Transformation, Thinking about Change

Sun, 29 Dec 2013 04:15:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Jusuf Tjitra MDiv.
Tema: Transformation, Thinking about Change
Nats: Roma 12:1-2

“Karena itu demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”(Roma 12:1-2).

Dalam dimensi ruang dan waktu kita hidup terus mengalami perubahan, demikian saat kita melangkah memasuki tahun yang baru kita tidak tahu apa yang akan terjadi tetapi kita tahu akan ada perubahan-perubahan. Selain itu kita tahu bahwa anugerah Tuhan akan selalu cukup menghantar kita menghadapi hari-hari ke depan.

Roma 12:2 Paulus berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh perubahan budimu…” Bagi kita yang sudah usiawan, kita tetap mempunyai spirit untuk berubah, bertumbuh maju sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna sehingga kita bukan saja menjadi anak-anak Tuhan yang dari minggu ke minggu belajar firman Tuhan tetapi kita sungguh-sungguh menjadi pelaku firman Tuhan. Itu semangat jiwa yang harus selalu ada di dalam diri setiap orang Kristen berapapun usianya.

Saya teringat waktu pergantian perdana mentri Australia John Howard tahun 2007 mengatakan, “If you change the Government, you change the nation.” Kevin Rudd mengatakan, “It is time for change.” Kita melihat apa yang terjadi, perubahan luar biasa. Apa yang mereka katakan tergenapi. Australia sedang berubah. Pada umumnya semua kelihatan tenang-tenang saja, tetapi apa yang sedang berubah? Jelas hubungan politik luar negeri berubah, pertahanan di Asia Pacific berubah, Darwin menjadi pangkalan untuk menjaga keamanan Asia Pacific. Ada ketegangan yang terus terjadi dari waktu ke waktu. Yang lain, immigrant, terus mengalami perubahan. Orang dari Asia berdatangan terus. Selain itu terus terjadi perubahan aturan pernikahan, terus ini bergolak terus. Harga barang naik terus. Karena kurs dollar, eksport import berpengaruh. Dalam dunia global juga terjadi perubahan. Dimana-mana berubah. Cuaca berubah tidak berketentuan.

Gereja sekarang mempunyai satu generasi yang worldview-nya berbeda. Kita mengabarkan Injil yang 2000 tahun yang lalu, kita akan melihat perubahannya dimana. Bagaimana pertahanan dan ketahanan iman kita, bagaimana kita mau bersaksi kepada dunia yang berbeda dengan dunia tanpa dirubah oleh dunia. Jikalau kita sendiri menjadi serupa dengan dunia ini, bagaimana kita bisa merubah dunia, bukankah sebaliknya kita akan terhanyut bukan membawa mereka kepada yang benar?

Dahulu yang dianggap yang semestinya, tetapi tidaklah demikian sekarang ini. Sebagai orang generasi lalu, saya bersyukur karena tidak semua angkatan saya bisa memasuki abad 21 ini. Yang lahir di decade 1940-an satu persatu sudah meninggal dunia. Kalau dulu waktu holiday, anak-anak pulang kampung, sekarang orang tua yang menengok anak-anak. Kalau dulu anak hormat orang tua, sekarang saya banyak melihat orang tua sangat diatur oleh anak.

Sifat perubahan itu sangat dinamis, sangat progresif baik secara kuantitatif maupun kualitatif sangat challenging. Tergantung perubahan itu kemana, orang bisa berubah menjadi baik, orang bisa berubah menjadi jahat. Aneh sekali, bukan? Dulu teman baik sekali tetapi sekarang oposisi dengan kita.

