That Mediator is Jesus

Sat, 22 Mar 2014 23:04:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (34)

Nats: Keluaran 32:7-14, 25-35

 

Keluaran pasal 32 merupakan bagian kisah yang sangat gelap di dalam perjalanan hidup bangsa Israel. Mereka sudah menikmati berkat dan anugerah Tuhan yang luar biasa namun dalam waktu begitu singkat, hanya dalam waktu 40 hari saja mereka berbalik tidak setia kepada Tuhan. Bagian ini juga menceritakan kepada kita bagaimana Allah mencetuskan emosiNya yang paling dalam, betapa seriusnya Ia melihat dosa dan betapa cinta dan panjang sabarnya Ia kepada manusia yang berdosa. Reaksi murka dan kemarahan Tuhan sampai mengatakan “Leave Me alone, Moses” (Keluaran 32:10a), di situ kita melihat seriusnya dosa dan di saat yang sama kita juga bisa melihat bagaimana Allah “pathos” menggunakan bahasa ekspresi emosi manusia untuk mencetuskan betapa dalamnya goresan hati seperti seorang wanita yang sudah memberikan seluruh cintanya yang dalam kepada seorang pria, ternyata pria itu menyeleweng dan mencederai cintanya. Dan pada saat yang sama kita bisa menemukan dari Keluaran 32 ini seorang hamba Tuhan yang sudah dihina, yang sudah dilecehkan, “this guy Moses,” memiliki hati seorang gembala yang rela memberikan hidupnya bagi orang yang menghina dia.

Kita tidak bisa percaya, para pemimpin bangsa Israel baru saja berjanji setia kepada Tuhan di dalam satu perjanjian khusus, mereka mempersembahkan korban bakaran dan menyatakan, “Segala firman yng telah diucapkan TUHAN itu akan kami lakukan” (Keluaran 24:1-11), bagaimana dengan segera mereka lupa akan janji itu? Musa sebagai seorang manusia biasa, berani naik ke atas gunung meninggalkan bangsa itu 40 hari lamanya karena di dalam hatinya sedalam-dalamnya dia percaya bangsa ini tidak akan berlaku tidak setia. Tidak ada secuil keraguan di dalam hatinya, karena dia percaya kepada Harun, dia percaya kepada 70 orang pemimpin yang lain yang sudah menyaksikan kebesaran Tuhan, anugerah Tuhan yang luar biasa, keajaiban Tuhan itu, mereka baik-baik saja.

Namun Tuhan yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia sedalam-dalamnya, Tuhan langsung cetuskan kalimat paling penting, “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya” (ayat 7). Kenapa bangsa Israel itu bisa mengalami perubahan hati yang seperti itu? Kata “rusak lakunya,” dalam terjemahan Inggris “have become corrupt” di situ memperlihatkan satu gambaran penampakan sebuah pohon yang besar, dengan daunnya yang lebat dan buah-buah yang ranum, dari luar tidak ada yang salah. Tetapi lambat laun pohon itu akan mati kalau yang di dalam, akarnya sudah rusak dan ‘corrupted’ adanya. Corrupt berarti degradasi terjadi dari dalam dan pasti tidak akan tertahankan kerusakan itu akan keluar ke permukaan. Korupsi kadang-kadang tidak bisa langsung kelihatan sebab terjadi dari dalam, terjadi dari suatu pengelolaan penggunaan yang bisa diatur dan disamarkan. Sampai setelah garasinya dibuka kita baru kaget, ada Lamborghini, ada Ferrari, ada berbagai lukisan yang mahal, dan kita pasti tidak bisa terima sebab garasi yang kita buka itu adalah garasi pegawai negeri eselon rendah atau garasi rumah seorang pendeta. Kita pasti akan mengatakan orang itu korupsi, orang itu mengambil segala sesuatu yang bukan miliknya. Itu fakta dan realita yang terjadi.

