Walk through Suffering

Sun, 17 Nov 2013 06:38:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Walk through Suffering
Nats: Mazmur 126; 1 Petrus 1:6-7

Seorang hamba Tuhan bernama John S. Feinberg menulis kisah hidupnya dalam sebuah artikel berjudul “A Journey in Suffering” sebuah perjalanan di dalam penderitaan, refleksi pribadi atas the problem of evil dalam kehidupannya. Sebagai seorang pemuda dia mengambil keputusan menjadi seorang hamba Tuhan dan masuk ke sekolah teologi. Dia berkata, “Dengan saya belajar teologi, dengan saya ingin mengerti Alkitab, supaya melalui pemahaman teologi yang benar itu akan menjadi jawaban bagi semua persoalan hidup saya. Dengan jawaban itu saya bisa dipuaskan.” Setelah selesai sekolah dia menikah dan menjadi seorang dosen, mulailah beberapa hal terjadi. Istrinya memperlihatkan gejala menderita penyakit Huntington Chorea, satu penyakit yang menyebabkan penurunan syaraf secara progresif. Mulai dari syaraf motorik ujung kaki pelan-pelan menjadi kaku, sampai seluruh syaraf motoric lainnya, kemudian setelah itu menyerang syaraf ingatan. Istrinya pelan-pelan kehilangan memori. Sesudah itu karena tidak bisa bergerak dan memory loss, dia tidak sanggup mengontrol banyak aspek dalam hidupnya, istrinya mengalami depresi, halusinasi dan paranoid. Dokter memberitahu bahwa ini adalah penyakit keturunan dan chance untuk turun kepada anak-anaknya 50:50. Anak yang mana? Tidak tahu. Sekarang mereka masih kecil, tetapi nanti baru ketahuan waktu mereka berumur 30 tahun. Mendengar kabar seperti itu dan hidup dalam realita itu, dia berkata, “Awan gelap menjadi doom yang menutupi keluargaku…” Feinberg mendapat gelar Master of Theology dengan menulis satu tesis mengenai penderitaan Ayub. Kemudian untuk tesis doktoratnya dia menulis “The Problem of Evil.” Di dalam artikelnya dia berkata, “Apa yang saya katakan di awal waktu saya masuk sekolah teologi, bahwa pemahaman teologis yang benar akan menjadi jawaban yang sanggup memuaskan kita ketika kita berjumpa dengan berbagai persoalan hidup. Tetapi pada waktu persoalan hidup itu terjadi di dalam hidup kita, kita akhirnya menyadari banyak hal dari jawaban yang benar tidak sanggup menjadi jawaban yang memuaskan apa yang terjadi di dalam hidup kita.” Tetapi di akhir dari artikelnya dia mengatakan, “Apapun yang terjadi kita tidak sanggup bisa mengerti dan memahaminya, namun persoalan hati itu tetap bisa dijaga dan dipelihara sebab kita memahami sesuatu itu dengan benar.” Memahami sesuatu dengan benar belum tentu mungkin bisa menjadi jawaban yang banyak dan memuaskan, tetapi jika tidak ada pemahaman yang benar mungkin akan membuat kita makin hari makin kehilangan di hadapan Tuhan.

Sekolah menjadi hamba Tuhan, belajar teologi, menulis tesis mengenai penderitaan Ayub, mencoba memberikan jawaban kepada orang lain apa artinya kesulitan dan penderitaan, itu yang kita sebut sebagai “the school of knowledge.” Tetapi pada waktu kita menjalani hidup, kita akan bertemu dengan satu sekolah yang bernama “the school of life.” Tidak ada yang salah dengan tesis John Feinberg. Tidak ada yang kurang dari pengertian dan pemahaman yang begitu kaya mengenai kesulitan dan penderitaan, itu adalah “the school of knowledge.” Tetapi pada waktu kesulitan, penderitaan, sakit yang tidak akan lalu dari keluarganya, di situ dia bertemu dengan apa yang dia pelajari menjadi “the school of life” dalam hidupnya. Pemahaman dia mengenai Tuhan tidak lagi di dalam pengertian knowledge saja; pemahaman kali ini mengenai siapa Tuhan, pemahaman mengenai bagaimana dia mengalami kesulitan dan penderitaan itu sekarang menjadi kehidupan dia sehari-hari yang tidak pernah putus sampai nanti dia bertemu Tuhan.

