14. Warisan Kualitas Hidup yang Berharga

24/6/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (14)

Nats: 2 Timotius 3:10-13

 

Setiap kali anak kita ditanya oleh guru di sekolah, “Nanti kalau sudah besar kamu mau jadi apa?” Ini adalah pertanyaan yang ingin meng-encouraged mereka. Saya percaya tiap tahun mungkin jawaban anak akan terus berubah. Tahun lalu mungkin dia bercita-cita mau jadi dokter, tetapi jangan kaget kalau tahun ini dia bilang dia mau jadi suster. Sekarang mau jadi guru, nanti kemudian mau jadi insinyur, lalu berubah mau jadi penyanyi. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang penting, sebab pertanyaan ini mempertanyakan bahwa ada sesuatu yang harus kita achieve, ada sesuatu yang kita harapkan, kita inginkan, memiliki hidup yang indah, berarti, berguna di depan nantinya. Kita akan menjadi gelisah kalau jawabannya adalah “Saya tidak mau jadi apa-apa!” karena berarti dia tidak mempunyai satu drive yang mendorong dia untuk mendapatkan sesuatu dan melakukan sesuatu apa yang perlu di dalam hidupnya yang akan datang itu.

What do you want to be? What do you want to do in your life? Ini adalah pertanyaan yang penting. Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai pada pertanyaan itu saja. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang menjadi tujuan daripada hidup itu sendiri? Inilah mutiara indah yang Paulus berikan kepada Timotius, to know the aim of your life.

Kalau kita baca seluruh tulisan surat Paulus kita akan menemukan bahwa tujuan dari hidupnya tidak lain dan tidak bukan adalah to magnify Christ in his life. Kiranya itu juga yang menjadi tujuan hidup kita, sehingga sekalipun Tuhan memperpanjang hidup kita satu hari lagi, biar itu menjadi kesempatan to magnify Christ. Bahkan, kata Paulus, di dalam mati pun biar aku magnify Christ kalau itu terjadi. Itulah the aim, the goal, tujuan dari hidup ini.

Apa yang bisa kita kerjakan di dalam hidup ini? Betapa banyak sekali! Apa yang bisa kita kerjakan di dalam hidup ini tidak ada habis-habisnya. Apa yang kita bisa raih di dalam hidup ini? Boleh saya katakan tidak ada limitasinya. Bahkan desire untuk mendapatkan apa yang ada di dalam hidup ini tidak ada habis-habisnya. Sdr dan saya setelah sampai umur 70 tahun pun masih bisa berkata masih terlalu banyak yang belum aku dapat. Namun simak kalimat ini baik-baik: apa yang bisa engkau kerjakan dengan hidup ini, itu tidak ada limitasinya. Tetapi banyak orang tidak sadar dan tidak duga bahwa hidup itu sendiri punya limitasi. Apa yang bisa kita kerjakan dengan hidup ini tidak ada batasnya. Tetapi banyak orang lupa hidup yang kita hidupi untuk mengerjakan itu sendiri terbatas adanya. Kita tidak bisa hidup selama-lamanya, bukan? Kita tidak punya kekuatan men-sustain apa yang kita mau selama-lamanya. Kita tidak punya limitasi untuk mau makan apa saja, tetapi perut ini sendiri, tubuh ini sendiri terbatas dan tidak sanggup adanya. Sekuat-kuatnya keinginan kita, semau-mau mata kita melihat apa yang mau kita makan, tetap perut kita tidak sanggup dan terbatas adanya, sebab “container” untuk menampung apa yang tidak terbatas itu sendiri terbatas. Hidup yang ingin melihat, mencapai dan meraih apa yang tidak terbatas itu, hidup itu sendiri terbatas adanya.

Maka nanti sdr akan menemukan keindahan dari 2 Timotius 3-4 Paulus mengatakan “engkau tahu apa tujuan hidupku…” (3:10) dan “aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir…” (4:7). Aku telah menyelesaikan dengan tuntas seluruh “assignment” yang Tuhan beri kepadaku.