Bangsa Israel sudah corrupt. Kenapa corrupt? Sebab suara yang didengar oleh Yosua muncul dari perkemahan itu tidak bisa jelas itu suara apa karena mirip dengan suara peperangan atau suara penyembahan? Mereka bernyanyi, mereka menyembah, mereka memanggil nama ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ tetapi menggunakan anak lembu emas.

Kedua, ayat 9 Tuhan kembali mengatakan kepada Musa, “Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.” Kita sering mendengar kata ‘tegar tengkuk’ itu merupakan satu lukisan memberitahukan kepada kita seperti seekor keledai atau seekor kuda atau seekor sapi yang pada waktu hendak ditaruhkan pelana atau kuk dia selalu melawan dan menolaknya. Mereka tidak mau diberi kuk kesetiaan dan kuk ketaatan dari Tuhan. Setiap kali ditaruh, langsung dibuang ke belakang, ditaruh langsung dibuang lagi ke belakang. Dengan kata lain, bangsa ini adalah bangsa yang mencari dan ikut Tuhan, tetapi yang mereka ingin hanya Tuhan yang mereka mau dan seturut dengan Tuhan yang mereka reka-reka.

Pada waktu kita datang ke rumah Tuhan dan mencari Tuhan seturut dengan yang kita, kita akan kecewa dan lari meninggalkan Tuhan yang sejati karena Tuhan tidak mau dijadikan Tuhan seturut apa yang kita mau. Ia mau menjadi Tuhan yang memimpin, menyertai dan menyatakan keTuhananNya di dalam hidup engkau dan saya. Kita tidak boleh datang ke rumah Tuhan hanya karena diberkati; kita tidak boleh datang ke rumah Tuhan karena kita ingin Tuhan memperlancar seluruh hidup kita. Kita datang ke rumah Tuhan, kita ingin dengan doa-doa kita kita hanya memohon Tuhan memberi yang terindah dan terbaik, kita tidak akan memiliki Tuhan yang sejati yang seperti itu dalam hidup kita.

Kata “tegar tengkuk” menunjukkan satu sikap dan reaksi orang Israel yang memberikan satu kebohongan ketaatan, satu kepura-puraan mereka mau menjadi umat Tuhan. Di sini langsung keluar satu kalimat yang luar biasa ironi, awalnya Tuhan menyebut mereka “My people” tetapi kali ini Tuhan tidak sebut dengan kata itu melainkan “this people.” Tuhan ingin memberikan satu “balasan” karena orang-orang ini menyebut Musa “this guy Moses,” itu satu kalimat yang sangat menghina luar biasa, satu sikap mereka tidak lagi menghargai apa yang sudah Musa kerjakan dan lakukan bagi mereka, bagaimana Musa maju di depan menghadapi Firaun, bagaimana Musa menyertai dan memimpin mereka sampai bisa keluar dari perbudakan Mesir, semua itu sama sekali tidak mereka ingat-ingat dan tidak mereka hargai dan sirna begitu saja. Tetapi pada saat yang sama Tuhan bereaksi dengan kalimat itu, ‘this people,’ oleh sebab umat itu menyatakan sikap sebagai umat yang tegar tengkuk.

