Bejana-bejana Tanah Liat

Sun, 24 Nov 2013 08:54:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Bejana-bejana Tanah Liat
Nats: 2 Korintus 4:1-18

Sejak awal Gereja Tuhan berdiri, Tuhan terus memanggil orang-orang yang telah ditebusNya dari jaman ke jaman untuk berbagian mengerjakan pekerjaan Tuhan yang terlalu besar adanya. Kita tidak mendedikasikan hidup kita kepada orang atau kepada satu lembaga. Kita mendedikasikan hidup kita kepada Tuhan. Tetapi kita manusia yang terbatas, kita mau mendedikasikan pelayanan itu bersama sebagai satu keluarga agar pelayanan bagi Tuhan itu kita kerjakan dengan spirit, dengan motif dan dengan cinta yang dipenuhi oleh kebenaran firman Tuhan.

Surat 2 Korintus adalah surat rasul Paulus yang begitu pribadi dan begitu personal kepada gereja Korintus yang dia dirikan dari awal; gereja yang penuh dengan masalah, gereja yang termakan isu dan gereja yang menolak dia. Tetapi di tengah dia menyatakan ekspresi hatinya, dari situ keluar mutiara-mutiara yang indah dedikasi pelayanannya, yang kiranya hari ini juga boleh menjadikan dedikasi hati kita di dalam pelayanan kepada Tuhan diperbaharui, menjelang kita memasuki tahun yang baru yang akan Tuhan berikan kepada kita, tahun yang tidak akan lebih lancar, tidak akan lebih mulus, yang ke depannya akan bagaimana kita tidak tahu, tetapi kita percaya biar firman Tuhan menuntun dan memelihara kita.

“Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kamu tidak tawar hati…” (2 Korintus 4:1). Paulus membuka pasal ini dengan berbicara kenapa dia mau menerima pelayanan dari Tuhan, bagaimana dia terima, siapa Tuhan yang dia layani, yang kemudian menjadi satu prinsip bagi seluruh pasal 4 ini bagaimana kita memahami pelayanan dengan sungguh dan dengan benar di hadapan Tuhan.

Dalam surat 2 Korintus kita menemukan Paulus menghadapi tantangan dan tuduhan yang tidak benar, yang tidak habis-habisnya datang kepadanya. Salah satunya adalah tuduhan originalitas posisinya sebagai seorang rasul, sebab dia bukan bagian dari 12 rasul yang pertama. Dan tidak henti-hentinya tantangan seperti itu dialami olehnya. Dia juga dianggap tidak lebih hebat daripada rasul Petrus, dia tidak lebih hebat daripada Apolos, dsb. Tetapi Paulus tidak ingin dibawa kepada perdebatan soal siapa yang lebih hebat, bagaimana soal status kerasulannya dari sudut pandang manusia. Selain itu Paulus juga mengalami tantangan-tantangan secara eksternal, penderitaan dipenjara, dipukuli, dilempari batu. Paulus mengalami bahaya yang terus-menerus mengancam jiwanya dari alam maupun manusia. Paulus mengalami kelaparan, kehausan, kedinginan (2 Korintus 11:23-28). Paulus harus menyebutkan beberapa semua hal yang dia alami di dalam pelayanannya supaya jemaat Korintus mengerti meskipun tidak dengan tujuan menyombongkan diri ataupun meremehkan pengorbanan kerja orang lain. Dari semua sudut itu mungkin kalau itu terjadi kepada kita bisa membuat kita quit dari pelayanan, give up dan berkata, “Sudahlah, terlalu berat tantangan hidup dari luar dan dalam seperti ini…” Tetapi Paulus dua kali mengatakan, “we do not lose heart, we do not lose heart” (2 Korintus 4:1 dan 16). Kami tidak akan pernah tawar hati, kami tidak akan pernah menjadi kecut, kami tidak akan pernah kehilangan keberanian. Tantangan dan kesulitan yang datang dari luar dan dalam tidak pernah menghancurkan Paulus, tetapi itu bukan karena dia lebih hebat, lebih kuat menghadapinya. Paulus mendapat kekuatan untuk menanggung semua itu karena dia membawa seluruh hidupnya kepada satu perspektif siapa Tuhan yang dia layani. Dan pada waktu dia melayani Tuhan, itu bukan karena dia bisa, dia mampu, dia lebih pandai, dia adalah lulusan sekolah Sanhedrin yang terbaik pada waktu itu. Tidak. Paulus berkata, “Karena kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini…”

