33. Unholy Cow

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 16/3/2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (33)

Nats: Keluaran 32:1-6, 15-24

 

Peristiwa bangsa Israel menyembah patung lembu emas adalah salah satu peristiwa kegelapan spiritual yang luar biasa terjadi. Kita tidak bisa mengerti bagaimana bangsa ini, bangsa yang telah melihat kemuliaan Allah, bangsa yang menerima firman 10 hukum, bangsa yang telah mengalami pengalaman bersama Tuhan yang  jelas luar biasa, bisa melakukan hal seperti ini? Bukankah mereka berjanji di hadapan Tuhan, “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu akan kami lakukan dan akan kami dengarkan” (Keluaran 24:3, 7)? Mengapa memori yang belum saja lewat ratusan tahun, peristiwa yang jelas di depan mata, tiba-tiba sirna pada waktu lembu emas itu dibuat oleh mereka? Belum lagi pengalaman yang pahit ratusan tahun mengalami perbudakan di Mesir, belum lagi mereka melihat bagaimana tangan yang kuat perkasa Tuhan melalui Musa membawa mereka keluar dari Mesir. Apa yang terjadi di Mesir itu, pengalaman pahit dan kesulitan yang dahsyat luar biasa, dan pertolongan Tuhan yang ajaib melepaskan mereka. Sungguhkah mereka lupa semua itu? Saya percaya ketika itu menjadi pengalaman masa lalu kita yang pahit, kesulitan dan derita yang dahsyat, penghancuran akan identitas diri kita, perbudakan yang menghabiskan seluruh hidup kita, dalam mimpi yang paling buruk pun kita tidak akan pernah mau balik ke tempat itu lagi.

Tetapi ironi, Musa baru naik ke atas gunung itu selama 40 hari saja lamanya. Bukankah 40 hari itu tidak sebanding dengan 400 tahun? 40 hari Allah tidak berfirman, 40 hari Allah tidak datang kepada mereka, 40 hari seolah-olah Allah diam dan silent di situ tidak bisa kita bandingkan dengan 400 tahun kesulitan penderitaan yang ada seperti itu.

Ada seorang hamba Tuhan berkata, jauh lebih mudah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir daripada mengeluarkan Mesir dari hidup orang Israel. Jauh lebih mudah Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, tetapi setelah mereka berada di padang gurun, kita bisa menyaksikan betapa sulit dan beratnya mengeluarkan Mesir mindset dari jiwa orang Israel. Apalagi yang harus kamu genggam dari hidup di Mesir? Tetapi mereka tidak melihat itu. Setelah berjalan melewati pengalaman yang susah sulit dan kurang air sedikit di padang gurun, mereka teringat lagi indahnya hidup di Mesir dan enaknya makanan di Mesir.

Kali ini hal yang sama terjadi, maka mereka memaksa Harun, “Buatlah allah bagi kami yang akan berjalan di depan kami, sebab Musa ini…” (Keluaran 32:1). Kalimat ini unik, frase ‘sebab Musa ini’ memberitahukan kita bagaimana mereka menghina Musa, “this guy Moses” tidak turun-turun. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kenapa bisa orang yang sudah melihat anugerah dan berkat Tuhan yang begitu besar, hanya dalam sekejap mata mengalami perubahan hati seperti itu?

Namun pada waktu kita membaca menganalisa lebih dalam, kita akan menemukan anatomi dari dosa dan penyembahan berhala itu senantiasa harus mengingatkan kita untuk waspada di dalam diri kita. Fenomena yang kelihatan di sini adalah lembu emas, dan kita akan katakan “tidak ada lembu emas di dalam hidup saya.” Kelihatan di sini mereka menari-nari dan bersembah-sujud kepada satu allah yang lain, kita mungkin bisa berkata, “Tidak ada hal seperti itu di dalam hidup kita.” Tetapi mari kita melihat bagaimana Alkitab sendiri mengatakan kepada kita, ini bukan bicara hal apa yang kelihatan tetapi hal yang sudah dimulai dari dalam hati. Stefanus berkata, “Tetapi nenek moyang kita tidak mau taat kepadanya, malahan mereka menolaknya. Dalam hati mereka ingin kembali ke tanah Mesir…” (Kisah Rasul 7:39). Kalimat yang pertama itu bicara soal action mereka, mereka tidak taat kepada Tuhan. Tetapi ketidak-taatan itu bukan terjadi pada waktu mereka melakukan penyembahan berhala dengan membuat lembu emas seperti ini. Kalimat yang kedua itulah yang memberitahukan kepada kita, sudah starting dari dalam hati mereka, mereka ingin kembali ke tanah Mesir.

