The Precious Blood of Christ

Sun, 23 Feb 2014 08:34:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt.DR.Peter Wongso

Tema: The Precious Blood of Christ

Nats: Ibrani 9:11-15

 

“…betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).

Pada waktu Tuhan Yesus terpaku di atas kayu salib kita mengetahui bahwa darahNya yang mengalir itu adalah darah yang menguduskan dan menyucikan orang berdosa yang percaya kepadaNya. Ini adalah suatu perbedaan yang sangat jelas antara Kekristenan dengan agama-agama lain di dunia ini. Namun sungguhkah kita menyadari dan memahami bahwa darah Yesus itu benar-benar dapat menguduskan dan menyucikan hati kita dari dosa? Dan tahukah kita berapa kuantitas darah Yesus yang tercurah untuk menyucikan itu?

Dalam salah satu kebaktian kebangunan rohani pemuda remaja di kota Medan yang saya pimpin, di situ saya mengajak setiap mereka yang hadir untuk membuka dan mengintrospeksi hati mereka di hadapan Tuhan. Seperti dalam Mazmur 19:13 pemazmur berdoa kepada Tuhan, “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari…” atau dalam terjemahan bebas, sadarkanlah aku akan segala dosa yang tersembunyi di dalam hatiku. Salah satu pemuda yang bertobat dan kemudian membaca ayat ini, dia menyadari dan mengakui ada dosa-dosa yang selama ini tersembunyi di dalam hatinya dan dia datang kepada Tuhan minta pengampunanNya. Namun pada saat dia hendak mengakui dosa-dosa itu di hadapan Tuhan, dia ragu apakah darah Tuhan Yesus itu bisa mengampuni dosa-dosanya yang demikian besar itu? Dia berpikir, jika Yesus waktu disalib itu beratnya sekitar 70 kg, berarti volume darahNya kurang lebih 5 sampai 6 liter saja. Apakah darah Yesus itu cukup untuk mengampuni dan menyucikan dosa manusia yang begitu banyak? Apalagi selama 2000 tahun ini sudah berapa banyak orang yang datang minta pengampunan dari Tuhan Yesus, pasti darahNya sudah habis dipakai. Selain itu pemuda ini juga memikirkan aspek yang lain, jikalau darah Yesus hanya tinggal tersisa satu tetes saja dan sudah kering, tidak ada lagi yang tersisa untuk dia. Kalau darah Yesus sudah kering, masih dapatkah darahNya mengampuni dosa-dosaku? Apakah sdr juga pernah berpikir seperti ini? Sejujurnya waktu itu saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan pemuda ini. Saya berdoa minta kepada Tuhan hikmat untuk menjelaskan dari ayat mana yang bisa menolong dia. Syukur kepada Tuhan, saat itu saya langsung teringat kepada ayat dari Ibrani 9:14 “…betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup…”

Sekalipun darah Yesus yang tertumpah di atas kayu salib terbatas secara materi kuantitasnya, tetapi darah itu adalah darah yang mempunyai kuasa yang tidak terbatas adanya. Yesus Kristus melalui Roh yang kekal itu mempersembahkan diriNya sebagai persembahan yang tidak bercacat di hadapan Allah, itu adalah satu persembahan yang tidak terbatas oleh dimensi materi ruang dan waktu ini. Darah Kristus yang tercurah itu bukan hanya kita lihat ada berapa liter, tetapi darah itu mempunyai kualitas yang tidak terbatas, yang mempunyai kuasa di dalam kekekalan. Maka Ibrani 9:14 secara tuntas menjawab pertanyaan anak muda ini. Seberapapun banyaknya orang selama 2000 tahun lebih ini, seberapa besar dosa-dosa yang mereka bawa ke hadapan tahta Tuhan untuk mohon pengampunanNya, darah penebusan dan pengampunan Kristus itu selalu akan cukup mengampuni dan menyucikan setiap mereka adanya.

