20. Tuhan tidak pernah Meninggalkan Aku

5/8/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (20)

Nats: 2 Timotius 4:6-22

 

Di dalam hidup kita sehari-hari kita menemukan ada orang-orang di tengah kesulitan mencari keuntungan sendiri namun ada orang di tengah kesulitan rela mengorbankan diri bagi orang lain; ada orang-orang di tengah kesulitan lebih memikirkan diri dan egoisme, namun ada orang di tengah kesulitan boleh menyatakan hormat martabat seorang Kristen yang baik.

Dalam bagian terakhir surat Paulus ini kita menyaksikan setiap nama-nama yang muncul di sini, mereka melewati kesulitan yang sama, menghadapi tantangan yang sama. Kita lihat ada Trofimus yang sakit, kita lihat ada keluarga Onesiforus, yang disebutkan Paulus di pasal 1 sebagai orang yang mencari Paulus setengah mati sampai dapat (1:16-18), tetapi di pasal 4 tidak lagi disebutkan nama Onesiforus sebagai nama tetapi salam kepada keluarga Onesiforus, berarti Onesiforus sendiri telah meninggal dunia. Orang Kristen tidak kebal dari kesulitan. Orang Kristen tidak lepas dari tantangan pergumulan. Ini situasi yang sama, ada anak Tuhan yang sakit, ada anak Tuhan yang meninggal, ada anak Tuhan yang berada dalam tantangan dan kesulitan yang besar, namun mereka memperlihatkan satu karakter yang agung dan hormat luar biasa. Tetapi sebaliknya kita menyaksikan Paulus di tengah hal seperti itu setidaknya menyebutkan ada beberapa karakter, ada beberapa sifat dari orang-orang Kristen yang akhirnya menyatakan sikap yang dishonor, yang tidak mulia dan tidak hormat.

Yang pertama adalah Demas. Demas meninggalkan pelayanan sebab Demas telah mencintai dunia, itu kata yang dipakai oleh Paulus tentang dia (4:10). John Calvin mengatakan tidak berarti Demas apostacy atau pergi meninggalkan Tuhan, tetapi dia tidak sanggup, tidak berani tanggung resiko, tidak melihat bahwa pekerjaan dan hidup mengikut Tuhan memang memerlukan korban dan harga yang besar seperti ini. Demas pada awalnya bersedia melayani, pada awalnya ada terus bersama Paulus, tetapi di titik kritis, di titik yang susah setengah mati, kita melihat dia pergi dan meninggalkan Paulus.

Yang kedua, kita menyaksikan dalam surat Roma Paulus mengaku sangat rindu pergi ke Roma. Sampai hari ini kita mewarisi satu surat yang panjang dan penting sekali karena di dalamnya kita menemukan Paulus mencurahkan seluruh pengertian kebenaran Injil menjadi surat Roma bagi kita. Dalam pasal 16 kita melihat berapa banyak nama yang Paulus sebutkan dengan intim, tetapi pada waktu Paulus akhirnya datang ke Roma, di dalam bagian ini dicatat tidak ada satupun di antara mereka yang datang dalam pembelaannya (4:16). Setidak-tidaknya hukum pemerintahan Roma memiliki sistem yang sangat fair, yaitu orang yang ditangkap dan akan diadili diberi kesempatan pada waktu pertama kali muncul di depan pengadilan namanya “prima action,” artinya dia boleh bawa orang sebanyak-banyaknya untk menjadi orang yang membela perkaranya. Maksud Paulus, pada waktu dia pertama kali berdiri, itulah kesempatan yang diberikan kepada dia untuk boleh membela perkaranya. Dan pada waktu itu dicatat Paulus di sini tidak ada satu pun orang Kristen yang datang membela dia. Tidak ada satu pun orang yang datang berani beresiko menyatakan bahwa apa yang dituduhkan kepada Paulus dalam pelayanan tidak benar adanya. Tidak ada satu pun yang datang. Dalam kalimat selanjutnya Paulus mengatakan “…kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka” berarti Paulus berdoa supaya Tuhan mengampuni mereka, tetapi sekaligus kalimat itu memberitahukan kepada kita bahwa itu bukanlah tindakan yang benar adanya.