Tidak heran di dalam 1 Korintus 10 Paulus berbicara lagi dengan terbuka kepada jemaat Korintus. “Hati-hati, supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala sama seperti mereka” (ayat 7). Biar semua yang telah menimpa mereka menjadi contoh dan peringatan bagi kita, kita juga gampang dan mudah jatuh ke dalam perangkap yang sama (band. ayat 11-12). Bukan kita anggap Tuhan tidak ada, tetapi bagaimana kita memproyeksikan Tuhan dengan gambaran yang seperti apa yang kita bawa? Aspek ini sangat penting bagi para rasul mengingatkan jemaat Tuhan, firman Tuhan mengingatkan setiap anak-anak Tuhan tidak akan terlepas dari jebakan ini, menggantikan apa yang lebih utama dalam hidup kita dengan Tuhan, di situlah awal dari penyembahan berhala. Rasul Yohanes berkata, “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1 Yohanes 5:21). Luar biasa ayat ini karena ini adalah kalima terakhir di dalam surat 1 Yohanes. Surat-surat lain ditutup dengan blessing, ditutup dengan doxology dan doa berkat. Tetapi surat 1 Yohanes ditutup dengan warning dan peringatan. Sekali lagi mengingatkan kepada kita peristiwa lembu emas ini mengajar kita bagaimana melihat apa itu dosa? Bagaimana berangkatnya? Bagaimana kita bisa melihat perputaran anatomi dosa lembu emas itu membuat kita harus peka terhadapnya?

Secara situasi, tidak ada yang mengganggu bangsa Israel pada saat itu. Situasi aman, cuma persoalannya mereka harus stay dan tinggal diam di situ tidak pergi kemana-mana. Musa belum turun dari puncak gunung. Tetapi dari kondisi emosional, apa yang ada di situ kita bisa menemukan tahap itu muncul satu demi satu.

Pertama, pada waktu mereka mulai tidak sabar dengan apa yang terjadi di dalam hidup mereka. Pada waktu bicara soal ‘tidak sabar,’ saya percaya kita semua menjalani hidup yang sama, bukan? Kita bisa tidak sabar kenapa karir kita tidak menanjak; kita bisa tidak sabar kenapa situasi hidup kita tidak mengalami perubahan; kita tidak sabar kenapa hal-hal tidak menyenangkan terjadi di dalam hidup kita. Kondisi hati tidak sabar itulah kemudian menuju kepada tahap berikutnya, mereka mulai ragu Tuhan tidak ada dan tidak beserta dengan mereka.

Gelisahlah bangsa itu, tidak sabar mereka, Musa belum turun-turun. Setelah itu mereka mengatakan, ‘mungkin Musa tidak turun-turun, tidak ada Allah yang akan menyertai perjalanan kita.’ Itu sebab kenapa mereka minta ada “tuhan” yang kelihatan dan konkrit itu di tengah mereka. Dari tidak sabar, mereka menjadi ragu kepada Tuhan. Dari ragu kita melihat apa yang tersimpan dalam hati mulai keluar dalam kata-kata. Mereka mulai complain. Tidak ada lagi hal yang baik yang bisa mereka lihat. Apapun yang terjadi tidak lagi dipandang dengan satu perspektif yang benar, semuanya salah. Kondisi hidup mereka bukan berada di dalam peperangan, namun mereka mulai bersungut-sungut, mulai mengeluarkan kata-kata yang akhirnya menghasut satu dengan yang lain. Lalu kita bisa melihat kisah itu memuncak dengan berkumpulnya massa itu mengerumuni Harun (Keluaran 32:1). Kali ini keputusan yang mereka ambil adalah mereka akan membentuk tuhan seturut apa yang mereka mau dan mereka akan jalan sendiri.

