Dengan Iman meninggalkan Masa Lalu, Dengan Iman menjalani Lembaran yang Baru

Sat, 09 Nov 2013 22:29:00 +0000

Pengkhotbah: Ev. Radjali Ramli MDiv.
Tema: Dengan Iman meninggalkan Masa Lalu, Dengan Iman menjalani Lembaran yang Baru
Nats: Yosua 1:1-9

“Have I not commanded you? Be strong and of good courage, do not be afraid nor be dismayed, for the LORD your God with you wherever you go” (Yosua 1:9).

Dalam sepanjang sejarah Tuhan membangkitkan hamba-hambaNya yang saleh, yang menjadi contoh bagi kita, yang boleh menjadi pertolongan bagi kita di dalam menapaki masa depan kita dengan melihat akan kekuatan dan penghiburan dari kitab suci yang Tuhan sediakan bagi kita semua.

Siapakah Yosua? Nama Yosua muncul kali pertama di dalam Keluaran 17:8-16, dia adalah seorang jendral yang memimpin tentara Israel dalam peperangan melawan orang Amalek. Yosua adalah abdi Musa atau asisten Musa (Keluaran 24:13). Yosua bin Nun digambarkan sebagai sosok yang masih muda (Keluaran 33:11). Dalam Bilangan 13 Yosua adalah agen rahasia pengintai yang survey ke tanah Kanaan, pulang bersama dengan 12 pengintai untuk memberikan satu laporan. Sayang sekali laporan dari Yosua dan Kaleb adalah ‘minority report’ sehingga laporan mereka tidak diterima, karena suara mayoritas yang akhirnya kemudian didengar. Yosua juga diposisikan sebagai successor dari Musa di hadapan imam dan di hadapan segenap umat (Bilangan 27:18-23).

Di dalam Yosua 1, Yosua melihat dirinya sebagai abdi Musa, Musa yang pernah memimpinnya, Musa yang pernah berada di sampingnya, Musa yang kepadanya Yosua meminta nasehat, Musa yang kepadanya Yosua mendampinginya bersama di dalam perjalanan kerohaniannya dan perjalanan melayani mengikut Tuhan. Sekarang di dalam moment yang dihadapi Yosua, Alkitab katakan “Musa, hamba Tuhan itu sudah mati…” (Yosua 1:1-2). Sekarang Yosua harus menghadapi satu krisis kepemimpinan di dalam hidupnya. Yosua harus menghadapi satu fakta realita, Musa yang pernah berada bersama dia melayani  dia, Musa yang mendampingi dia, sekarang Musa, hamba Tuhan itu sudah mati.

Berapa besar dan berapa signifikannya Musa di dalam hidup Yosua dan di dalam sejarah dari Israel? Dari kitab suci kita akan menemukan hal-hal yang sangat besar di dalam diri Musa; tetapi dari kitab suci juga kita akan menemukan kalimat dari penulis Ibrani yang sangat penting pada waktu kita harus kilas balik melihat kepada sosok pribadi Musa atau pemimpin-pemimpin rohani kita. Penulis Ibrani mengatakan, “…perhatikan akhir hidup para pemimpin-pemimpin rohanimu, tetapi contohlah iman mereka…” (Ibrani 13:7b). Dua frase ini tidak boleh dipisah tetapi harus digabungkan karena ini adalah cara Tuhan mengajar kita memperhatikan hidup para pemimpin rohani kita dan mencontoh iman mereka. Musa berapa besar? Dalam Ulangan 34:10-12 dikatakan, “Tidak ada lagi yang seperti Musa, yang dikenal Tuhan berhadapan muka; tidak ada lagi nabi yang bangkit dari antara orang Israel dalam hal segala tanda dan mujizat yang dilakukannya atas perintah Tuhan…” Musa besar; Musa sangat signifikan. Tidak ada lagi yang seperti Musa, Alkitab beritahu kepada kita. Tetapi Musa yang besar, Musa sebagai seorang pemimpin yang dipakai Tuhan tetap Tuhan memberi catatan kaki tentang dirinya yang cacat di dalam rohaninya. Itu sebab meskipun Tuhan memberikan Musa melihat negeri itu terbentang di depannya tetapi Musa tidak boleh masuk ke sana.

