Berperang Melawan Kesuksesan

Sun, 26 Jan 2014 00:37:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Peperangan Orang Kristen (4)
Nats: Hakim-hakim 6-8

“Kecongkakan mendahului kehancuran, tinggi hati mendahului kejatuhan…” (Amsal 16:18).

Alangkah indahnya jikalau seseorang yang mampu, yang mempunyai banyak bakat dan talenta, yang diberi begitu banyak resources dalam hidupnya, semua itu dia tidak simpan untuk dirinya sendiri, tetapi dia bersedia rela memakai dan mempergunakannya untuk menjadi berkat di dalam hidup ini. Namun betapa sedihnya kita kalau melihat seseorang yang memiliki segala sesuatu, kemampuan, keindahan, berkat yang ada tetapi dia tidak memiliki kerelaan di dalam hatinya. Tetapi terlebih indah lagi kalau kita menyaksikan hidup orang-orang yang rela dan bersedia sepenuh hati mengasihi Tuhan dan mengutamakan kerajaan Allah lebih daripada segala-galanya, meskipun dia orang yang miskin dan tidak memiliki kekuatan dan kemampuan, hidup di dalam segala keterbatasan tetapi ketika Tuhan menyertai dan memelihara orang itu, kita melihat keindahan yang amazing anugerah Tuhan menyertai orang-orang seperti itu. Maka berbahagialah engkau, jikalau di dalam keterbatasan, ketidak-mampuan, kemiskinan dan kepapaanmu, Tuhan menyatakan anugerahNya memperlengkapi engkau yang rela boleh dengan indah dipakai olehNya.

Membaca kisah hidup tokoh-tokoh agung dalam Sejarah Gereja, kita melihat contoh nyata Tuhan menggenapkan janjiNya seperti itu. Salah satunya adalah David Livingstone. Siapa sangka, anak muda yang dari keluarga yang sangat miskin dan hidup di dalam kekurangan satu hari kelak bisa duduk berhadapan dengan Ratu Victoria yang berkuasa? Saat pertama kali berkunjung ke London dia ada kesempatan mengunjungi Westminster Abbey, menyambangi kuburan dari orang-orang besar dan terkenal dari Inggris di situ, mengagumi satu demi satu tokoh-tokoh yang disemayamkan di situ, tanpa terlintas dalam pikirannya tahu pada akhirnya ternyata dia sendiri satu hari kelak menjadi salah satu dari orang terkenal yang dikubur di situ? Sejak usia sangat muda David Livingstone sudah bekerja keras di pabrik kapas, bangun jam lima pagi, bekerja empat belas jam sehari, enam hari seminggu. Di dalam kelelahan dan tidak banyak waktu tidur, dia masih mencoba belajar sendiri dengan membaca buku-buku yang ada. Ayahnya tidak sanggup menyekolahkan dia, tetapi dia tidak sedih dan tidak kecewa, dia mengumpulkan tiap sen uang yang bisa dikumpul untuk membiayai sekolahnya sendiri. Hatinya fokus, hatinya rela, dan Tuhan memakai ingredient itu untuk memperlengkapi dia dengan segala yang dia butuhkan melayani sampai akhir hidupnya sebagai misionari di Afrika.

Siapa Gideon? Dia berasal dari suku yang terkecil, dari kaum yang paling lemah dan dia sendiri adalah anak yang paling muda di dalam keluarganya (Hakim-hakim 6:15). Adalah sesuatu hal yang indah jikalau kita memulai hidup kita dengan start in humble beginning dan kita mengakhirinya dengan humble ends. Alangkah indahnya pada waktu kita mengawali segala sesuatu dan kita menyadari kita tidak punya apa-apa dan dengan rendah hati kita menjalaninya dan sampai akhir hidup kita bisa berkata semua hal yang ada padaku berasal dari Tuhan, segala hormat dan mulia bagi Tuhan semata-mata. Kalau kita mempunyai prinsip itu dan tetap memegang prinsip itu sampai akhir,