Mengenal siapa Tuhan dan mengenal siapa diri akan menjadi satu kontras yang sangat penting. Kita bisa melihat kontras itu pada ayat 1 dan ayat 7. Ayat 1, Paulus menyatakan siapa Tuhan yang dilayaninya, ayat 7 Paulus menyatakan siapa dia, sebuah bejana tanah liat yang sederhana yang dipakai oleh Tuhan melayani Tuhan. Setiap kita pada waktu mendedikasikan hidup melayani Tuhan, kita harus berangkat dengan perspektif ini, bukan karena saya mampu dan bisa, tetapi semata-mata karena belas kasihan dan anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Paulus menyadari sungguh akan hal ini, maka dia mengatakan, “By the grace of God, I receive this ministry…”

Hidup kita hanya singkat dan sementara di dunia ini, waktu kita begitu terbatas. Kalau Tuhan memberikan dan mempercayakan tugas pelayanan di dalam waktu kita yang terbatas ini, biar kita tidak pernah menolaknya. Tuhan tidak akan memberikan panggilan untuk kita melakukan sesuatu yang kita tidak punya. Pada waktu kita memberi apa yang kita punya, kita selalu harus menghargai apa yang kita punya dan kita miliki pun adalah pemberian dan anugerah Tuhan. Tetapi pada waktu kita memberi sesuatu yang mungkin kita rasa tidak ada pada diri kita tetapi kita rela dan mau, bukankah akhirnya kita melihat bagaimana Tuhan memberi dan menambahkan begitu banyak karunia dalam hidup kita? Kita tidak boleh mengabaikan siapa yang kita layani harus menjadi prinsip yang penting. Allah yang telah memberikan segala sesuatu bagiku, kalau saya sanggup dan mampu, itu adalah pemberian dan anugerahNya. Mengerti siapa Tuhan yang kita layani akan memberikan kepada kita kekuatan yang besar dan kesungguhan yang dalam.

Yang kedua, Paulus juga membukakan mata Jemaat Korintus yang dilayani itu sesungguhnya apa? Yang dilayani itu adalah the Gospel of the glory of Jesus Christ. Ini Injil yang kita layani. Karena Injil inilah Paulus mengatakan, “Aku rela mati untuk Tuhan.” Karena Injil inilah kita bisa melihat Paulus berjalan pergi kesana kemari. Karena Injil inilah juga Paulus mengingatkan jemaat di Korintus mereka akan berbahagia jikalau Tuhan bisa membuka mata orang yang tadinya tertutup akhirnya bisa melihat keselamatan yang dari Tuhan. Karena itulah mari kita meresponi panggilan Tuhan dalam pelayanan ini dengan sepatutnya. Dari situ kita dibawa untuk menyadari siapa kita yang melayani menjadi begitu indah luar biasa.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami…” (2 Korintus 4:7). Siapa kita? Paulus menyebut dalam bentuk plural, itu berarti dia tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri tetapi dia juga berbicara tentang teman dan rekan kerjanya dan semua jemaat yang membaca suratnya. Pada waktu Paulus berbicara soal dia melayani Tuhan sampai hampir mati, dsb. dia tidak pernah melihat itu sebagai kekuatan dan jasa yang ada dalam dirinya tetapi dia sebut itu sebagai kekuatan yang melimpah-limpah dari Allah. Kenapa bisa seperti itu? Karena dia selalu tahu siapa dirinya dan tidak pernah mau merubah posisinya, dia hanyalah bejana tanah liat. Bejana itu cuma dari tanah liat, tidak ada harganya, namun di tangan Tuhan bejana tanah liat itu menjadi berharga bukan karena dirinya melainkan karena apa yang ditaruh di dalam bejana itu. Pada waktu Paulus menggunakan kata “bejana tanah liat,” berarti kita diingatkan selama-lamanya hidup kita tidak pernah Tuhan bikin sebagai barang antik yang mahal dan berharga. Kita harus selalu sadar kita hanya bejana tanah liat, yang menjadikan kebanggaan dan berharganya kita, dicintainya kita bukan karena bejananya tetapi karena apa yang ada di dalamnya. Bejana tanah liat, itu identitas kita, itu status kita. Sebagai barang yang sederhana, Tuhan ambil, Tuhan bersihkan, Tuhan sucikan, Tuhan taruh di hadapanNya kemudian Tuhan taruh segala yang berharga dan mulia di dalamnya. Bukankah ini akan membuat kita terkejut luar biasa? Siapa kita yang cuma bejana tanah liat Tuhan mau pakai seperti itu?