Tegar tengkuk berarti kita menolak menurunkan kepala dan menerima kuk ketaatan dari Tuhan. Inilah sikap yang sangat berbahaya dari bangsa Israel yang sekaligus juga menjadi sikap yang diingatkan oleh penulis surat Ibrani “janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman…” (3:7-19). Itulah juga yang diingatkan oleh rasul Paulus kepada jemaat Korintus, janganlah kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat (10:6-7). Mereka congkak dan sombong di hadapan Tuhan. Jikalau bangsa Israel menyatakan sikap tegar tengkuk seperti itu, kita pun semua tidak immune dari sikap seperti itu kepada Tuhan. Kita adalah sama-sama manusia yang berdosa, manusia yang memiliki keengganan untuk menerima kuk ketaatan dan teguran yang merendahkan kita dan hati yang dikoreksi secara dalam pada waktu kita menerima firman Tuhan, melalui teguran isteri, suami, rekan dan sahabat, dari firman Tuhan yang kita baca dan renungkan. Bisa jadi koreksi yang diberikan orang kepada kita mendatangkan emosi kemarahan kita sebagai reaksi teguran orang itu, tetapi kalau sampai kita marah terhadap teguran orang itu mungkin teguran itu benar. Kita tidak senang ditegur, kita bereaksi dengan marah, waktu kita menjadi marah mari kita mundur set back satu langkah dan bertanya kepada diri sendiri, kenapa aku bereaksi seperti ini? Firman Tuhan dikatakan oleh Alkitab sebagai pedang yang bermata dua, firman itu tidak akan pernah pulang dengan sia-sia karena pada saat yang sama firman itu menusuk dan menembus sampai ke sumsum tulangnya, memperbaiki hidup orang itu, pada saat yang sama firman itu menusuk dan menembus jantung kita dan membuat kita tidak tidak berdaya dan dibunuh oleh firman itu ketika kita tidak mau dikoreksi dengan rendah hati oleh kebenaran firman itu. Firman Tuhan itu seperti sinar matahari yang muncul di pagi hari. Pada waktu sinar itu menyentuh sebalok mentega, maka luluh dan cairlah dia. Tetapi pada saat yang sama sinar itu mennyntuh sebongkah tanah liat, tanah itu menjadi makin keras adanya. Kita mau menjadi bongkah tanah liatkah atau menjadi sebalok mentega yang diluluhkan oleh firman Tuhan?

Dalam 1 Korintus 10:12-13 Paulus mengatakan, “Sebab itu siapa yang menyangka ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan menbiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya.” Ayat 13 itu diapit oleh ayat 12, jangan congkak di dalam hidup ini karena Tuhan akan merendahkan orang yang seperti itu. Dan ayat 14, jauhilah penyembahan berhala! Ayat 13 adalah satu ayat yang menghibur kita dimana tangan kasih Allah yang memukul anak-anakNya dengan pencobaan dan kesulitan bukan supaya kita putus asa, kecewa, jatuh dan pergi meninggalkan Dia, tetapi satu tamparan dan teguran cinta kasih dari Tuhan supaya orang itu menundukkan kepala dan tidak tegar tengkuk dan menikmati kuk kesetiaan ketaatan daripada Yesus Kristus. Ia sudah memberikan janji, “…pikullah kuk yang Kupasan dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan” (Matius 11:29-30). Kuk dari Tuhan Yesus tidak berat, kuk itu tidak pernah menyakitkan kita, kuk itu tidak pernah membuat kita merasa Tuhan terlalu kejam kepada kita.

Ketiga, kita menemukan aspek yang sangat dahsyat karena Allah dengan satu ekspresi yang dalam menyatakan emosi dan kemarahanNya, “Now leave me alone so that My anger may burn against them and that I may destroy them” (Keluaran 32:10). Kita menemukan keseriusan Allah dan ancamanNya untuk membinasakan mereka, tetapi pada saat yang sama kita menemukan Musa berdiri di depan Allah menjadi seorang mediator berdoa syafaat, dan menjadi seorang yang berseru kepada Tuhan, “Kami hanya manusia yang lemah dan berdosa, hanya belas kasihanMu yang patut kami terima, ampunilah kami.”

Kisah ini menjadi indah luar biasa sekaligus memunculkan sesuatu di tengah kebusukan dosa bangsa Israel, di tengah kehancuran dosa mereka yang tidak taat kepada Tuhan, muncul satu karakter dan sikap semestinya seorang mediator yang nantinya engkau dan saya akan berlutut di hadapanNya yaitu Yesus Kristus dan berseru kepadaNya, “Oh Tuhan, betapa agung dan indahnya Engkau yang berseru di atas kayu salib dan berkata ‘Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’”