Ada tiga hal yang Paulus tinggalkan kepada Timotius yang saling berkaitan satu sama lain. Pertama, ajaran yang benar, pengertian akan kebenaran firman Tuhan yang sejati akan mempengaruhi lifestyle hidup kita. Lifestyle hidup kita akan diarahkan kepada aim yang paling penting, apa yang terindah kita mau bagi hidup ini di dalam Tuhan. Lalu di dalam proses perjalanan itu apa yang Tuhan kasih kepada kita, karunia, bakat, talenta, uang, kiranya biar dipakai sebagai kendaraan dan alat untuk mencapai aim dari hidup kita. Aim dan tujuan akhir hidup kita bukanlah mendapatkan semua kendaraan itu; aim hidup kita bukan to fulfil our talents; aim hidup kita bukan to achieve harta kekayaan; aim hidup kita bukan itu. Kedua, Paulus memberikan empat kualitas hidup yang penting, kualitas hidup yang kita turunkan kepada anak cucu kita. Kualitas ini yang kita berikan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, kepada masyarakat dimana kita hidup, kualitas inilah yang paling penting. Kepada hamba Tuhan yang muda ini Paulus tidak bicara soal sukses pelayanannya, Paulus tidak bicara soal metode pelayanannya, Paulus tidak bicara soal kualitas yang lain, bukan brilliant-nya dia, bukan kemampuan leadershipnya, bukan skill managementnya. Tetapi empat ini yang perlu engkau pegang baik-baik, you need faith, you need love, you need hope, dan yang terakhir yang unik sekali, kalau sdr baca surat-surat rasul Paulus, kata ini berkali-kali muncul: sabar. You need patience. Iman, kasih, pengharapan, dan kesabaran. Kualitas hidup itu jauh lebih penting daripada bungkusnya. Content itu lebih penting daripada containernya.

Apa yang Paulus serahkan kepada Timotius? Buat apa serahkan kepada Timotius satu Jemaat yang besar, satu Gereja yang besar? Apa gunanya serahkan kepada Timotius satu Yayasan Kristen dengan seluruh finansial yang banyak untuk running pelayanan? Bukan itu yang Paulus wariskan kepadanya. Engkau belajar baik-baik di dalam perjalanan ikut bersamaku menjadi murid, di situ engkau belajar mengenai kualitas hidup, itu sudah cukup bagimu. Engkau belajar bagaimana beriman kepada Tuhan, engkau belajar kasihku, air mata yang keluar di dalam pelayananku, engkau belajar bagaimana berharap kepada Tuhan dan satu hal yang engkau lihat dan belajar dari perjalanan hidupku melayani Tuhan, engkau belajar bersabar di hadapan Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu kita dilarang oleh UTS untuk makan selesai kebaktian. Ada yang marah mengatakan, kalau kita tidak bisa makan lagi, kita akan kehilangan fellowship di Gereja ini. Lalu dia lompat topik, kalau begitu, pak Effendi, kita harus beli gedung gereja supaya kita bisa fellowship di situ. Sdr, saya tidak mengabaikan kita perlu punya tempat; saya tidak mengabaikan kita perlu punya fellowship; saya tidak mengabaikan di dalam fellowship itu kita perlu ada makan dan minum bersama-sama. Tetapi jelas saya menolak asumsi lompatan pikiran bahwa dengan ada makanan baru fellowship akan terjadi; saya menolak lompatan pikiran bahwa fellowship baru akan terjadi kalau ada container gereja. Tidak berarti saya mengatakan kita tidak perlu gedung gereja. Sdr harus lihat perbedaan ini. Saya kecewa jikalau kita melihat pemikiran sempit seperti itu.

Perhatikan Gereja Yasmin, yang di Bogor itu. Sampai sekarang dilarang membangun gedung, dihalang-halangi, tetapi sdr bisa lihat mereka bisa kebaktian di tengah jalan. Hujan-hujan mereka datang, mereka berbakti di pinggiran jalan. Container tidak ada, tetapi tidak mengabaikan hal yang paling penting. Berapa banyak gedung gereja dibangun megah dan besar, tetapi setelah selesai dibangun, justru jemaat hilang di dalam gereja itu?