Yang kedua, Paulus memakai kata “bejana tanah liat” ini dalam bentuk Plural, the jars of clay. Di situ mengingatkan kita tidak bekerja seorang diri, kita tidak pernah menjadi superhuman. Tidak boleh ada satu orang yang mengatakan semua ministry yang ada ini karena dia semata-mata. Pada waktu Paulus mengatakan “the jars of clay” itu berarti dia memanggil semua orang Kristen, setiap kita, menjadi satu synergy yang terangkai bekerja dengan indah, bukan karena motornya saja, tetapi juga termasuk karena ada baut yang kecil, ada rantai, ada jalinan yang saling bekerja sama mengerjakan tugas panggilan dengan indah.

Sehingga pada waktu Jemaat Korintus mempertentangkan siapa yang paling hebat, siapa golongan siapa, Pauluskah, Apoloskah, Paulus menolaknya. Paulus mengatakan, kami semua adalah pelayan-pelayan Tuhan, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya (1 Korintus 3:4-9). Paulus mengingatkan, ada orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menanam, ada orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menyiram, ada orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menuai.

Dalam 2 Korintus 4:13 dalam terjemahan bahasa Inggris Paulus mengatakan, “Since we have the same spirit of faith…” Pertanyaannya, siapa yang dia maksud dengan “we” di sini? Apakah dia bicara tentang rekan kerjanya sajakah? Ataukah Paulus sedang berbicara tentang pelayanan secara luas? Kalau kita menafsir Paulus sedang bicara mengenai pelayanan dalam arti luas, “we have the same spirit of faith” berarti dia mau mengajarkan kita melihat pekerjaan Tuhan dan pelayanan Tuhan itu dengan satu hati yang luas, dengan satu jiwa yang lapang saling mendukung siapapun juga sebab kita memiliki roh iman yang sama di dalam pelayanan. Dengan kata lain, Apolos, Petrus, Barnabas, semua yang melayani, kita di sini, saudara kita di tempat lain, we have the same spirit of faith. Kita adalah bejana-bejana yang dipakai oleh Tuhan begitu banyak, dimana masing-masing mengerjakan tugas pekerjaan dan pelayanan. Kita adalah bejana-bejana yang memiliki the same spirit of faith dengan orang lain sebab pekerjaan Tuhan begitu luas, begitu besar, tidak akan mungkin bisa dikerjakan satu orang saja di dunia ini.

Kedua, setelah dia berbicara tentang siapa kita, Paulus berbicara tentang bagaimana cara kita melayani Tuhan. “Tetapi kami menolak segala perbuatan yang tersembunyi dan memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah” (2 Korintus 4:2). Dua kata penting muncul di sini menegaskan posisi Paulus melayani Tuhan, “we have renounced disgraceful things” dan “we refuse the cunning way of ministry.” Kalimat “we have renounced disgraceful things” memiliki pengertian bahwa Paulus tidak mau menaruh adanya motivasi yang tersembunyi di balik pelayanan. Tidak boleh ada udang di balik batu, betul-betul tulus mengerjakan pelayanan, tidak untuk maksud apa-apa di baliknya. Kalimat, “we refuse the cunning way of ministry” berarti Paulus tidak akan pernah men-justify sesuatu demi untuk mencapai tujuan tertentu. Kita baru akan memahami kenapa Paulus berkata seperti ini kalau kita mempelajari seluruh konteks dari surat Korintus, apa yang sedang terjadi di situ.