“Mari buatlah untuk kami allah yang akan berjalan di depan kami, sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.”

Ada tiga point yang muncul di sini bicara tentang aspek dosa yang menyebabkan mereka jatuh kepada penyembahan berhala. Dosa berangkat dari apa yang ada di dalam hati mereka, berangkat dari satu ketidak-taatan. Bukan mereka tidak tahu firman Tuhan. Jelas sekali pada waktu mereka minta allah lain dibuat, paling sedikit 2 dari 10 hukum telah mereka langgar. “Jangan ada padamu allah lain… dan jangan membuat patung dan sujud menyembah kepadanya.”

Yang kedua, dosa bukan saja satu ketidak-taatan, tetapi dosa itu juga sebuah ketidak-percayaan atau distrust. Kita tidak bersandar. Apa saja bisa menjadi penyembahan berhala di dalam hidup ini. Semuanya itu berangkat dari sikap hati kita tidak pernah mau tunggu, kita tidak pernah mau sabar, kita selalu mau sekarang juga, dan pada waktu kita rasa Tuhan itu tidak bekerja seturut apa yang kita mau, kita bersandar kepada hal-hal yang lain dan kita tidak mau bersandar kepada Tuhan.

Waktu akhirnya lembu emas selesai dibuat, apa yang terjadi? Harun tidak membuang seluruh terminologi yang benar, kata yang dipakai untuk TUHAN, Allah bangsa Israel, Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir. Bangsa ini melihat lembu emas dan berseru, “Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!” (ayat 4). Mereka memakai terminologi yang benar “Allah yang telah menuntun keluar dari tanah Mesir.” Ketika Harun melihat hal itu didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu, dan berseru, “Besok hari raya bagi YAHWEH!” (ayat 5). Orang-orang itu berkata, “This is your God who brought you up out of Egypt.” Dan Harun menambahkan, “This is YAHWEH.”

Yang sangat menakutkan, dosa adalah satu tindakan distorsi pengenalan kita akan Allah.

Harun ingin berkata, inilah Tuhan yang kita pikir Tuhan yang sedemikian. Itu adalah distorsi, pemutar-balikan, counterfeiting. Sehingga nanti pada waktu suara sorak-sorai mereka kedengaran dari jauh oleh Musa dan Yosua, Yosua menjadi bingung, apakah itu pekik peperangan? (Keluaran 32:17-18). Artinya, itu adalah satu upacara ibadah yang luar biasa mirip dengan teriakan orang sehabis berperang, entah itu teriakan kemenangan atau tangisan kekalahan. Tetapi Musa mengatakan bunyi yang mereka dengar adalah suara orang bernyanyi bersahut-sahutan. Semakin dekat baru mereka melihat bangsa itu sedang menari-nari mengelilingi dan menyembah anak lembu itu. Mereka kelihatan sedang beribadah tetapi dalam cara dan konsep yang sama sekali berbeda.

Dosa itu sebagai sebuah distorsi. Mereka masih menyebut nama Allah Yahweh, tetapi tuhan seperti apa yang mereka mau percaya?

Diagnosa rohani adalah sesuatu yang senantiasa penting kita miliki. Jangan sampai kita tidak punya kepekaan itu. Ketika kita mulai merasa kecewa, kita tidak ada rasa sukacita dengan firman Tuhan, diagnosa hidup rohani kita dengan segera. Cepat-cepat refleksi baik-baik, ada apa, kenapa saya seperti ini? Biar hati kita peka dan pada waktu kita mengetahui ada sesuatu yang keliru dan salah, mari cepat-cepat kita luruskan itu sebelum sampai kepada satu titik kita tidak sanggup lagi bisa meluruskan dan membereskan kekusutan rohani yang ada.