Kualitas fellowship kita, kualitas ibadah kita, kualitas pelayanan kita kepada Tuhan, itu yang jauh lebih penting yang kita perlukan di dalam hidup ini. Kita masing-masing bagaimana cinta Tuhan, cinta pelayanan ini, lalu dari situ kita bergerak melakukan banyak hal yang jauh lebih indah bagi saya daripada sekedar memikirkan container-container yang kalau ada tetapi tidak diisi dengan kualitas yang penting, juga tidak ada gunanya.

Mengapa Paulus mengangkat salah satu kualitas ini, patience. Di dalam proses pembentukan hamba Tuhan yang dia bahas di pasal 2 ada lima metafora yang unik sekali dan tidak urutannya tidak boleh dibalik. 2 Timotius 2:3 metafora seorang prajurit. Prajurit itu tidak boleh menjadi double agent atau double spy, tidak boleh mempunyai kesetiaan kepada musuh sekaligus kepada negara. Bahaya sekali punya double spy di dalam ketentaraan atau di dalam militer. Prajurit berarti dia fokus, dia obey, dia setia. Hatinya cuma satu, committed mengerjakan itu. Ingat Yesus menggemakan hal yang sama: engkau tidak bisa mencintai Tuhan sekaligus mencintai Mamon. Metafora kedua adalah olahragawan yang dengan disiplin mempersiapkan diri untuk mencapai sesuatu (2:5). Dia harus mengikuti peraturan pertandingan dengan benar. Setiap olahragawan yang mempersiapkan diri untuk ikut olimpiade waktu itu harus berlatih paling sedikit delapan bulan lamanya. Barulah ketahanan, daya tahan, kelincahan, dsb bisa dibangun. Kalau kurang persiapan, engkau ikut pertandingan pasti mati. Maka kita perlu latihan, kita perlu preparation untuk memproses kita belajar dengan sungguh-sungguh dan hidup dalam disiplin. Metafora ketiga adalah petani (2:6) dan metafora keempat adalah pelayan di rumah (2:15). Petani bekerja di luar, pelayan bekerja di dalam rumah. Petani bekerja keras, pelayan ‘handle carefully.’ Tidak bisa dibalik, tidak boleh menjadi petani yang lembek membajak dan mengurus ladang seperti pelayan pegang kemoceng. Juga pelayan tidak boleh kasar karena guci di rumah bisa pecah semua, dia harus kerja yang halus dan teliti. Yang satu keluar keringat, yang satu perlu kecermatan. Itulah sebabnya menjadi man of God tidak berarti semua tugas dan tanggung jawabnya sama. Tidak berarti mereka yang berdiri di depan mimbar saja, tetapi mereka yang melayani di belakang, yang tidak dilihat orang, tetap Tuhan melihat pelayanan dan cinta kasih mereka. Yang kelihatan, yang tidak kelihatan, yang bekerja di depan, yang bekerja di belakang semua dihargai oleh Tuhan.

Saya menemukan aspek lain yang indah pada diri seorang petani. Petani itu menghadapi dua hal yang sangat paradoks di dalam pekerjaannya berkaitan dengan waktu. Pertama, dia tidak sanggup bisa mengontrol periode kapan musim tanam, dan musim tanam itu tidak bisa terjadi sepanjang tahun. Musim tanam hanya terjadi dalam satu kurun waktu tertentu. Maka seorang petani yang malas, seorang petani yang menunda-nunda waktu, dia pasti tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Itu sebab pada waktu musim tanam tiba, dia akan kerja dengan keras, dia akan cepat-cepat mengejar waktu, supaya dalam waktu musim tanam yang pendek itu dia menanam sebanyak mungkin. Tetapi pada saat yang sama, hal yang sama berkaitan dengan waktu adalah dia tidak bisa mengontrol waktu. Yang pertama, dia harus mengejar waktu; yang kedua, dia tidak bisa mendesak waktu. Sesudah benih ditanam, dia tidak bisa apa-apa, dia harus sabar dan tunggu benih itu tumbuh, berakar, besar dan berbuah. Engkau tidak bisa desak waktu, engkau tidak bisa mempercepat proses itu. Ini sangat paradoks, bukan? Terlalu banyak orang bernapsu untuk memetik hasil sebelum waktunya, itu tidak bisa. Tuhan minta kita bekerja seperti seorang petani di dalam hidup ini, jangan buang waktu tetapi pada saat yang sama kita tidak bisa mendesak waktu. Waktu itu perlu proses, waktu akan berjalan, yang kita butuhkan adalah menyaksikan bagaimana proses itu bekerja. Itu sebabnya mengapa kata ‘patience’ itu senantiasa muncul dalam surat-surat Paulus dan juga menjadi satu kualitas hidup yang diperlukan di dalam dunia ini. Ada perbuatan orang yang mungkin memperlakukan kita dengan tidak adil, ada sesuatu yang tidak baik, kita dilukai oleh orang, ada hal-hal yang kita tidak suka di dalam hidup kita, kita harus bersikap sabar.