Dari sini kita bisa menyaksikan kadang-kadang kita sebagai orang Kristen di saat-saat yang penting dan perlu kita mencetuskan keberanian untuk membela perkara orang yang kita yakin dan tahu dia benar adanya. Maka sikap ‘silent’ kita, tidak berani bertindak untuk menyatakan pembelaan kepada orang yang mengalami penindasan, itu bukan sikap dan tindakan yang tepat dan benar adanya. Mungkin kita pakai alasan, itu tidak ada kaitannya dengan aku. Tapi alasan itu tidak bisa dibenarkan. Dalam kalimat Paulus, ‘kiranya hal ini jangan ditanggungkan atas mereka’ berarti itu satu sikap yang tidak benar. Kedua, kita tahu pelayanan Paulus dan cinta Paulus kepada Roma sepatutnya dan seharusnya menjadi satu cinta yang dihargai dan dihormati dengan cinta dan balas jasa. Tetapi dimana mereka?

Yang ketiga, Paulus menyebut seorang yang bernama Alexander tukang tembaga (4:14-15). Siapa orang ini? Siapa dia? Kalau dia adalah orang yang tidak percaya Tuhan, atau dia adalah orang yang memang di luar Gereja, orang Pemerintahan dsb, saya percaya lumrah dan wajar dia menentang dan melawan Kekristenan dan pemberitaan firman Tuhan sehingga bagi saya nama itu tidak perlu dicatat karena banyak orang melakukan hal seperti ini. Tetapi siapa Alexander ini? Paulus tidak menyebutkan banyak detail sehingga kita hanya bisa menduga-duga, tetapi sekaligus kita tidak boleh menduga-duga terlalu banyak. Paulus hanya mengatakan orang ini terlalu banyak berbuat jahat, Paulus tidak mau panjang lebar mengatakan apa kejahatan yang sudah dilakukan Aleksander terhadap dia. Ini menunjukkan keagungan karakter Paulus sekaligus juga menunjukkan ada orang yang saking bencinya, saking marahnya, dia bisa melakukan suatu tindakan yang sangat destruktif luar biasa dengan tanpa alasan apapun. Tetapi setidak-tidaknya ayat 15 dari sisi Paulus yang bisa dilakukan oleh Timotius hanya satu, yaitu waspada terhadap dia. Waspada maksudnya apa? Berarti orang ini selalu ada di lingkungan Jemaatkah? Ini pertanyaan yang penting. Kalau Paulus minta Timotius waspada terhadap dia, berarti besar kemungkinan Alexander adalah orang yang selalu ada di lingkungan orang Kristen. Dengan kata lain pada waktu Paulus menyebut namanya di sini, besar kemungkinan dia adalah orang yang datang terus di dalam lingkungan persekutuan. Di tengah-tengah itu dia terus-menerus melakukan tindakan yang sangat merugikan pelayanan Paulus dan sangat merugikan Kekristenan, dan yang lebih celaka ada perasaan dengki, benci dan marah dalam diri Aleksander.

Tetapi Yesus sudah mengingatkan dalam Yohanes 15:18 bahwa dunia lebih dahulu membenci Yesus daripada pengikutNya. Mereka membenci Yesus tanpa alasan. Kita tidak bisa mengerti dengan logis apa alasan Alexander begitu benci dan marah dan ingin menghancurkan Paulus. Paulus tidak berbuat apa-apa terhadapnya, Paulus hanya melayani, Paulus bukan seorang teroris. Tidak ada alasan logis untuk menjawab kebencian Aleksander ini.

Hal-hal seperti ini bisa saja terjadi di dalam hidup kita. Saya percaya sebagai orang Kristen ketika kita mengalami hal yang susah dan sulit, jangan pernah menciptakan dan menimbulkan akar yang pahit bagi siapapun dalam hidup kita. Ibrani 12:14-15 firman Tuhan mengingatkan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang. Kejarlah kekudusan sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun bisa melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada satu orangpun dari antara kita yang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah agar jangan timbul akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang…” Kerusuhan di sini bukan secara fisik tetapi lebih bersifat secara perkataan.

