumpul dan mereka tidak bisa berpikir apa yang akan mereka lakukan ke depan ketika Tuhan tidak ada lagi bersama mereka. Akhirnya satu sama lain berkata, “Aku pergi menangkap ikan,” dan “Kami pergi juga dengan engkau” (Yohanes 21:3). Itu bukan rekreasi, tetapi berarti kembali kepada profesi mereka mula-mula. Mereka tahu kapan ada ikan karena mereka adalah nelayan, mereka tahu jam berapa harus keluar pergi ke danau supaya mendapatkan banyak ikan. Namun dari peristiwa itu memberitahukan kepada kita nelayan-nelayan professional ini pergi menjala ikan semalam-malaman, tidak ada satu ekor pun ikan mereka dapat. Pertanyaan Tuhan Yesus, “Anak-anakKu adakah makanan di tengah-tengahmu,” adalah satu pertanyaan yang harus menggugah kita juga hari ini. Kristus yang bangkit adalah Tuhan yang mengerti dan mengetahui orang-orang ini perlu makan dan minum. Ia memakai kata ‘anak-anakKu’ menunjukkan mereka adalah orang-orang yang Yesus cinta dan perhatikan, tetapi pertanyaan ini penting untuk mengingatkan murid-murid bahwa mereka tahu dan kenal siapa Tuhan yang sanggup mencukupkan dan melengkapi kebutuhan mereka, semua yang lain tidak perlu takut dan kuatir.

Itu sebab pertanyaan ini menyentak mereka, kenapa sekarang kami hanya pikir soal makan? Kenapa sekarang kami harus lari kembali kepada pekerjaan kami yang lama? Malam hari itu keahlian profesi mereka, keahlian mereka, talenta mereka, kehebatan mereka, jika tidak diberkati Tuhan hasilnya nol. Tidakkah Tuhan sanggup bisa menjaga dan memelihara engkau? Itulah yang Kristus ingin ingatkan kepada murid-murid, sehingga Ia berkata kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu ke sebelah sini…” Pada waktu mereka tebar jala itu dan mengangkatnya penuh ikan, sadarlah mereka ini adalah mujizat yang terjadi.

Peristiwa ini membawa kita kepada pertanyaan ke enam yang paling personal sekarang. Tuhan cukupkan kebutuhanmu, pertanyaanNya kepada Simon Petrus juga menjadi pertanyaan bagi engkau dan saya hari ini, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?” Tiga kali pertanyaan itu diulang Yesus kepada Simon, itu adalah pertanyaan yang merestorasi hati Simon Petrus akan cinta Tuhan yang begitu dalam luar biasa. Itu adalah pertanyaan forgiveness atas tiga step tangga menurun dari Petrus jatuh, oleh Tuhan dia ditarik naik tiga langkah ke atas. Itu bukan pertanyaan mencela, menghina, mempersalahkan Petrus yang telah menyangkal Tuhan tiga kali, tetapi justru itu adalah satu pertanyaan yang merestorasi hati Petrus, pertanyaan yang menggugah hati Petrus, apalah lagi yang harus dia cintai lebih daripada Tuhan yang telah begitu mengasihi dia, yang telah dan selalu mencukupkan makan minumnya, yang senantiasa menjaga dan memeliharanya? Jangan ada kecintaan yang lebih besar kecuali mencintai Tuhan lebih daripada segalanya.

Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus, “Benar, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadaNya, ‘Gembalakanlah domba-dombaKu.” Kata ‘domba’ yang dipakai Yesus adalah jenis domba yang berbeda, satu jenis yang kecil dan satu jenis yang besar. Kalimat itu memanggil Petrus untuk melihat semua pekerjaan dan panggilan Tuhan yang mereka kerjakan dan lakukan tidak ada orang yang kecil dan hina. Mengasihi Tuhan berarti mengasihi, merawat dan memelihara domba-domba itu. Tuhan tidak perlu ada lagi di situ mengawasimu untuk mengerjakan sesuatu yang paling kecil kepada orang yang paling sederhana yang tidak sanggup bisa membalas kembali, itulah kasihmu kepada Tuhan. Kenapa Petrus menangis pada kali ketiga Yesus bertanya kepadanya? Saya percaya tangisan itu muncul oleh sebab dia sadar dia tidak sanggup dan bisa mencintai Tuhan dengan sebesar itu kalau bukan Tuhan terlebih dahulu mencintainya. Membekaslah di benak Petrus arti kalimat, “Gembalakanlah domba-dombaKu itu” sehingga di dalam suratnya yang ditujukan kepada hamba-hamba Tuhan yang lain untuk melayani umat Tuhan dengan konsep ini. “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah dan jangan karena mau mencari keuntungan tetapi dengan pengabdian diri (1 Petrus 5:2).

Pertanyaan terakhir yang diucapkan oleh Kristus yang bangkit adalah “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu…” yang dalam bahasa Inggris berupa pertanyaan, “If I want him to remain alive until I return, what is that to you?” Tersebar rumor di antara murid-murid bahwa salah satu murid yaitu Yohanes tidak akan meninggal sampai Yesus datang kembali. Hal itu dikarenakan waktu Yesus memberitahukan kepada Petrus apa yang akan terjadi kepadanya nanti waktu dia mati (Yohanes 21:19), Petrus bertanya kepada Yesus, “Apakah yang akan terjadi kepada dia ini?” Sejarah Gereja mencatat Petrus akhirnya mati disalib di kota Roma, dan pada waktu hendak disalib dia meminta supaya disalib dengan posisi terbalik karena merasa tidak layak mati seperti Tuhan Yesus. Sejarah Gereja juga mencatat hampir semua rasul itu mati martir kecuali Yohanes yang dibuang ke Pulau Patmos dan mengalami penglihatan tentang hal-hal yang akan terjadi ke depan yang ia catat dalam kitab Wahyu dan meninggal pada masa tua di kota Efesus.

Pertanyaan terakhir Yesus kepada murid-murid, “…what is that to you?” atau “nothing to do with you” berarti suatu panggilan kepada setiap orang-orang yang melayani Tuhan, konsentrasilah kepada dirimu sendiri, jangan membanding-banding dengan orang lain. Jangan ingin tahu apa yang Tuhan lakukan kepada orang lain, apa yang mereka peroleh dari Tuhan. Setiap kita memiliki perjalanan hidup yang unik dan berbeda karena itu adalah anugerah Tuhan kepada kita masing-masing. Nothing to do with you, kata Tuhan Yesus. Hanya satu yang perlu, kata Tuhan Yesus, “Ikutlah Aku.”

Kemuliaan kita diberi karena kita melayani Tuhan yang mulia, bukan karena kita membandingkan dengan orang lain. Kebahagiaan kita terjadi oleh sebab kita berbahagia melayani Tuhan yang mencintai kita, bukan dengan membandingkan orang lain kurang berbahagia di hadapan Tuhan. Pertanyaan Tuhan Yesus yang terakhir adalah pertanyaan yang paling personal kepada semua anak-anak Tuhan yang mengikut Tuhan, masing-masing arahkan kepala kita fokus kepada Tuhan Yesus. Jikalau setiap orang melihat kepada Dia, jikalau setiap orang mengikut Dia, jikalau setiap orang mencontoh Tuhan Yesus, dengan sendirinya pada waktu kita lihat orang lain kita akan senang dan bersukacita karena masing-masing orang makin mirip Tuhan kita Yesus Kristus.

Biar hari ini tujuh pertanyaan Yesus Kristus yang bangkit membawa hati kita merefleksi kembali bagaimana selama ini kita mengikut Tuhan; pertanyaan yang menghapus semua kesulitan dan keputus-asaan yang tanpa pengharapan karena Tuhan sudah bangkit; pertanyaan yang membawa kita kembali difokuskan apakah kita mencintai Tuhan yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita lebih daripada semua yang ada di dalam hidup kita.(kz)