Tetapi sabar tidak selalu harus dimengerti secara negatif, yaitu menanggung sesuatu yang tidak baik di dalam hidup ini. Sabar juga harus dimengerti berarti ada hal yang lebih baik, namun belum datang di dalam hidup kita. Itulah sebabnya kita perlu sabar sampai akhirnya sdr mendapatkan yang lebih baik dari Tuhan. Karena kita tidak pernah boleh melupakan konsep janji Tuhan, Dia bekerja mendatangkan kebaikan bagi setiap anak-anakNya yang mengasihi Dia. Kita tidak boleh bersikap Deisme yaitu Allah selesai melakukan segala sesuatu lalu Ia tidak campur tangan lagi, teserah masing-masing berjuang sendiri, kalau engkau tidak berjuang maka tidak dapat. Itu bukan prinsip yang kita pegang dalam hidup kita sebab kita tahu Allah kita bekerja, melakukan intervensi dalam hidup ini, dan pada waktu Dia intervensi, kita tidak pernah boleh berkata bahwa Dia tidak memberikan yang terbaik kepada kita di depan. Point saya adalah apapun situasi hidup kita, ada hal-hal di dalamnya kita bijaksana, kita katakan waktu itu tidak berapa banyak, bagaimana saya “chasing” waktu itu sebaik-baiknya. Tetapi kita juga diminta ingat oleh Tuhan ada hal-hal yang engkau tidak bisa buru-buru, engkau tidak bisa mendesak waktu, mendorong dia. Di situ kita harus sabar dan tabah karena kita percaya Tuhan akan memberi lebih indah dan lebih baik kepada kita pada waktunya.

“Setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat…” (3:12-13). Ayat ini adalah ayat yang sangat penting sekali karena sekaligus itu boleh kita katakan sebagai satu axiom, yang tidak berkaitan sebenarnya dengan situasi dan kondisi dimana kita hidup, walaupun mungkin tantangan penganiayaan dan penderitaan yang kita hadapi masing-masing berbeda-beda. Pada Timotius tantangan penganiayaan itu sangat real adanya karena Paulus menyebutkan apa yang dia alami di Antiokhia, Ikonium dan Listra, itu juga Timotius alami. Paulus mengalami lemparan batu, Timotius mungkin tidak mengalami lemparan batu tetapi kemungkinan itu ada. Paling tidak, itu situasi yang siap-siap Timotius hadapi ketika dia menjadi orang percaya. Tetapi penganiayaan fisik seperti yang dialami oleh Paulus itu tidak kita alami. Tetapi bagaimana axiom ini berlaku juga di dalam hidup kita: every man who want to live a godly life will suffers. Banyak orang tidak mau ke gereja dan tidak mau percaya Tuhan karena dia tersandung oleh cara hidup orang Kristen, karena mereka bandingkan hidup mereka yang tidak ke gereja nampaknya jauh lebih baik daripada hidup orang Kristen. Buat apa ke gereja, buat apa jadi orang Kristen, toh cara hidup mereka tidak lebih baik? Akhirnya mereka kecewa dan tersandung karena hal itu.

Ada beberapa hal yang mungkin perlu kita pikir dengan teliti dan tenang. Pertama, ayat 12 dan 13 itu penting karena di situ Paulus memberikan pemisahan antara “benih yang sejati dengan benih ilalang.” Paulus mengatakan setiap orang Kristen yang mau menjalani hidup yang saleh pasti akan menderita. Lalu selanjutnya di ayat 13 dia bilang tetapi para “impostor” yang menipu dan menyesatkan justru akhirnya makin lama di dalam hidup Kekristenan makin ditipu dan makin menyesatkan. Jadi dengan dua kontras ini Paulus ingin menegaskan satu separasi, there are genuine Christians and there are imitation Christians.

