Khotbah Dedikasi Gereja RECI Sydney

Sun, 27 Oct 2013 11:07:00 +0000

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tema: The Lord is My Chosen Portion
Nats: Filipi 4:2-7; Mazmur 16

Setiap orang pernah mengalami prahara di dalam hidupnya. Prahara itu begitu kuat memutar, menjungkir-balikkan semua yang ada, menggoncangkan pijakan kaki kita. Di dalam pusaran prahara itu kita tahu dan sungguh menyadari betapa kecil dan lemahnya dan tidak sanggupnya kita boleh memegang apa yang ada di dalam hidup kita. Di saat seperti itu, apa yang kuat, yang tak tergoyahkan, yang mampu menahan kita dan memberikan kekuatan memelihara kita melewatinya? Hanya firman Tuhan. Kenapa harus firman yang menjawab prahara hidup kita? Sebab tidak ada kesulitan, tidak ada permasalahan yang terjadi dalam hidup kita pribadi lepas pribadi yang tidak pernah tercatat di dalam Alkitab. Itulah sebabnya Alkitab memberikan kekuatan dan jawaban itu kepada kita.

Alkitab mencatat prahara yang dialami seorang ayah yang harus menangis dan berpuasa di hadapan Tuhan memohon karena dia tidak sanggup menanggung akibat daripada perbuatan dosanya bayinya harus mengalami sakit dan akhirnya meninggal dunia. Itulah raja Daud. Alkitab mencatat prahara yang dialami seorang janda yang harapan satu-satunya adalah anaknya yang tunggal, yang masih remaja dan masih ada masa depan, tetapi anak itu meninggal dunia. Alkitab mencatat begitu banyak prahara demi prahara. Prahara dari seorang yang cinta Tuhan, tidak ada cacat cela di dalam hidupnya, orang yang melihatnya mengakui betapa diberkatinya dia, sampai suatu hari anak-anaknya meninggal, semua harta bendanya habis. Belum lagi dia pun kehilangan kesehatannya dan isterinya mengutukinya. Betapa cepat situasi itu merubah persepsi orang yang kemudian mengatakan dia dikutuk Tuhan. Itulah Ayub. Alkitab juga mencatat ada prahara di dalam pelayanan, perselisihan yang tidak bisa diselesaikan antara Paulus dengan Barnabas yang menyebabkan mereka harus menjalani jalan yang berbeda. Filipi 4 juga mencatat ada Euodia dan Sintikhe yang mengalami perselisihan dan disagreement yang sangat besar di antara mereka.

Hari ini biar hati kita itu dihibur oleh firman, sebab tidak ada persoalan permasalahan yang real terjadi di dalam hidup kita yang Allah tidak tahu. Dan tidak ada kesulitan dan persoalan di dalam hidup kita yang tidak mendapatkan jawaban kekuatan dan penghiburan yang sejati kecuali kita kembali kepada firman Tuhan. Biar hari ini firman itu berbicara di dalam hati kita masing-masing.

Gereja yang indah dan baik, gereja yang penuh dengan sukacita, salah satunya adalah gereja Filipi. Surat Paulus yang mana lagi yang lebih banyak berbicara tentang sukacita, selain daripada surat Filipi ini? Tetapi di tengah kesuksesan dan sukacita dari jemaat ini menyimpan kedukaan yang tidak pernah diselesaikan. Kedukaan yang begitu besar, konflik yang begitu besar, begitu pahit sehingga sampai akhir Euodia dan Sintikhe, dua wanita yang prominent dalam jemaat Filipi tidak bisa akur satu sama lain. Terhadap situasi seperti itu Paulus membawa jemaat, membawa Eudia dan Sintikhe naik ke atas, bukan melihat yang di bawah, bukan melihat yang ke belakang, supaya melalui itu mereka bisa melihat dengan lebih jelas apa yang harus anak-anak Tuhan kerjakan di depan.

