Bait Suci Allah yang Sejati

Sat, 02 Nov 2013 21:18:00 +0000

Pengkhotbah: Ev. Radjali Ramli MDiv.
Tema: Bait Suci Allah yang Sejati
Nats: Yohanes 2:13-22, Mazmur 63

 

Yohanes 2:13-22 ini adalah satu bagian dimana Yohanes mencatat peristiwa Yesus membersihkan Bait Allah di Yerusalem. Kata “Bait Suci” di ayat 13-18 itu dalam bahasa Grika memakai kata “hiron,” ini penting kita ketahui karena kata ini mewakili struktur, mewakili bangunan, mewakili organisasi. Tetapi kata “Bait Allah” di ayat 19-20 memakai kata “nahos” yang menggambarkan Allah memenuhi, Allah mendiami bait tersebut. Jadi bukan lagi membicarakan struktur, membicarakan organisasi, membicarakan bangunan yang mati atau tumpukan batu-batu, tetapi a place that God is dwelling. Yesus Kristus dengan teliti memimpin kita semua untuk memahami apa itu Bait Allah yang sejati.

Mendekati hari Paskah orang dari berbagai penjuru dunia pada waktu itu berbondong-bondong datang berbakti dan masuk ke Bait Allah di Yerusalem. Mereka akan berbakti kepada Tuhan di dalam peristiwa Paskah, peristiwa yang sangat-sangat besar di dalam sejarah hidup orang Israel karena Tuhan melahirkan mereka sebagai satu bangsa pada waktu mereka keluar dari perbudakan Mesir. Dalam keadaan yang seperti demikian ada kebutuhan yang sangat diperlukan oleh mereka di dalam ibadah yang ditetapkan oleh Hukum Taurat. Mereka harus memberikan persembahan di Bait Suci, dan pada waktu itu mata uang yang mereka miliki dari berbagai tempat asal mereka tidak bisa diterima secara ketetapan dari pihak otoritas Bait Allah. Maka mereka harus tukarkan mata uang mereka dengan mata uang resmi yang ditetapkan sebagai persembahan pada jasa penukaran uang (money changer) yang harus mereka bayar sesuai dengan kurs yang tidak bisa diganggu gugat. Orang yang miskin, rakyat jelata, orang yang mempunyai banyak, tetap harus mengikuti peraturan perbankan yang ditetapkan oleh Bait Allah. Bukan saja demikian, di dalam ibadah, mereka juga harus mempersembahkan korban persembahan berupa binatang. Dan binatang untuk korban persembahan itu harus diinspeksi oleh inspektur departemen kehewanan pada waktu itu. Kalau inspektur itu mengatakan binatang ini tidak lewat uji cacat, maka binatang yang dibawa atau yang sudah ada di tangan itu tidak bisa dikorbankan di Bait Allah, maka terjadilah jual beli binatang. Bayangkan umat Tuhan yang datang beribadah kepada Tuhan harus melewati hal-hal yang seperti ini. Dan otoritas Bait Allah, Hanas sang imam besar, pasti mengetahui akan semua hal ini, tetapi yang dia lakukan bukan membersihkan semua malpraktek dari koleganya, tetapi justru adalah permissive karena dia juga mendapatkan profit keuntungan dari tindakan para pengajar-pengajar kebenaran yang berada di sampingnya. Dengan alasan adanya kebutuhan para peziarah umat Tuhan yang mau datang menyembah Tuhan dengan kebutuhan mereka akan mata uang resmi dan kebutuhan mereka akan korban binatang persembahan yang harus diotorasikan diuji secara kelayakannya maka daerah ‘the court of Gentiles’ di Bait Suci itu atau pelataran tempat dimana orang Yahudi akan beribadah itu dialih-fungsikan dan peruntukannya dirubah menjadi tempat jual beli dan tempat penukaran mata uang resmi yang diakui oleh otoritas Bait Allah pada waktu itu.

