The Secret Revealed!

Sun, 02 Mar 2014 11:02:00 +0000

 

Pengkhotbah: Pdt. Nico Ong MDiv.

Nats: 2 Samuel 11:1-5

 

Kisah ini saya percaya bukan kisah yang baru pertama kali kita dengar dan baca, tetapi merupakan satu kisah yang tidak asing lagi di telinga setiap kita. Namun hari ini saya mengajak kita sekali lagi merenungkan dan memikirkan di dalam wawasan Christian worldview yang lebih besar bagaimana sebab akibat dari dosa, yang mengungkapkan rahasia kehidupanmu yang sekalipun engkau berusaha tutupi dengan sekuat tenaga, pada waktunya akan terungkap. Seperti usaha untuk menutup luka yang busuk, suatu saat baunya akan keluar dan kita tidak mungkin dapat menyembunyikan diri dan melarikan diri dari realita dan kenyataan. Kita pikir Daud adalah seorang yang begitu baik, seorang raja yang begitu luar biasa; seorang yang dianggap panutan, seorang yang dikatakan “berkenan di hati Tuhan,” seorang yang tidak akan pernah kita sangka di balik hidupnya ternyata penuh dengan kekacauan dan kenajisan, penuh dengan segala kebusukan dan tipu daya.

Alkitab tidak menyembunyikan fakta pertama, Daud tertangkap berzinah dengan isteri orang lain. Tetapi bukan hanya sekedar berzinah, Daud juga berencana dan melakukan suatu tindakan yang lebih mendukakan hati Tuhan yaitu membunuh suami dari wanita itu sebagai cara untuk menutupi perbuatannya. Walaupun Daud melakukan perbuatan yang sangat egois secara bebas di tengah-tengah istananya, di tengah-tengah kerajaannya, tetapi keputusan buruknya itu menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang bukan saja mempengaruhi pribadinya tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Ini adalah suatu sebab-akibat yang jarang orang pernah pikirkan dengan panjang lebar. Orang sering berpikir, ini adalah perbuatanku, aku yang akan menanggung sendiri. Tidak. Pada waktu diri kita melakukan perbuatan dosa, kita tidak memikirkan konsekuensinya yaitu juga mengena kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Ini merupakah suatu konsekuensi dosa yang dahsyat. Perbuatan Daud ini telah membuat seorang wanita yang seharusnya setia kepada suaminya, berkompromi, dan mereka berdua menghadapi satu malapetaka yang tidak mereka duga yaitu suatu kehamilan yang tidak diinginkan oleh dua belah pihak.

Seorang teolog dan komentator Reformed membaca kisah 2 Samuel 11:1-5 ini mengatakan Daud mengorbankan otoritas moralnya dalam nyawa anak-anaknya, dia hidup melihat perpecahan di dalam keluarga dan kerajaannya. Walaupun konsekuensi dosa Daud ini sangat mengerikan, namun Allah yang percaya adalah Allah yang mempunyai misteri yang tidak pernah kita pahami, kita kenal sedalam-dalamnya, atau kita bisa mengerti sepenuhnya dengan otak kita. Di tengah-tengah konsekuensi dosa Daud yang sangat mengerikan, Allah masih mengasihinya dan mencari jalan untuk melakukan yang terbaik dari keputusan Daud yang membawa malapetaka itu. Kalau kita melakukan dosa dan kejahatan, kita tidak bisa merubahnya menjadi kebaikan. Tetapi kuasa Tuhan, Allah yang kita percaya di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, Ia tetap mempunyai kuasa, Ia tetap mempunyai otoritas, Ia tetap mempunyai kedaulatan dan bijaksana. Ia mencari jalan untuk melakukan yang terbaik atas keputusan Daud yang membawa malapetaka itu.

Ada keunikan di dalam ayat-ayat ini yang dengan gamblang membukakan skandal hubungan antara Daud dan Batsyeba menjadi suatu sentilan bagi telinga kita, dan menjadi suatu peringatan bagi orang-orang muda, perbuatan berhubungan seksual di luar nikah yang hanya dilakukan satu kali saja dapat menjadi suatu bumerang yang menghasilkan konsekuensi yang tidak terduga, yang tidak terhitung, yang tidak pernah terbayangkan. Hanya dengan nikmat sesaat, engkau menerima akibat yang sangat membahayakan, yang tidak pernah engkau perkirakan, yang tidak pernah engkau pikirkan, yang engkau tidak siap untuk menghadapinya. Waktu menikmatinya terlalu enak, tetapi waktu menerima akibatnya susahnya bukan main.