Pada waktu semua itu terjadi saya percaya ada dua pertanyaan yang paling penting yang harus muncul di benak kita. Petanyaan yang pertama adalah apakah semua hal yang terjadi di dalam hidup kita itu menjadi sesuatu yang menggugah hati kita, betulkah selama ini kita trust sepenuhnya kepada Tuhan sebagai banteng perlindungan satu-satunya di tengah segala kekecewaan hidup kita? Seperti John Feinberg katakan, ada perbedaan antara saya ‘believe in God’ dengan ‘trust in God.’ Believe in God adalah saya tahu, saya mengerti, saya believe apa yang saya terima itu, tetapi trust in God itu berarti apa yang saya believe itu saya aplikasikan dan nyatakan dalam hidup ini, di situlah perbedaannya. Pada waktu kita masuk ke dalam “the school of life” yang perlu kita tanyakan di dalam hidup kita bukan soal kenapa itu terjadi, bukan soal mengapa hal ini timpa kepadaku, bukan soal apa sebabnya saya mengalami itu, karena kita tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak peru bertanya ’kenapa orang itu berlaku tidak baik kepadaku,’ terlebih lagi kita tidak boleh mencaci-maki dan blaming tunjuk orang lain sebagai penyebab dari kesulitan hidup kita. Tetapi yang lebih penting kita refleksi dan introspeksi adalah against segala disappointment yang terjadi di dalam hidupmu, do you really trust in God sebagai tempat benteng perteduhan satu-satunya? Pertanyaan kedua yang penting adalah apakah dengan trial, troubles, sakit dan penderitaan yang terjadi di dalam hidup kita, apakah kita betul-betul ingin mengerti siapa kita? Kita menjadi lebih bijakkah? Kita menjadi rendah hatikah? Kita menjadi a better person in Christ-kah? Dua pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang penting yang kita coba bahas dan pikirkan sama-sama pada hari ini. Itulah sebabnya dua perikop yang kita baca tadi menjadi hal yang kita renungkan sama-sama.

Mazmur 126:5-6 bicara soal attitude dari pemazmur berespons kepada situasinya. Ayat 1-4 kita menemukan dua hal yang penting muncul. Yang pertama adalah apa yang ada di permukaan, yang kedua adalah apa yang ada di bawah permukaan. Yang ada di bawah permukaan adalah ketika segala sesuatu itu sudah mustahil, mungkin orang mengatakan sudah tidak ada harapan, Tuhan sanggup membalikkan 180 derajat dan itu mencengangkan kita dan orang-orang lain yang melihatnya. Tetapi yang di atas permukaan, yang kelihatan itu, yaitu soal kondisi perubahan yang bisa terjadi drastic dari apa yang kita alami, yang digambarkan dalam dua hal oleh pemazmur di sini. Pertama, ayat 4, kondisi yang tidak mungkin balik lagi, “…seperti memulihkan batang air kering di tanah Negeb.” Secara topografi seperti menyuruh air dari tempat yang rendah naik ke atas. Itu impossible. Kedua, ayat 1, apa yang terjadi kepada mereka itu seperti mimpi, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi di dalam realita.

Orang sering bertanya ‘why bad things happen to good people,’ bagaimana mengerti penderitaan, bagaimana escape dari penderitaan dan kesulitan, dsb. Tetapi adakah jawaban yang bisa menuntaskan dan memuaskan keingin-tahuan kita? Apa yang seharusnya kita belajar melalui suffering itu, yang kita akan dibentuk olehnya dan kita harus menjadi a better person di situ. Kita dipanggil bukan run away dari suffering, bukan stand still dari suffering, bukan lie down dari suffering, tetapi ‘walk through suffering,’ itulah yang dikatakan Mazmur 126 ini “…orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (ayat 5-6). Di sini dia memakai kata “walk.” Kemudian Mazmur 23:4 “…sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman…” juga memaki kata “walk.”