Paulus dalam 2 Korintus 5:17 mengatakan, “Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru…” Ini harus selalu kita sadari, kalau kita sungguh-sungguh adalah ciptaan baru maka kita baru bisa lebih dekat kepada Tuhan dan memahami apa yang Tuhan mau. Kita hidup di dalam rancangan Tuhan dan di dalam kebenaran Tuhan. Datang setiap minggu ke gereja tidak menjamin kita adalah seorang ciptaan baru. Permasalahan kita itu apa? Kita di satu sisi orang Kristen yang sejati, ‘in Christ’ tetapi jangan lupa kita masih berada di dalam dunia ini. Ketika kita menjadi anak Tuhan kita tidak langsung naik ke surga, kita masih tinggal di bumi. Di sinilah masalah kita. Perubahan kita itu akan menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung daripada kita ‘mempengaruhi’ atau ‘dipengaruhi’? Kalau kita sebagai ciptaan baru kita betul-betul memiliki hidup yang baru kita bisa berpengaruh kepada dunia sekitar kita tetapi sebaliknya kalau kita hanya namanya saja orang Kristen kita belum ada pembaharuan di dalam akal budi kita, maka kitalah yang akan dipengaruhi oleh dunia. Maka arah perubahan itu tergantung kepada influence. Kita tidak bisa mencegah perubahan tetapi kita bisa mengarahkan perubahan itu kemana tergantung influence itu.

Dari Sejarah Gereja kita bisa melihat setelah rasul Paulus menerima mandat dari Antiokhia untuk menjadi seorang misionari yang keluar mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain, maka dia dipimpin oleh Roh Kudus pertama-tama pergi ke daerah Turki di Asia Kecil, menanamkan basis penginjilan kepada tujuh gereja yang ditulis di dalam kitab Wahyu. Setelah itu dia berencana pergi ke utara, tetapi Roh Kudus memimpin dia pergi ke arah barat, ke Makedonia, di Eropa. Mengapa? Tuhan tentu punya alasan, kita hanya bisa mereka-reka. Karena di sebelah timur agama-agama kuno begitu kuat berakar, seperti agama Hindu dan Budha. Di sebelah barat ada suku-suku bangsa raksasa yang masih biadab dalam peradabannya, perlu di-Injili lebih dahulu, tapi kita hanya mereka-reka saja. Dari film atau dokumentari kita bisa melihat suku bangsa yang barbar, kasar, perampok dan penyamun, tetapi heran justru Injil masuk ke situ. Bangsa-bangsa yang paling tidak beradab justru di-Injili lebih dahulu, sehingga seluruh Eropa kurang lebih 1000 tahun kemudian menjadi Kristen. Dari budaya yang begitu biadab dan rendah, Kekristenan merubah mereka menjadi bangsa-bangsa yang berkebudayaan tinggi. Peradaban Barat mengapa bisa begitu maju di dalam karakter dan kepribadian mereka? Karena mereka dibentuk punya basic etika dan filsafat dari Kekristenan. Tetapi hari ini apakah mereka masih bertahan? Tidak. Mereka sedang berada di dalam satu keruntuhan yang luar biasa karena mereka meninggalkan Alkitab.

Pada tahun ini saya berkesempatan jalan-jalan ke Eropa, di Jerman melihat gereja-gereja Protestan yang dibangun di awal Reformasi begitu megah. Tetapi sedih, kalau sdr coba tanya dari 10 orang asli Jerman apa arti Natal, berapa yang masih kenal Yesus Kristus? Yang mereka tahu Natal itu Sinterklas, boxing day sale. Inggris juga demikian, begitu banyak gedung gereja, biara dan monastery yang dulunya dipakai untuk menekuni isi Alkitab begitu dalam, akhirnya mereka meninggalkan firman Tuhan. Kebanyakan adalah Kristen KTP. Maka peradaban Eropa hari ini sedang menuju kepada keruntuhan, segala macam dosa mulai muncul. Termasuk Amerika demikian juga. Secara teknologi maju luar biasa.