Kisah Daud dan Batsyeba ini bukan sekedar kisah sesaat yang seperti suatu intermezzo saja, tetapi ini merupakan suatu usaha keras yang dilakukan oleh seorang raja yang berfantasi tentang hal seksual setiap harinya. Daud berfantasi di dalam dosanya. Dosa itu bukan sekedar suatu aksi perbuatan, meskipun engkau tidak berzinah secara fisik jikalau di dalam pikiranmu sudah ada keinginan untuk berzinah, engkau telah berdosa. Ini adalah suatu “cyber-space” yang sangat berbahaya.

Kita hidup di dalam budaya yang dipenuhi oleh seks dan kultur yang mengolok-olok kesucian hidup. Kita hidup di dalam satu dunia dimana ketetapan firman Tuhan itu sudah tidak pernah dianggap lagi. Kita hidup di dalam satu dunia dimana mempertahankan kesucian sebelum pernikahan dianggap sudah ketinggalan jaman, suatu sikap yang dianggap kolot dan aneh. Bahkan komitmen untuk menjalani hubungan pria-wanita berlawanan jenis dianggap sebagai cara hidup yang sudah ketinggalan jaman dan menjaga kesucian suatu pernikahan dianggap terlalu mengekang kebebasan manusia. Di dunia ini seorang gadis yang menjaga keperawanannya sampai saat pernikahannya dianggap aneh, dan orang yang setia kepada pasangannya sampai kematian memisahkan mereka merupakan suatu hal yang sangat sulit sekali di tengah jaman sekarang ini.

Sebaliknya banyak orang mengatakan seks di luar pernikahan itu tidak salah. Karena relasi mereka begitu lengkap, indah, mereka telah bertemu dengan belahan jiwa mereka, jangan dikekang. Keadaan seperti ini menyebabkan orang Kristen juga tergoda untuk mempercayai kebohongan semacam itu yang terjadi, bukankah itu suatu cetusan kebebasan dan hak asasi seseorang untuk mendapatkan belahan jiwa mereka? Karena nafsu kita begitu tinggi dan tidak kenal henti adanya, pikiran manusia memiliki kapasitas untuk merasionalisasi apapun yang didambakan hatinya. Kalau segala sesuatu keinginan, kalau keberadaan hakekat dosa sudah dirasionalkan, semuanya itu pasti bisa di-spin hingga nanti ujung-ujungnya bisa menjadi kebenaran. Ini adalah pikiran yang sangat berbahaya sekali. Orang kalau sudah maunya dengan seseorang, kalau sudah nafsunya tidak pernah terkontrol lagi, sampai merusak pikirannya, maka pikiran itu akan terus-menerus membenarkan apa yang sudah dia perbuat.

Tetapi ada satu hal yang patut kita syukuri di dalam kegagalan Daud ini karena di situ kita bisa belajar darinya. Engkau mau menjadi seorang yang sukses? Engkau mau menjadi seorang yang berhasil? Jangan belajar dari kesuksesan seseorang, tetapi belajarlah dari kegagalannya. Bodohlah kita kalau kita mau sukses belajar dari kesuksesan orang lain. Kita tidak akan pernah menjadi orang yang terpandang. Belajarlah dari setiap kegagalan orang, belajarlah dari setiap kesusahan orang dan bagaimana dia menghadapi situasi yang paling bawah merayap naik ke atas.

Di dalam kegagalan hidup Daud kita boleh bersyukur melihat apa yang Tuhan dapat perbuat untuk mendatangkan kebaikan dari sebuah keputusan, sebuah tragedi, sebuah kehidupan yang sudah terpuruk, yang sudah membawa akibat yang sangat fatal baginya. Tetapi Tuhan di dalam anugerah dan belas kasihanNya itu berkuasa.

