Kerelaan dan Hati yang Tergerak

Sun, 16 Feb 2014 06:02:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (32)

Nats: Keluaran 25:1-9; 35:4-9,20-21, 31; 36:2,6-7

 

Dalam suratnya Yakobus menegur dengan keras penerima surat yang di antaranya jemaat yang kaya dan berkelebihan, pada saat yang sama ada janda dan orang miskin. Yakobus berkata, apa gunanya seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunya perbuatan? Engkau mendengar firman “Kasihilah saudaramu,” tetapi sehabis kebaktian orang yang miskin pulang tetap dengan perut lapar. Apa gunanya engkau mendengar firman yang mengatakan, “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya menjadi pendengar saja,” tetapi keluar dari dari rumah ibadah, mulut bibirmu tetap hanya mengeluarkan kata-kata yang melukai saudara seiman yang lain? Engkau percaya kepada Allah yang esa? Setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar (Yakobus 2:14-19). Yakobus memanggil mereka, “Mari kita menjadi pelaku firman dan bukan hanya menjadi pendengar firman saja” (Yakobus 1:22). Kepada hamba-hamba Tuhan, orang-orang yang berdiri menyampaikan firman, marilah kita melakukan apa yang kita khotbahkan. Jangan pernah terlalu cepat ingin menjadi seorang yang mengajarkan firman Tuhan, sebab orang-orang seperti itu akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat (Yakobus 3:1).

Biar teguran ini menjadi teguran bagi kita juga. Mari setiap kita yang sudah mendengarkan firman, kita juga menjadi pelaku-pelaku firman. Firman Tuhan yang kita dengar tidak boleh hanya sampai di telinga saja. Firman yang kita dengar harus merubah prinsip hidup kita; firman yang kita dengar harus merubah cara pelayanan kita; firman yang kita dengar harus merubah tutur kata kita; firman yang kita dengar harus memperbaiki kelakuan kita; firman yang kita dengar harus melembutkan hati kita penuh dengan simpati dan empati kepada orang lain, karena semua itu dituntun oleh firman Tuhan. Setiap hari, setiap minggu firman yang kita baca dan dengar tidak boleh menjadi firman yang membosankan hati kita. Allah berfirman, Allah tidak pernah bosan, sebab Dia tahu di sinilah kekurangan dan kelemahan kita.

Membaca Keluaran 25 dan Keluaran 35, mengapa Tuhan perlu dua kali mengulang bagian bicara mengenai hal mendirikan Kemah Suci, dan kembali dan kembali Tuhan mengingatkan Musa dan orang Israel untuk membuat secara detail kemah dan peralatan dan ukurannya secara exactly menuruti contoh yang telah Tuhan tunjukkan kepada Musa? Keluaran 25-31 adalah pertama kali Tuhan memberi perintah bagaimana Kemah Suci itu dibuat. Kemudian Tuhan kembali lagi mengulang hal yang sama di dalam Keluaran 36-39. Waktu pertama kali Tuhan memberitahukan apa yang harus dilakukan bangsa Israel dalam membangun Kemah Suci itu, Tuhan menunjukkan bahwa Dia ingin tinggal bersama-sama umatNya. Bukankah Tabernakel Kemah Suci itu adalah tempat dimana Tuhan akan hadir? Ini adalah satu tawaran dari Tuhan sendiri. Kali ini tidak perlu doa, tidak perlu minta, Tuhan sendiri yang berinisiatif untuk tinggal di tengah-tengah mereka. Bukankah ini seharusnya menjadi sukacita luar biasa?

Sebelum Tuhan memerintahkan mereka membuat Kemah Suci itu Alkitab mencatat dalam Keluaran 24:1-11 diawali terlebih dahulu dengan komitmen dan perjanjian dari umat Israel “Segala firman yang telah diucapkan Tuhan itu akan kami lakukan…” (Keluaran 24:3). Maka Musa, Harun dan anak-anaknya dan 70 orang tua-tua menghadap Tuhan dan diakhiri dengan makan dan minum bersama Tuhan dalam sebuah fellowship. Awal yang indah, namun selanjutnya apa yang mereka lakukan? Diawali dengan janji, diawali dengan komitmen, diawali dengan perjanjian, tetapi setelah Tuhan beri, ditutup dengan mereka membuat patung lembu emas dan menyembahnya. “Hai Israel, inilah allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Keluaran 32:1-6). Bukan Kemah Suci yang mereka buat, melainkan patung lembu emas untuk diri mereka sendiri.

