7 Pernyataan Yesus di Salib

Fri, 18 Apr 2014 07:34:00 +0000

Kebaktian Jumat Agung RECI 2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

7 PERNYATAAN YESUS DI SALIB

1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34)

2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada

bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43)

3. “Ibu, inilah, anakmu!” “Inilah ibumu!” (Yohanes 19:26-27)

4. “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)

5. “Aku haus” (Yohanes 19:28)

6. “Sudah selesai” (Yohanes 19:30)

7. “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Lukas 23:46)

 

Hari ini mari sekali lagi kita dibawa untuk mengenang cinta kasih Tuhan Yesus, yang dari mulutNya keluar kata-kata yang indah, kata-kata yang agung, yang memberi arah dan jaminan yang pasti. Dari mulut seorang yang mengalami siksaan sedemikian, secara logis tidak mungkin mengeluarkan kata-kata yang seperti itu. Dari orang-orang yang dipaku di kayu salib, dari mereka yang sudah kehilangan segala sesuatu, bagaimana bisa memberikan jaminan yang pasti? Keagungan itu tidak mungkin bisa disangkal oleh siapapun. Semua orang, termasuk orang-orang yang tidak percaya Yesus sekalipun, waktu membaca peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, tidak ada satu pun orang yang tidak akan mengakui betapa agung dan betapa indah pribadi Tuhan kita Yesus Kristus.

Jangan kita lupa, di dalam sidang pengadilan, Pilatus tiga kali mengeluarkan kalimat “Aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya” (Yohanes 18:38, 19:4, 19:6). Pilatus, seorang pemimpin, penguasa, pengatur segala hukum yang mewakili pemerintahan Romawi, di depan seluruh pemimpin agama Yahudi dan di depan semua massa mengeluarkan kalimat ini. Pernyataan dari seorang pemimpin politik, pernyataan dari seorang pemimpin di dalam pengadilan itu adalah deklarasi yang seharusnya membebaskan Yesus dari segala tuduhan. “Tidak kudapati kesalahan apapun pada orang ini, dan Herodes pun juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami…” (Lukas 23:14-15). Pilatus sanggup dan bisa membebaskan Yesus Kristus, Pilatus berkuasa, Pilatus punya jabatan dan punya posisi. Tetapi pernyataan yang dikeluarkan oleh manusia adalah pernyataan yang tidak bisa kita andalkan dan tidak bisa kita sandari. Sekuat-kuatnya kuasa seseorang, sebesar-besarnya power dan setinggi-tingginya posisi dia, Pilatus pada akhirnya tidak kuat menanggung besarnya tekanan dari para pemimpin agama dan kegilaan massa yang mengeroyok dia, yang menciptakan usaha-usaha untuk melakukan kerusuhan, Pilatus menjadi gentar dan ciut. Pernyataan Pilatus akhirnya menjadi pernyataan yang tidak lagi bisa dipegang dan diandalkan. Hari itu dalam sekejap mata pernyataan Pilatus berubah 180 derajat. Itulah pernyataan dari manusia. Apa yang bisa menjadi persandaran kita? Kuasa manusia, uang seberapa banyak, tidak ada yang bisa kita pegang dan andalkan di dalam perjalanan masa depan kita.

Puji Tuhan, hanya pernyataan yang keluar dari mulut Tuhan kita yang sejati, sekalipun di dalam keadaan dan kondisi di atas kayu salib yang seolah tidak mungkin memberikan jaminan kepada engkau dan saya; di dalam kemiskinan dan ketelanjangan yang seolah tidak mungkin memberikan kenyamanan dan ketentraman kepada engkau dan saya, di situlah Yesus Kristus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menghibur; di tengah segala hinaan, olokan dan caci-maki yang datang kepadaNya, Ia justru mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyejukkan dan meneduhkan hati.