Apakah kita berkeinginan makin mengetahui siapa diri kita, makin membuat diri kita bijak, makin membuat kita lebih rendah hati dan menjadi a better person in Christ? Di situlah Tuhan memakai suffering dan penderitaan membentuk kita.

Penulis Ibrani mengatakan apa yang terjadi di dalam hidup seseorang tidak otomatis menjadikan orang itu lebih baik, menjadi a better person. Dimana perbedaannya? Kita harus berjalan melalui suffering itu. Walk through suffering itu bukan hal yang gampang dan mudah, walk through suffering membutuhkan waktu dan proses yang panjang di dalamnya. Dalam walk through mungkin kita tidak bisa melihat terang dan cahaya. Namun pada waktu kita walk through di situlah kita mengetahui ada hal yang harus kita bedakan yang kita lihat dalam Mazmur 126 ini. Yang pertama apa yang ada di atas permukaan, yang kelihatan sebagai fenomena di depan mata kita. Yang kelihatan itu adalah sesuatu yang bisa berubah dengan cepat, yang bikin kita kaget sehingga kita merasa itu seperti mimpi, apa yang di depan itu seperti sesuatu yang sangat mustahil terjadi.

Di dalam dunia kita diajar memahami wisdom itu bersifat simetris. Misalnya, orang yang rajin dan bekerja keras pasti akan sukses; hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin; dsb. Itu adalah the wisdom of life yang kita belajar. Kita mengajar anak kita wisdom seperti ini, segala sifat yang baik, rajin, jujur, kerja keras menjadi karakter yang harus kita tanamkan di dalam hidup kita dan anak-anak kita. Tetapi pada waktu engkau dan saya masuk ke dalam “the school of life” di permukaan itu banyak hal sdr bisa lihat tidak mudah. Kita melihat dunia sekitar kita sungguh tidak adil. Dalam ketidak-adilan yang kita lihat terjadi, orang yang jujur dan tulus bisa dipecat; orang yang berjuang bagi kebenaran diracun dan dibungkam; seorang yang mendambakan pendidikan bagi kaum perempuan ditembaki; seseorang yang memiliki kebun yang kecil sederhana dirampas dan diambil orang yang kaya.

Kedua, di dalam the school of life ada aspek-aspek yang tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Semakin baik, semakin benar, semakin berani dan semakin tulus anda, mungkin akan dibuat semakin salah, semakin buruk, dan yang the worst bisa terjadi kepadamu. Semua itu mengejutkan hidup kita.

Tidak heran Mazmur 126 mengeluarkan kalimat ini, keadaan kami seperti bermimpi. Hari ini kita jaya, besok bisa habis seketika. Tetapi sekaligus kita juga menemukan pengharapan pada waktu ada “hidden hands” di dalamnya. Kalau kita terus lihat apa yang terjadi di atas permukaan, fenomena apa yang ada di dunia ini, kita bisa kehilangan pengharapan, kita bisa kecewa, atau kita bisa tergoda menjalankan cara-cara yang sama seperti mereka yang berbuat tidak baik kepada kita. Itu sebab pemazmur mengingatkan kita jangan terpaku hanya melihat yang di permukaan saja, tetapi perhatikan apa yang tersembunyi di bawah permukaan, dimana tangan Tuhan yang tidak kelihatan itu menjaga, memelihara dan menenun semua itu. Sehingga pada waktu Tuhan merubah keadaan, meskipun seolah kelihatan adalah sesuatu yang mustahil dan tidak akan pernah terjadi di dalam hidup ini, kita rasa seperti mimpi adanya.

Salah satu keindahan pada waktu kita belajar bagaimana tangan Tuhan yang tidak kelihatan itu, di situlah kita melihat seberapa besar kita trust dan percaya kepada Tuhan di dalam hidup ini. Orang hanya bisa lihat itu terjadi hanya secara kebetulan, tetapi kalau kita menoleh ke belakang melihat di dalam sejarah, barulah kita tahu luar biasa tangan Tuhan yang tersembunyi itu berkarya di dalamnya.