William Barclay menafsir kata yang dipakai Paulus mengenai kejahatan Aleksander terhadap dia itu bukan kejahatan secara fisik tetapi lebih merupakan kejahatan secara fitnah dan tuduhan palsu dan kalimat-kallimat yang begitu menusuk hati dan begitu merugikan rasul Paulus. Orang ini terus hadir, lihat Paulus kemana saja ikut pelayanan, tetapi dengan tujuan men-destroy pekerjaan Tuhan. Berarti nanti Timotius datang, orang ini juga akan ada terus. Itu sebab Paulus mengingatkan dulu, hati-hati dan waspada terhadap Aleksander. Mungkin pada waktu pembelaan Paulus, Aleksander salah satunya dan akan sangat mengagetkan sekali kalau yang menuduh itu justru salah satu “orang dalam,” orang yang dianggap sama-sama Kristen, yang keluar suara memfitnah dan menjelek-jelekkan Paulus.

Paulus selalu ingatkan kita ada hal yang salah, ada kepahitan dalam hati karena tindakan yang salah atau dirugikan dari orang, jangan pernah itu menjadi akar pahit di dalam hati dan hidup kita. Kebencian dan kemarahan bisa menyebabkan seorang kakak bisa membunuh adik, suami membunuh isteri, dsb. Ada banyak contoh di dalam dunia ini orang yang karena terbakar kemarahan bisa menghancurkan hidup orang lain dengan sangat destruktif adanya. Termasuk relasi hubungan kita sebagai suami isteri, adik kakak, apapun relasi kita, tidak pernah terlepas dari kesalahan, tidak pernah terlepas dari perasaan kejengkelan, dsb. Berapa banyak hubungan suami isteri akhirnya hancur karena satu dengan yang lain tidak memiliki hati yang ingin mengampuni. Akibatnya kita menyimpan kebencian dan kemarahan yang sanggup bisa menghancurkan orang.

Kolose 3:13 ditulis kepada Jemaat, berarti membuktikan kepada kita hal ini bisa terjadi kepada kita sebagai orang Kristen, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap orang yang lain. Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Dasarnya adalah di ayat 12 di atasnya, “Karena itu sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya…” Kalau sudah benci, dendam, betapa gampang kita ingin men-destroy orang; betapa gampang kemarahan itu bisa bikin orang vengeance, tidak logis menghancurkan orang itu tanpa alasan. Itu yang dilakukan oleh Aleksander kepada Paulus. Sampai akhir kematiannya Paulus tetap ada orang seperti Aleksander yang membenci dia tidak ada habis-habisnya. Kalau sampai seorang hamba Tuhan yang baik saja bisa punya musuh yang benci dan marah seperti ini, sdr dan saya bisa juga mengalami hal yang sama dalam hidup ini. Tetapi sekaligus walaupun Paulus tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya Paulus bisa lakukan hanya berdoa kepada Tuhan, biar Tuhan yang adil yang membalaskannya. Paulus tidak ada kebencian, Paulus tidak berusaha melakukan apapun. Dia hanya menyerahkan kepada Tuhan. Yang kedua, yang bisa dia kerjakan dan lakukan sebisa mungkin waspada, hati-hati terhadap orang seperti ini.