hati kita akan terus dijaga tidak terjatuh untuk merebut kemuliaan bagi diri sendiri. Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antaramu, hendaklah dia menjadi pelayanmu; barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu…” (Matius 20:26-27). Ini adalah prinsip-prinsip di dalam kerajaan Allah. Dunia ini berperang, siapa yang terhebat, siapa yang terbesar, dia memiliki semuanya dengan tangan besi. Tetapi tidaklah demikian dengan anak-anak Tuhan. Kadang-kadang kita bingung mungkinkah nelayan yang sederhana dan tidak berpendidikan bisa dipakai Tuhan? Mungkinkah anak-anak orang miskin bisa dipakai Tuhan? Mungkinkah gereja yang kecil dan sederhana bisa dipakai Tuhan? Mungkinkah Kekristenan terus berjalan sampai sepuluh ribu tahun lagi dari sekarang, jikalau kita melihat serangan dan tantangan yang dilakukan oleh dunia ini begitu gencar kepada kita? Namun Sejarah Gereja memberitahukan kepada kita, semua yang rela dipakai oleh Tuhan dan Tuhan mengerjakan pekerjaan pelayanan itu dengan cara seperti itu tidak akan pernah bisa dikalahkan dan dihancurkan. Kerelaan hati yang disertai dengan kerendahan hati, itu dua aspek yang harus ada dalam hidup setiap kita yang melayani. Senantiasa menyadari posisi yang lemah itu bukanlah posisi yang terendah di hadapan Tuhan. Mempunyai kerelaan hati menjadi alat Tuhan mengerjakan apa yang Tuhan inginkan dan beri kepada kita.

Gideon setelah menerima panggilan Tuhan menyatakan satu respons yang begitu indah. Meskipun pada awalnya Gideon menyatakan betapa kecil dan tidak sanggupnya dia menjadi seorang pemimpin, Tuhan meyakinkan bahwa Dda satia akan menyertai dan memampukan Gideon, maka hari itu Gideon mencari perkenanan Tuhan dan satu hal yang paling penting dia lakukan saat itu yakni dia membangun sebuah mezbah bagi Tuhan (Hakim-hakim 6:24). Saya percaya mezbah yang dibangun Gideon itu adalah sebuah mezbah yang sederhana, mezbah yang dibuat dari batu-batu yang ada. Namun baginya yang terpenting hari itu bukan bentuknya, bukan mewahnya mezbah itu, tetapi hari itu dia sungguh-sungguh mencari Tuhan dan memperkenankan Tuhan di dalam hidupnya. Itulah Gideon di awal hidupnya. Di balik hal yang kita rasa mustahil dan tidak mungkin terjadi, Tuhan memberikan kemungkinan itu di dalam anugerahNya. Di balik setiap kesuksesan kita harus satu kesadaran betapa kita tidak layak dan tidak merasa itu adalah disebabkan oleh kita.

Namun kisah Gideon ini sekaligus menjadi satu warning karena di akhirnya memperlihatkan apa yang dicapai oleh Gideon, kesuksesan dan hal-hal yang mustahil itu berbahaya sekali. Tuhan ingin membentuk dan membuat Gideon dan seluruh bangsa Israel menyadari bahwa semua kemenangan yang akan mereka raih jangan sampai membuat mereka memegahkan diri dan menganggap pencapaian itu karena usaha mereka semata-mata. Maka Tuhan memangkas tentara Gideon, mulai dari 32.000 orang dipangkas menjadi 10.000 orang, lalu dipangkas lagi menjadi tersisa 300 orang saja. Dengan 300 orang itu, di tengah ketidak-mungkinan, di tengah keterbatasan dan kesederhanaan, Tuhan memakai Gideon bisa menaklukkan dan mengalahkan bangsa Midian. Alkitab menutup catatan tentang hakim-hakim yang lain dengan kalimat, “maka amanlah negeri itu selama beberapa tahun lamanya…” tetapi akhir hidup Gideon tidak ditulis seperti itu melainkan masih berlanjut dalam dua pasal lagi karena ada sesuatu yang fatal terjadi di akhir pemerintahan Gideon. Gideon punya 70 putera dari beberapa isteri dan gundik-gundik, dan Abimelekh adalah anak dari salah satu gundik Gideon (Hakim-hakim 8:30). Abimelekh mengangkat dirinya menjadi raja tidak ada indikasi itu karena Tuhan yang pilih dan panggil, dan setelah dia menjadi raja, dia bunuh semua saudara laki-lakinya.