Kurang lebih 10 abad, dari abad 6-15AD mereka mempunyai konsep worldview bahwa yang paling tinggi itu adalah Allah, kemudian Gereja lebih tinggi daripada raja dan bangsawan, karena dalam sistem kerajaan, raja ditahbiskan oleh Gereja, kemudian raja memimpin rakyat ke bawah. Inilah struktur selama abad pertengahan. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Perubahan, ketika masa kegelapan dimana Gereja sudah kehilangan wibawa. Mereka masih ke gereja tetapi mereka tidak lagi menjalankan struktur tadi. Selama 3 abad (15-17AD) apa yang terjadi, waktu Gereja diabaikan perubahan yang besar terjadi. Maka 3 abad kemudian terjadi satu pencerahan Enlightenment, perubahan terjadi lagi dimana raja-raja digulingkan, terjadi pergolakan dimana-mana termasuk Revolusi Perancis, semua bangsawan dan raja-raja digulingkan. Rakyat diatur secara demokrasi, kepemimpinan di tangan rakyat.

Kemudian kita masuk kepada masa Postmodernism, abad 20-21 ini. Apa yang hilang? Allah tidak ada lagi. Kita yang percaya kepada Allah, kita berada di dalam abad yang tidak percaya adanya Allah. Kita jalan kemana-mana, tidak ada yang percaya Allah ada. Kita menjadi minoritas, kita dianggap orang-orang yang ketinggalan jaman. Bagaimana kita mau bersaksi dan mempengaruhi kalau sendiri belum terjadi pembaharuan akal budi kita, tidak akan kita bisa mempengaruhi dunia, malah kita yang dipengaruhi oleh dunia. Hanya kalau kita membawa pikiran sekuler orang dunia, kita bisa, tetapi Gereja mau masuk ke dunia, itu sulit. Manusia sekarang menjadi center, menjadi otoritas yang tertinggi, inilah jaman kita. Dan jaman ini bagaimana kita melihat diri kita sebagai orang Kristen? Kita mungkin masih bertahan, kita punya worldview yang lain. Kita tahu  dunia ini diciptakan oleh Allah, yang empunya langit dan bumi ini. Ia yang mengatur segala-galanya yang ada, dari kekekalan sampai kekekalan. Begitu berbeda dengan worldview dari Postmodernism yang mana manusia yang mengatur semua, bukan? Kita tidak demikian. Kita tunduk kepada kedaulatan Allah, Allah yang mengatur kita. Bagaimana pertahanan dan ketahanan kita? Sekali lagi, kalau pada diri kita tidak terjadi pembaruan akal budi dan kita seturut dan serupa dengan dunia, kita tidak akan bisa mempengaruhi dunia. Sebaliknya, apa yang terjadi kalau pola dunia masuk ke dalam gereja, maka selalu terjadi pergolakan di dalamnya. Dimana-mana gereja akan terjadi pergolakan karena konsep filosofi dunia masuk ke dalam gereja. Itulah yang terjadi jikalau gereja tidak memiliki ketahanan dan pertahanan, tidak mampu membendung pengaruh dari luar, mereka masuk ke dalam gereja. Inilah yang perlu kita refleksi hari ini, refleksi kepada diri kita sendiri.

Saya hanya mengangkat beberapa hal yang ada pada Postmodernism secara sepintas saja. Saya kaget kalau kita ke perpustakaan, buku-buku textbook masih memuat teori Evolusi. Anak-anak tidak diajarkan bahwa manusia itu ciptaan Allah, sedangkan kita percaya Tuhan itu yang menciptakan kita. Keberadaan kita itu bukan kebetulan, tetapi semua ada di dalam rancangan God, the Creator Sang Pencipta. Pertemuan antara sel telur dan sperma itupun bukan satu hal yang kebetulan. Semua berada di dalam rancangan Tuhan yang luar biasa.