Itu sebab pada waktu Yesus masuk ke Bait Suci, pada waktu mataNya menyapu seluruh ruangan pelataran Gentiles itu, pelataran yang seyogyanya diperuntukkan bagi orang non Yahudi untuk beribadah kepada Tuhan dan mengenal Tuhan, hari itu Dia melihat tempat itu menjadi “the house of merchandise.” Yohanes dengan teliti mencatat kalimat dari Yesus Kristus, “Do not make My Father’s House a house of merchandise!” Yesus mengatakan di bagian Injil Sinoptik, “Engkau menjadikan rumah doa Bapaku menjadi sarang penyamun!” Yesus mengetahui apa yang ada di balik dari setiap hati manusia. Yesus tidak bisa dikelabui dengan alasan kemudahan bagi jemaat, relevansi bagi jemaat, akhirnya kemudian merubah fungsi asali dari Rumah Bapa, dari Bait Suci, dari Bait Allah yang sesungguhnya adalah the place of worship.

Itu sebab setelah menelusuri latar belakang ini, kita masuk ke dalam point yang pertama yaitu Yesus mereformasi Bait Suci, mengembalikan fungsi asali Bait Suci atau Bait Allah yaitu ibadah kepada Tuhan, worship to God. Bait Suci bukan tempat berjualan, not the house of merchandise. Binatang dan suara orang hiruk-pikuk berjual beli telah menggantikan suara kebenaran yang harus terdengar oleh umat Allah. Suara binatang yang begitu riuh, begitu ricuh; demikian juga gemerincing dari uang logam dan keuntungan pribadi menjadi fokus dari para pelaku dan pemimpin organisasi. Yesus mengkritik pemimpin-pemimpin agama, “Engkau bukan cinta kebenaran, engkau adalah pecinta uang, the lovers of money.” Praktek cinta Tuhan, praktek kebenaran firman Tuhan tidak ada lagi. Bait Suci menghasilkan kebobrokan hidup dari para pemimpin agama. Yesus mengatakan dengan jelas angkatan pezinah ini menuntut satu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Yunus. Berarti Yesus mengatakan kepada mereka, “Bertobatlah kamu!”

Organisasi keagamaan bisa menjadi bobrok. Para pemimpin agama bisa menjadi bengkok hati. Engkau akan melihat betapa menakutkannya kalau yang namanya agama itu tanpa Tuhan yang sejati dan tanpa kebenaran yang sejati.

Itu sebab hari dimana Yesus masuk ke Bait Suci dengan semua struktur yang begitu megah, dengan semua batu tersusun diperuntukkan untuk beribadah kepada Tuhan, untuk berdoa kepada Tuhan, waktu Dia melihat seluruhnya itu sudah berubah fungsi, dialih-fungsikan dan peruntukannya sudah berubah, hari itu Dia mengambil cambuk dan dengan cambuk di tanganNya Yesus menyatakan kemarahanNya yang kudus. Yohanes dengan teliti mencatatnya, murid-murid mengingat kalimat yang ada di dalam kitab suci PL “Zeal for Your House has eaten Me up!” atau terjemahan lain, “consumed Me.” Cinta untuk RumahMu menghanguskan Aku (Yohanes 2:17). Kalimat ini muncul di Mazmur 69:10 “Sebab cinta untuk RumahMu menghanguskan aku dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.” Yesus menyatakan kemarahanNya yang kudus karena Allah telah dihina; Bait Allah, tempat pelataran the court of Gentiles itu telah didesakralisasi sedemikian rupa; Bait Suci ini telah didesakralisasi menjadi sarang penyamun.

Pada waktu kemarahan yang kudus itu Tuhan Yesus nyatakan, maka semua orang yang berjual-beli di meja penukar uang itu dirombak oleh Yesus Kristus. Kata “dirombak” itu adalah “dipreteli,” dihancurkan, dilepaskan dari ikatannya, ditunggang-balikkan semuanya. “Pergilah engkau! Bukan di sini tempatmu!”

Tempat yang kudus tidak boleh berubah fungsi. Holy sanctuary itu adalah tempat yang kudus yang didedikasikan untuk kita beribadah kepada Tuhan itu tidak bisa dialih-fungsikan. Di dalam the holy sanctuary, di dalam tempat yang kudus itu umat Tuhan datang kepada Tuhan untuk berdoa, untuk memuji Tuhan dan untuk memandang kepada Dia, Tuhan yang tidak kelihatan.