2 Samuel 11:1-5 ini menceritakan dengan lugas bagaimana darah Daud memanas melihat Batsyeba dan dia bersegera menyusun rencana kotor untuk mendapatkan wanita ini, apapun resiko dan harga yang harus dia bayar untuk itu. Maka Daud merasionalisasikan hawa nafsu yang menguasai pikirannya ini. Dengan nafsu yang menggebu-gebu dia mengesampingkan integritasnya, dia mengesampingkan otoritas moral dan keluarganya, bahkan secara tidak langsung dia mengesampingkan Batsyeba yang seharusnya dia didik sebagai seorang warganegara di dalam negaranya menjadi seorang isteri yang setia kepada suaminya. Bahkan Daud juga sudah mengesampingkan integritas hubungannya dengan suami, ayah dan kakek Batsyeba yang seharusnya dihormati. Semua itu tidak dipikirkannya. Apa yang Daud dambakan hanya satu hal saja, tetapi itu memenuhi seluruh pikirannya, melumpuhkan akal sehatnya dan membuatnya tidak mampu berpikir panjang akan segala konsekuensi yang harus dihadapinya.

Ada dua langkah yang Daud lakukan menuju kepada kegagalan. Pertama, dia melihat. Mata ini jahatnya bukan main. Mata Daud melihat wanita itu, maka nafsu seksualnya bangkit dengan cepat pada waktu dia memandang Batsyeba. Alkitab mengatakan, “Perempuan itu sangat elok rupanya” (ayat 2b). Entah seperti apa kecantikan Batsyeba, tetapi pasti memikat hati Daud dengan tubuhnya yang indah. Daud melihat, tetapi bukan sekedar melihat, Daud menatap. Orang kalau melihat saja, it’s okay. Tetapi seorang yang sudah melihat, dia menatap, lalu dia meneliti dan yang keempat, dia terobsesi. Ini merupakan satu dalil yang terjadi di dalam kehidupan orang berdosa: melihat, menatap, meneliti, dan terobsesi. Dalam pikiran, hasrat dan hawa nafsunya dia kemudian merasionalisasikan segala keinginannya dan kemudian menyusun skenario untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kita patut berhenti cukup lama untuk merenungkan apa yang Daud tidak lihat. Ini tugas kita. Kita harus memikirkan apa yang Daud tidak lihat. Yang pertama, Daud tidak melihat aib yang akan menimpanya. Kedua, Daud tidak melihat ke depan bahwa ke empat puteranya akan hancur karena skemanya. Ketiga, Daud tidak melihat kehancuran keluarga dan kerajaannya di waktu yang akan datang. Betapa bedanya jikalau Daud pada saat itu dapat melihat segala konsekuensi yang tersembunyi yang akan menghancurkan segala sesuatu yang penting bagi dirinya. Pada saat hawa nafsu sudah menguasainya, dia tidak mempedulikan Tuhan untuk sesaat saja. Seringkali kita sebagai orang Kristen melakukan dosa sejujurnya kita tidak benci kepada Tuhan tetapi kita dengan sesaat melupakan Tuhan dan kekudusanNya. Seorang pria menempuh jalan yang sama dengan Daud, pernah mengatakan, “Saya akan menikmati hidup ini hari ini buat diriku sendiri dan berurusan dengan Setan dan besok baru saya berurusan dengan Tuhan.” Moment ini sangat menggoda kita untuk menunda segala pemikiran yang rasional. Bukannya kita berpikir baik-baik, suatu hal yang sangat berbahaya.

