Gembalakanlah Domba-DombaKu

Sat, 01 Mar 2014 03:47:00 +0000

Pengkhotbah : Pdt. DR. Peter Wongso

Nats : Yohanes 21: 15-19

Nama saya adalah Peter, maka ayat-ayat ini ada hubungannya dengan diri saya. Puji Tuhan! Saya bersyukur di hadapan Tuhan karena saya dilahirkan dari sebuah keluarga yang melayani Tuhan. Papa saya adalah seorang pendeta, mama saya juga seorang penginjil muda. Pada saat saya masih berada di dalam kandungan ibuku, orang tua  saya berdoa supaya kelak anak ini akan menjadi seorang hamba Tuhan juga. Pada waktu saya berusia 1 tahun 3 bulan, papa saya kembali ke surga. Saya lalu dibesarkan oleh mama di dalam Tuhan. Mama saya selalu berkata, “Yesus mengasihimu.” Saya bertumbuh besar, saya melihat sendiri kehidupan seorang yang melayani Tuhan sangatlah susah dan dak menderita, maka saya mengatakan kepada mama, saya tidak mau menjadi hamba Tuhan. Saya akan bekerja dan mengumpulkan banyak uang, setelah itu saya akan berikan untuk menunjang kehidupan hamba-hamba Tuhan. Maka selama kira-kira 3 tahun saya ke Indonesia untuk bekerja dan berbisnis. Boleh dikatakan setiap hari saya tidur tidak lebih dari 3 jam, karena saya selalu berpikir bagaimana mencari dan mendapatkan uang lebih banyak. Tetapi puji syukur kepada Tuhan pada tahun 1951 Tuhan memanggil saya untuk menjadi hambaNya. Maka saya mempersembahkan hidup saya untuk menjadi seorang hamba Tuhan.

Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus sudah mengikut Tuhan selama 3 tahun lebih. Ini adalah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh Tuhan Yesus sesudah Ia bangkit. Petrus sendiri tahu bahwa Yesus tahu apa yang ada di dalam hati Petrus.

Ada seorang pengamat Alkitab yang mengatakan pada waktu Yesus bertanya kepada Petrus, Petrus menjawab yang pertama menggunakan kata “agape,” dan yang kedua menggunakan kata “philia.” Tuhan menuntut Petrus mengasihiNya dengan kasih agape.

Namun Injil Yohanes menggunakan dua kata ini secara sejajar, maka bagi saya Tuhan tidak menuntut kita untuk mengasihiNya dengan kasih agape belaka. Tuhan ingin kita mengasihiNya dengan kasih yang menggunakan rasio, namun sekaligus kita juga mengasihi Tuhan dengan kasih yang didorong oleh luapan emosi. Kalau kasih kita didasarkan kepada dua aspek ini maka bukan saja kita dapat mengasihi Tuhan Yesus, kita juga mengasihi orang-orang yang Tuhan kasihi. Karena Tuhan Yesus sendiri juga menggunakan dua macam kasih ini. Kalau kasih kita adalah kasih yang hanya bersifat rasio maka kasih kita adalah kasih yang sangat kaku dan dingin. Kasih yang berdasarkan rasio adalah kasih yang selalu menganalisa apakah sesuatu ini layak dikasihi maka kasih itu adalah kasih yang sangat kaku dan dingin.

Namun kalau kasih kita adalah kasih yang hanya bersifat emosi saja, karena emosi seseorang sangat mudah berubah-ubah, maka kasihnya adalah kasih yang mudah berubah. Pada waktu dia melihat seseorang itu sangat menarik, maka dia akan mengasihinya, namun pada waktu orang itu sudah tidak ada daya tarik lagi, maka dia tidak lagi mengasihinya.

Pada waktu kita menempatkan dua aspek ini di dalam kasih kita, kita memakai rasio kita untuk mengasihi, kita juga mengekspresikan kasih kita dengan emosi kita. Tetapi kalau kita hanya menggunakan emosi kita, maka rasio akan memberi keseimbangan supaya kita tidak hanya mengasihi dengan emosi belaka.

Dalam Yohanes 13:1 dikatakan, “Sama seperti Yesus senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya…” Yesus mengasihi murid-murid sampai kepada akhirnya. Kasih Yesus adalah kasih yang mempunyai keseimbangan antara rasio dan emosiNya.

Pada waktu Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?” Petrus menjawab, “Benar, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi engkau.” Jawaban Petrus ini sangatlah tepat karena pertama-tama Petrus harus mengasihi Tuhan Yesus sebelum Petrus bisa mengasihi domba-dombaNya.