Apa yang terjadi? Inilah warning Tuhan: sanggupkah kita berperang melawan kesuksesan kita? Dapatkah kita berperang mengalahkan kesuksesan kita di dalam kerendahan hati dan menyadari semua yang kita dapat itu adalah anugerah dan pemberian Tuhan? Ada peperangan dimana kita berperang menghadapi kesulitan; ada peperangan dimana kita berperang menghadapi ancaman dari luar; ada peperangan dimana kita menghadapi hal-hal yang melumpuhkan kita, kegagalan kita, kesedihan kita; tetapi ada semacam peperangan yang lain, peperangan yang tidak mudah dikalahkan karena kita cenderung mudah takabur dan lupa diri, sehingga lengah dan kalah berperang atas kesuksesan diri. Terlalu banyak orang justru pada waktu dia sudah sukses, sudah menang, dia menjadi lengah, kemudian jatuh dan gagal.

Hari ini kita melihat Gideon hanya dengan 300 orang bisa menang, kita mengakui itu adalah suatu kemenangan yang luar biasa. Tetapi tujuan Tuhan hanya mau memakai 300 orang tidak lain dan tidak bukan supaya Gideon yang takut itu, yang tadinya mengatakan saya tidak punya apa-apa, setelah Tuhan pimpin dia sukses, dia jaya, dia mampu, dia bisa semua ini, apakah dia masih bisa mengakui kepada Tuhan ini semua hanya karena Engkau? Tetapi sayang Gideon tidak sampai kepada titik itu. Sebaliknya ketika semua tidak mampu, saya tetap sanggup dan bisa. Kita bisa melihat itu dalam Hakim-hakim 8:1-3, ada satu peristiwa dimana suku Efraim yang besar itu mengirim beberapa utusan kepada Gideon menyatakan kemarahan mereka kenapa Gideon tidak melibatkan mereka sejak awal berperang melawan orang Midian. Jawaban Gideon seolah begitu merendahkan diri sehingga reda amarah orang Efraim terhadapnya. Gideon mengatakan, “Toh sukumu besar, sukuku kecil… toh kedua raja itu yang bunuh kalian, berarti hasil terakhir kalian sudah capai…” Situasinya sebenarnya, Gideon pergi berperang dengan pasukannya mengejar dua raja Midian tidak ada yang membantu dia kecuali tentara yang ada padanya. Kalimat dari suku Efraim intinya sebenarnya menunjukkan mereka mau mendapatkan kemuliaan dari peperangan itu sehingga di akhir dari pengejaran itu mereka marah kenapa Gideon tidak melibatkan mereka di situ. Padahal tidak mungkin mereka mau ikut Gideon dan diperintah oleh Gideon yang dari suku minoritas. Tetapi Gideon waktu mendengarkan kritikan mereka, Gideon memakai taktik diplomasi untuk meredakan hati mereka karena jumlah suku Efraim jauh lebih besar dia tidak akan sanggup melawannya. Dan kisah selanjutnya memperlihatkan memang sesungguhnya Gideon tidak betul-betul rendah hati. Hakim-hakim 8:4-9 menceritakan Gideon mengejar dua raja Midian yang lain dan tiba di dua kota orang Israel, saudaranya sendiri. Di Sukot, Gideon meminta penduduk membantu dengna supply makanan bagi tentaranya, tetapi penduduk kota Sukot menolak permintaan itu. Demikian juga di Pnuel menolak permintaan Gideon. Kepada suku Efraim Gideon berdiplomasi karena dia tahu jumlah suku ini besar luar biasa, tetapi berbeda reaksi Gideon dengan penduduk Sukot dan Pnuel, Gideon menyatakan murka dan kemarahannya kepada mereka. Gideon mengancam kalau dia berhasil mengejar raja-raja Midian, sekembalinya dia akan menghajar penduduk kota Sukot dan Pnuel itu.

Dari situ kita bisa melihat Gideon berhasil dalam peperangan melawan Midian, namun Gideon tidak sanggup mengalahkan kemenangan dan kesuksesannya dengan kerendahan hati. Amsal mengingatkan kita, “Kecongkakan mendahului kehancuran, tinggi hati mendahului kejatuhan…” (Amsal 16:18).

