Celebrate God’s Loving Kindness

Sun, 09 Feb 2014 00:18:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (31)

Nats: Keluaran 23:14-33

 

Banyak di antara kita menjalani hidup ini dengan mengatakan tunggu sampai situasi ‘settled’ kita baru memutuskan akan bagaimana. Tetapi bukankah jujur harus kita akui seringkali kita tidak pernah bisa mengerjakan dan melakukan apa yang penting dan baik karena kita terus rasa kita masih belum settle? Kalau kita menjalani hidup ini dengan mindset ‘tunda semua dan tunggu sampai settle,’ tidak ada hal yang bisa kita achieve dalam hidup ini.

Bangsa Israel berjalan keluar dari Mesir menuju ke tanah perjanjian, Tuhan tidak sebutkan berapa lama mereka harus berjalan. Ditinjau dari sudut normal, perjalanan itu seharusnya dalam satu dua tahun selesai. Tetapi siapa duga justru perjalanan itu akhirnya menjadi perjalanan yang berputar-putar hingga 40 tahun lamanya, sehingga tragis orang-orang yang berumur 40 tahun ke atas, yang lahir dan besar di Mesir, tidak ada satupun yang akhirnya masuk ke tanah perjanjian itu. Itu adalah perjalanan yang tidak gampang. Membangun tenda, baru selesai pasang, Tuhan bilang ‘jalan!’ bongkar tenda, jalan lagi. Bukan saja diri sendiri yang diurus, ada anak-anak, ada ternak dan belum lagi barang-barang yang lain. Hidup tidak akan pernah settle.

Maka sampai di gunung Sinai Tuhan mengadakan perjanjian dengan umatNya, menegaskan akan identitas mereka sebagai umat Tuhan, Tuhan tidak tunggu sampai tiba di tanah perjanjian baru mereka disebut sebagai umat Tuhan. Hari itu di tengah perjalanan itu Tuhan memberitahu mereka apa yang penting, apa yang menjadi sentral. Tuhan mengingatkan bahwa Dia ada di tengah-tengah mereka, sehingga mereka dapat berbakti kepadaNya di padang gurun ini, di tengah perjalanan ini. Tuhan memerintahkan mereka membuat kemah suci untuk menjadi satu tanda Tuhan ada di tengah-tengah mereka selama mereka di perjalanan. Kemah itu cukup besar, kayu-kayu balok yang berat dengan segala macam perangkat dan peralatan yang ada harus diangkat dan dibawa bersama mereka. Ini hal yang tidak gampang dan sederhana, maka nantinya mereka perlu satu suku yaitu suku Lewi untuk dikhususkan mengatur, melayani kemah Tuhan yang ada di tengah-tengah mereka.

Tetapi Tuhan tidak mau mereka menunda untuk settle baru kemah suci dibikin. Tidak tunggu sampai masuk ke tanah perjanjian untuk baru fokus bagaimana berbakti dan menjadikan Tuhan sebagai sentral. Sejak mereka keluar dari tanah Mesir, masih di dalam perjalanan, Tuhan minta mereka bikin kemah suci supaya mereka tahu Tuhanlah sentral dan pusat dari hidup mereka.

Maka Keluaran 23 merupakan satu bagian penting persiapan Tuhan di dalam perjalanan keluar dari Mesir, di situ Tuhan memberi guidance bagaimana beribadah dan melakukan perayaan-perayaan bagi Tuhan. Tiga kali setiap tahun mereka harus datang bertemu Tuhan dan hari-hari raya itu sekaligus merupakan hari raya untuk mereka mengingat kembali apa yang sudah lewat, bagaimana Tuhan memimpin dan memelihara mereka.

Hari raya pertama adalah hari raya Roti tidak Beragi yang menandakan tahun yang baru yang dimulai pada hari mereka keluar dari perbudakan Mesir menjadi kalender baru. Hari raya Roti tidak Beragi dirayakan selama tujuh hari dan sampai kepada puncaknya di hari terakhir mereka mengadakan perjamuan makan yang besar. Perayaan ini dilakukan menjadi memori akan peristiwa malam Paskah dimana Tuhan menurunkan tulah kematian anak sulung dan membebaskan rumah-rumah yang menorehkan darah domba di ambang pintu rumah sehingga tidak terjadi kematian kepada anak sulung mereka. Selama tujuh hari itu mereka harus makan roti yang tidak beragi, makan sayur yang pahit, dan pada hari terakhir mereka makan daging domba Paskah. Roti yang tidak beragi menjadi perlambang mereka mendedikasikan diri dan membuang dosa dan mengingat tidak boleh ada dosa yang terus berkembang di dalam hidup mereka.