Paulus berkata, “Euodia dan Sintikhe kunasehati supaya sehati sepikir dalam Tuhan…” to agree in the Lord (Filipi 4:2). Euodia dan Sintikhe mungkin sampai akhir hidupnya tidak bisa “agree together” tetapi Paulus memanggil mereka untuk “agree in the Lord.” Paulus tidak memaksa mereka rekonsiliasi, Paulus tidak meminta mereka “agree together,” Paulus tidak mempersalahkan disagreement yang terjadi antara dua wanita ini. Kita punya Tuhan yang sama, meskipun kita punya gereja yang berbeda. Kita punya Tuhan yang sama, meskipun kita punya pelayanan yang berbeda. Kita punya Tuhan yang sama, meskipun kita punya pekerjaan yang berbeda. Di dalam semua itulah kita melihat betapa indahnya kita di dalam anugerah Tuhan boleh agree in the Lord.

Kedua, ayat 3 dalam terjemahan bahasa Inggris lebih jelas, “… who have laboured side by side in the Gospel…” Paulus meminta Euodia dan Sintikhe bukan lagi bicara ‘whose in my side’ tetapi masing-masing “side by side in the Gospel.”

Suami isteri bisa mengalami konflik; rekan kerja bisa mengalami konflik; situasi pekerjaan kita bisa menciptakan konflik. Namun pada waktu seperti itu, ketika kita berjabat-tangan di tengah ketidak-mampuan kita menyelesaikan konflik itu, maka kita tarik hidup kita dengan firman Tuhan yang indah. Hanya firman yang memberikan kita penghiburan bahwa kita sama-sama berada di dalam Injil yang sama, “side by side in the Gospel.”

Ketiga, “…together with Clement and the rest of my fellow workers whose names are in the book of life…” Sebagai gembala yang hadir ‘in flesh’ di tengah-tengahmu, saya hadir sebagai pelayanmu dan gembalamu 14 tahun lamanya. Hadir ‘in flesh’ berarti engkau melihat aku sebagai seorang pribadi yang mempunyai kebaikan sekaligus juga mempunyai kekurangan. Semua kekurangan itu jika dikumpulkan bisa menjadi sebuah buku yang tebal. Dari semua yang saya layani, ada yang sudah pindah kota, ada yang pindah gereja, dsb. Hari ini apakah saya kehilangan? Jawabannya, tidak. Sebab di dalam buku kehidupan Tuhan nama orang itu tidak hilang.

Betapa indah firman Tuhan ini, “agree in the Lord, side by side with the Gospel, and whose names are in the book of Life.” Saya menangis kalau karena hidupku, tutur kataku, orang yang baru datang ke gereja akhirnya pergi dan menjadi orang yang tidak percaya Tuhan; kalau dia menjadi ateis karena tersandung hidup kita, di situ kita kehilangan. Tetapi pada waktu dia tidak berbagian di dalam hidup dan pelayanan kita sama-sama, kita tidak pernah kehilangan karena pekerjaan dan nama Tuhan tetap ada di dalam hidup orang itu. Kita tidak kehilangan dia, sehingga kita tidak perlu sedih dan kecewa dan merasa kehilangan. Dengan firman inilah Paulus memberikan kekuatan kepada gereja Filipi, “Please agree in the Lord, please walk side by side with the Gospel even though you cannot reconcile again, and remember your names are in the book of Life.” Di situlah kita menikmati indahnya firman. Bukan saja keterhilangan orang yang dekat dengan kita, tetapi juga pada waktu sdr kehilangan suami atau isteri ketika mereka mendahului kita meninggal dunia dan kembali kepada Tuhan, biar firman ini juga menghibur hati kita. Pada waktu kita kehilangan harta, kehilangan nama baik, bahkan kehilangan nyawa kita karena Injil Kristus, kita tidak kehilangan semua itu. Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa yang karena namaKu kehilangan nyawanya, dia tidak akan kehilangan itu karena dia akan mendapatkannya kembali.” Itu perspektif surgawi. “Barangsiapa habis segala-galanya demi namaKu, dia tidak akan kehilangan hal itu karena Aku akan memberikan berlipat ganda.” Itu perspektif surgawi. Di situlah hati kita limpah di tengah segala ketidak-mampuan kita memahami apa yang terjadi di dalam hidup kita.