Worship itu bukan sesuatu yang ditempelkan ke dalam hidup kita. Ibadah kita kepada Tuhan itu bukan sesuatu yang optional boleh ‘ya’ boleh ‘tidak.’ Ibadah kita kepada Tuhan, bagaimana sikap kita, bagaimana cara kita untuk datang beribadah dan menyembah Dia, to worship Him, itu akan mempengaruhi seluruh hidup kita.

Kita menemukan keindahan yang luar biasa dari diri Daud dalam Mazmur 63. Latar belakang dari Mazmur ini adalah Daud dalam keadaan hancur hati karena Absalom, anaknya, mengkudeta dia. Dia harus kehilangan tahtanya, dia terusir dari istananya. Secara hubungan relasi ayah dan anak telah hancur. Orang mencibir dia sebagai orang tua yang tidak bisa mengajar anaknya, Absalom ini. Anaknya memperkosa isteri-isteri Daud dan tentara-tentaranya meninggalkan dia dan berpihak kepada Absalom. Daud dengan muka yang menunduk melihat ke tanah, berjalan keluar pergi dari istananya. Hatinya hancur, nyawanya terancam dan moment itu menjadi moment yang menakutkan karena musuh mengincar dia akan membunuh dia (ayat 10). Dengan kondisi jiwa yang gundah gulana, hati yang hancur, dan semua hal-hal yang eksternal dari ada menjadi tidak ada, dan relasi yang rusak, dan dengan satu kondisi yang menakutkan yang sedang dihadapi oleh Daud, saya permisi tanya, yang dia minta kepada Tuhan itu apakah? Dia berdoa minta Tuhan selamatkan dia atau justru dia berdoa, “Tuhan, Engkaulah yang ku ingini”? Ya Tuhan, Engkaulah Allahku. Dengan sungguh-sungguh aku hendak mencari Engkau. Jiwaku haus kepada Engkau, tubuhku rindu kepada Engkau, seperti tanah yang tandus tiada berair. Daud mengatakan satu kalimat yang terus menggugah hati saya sampai hari ini, “Your loving kindness is better than life.” Kasih setiaMu lebih baik daripada hidup. Daud merindukan Tuhan, dia ingin mengecap kasih setia Tuhan.

Sebagai orang Kristen kita bukan hanya mengenal Tuhan secara kognitif. Adalah baik dan harus kita belajar semua doktrin yang penting yang diajarkan di dalam kitab suci. Tetapi pemazmur berkata, “Kecaplah Tuhan, lihatlah bahwa Tuhan itu baik.” Berarti pada waktu kita mempunyai relasi dengan Tuhan ada pengalaman yang hidup bersama dengan pribadi Tuhan Allah yang hidup, di dalam relasi kita dengan Dia, mengalami Tuhan. Dan pemazmur memakai kata ‘kecaplah’, taste, berarti jiwa kita bisa merasakan, jiwa kita mengerti hari itu Tuhan menguatkan kita. Daud berkata, kedalaman jiwanya dikenyangkan oleh Tuhan sendiri, dan dia menggambarkan hal itu seperti dikenyangkan dengan lemak dan sumsum (ayat 6). Dan bukan saja demikian, yang dia pikirkan dan renungkan itu bukan lagi Absalom yang menjadi ‘tuhan’ Daud, bukan lagi musuh yang akan merongrong dia, dan siapa orang-orang di sekeliling dia yang mungkin akan menjual dia, itu semua bukan lagi menjadi ‘tuhan’ dalam hidup Daud. Ketika ketakutan itu sirna, ketika semua hal yang fana itu tidak lagi menjadi ‘tuhan-tuhan’ dalam hidup Daud, yang terjadi adalah “aku ingat kepadaMu di tempat tidurku, merenungkan akan Engkau sepanjang kawal malam…” (ayat 7). Jiwa Daud, mata hatinya memandang kepada Tuhan. Moment solitary itu, moment yang sendiri itu, moment dimana dia tertindas itu justru membuat dia bisa melihat dengan lebih jelas Tuhan yang tidak kelihatan dan kerohanian Daud dibangunkan. Itulah yang namanya kebangunan rohani pribadi. Daud mengingat hari-hari dia datang ke bait Allah bersama-sama dengan umat Tuhan beribadah kepada Tuhan. “Demikianlah aku memandang kepadaMu di tempat kudus sambil melihat kekuatanMu dan kemuliaanMu…” (ayat 3). Yang menguatkan Daud, yang membangunkan kerohanian Daud adalah ingatan, memori, pengalaman pada waktu dia beribadah di tempat kudus Tuhan. Di situ dia melihat Allah yang berkuasa dan Allah yang mulia, kekuatan dari Tuhan Allah dan kemuliaan dari Tuhan Allah.