Tuhan berkata kepada Musa, “Aku akan membasmi bangsa ini karena mereka tegar tengkuk. Mereka akan menjadi seperti borok yang membuat engkau sakit hati, kecewa dan terluka tidak habis-habisnya. Mereka akan menjadi duri dalam dagingmu. Aku akan membasmi mereka dan Aku akan membangkitkan satu umat baru bagiKu dari engkau dan keturunanmu.” Kalau engkau jadi Musa, masihkah engkau mau menjadi pemimpin bangsa Israel yang sendirinya sudah menghina engkau dan cara kepemimpinanmu? Kalau engkau jadi Musa, masihkah engkau mau terus memimpin bangsa yang tegar tengkuk itu, sementara Tuhan hendak membasmi mereka dan akan membuat satu tunas yang baru dari keturunanmu? Bukankah kita akan tergoda untuk meninggalkan mereka begitu saja dibinasakan habis oleh Tuhan?

Namun di sinilah kita menemukan satu karakter Musa yang begitu agung adanya. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat memang bangsa Israel dengan kegilaan yang liar, dengan kurang ajar dan tidak ada respek menyembah patung lembu emas itu. Alkitab menggambarkan tingkah laku mereka seperti kuda terlepas dari kandang, dan bukan saja demikian, mereka menjadi bahan tertawaan dan cemoohan bagi musuh-musuh mereka (Keluaran 32:25). Musa dengan murka menghukum mereka dengan menghancurkan patung itu, menggilingnya jadi bubur dan menyuruh mereka semua minum  menyatakan penghukuman, ada segelintir orang yang tidak menyesal dan menangisi dosa kesalahannya tetapi makin menjadi tegar, maka Musa membuat satu keputusan yang penting. Musa menantang mereka, adakah mereka mau hidup taat sepenuhnya kepada Tuhan atau engkau mau taat kepada berhala? Pilih! Maka dalam pemilihan itu suku Lewi mengambil keputusan untuk ikut Musa. Dengan dibasminya 3000 orang dengan pedang mereka, mungkin membuat banyak orang bertanya-tanya, tetapi kita harus melihat itu adalah satu tindakan proses sampai terakhir ketika orang-orang ini diberi kesempatan untuk bertobat, justru 3000 orang ini justru menjadi kelompok yang terus mendatangkan kerusakan dan tindakan yang tidak mau bertobat kepada Tuhan.

Bagian ini bicara betapa kudusnya Tuhan. Kekudusan itu dinyatakan di dalam kitab Roma dengan kalimat ini, “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23a). Kita tidak boleh bilang “upah dosa adalah tolong Tuhan kasihani.” Upah bagi orang yang bertobat dan mengaku dosanya adalah tolong dan kasihani aku, Tuhan.” Bagian ini bicara berbuat dosa adalah satu hal; bagian ini juga bicara konsekuensi dosa adalah hal yang lain. Banyak orang ingin melakukan dosa, dengan segera mengaku di hadapan Tuhan, lalu mengira dosa itu dengan segera di-flushed seperti kotoran di toilet hilang tanpa bekas.

Dosa menuntut satu konsekuensi. Musa tahu itu. Itu sebab setelah mereka mengaku salah, mereka mohon pengampunan Tuhan, Tuhan akan mengampuni mereka, tetapi pengampunan itu berarti bukan saja menyelesaikan bagaimana dosa mereka, tetapi sekaligus bagaimana mereka sudah berdosa kepada Tuhan itu bisa dibereskan. Apa yang bisa? Keluaran 32:30 memperlihatkan point yang penting dan inilah konsep Alkitab kita, tidak ada pengampunan dosa tanpa korban pendamaian. Artinya ada orang berdosa diampuni dosanya dengan cara ada sesuatu atau seseorang yang menanggung dosa itu bagi mereka. Maka Musa berkata, “Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.”