“Rejoice in the Lord always, and again I said, rejoice!” (Filipi 4:4). Orang sering mengutip dan mencuplik ayat ini menjadi ayat favoritnya, namun jujur mungkin dipahami dengan shallow. Tetapi pada waktu kita menaruh ayat ini di dalam konteks konflik, bukankah di situ kita baru menyadari betapa sulit, bagaimana bisa saya ‘rejoice in the Lord’? Itu hanya bisa terjadi pada waktu engkau melihat dari perspektif firman. Bagaimana kita bisa rejoice in the Lord, kalau kita kehilangan harta benda? Bagaimana engkau bisa rejoice in the Lord pada waktu kesehatanmu merosot? Bagaimana engkau bisa rejoice in the Lord pada waktu engkau menghadapi kesulitan di dalam hidupmu? Bagaimana engkau bisa rejoice in the Lord pada waktu engkau ditangkap karena memberitakan Injil? Bagaimana engkau bisa rejoice in the Lord pada waktu engkau mengalami kesulitan dan konflik? Bagaimana engkau bisa rejoice in the Lord pada waktu anak dan isteri kita tidak mengerti kehidupan dan panggilan seorang ayah untuk menjadi hamba Tuhan? Bagaimana kita bisa rejoice in the Lord di dalam semua itu? Barulah kita menyadari bahwa firman ini hanya bisa alami, kita lakukan, kita kerjakan di dalam hidup ini kalau kita dimampukan Tuhan melihat dari perspektif surga melihat ke bawah.

“Let your reasonableness be known to other…” (Filipi 4:5). Bukan saja bersukacita, Paulus memanggil kita menjadi seorang yang indah, yang gentle, in the sense kita menjaga hati, hidup dan diri kita. Jangan biarkan situasi yang kita alami membuat hidup kita menjadi pahit, marah dan geram. Jangan biarkan situasi yang kita alami membuat kita kehilangan keindahan karakter seorang anak Tuhan. Kenapa? Karena “The Lord is at hand…” Kalimat ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Tuhan sudah dekat,” seolah mengacu kepada kedatangan Tuhan Yesus kali yang kedua. Tetapi biar ayat ini kita mengerti Tuhan yang mengontrol segala sesuatu di dalam tanganNya yang kuat dan berkuasa.

Mazmur 16:5, Daud mengatakan, “The Lord is my chosen portion…” Engkau sendirilah yang meneguhkan bagianku yang diundikan kepadaku. Kalimat Daud ini menyadarkan kita kadang-kadang kita berada di dalam situasi dimana kita tidak sanggup mengontrol apa yang terjadi; di situ kita tidak sanggup bisa melihat apa yang ada di depan; di situ kita tidak sanggup memegang dan menggenggam apa yang terlepas dari tangan kita. Tetapi syukur dan puji Tuhan, kita diingatkan tidak perlu merebut apa yang Tuhan memang sudah berikan kepada kita sebagai milik kepunyaan kita.

Kisah Yakub yang menipu Esau untuk mendapatkan hak kesulungan adalah satu hal yang sesungguhnya tidak perlu Yakub lakukan karena Tuhan memang memberikan hal itu kepadanya. Akibat ingin merebutnya maka dia kehilangan segala-galanya. Pada waktu seperti itulah kita baru sadar tidak ada hal yang perlu kita pegang erat-erat, tidak ada hal yang perlu kita genggam, jikalau itu bukan dari Tuhan. Ketika kita kehilangan segala sesuatu, biar Mazmur 16 ini juga mengingatkan kita keindahan firman Tuhan ini. “Tali pengukur bagiku jatuh di tempat-tempat yang permai…” (ayat 6). Di situ kita menikmati kepuasan sebab kita menikmati bagian dari milik kita yang Tuhan berikan untuk kita. Pada waktu engkau terus berjuang ingin menggenggam semua dengan segala cara, kalau itu bukan menjadi bagian yang Tuhan beri, itu tidak akan menjadi milikmu.