Memang sekarang ini kita tidak lagi merayakannya namun kita melihat perayaan itu menjadi pengalaman keselamatan kita. Sampai kepada PB kita menemukan tema itu tetap berjalan, yaitu Yesus Kristus menjadi Domba Paskah yang mati untuk menebus dan menyelamatkan kita.

Hari raya yang kedua adalah hari raya Menuai, yang dirayakan 50 hari sesudah Paskah, kira-kira pada awal musim panas saat tanaman gandum mulai dipanen. Pada hari itu hasil panen yang pertama dipersembahkan kepada Tuhan. Hari raya Menuai adalah hari raya yang penting dimana mereka datang kepada Tuhan sedini mungkin ketika hasil panen pertama sudah muncul dan mereka bawa kepada Tuhan. Dalam Imamat 23:10-11 ada simbol hasil panen itu mereka bawa dengan melambai-lambaikannya kepada Tuhan. Tujuan simbol ini untuk menyatakan apa yang mereka dapat sebagai hasil panen pertama ini bukanlah usaha mereka tetapi karena anugerah dan pemberian Tuhan. Kalau selama perayaan Paskah orang Israel tidak makan roti yang beragi, maka dalam perayaan Menuai ini mereka makan roti yang beragi dengan memahami makna yang berbeda tentang ragi itu. Ragi tidak boleh ada kalau “adonan” itu adalah adonan keberdosaan kita. Tetapi kalau “adonan” itu adalah berkat Tuhan, maka harus dikasih ragi. Tujuan dan maknanya di situ adalah pertama kali bangsa Israel menuai hasil panen, karena panen berbeda-beda, maka masing-masing orang datang membawa hasil panen yang berbeda-beda ke rumah Tuhan, yang panen gandum bawa hasil gandumnya, yang panen jagung, zaitun dan hasil ladangnya yang lain juga membawanya ke hadapan Tuhan. Maka dapat kita bayangkan hari-hari itu penuh dengan sukacita yang meriah, sebab Tuhan telah memberkati mereka dengan limpah.

Nantinya sampai kepada PB kita mengenal hari raya ini sebagai hari raya Pentakosta. Pada hari raya ini Tuhan menggenapkan satu hal yang penting yaitu memberikan “buah sulung” bagi kita di dalam keselamatan dan “buah sulung” di dalam hidup kerohanian kita yaitu hadirnya Roh Kudus. Maka hari raya ini tetap menjadi hari raya yang memiliki makna yang penting dalam perjalanan kita hidup ikut Tuhan. Pada waktu kita merayakan Paskah, kita diingatkan Tuhan sekali lagi bahwa kita adalah milik Tuhan yang dibawa keluar dari perbudakan dosa. Pada hari Pentakosta kita mengingat Roh Kudus yang tinggal di dalam hidup kita yang mendatangkan buah-buah yang berlimpah dan berlipat ganda di dalam hidup engkau dan saya.

Betapa indah Tuhan merancang perayaan-perayaan itu, mulai dengan hari raya Roti tidak Beragi, hanya makan sayur-sayuran yang pahit, dengan sikap yang khidmat merenungkan dengan reflektif perbuatan tangan Tuhan yang ajaib bagi hidup mereka, lalu kemudian di hari penuaian di situ kita bisa melihat sukacita dan kemeriahan selama lima puluh hari orang satu demi satu datang membawa sesuatu di tangannya sebagai syukur kepada Tuhan.