Darah Yesus Kristus ini berfungsi untuk apa? Pertama, Alkitab dari Ibrani 9:14 ini mengatakan, darah Yesus itu berfungsi untuk menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia. Puji Tuhan, ayat ini baik di dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Mandarin menyebut satu kata “hati nurani.” Dalam Bahasa Inggris hanya menggunakan kata “conscience,” yang kurang cukup mewakili makna dari ayat ini. Bagi orang Tionghoa, kalau seseorang dikatakan sudah tidak mempunyai hati nurani lagi (沒有良心 Méiyǒu liángxīn), ini adalah satu masalah yang sangat serius dan besar sekali.

Darah Yesus Kristus yang tidak terbatas dan mempunyai kuasa kekekalan itu akan menyucikan hati nurani kita. Alkitab baik dalam Bahasa Ibrani maupun dalam Bahasa Yunani sangat peka akan istilah hati nurani ini. Pada waktu Tuhan Allah menciptakan manusia, kepada mereka diberikan hati nurani. Maka pada waktu kita melakukan satu kesalahan, meskipun tidak ada orang lain yang tahu, hati nurani kita mengetahui dan menyadarinya. Kita dapat membohongi keluarga kita; kita dapat membohongi isteri atau suami kita. Tetapi pada waktu kita membaringkan diri, di situ hati nurani kita bersuara dan menuduh kita, menyatakan kesalahan kita. Hati nurani itu akan terus berbicara menuduh kita dan menuntut kita sehingga kita gelisah dan tidak mempunyai rasa ketenteraman lagi. Sekalipun kita berusaha melarikan diri ke tempat lain, hati nurani itu terus mengikuti kita. Pada waktu kita melakukan satu dosa dan tidak pernah ada pertobatan, hati nurani itu akan menuntut dan terus menuduh engkau. Tetapi manusia itu adalah satu mahluk hal yang aneh sekali, yang mampu menipu diri sendiri. Kita berusaha melakukan hal-hal yang baik untuk menutupi hal-hal jahat yang kita lakukan seolah itu bisa menutup tuduhan dari hati nurani kita. Orang lain mungkin bisa kita tipu, orang yang paling dekat dengan kita pun bisa kita tipu, tetapi hati nurani itu tidak dapat ditipu dan ditutupi.

Syukur kepada Tuhan, darah Tuhan Yesus itu menyucikan hati nurani kita. Hati nurani itu tidak lagi menuntut dan menuduh kita, sehingga kita boleh mengalami damai sejahtera atas pengampunan dan penebusanNya.

Yang kedua, darah Tuhan Yesus itu menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia, perbuatan-perbuatan yang tidak ada nilainya. Darah Tuhan Yesus itu memberikan kehidupan yang memampukan kita melakukan hal-hal yang bernilai dalam dunia ini. Tuhan menginginkan kita mengalami kelahiran baru yang sejati yang akan memimpin kita kepada kehidupan yang baru. Apakah setiap hari kita melakukan perbuatan-perbuatan yang bernilai? Kita jujur mengakui seringkali dan cenderung lebih banyak melakukan hal-hal yang tidak ada nilainya. Darah Tuhan Yesus membuat hidup kita yang sudah disucikan memampukan kita melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan kepadaNya.

Yang ketiga, melayani kepada Tuhan yang kekal. Dunia ini beserta segala isinya akan segera berlalu. Raja-raja dan pemimpin-pemimpin dunia yang besar satu hari kelak akan berlalu. Di tengah teknologi yang semakin berkembang pesat ini betapa mudah meng-exposed raja-raja dan pemimpin dunia yang melakukan hal-hal yang tidak baik. Tidak ada satu hari mereka lewati dengan damai. Bahkan sebaik apapun seorang pemimpin, selalu saja ada yang berdemo menyatakan ketidak-puasan dan kritikannya.

