Melewati Lembah Bayang-bayang Maut

Sun, 15 Dec 2013 09:29:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri “Mengalami Allah dan PenyertaanNya” (3)
Tema: Melewati Lembah Bayang-bayang Maut
Nats: Mazmur 23

Bagaimana kita bisa menggembalakan anak-anak kita di rumah jikalau kita sendiri tidak pernah mengalami penggembalaan Tuhan di dalam hidup kita? Bagaimana seorang hamba Tuhan bisa menggembalakan jemaatnya jikalau dia sendiri tidak pernah sungguh-sungguh mengalami penggembalaan Tuhan di dalam hidupnya? Bagaimana kita bisa memahami arti daripada besarnya cinta kasih Tuhan sebelum kita memahami apa itu gembala dan domba yang digembalakan? Mazmur 23 adalah suatu lukisan yang sangat dalam dan begitu intim adanya, Tuhan adalah Gembalaku. Namun terkadang pengertian itu hanya abstrak sekali di dalam hidup anak-anak Tuhan, Dia sungguh hadir, dan pada waktu Dia hadir, Dia hadir seperti apakah? Di sinilah Mazmur 23 menyatakan Allah hadir sebagai Gembala dan kita adalah dombaNya. Itu adalah lukisan pemeliharaan Tuhan yang boleh kita katakan ‘full of grace and full of love’ itu secara satu arah, dari Tuhan kepada kita.

Sampai kapan pun domba yang digembalakan adalah domba yang lemah, yang gampang sekali tersesat, dia tidak punya kekuatan untuk survive menghadapi bahaya dari serangan musuh yang datang jikalau dibiarkan tersendiri. Selalu ada kecenderungan domba itu lari dari perlindungan gembalanya, memperlihatkan betapa sungguh kita perlu penyertaan Gembala kita selalu. Domba tidak punya alat bela diri untuk pertahanan melindungi diri dari serangan musuh. Berbeda dengan kambing dan keledai yang mempunyai senjata dan cara untuk membela diri, domba tidak memiliki hal itu. Maka gembala akan menjaga domba-dombanya tanpa lengah, dengan jerih payah menjaganya dari ancaman bahaya dan serangan musuh. Gembala akan berjerih lelah tanpa mengharapkan adanya timbal-balik dari domba-dombanya. Waktu domba itu lari, gembala akan mengejar dan mencarinya. Waktu domba itu terpisah dari kawanannya dan tersesat, gembala akan mencarinya sampai dia temukan. Pada siang hari gembala terus mengawasi kawanan dombanya, berjalan mencari tempat dimana rumput yang segar dan baik; pada malam hari gembala tidak tidur dan berjaga di antara kawanan dombanya, mengawasi kalau-kalau ada serigala datang. Lukisan ini merupakan satu lukisan yang luar biasa dalam yang kiranya boleh kita mengerti dan memahami Tuhan yang memimpin dan menggembalakan kita. Semua yang Tuhan kerjakan dan lakukan adalah anugerah semata-mata, jerih payah dan jerih lelahNya tidak pernah berhenti dan senantiasa menjadi perlindungan dan pemeliharaan yang tidak pernah berubah dan berkurang. Kalau demikian Allah memelihara dan menggembalakan kita, biar hati kita menjadi tenang dan teduh karena kita tahu tidak ada momen dan saat di dalam hidup kita dimana Allah tidak hadir. Justru kehadiranNya selalu menjadi kehadiran yang membawa kekuatan dan menghiburkan, memberikan keamanan dan ketenangan dalam hati kita.

Mazmur 23 memperlihatkan bagaimana ‘the goodness of God’ di dalam hidup kita, di dalam keadaan lancar dan baik maupun di dalam keadaan yang sulit dan susah. Tuhan adalah Gembala kita yang menuntun di padang rumput yang hijau, Tuhan adalah Gembala kita yang menuntun dalam lembah kekelaman. Dan bukan saja Dia menjadi Gembala yang menyertai dan menuntun kita, ada paradoks yang menarik dalam mazmur ini, dimulai dengan ‘makan’ dan diakhiri dengan ‘makan.’ “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku; Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau…” (ayat 1). Domba-domba dibawaNya ke padang yang berumput hijau untuk makan dengan nyaman di situ. Tetapi di ayat 5 pemazmur menulis, “Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku…” Satu ‘makan’ yang berbeda, makan di hadapan musuh. Ada satisfaction yang berbeda, ada pengalaman dengan Allah yang menggembalakan dengan berbeda, inilah dimensi yang dikatakan oleh mazmur ini.

Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku; The Lord Yahweh is my Shepherd, I shall not want. Ini adalah satu ekspresi contentment, rasa puas yang penuh di dalam hidup ini.

Kita hidup di dalam dunia ini tidak akan pernah puas. Pada satu aspek, ketidak-puasan itu menjadi sesuatu yang men-drive hidup kita untuk mengerjakan dan melakukan sesuatu dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Seorang yang sudah kehilangan drive untuk mengerjakan sesuatu, drive untuk mengerjakan dengan lebih baik dan lebih indah daripada hari kemarin, dia akan bangun dan memulai hari dengan semangat. Tidak masalah, selama ketidak-puasan itu tidak menjadikan hatimu kemudian menjadi iri dan merusak orang lain, selama kita tidak menjadi orang yang pahit dan penuh dengan sungut-sungut. Tetapi kalau kita terus-menerus didorong dan didesak oleh ketidak-puasan yang negatif dan ingin segala-galanya menjadi milik kita sendiri, satu kali kelak kita bisa terjebak senantiasa hanya melihat kebaikan Tuhan da keindahan Tuhan memelihara hidup kita semata-mata dari sudut materi, seberapa banyak yang kita terima dan dapat. Ayat ini mengingatkan kita kepuasan kita yang sejati yaitu Allah betul-betul menjadi Gembala dan bagian hidup kita. Selain itu kita juga diingatkan untuk tidak menjadi seorang Kristen yang ‘take for granted’ apa yang terjadi di dalam hidup kita. Kebaikan Tuhan sepanjang tahun ini begitu berlimpah. Jangan biarkan kesulitan yang ada, keadaan yang gersang, membuat kita tidak mampu melihat kebaikan Tuhan yang begitu limpah bagi engkau dan saya sampai hari ini. Kalau saat membuka mata di pagi hari kita masih memiliki hidup, kita masih memiliki kesehatan, kita masih memiliki keluarga yang indah, dsb, adakah hatimu penuh dengan rasa syukur yang dalam dan sukacita yang indah? Kalau setiap pagi engkau bangun dengan hati yang ‘weary,’ penuh dengan gelisah, takut dan kuatir, tidak ada sukacita, biar hari ini kita boleh mengalami Tuhan dan kebaikanNya di dalam satu-persatu apa yang ada di dalam hidupmu.

Tuhan Yesus berkata, “Bapamu yang di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar…” (Matius 5:45). Bapa kita di surga adalah Bapa yang baik, yang memberikan apa yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya (band. Matius 7:11). Daud berkata, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti” (Mazmur 37:25). Inilah janji-janji Tuhan yang patut kita pegang erat-erat, Allah itu satu arah secara aktif senantiasa memberikan anugerahNya, yang perlu menjadikan kita berespons untuk tidak mengabaikan dan menganggap remeh kebaikan yang Tuhan beri kepada kita.

Kita tidak perlu membanding-bandingkan apa yang kita dapat dengan orang lain; kita pun tidak perlu melihat kekurangan orang baru membuat kita menghargai kecukupan yang Tuhan beri kepada kita. Biar hati kita dibawa kepada satu kepuasan dan ketenangan menikmati dan mengalami Tuhan itu Gembala yang baik. Kita tidak menuntut hal yang sensational, kita tidak meminta penyertaan Tuhan yang spektakuler. Tetapi hari demi hari, di tengah kerutinan yang kita jalani, kiranya kita mengalami Tuhan di situ, merasakan pemeliharaan dan perlindunganNya yang tidak pernah berhenti dalam hidup kita. Jangan sampai semua yang ada pada kita terhilang, baru kita mulai menghargai apa yang ada; pun jangan sampai ketika semua itu hilang membuat kita tidak bisa lagi melihat kebaikan Tuhan kepada kita.

“Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku…” Satisfaction dan contentment yang menyadari seluruh kebutuhan fisik kita dicukupkan dan diberikan oleh Tuhan. Dia adalah Gembala yang senantiasa mencari rumput yang hijau bagi domba-dombaNya. “Ia menyegarkan jiwaku…” satu satisfaction dan contentment yang menyadari bukan hanya soal kebutuhan fisik sehari-hari tetapi keindahan dan kebaikan Tuhan sang Gembala yang menyegarkan jiwa kita. “Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya…” kebaikan Tuhan nyata di dalam pimpinan dan direksiNya bagi hidup kita di depan, walaupun mungkin jalan itu miring atau berbelok, kita tidak mampu melihat apa yang ada di baliknya, pada waktu mungkin jalan itu menurun dengan curam dan kita tidak mengerti apa yang ada di depan, kita selalu percaya dan tahu Ia memimpin dan menyertai kita di situ. Tuhan itu baik, Tuhan itu baik adanya. Jangan sampai kita tidak mampu melihat kebaikan Tuhan itu. Cintai Dia, hargai segala kebaikanNya yang nyata di dalam hidupmu. Doaku dan harapanku, biar Dia selalu memelihara hati kita dan memimpin perjalanan kita ’in the path of righteousness.’

Jangan menangis dan jangan kecewa kalau Tuhan cegah hidup kita hari ini. Mungkin itu adalah kontrak bisnis yang engkau begitu harapkan, mungkin itu adalah pekerjaan dan karir yang engkau begitu inginkan, mungkin itu adalah pria atau gadis yang engkau begitu dambakan. Di tengah jalan yang seolah tertutup itu, adakah engkau selalu memiliki perasaan hati dan sikap yang melihat tindakan Tuhan mencegah kita kepada jalan yang destruktif? Beranikah kita meminta Tuhan juga mencegah kita kepada jalan yang serong dan tidak benar? Siapkah kita meminta Tuhan memimpin kita kepada jalan yang benar? Memasuki tahun yang baru, saya memanggil setiap kita, dengan serius dan berani kita minta kepada Tuhan sungguh pimpin kita kepada ‘the righteous path’; setiap keputusan yang kita ambil di dalam kejujuran dan kebenaran. Sebagai keluarga, mengambil keputusan untuk berjalan dengan benar dan peka ketika ada hal-hal yang tidak sepatutnya dan rela melepaskan apa yang tidak perlu, yang bisa menghalangi jalan kita lebih dekat dengan Gembala Agung kita.

Kita perlu berani melepaskan hal-hal yang tanpa sadar bisa membuat waktu kita terbuang sia-sia. Berapa banyak waktu yang kita habiskan di tengah kemajuan teknologi yang ada? Berapa banyak waktu yang kita habiskan di depan facebook, di depan televisi, di depan komputer, di depan gamebox, di depan drama seri, dsb yang menyita begitu banyak waktu kita setiap hari? Berani ambil keputusan yang tegas dan jelas, karena kita tahu itu tidak benar, ini adalah ‘the path of destruction.’ “Tuhan, gembalakanlah aku,” jadikanlah itu doa kita. ”Cegahlah aku melewati jalan yang menuju kebinasaan. Pimpin aku di jalan kebenaran.” Kalau kita tahu jalan itu tidak benar, biar kita tidak jalan di situ. Kalau Tuhan cegah kita, tidak apa-apa, karena kita tahu Ia memimpin kita kepada jalan yang baik. Hari ini, berjanjilah di hadapan Tuhan, apa saja yang akan engkau kerjakan dan lakukan, selalu ingin Tuhan pimpin kepada jalan yang benar. Pelihara integritas kita yang tidak mau dibawa kepada jalan yang seolah lancar dan baik, padahal itu adalah fenomena yang menipu. Kalau kita sudah berjalan di dalam jalan itu, beranikan dirimu untuk meninggalkannya, apapun konsekuensi yang harus engkau tanggung.

“Engkau besertaku, sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman…” (ayat 4). Perhatikan, di sini bukan berarti ada intention gembala untuk sengaja membawa dombanya berjalan dalam lembah kekelaman. Ketika gembala sedang memimpin domba-dombanya, itu adalah direksi jalan yang benar, jalan yang akan membawa domba-domba kepada rumput yang hijau. Tetapi pada waktu berjalan menuju ke sana, ada aspek alam yang tidak terduga bisa terjadi. Kabut yang gelap bisa mendadak datang menutupi lembah, membuat penglihatan domba begitu terbatas. Situasi bisa berubah seketika, cahaya sinar matahari tertutup oleh awan gelap. Di daerah lembah dan dataran rendah, suhu udara bisa drop turun segera saat panas matahari tidak ada lagi.