Kita harus jujur sejujur-jujurnya melihat kejujuran dari kitab suci waktu membongkar kelemahan dan dosa dari semua orang saleh yang beriman kepada Tuhan. Kita tidak boleh mengabaikan hal itu.

Dalam Ulangan 32:51-52 dikatakan Musa telah berubah setia terhadap Allah di tengah-tengah orang Israel; Musa tidak menghormati kekudusan Tuhan di tengah-tengah orang Israel . Ini kesalahan yang begitu dahsyat dan begitu besar, tetapi Tuhan tidak tutupi. Sdr bisa lihat, sdr bisa baca, sdr bisa bayangkan seorang pemimpin besar mempunyai kecacatan rohani sedemikian. Bahkan pemazmur mencatat apa yang ada di dalam pergumulan diri Musa di dalam Mazmur 106:32-33,”Israel menggusarkan hati Musa dan memahitkan hatinya sehingga Musa teledor dengan kata-katanya.” Bacalah kitab suci, kita akan menemukan banyak kecacatan dari semua pemimpin-pemimpin rohani. bacalah kitab suci, kita akan menemukan banyak ketidak-sempurnaan dari hidup mereka pada waktu mereka berjalan mengikut Tuhan, melayani Tuhan, beriman kepada Tuhan. Ini fakta, ini satu hal yang harus kita pelajari, yang harus kita perhatikan, karena penulis Ibrani memberitahu kepada kita, perhatikan akhir hidup dari pemimpin-pemimpinmu. Tetapi penulis Ibrani juga memberikan pesan kepada kita, contohlah iman mereka. Imitate their faith, bukan mencontoh akhir hidup mereka; bukan mencontoh cacat rohani mereka; bukan mencela mereka; bukan mengejar kesalahan mereka. Karena Alkitab berpesan kepada kita, yang harus kita kejar adalah kejarlah kekudusan, karena tanpa kekudusan tidak seorang pun dapat melihat Allah (Ibrani 12:14). Dan penulis Ibrani mengatakan contohlah imannya Musa (Ibrani 12:24-30). Iman Musa adalah iman yang menyeberangi laut Merah, iman yang harus menanti Tuhan. Iman yang seperti ini ada pada kitakah? Iman yang seperti ini ada pada Gerejakah? Iman yang seperti apakah yang ada pada kita? Saya permisi tanya, kita mau mewariskan kepada generasi penerus kita, mewariskan kepada pelayan-pelayan yang akan datang melanjutkan pelayanan kita, kita akan mewariskan iman yang seperti apakah? Musa mewariskan iman yang akan melewati laut Merah, iman yang seperti biji sesawi yang hanya berharap kepada Tuhan, memandang kepada Dia yang tidak kelihatan, iman yang akan Musa wariskan kepada Yosua, iman yang tidak takut kepada murka raja, iman yang tinggalkan kesenangan Mesir, kenikmatan dosa demi menderita bersama umat Allah di padang gurun, iman itu yang akan dia wariskan kepada Yosua karena Yosua juga adalah seorang pemimpin yang harus mempunyai iman yang akan merobohkan tembok Yerikho, bukan dengan kekuatan manusia, bukan dengan cara manusia, tetapi beriman kepada perkataan Tuhan yang memberikan strategi peperangan itu kepada Yosua.

Pertama, Yosua harus menguburkan masa lalunya dengan Musa. Yosua harus meninggalkan masa lalunya dengan Musa. Tuhan sendiri sudah kuburkan hambaNya. Tuhan tidak pernah question, tidak pernah mempertanyakan pelayanan Musa. Karena dalam Yosua 1:1 “After the death of Moses, the servant of the LORD…” Tuhan sendiri mengkonfirmasi “Musa itu hamba-KU, Musa itu pelayan-KU…” (Yosua 1:2). Musa secara fisik tidak bisa masuk ke tanah perjanjian, tetapi Tuhan kasih dia melihat, memandang dengan indah, lalu Tuhan kuburkan dia, dan Tuhan berkata, “Mari masuklah hai hambaKu yang setia.” “Sebab itu bersiaplah sekarang untuk menyeberangi sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” Sekarang ini waktunya, dia harus menyeberangi sungai Yordan itu, ada pekerjaan Tuhan yang sedang menanti dan akan diberikan kepada Yosua.