Pernyataan Yesus Kristus yang pertama “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” adalah “the word of forgiveness,” pernyataan pengampunan. Pernyataan Yesus Kristus yang kedua “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam firdaus” adalah “the word of salvation,” pernyataan keselamatan. Pernyataan Yesus Kristus yang ketiga “Ibu, inilah, anakmu!” “Inilah ibumu!” adalah “the word of restoration,” pernyataan yang memulihkan dan merestorasi hubungan di antara manusia.

Yesus berdoa berseru kepada Bapa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kalimat ini adalah satu kalimat pengampunan yang begitu indah. Kita tidak mungkin bisa mempunyai hubungan yang beres dengan orang lain dan kita tidak mungkin bisa mempunyai hubungan yang beres dengan diri kita sendiri, sebelum kita mengalami pemberesan yang sejati dengan Tuhan kita yang ada di surga. Hari ini kita datang berbakti kita sedang berbakti kepada Allah Tuhan yang suci dan kudus, kita bersyukur karena kita memiliki Mediator Pengantara Juruselamat yang berdiri di antara kita dan Bapa yaitu Yesus Kristus. Itu sebab kalimat ini adalah kalimat yang pertama kali muncul, kalimat dimana Ia sedang menjadi Pengantara yang berdiri mewakilkan setiap pelanggaran dan dosa-dosa kita. Tidak ada dosa yang sekecil apapun dimana kita telah melanggar di dalam kaitan dengan Tuhan. Pada waktu Yesus berkata, “…mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” bukan berarti orang-orang yang memaku Yesus tidak tahu apa yang sedang mereka perbuat; kalimat itu memberikan pengertian bahwa kalau mereka tahu Ia adalah Sang Mesias itu, mereka pasti tidak akan berani melakukannya. Mereka tahu, mereka sadar Orang yang sedang mereka paku ini tidak ada salah, mereka melakukan itu karena ditugaskan oleh pekerjaan mereka, tetapi sekaligus di situ apa yang mereka lakukan didasarkan kepada’ ignorance.’ Pada waktu Yesus Kristus meminta pengampunan Bapa kepada mereka, dosa yang kita tidak sadari sekalipun, tidak berarti itu tidak salah dan melanggar hukum Tuhan. Terlebih lagi sesuatu yang kita sadar dan tahu. Dengan demikian, berarti semua yang baik di dalam diri kita di hadapan Allah yang suci dan kudus tidak ada apa-apanya, tetapi semua yang kita rasa kecil dan sepele, bagi Tuhan itu bukan hal-hal yang sepele dan itu adalah hal serius adanya.

Tidak ada satu orang pun bisa berkata di hadapan Tuhan bahwa dia sudah berjasa dan layak berdiri di hadapan Tuhan. Pada waktu Yesus berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” tidak ada tempat dimana kita beroleh pengampunan kecuali kita berlutut menerimanya di kayu salib. Kesalahan yang orang-orang itu buat kepada Yesus Kristus bukan saja kesalahan kepada Yesus tetapi kesalahan itu mereka buat kepada Allah, Tuhan Pencipta langit dan bumi, dan kepada Dia Yesus Kristus berdoa syafaat bagi engkau dan saya. Doa yang agung itu adalah doa yang dijawab oleh Bapa sebab Bapa berkenan kepada Anak. Dan pada waktu Tuhan Yesus berdoa bagi kita, percayalah tidak ada doaNya yang tidak akan dijawab dan dikabulkan oleh Bapa di surga sebab Ia berkenan kepada AnakNya yang dikasihiNya itu.

Kalimat yang agung itu tidak menyentuh hati orang-orang yang ada di bawah. Kalau kita berada di dalam scene seperti itu, kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi kepada mereka? Lukas mencatat para pemimpin agama hadir di situ mengejek Dia, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri…” Para prajurit yang ada di bawah membuang undi untuk membagi pakaianNya dan mengolokNya (Lukas 23:34-37). Dan yang kita tidak habis pikir adalah dua penjahat di sebelah kiri dan kananNya juga juga mencela Dia (Matius 27:44).