Bayangkan jika seandainya saat itu Daud berdoa, akhir kisah ini mungkin akan sangat berbeda. Jika Daud berdoa di hadapan Tuhan, tidak menyembunyikan segala hasrat dan hawa nafsunya di hadapan Tuhan. Tuhan tahu keberadaan diri kita sedalam-dalamnya. Jikalau pada saat itu Daud datang kepada Tuhan, bersyukur dan berterimakasih untuk isteri yang Tuhan sudah berikan baginya, berterima kasih juga untuk anak-anak yang Tuhan berikan dan banyak berkat yang tidak selayaknya aku terima. Dengan semua ini aku seharusnya berbalik dan masuk ke dalam istanaku, ke dalam rumahku, kepada isteriku, kepada keluargaku, kepada ketetapan-ketetapan Tuhan. Itulah seharusnya yang Daud lakukan ketika matanya melihat keberadaan diri Batsyeba itu. Batsyeba adalah milik orang lain. Tetapi sebaliknya Daud tidak seperti itu. Daud malah mengangkat sauh dan mengarungi sungai yang begitu deras dan begitu dalam, yang siap menelan dia. Di tengah lingkungan yang melindungi dia, di tengah posisinya sebagai penguasa segala hal di istana dan negaranya, di tengah hal yang kelihatan seolah lancar, tetapi di baliknya itu adalah suatu perjalanan yang berbahaya karena di ujungnya dia tidak melihat di tengah liku-liku sungai itu ada jurang menganga yang akan menghancurkan dia.

Apa yang Daud kemudian lakukan? Sudah melakukan dosa, dia tidak segan-segan untuk berbohong. Orang kalau sudah melakukan dosa dan sadar sesadar-sadarnya bahwa itu salah, dia lalu menutupinya dan tidak lagi mempunyai ketulusan dan kejujuran hati. Ketika engkau memutuskan untuk mengkhianati pasangan hidupmu secara asusila, sebuah kebohongan akan terlihat sangat sepele, tidak apa-apa, sekali-sekali. Tetapi sekali engkau melanggar salah satu hukum Allah, engkau telah melanggar semua ketetapan hukum lainnya. Akan terasa mudah dan terasa benar saja, semua bisa diplesetin, semua bisa diomongin, apalagi di jaman modern ini kita bisa ‘ngecap’, kita bisa membalikkan dengan segala kuasa kita, dengan kharisma dan wibawa kita, kita bisa menutupi kebusukan kita. Untuk menyembunyikan dosa, itu diperlukan kebohongan. Ini dalilnya.

Daud melihat, kemudian Daud mengirim utusannya, kemudian Daud menjemput. Ini luar biasa, hebat sekali skenarionya. Kita dapat membayangkan hati dan pikiran Daud berada dalam satu konflik. Di satu pihak Daud merasakan euphoria ketertarikan dan di pihak lain rasa ketakutan karena mengetahui dia akan melakukan sesuatu yang bukan seharusnya dia lakukan dan dia sendiri tidak akan bertoleransi apabila orang-orang atau masyarakat melakukan kesalahan seperti dirinya. Dia tidak akan berkompromi, Daud tidak segan-segan akan membantainya. Tetapi untuk dirinya sendiri bagaimana? Masakah aku membantai diriku sendiri? Orang yang melakukan dosa tidak mungkin berani membantai dirinya. Orang yang melakukan dosa pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya dengan kebohongan.

Mari kita berandai-andai saja, jikalau hubungan Daud dan Batsyeba ini tidak mengalami kehamilan, mungkin dosa itu tidak terbongkar dan tidak diketahui oleh orang lain. Tetapi apakah Daud dan Batsyeba dapat melewatinya dengan tidak merasa apa-apa – puji Tuhan, semua sudah berlalu, pertemuan rahasiaku tidak ada yang tahu dan tidak perlu berusaha menutupi. Mungkinkah begitu? Mereka mungkin tidak perlu menutupi di hadapan manusia, tetapi bukan berarti kehidupan mereka bisa berjalan normal tanpa konsekuensi-konsekuensi yang lain. Sekalipun Batsyeba tidak hamil, konsekuensi itu tetap akan terjadi, konsekuensi itu tetap akan berbicara, tetap akan mengejar hatimu.

Pertama, jikalau Batsyeba tidak hamil sekalipun, mereka tetap hidup di dalam penyesalan, cepat atau lambat mereka akan menyesal. Menyesal dalam artian timbul di dalam perasaan diri mereka yang tidak dapat dilupakan begitu saja. Malahan setelah itu akan timbul ketakutan, akan timbul kecurigaan dan saling mencurigai, curiga bagaimana kalau orang lain mengetahui apa yang terjadi. Kecurigaan dan paranoia akan timbul. Maka mulailah usaha terus untuk menutupi, orang lain mungkin tidak melihat, tetapi siapa tahu?