Kedua, dengan iman Yosua menjalani lembaran yang baru. Di dalam Yosua 1 ini Tuhan memberikan janjiNya dan perkataanNya kepada Yosua sebelum dia masuk ke tanah Kanaan. Ada harapan di depan. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan dan Tuhan beritahu Tuhan menjanjikan itu semua kepada Yosua. Apa sajakah janji-janji  Tuhan baginya? Pertama, dalam Yosua 1:3-4 kita menemukan batasan teritori yang Tuhan Allah akan berikan kepada orang Israel. Tuhan memimpin mereka untuk menaklukkan tanah Kanaan itu. Kedua, dalam Yosua 1:5 kehadiran Tuhan dan kuasa Tuhan Allah diberikan kepada Yosua. “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu. Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. Aku tidak akan membiarkan engkaudan tidak akan meninggalkan engkau.” Kuasa dari Tuhan Allah, hadirat Tuhan, the presence of God, penyertaan Tuhan dijanjikan Tuhan kepada Yosua yang akan menjalankan misi dari Tuhan Allah sendiri. Ketiga, dalam Yosua 1:8 kita akan menemukan perjalanan yang akan berhasil dan engkau yang akan beruntung. Tetapi jangan berhenti di janjinya Tuhan karena janjinya Tuhan itu menuntut iman, menuntut akan respons baik dari Yosua dan juga respons dari kita sebagai umat Tuhan yang akan terus berpegang kepada janji Tuhan yang ada di dalam firmanNya. Tuhan memberikan janji kepada Yosua sebelum dia memulai dan menjalankan misinya; Tuhan juga memberikan satu perintah kepada Yosua berdasarkan apa yang Ia janjikan, apa yang harus dikerjakan oleh Yosua.

Tuhan itu setia akan janjiNya, tetapi responsibilitas Yosua jelas juga dipaparkan di sini. Pertama, pelajari kitab suci. “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini. Renungkanlah itu siang dan malam supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung…” (Yosua 1: 8).

Biografi para pemimpin yang tidak disensor, kehidupan orang Israel yang dipaparkan dan dibongkar kita bisa baca. Kehidupan orang Israel yang ditewaskan di padang gurun, penyembahan berhala yang dilakukan, imoralitas seksual yang mereka lakukan, sungut-sungut yang keluar dari mulut mereka, oleh Paulus dirangkum dalam 1 Korintus 10:11, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada jaman akhir yang telah tiba.” Please be very careful. Berhati-hatilah akan peringatan dari Tuhan. Peringatan itu kita akan alami pada waktu kita mempelajari kitab suci, pada waktu kita merenungkan akan firman Tuhan siang dan malam.

Kitab suci kalau lembarannya itu bersih, kita harus mencurigai bagaimana hati kita. Kitab suci kalau sdr coret, sdr catat lalu garis bawahi, lalu tahun kedua, sdr baca ulang lagi, lalu ketemu lagi ayat-ayat yang sudah digaris tadi, ayat yang telah Tuhan iluminasikan kepadamu, lalu Tuhan memberikan pengertian yang baru, sdr akan terus tidak habis-habisnya mendapatkan penghiburan kekuatan dan yang paling utama, hikmat, the wisdom dari Tuhan karena kitab suci adalah firman Allah. Dalam 2 Timotius 3:15-17 “…that the man of God maybe completed, thoroughly equipped for every goodwork.” Hikmat dari Tuhan, koreksi dari atas, didikan dari Tuhan, perbaikan kelakuan. Sdr bukan mendengar perkataan dari manusia tetapi otoritas adalah Tuhan, Pencipta yang kekal. Belajarlah kitab suci, belajarlah firman Tuhan. Jangan berhenti dan puas, bacalah kitab sucimu setiap hari 4 pasal dalam setahun selesaikan itu. Mari kita berjuang, mari kita katakan kepada Tuhan, saya ingin tahu isi hatiMu. Kalau sdr sebagai suami isteri sudah menikah puluhan tahun, sdr pasti banyak tahu isi hati dari pasanganmu. Sebaliknya sdr yang masih pacaran, sdr pasti tidak tahan dan sdr ingin tahu. Biasanya waktu pacaran, kalau satu hari tidak teks, pasti ada yang kurang, bukan? Relasi yang benar itu, tahu makin kurang kita ingin tambahkan. Relasi yang sehat itu adalah selalu ingin tahu masih banyak hal yang ingin aku tahu dari dirimu.