Pemazmur memberikan kepada kita esensi dari ibadah. Barangsiapa melalaikan ibadah, barangsiapa sembarangan di dalam ibadah, kerohaniannya pasti rusak. Sejarah mengajarkan kepada kita pada waktu institusi dari Gereja menjadi begitu bobrok, dimana suara manusia menjadi lebih absolut daripada suara kebenaran dari Tuhan Allah sendiri yang menyatakan firmanNya di dalam Alkitab, hari itu umat Tuhan hidup di dalam kegelapan. Sejarah mencatat hari dimana institusi sudah menjadi tuhan atas umat Tuhan, hari itu umat Tuhan hidup di dalam kegelapan. Bersyukur di situ Tuhan membangkitkan pelayan-pelayan Tuhan, orang-orang Kristen yang teliti membaca kitab suci lalu kemudian menempatkan pada tempatnya Alkitab sola scriptura, menempatkan pada tempatnya ibadah yang benar, ibadah yang sejati adalah fokus kepada Tuhan dan firmanNya dan umat Tuhan dengan penuh sukacita menghampiri tahta Tuhan, memuji Tuhan dan jiwa kita itu diangkat untuk menyatakan penyembahan kita, adoration kita dan Tuhan memenuhi hati kita dengan firmanNya dan dengan kasih setiaNya. Di situlah kita bisa mengecap bahwa Tuhan itu baik adanya.

Kedua, kita akan memahami pernyataan Yesus Kristus pada waktu Ia berkata, “Rombaklah Bait Allah ini dan pada hari yang ketiga Aku akan membangunnya kembali.” Kata “Bait Allah” di sini bukan lagi memakai kata “hiron” tetapi memakai kata “nahos.” Kalimat dari Yesus Kristus ini tidak dimengerti oleh orang-orang. Maka respons mereka mendengar kalimat Yesus, “Empat puluh enam tahun orang membangun bait ini dan Engkau mengatakan dapat membangunnya kembali dalam tiga hari?” Tetapi Yohanes dengan teliti mengatakan yang dimaksud Yesus dengan Bait Allah adalah tubuhNya sendiri (ayat 21). Teks ini menyatakan bukan saja Yesus mereformasi struktur bait Allah yang telah mengalami dekadensi saja, tetapi Yesus juga mau memberitahu kita institusi dan sistem korban dari PL itu akan diganti dengan yang baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Korban persembahan tidak lagi diperlukan karena Yesus sendiri yang menyatakan diriNyalah, tubuhNyalah Bait Allah dan Dia sendiri yang akan mengorbankan diriNya sebagai Anak Domba Allah yang disembelih yang tidak bercacat cela, yang akan dipaku di atas kayu salib. Paku tembus kepada tangan dan kakiNya, mahkota duri menembus kepalaNya dan seluruh tubuhNya penuh dengan bilur. Yesus tertikam karena pemberontakan kita, kejahatan kita ditimpakan kepadaNya dan diriNyalah yang akan memperdamaikan umat Tuhan dengan Bapa di surga. Kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati memberikan kita hidup yang baru, hidup yang kekal. Dan Yesus mengatakan dengan begitu jelas, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Bukan lagi struktur Bait Suci, “hiron,” tetapi dirinya Yesus Kristus, Dialah Bait Allah yang sejati. Hari dimana Yesus bangkit dari antara orang mati, the Eternal Temple, dirinya Yesus Kristus menjadi Pengantara umat Allah akan memanggil “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah namaMu…”