Inilah fase lembah kekelaman yang bisa terjadi di dalam hidup engkau dan saya. Mata kita terhalang oleh kabut yang tebal, kita tidak mampu melihat apa yang ada di depan, di kiri dan kanan, di belakang kita. Kita tidak mampu melihat Gembala Agung kita memimpin jalan kita di depan. Namun adakah Gembala kita berhenti memimpin jalan kita di situ? Tidak. Dia ada di situ, Dia tidak meninggalkan engkau dan saya. Mata kita yang terbatas tidak menghalangi kemaha-hadiranNya menyertai kita. Perasaan hati kita yang merasa ditinggalkan seorang diri tidak menghalangi Dia memimpin kita kepada direksi jalan ke depan.

Kalau engkau ingin memahami apa artinya panjang dan beratnya menjalani sebuah “satu tahun,” tanyakanlah kepada anak yang tidak naik kelas. Kalau engkau ingin memahami apa artinya dan bernilainya sebuah “satu menit,” tanyakanlah itu kepada orang yang baru saja ketinggalan kereta. Kalau engkau ingin memahami apa artinya dan berharganya sebuah “satu detik,” tanyakanlah itu kepada orang yang baru saja hampir ditabrak mobil. Kalau engkau ingin memahami apa artinya dan indahnya sebuah hidup, tanyakanlah itu kepada orang yang Tuhan beri kesempatan kedua, sembuh dari sakit yang parah. Kalau engkau ingin memaami apa artinya lembah kekelaman, tanyakanlah itu kepada anak-anak Tuhan yang pernah melewati satu masa yang paling berat dalam hidup mereka, yang seolah tersendiri dan seorang diri menanggung semuanya, itulah pengalaman “tested by fire” di dalam hidup mereka.

Camkanlah, kita bukan sedang membaca satu bahasa puisi yang dikarang seorang pujangga yang ahli merangkai kata-kata dan tidak pernah mengalami lembah-lembah kekelaman itu. Ini adalah satu cetusan pengalaman hidup yang real diangkat oleh Daud yang mengalami apa artinya “berjalan dalam lembah kekelaman” itu.

Kadang kita tidak bisa mengerti dan ikut merasakan sakit orang yang menderita penyakit yang berat, sampai kita sendiri yang mengalaminya, bukan? Situasi yang “up and down,” semangat hidup yang kadang ada dan kadang hilang, depresi, kesedihan, ketersendirian, yang sulit kita memahami sebelum kita sendiri yang berjalan melewati lembah kekelaman itu seperti apa. Orang yang ada di dalam lembah kekelaman hanya melihat di ujung sana sinar cahaya begitu kecil dan redup. Makin berjalan, makin kelam, cahaya itu makin suram dan redup. Pada waktu berjalan, entah kapan dia akan sampai di sana, tidak tahu. Satu-satunya yang menjadi suluh pengharapan adalah sinar kecil dan redup itu ada di situ.

“The Lord is my Shepherd,” yang pertama kali mencetuskan kalimat ini bukanlah Daud, tetapi Yakub. “Allah adalah Gembalaku selama hidupku sampai sekarang…” The God who has been my shepherd all my life long to this day (Kejadian 48:15). Kalimat ini diucapkan oleh seorang yang sudah uzur, tetapi hari itu adalah hari yang terindah karena itu adalah satu momen turning point baginya, dia berjalan di jalan yang seolah tak berujung, tidak melihat apa yang menjadi janji Tuhan. Hari itu dia bisa menaruh tangannya di atas kepala dua cucu dari anaknya, Yusuf, yang selama ini tidak pernah dia tahu masih hidup. Dengan jari-jari yang keriput dan gemetar, dia memberkati Manasye dan Efraim sebagai ‘blessing for the future.’