Waktu kita berelasi dengan Tuhan, yang adalah Sang Gembala yang baik, biarlah hati kita boleh terus menerus dan senantiasa berkata “Tuhan, aku ingin tahu isi hatiMu. kadang-kadang aku tidak mengerti apa yang Engkau katakan, tetapi tolong Tuhan, selama seumur hidupku aku ingin Tuhan bukakan mataku, bukakan mata hatiku, bukakan di dalam waktuMu yang indah bagiku. Masih banyak hal yang aku belum mengerti dari kitab suci ini.” Masih banyak hal yang menjadi rahasia yang boleh kita temukan di dalam kitab suci ini. Belajarlah akan kitab ini.

Kedua, pada waktu janji Tuhan diberikan kepada Yosua, kita juga akan melihat pesan dan prinsip penting adalah setelah mempelajari kitab suci, point yang kedua adalah kita harus taat kepada Allah, to obey God. “Janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri supaya engkau beruntung ke manapun engkau pergi” (Yosua 1:7). Kita harus ada ketaatan kepada Tuhan Allah pada waktu kita sudah mengerti akan firmanNya. Paulus memberitahu kita, dia mengikat dirinya di dalam kebenaran. Kebenaran itu menjadi ikat pinggangnya dia. Sebagai Gereja Tuhan yang mempelajari kitab suci, sebagai Gereja Tuhan yang mau taat kepada Tuhan, bolehkah saya pesan kepada kita, lakukanlah hal yang benar dengan cara yang benar. Do the right things in the right way!

Hari dimana Musa salah mengerti panggilannya, salah mengerti akan waktu Tuhan dan begitu marah, hari itu dengan tangannya sendiri dia bunuh orang Mesir (Keluaran 2:12). Akibat hari itu, Musa harus melewati 40 tahun sekolah di padang gurun untuk mengerat semua keangkuhan hidup dia yang ada di Mesir. Berjalan bersama Tuhan, taat kepada Tuhan itu bukan di sekolah teologi, tetapi di sekolah kehidupan, the school of life itu. Musa harus memahami apa yang dia mengerti, dia harus merenungkan itu berapa lama waktu Tuhan untuk dia, 40 tahun sekolah di padang gurun. Carang-carang yang tidak berbuah pada dirinya itu dikerat dipotong sedemikian rupa dan sedemikian lama di dalam waktunya Tuhan untuk dia dan anugerah Tuhan untuknya. Sehingga waktunya tiba Tuhan kembali memanggil Musa, mengutus dia untuk kembali ke Mesir membebaskan orang Israel dari perbudakan tangan Firaun. Itu adalah sekolah kehidupan Musa.