Rasul Paulus kemudian hari memunculkan pikiran yang begitu indah pada waktu dia mengatakan kita adalah bait-bait Allah. Paulus berkata, “Apakah hubungan Bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut  firman ini, ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka. Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu…'” (2 Korintus 6:16). Kita adalah bait-bait Allah yang hidup. Tubuh ini adalah bait Allah dimana Roh Allah berdiam di dalam diri kita. Hari dimana kita datang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, beriman bahwa Ia telah mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga, dan memahami bahwa kita adalah orang berdosa yang harus binasa dan kita datang dengan hati yang hancur memohon pengampunan dosa kepada Tuhan, lalu serahkan hati dan hidup kita kepada Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat, hari itu Roh Kudus dikaruniakan kepada kita, Roh Allah berdiam di dalam hidup kita. Pertanyaan saya, apa yang terjadi pada bait-bait Allah ini, pada engkau dan saya? Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat menyembah Allah, Bait Allah yang seharusnya menyatakan kesucian Tuhan, Bait Allah yang seharusnya menyatakan kebenaran dari firman Tuhan, apakah kita berani meminta kepada Tuhan Yesus Kristus, “Tuhan, bawalah cambuk dan cambuklah aku, supaya aku bersih. Tahirkan dan bersihkanlah hatiku, karena aku sadar banyak hal yang ada di dalam diriku yang mendukakan hati Tuhan.”

Markus 7:19-23 adalah bagian yang sangat penting di dalam hidup kita sebagai orang Kristen, kalimat dari Yesus Kristus. Bait Allah ini senantiasa perlu dibersihkan. Rasul Yohanes, orang yang sama yang menuliskan Yesus menyucikan Bait Allah itu, mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9). Pada waktu Yesus datang dengan cambukNya untuk mencambuk kita, untuk membersihkan baitNya Allah yaitu diri kita, terimalah hajaranNya sebagai disiplin dari Bapa kepada anak-anakNya yang penuh dengan kasih. Itu hal yang akan menguduskan kita.

Murid-murid mengerti kalimat dari Yesus Kristus, “Rombaklah Bait Allah ini dan pada hari yang ketiga Aku akan membangunnya kembali,” mereka mengerti akan rahasia perkataan Yesus yang ada di dalam kitab suci yaitu bahwa Ia sedang berbicara mengenai kebangkitanNya dari antara orang mati. Tanda yang Yesus berikan kepada murid-murid supaya orang boleh percaya kepada Dia bukan mujizat secara fisik tetapi suatu tanda yang ultimate yang dicatat oleh Injil Yohanes yaitu kebangkitanNya. Tubuhnya yang tidak bisa binasa yaitu tubuh kebangkitan yang mulia, itulah tanda bagi semua manusia yang belum kenal Tuhan supaya boleh mengenalNya.

 

Sebagai bait-bait Tuhan yang kudus, kita percaya Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita senantiasa hidup di dalam segala kemunafikan dan kegelapan. Hari ini biar cambuk Tuhan yang kudus itu boleh menyucikan hidup dan pelayanan kita. Kita siap sedia supaya hidup kita, pelayanan kita hanya ingin memuji dan memuliakan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang agung dan sentral di dalam hidup kita lebih daripada segala-galanya. Kita rindu bait-bait Tuhan ini menjadi tempat doa yang agung dan mulia bagi pekerjaan Tuhan keluar dari hidup pelayanan kita masing-masing. Kiranya Tuhan menyucikan dan memurnikan kita supaya kita terus membuktikan di hadapan Tuhan kita milik Tuhan selama-lamanya, semakin dimurnikan, semakin indah dan bercahaya. Kita ingin menjadikan Tuhan segala-galanya bagi hidup kita.(kz)