Kedua, Daud dan Batsyeba harus menyembunyikan rahasia skandal itu kepada pasangan masing-masing untuk seumur hidup. Bagi saya, yang kurang ajar dalam hal ini adalah Daud. Mungkin lebih mudah bagi Daud yang memiliki banyak isteri dibandingkan Batsyeba yang hanya memiliki satu suami yang bernama Uria, dia harus menutupi aib dan rahasianya seumur hidup. Ketika Uria kembali dari pertempuran, mungkin Batsyeba harus berbohong, berpura-pura suci di hadapan suaminya, berpura-pura menunggu-nunggu suami yang akan pulang ke rumah.

Ketiga, orang kalau melakukan dosa dan tidak ketahuan, lalu ditutupi dan sudah disandiwarakan, akhirnya itu menjadi satu kebiasaan. Mereka mungkin akan melakukan hubungan gelap mereka, setelah merasakan hubungan seksual itu betapa nikmat, mereka memiliki alasan-alasan yang kuat untuk terus berhubungan dan menghidupkan kembali perasaan euphoria malam pertama mereka. Istilahnya, kalau sdr sudah terbiasa berbohong, menutupi keberadaan dosamu, kelanjutan dari perbuatan dosa aib itu terus akan berlanjut.

Allah tidak akan pernah diam. Allah tidak akan pernah bisa dikelabui. Allah tidak bisa dipermainkan. Allah tidak pernah bisa disilaukan dengan segala kekuasaan sekalipun itu seorang raja, seorang penguasa dengan segala kewibawaannya. Kekotoran itu sekalipun terjadi di dalam kesucian tahta Tuhan, di hadapan mimbar Allah yang kudus, Allah akan membongkarnya. Itu akan lebih sakit dan lebih menyedihkan.

Daud menyembunyikan dosa. Ketika dosa kita terancam diketahui orang, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya dan berusaha menghindari konsekuensinya. Daud berusaha memikirkan segala sesuatu yang pada akhirnya akan mendukakan Allah untuk kedua kalinya, yaitu dengan merencanakan untuk membunuh Uria. Dengan terbunuhnya Uria seakan-akan paling tidak Batsyeba mempunyai kebebasan menikah lagi, dan Daud sebagai raja berhak mengambilnya karena suaminya sudah mati. Beres, bukan? Tetapi Alkitab mencatat “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2 Samuel 11:27b). Tuhan tidak mengijinkan Daud terus-menerus bermain di dalam segala keberdosaannya.

Lebih baik kita mengaku, lebih baik kita menyadari, lebih baik kita meratapi, daripada terus-menerus mengeraskan hati kita. Mari kita sama-sama memiliki kepekaan di dalam kehidupan setiap kita, di dalam kehidupan keluarga kita, di dalam kehidupan pelayanan kita, di dalam kehidupan masa muda kita, mari kita menempatkan diri dengan menyadari diri kita di hadapan Tuhan. Tuhan sudah berbicara mengenai seorang yang paling berkuasa pada waktu itu yaitu Daud, tetapi Tuhan mengijinkan hal itu tercatat di dalam kitab suci ini. Ini merupakan suatu didikan yang membuat kita terus memiliki kesadaran, saling mengingatkan, saling menasehati, saling membangun, saling menerima jikalau betul-betul di antara saudara kita sudah berani mengakuinya.

Seringkali di dalam dunia pelayanan kalau seseorang sudah mengakui dosanya, jangan engkau seperti terompet atau seperti speaker jebol yang menceritakannya ke sana ke mari. Tidak perlu. Orang yang berani mengakui dengan jujur, terimalah dia. Sportif, dan berani menemani dia untuk menghadapi segala kesusahannya. Jangan dihakimi, jangan digebuki. Tetapi bagi mereka yang seperti ular, sekalipun dia seorang raja, sekalipun dia seorang pemimpin agama, kalau dia sudah seperti ular belat-belit menutupi dosanya, sdr harus berani berbicara. Ini tugas kita, tugas sebagai anak-anak Tuhan di tengah-tengah gerejaNya. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.(kz)

Click for audio