Dalam bagian ini tidak disebutkan berapa lama Musa berdoa memohon pengampunan Tuhan, tapi dari Ulangan 9:25 kita baru tahu 40 hari 40 malam lamanya, tanpa makan sekerat roti ataupun minum setetes air, dia berlutut dan berseru memohon pengampunan Tuhan, sebagai seorang mediator berdoa syafaat bagi bangsanya di masa yang kritis itu. Mari kita bayangkan kalau ada orang yang sudah berbuat jahat kepada kita, sudah menghina dan melecehkan kita, bisakah kita berdoa bagi dia satu jam saja? Itulah sebabnya kitab Ibrani mengatakan, “…Musa setia dalam segenap rumah Allah” (Ibrani 3:5), sama seperti Yesus Kristus, bahkan Yesus Kristus lebih daripada itu. Ini adalah satu perbandingan mediator di dalam Keluaran 32 mengenai Musa dan Kristus. Betapa lebih agungnya Tuhan kita, yang sudah menerima penghinaan yang jauh lebih besar lagi, yang sudah dihina, diludahi, dilecehkan, dipaku di kayu salib.

Musa mengatakan kepada Tuhan, “Ya Tuhan Allah, janganlah musnahkan umat milikMu sendiri, yang Kau tebus dengan kebesaranMu. Ingatlah kepada hamba-hambaMu, kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Janganlah Mesir berkata, sebab Tuhan tidak dapat membawa mereka masuk ke negeri yang dijanjikanNya dan menertawakan kami…” (Ulangan 9:26-29).

Musa tahu perlu ada pendamaian, harus ada korban untuk menggantikan dosa yang besar itu. Maka dia naik ke atas gunung itu dan bertanya-tanya, pendamaian apa yang bisa setimpal menggantikan dosa umat Tuhan ini agar mereka bisa masuk ke tanah perjanjian yang Tuhan beri. Musa berdoa kepada Tuhan, “Kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu, dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kau tulis” (Keluaran 32:32). Musa rela namanya terhapus dari kitab kehidupan demi orang-orang ini. Tuhan menolak permintaan Musa, karena Musa pun adalah orang berdosa yang perlu ditebus dan diselamatkan. Korban pendamaian itu harus ada, tetapi Musa tidak bisa menjadi pengganti, Musa tidak bisa mati bagi bangsa Israel, nama Musa tidak bisa dihapus dari kitab kehidupan, karena Musa sendiri perlu diselamatkan.

Kisah ini membawa kita kepada satu pengharapan yang kemudian nyata di dalam peristiwa kematian Yesus Kristus di kayu salib. Yesus berkata, “Yerusalem, Yerusalem, berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya” (Matius 23:37). Yesus masuk ke Yerusalem disambut dengan sorak-sorai “Hosana, hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” namun hanya dalam satu hari yang berkumandang adalah teriakan “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Itulah yang terjadi.

Sama persis dengan umat Israel di sini. Mereka berjanji untuk setia kepada Tuhan, tetapi dengan segera mereka berubah. Waktu Yesus naik ke atas kayu salib, Ia berhak, Ia sanggup menjadi pendamaian bagi engkau dan saya, sebab hanya Ialah satu-satunya Juruselamat yang tidak berdosa, yang sanggup menanggung setiap dosa kita di hadapan Allah.

Peristiwa ini membawa hati kita senantiasa bersyukur dan gentar di hadapan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Mediator dan Juruselamat kita yang agung. Bacalah bagian ini dan jadilah orang yang berkata, “Tuhan, aku tidak lebih baik daripada orang-orang ini. Bukan saja aku perlu seorang seperti Musa yang mengasihi dan berdoa bagi bangsanya, aku perlu akan Yesus yang senantiasa mengasihi dan berdoa bagi aku.”

Bersyukur karena kita memahami kebesaran, keagungan, kekudusan Tuhan. Kita menyadari betapa kita manusia yang lemah, yang terkorupsi oleh dosa, yang sering menjadi umat Tuhan yang menegarkan tengkuk kita melawan Tuhan. Kiranya kita boleh diperbaharui oleh Tuhan, mendapat kekuatan dari Tuhan untuk hidup mencintai mengasihi Tuhan dengan hati nurani yang murni.(kz)

Click here for audio