Setelah semua hasil panen selesai dipetik dan dikumpulkan, maka awal musim dingin segera mulai, orang tidak lagi mengerjakan tanah dan ladangnya. Namun ketika semua hasil panen terkumpul dengan limpah di lumbung-lumbung, bolehkah mereka menyimpan bagi diri sendiri? Tidak. Maka Tuhan memberikan hari raya ketiga dimana setiap orang harus datang ke rumah Tuhan, yaitu hari raya Pengumpulan Hasil di akhir tahun. Kalau pakai konteks kita sekarang itu adalah Thanksgiving Day. Selama tujuh hari mereka merayakan hari raya dengan besar dan meriah luar biasa. Dalam merayakan hari raya ini Tuhan memberikan beberapa aturan di dalam Imamat, pertama hasil panen tidak boleh diambil semua bagi diri sendiri tetapi disisakan untuk diambil oleh orang-orang miskin. Kedua, selama tujuh hari mereka datang ke rumah Tuhan membawa kambing domba untuk berpesta pora bukan untuk makan sendiri tetapi undang kelompok keluarga imam, orang-orang miskin, janda dan anak-anak yatim yang ada di situ untuk sama-sama menikmatinya. Maka selama tujuh hari mereka menutup akhir tahun dengan cara seperti itu. Tahun yang penuh dengan anugerah, tahun yang penuh dengan berkat, tahun dimana mereka tahu sepanjang tahun dari menabur hingga selesai panen, Tuhan yang memberkati dan hanya Dia yang harus dihargai dan dihormati.

Inilah konsep yang harus menjadi pegangan bagi kita sebagai orang Kristen di dalam perjalanan hidup kita. Perjalanan hidup kita bisa panjang atau pendek; perjalanan hidup kita bisa mengalami kelancaran ataupun kesulitan dan hambatan. Tetapi di tengah-tengah perjalanan itu kita tidak boleh lepaskan fokus itu. Tahun ini mungkin hidup kita susah, tetapi tetap harus kita jalani dengan hati yang berlimpah dengan syukur karena tidak ada orang yang akan melewati tahun ini dengan tangan hampa. Tuhan mengatakan, “Janganlah orang menghadap ke hadiratKu dengan tangan hampa” (Keluaran 23:15b). Dengan kalimat itu berarti Tuhan menggugahkan kita, tidak ada sesungguhnya satu orangpun yang dalam satu tahun Tuhan tidak beri apa-apa di tangannya.

Tujuh hari itu dirayakan dengan cara yang unik. Mereka datang ke rumah Tuhan lalu membuat gubuk dengan daun-daunan. Dengan itu mereka selalu diingatkan dulu waktu keluar dari Mesir mereka tinggal di gubuk. Kedua, waktu beribadah di rumah Tuhan di Bilangan 29:12-40 kita menemukan hewan-hewan yang akan dikorbankan pada hari-hari ini memang bisa dinikmati banyak orang. Yang dikorbankan itu terutama lembu jantan, 2 ekor domba jantan, dan 14 ekor domba yang masih muda. Hari pertama, 13 ekor lembu, dsb. Hari kedua, menjadi 12 ekor, lalu hari ketiga, menjadi 11 ekor, demikian seterusnya dikurangi satu. Sampai hari ke tujuh ada total 192 ekor binatang yang dikorbankan. Maka dari situ kita bisa bayangkan perayaan-perayaan itu besar dan meriah luar biasa. Hari-hari raya itu menjadi satu rangkaian siklus yang indah, tahun baru dibuka dengan sayur yang pahit dan roti yang tidak beragi, lalu di dalam perjalanan berkat Tuhan datang satu demi satu, lalu tahun ditutup dengan thanksgiving yang besar dan meriah.

Meskipun kita tidak lagi melakukan hari-hari raya itu tetapi patutlah selain kita mengingat kebaikan Tuhan sekaligus kita ingat ada hal-hal yang harus kita bawa dan persembahkan kepada Tuhan. Dedikasi yang terindah dan terbaik sebagai persembahan yang diterima oleh Tuhan dengan sukacita adalah persembahan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus dan yang berkenan kepadaNya (Roma 12:1). Bagaimana kita boleh menjalani perjalanan hidup kita ikut Tuhan di dalam kita memberi persembahan kepadaNya, khususnya persembahan hidup kita?

Pertama, Alkitab mengatakan tiga kali setahun semua orang harus menghadap ke hadirat Tuhan, Tuhan mengingatkan mereka tidak boleh datang dengan tangan hampa.