Jikalau kita sudah mendengar firman, namun tidak pernah punya kerinduan untuk melakukan firman, dengan sendirinya kita menipu hati kita sendiri (Yakobus 1:22), bahwa sebenarnya dalam hati dan hidup kita Tuhan bukan menjadi fokusnya. Percuma mereka duduk di hadapan Musa, percuma mereka berjanji akan melakukan segala yang Tuhan firmankan, mereka makan minum bersama-sama dengan sukacita, tetapi janji itu hanya sekedar janji di mulut saja.

Maka setelah peristiwa Keluaran 32 terjadi, diawali dengan ucapan Tuhan dalam Keluaran 25 “Aku akan beserta dengan engkau,” akhirnya setelah peristiwa Keluaran 32 ini Musa sampai menangis kepada Tuhan, ketika Tuhan bilang “Aku akan meninggalkan mereka.” Dengan tangisan dan doa permohonan Musa, luluhlah hati Tuhan sehingga Dia akan kembali dan hadir di tengah-tengah mereka.

Tuhan memberi prinsip yang penting supaya kemah itu dibangun dengan merefleksikan siapa Tuhan yang kita sembah itu. Dia adalah agung dan mulia. Barang yang berarti dan berharga, emas dan perak, menyatakan kesucian, keagungan, kekayaan, kelimpahan Tuhan. Tuhan yang memiliki segala sesuatu, Tuhan yang agung itu, sesungguhnya sanggup bisa menurunkan Kemah Suci dari surga untuk mereka. Tetapi Dia tidak lakukan itu, karena bukan dengan cara seperti itu Tuhan bekerja.

Saya percaya Tuhan tidak minta semua harta kita untuk kita beri kepadaNya, tetapi harta yang ada pada kita tidak menjadi sesuatu yang berat kita berikan kepadaNya jikalau hati itu sudah diberi kepada Tuhan terlebih dahulu. Tetapi jikalau hati tidak diberi kepada Tuhan, secuil saja apa yang Tuhan minta dari hidupmu akan menjadi sesuatu yang berat untuk engkau berikan kepadaNya.

Bagian ini sangat unik dan tidak pernah ada terjadi lagi. “Rakyat membawa lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Tuhan untuk dilakukan. Lalu Musa memerintahkan ‘tidak usah lagi ada yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.’ Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi. Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup… bahkan berlebih” (Keluaran 36:5-7). Luar biasa. Di situlah keindahannya kita melihat bangsa ini secara total menyerahkan hati mereka kepada Tuhan.

Bagaimana kita memberi persembahan hati kita yang total kepada Tuhan? Keluaran 35:5 berkata, “Ambillah bagi Tuhan persembahan khusus dari barang kepunyaanmu, setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada Tuhan…” Prinsip yang pertama, sembahkan dan berikan dari apa yang ada padamu. Tuhan tidak menuntut dan meminta apa yang tidak ada pada kita. Kita bersyukur Allah yang berlimpah dengan kasih setia, Allah yang tidak perlu setiap persembahan kita, Allah yang juga tidak akan menjadi lebih kaya karena kita datang memberi kepada Dia, tetapi Allah itu adalah Allah yang rindu melihat anak-anakNya datang membawa persembahan itu kepadaNya. Allah rindu inisiatif itu datang dari hati kita, supaya kita boleh berpartisipasi dengan rela, dengan sukacita. Tanpa partisipasi kita, Dia tidak kekurangan apa-apa; tanpa kerelaan kita, tidak berarti pekerjaan Tuhan tidak jalan. Tetapi kerinduan yang muncul dari hati setiap anak-anak Tuhan itu akan menyukakan hati Bapa kita yang di surga.

Tuhan tidak hanya minta emas, perak dan tembaga. Tuhan minta kain ungu, bulu kambing, kulit lumba-lumba, dsb, karena tidak semua orang punya emas dan permata tentunya. Apa yang kita bawa, yang penting kita membawa dari apa yang kita miliki. Kita senantiasa harus ingat baik-baik semua yang kita miliki sehingga kita bisa memberi itu semata-mata karena anugerah dan kemurahan Tuhan. Bagaimana bisa selama ratusan tahun dijadikan sebagai budak di Mesir mereka bisa memiliki emas, perak dan barang-barang berharga? Kita ingat, pada waktu mereka hendak keluar dari Mesir, Tuhan berkata, “Aku akan menjarah orang Mesir sehingga mereka bermurah hati kepadamu…” Ujung-ujungnya mereka bisa punya emas, perak dan semua barang berharga, Tuhanlah yang memberi bagi mereka. Maka sukacita itu terjadi pada waktu kita mengerti dan memahami anugerah Tuhan yang Tuhan beri kepada kita. Selalu harus kita tekankan dalam hati kita, setiap kali kita memberi, Tuhan minta pemberian itu dari apa yang kita miliki. Pemberian itu adalah satu kerinduan Tuhan agar kita berinisiatif karena itu adalah kesempatan yang Tuhan beri kepada kita. Selalu kita harus di depan, jangan berlambat-lambat di belakang, sehingga kasihan mereka yang belakangan, Musa bilang sudah cukup, tidak ada kesempatan lagi, bawa pulang kembali. Di situ kita tahu pemberian itu adalah opportunity.