Orang yang sadar dia buta tidak akan menolak tawaran untuk dicelikkan. Orang yang sadar dia sakit tidak akan menolak untuk disembuhkan. Orang yang susah dan miskin dan memerlukan makanan tidak akan menolak tangan yang datang memberikan sedekah kepadanya. Tetapi kita tidak habis pikir dan tidak bisa mengerti orang yang di dalam kondisi perlu dan butuh tidak mau mengaku hal itu, malah mencetuskan hinaan dan ejekan kepada Dia yang bisa memberi apa yang mereka perlu dan butuhkan itu. Apalah lagi yang masih perlu dipegang dan digenggamnya? Apalah yang masih tersisa pada diri orang-orang seperti itu yang sendiri sedang terpaku di kayu salib? Kecuali satu, hatinya memang tidak pernah merasa bersalah dan berdosa; tidak pernah merasa perlu mendapatkan kekuatan dan pertolongan dari Tuhan. Dalam keadaan terpaku di atas kayu salib seperti itu seharusnya orang itu dipenuhi dengan pertanyaan ini: kemana sebentar lagi saya pergi? Setelah mati, saya kemana? Bagaimana saya mempertanggung-jawabkan hidupku jikalau seandainya ada Tuhan di situ? Tetapi kalimat-kalimat pertanyaan yang penting mengenai hidup itu tidak keluar dari mulut kedua penjahat ini.

Puji Tuhan, akhirnya satu dari kedua penjahat ini sadar akan kepapaannya, kemiskinan rohani dan hidup yang sudah tidak punya apa-apa lagi yang bisa dia banggakan, kecuali dengan rendah hati berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Yesus menjawab dia, memberikan pengampunan dan pernyataan kepastian kepadanya, “Aku berkata kepadamu, hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Pernyataan kedua ini adalah pernyataan keselamatan, pernyataan yang memberikan jaminan kepada penjahat ini. Tidak perlu tunggu nanti sampai Aku dating kembali, tetapi hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Yesus sebentar lagi akan pergi dan tidak akan ada bersama-sama dengan orang-orang yang Ia kasihi di atas muka bumi ini. Salah satu orang yang paling Ia kasihi adalah orang yang melahirkan dan membesarkanNya 33 tahun lamanya, Maria. Dalam keempat Injil tidak disebutkan lagi nama Yusuf, semua penafsir setuju kemungkinan besar dia sudah meninggal dunia setelah catatan terakhir Yesus di Bait Allah pada usia 12 tahun, sehingga waktu Yesus memulai pelayananNya, Yusuf sudah tidak ada. Tinggal mama yang janda, dan meskipun ada adik-adikNya tapi tidak ada indikasi di dalam Injil bahwa mereka percaya kepada Yesus, kecuali nantinya setelah Yesus bangkit mata rohani mereka mulai terbuka, sehingga Yakobus, yang menulis surat Yakobus dan Yudas, yang menulis surat Yudas, mereka adalah adik-adik Yesus. Waktu Yesus disalib, mereka belum percaya kepadaNya, Yusuf sudah tidak ada, yang tinggal hanya Maria tersendiri, maka siapa yang bisa memelihara dan merawat ibuNya?