Pada waktu kita melayani kepada Tuhan yang kekal, tidak ada seorangpun yang dapat memprotes. Pada waktu kita melayani kepada Tuhan yang kekal, pelayanan itu memiliki nilai yang kekal adanya. Kita mengabarkan Injil sehingga orang mendapatkan keselamatan dan mendapatkan satu kehidupan yang kekal. Orang-orang yang kita bimbing kepada Tuhan akan selalu mengingat pribadi orang yang sudah mengabarkan Injil kepada mereka sehingga mereka boleh mendapat keselamatan. Inilah satu pelayanan yang memiliki nilai kekekalan.

Sekarang usia saya sudah sangat lanjut, lebih dari 80 tahun dan saya lebih banyak menghabiskan waktu di Sydney. Kadang ada saudara dari Indonesia menelpon dan menanyakan apakah saya masih ingat kepadanya? Dia mengatakan waktu saya memimpin kebangunan rohani tahun 1959, dia ada disitu mendengar khotbah saya dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Banyak cerita-cerita seperti ini datang kepada saya dan membuat hati saya sangat bersukacita. Saya tidak pernah memberikan satu barang atau hal yang bersifat materi kepada mereka. Tetapi saya memberikan berita yang bersifat kekal itu kepada mereka. Mereka selalu mengingat apa yang pernah saya sampaikan kepada mereka. Dan kelak di surga nanti kita juga akan bertemu dengan saudara-saudara kita seiman yang pernah mendengar kabar keselamatan yang kita sampaikan dan setiap mereka berterimakasih atas apa yang sudah kita lakukan bagi mereka. Kalau seumur hidup kita tidak pernah menyampaikan kabar Injil dan tidak pernah membawa satu jiwa pun kepada Tuhan, betapa kasihannya kita, karena di surga kita akan menjadi orang yang paling kesepian nantinya, bukan? Maka demi mereka semua, mari kita bersegera dan giat selama ada waktu dan kesempatan untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus.

Mengabarkan Injil itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dapat dilakukan dengan mulut perkataan kita, dapat melalui artikel yang kita tulis dan kirimkan, dapat melalui sikap dan perbuatan kita yang selalu siap membantu mereka mengerti kebenaran Injil tersebut.

Saya bersyukur untuk anugerah Tuhan menolong saya menulis beberapa artikel, dan melalui tulisan artikel saya orang-orang yang membacanya menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Saya tidak tahu artikel yang saya tulis itu sudah disebarkan kemana saja, tetapi dengan kemajuan tenologi komunikasi sekarang sangat mempermudah penyebarannya melalui internet. Artikel-artikel itu bisa dibaca oleh orang-orang di daratan Tiongkok dan mereka meresponinya dengan mengirimkan ucapan terima kasih karena mereka mendapat berkat rohani dari artikel-artikel tsb.

Darah Kristus yang telah menyucikan dan menyelamatkan aku, maka aku dapat melayani kepada Allah yang kekal. Kita diselamatkan semata-mata hanya oleh anugerah Tuhan. Kita mempunyai tanggung jawab untuk segiat-giatnya mengabarkan Injil ke tengah-tengah keluarga kita yang belum mengenal Tuhan, kepada teman dan sahabat kita, kepada siapa saja kita berkesempatan untuk melakukannya.

Puji Tuhan, selama berpuluh tahun melayani di Indonesia, saya berkesempatan mengabarkan Injil dari Sabang, daerah Aceh yang paling ujung, sampai kepada Jayapura di Papua dan mendirikan beberapa gereja untuk menggembalakan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Demikian juga saya bersyukur untuk kesempatan yang Tuhan berikan bagiku pergi ke pedalaman yang belum pernah mendengar kabar Injil.  Saudaraku, engkau jauh lebih muda daripada saya, hari ini saya memanggil engkau mari kita sama-sama mengabarkan Injil segiat dan sesegera mungkin.

Kiranya darah Tuhan kita Yesus Kristus yang mulia dan tidak bercacat itu menyucikan hati nurani kita, sehingga memampukan kita menjadi orang-orang yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang berguna dan membantu kita melayani Tuhan yang kekal itu.

Kiranya kasih dari Allah memimpin kehidupan setiap kita. (kz)