Kedua, Tuhan memberi peringatan khusus dalam Keluaran 23:18a “Janganlah kau persembahkan darah korban sembelihan kepadaKu beserta sesuatu yang beragi…” Persembahan itu harus benar, persembahan itu harus kudus, persembahan itu adalah sesuatu yang tidak boleh ada hal ‘unrighteousness’ di dalamnya. Hari ini kita datang kepada Tuhan tidak lagi membawa kambing domba tetapi kita datang membawa hidup kita kepada Tuhan. Persembahan yang kita beri kepadaNya adalah sesuatu yang Tuhan hargai dan terima, tetapi kita tidak boleh memberi dengan sikap yang semena-mena, datang dengan hati yang benar, datang dengan segala hidup kita yang tidak dikhamirkan dengan sesuatu yang tidak benar.

Ketiga, “Janganlah lemak korban hari rayaKu bermalam sampai pagi…” (Keluaran 23:18b). Berbeda dengan jaman sekarang yang menghindari makan lemak, jaman dulu lemak dianggap bagian terbaik dari daging. Itu adalah “the best part” yang harus mereka persembahkan kepada Tuhan. Lemak yang dipersembahkan ke mezbah Tuhan harus dibakar habis sampai meleleh dan wanginya menyebar ke mana-mana. Bagian ini menuntut ketika kita mempersembahkan persembahan bagi Tuhan, persembahkanlah sesuatu yang terbaik bagiNya. Banyak orang ingin membantu orang miskin, tetapi belum tentu dia berani mengorbankan hidup melepaskan apa yang baik dari hidupnya. Banyak orang mungkin ingin memberi sesuatu bagi Tuhan, tetapi dia masih menyimpan sesuatu yang terbaik sebagai reserve bagi dirinya sendiri. Dalam bagian ini Tuhan menginginkan setiap kita yang datang memberi hidup sebagai persembahan kita, kita harus membawanya dengan tidak menyimpan yang terbaik bagi diri kita sendiri. Kita harus memiliki hati bahwa semua yang terbaik itupun datangnya dari Tuhan dan Dia berlayak menerima yang terbaik itu dari kita.

Kalimat “jangan biarkan lemak itu bermalam sampai besok” artinya jangan sampai menjadi godaan bagimu untuk datang ke situ untuk mengambilnya. Berikan semuanya untuk Tuhan. Waktu sudah bawa ke mezbah jangan ‘ngiler’ lihat lemak itu dan tergoda untuk mengambilnya.

Terakhir, firman Tuhan berkata, “Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu harus kau bawa ke dalam rumah Tuhan, Allahmu…” Buah bungaran artinya the first fruit, panen yang pertama dan terbaik harus diberikan kepada Tuhan. “…dan janganlah kau masak anak kambing dalam susu induknya…” ada dua penafsiran mengenai hal ini. Pertama, anak kambing itu tidak boleh dimasak dalam susu induknya, sebab susu adalah sumber kehidupan bagi anak kambing itu, tidak boleh menjadi tempat untuk mematikan kehidupannya. Kedua, tafsiran yang saya lebih setuju, melihat inilah praktik yang dilakukan oleh orang Kanaan, yang melakukan persembahan dengan mencampurkan daging anak kambing di dalam susu induknya. Artinya Tuhan menuntut umatNya berbakti kepadaNya jangan dengan memakai cara-cara berbakti dari orang kafir ke dalam rumah Tuhan.

Dua bagian selanjutnya firman Tuhan yang penting, di dalam perjalanan itu ada kesulitan, ada panas terik, tidak tahu musuh bisa menyerang kapan saja dan dari sisi mana saja, perjalanan sebagai musafir tidak pernah mudah dan gampang. Tetapi Tuhan berkata, “Aku mengutus malaikatKu berjalan di depanmu untuk melindungi engkau dan untuk membawamu ke tempat yang telah Kusediakan…” (Keluaran 23:20).