Saya bersyukur kepada Tuhan saya boleh menerima panggilanNya dan masuk ke sekolah teologi. Pada waktu saya menerima anugerah keselamatan, hari itu saya mengabarkan Injil kepada rekan bisnisku. Saya heran tidak kurang dari setengah jam, orang ini mau menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, tetapi saya tidak tahu bagaimana membimbing orang ini. Maka saya membawanya kepada pendeta saya, dan kemudian pendeta saya menjelaskan kepadanya bagaimana Tuhan Yesus menyelamatkan dan mengampuni dosa-dosanya. Saya mendengarkan dan mempelajari cara pendeta saya menjelaskan. Namun pada waktu saya mengabarkan Injil kepada ornag-orang yang lain, banyak pertanyaan diajukan kepada saya dan saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Saya kurang menguasai Alkitab. Maka saya menghabiskan waktu 1 bulan untuk membaca Alkitab sampai tuntas, namun banyak sekali hal yang saya kurang mengerti. Maka saya berdoa supaya Tuhan membukakan jalan supaya saya dapat ke sekolah teologi. Pada tahun 1952 Tuhan memimpin saya masuk ke SAAT.

Kita yang menjadi mahasiswa didorong untuk mengabarkan Injil, maka setiap akhir semester saya pergi mengabarkan Injil. Itulah yang dilakukan SAAT selama 62 tahun ini, dimana banyak sekali murid-murid dipakai oleh Tuhan. Boleh dikatakan lulusan SAAT sudah membuka sekolah teologi dan banyak sekali murid-murid yang dilatih dan dididik. Maka murid sudah punya murid, bagaimana mereka memanggil saya? Akong. Puji Tuhan.

Saya juga melihat mereka generasi demi generasi boleh melayani Tuhan, saya bersyukur kepada Tuhan. Kita sudah mendengarkan kesaksian pelayanan Pdt. Nico yang diceritakan oleh Bp. Allen, puji Tuhan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Kiranya kita boleh lebih banyak berdoa bagi para pendeta dan hamba Tuhan. Kita juga banyak berdoa supaya anak-anak kita boleh mempersembahkan diri menjadi hamba-hamba Tuhan. Apakah sdr rela kalau anak sdr menjadi hamba Tuhan? Berdoa itu gampang, tetapi pada saat anak kita terpanggil menjadi hamba Tuhan kita bilang biar anak orang lain saja yang menjadi hamba Tuhan.

Doa saya dan isteri didengar Tuhan. Kami memiliki tiga anak laki-laki, puji Tuhan, kalau saya punya anak perempuan kepala pasti pusing. Tuhan memanggil dua anak saya untuk mempersembahkan diri menjadi hamba Tuhan dan melayani. Kita perlu generasi lanjut yang siap melayani dan mengasihi jiwa-jiwa, dengan demikian kabar Injil bisa diberitakan sampai ke tempat-tempat yang jauh. Kita harus memikirkan generasi penerus.

SAAT selalu berdoa untuk generasi penerus. Banyak alumni 1400 orang kita tambahkan dengan murid-murid yang mereka hasilkan untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus, berapa jumlhnya kita tidak dapat hitung. Kita juga melihat di hadapan kita ada beberapa hamba Tuhan, terlalu sedikit.

Dunia ini sudah 7.2 billion manusia, berapa hamba Tuhan yang dibutuhkan? Kurang lebih 10 juta orang, dimana mereka?

Pada waktu kita bersama-sama menikmati acara peneguhan dan pentahbisan ini dan berdoa, ada satu hal lagi. Yang saya alami, sebagai seorang hamba Tuhan pada waktu menghadapi penderitaan ingatlah kita tidak seorang diri menghadapinya. Dalam Wahyu 1:9 rasul Yohanes mengatakan, “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan…” companion in the suffering in Jesus. Kristus sama-sama menyertai kita di dalam penderitaan kita. Yesus melihat, Yesus mengetahui, Yesus sama dengan kita menderita. Ini adalah pengalaman saya selama puluhan tahun, banyak orang tidak tahu apa yang saya alami, tetapi Yesus tahu.

Selama puluhan tahun melayani saya tidak bersandar kepada belas kasihan orang kepada saya. Perasaan orang kadang-kadang sangat berbahaya. Bagi orang yang ingin berbagian saya katakan terima kasih, tidak usah. Saya tidak memmperhatikan belas kasihan dari orang lain. Yesus tahu, itu sudah cukup bagiku. Segala yang kita kerjakan orang lain mungkin tidak tahu tetapi Yesus tahu, Yesus melihat, Puji Tuhan.

Kita mengasihi Tuhan dan kita mengasihi domba-dombanya. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!