Maka Yesus berkata kepada Maria, “Ibu, ini anakmu” kepada murid yang bernama Yohanes. Semua murid sudah lari berpencar, tidak ada lagi yang berada di sekitar bukit Golgota. Kadang-kadang di dalam situasi yang seperti ini di situlah kita belajar indahnya Tuhan kita Yesus Kristus. Yesus Kristus senantiasa memberikan yang terbaik dalam hidupNya dan selalu rela menerima yang terburuk. Yesus Kristus mengajarkan kepada kita senantiasa di dalam hidup ini, apapun yang kita kerjakan baik itu kepada Gereja, kepada orang-orang lain, apa saja, kita selalu memberikan yang terbaik, yang the best. Give the best. Give your best. Tetapi pada saat yang sama Ia mengajar kita untuk rela menerima yang terburuk, to accept the worst. Yesus juga mengajar kita hal yang indah, di dalam penderitaan dan kesulitan mata kita tidak boleh tertutup sehingga tidak melihat penderitaan dan kesulitan orang lain. Yang kedua, dengan meminta Yohanes, muridNya, dan bukan meminta adik-adikNya, maka memperlihatkan kedekatan kita dengan Tuhan seharusnya menjadi kedekatan relasi yang lebih indah, lebih penting, lebih akrab melebihi hubungan relasi darah daging. Kelak kita nanti ketemu Tuhan, kita yang dari keluarga yang berbeda, dari ras dan suku bangsa yang berbeda, kita satu keluarga di hadapan Allah. Di dalam Gereja kita berbeda latar belakang, tetapi jadikanlah Gereja itu sebagai tempat dimana hubungan kita di dalam Tuhan yang dekat itu menyebabkan kita lebih dekat satu sama lain. Ia bukan orang lain, ia adalah saudara-saudara kita seiman, ia adalah keluarga kita. Yohanes memang tidak menyebut namanya sediri, tetapi memakai nama ganti “murid yang dikasihiNya,” namun dia menambahkan satu keterangan, “Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yohanes 19:27). Kita bersyukur kepada Tuhan kita melihat ada Yohanes yang memberikan contoh teladan yang indah bagi orang-orang Kristen. Relasi melampaui hubungan darah, relasi itu dipulihkan oleh karena Kristus yang sudah menyatukan kita di dalam Dia.

Pernyataan keempat menjadi puncak dari salib Tuhan Yesus, “Eli, Eli, lama sabakhtani? AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Satu-satunya bagian di dalam perjalanan hidup Yesus Kristus yang tidak menyebut Bapa hanya di dalam bagian ini. Paulus dalam 2 Korintus 5:21 mengatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”

Bapa Reformasi Martin Luther ketika merenungkan bagian ini konon berjam-jam lamanya mengatakan, saya tidak bisa mengerti bagaimana Allah Bapa meninggalkan Allah Anak? Ia yang mati di kayu salib, Yesus Kristus, Firman yang berinkarnasi menjadi manusia, Firman yang bersama-sama Allah dari sejak semula. Firman itu yang berkata kepada murid-muridNya, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…” (Yohanes 14:9-10). Tidak ada satu moment dimana Yesus Kristus berpisah dengan Bapa, namun pada hari itu, saat itu, moment itu, Ia berseru di dalam kedukaan yang dalam, “Eli, Eli, lama sabakhtani? AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Itu moment yang paling penting menjawab apa yang dikatakan dalam 2 Korintus 5:21 ini, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita…” Tidak ada moment di dalam hidup Tuhan Yesus Dia berbuat dosa, dikatakan dengan jelas dalam Ibrani 4:15, “…sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” 1 Petrus 2:22 mengatakan, “Ia tidak berbuat dosa dan tipu daya tidak ada dalam mulutNya.”

Hanya ada satu moment di dalam hidup Tuhan Yesus yaitu di dalam moment ini Dia dijadikan berdosa bukan karena perbuatan dosaNya, melainkan dosa-dosa kita ditimpakan kepada Dia.

Itu sebab Yesus mengeluarkan kalimat yang kelima, “Aku haus.” Karena siksa derita di atas kayu salib begitu besar dan begitu berat luar biasa, sehingga ketika darah sudah menetes dan mengalir dari luka yang terbuka, dehidrasi yang luar biasa Yesus alami, tidak ada yang Ia inginkan selain setetes air minum. “Aku haus,” memperlihatkan Tuhan Yesus mengerti pada waktu kita mengatakan, “Tuhan, aku sakit. Tuhan, aku lapar. Aku dahaga, aku cape, aku tidak kuat…” Tuhan tahu kesulitan kita seperti ini karena Ia juga mengalami semua itu di kayu salib.