Pada saat yang sama di bagian ini kita menemukan begitu banyak hal yang memberi penghiburan kepada Paulus. Kita melihat ada hal yang agung, ada hal yang mulia di dalamnya. Salah satunya adalah penghiburan yang sejati dari seorang yang bernama Markus. Paulus minta secara khusus Markus datang kepadanya (4:11). Jemputlah Markus karena pelayanannya penting bagiku. Di saat Paulus tersendiri, Paulus sadar saat kematiannya sudah hampir tiba, itu bukan bicara tahun tetapi bicara beberapa bulan ke depan.Maka dia minta Timotius segera datang, kalau bisa sebelum musim dingin sudah tiba di sini. Dan secara spesifik Paulus minta Timotius membawa Markus bersamanya. Markus adalah anak muda yang berapi-api, anak muda yang memiliki keluarga yang cinta Tuhan. Pertama kali namanya muncul di Kisah Rasul 12:12 waktu Tuhan melepaskan Petrus dari penjara dengan cara ajaib, Petrus pergi ke rumah Maria, ibu Yohanes Markus. Rumahnya menjadi sentral rumah doa, tempat pelayanan dari sebuah keluarga yang cinta Tuhan. Karena itu tidak heran dalam Kis.13:5 Markus ikut bersama Paulus dan Barnabas dalam Perjalanan Misi yang pertama. Markus adalah keponakan dari Barnabas. Tetapi Kisah Rasul 13:13 mencatat Markus meninggalkan pelayanan ini dan kembali ke Yerusalem. Kisah Rasul 15:36-40 dalam rencana Perjalanan Misi yang kedua, ketika Barnabas hendak membawa Markus untuk ikut serta, Paulus menolak. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga Paulus dan Barnabas berpisah. Barnabas membawa Markus bersamanya ke Siprus, sedangkan Paulus membawa Silas bersamanya. Bukan saja Markus di tengah jalan pergi meninggalkan pelayanan, kita tidak tahu apa sebabnya. Mungkin dia tidak berani menghadapi tantangan dan resiko yang ada di depannya. Paulus tidak mau membawa Markus lagi. Akibatnya dua sahabat baik bertengkar dan berpisah. Yang satu bilang kasih kesempatan kedua, yang satu tidak mau. Bagi Paulus anak muda ini tidak baik dan tidak bertanggung jawab, di tengah jalan pergi meninggalkan pelayanan. Paulus marah dan kecewa, tidak mau percaya Markus lagi. Kita tidak tahu apa yang terjadi sejak itu tetapi saya percaya yang terjadi adalah Markus begitu menghargai kesempatan kedua yang diberikan Barnabas baginya. Yang lalu dia sudah gagal, dia lari dari pelayanan, dia berhenti di tengah jalan tidak lagi menjadi hamba Tuhan, dia bersyukur untuk kesempatan kembali lagi. Pada saat yang sama di dalam hatinya dia juga menerima sikap Paulus yang menjadi teguran baginya, mengkoreksi kesalahannya dan belajar dari situ menjadi pelayan Tuhan yang lebih baik lagi. Dalam Kolose 4:10, Paulus menyebut nama Markus sebagai kemenakan Barnabas, tetapi kemudian di Filemon 1:24 Paulus menyebut nama Markus sebagai teman sekerjanya.

Kita tidak akan pernah sama dan statis dalam perjalanan waktu. Tetapi persoalannya ketika kita tidak sama, kita turun ke bawah atau kita naik ke atas mengalami pertumbuhan. Itu sebab kesulitan dan kegagalan yang terjadi pada diri seseorang tidak boleh menjadi hambatan pada diri orang itu untuk melihat ada hal-hal yang indah dan baru. Markus pernah ditegur Paulus, pernah dianggap tidak berguna bagi Paulus, tidak mau Paulus memakai dia dan menjadikan dia bagian dari tim pelayanan misinya. Mungkin Paulus pernah mengeluarkan kalimat ini waktu berselisih dengan Barnabas, “Markus itu orang yang tidak berguna…” tetapi kali ini di dalam suratnya Paulus mengatakan, “Markus sungguh berguna bagiku…” Bukan saja bagi pekerjaan Tuhan, tetapi Markus berguna bagi hidup pribadi Paulus. Kita bisa melihat keindahan sukacita Paulus di sini. Orang yang pernah meninggalkan Paulus di awal pelayanannya menjadi orang yang terakhir berada di sampingnya. Orang yang pernah lari di awal pelayanannya, sekarang dia pergi ke Roma dengan taruhan nyawa, tetapi kali ini dia tidak akan lari lagi. Susah, sulit, berat, resiko mati, dia siap berada di sisi Paulus, mendampingi Paulus sampai kematian tiba. Bagi saya ini adalah sukacita yang terindah bagi rasul Paulus pada saat dia berada di dalam penjara.