Kisah hidup Yakub banyak dicatat oleh Alkitab. Kita bisa menemukan pengalaman hidupnya begitu ‘colourful.’ Seseorang yang menipu ayahnya, dan sepanjang hidupnya dia pun ditipu tidak habis-habisnya. Karena menipu ayahnya, dia harus lari dari rumahnya tanpa pernah berjumpa lagi dengan ibunya yang sangat dia kasihi. Dia lari tanpa membawa apa-apa dan hanya tidur beralas batu dengan langit gelap sebagai atapnya. Di tengah ketersendiriannya, hanya janji Tuhan yang menjadi pegangannya untuk tetap melangkah. Janji Tuhan yang menopang dia untuk terus melangkah dan berjalan maju. Tetapi pengalaman-pengalaman itu tidak sampai menggetirkan hatinya, tidak sampai memupus semangat hidupnya, sebab walaupun susah dan sulit, Yakub tahu di balik dari setiap peristiwa itu dia menemukan keindahan. Selama 14 tahun dia harus bekerja keras di rumah Laban, pamannya, diperas, diperdaya, ditekan tidak habis-habisnya, tetap dia merasa itu semua sebagai sesuatu yang berat, karena ada cinta. Di tengah ketidak-adilan yang dia alami, dia bisa melewatinya karena dia ingin mendapatkan Rahel yang sangat dicintainya (Kejadian 27-31).

Tetapi pengalaman yang satu ini, Yakub ditipu oleh anak-anaknya sendiri, betapa berat, susah dan sulit ujian hidup ini untuk dia lewati. Dia yang telah menipu ayahnya sekarang mengalami hal yang sama. Yusuf, anaknya yang paling dia sayangi, pengharapannya, favoritnya, menjadi sumber kebencian bagi saudara-saudaranya yang lain sehingga mereka menjualnya sebagai budak. Mereka membawa jubah Yusuf yang berlumuran darah kepada ayahnya, membawa berita seperti petir yang menyambar, Yakub sedih dan tidak bisa dihibur (Kejadian 37:34-35). Anak yang paling dia kasihi tidak akan pernah dia jumpai sampai selama-lamanya. Selama belasan tahun anak-anak Yakub menyimpan kebohongan ini dari ayahnya, melihat kesedihan dan kedukaan menggerogoti hati dan semangat hidupnya. Kasihan luar biasa. Tetapi tidak seorangpun dari mereka sanggup datang kepada ayahnya mengakui apa yang telah mereka perbuat kepada Yusuf. Kisah itu luar biasa tidak gampang, lembah kekelaman yang seolah tidak ada ujungnya. Ketika akhirnya sepuluh orang anak ini datang kepada Yakub membawa berita bahwa Yusuf masih hidup dan bukan saja masih hidup, dia kaya, dia jaya, dia sukses, apa reaksi ayahnya? Hati Yakub dingin, sebab dia tidak dapat mempercayai mereka (Kejadian 45:25-28). Tetapi setelah Yakub tahu bahwa ini bukan kebohongan, bahwa sungguh benar Yusuf masih hidup, maka bangkitlah semangat hidupnya. Harapan yang sudah patah, hati yang sudah mendingin, kesedihan dan kepahitan yang menggerogoti hidupnya, dalam sekejap pupus dan sirna diganti dengan sukacita dan kebahagiaan bahwa pada akhirnya dia akan berjumpa dengan Yusuf. Lembah kekelaman selesai sudah dia lewati dan di situlah dia tahu Tuhan, Gembala yang setia, tidak pernah meninggalkannya dan melupakannya. Maka kita bisa mengerti di hari-hari terakhir hidupnya dia bisa mengeluarkan kalimat “Tuhan adalah Gembalaku selama hidupku sampai hari ini.” Tuhan yang telah menopang dia, memberinya kekuatan dan sampai akhirnya dia bisa melihat secercah sinar cahaya dan sukacita yang tak terkatakan berjumpa dengan Yusuf dan anak-anaknya.

Daud, pada waktu menulis kalimat ini, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut sebab Engkau besertaku…” Hidup Daud pun berkali-kali melewati lembah kekelaman yang begitu sulit dan berat. Paling tidak ada dua peristiwa lembah kekelaman yang dia alami tercatat di dalam Alkitab. Sejak hari dimana nabi Samuel mengurapi kepalanya, hari itu tidak otomatis dia menjadi raja Israel. Dia harus lari dari satu tempat ke tempat lain, lari dari kejaran raja Saul. Tidak ada tempat dimana dia bisa menetap. Setiap malam seolah menjadi kegelapan yang tidak pernah berakhir. Belasan tahun dia mengalami semua itu, tetapi tidak pernah memupus semangat hidupnya. Namun ada satu peristiwa yang begitu mendukakan hatinya dan menjadikan dia terus mempersalahkan diri, yaitu pada peristiwa di Nob, di tengah dia tidak tahu kemana harus pergi mencari perlindungan, di tengah kondisi lapar dan haus, dia pergi kepada imam-imam yang kemudian memberinya roti dari Rumah Tuhan. Akibat perbuatan itu, seluruh imam dan keluarganya, bahkan seluruh penduduk kota Nob habis dibantai oleh Saul, sehingga peristiwa ini menjadikan rasa bersalah yang terus menghantui Daud (1 Samuel 22:6-22).