Saya banyak mempelajari Biologi, saya sangat kagum waktu melihat dengan mata kepala sendiri melihat dari mikroskop apa yang terjadi di dalam dunia mikrokosmos. Di luar dari yang kita bisa lihat di dalam kosmos ini ada dua dunia yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang ini, yaitu dunia mikrokosmos dan makrokosmos. Waktu kita ke planetarium, melihat dengan bantuan teleskop teropong bintang barulah kita bisa melihat planet dan bintang-bintang di angkasa luar yang luar biasa. Waktu kita melihat dengan bantuan mikroskop electron, apa saja panjang gelombang cahaya yang bisa dilihat oleh mata, virus yang ada di dalam sel hanya bisa dilihat oleh gelombang pendek, namun mata kita tidak mampu melihat pantulan gelombang pendek sehingga perlu alat yang merubahnya menjadi gelombang panjang. Semakin canggih kemajuan teknologi membuat kita semakin kagum akan karya Tuhan yang luar biasa. Semua yang ada tidak terjadi secara kebetulan. Kita diciptakan di dalam Yesus Kristus (Efesus 2:10) kita diciptakan untuk kekekalan, hidup kita tidak akan berakhir seperti apa yang dipercaya oleh peradaban agama dunia. Hidup manusia mereka percaya seperti sebatang lilin yang waktu apinya padam maka hidup itu lenyap. Kita perlu sendiri memahami bahwa hidup kita diciptakan untuk kekekalan. Semua itu perlu kita gali dari firman Tuhan, jauh lebih dalam kita pahami barulah ketahanan dan pertahanan iman kita menjadi kuat. Kalau kita hanya ikut-ikutan jadi orang Kristen betapa gampang kita terhanyut.

Kita menghadapi dunia dimana 2/3 ateis, beragama tapi tidak ber-Tuhan. Membingungkan, bagaimana bisa beragama tetapi tidak ber-Tuhan? Agama tidak membuat orang itu memiliki hubungan dengan Tuhan. Mereka menyembah kepada ideologi akan Allah, menyembah ciptaan Allah, terutama mereka menyembah arwah atau roh-roh, mereka memegang filosofi yang tidak percaya akan Allah.

Saya sendiri latar belakang ateis sehingga saya sendiri tahu betapa menderitanya jiwa seorang ateis, tetapi tidak ada seorang pendeta yang datang melayani. Waktu saya muda, realitas bagi saya adalah hal-hal yang eksakta, apa yang tidak bisa dilihat oleh mata itu adalah abstrak. Orang yang ateis seperti ini bagaimana bisa percaya kepada Yesus kalau bukan karena kemurahan Tuhan?

Kita sekarang ini berada di dalam satu dunia yang individualistik, yang hanya mengasihi diri sendiri. Tetapi Yesus mengajar kita harus mengasihi sesama manusia. Filosofinya terbalik semua. Kita di dalam dunia diajar mengasihi diri sendiri tetapi di dalam Tuhan kita diajar untuk mengasihi orang lain. Bisakah? Kalau tidak, kitalah yang dipengaruhi dunia, menjadi orang Kristen yang hanya mengasihi diri sendiri. Tidak gampang untuk bisa keluar dari diri kita dan memperhatikan orang lain, karena hanya berpikir akulah yang the best, aku ini yang paling penting dan paling utama. Tidak ada yang lebih selain aku. Sekarang kita dipanggil untuk menyangkal diri, si aku yang lama ini harus digeser. Itu semua bukan hanya pengertian secara otak tetapi betul-betul harus kita hayati, baru kita bisa berubah. Kalau tidak, engkau dan saya hanya punya teori saja. Kalau saya punya uang $1000, bukankah baik saya pergi berlibur ke Tokyo daripada memberikannya untuk memberi makan orang Papua yang miskin dan kelaparan? Tidak ‘worth it’ di dalam value yang berbeda. Diri sendiri menjadi pusat. Di Indonesia itu lebih lagi. Dulu orang Indonesia lebih ramah dan lebih peduli kepada tetangga, sekarang tidak lagi. Macet terjadi karena semua mau maju pada saat bersamaan, akhirnya semua terkancing di situ. Habis waktu di situ, hanya karena dari individualist menjadi egois yang komunal.

Dunia sekarang adalah dunia yang liberal, menyangkut dengan moralitas yang bebas menjadi liar. Semua orang mau bebas, gendong istri orang, mau sama mau. Pacaran, laki sama laki, tidak ada masalah. Dunia yang membingungkan. Bagaimana kita bisa bersaksi di dalam dunia yang seperti ini? Biar Tuhan memberikan kemurahan dan pengasihan, supaya kita betul-betul tahu akan kehendakNya, apa yang berkenan kepada Tuhan dan yang baik dan tidak baik dari pandangan Tuhan. Dengan pertolongan Roh Kudus akan menolong kita mengerti saat kita membaca Alkitab, bukan dengan pengenalan sendiri. Roh Kudus akan membantu kita dan memimpin hati kita. Kadang-kadang kita yang tidak mau mendengar.