Hakim-hakim 8:4 mencatat Gideon dan pasukannya sudah sangat lelah, cape dan burn out. Mereka sudah secara fisik tidak kuat lagi, tetapi masih ditambah dengan sikap orang-orang dari bangsanya sendiri tidak mendukung dan membantu mereka padahal mereka nantinya yang akan menikmati keamanan dan kesejahteraan dari Gideon. Maka meledaklah Gideon dengan kemarahan yang seperti itu.

Kita bukan superman. Pada waktu kita berjuang hidup menjadi anak Tuhan, mengasihi, melayani Tuhan, namun di situ kita tidak mendapatkan hal yang baik bahkan hidup menjadi makin sulit, kita bisa kehilangan fokus. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan jemaat di Galatia, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik…” (Galatia 6:9). Letih, jemu dan burn out berarti seseorang sudah sampai kepada titik jenuh dimana dia berpikir semua hal yang dia kerjakan dengan sekuat tenaga ternyata tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Setiap kita bisa sampai kepada kondisi seperti itu. Hidup kerohanian kita juga bisa seperti itu. Banyak hamba-hamba Tuhan mengalami burn out terjadi dalam pelayanan mereka. Burn out akan membuat kita menjadi apatis, tidak mau mengerjakan apa-apa, membuat kita confused, kenapa jadi begini? Saya sudah setengah mati berjuang untuk orang Israel tetapi mereka tidak menyatakan dukungan dan simpati? Patah semangat bisa terjadi melihat semua cuma jadi penonton dan tidak mau ikut berbagian. Motivasi menjadi berkurang dan yang paling berbahaya adalah fokusnya di dalam peperangan itu mulai melenceng arahnya. Burn out terjadi dengan kaitannya merebut kemuliaan Tuhan di dalam hidup Elia. Elia juga mengeluarkan kalimat yang sama, “Aku sudah bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan dan hanya tinggal aku sendiri yang tinggal dan sekarang mereka mau membunuh aku…” Kita juga melihat hal itu dalam hidup Musa. Mazmur mengatakan, “Mereka memahitkan hatinya sehingga Musa bersalah…” Kita juga melihat banyak contoh dari hamba-hamba Tuhan seperti itu.

Kita perlu berhati-hati dengan aspek burn out ini. Mungkin ada orang Kristen yang berusaha begitu keras, kita menjadi cape dan kehilangan tujuan di dalam pekerjaan. Kita menjadi iri melihat hidup orang lain lebih nyaman sementara kita melihat diri kita lebih susah, lalu kita menjadi tergoda untuk mencari jalan pintas. Bagian ini penting kita lihat baik-baik. Selain marah karena tidak ada respek dan kehormatan dia terima, kondisi burn out ini menjadi campuran cocktail yang sangat mematikan.

Paulus dalam 2 Korintus 4:1-2 mengatakan, “Oleh kemurahan Tuhan kami menerima pelayanan ini, sebab itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak semua perbuatan tersembunyi yang memalukan…” Perhatikan konstruksinya, Paulus mengatakan, “We never lose heart but…” mempunyai maksud kalau kita sampai lose heart maka kita bisa saja melakukan hal-hal ini, tetapi kalau kita tahu bahwa pelayanan itu adalah anugerah Tuhan, kita tidak akan pernah menjadi kecewa dan tawar hati dan tidak akan melakukan hal-hal ini. Umumnya waktu seseorang itu sampai lose heart, dia tidak lagi melihat pelayanan sebagai kemurahan Tuhan sehingga dia bisa dan mulai condong kepada hal-hal yang negatif. Dia mungkin tidak secara aktif melakukan apa yang tidak benar, tetapi dia menyetujui dengan tutup mata ha-hal yang shameful terjadi. Paulus mengingatkan kita hidup ikut Tuhan, kita menaruh mindset ini dalam hidup kita.