“Janganlah kuatir atas apapun juga, bawalah itu di dalam doa permohonanmu dengan ucapan syukur kepadaNya…” (Filipi 4:6). Dia ada di dekatmu, Dia sanggup menolong engkau dan saya. Dia hanya sejauh nafas doamu kepadaNya, Dia bukan sejauh bintang dan galaksi di angkasa raya. Kuatirmu, takutmu, kesedihanmu, kekecewaanmu, tantangan yang engkau hadapi, ketidak-mampuanmu berjalan ke depan, semua hanya bisa ditenangkan, dihibur, dikuatkan dan disembuhkan dengan firman Tuhan dan nafas doamu kepadaNya. Di situ kita berserah, berserah sepenuhnya kepada Tuhan.

“The Lord is at hand” itu berarti Dialah yang berdaulat penuh. Dia berdaulat berarti satu pengakuan kita tidak sanggup dan tidak mampu mengontrol. Dia berdaulat berarti satu pengakuan di saat kita hanya bisa melihat baik atau buruk, sukses atau gagal, yang kita dapat dan yang hilang dari hidup kita, semua itu dari perspektif kita yang sangat terbatas adanya. Tetapi menyadari “God is at hand” berarti kita akan mengakui kalimat dari Roma 8:28, “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi semua orang yang mengasihiNya dan yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya.” Pada waktu kita tidak bisa melihat bagaimana perjalanan di depan, firman Tuhan mengangkat hati kita sehingga kita bisa berkata, Tuhan, aku percaya Engkau bekerja sepenuhnya bagi hidupku, dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagiku. Di situlah hati kita menjadi soothing dan lega. Di situlah hati kita menjadi teduh dan tentram dan tidak ada kesedihan oleh sebab engkau dan saya gagal di dalamnya. Karena ketika nanti kita menengok ke belakang apa yang terjadi ini engkau akan berkata, “Tuhan, saya sungguh menyadari Engkau sungguh campur tangan dan sempurna mengatur segalanya dengan indah. Biarlah ayat ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi engkau dan saya di dalam kita mengalami dan menghadapi berbagai prahara pergumulan badai dan turmoil di dalam hidup ini.

“The peace of God which trespasses all understanding will guard your heart and your mind in Christ Jesus…” (Filipi 4:7). Pada waktu kita melihat gejolak hati kita, kesulitan kita, firman ini kemudian menjadi kekuatan bagi kita. Bagaimana bisa di dalam kuatirku aku mendapat peace? Bagaimana bisa di dalam kesulitanku aku mengalami peace? Bagaimana bisa kita melewati semua ini tanpa kesulitan dan air mata? Kecuali ayat ini sekali lagi mengangkat kita naik ke atas, meletakkan semua itu di dalam perspektif mata Tuhan menuntun the state of our mind and our heart.

Pemazmur berkata, “Biar segala sesuatu di sekitarku bergoncang, aku tidak akan goyah sebab Allah ada di sisiku. Ia tidak akan membiarkan orang-orang yang tulus hati melihat corruption…” (Mazmur 16:10). Kiranya damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Kita tidak mengerti, kita tidak sanggup bisa memahami, kecuali kita meminta Tuhan memampukan hati kita menjadi tenang dan biar damai sejahteraNya beserta dengan kita masing-masing. Pada waktu kita melihat damai sejahtera shalom itu hadir memenuhi kita, barulah Tuhan berkata, biar shalom itu menjadikan apa yang keluar dari hati dan hidupmu indah adanya dalam bereaksi terhadap semua ini.

Tidak ada orang yang sanggup dan mampu mengatur, menggerakkan, mendesak apa yang akan keluar dari hati kita. Ayat ini mengatakan, kitalah yang harus menjaga, memberi boundary, membatasi apa yang keluar dari hati dan pikiran kita. Guard your heart and your mind.

“The Lord is my chosen portion” kalimat pemazmur itu adalah satu keputusan hidup yang penting di dalam hidup seorang anak Tuhan. Kita galau, kita kuatir, kita sedih, kita kecewa di dalam setiap situasi hidup kita sebab kita tahu betapa sulitnya kita memutuskan apa yang perlu kita pilih di dalam hidup ini.