Dalam 2 Korintus 9:7 Paulus mengulang lagi prinsip ini,”Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Maka ini prinsip kedua, beri dari apa yang engkau bisa beri. Keluaran 35:30-36:1 Tuhan mengkhususkan dua orang yaitu Bazaleel dan Aholiab. Kenapa? Sebab mereka memiliki skill, mereka punya keahlian, mereka punya pengertian, mereka punya kemampuan. Mereka memberi dari apa yang mereka bisa. Pada waktu kia membaca bagian ini kita tahu Kemah Suci membutuhkan sejumlah besar orang dengan segala macam skill yang penting dan ada pada mereka. Apa gunanya emas kalau tidak ada orang yang sanggup menempa emas dan merancang logam mulia itu? Apa gunanya batu permata dan kain ungu yang berharga kalau tidak ada orang yang ahli menenunnya? Apa gunanya segala persembahan yang berlimpah itu kalau tidak ada arsitek yang bisa merancang bangunan Kemah Suci itu? Maka Tuhan memilih dua orang untuk menjadi pemimpin proyek itu yakni Bazaleel dan Aholiab, orang-orang yang memiliki skill, kemampuan dan pengertian adanya. Tidak ada orang yang tidak Tuhan beri dengan anugerah dan tangan hampa; tidak ada orang juga yang Tuhan tidak beri kemampuan yang berguna bagi pelayanan Tuhan. Tetapi perhatikan baik-baik, orang-orang ini mempunyai skill, mempunyai kemampuan, mempunyai pengertian, ada kalimat penting mendahului semua itu, yaitu mereka harus dipenuhi oleh Roh Allah (Keluaran 35:31). Pekerjaan rohani yang hanya dikerjakan dengan kepintaran, kemampuan dan kehebatan tanpa kuasa Roh Kudus, itu menjadi kebahayaan yang besar. Sesuatu hal yang rohani namun bukan dikerjakan dengan tangan yang bersifat rohani, itu menjadi kebahayaan yang besar. Prinsip ini dari Tuhan. Orang itu punya skill, punya kehebatan, punya kemampuan, tetapi Tuhan perlu memberi Roh Kudus memimpin semua skill itu.

Itulah sebabnya pada waktu jabatan dan orang-orang yang dipakai oleh Tuhan untuk melayani di dalam Gereja, kita perlu mengerti prinsip-pinsip ini. Biar hidupnya rohani, biar kedewasaan ada di dalam hidupnya, biar dia menjadi seorang yang berlimpah dengan tutur kata yang membangun, hati yang cinta kepada domba-domba Tuhan, hati yang berlimpah dengan kemurahan, di situlah kita melihat Tuhan bekerja di dalam hidup orang itu. Pada waktu Tuhan Yesus hendak naik kesurga, kepada murid-murid yang hendak pergi pelayanan bukankah Ia mengatakan, jangan pergi dahulu. Tunggu sampai engkau dipenuhi oleh Roh Kudus (Kisah Rasul 1:4-5). Setiap kita akan berbagian di dalam pekerjaan Tuhan dimana saja, mari kita dipenuhi dengan kuasa dan karakter dari Roh Allah yang kudus di dalam hidup kita.

Keahlian, pengetahuan dan pengertian menjadi indah berlipat ganda, satu hal yang bersifat alamiah itu berubah fungsi menjadi sesuatu yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kita bisa mencari uang dengan bermain piano; kita bisa mencari uang dengan skill yang ada pada kita; kita bisa memakai segala apa yang ada pada kita untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tetapi ketika kita membawa segala skill yang ada pada kita di dalam doa dan dengan persembahan yang tulus dan agung kepada Tuhan, itu semua akan menjadi alat Tuhan yang agung dan mulia di dalam kerajaan Allah.