Salah satu contoh sederhana, kita tidak bisa mengabaikan betapa anguish-nya pergumulan iman dari Yusuf yang pada akhirnya bisa mengeluarkan kalimat “…kamu telah mereka-rekakan yang jahat  terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kejadian 50:20). Pada waktu dia berada di dalam sumur yang gelap, dia berteriak, dia desperate, dia memohon kepada kakak-kakaknya untuk menolong dia. Pada waktu itu dia juga berseru dan berteriak kepada Tuhan, Tuhan tidak langsung menjawab doanya. Bukan the first dungeon di dalam sumur yang Yusuf alami. The second dungeon di dalam penjara, dia mengalami hal yang serupa. Meskipun ada pengharapan sedikit dari orang yang sudah dia tolong, tetapi dengan berjalannya waktu belasan tahun pengharapannya mungkin semakin tipis. Pada waktu kita melihat dan memahami semua itu, di situlah kita belajar bagaimana Tuhan berdaulat dan di situlah sungguh-sungguh the school of life bahwa tidak ada tempat yang paling dekat, paling indah, selain kita punya friendship itu dengan Tuhan sendiri.

C.S. Lewis berkata, “Di saat hidupmu di dalam kelancaran, suara Tuhan hanya menjadi suara yang sayup-sayup di telingamu, tetapi pada waktu kita di dalam kesulitan dan penderitaan, suara Tuhan begitu nyaring berkata-kata kepada kita.” Pada waktu itu Tuhan seolah-olah ingin berkata kepada kita siapakah Tuhan yang kita kenal. Hari ini pada waktu engkau dan saya berjalan di dalam kesulitan, perkuatlah persahabatan kita dengan Tuhan dan hanya dengan Tuhan saja. Sebab tidak ada friendship yang lebih indah, tidak ada friendship yang lebih dalam, tidak ada friendship yang eternal yang selama-lamanya tidak pernah berubah selain divine friendship kita dengan Tuhan. Di dalam friendship itulah kita belajar mengenal dengan sungguh-sungguh Tuhan yang kita cinta adakah itu murni dan sungguh, ataukah saya cinta Dia karena ada hal-hal yang Dia berikan kepada saya? Di dalam friendship kita dengan Tuhan kita juga akan terus bertanya dengan dalam apakah saya sungguh-sungguh melayani Dia ataukah saya sebenarnya minta Tuhan melayani saya? Apakah saya melayani Tuhan dengan sepenuh hati ataukah saya memperalat Tuhanku? Sehingga tidak heran pada waktu Yesus menjumpai Petrus, pertanyaan inilah yang muncul, “Simon, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?” (Yohanes 21). Itu adalah panggilan Tuhan untuk memulihkan kembali friendshipnya dengan Petrus, satu-satunya, tidak ada yang lain yang lebih dekat yang seharusnya ada di dalam relationship Petrus dengan Tuhan. Ini adalah point yang paling penting.