Kita semua masing-masing akan mempunyai sekolah kehidupan kita masing-masing, dan Yesus memanggil kita untuk menjadi murid kebenaran dan belajar akan kebenaran dan melakukan akan kebenaran. Kita adalah murid kebenaran, belajar kebenaran, melakukan kebenaran. Itulah the great commission, Amanat Agung yang Tuhan pesankan kepada murid-muridNya dan kepada GerejaNya pada hari sebelum Ia naik ke surga. “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu. Baptislah mereka dalam nama Allah Tritunggal dan ajarlah mereka melakukan segala ketetapan-ketetapanKu…” Sampai hari ini saya sangat digugahkan oleh kalimat ini. Menjadi seorang Kristen bukan hanya berhenti hari dimana kita beriman dan menyerahkan hidup kita kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Menjadi seorang Kristen hidup kita itu akan berbuah karena kita belajar kebenaran, kita dikuduskan oleh kebenaran, dan kita melakukan kebenaran itu. Dan Yesus berkata, “Aku mengutus engkau untuk pergi, Aku menetapkan engkau untuk berbuah. Buah yang engkau hasilkan itu adalah tetap (Yohanes 15:16). Kalimat-kalimat dari Yesus ini akan menggugah kita sebagai seorang Kristen, sebagai seorang murid Tuhan.

Terakhir, satu perintah dari Tuhan kepada Yosua, be strong and be courageous. Apa yang membuat kita berani di dalam dunia ini? Apa yang membuat kita berani untuk firm, untuk teguh, tidak digoncangkan oleh kanan dan kiri, oleh rupa-rupa angin pengajaran yang salah di dalam dunia ini? Tidak lain tidak bukan adalah setelah mempelajari kitab suci dengan tekun, lalu menjalankannya di dalam hidup kita, kita tidak akan takut karena yang kita kerjakan adalah yang benar. Kita tidak takut, kita berani karena kita pegang perkataan Tuhan dan kita melakukan hal yang benar di hadapan Tuhan dan kepada sesama, maka kita strong dan kita courageous. Alangkah indahnya hidup dari orang Kristen yang berjalan di jalan yang lurus. Alangkah indahnya orang Kristen yang bukan mencari wajah manusia tetapi yang mencari wajah Tuhan dan yang mencari kuasa dari Tuhan. Alkitab pesan kepada kita, “Seek ye My countenance and seek ye My power” (Mazmur 105:4). Kita tidak perlu mencari-cari kesalahan orang lain, kita bukan mencari-cari masalah, tetapi Alkitab pesan kepada kita, carilah wajah Tuhan. Waktu wajah Tuhan kita cari, kita akan Tuhan perkenankan. Waktu kuasa Tuhan kita cari, kita akan mempunyai kekuatan untuk boleh berjalan meskipun awan gelap dan hujan badai, kekuatan dan kuasa dari Tuhan itu menopang pribadi lepas pribadi kita dan Gereja Tuhan. Paulus berpesan kepada Timotius, “Kepadamu bukan diberikan roh ketakutan, tetapi Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7). Roh yang sama yang akan Tuhan karuniakan bagi kita sekalian, Roh yang memberi kekuatan, Roh Kasih, Roh yang membangkitkan ketertiban, Roh Allah sendiri berdiam di dalam diri kita sekalian.

Yosua akan berjuang di dalam perlombaan yang diwajibkan bagi dia. Yosua akan berlari-lari untuk mengakhiri pertandingan baginya dan mencapai garis akhir yang harus dia capai. Di kemudian hari kalau engkau baca seluruh kitab Yosua, di pasal 23 dan 24, engkau akan menemukan Yosua berpesan kepada orang Israel, pertama, “Jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri, lakukan apa yang Musa sudah tulis di dalam kitab hukumnya.” Kedua, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan, Allah yang sejati.” Sampai hari-hari akhir Yosua yang telah menutup masa lalunya dengan iman dan yang memulai lembaran yang baru dengan iman dan menjalani lembaran yang baru itu dengan iman. “Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibrani 12:1-2). Masing-masing daripadamu diwajibkan masuk ke dalam perlombaan. Bagaimana kita melakukannya? Penulis Ibrani mengajak kita, marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Karena hanya Yesus yang sempurna, hanya Yesus yang adalah Gembala yang baik, hanya Yesus yang akan menyempurnakan iman kita. Looking unto Jesus, the Author and the Finisher or the perfector of our faith. Kristus yang memulai iman kita, Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Hari dimana kita akan menghadap Dia, dan kita rindu hari itu kita bisa dengar kata-kataNya, “Mari masuklah, hai hambaKu yang baik dan setia.”(kz)