Yohanes mencatat, Yesus mengatakan “Aku haus” untuk menggenapkan apa yang dinubuatkan oleh kitab suci, yaitu bagian kalimat dari Mazmur 69:22, “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam…” Penderitaan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah moment dimana langit menolak memberikan seberkas cahaya dan bumi menolak memberikan setetes air bagi Tuhan kita. Yesus haus, Yesus dahaga, mulut sudah perih luar biasa, bibir sudah retak dan pecah, lidah sudah menebal dan rusak semua karena dehidrasi. Satu tetes air sungguh cukup untuk melegakan Dia sejenak. Namun manusia di bawah memberinya setetes cuka anggur asam. Bukan kelegaan, tetapi kesakitan yang makin sakit diberikan. Bukan keteduhan, tetapi dengan tawa olokan dan ejekan mereka menyorongkan setetes anggur asam bagiNya.

Puji Tuhan, dua kalimat terakhir dari mulut Yesus adalah kalimat-kalimat yang mengingatkan kepada kita, tidak usah takut, tidak usah kecewa, karena Tuhan kita sudah menang di atas kayu salib. Ia berkata, “Sudah selesai!” It is finished! “Tetel estai!”

Kita menjadi anak-anak Tuhan mari terima dengan berani setiap panggilan Tuhan untuk hidup bagiNya, beriman kepadaNya, sekalipun mungkin kita akan mengalami kesulitan dan penderitaan yang ada. Pada waktu itu terjadi segeralah arahkan cepat-cepat kepala kita kepada salib Tuhan kita Yesus Kristus. Dan pada waktu setiap hal yang baik yang sudah engkau kerjakan dan lakukan mendapatkan balasan “anggur asam,” segeralah arahkan cepat-cepat kepala kita kepada Tuhan Yesus, itu akan memberikan kelegaan kepada kita. Sekuat-kuatnya, seberat-beratnya hidup kita, kelak datang waktunya kita berhenti dan selesai, kematian datang, semua penderitaan di dunia selesai sudah. “It is finished!” itu bukan teriakan dan pernyataan Yesus kecewa, tetapi justru itu adalah pernyataan teriakan kemenanganNya. Yesus sudah genap dan tuntas menjalankan kehendak Allah dengan sempurna. Yesus datang untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45). Sudah selesai Yesus menggenapkan semua nubuatan tentang Dia di dalam Perjanjian Lama, semua yang dikatakan oleh para nabi genap semuanya terjadi. Sudah selesai Ia menggenapkan seluruh sistem hukum seremonial Perjanjian Lama sehingga kita yang percaya kepadaNya tidak perlu lagi membawa korban, tidak perlu lagi pergi ke Bait Allah, tidak perlu lagi ada ruang maha suci yang memisahkan orang berdosa dengan Allah. Sudah selesai, karena hukuman dosamu dan dosaku sudah digenapkan di atas kayu salib oleh kematianNya. Segala problema penderitaan dan misteri kematian sudah selesai terjawab di atas kayu salib itu. Itu sebab engkau dan saya perlu pernyataan yang terakhir ini, “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.” Pernyataan dimana kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Bapa yang baik. Tidak ada tempat resting place yang paling indah yang Tuhan berikan dan sediakan bagi engkau dan saya selain saat kita bertemu dengan Pencipta kita di dalam sukacita yang besar. Di situ apa yang kita kerjakan, kita nikmati hasilnya, tidak direbut orang; yang kita lakukan dalam pelayanan, tidak akan pulang dengan sia-sia, di dunia ini orang bisa mengambilnya. Apa yang engkau alami di atas muka bumi ini, penderitaan, kesusahan dan air mata akan hilang dalam sekejap pada waktu engkau melihat kemuliaan dan mahkota agung yang Tuhan beri kepadamu. Yesus memberikan janji yang teguh, keselamatan yang pasti, pengertian yang dalam, simpati yang penuh kepada setiap kita. Bersyukur saat memandang wajah Tuhan di kayu salib terhapus hilang semua air mata kita dan beban kesulitan kita sebab di atas kayu salib kita melihat Tuhan telah menanggungnya bagi kita semua.(kz)