Pertanyaan yang kedua yang perlu kita tanya, apakah saya menjadi a better person in Christ? Rev. Timothy Keller mengatakan, “Suffering transforms our attitude towards ourselves. It humbles us and removes unrealistic self-regard and pride.” Banyak orang tidak akan pernah bisa terima penderitaan dan kesulitan, sebab kita sudah berasumsi bahwa hidup kita tidak seharusnya begitu, kita tidak seharusnya mendapatkan hal-hal yang tidak baik, kita tidak boleh diperlakukan seperti itu. Itulah sebabnya banyak orang akhirnya menjadi kecewa atau bahkan mencaci-maki orang lain pada waktu mereka melewati troubles, pada waktu mereka mengalami sufferings, yang dipertanyakan adalah soal kenapa suffering ini ada, apa sebabnya, asal-usulnya, kenapa itu timpa kepadaku, bagaimana aku me-manage penderitaan dan kesulitan itu? Tetapi tidak pernah orang coba melihat dengan indah dan baik bagaimana suffering men-transform orang itu. Pada waktu penderitaan datang kepada seseorang kita terlalu gampang dan terlalu cepat mengatakan pasti ada kesalahan pada orang itu. Bahkan orang yang sendiri mengalami sering juga memiliki pikiran yang sama. Itu sebab penulis Ibrani mengoreksi bahwa tidak selalu penderitaan itu disebabkan oleh kesalahan dan dosa orang itu. Maka penulis Ibrani mengatakan, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita melainkan dukacita, tetapi kemudian ia menghasilkan buah-buah kebenaran yang memberikan damai sejahtera bagi mereka yang dilatih olehnya” (Ibrani 12:11). It will bring peace and fruit in your life. Penderitaan itu akan menghasilkan keindahan kepada siapa? Kepada mereka yang dilatih olehnya. Kata “dilatih” yang dipakai di sini dalam bahasa Yunani-nya adalah “gimnazdo,” kata yang menjadi akar kata “gymnastic.” Dengan kata lain hanya mereka yang melihat itu sebagai tempat preparation, sebuah “pelatnas” latihan dari Tuhan. It will create something beautiful in our lives and make us a better person in Christ. Kata “gimnazdo” unik karena artinya baju dicopot hampir telanjang. Jaman dulu orang masuk ke gymnasium itu hanya boleh pakai kain yang dililit dan tidak boleh pakai apa-apa lagi supaya bisa berlatih olah raga. Tidak boleh pakai baju formal, tidak boleh ada apa-apa menutupi, supaya orang itu leluasa berolah raga dan yang kedua bagian mana dari tubuh mana yang perlu dibentuk. Maka apa makna rohani yang bisa kita dapat dari kata ini? Selama kita masih menyembunyikan diri dari segala kebanggaan kita, selama kita masih menutupi segala kelemahan kita, selama masih ada pride, kita belum siap dilatih Tuhan. Tetapi ketika kita tidak lagi punya pride, tidak lagi punya rasa bangga terhadap sesuatu, ketika kita tidak lagi punya self-esteem di hadapan Tuhan, itulah gimnazdo. Di situlah kita menyatakan siapa diri kita apa adanya.

Maka bagaimana suffering transform our attitude toward ourselves? Di situ kita belajar tidak boleh ada kesombongan, keangkuhan, kebanggan diri masih melekat di tubuh kita. Kita harus rela semua dibongkar dan dibuang. Sesudah itu baru kita masuk ke tahap yang kedua, dengan humble accept mana hal yang sangat kurang dan lemah dari hidup kita yang perlu dibentuk Tuhan, mana bagian yang perlu Tuhan kuatkan. Mungkin tangan dan kaki perlu lebih rajin, hati perlu lebih lapang, dsb. Yang ketiga, adakah kita mempunyai courage untuk ‘walk through suffering’? Kita tidak boleh berhenti sebab dunia ini terus berjalan maju ke depan. Kita tidak boleh llie down sebab ketika kita terus berkanjang di dalam kesulitan dan persoalan itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Kita tidak boleh mencaci-maki orang dan mempersalahkan situasi karena itu tidak akan merubah situasi yang kita hadapi. Kita tidak boleh anger dan resentment ketika kita rasa tidak adil, karena di situ kemarahan kita hanya meng-consumed kita habis tetapi tidak menjadi api yang memurnikan kita seperti emas yang keluar dari api pembakaran. Api mempunyai dua fungsi. Api bisa membakar habis hidup orang yang tidak mau humble dibentuk oleh Tuhan. Tetapi api yang sama akan memurnikan dan membentuk iman kita menjadi lebih indah dan lebih baik pada waktu di dalamnya kita dengan rendah hati belajar di dalam sekolah kehidupan. Pada waktu kita berjalan ikut Tuhan, di situ kita tahu tangan Tuhan yang tidak kelihatan senantiasa memelihara dan membentuk kita. Kita mau menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dan kita hanya manusia. Kita ingin menjadikan Tuhan sebagai Allah yang mengatur dan mengontrol kita dan kita rela diatur dan dibentuk oleh Tuhan. Di situlah baru hati kita menjadi teduh dan kita bisa berjalan maju terus di dalam perjalanan itu.(kz)