Dunia kita adalah dunia yang hedonism. Katanya tahun ini saat Natal orang Sydney dan Melbourne rata-rata menghabiskan $500 per orang untuk berbelanja. Apa yang dibelanjakan? Bukankah semua sudah ada? Tetapi entah kalau uang belum dibelanjakan, rasanya kurang enak. Beli yang murah tapi bukan beli yang butuh. Dulu waktu baru datang kita ambil barang yang dibuang orang, tetapi sekarang kita ikut-ikutan buang barang.

Tuhan mau kita menjadi seorang penatalayan, seorang juru kunci, atau seorang manager keuangan bukan untuk keep dan mencari sebanyak-banyaknya buat diri sendiri. Kita semua tahu uang itu bukan segala-galanya. Apa yang dapat dibeli dengan uang? Kita bisa beli tempat tidur tetapi tidak tentu itu membuatmu tidur nyenyak; kita bisa beli ijazah tetapi tidak bisa membuatmu lebih bijaksana; kita bisa beli makanan yang enak tetapi tidak menjadikanmu punya selera makan; kita bisa beli perhiasan tetapi bukan kecantikan hati; kita bisa beli rumah tetapi bukan keluarga; kita bisa beli obat tetapi bukan kesehatan; kita bisa beli entertainment tetapi bukan kebahagiaan; kita bisa pergi liburan tetapi tidak tentu membawa sukacita; pria bisa membeli perempuan tetapi tidak bisa membeli kasih, dsb. Sdr bisa membuat daftar yang panjang untuk membuktikan uang itu bukan segala-galanya. Itulah worldview dan value orang Kristen.

Yang terakhir, dunia kita adalah dunia sekularisme. Konsep pemikiran sekularisme itu seperti apa? Postmodernism meniadakan semua value tradisional, hanya bicara profit dan loss; sedangkan orang Kristen itu bicara benar atau salah. Dunia sekuler bilang kita harus mandiri, sedangkan orang Kristen diajar bersandar kepada Tuhan. Dunia sekuler mengajar untuk merebut, sedangkan orang Kristen diajar untuk mengalah. Orang dunia bicara tentang balas dendam, sedangkan orang Kristen bicara soal forgiveness. Orang dunia bicara tentang hal-hal dunia, sedangkan orang Kristen memikirkan hal-hal surgawi. Dunia suka ikut-ikutan, kita bicara soal principal. Dunia mengajarkan persaingan, kita mengajarkan perdamaian. Dunia mengajarkan bagaimana mendapatkan sesuatu, kita diajar  oleh Yesus bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima. Betapa terbaliknya ajaran Kristen dengan semua konsep ajaran sekularisme.

Kita hidup di dalam abad dimana semua terbalik dengan pemahaman kitab suci. Apakah kita siap diubah oleh Tuhan? Seperti rasul Paulus mengatakan, “Apa yang saya ingin lakukan, tidak saya lakukan; tetapi apa yang aku benci, justru itu yang aku lakukan.” Waktu kita dirubah oleh Tuhan, kita bertumbuh semakin serupa dengan gambar Anak Allah, Tuhan Yesus Kristus. Biarlah memasuki tahun yang baru konsep kita terus diubahkan oleh firman Tuhan. Kita punya thinking berdasarkan firman Tuhan; kita punya value dari firman Tuhan; kita punya moralitas berdasarkan firman Tuhan; etika dan konsep teologis yang berasal dari firman Tuhan. Dan semua itu kita implementasikan dan kita hidupkan di dalam realita hidup kita berteman, dalam studi, dalam keluarga. Semua itu hanya terjadi saat kita menjalankan firman Tuhan. (kz)