Apa yang aku bisa kerjakan bagi Tuhan? Keluaran 35:26-27 kita melihat kaum wanita Tuhan pakai, “…Setiap perempuan yang ahli memintal dengan tangannya sendiri… semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena dia berkeahlian…” Era pada waktu itu posisi perempuan bersandar kepada suami, mereka tidak punya harta sendiri karena di dalam garis pria yang mewarisi segala sesuatu. Lalu Keluaran 35:28 ada pemimpin-pemimpin yang membawa batu-batu permata dan rempah-rempah yang mahal. Pemimpin di sini kita sebutkan sebagai orang yang berkuasa, yang punya uang, yang punya kedudukan. Mereka pun berbagian membawa apa yang mereka miliki bagi Tuhan untuk menghias baju efod yang dipakai oleh imam besar. Catatan ini untuk menyatakan segala level dari wanita yang sederhana sampai pemimpin yang paling atas semua berbagian di dalam pekerjaan Tuhan. Perempuan-perempuan ini tidak punya batu permata yang berharga, tetapi mereka mempunyai keahlian yang mereka pakai untuk melayani Tuhan. Di sinilah kita menemukan aspek yang luar biasa bagaimana orang-orang yang tidak berpunya tetap dihargai oleh Tuhan, yang hanya memiliki skill yang sederhana Tuhan pakai menghias keindahan kemah suci. Yang kaya dan mampu, harta yang mereka miliki, mereka sadar ini bukan sesuatu yang mereka pegang dan simpan bagi diri mereka sendiri. Maka hari mereka datang membawa persembahan menjadi hari dimana semua level masyarakat, setiap orang yang berbeda latar belakang dan status sosialnya, dengan skill dan keahlian yang berbeda-beda, semua berkumpul di hadapan Tuhan membawa persembahan mereka menjadi satu keindahan yang luar biasa.

Namun kita tidak boleh lupa prinsip yang ketiga muncul, Keluaran 35:2 “Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang dalam hatinya telah ditanam Tuhan keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu…” Tuhan memberikan prinsip: (1) berilah dari apa yang Tuhan sudah beri, (2) berilah dari apa yang engkau bisa beri, maka yang ketiga, berilah karena pemberian itu langsung keluar dari hatimu.

Apa bedanya pembangunan Kemah Suci oleh Musa dengan pembangunan Bait Allah oleh Salomo? Beda yang pertama, Bait Allah jauh lebih megah. Beda yang kedua, ukuran Bait Allah jauh lebih besar. Beda yang ketiga, pembangunan Kemah Suci digerakkan oleh hati yang memberi dengan sukarela, dorongan dari firman yang keluar dari mulut seorang nabi; Bait Allah dibangun digerakkan oleh decree seorang raja, dengan keterpaksaan, dengan perintah. Itu bedanya. Megah mana? Bait Allah besar dan megah, Kemah Suci sederhana dan simple. Tetapi kita bisa menemukan prinsip terpenting muncul di sini. Salomo memberi perintah, Salomo memberi decree, Tuhan rindu inisiatif. Siapa sebenarnya yang lebih bisa memberi perintah dan paksa? Tuhan, bukan? Tetapi tiap orang yang tergerak itu muncul karena ada kesadaran sebelumnya, yaitu berbahagialah orang yang mendengar firman dan melakukannya. Sehingga setiap kali firman itu datang tidak pernah menjadi keterpaksaan di dalam hidupmu dan hidupku. Itu akan menggerakkan poros yang paling penting dari hidup kita yaitu hati. Tuhan tidak paksa. Tuhan sudah kasih skill, Tuhan sudah tanamkan pengertian itu, biar mereka tergerak sendiri untuk datang. Kalimat ini “setiap orang yang tergerak hatinya datang…” dorongan itu menjadi luar biasa.

Tuhan tuntut kita bukan saja melakukan hal yang benar, Tuhan tuntut kita melakukan hal yang benar itu dengan alasan yang benar. Banyak kali ada hal yang benar kita tidak sanggup dan tidak berani mengatakan hal itu benar. Mereka benar memberi persembahan, mereka benar melakukannya, tetapi yang terpenting di belakangnya karena mereka memberi dengan alasan yang benar. Pembangunan Bait Allah adalah pembangunan dari seorang raja untuk menyatakan kemegahan bagi kemuliaan Tuhan. Pembuatan Kemah Suci adalah ‘community effort’ dari setiap orang yang mengerti anugerah Tuhan yang sudah mengasihi dan mencintai mereka. Hasilnya apa? Hasilnya kemah itu jadi. Kemah yang agung dan mulia, kemah yang dibawa sepanjang perjalanan menyatakan Allah hadir menyertai umatNya di dalam kemah itu dengan segala kemuliaanNya.

Kiranya Tuhan kuatkan dan pelihara kita karena apa yang perlu kita kerjakan dan lakukan Tuhan sudah beri hati yang dirubah oleh Tuhan, kita sudah mempunyai hati yang cinta kepadaNya, kita ingin taat menjadi murid Tuhan selama-lamanya.(kz)

Click here for audio