Lebih jauh lagi, pada waktu Musa sudah turun melihat, betapa murka dan amarah kesucian Tuhan memenuhi hatinya. Apa yang dilihat Musa lebih buruk daripada apa yang didengar. Hari itu di dalam kemarahannya dia membuang 2 loh batu yang ditulis oleh tangan Tuhan, memecahkannya dan menghancurkannya. Nanti di belakang hari Tuhan menyuruh Musa untuk memahat sendiri 2 loh batu yang baru. Apakah Musa bersalah dalam hal ini? Musa pernah marah besar kepada umat Israel, tetapi akibat kemarahan dan kemurkaan itu Musa melakukan kesalahan besar dan karena kesalahan itu Tuhan menegur dan menghukum Musa tidak masuk ke tanah perjanjian itu. Tetapi kali ini tidak ada indikasi bahwa Tuhan marah atas tindakan kemurkaan kemarahan Musa di sini, sehingga kita boleh mengambil kesimpulan di sini kemarahan Musa adalah sebuah kemarahan karena kesucian Tuhan ada di tengah-tengahnya. Sesuatu yang dia lihat lebih worse daripada apa yang dia dengar, tidak ada tindakan lain selain betul-betul itu terminasi, eliminasi dan operasi daripada apa yang terjadi.

Musa melakukan dua tindakan. Pertama, secara simbolis Musa pecahkan loh batu 10 hukum untuk memberitahukan bangsa Israel sudah melanggar perjanjian yang kudus dengan Tuhan sehingga hukum itu sendiri tidak ada gunanya dipegang. Hari itu perjanjian itu sudah broken.

Yang kedua, tidak peduli emas seberapa banyak yang sudah mereka kumpul membuat anak lembu emas itu, dia menghancurkan dan melumat giling habis lembu emas itu, menyuruh orang-orang itu minum bubur emas itu sebagai satu penghinaan Tuhan, karena setelah masuk ke perut mereka emas itu jadi apa? Itu adalah satu simbolisasi apa yang engkau anggap berharga di mata Tuhan jadi sampah yang tidak ada artinya. Yang engkau anggap berharga bernilai di sini, sama Tuhan tidak ada harganya, menjadi sampah dan kotoran yang dibuang, nothing! Semua ini mengajarkan kita tidak ada satupun di dunia ini yang boleh kita pegang dan anggap sebagai sesuatu yang berharga.

Keluaran 32:21-24 mencatat tibalah Musa kepada Harun dan berbicara dengan dia, dosa apa yang sudah diperbuat oleh bangsa Israel dan dosa apa yang Harun telah perbuat di situ. “Apa yang dilakukan bangsa ini kepadamu?” Sekali lagi situasi yang sulit, tekanan yang besar, ancaman yang ingin membunuh kita, desakan yang mungkin membuat engkau tersendiri dan minoritas tetap tidak boleh menjadi excuses engkau tidak berdiri di dalam kebenaran. Musa tanyakan pertanyaan itu kepada Harun, “Apa yang dilakukan bangsa ini kepadamu?” Musa menyadari sebagai satu tindakan pastoral supaya Harun sadar apa sumbangsihnya di dalam kesalahan dan dosa itu. Pertanyaan kedua muncul, “Apa yang telah engkau lakukan sehingga membuat bangsa ini melakukan dosa yang besar?”

Ada tiga dosa yang dibuat Harun di dalam bagian ini. Pertama, jawaban Harun memberitahukan kepada kita Harun tahu dia bersalah tetapi Harun tidak menyatakan penyesalan yang sepenuhnya. Dia hanya menyesal separuh hati. Dan di situ Harun seolah berkata, “Memang aku salah, but it’s not a big deal… Janganlah marah, tuanku. Jangan upset.” Banyak orang seperti ini, dia mengakui kesalahannya tetapi masih tetap di dalam posisi aku masih lebih baik, masih ada orang-orang yang berbuat salah lebih daripada saya. Selama-lamanya kalau excuses-excuses seperti itu muncul tidak akan pernah ada perubahan dan pembaharuan sejati dalam hidup kita. Bahaya sekali kalau seorang pemimpin rohani bersikap demikian. Ketika Tuhan menegur kita dengan nasehat ada hal yang salah pada diri kita, namun kita tidak dengan humble terima, malah kita katakan, ‘it’s not a big deal!’ Musa jelas mengatakan kepada Harun, “It is a great sin.” Itu dosa yang besar.