Wajar, orang yang belum tahu Kekristenan begitu masuk ke gereja akan tersandung sebab melihat semua orang Kristen sama. Karena mengira sama-sama ke gereja, pasti semuanya orang Kristen. Tetapi Paulus memperlihatkan ada perbedaannya. If you want to live a godly life, thereis a mark, you will face suffering. Tetapi para impostor, mereka hanya menyesatkan dan disesatkan, they go from bad to worse. Separasi terjadi. Bagi orang yang ke gereja dan tersandung, maka ingatkan mereka, Alkitab sendiri bilang orang Kristen itu tidak semua sama. Firman Tuhan bilang tidak semua orang ke gereja itu sama. Ada anak Tuhan yang sejati, ada yang bukan.

Kedua, kita perlu memberikan tambahan, semua orang yang ke gereja adalah orang yang sakit di hadapan Tuhan. Demikian kata Tuhan Yesus, bukan? Hanya orang sakit yang perlu dokter, yang merasa sehat tidak perlu cari dokter. Sehingga semua orang yang berbakti, orang yang datang ke gereja, Alkitab mengingatkan kita dengan humble dan rendah hati mengaku di hadapan Tuhan bahwa kita adalah orang berdosa, kita adalah orang yang lemah, yang datang ke sini perlu dikuatkan oleh firman Tuhan; perlu dihibur olehNya. Kita datang ke sini untuk mengaku supaya keluar dari ibadah ini kita mau menjadi orang Kristen yang lebih indah dan lebih baik lagi. Sehingga pada waktu ada kata-kataku, ada tindakanku yang melukai hati orang lain, mari dengan hati yang terbuka dan jujur kita mengatakan maafkan saya, saya juga mau menjadi orang Kristen yang mau bertumbuh di hadapan Tuhan. Sehingga orang yang baru datang ke gereja juga tahu bahwa saya tidak lebih baik daripada dia. Saya datang ke gereja bukan untuk mencari orang yang lebih baik daripada saya. Saya datang ke gereja karena saya mau sama-sama ditumbuhkan di hadapan Tuhan.

Ketiga, ini pertanyaan yang penting yang muncul di benak saya, dimana ‘mark’ atau ciri atau tanda seperti yang Paulus katakan, if you want to live a godly life you will face suffering. Kalau kita mau menjalani hidup ibadah yang saleh, hidup yang betul-betul diubah oleh Tuhan di dalam kesungguhan yang sejati, tidak bisa tidak ada resiko aniaya yang ‘costly’ di dalamnya. Dengan demikian, ikut Tuhan itu luar biasa bayar harga adanya. Kalimat-kalimat seperti itu mengingatkan kita ibadah, bersaksi, berdoa, itu harga yang harus kita bayar. Kita perlu waktu, tenaga, dedikasi dan segala hal untuk kita beri kepada Tuhan. Dalam hal apa kita akan menjalani hidup yang godly di hadapan Tuhan dan kita berani bayar harga di hadapan Tuhan? Tuhan memberi setiap kita salib untuk kita pikul dan jalani. Perjalanan ikut Tuhan di dalam kesulitan, penderitaan dan air mata tidak berarti tidak ada sukacita dan tidak ada bahagianya. Tidak berarti kita menjadi orang Kristen yang muram, sekalipun ada luka di dalam hidup kita. Itu sebab kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan sebab di dalam keletihan rohani kita, kita ingat Yesus Kristus mengundang kita datang kepadaNya dan Ia memberikan kita kuk yang ringan dan ikut Tuhan dengan sukacita adanya. Jangan sampai setiap pengorbanan yang keluar dari hidup kita kita pandang sebagai kerugian yang terjadi melainkan biar kita bersukacita sebab kita tahu itu adalah keuntungan yang kita peroleh. Pada waktu kita mendedikasikan diri dan hidup kita mengikut Tuhan, di dalamnya kita rela bayar harga karena Tuhan terlebih dahulu sudah membayar lunas setiap kita.(kz)