Dalam surat 1 Korintus Paulus mengindikasikan dia ada menulis surat sebelumnya (band. 1 Korintus 5:9), sehingga banyak penafsir bertanya, surat yang mana yang Paulus maksud? Apakah surat itu hilang? Ingatkan, jaman dulu surat ditulis berupa lembaran-lembaran yang tidak ada halamannya. Pada waktu surat-surat itu dikumpulkan, apakah surat yang Paulus sebut itu tercampur dengan surat 2 Korintus, sehingga ada beberapa penafsir yang mencoba melihat apakah 2 Korintus 10-12 itu kemungkinan adalah surat yang sebelumnya. Kenapa? Karena tone atau nada dalam bagian itu berbeda dengan 2 Korintus 1-9. Surat yang Paulus maksud itu adalah surat yang begitu keras, yang membuat Jemaat Korintus berduka dan menitikkan air mata sebab dia menulis seperti seorang ayah membawa cambuk mencambuk anaknya (band. 1 Korintus 4:21, 2 Korintus 7:8). Dari situ ada satu indikasi bahwa telah terjadi sesuatu di dalam hubungan Paulus dengan jemaat Korintus ini.

2 Korintus 10:1-2 Paulus membuka pasal ini dengan kalimat, “Aku, Paulus…” dengan tone yang berbeda, penuh dengan gejolak emosi yang sangat menyedihkan hatinya. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama-tama, Paulus mengalami attack secara pribadi dan attack itu sampai menjadi sangat besar, karena di antara Jemaat Korintus sampai beredar isu (2 Korintus 11:11). Rasul Paulus adalah yang mendirikan Gereja Korintus; rasul Paulus yang melayani mereka di situ (Kisah Rasul 18:1-11). Tetapi kita perhatikan, berbeda dengan di tempat-tempat yang lain yang Paulus layani, hanya di Korintus Paulus tidak mau terima uang dan membiayai hidupnya dengan membuat dan menjual tenda (Kisah Rasul 18:3), sedangkan di tempat-tempat yang lain Paulus menerima uang pelayanan. Korintus adalah gereja yang cukup lama Paulus layani dan tinggal bersama-sama mereka (Kisah Rasul 18:11). Tetapi ada isu yang beredar di antara jemaat Korintus yang terakumulasi dengan tuduhan Paulus sudah tidak mengasihi mereka lagi. Maka di sini Paulus memberikan pembelaan diri, “Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya!”

Yang kedua, kita menemukan terjadi sekelompok orang di Korintus melakukan “spiritual boasting,” dan dengan spiritual boasting itu menganggap pelayanan Paulus itu tidak ada apa-apanya, tidak memiliki level pelayanan spiritual yang sama dengan orang-orang yang membangga-banggakan diri itu. 2 Korintus 10:17-18 “Tetapi siapa yang bermegah hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan, sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.” Dan 2 Korintus 12:1 “Aku bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya…” Paulus bilang, kalau engkau memaksa aku untuk memegahkan diri, aku punya pengalaman spiritual yang jauh lebih daripada mereka. Tetapi Paulus tekankan segala boasting itu tidak ada faedahnya, tidak ada gunanya. Kelirulah kalau kita pikir pasal 10-12 ini adalah Paulus memegahkan diri dan pelayanannya. Di sini Paulus hanya ingin mengatakan isu dan tuduhan itu sama sekali tidak benar adanya.

2 Korintus 10:17-18 adalah prinsip yang penting, Paulus bilang, barangsiapa ingin bermegah, kemegahannya harus di dalam Tuhan; boasting in Christ. Maksudnya apa? Dijelaskan di ayat 18, “Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji melainkan orang yang dipuji Tuhan.” Yang Paulus maksud kita boleh bermegah di dalam Tuhan adalah kemegahan terjadi sebab Tuhanlah yang memuji orang itu waktu ketemu dengan Tuhan nantinya. “Hai hambaKu yang baik dan setia, masuklah…” Bukan orang itu memuji diri sendiri, melainkan orang itu dipuji oleh Tuhan. Dari dua bagian ini kita perlu melihat dengan jeli dan teliti apa yang Paulus katakan, kenapa kita harus renounced pelayanan yang menjelek-jelekkan orang lain; kenapa kita harus refused cara-cara yang tidak baik untuk kemudian melakukan sebuah pelayanan yang tidak dignify.