Ketika kita melihat terlalu besar tawaran dari illah-illah yang ada di sekitar, kesuksesan yang ditawarkan karena mengikuti illah dan berhala yang lain karena berkaitan dengan berbagai hal yang bisa didapatkan, dalam kontras itulah pemazmur mengatakan dengan sukacita dan tenang biar engkau mengambil keputusan untuk memilih Tuhan menjadi pusaka hidupmu selama-lamanya dan pilihan itu menjadi pilihan yang indah dan tidak bersalah dan tidak akan pernah engkau sesalkan di dalam hidup ini.

Itulah sebabnya pada waktu situasi demi situasi terjadi di dalam hidup ini, Paulus mengajak kita melihat terang firman Tuhan, “Guard your heart and guard your mind…” Jangan keluarkan kata-kata marah kepada Tuhan karena kata-kata itu keluar di dalam ketidak-mengertianmu akan bagaimana Tuhan bekerja. Guard your heart and mind berarti dengan tegas engkau menaruh satu boundary, satu batasan, saya tidak akan cross boundary dan batasan itu. Guard your heart and mind berarti kita tidak mau melangkah dan melakukan sesuatu yang akhirnya merugikan diri kita dan diri orang-orang lain di tengah ketidak-mengertian kita, di tengah kesulitan kita. Guard your heart and mind berarti kita mengambil satu keputusan, aku akan membenahi hidup pelayananku, aku mau memakai mimbar dimana aku berdiri berkhotbah menjadi mimbar yang sakral memberitakan firman. Jikalau saya sudah tidak guard mimbarku seperti itu, saya bukan lagi seorang pelayan Tuhan yang baik. Saya ambil keputusan untuk tidak akan melewati batasan, saya menjaga dignitas panggilan Tuhan di dalam pelayananku sebagai hambaNya. Saya tidak akan membesarkan pelayananku dengan cara menjelekkan pelayanan orang lain. Saya tidak akan menarik hati orang dengan mencemooh pelayanan orang lain. That’s how I guard my heart. “Pada malam hari firmanMu menjadi penasehatku, dan hati nuraniku mengajari aku…” (Mazmur 16:7). Saya akan guard pelayananku dengan hati nurani yang bersih. Kalau saya tahu saya tidak lagi bersih dan hati nuraniku menegur aku, aku rela berhenti menjadi hamba Tuhan.

Biar firman Tuhan yang kita renungkan ini menjadi a sense of closure di dalam hati kita masing-masing. Kita tidak kehilangan apa-apa kalau the peace of God memerintah dan memimpin hati kita. Pekerjaan Tuhan akan jalan dengan indah dan baik, kita lihat semua dari firman yang memimpin. Masing-masing hati kita indah dan terbuka dipimpin oleh Tuhan. Masing-masing orang melayani dengan indah di dalam hidupnya, menggunakan segala karunia dan bakat yang Tuhan beri kepadamu. Di situlah kita berbahagia bersama dengan Tuhan.

“Agree in the Lord” bukan hanya hari ini saja, tetapi hari-hari ke depan kita akan menghadapi masalah dan tantangan yang sama, karena masing-masing kita berbeda. Tetapi dengan diingatkan kita “agree in the Lord, side by side with the Gospel, biar the peace of God menuntun hati kita, mulut kita, kelakuan dan tingkah laku kita, dengan tenang kita percaya God is at hand. Tuhan kontrol, Tuhan berdaulat, Tuhan kerjakan segala sesuatu untuk mendatangkan keindahan bagi kita semua.

Bersyukur untuk firman dan hanya firman Tuhan yang teguh dan indah yang memimpin perjalanan iman kita. Bersyukur untuk firman Tuhan karena di dalamnya firman itu berbicara mengenai keindahan, keagungan, kemuliaan, kasih, kesucian dan keadilan Tuhan yang mencerahkan hidup kita sebagai manusia yang kecil, lemah, penuh dengan cacat cela, dosa dan kekurangan. Di situlah kami ingat Tuhan adalah TUHAN dan kita hanya manusia yang biasa dan sederhana. Kiranya Tuhan memimpin hidup, pekerjaan dan pelayanan kita, semuanya ada di dalam tangan kasih setia Tuhan.(kz)

Click here for video