Peristiwa demi peristiwa pengejaran Saul selama belasan tahun, kekuatan tentara yang jauh lebih sedikit, keterbatasan fasilitasdsb, semuanya tidak pernah mematahkan semangat Daud untuk berjuang, tidak pernah lari dan undur di tengah situasi yang sulit dan berat. Tetapi ada dua peristiwa yang sangat menyedihkan hatinya, yang membuatnya tidak bisa bangkit berdiri. Yang pertama adalah pada waktu nabi Nathan datan menyampaikan hukuman Tuhan akibat perbuatannya mengambil Batsyeba, istri Uria, menyebabkan anaknya sakit keras dan akhirnya mati (2 Samuel 12:15-16). Itu adalah lembah kekelaman yang dahsyat. Betapa hancur hati Daud, karena perbuatan dan tindakannya yang salah dan dosanya menyebabkan anaknya yang tidak berdosa itu mati. Banyak hal kita tidak takut kesulitan, sakit-penyakit datang kepada kita, tetapi akan menjadi kesedihan yang luar biasa ketika kita tahu akibat perbuatan kita orang lain yang kita kasihi menanggung akibatnya. Daud tidak bisa bangun, tidak bisa makan, dia hanya berbaring di lantai, tidak mampu berbuat apa-apa selain berdoa mohon ampun kepada Tuhan, betapa beratnya lembah kekelaman itu dia harus jalani. Kita bisa mendengar dan menyaksikan berbagai tragedi di dalam dunia ini terjadi, ada orang-orang yang tidak pernah bisa berhenti mempersalahkan diri sendiri karena perbuatannya orang lain harus menanggung akibatnya.

Kalau itu dilakukan oleh musuh, kalau itu diperbuat oleh orang yang membencinya, kesulitan sebesar apapun masih bisa Daud tanggung. Dia tidak akan patah arang dan kehilangan semangat hidup. Tetapi kalau itu adalah perbuatan anaknya sendiri, Absalom, yang meng-kudeta dia, itu adalah lembah kekelaman yang besar bagi Daud. Dia tidak tahu kemana dia harus berjalan pergi. Alkitab mencatat hari itu Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan dia berjalan bertelanjang kaki (2 Samuel 15:30). Tidak ada dignitas dan kebanggaan seorang raja yang tersisa darinya. Inilah lembah kekelaman yang dia jalani, the shadow of death yang begitu gelap dan dahsyat.

Tuhan menggembalakan hidup kita; Tuhan memimpin kita di jalan yang benar. Ada masa-masa kita sebagai domba yang tidak taat mengambil jalan kita sendiri, kita mengambil keputusan yang keliru dan salah dan harus menanggung segala konsekuensi yang begitu berat di dalam hidup kita. Namun jangan sampai kita menjadi putus asa dan hilang pengharapan. Jangan sampai kita menjadikan itu sebagai hal yang membuat kita tidak bisa lagi melihat penggembalaan Tuhan di situ. Mazmur ini mengingatkan kita, kita masih berjalan, kita belum sampai di garis finish. Keluar dari lembah itu, kita akan menjadi apa? Melewati lembah kekelaman itu, Tuhan membentuk kita menjadi apa? Saya percaya ada keindahan yang luar biasa kepada orang-orang yang rela Tuhan pimpin berjalan di dalam proses itu. Doaku dan harapanku biar firman Tuhan hari ini boleh menyapa dan menghibur engkau, bagaimana Tuhan dan penyertaanNya kita alami di dalam hidup kita, menggembalakan kita pribadi lepas pribadi. Tuhan menjadi sumber hidup yang mencukupkan kita, setiap saat hadir beserta kita, termasuk ketika ada kabut tebal yang tidak terduga menutupi jalan hidup kita. Mari kita berjalan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, Gembala kita yang baik dan setia.(kz)