Ketiga, prinsip yang penting selama-lamanya kita melayani, kita tidak boleh kehilangan hati di dalam pelayanan. Berani dan terima pelayanan dari Tuhan sampai kehilangan nyawa sekalipun kalau perlu (2 Korintus 4:8-12).

Dalam Christian Post menceritakan begitu banyak hamba-hamba Tuhan yang ditangkap, dipenjara dan disiksa karena melayani; saudara-saudara kita di Korea Utara yang karena memiliki Alkitab akhirnya dieksekusi mati. Kita mungkin tidak mengalami hal-hal seperti itu, namun kalau sampai di dalam situasi seperti itu, siapkah kita? Masihkah kita bisa melihat dedikasi pelayanan kita kepada Tuhan sebagai satu dedikasi yang tidak pernah goyah, yang tidak pernah hilang hanya karena persoalan personal, situasi yang mengganggu hidup kita, kesulitan dalam pekerjaan kita, dsb, janganlah itu semua menjadi hambatan kita memiliki keberanian terus-menerus untuk melayani Tuhan.

Yang terakhir Paulus memberikan prinsip penting, dia melayani dengan sungguh sebab dia tidak pernah melihat apa yang kelihatan, tetapi selalu memperhatikan dan melihat yang tidak kelihatan. Sebab yang kelihatan itu adalah sementara sedangkan yang tidak kelihatan itu kekal adanya (2 Korintus 4:18). Prinsip ini mengingatkan kepada kita banyak hal yang kita kerjakan dan lakukan mungkin tidak bisa kita lihat hasilnya; banyak hal yang kita kerjakan dan lakukan mungkin pada waktu selama kita hidup belum bisa kita lihat sebagai suatu keberhasilan dan kita juga tidak boleh mengukur keberhasilan kesuksesan pelayanan seseorang hanya karena apa yang kita lihat. Kalau itu yang menjadi patokan kita, saya percaya terlalu gampang dan dan terlalu mudah menjadi lose heart. Mari kita selalu memperhatikan apa yang tidak kelihatan.

Misionari yang pergi pelayanan, di antara mereka ada yang sampai belasan bahkan puluhan tahun melayani tidak ada satupun yang menjadi percaya dan dibaptis. Tetapi sekalipun yang kelihatan seolah tidak ada hasilnya, kita tidak berhak dan tidak boleh mengatakan bahwa dia bukan seorang yang melayani Tuhan dengan setia dan baik. Hanya Tuhan yang berhak melihat dan menilai pelayanan dan kesetiaan seseorang. Nanti pada waktu kita bertemu dengan Tuhan kita akan kaget, dan saya juga bisa kaget, karena bisa jadi kita akan menemukan seorang encim yang sederhana dihargai dan dihormati Tuhan karena pelayanannya selama di dunia. Dan orang yang kita sangka berdiri di mimbar seperti saya ini lebih banyak dijewer oleh Tuhan daripada dipuji. Itulah sebabnya Paulus berkata, kita tidak boleh memperhatikan apa yang kelihatan, karena semua itu sementara. Kita harus terus memperhatikan apa yang tidak kelihatan. Biar hari ini kita membawa hati kita dan hidup kita di hadapan Tuhan dengan sadar sesadar-sadarnya, bersyukur untuk kesempatan boleh menjadi seorang pelayan Tuhan di dunia ini. Bersyukur karena itu adalah harta, itu adalah kemuliaan, itu adalah kemurahan Tuhan, itu adalah karunia yang datang ke dalam hidup kita, bejana-bejana yang hanya dari tanah liat ini. Walau dihempaskan, kita tidak menjadi hancur lebur; walau dibuang, kita tidak menjadi retak. Sebab kekuatannya datang dari Tuhan yang selalu menopang kita. (kz)