Alangkah indahnya kalau masih ada teguran yang keras dari seorang sahabat untuk menyembuhkan kita, daripada belaian yang menina-bobokan kita tetapi merusak dan menghancurkan hidup kita. Musa menegur itu dosa, itu kesalahan. Sesuatu tindakan dosa tidak dipandang oleh Harun sebagai hal bersalah kepada Tuhan tetapi dianggap sebagai kemarahan personal Musa kepadanya.

Kalau firman Tuhan datang menegur kita, jangan bilang orang itu mau merusak dan menghancurkan kita. Jangan marah kepada orang yang tegur kita seolah-olah orang itu ingin menjatuhkan kita. Kedua, Harun bilang, “…’kan engkau tahu toh, bangsa ini memang ‘ndableg. Mereka yang memaksa saya bikin anak lembu itu.” Sekarang Harun lempar kesalahan dan tuduh orang lain.

Seorang pemimpin yang tidak pernah rasa salah dan selalu menganggap kesalahan ada pada orang lain, dan menganggap orang tidak mengerti apa yang dia lakukan, itu adalah gejala jiwa seorang pemimpin yang tidak pernah merasa dia salah, itu bukan jiwa pemimpin rohani yang baik. Itu adalah jiwa seorang pemimpin sekte.

Keluaran 32:1-4 adalah jelas bangsa ini datang kepada Harun persis sama situasinya dengan apa yang Harun katakan. Tetapi Keluaran 32:3-4 mencatat, mereka mengumpulkan anting-anting emas dari telinga mereka, lalu Harun membentuknya dengan pahat dan membuat anak lembu tuangan. Sebaliknya dalam Keluaran 32:24 Harun mengatakan hal yang berbeda, “Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api dan keluarlah anak lembu ini.”

Tidak ada berhala yang tidak dibuat oleh manusia. All idolatry is man-made. Tetapi dalam bagian ini Harun bilang berhala ini self-made. Berhala itu dia tidak bikin tetapi jadi sendiri. Dosa Harun adalah sebuah dosa ketika dia menyesal separuh hati, menuduh orang lain, dan ketiga, dia create story yang tidak benar dan tidak sungkan untuk berbohong. Alkitab mengatakan itu bohong, dunia bilang itu ‘spinned.’ Harun bilang, berhala itu keluar dengan sendirinya. Tidak ada dalam hidup kita berhala yang tidak kita buat sendiri. Kita jadikan uang itu berhala kita. Kita jadikan segala sesuatu dalam diri kita lebih berharga, di situlah kita menjadikannya berhala. Mungkin ada saat-saat tertentu seseorang bisa membodohi orang lain dengan segala macam alasan, bahkan mungkin dengan alasan-alasan rohani. Tetapi manusia tidak bisa selama-lamanya dibodohi. Terlebih-lebih lagi Tuhan tidak mungkin bisa dibodohi. Keluaran 32:35 Tuhan suruh Musa catat, “Demikianlah Tuhan menulahi bangsa itu karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu.” Tuhan menuntut Harun harus mengaku, dan Tuhan suruh Musa catat itu.

Alkitab mendidik dan mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi seorang Kristen yang belajar peka melihat terlalu banyak hal yang tersembunyi, yang tidak kelihatan itu sanggup bisa menjadi berhala di dalam hidup kita. Kalau Alkitab terus berulang-ulang mengeluarkan peringatan itu, berarti kita tidak immune dari hal-hal seperti ini. Kiranya Tuhan pimpin dan berkati setiap kita melalui firman Tuhan ini kita memiliki kepekaan rohani menyingkirkan dan membuang dan membasmi total dari hari ke hari apa saja yang sanggup menjadi berhala dalam hidup kita.

Kiranya Tuhan Allah yang hidup dan baik mengingatkan kita sekali lagi, karena kita tahu firman Tuhan mengajar, memelihara, melindungi kita. Kiranya Tuhan memelihara setiap kita pada waktu kita mengikut Tuhan, tidak ada yang lebih agung dan lebih utama daripada Tuhan. Kiranya tidak ada hal yang tertutup dan tersembunyi dari hati kita. Kiranya sebagai anak-anak Tuhan kita boleh berdiri menyadari kekurangan kelemahan kita dengan tulus dan jujur, kiranya Tuhan bersihkan dan pelihara hati kita dan melindungi kita satu persatu.(kz)