Ada yang mengatakan Tuhan mengutus malaikat menyertai dalam bentuk tiang api dan tiang awan, tetapi penyertaan di sini bukan mengacu kepada “nature things” karena kalimat yang selanjutnya firman Tuhan berkata, “Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab namaKu ada di dalam Dia…” (Keluaran 23:21). Tafsiran beberapa Bapa Gereja dulu mengatakan ini mengacu kepada Yosua, karena yang nanti memimpin umat Israel masuk ke tanah Kanaan adalah Yosua. Tafsiran ketiga, memang itu adalah malaikat. Malaikat dicipta Tuhan sebagai mahluk yang suci dan kudus. Malaikat itu memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang pertama, malaikat ada di sekeliling tahta Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan. Fungsi kedua malaikat adalah melayani orang-orang kudus. Kita menemukan pengalaman di dalam Kisah Rasul, pada waktu Petrus ditangkap dan dipenjara, ada malaikat yang melepaskannya. Meskipun kita tidak melihat malaikat itu dengan mata kita, tetapi melalui beberapa bagian ini biar hati kita bersyukur dan percaya di tengah perjalanan kita yang berat dan lonely ini, kita mengetahui Tuhan mengutus malaikatNya yang menyertai dan memelihara kita. Kita tidak pernah berjalan sendirian.

Tafsiran yang keempat, karena firman Tuhan mengatakan, taatlah kepadanya, berarti dia bukan sekedar malaikat melainkan itu adalah Malaikat TUHAN sebagai teofani dari Yesus Kristus, yaitu oknum kedua dari Allah Tritunggal di dalam PL. Pada waktu Yosua akan masuk ke tanah perjanjian, di dekat Yerikho dia berdiri dari kejauhan, tiba-tiba muncul di hadapannya Malaikat TUHAN. Yosua bertanya, “Siapakah engkau? Kawan atau lawan?” Maka malaikat itu menjawab, “Akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” Yosua langsung bersujud dan menyembahnya. Malaikat itu tidak menolak penyembahan Yosua, bahkan menyuruh Yosua menanggalkan kasutnya (Yosua 5:13-15). …” Puji Tuhan, Dia akan menjaga dan memelihara kita, Dia akan pimpin dan serta, jangan kita takut.

Bagian kedua, dalam Keluaran 23:29-30, Tuhan berkata, “Aku tidak akan menghalau mereka dari depanmu dalam satu tahun, supaya negeri itu jangan menjadi sepi dan segala binatang hutan jangan bertambah banyak melebihi engkau. Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian hingga engkau dapat memiliki negeri itu.”

Tuhan bilang, kalau Aku memberikan tanah itu sekaligus dalam satu tahun, tidak ada orang yang tinggal di dalam kota itu, tidak ada orang yang membangun kota itu, tidak ada yang menanam di tanah itu, segera akan penuh dengan ilalang dan pohon-pohonan, engkau sendiri tidak sanggup bisa mengelolanya.

Mengapa Tuhan tidak beri sekaligus? Sebab tangan kita sendiri memang tidak mampu dan sanggup bisa terima dan genggam sekaligus. Bukan anugerah Tuhan terlalu sedikit datang kepada kita; tetapi tangan kitalah yang terlalu kecil untuk menampungnya. Engkau mau terima sekaligus, tetap yang sanggup engkau terima hanya sebatas tanganmu, sisanya jatuh mubazir kemana-mana. Maka Tuhan memberi sedikit demi sedikit. Biar kita mengerti pelajaran rohani ini bagi hidup kita, dan biar melalui sedikit demi sedikit kita belajar bersandar kepada anugerah Tuhan.

Mari kita dengan teduh datang kepada Tuhan, menyerahkan perjalanan hidup kita ke depan dengan bersyukur, dengan percaya Dia pimpin kita dan malaikatNya menjaga dan memelihara kita. Tuhan berjanji memberikan kemenangan bagi kita, pada waktu kita berjalan, setapak demi setapak Tuhan buka jalan kita; sedikit demi sedikit kita menyaksikan kebaikan Tuhan terjadi di dalam diri kita. Semua yang Tuhan kerjakan dan lakukan selalu menjadi keindahan penyertaan yang baik bagi kita. Itulah sebabnya biar hati kita penuh dan limpah dengan syukur kepada Tuhan dan hari ini mari kita revitalise kembali hidup kita dan pelayanan kita, berjalan ikut Tuhan lebih bersungguh hati (kz).