Fokus dari Gideon seharusnya menyelamatkan bangsa Israel, menolong dan melindungi mereka. Tetapi fokus itu sekarang sudah bergeser sehingga tragedi ini terjadi. Dua kota yang sebangsa sendiri tidak mau membantu pasti ada alasannya. Lagi pula sejak awal Tuhan sudah mengatakan kepada Gideon bahwa maksud dan tujuan Tuhan memakai Gideon dengan jumlah tentara yang begitu kecil dan sedikit untuk membuktikan bahwa Tuhan beserta dengan mereka. Dua kota itu mungkin sudah terlalu lama dijajah, mereka terlalu takut kalau ketahuan membantu Gideon mereka akan mendapat balasan yang berat dari orang Midian. Justru di situ seharusnya Gideon memberikan kekuatan kepada mereka, meyakinkan mereka bahwa dia akan melepaskan mereka dari penjajahan itu. Sebaliknya Gideon membunuh rakyat Israel sendiri.

Kedua, kita melihat ada motif tersembunyi dari Gideon terus mengejar raja-raja Midian Zebah dan Salmuna itu sampai tertangkap. Hakim-hakim 8:18-21 memperlihatkan motif utama Gideon bukan untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Midian tetapi sebagai tindakan balas dendam atas perbuatan Zebah dan Salmuna membunuh kakak-kakaknya. Akal sehat Gideon sudah hilang, dan dia menciptakan trauma yang besar kepada anaknya Yeter yang masih muda belia, yang dipaksanya untuk membunuh kedua raja itu.

Gideon tidak fokus lagi, dia mengejar dengan penuh balas dendam, dan pada akhir hidupnya betul-betul sudah melenceng jauh dari Tuhan. Alkitab memberi catatan akhir hidupnya seperti ini, rakyat Israel meminta Gideon menjadi raja, namun meskipun Gideon menolak permintaan mereka dan berkata, “…Tuhan yang memerintah kamu” (Hakim-hakim 8:23), memang secara pengakuan dia tidak mau menjadi raja namun kelakuannya dia mau dijadikan raja. Kedua, “Kemudian Gideon membuat efod dan menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu; inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya” (Hakim-hakim 8:27).

Rev. Charles Spurgeon mengingatkan kita ada gap besar antara kita paham akan siapa Tuhan tetapi kelakuan kita tidak mencerminkan hal itu. Awal hidupnya sederhana dan simple. Dia cinta Tuhan, dia dipakai Tuhan, dia mendedikasi hidup menyembah Tuhan dengan mendirikan mezbah bagi Tuhan. Mezbah yang sederhana, yang tetap masih berdiri tegak di Ofra. Tetapi sekarang mezbah itu hanya menjadi memori sebab kalah indah dan kalah megah dengan efod yang dibuat dari emas. Efod yang berkilauan dengan tempat penyembahan yang besar, mewah, megah. Di awal, dia membuat mezbah untuk menghormati Tuhan; di akhir, dia membuat mezbah untuk menghormati dirinya sendiri. Di tengah peperangan terhadap kesuksesannya, Gideon kalah total.

Biar firman Tuhan ini menuntun engkau dan saya untuk mawas diri. Anak-anak muda di tengah perjuangan mengikut Tuhan, jangan kita menjadi tawar hati dan kecewa saat engkau menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan. Jangan kehilangan fokus dan terpedaya melihat tawaran dunia ini, karena tawaran Tuhan dalam kekekalan jauh lebih indah dan lebih mulia dan lebih agung. Tetap ‘stay focus, do the right thing’, tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang shameful dan tidak cari jalan pintas untuk melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kalau Tuhan memberi kemampuan dan kekuatan kepada kita, biar kita setia dan rela dan selalu mengingat apa yang ada di dalam kita semua adalah anugerah dari Tuhan. Pada waktu kita mampu dan bisa, kita selalu bilang itu semua dari Tuhan. Kita senantiasa dijaga oleh Tuhan. Menang terhadap kesulitan di dalam peperangan, walaupun susah dan berat bisa kita lewati dan mengalahkannya. Menang terhadap setiap kekayaan, kesuksesan tidak gampang dan tidak mudah sebab di balik kemegahan dan kesuksesan kita tergoda untuk dihargai dan dihormati. Biar firman Tuhan sekali lagi mengarahkan kita tahun ini di dalam anugerah Tuhan.(kz)

 

Click here for audio