Kedua, selain orang-orang yang mencintai Tuhan ada di samping kita menguatkan kita, menghadapi situasi berat seperti ini kita sendiri harus menguatkan diri sendiri. Sekalipun kondisi lemah, sekalipun kita berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan, sebagai orang Kristen kita tidak bisa mengharapkan orang lain, kita harus belajar menguatkan diri sendiri. Kisah Rasul27:29-33 merupakan catatan perjalanan Paulus ke Roma, di tengah jalan kapalnya kandas dan hampir tenggelam. Selama 14 hari semua penumpang kapan dan awak kapal terombang-ambing, tidak bisa mengerjakan apa-apa. Mereka takut, mereka berusaha melarikan diri, mereka tunggu dengan pasif dan tidak makan apa-apa selama itu. Di tengah kapal yang terombang-ambing di tengah laut, tidak ada yang bisa kita kerjakan selain kita bertahan. Tetapi pada waktu kita bertahan saya percaya sikap yang paling perlu adalah kita berusaha mengkuatkan diri sendiri. Ketika tidak ada orang, ketika tidak ada pertolongan dari luar, kekuatan fisik jangan pernah diabaikan. Paulus mengingatkan mereka untuk makan supaya mereka bisa kuat dan sehat dan tidak jatuh sakit.

Itu sebab di tengah situasi dalam penjara, Paulus minta Timotius untuk membawakan jubahnya. Jelas Paulus kedinginan, Paulus perlu jubahnya. Tetapi yang lebih penting Paulus juga meng-encourage diri di dalam penjara tersendiri dengan firman Tuhan. Itu sebab dia minta Timotius membawakannya kitab suci dan perkamennya. Penting sekali kita membaca, menghafal dan mengingat firman Tuhan. Ketika orang yang kita cintai dan mencintai kita tidak ada di sekitar kita, ketika situasi tidak bisa berubah, apa yang menjadi kekuatan dan penghiburan kita? Mari kita mengkuatkan diri sendiri dengan menjaga kesehatan kita semampu mungkin, tetapi yang terlebih lagi kita menjaga keindahan kekuatan sukacita yang kita dapat dari firman Tuhan. Maka Paulus bilang bawa perkamen-perkamen itu bagiku. Para penafsir menduga kitab yang dimaksud, termasuk perkamen yaitu gulungan kitab yang terbuat dari kulit binatang, itu adalah penting sekali bagi Paulus. Apakah itu hanya kitab-kitab Perjanjian Lama saja? Mungkin bukan saja itu, tetapi perkamen ini adalah dokumen dari koleksi ucapan Tuhan Yesus yang dari sejak awal Gereja sudah simpan baik-baik sebelum menjadi Injil bagi kita. Kedua, mungkinkah perkamen itu nantinya menjadi materi Injil yang dikumpulkan oleh Lukas dan Markus, dua orang yang menyertai Paulus sebelum Paulus meninggal. Mereka berdua menulis Injil Markus dan Injil Lukas, bukan? Tetapi yang pasti kita tahu perkamen itu adalah firman Tuhan yang begitu indah dan begitu penting bagi Paulus.

Ketiga, kalau semua tidak ada, apalagi yang bisa menolong dan menguatkan kita? Dalam 2 Timotius 4:17-18 Paulus perlu Timotius, Paulus perlu Markus. Semua orang perlu suami tercinta, isteri tercinta, sahabat terdekat ada di dekatnya dan di sekelilingnya mendukung dan menguatkan dia di dalam keadaan yang paling sulit dalam hidupnya. Tetapi pada saat semua orang yang kita cintai tidak ada, yang tinggal adalah Tuhan. Tuhan beserta dengan aku, kata Paulus, Tuhan mendampingi aku. Dalam Kisah Rasul 23:11 Paulus mengingat pengalaman pribadinya di saat yang paling menakutkan di dalam hidupnya, berbagai fitnah dan tuduhan yang sangat berbahaya dilemparkan oleh orang-orang Yahudi yang sangat membencinya, Paulus begitu lemah dan gentar. Pada malam hari Tuhan datang berdiri di sisinya dan menguatkan Paulus. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Tuhan adalah, “Take courage!” Tuhan ada di sisi kita, itu sudah cukup bagi kita. Tuhan tidak melakukan apa-apa seperti yang Tuhan lakukan kepada Petrus. Kehadiran Tuhan menyebabkan Paulus berada di penjara, ketika tidak ada orang yang lain, dia tidak menjadi kecewa, dia tidak menjadi takut, dia tidak menjadi undur di tengah susah sulit apapun sebab semua tidak bisa disandari kecuali hanya satu yaitu Tuhan yang bisa disandari di dalam hidup ini. Ada teman yang menjadi penghiburan, ada firman yang menjadi penghiburan, ada Tuhan yang mendampingi, sudah selesai, sudah cukup menjadi kekuatan bagi Paulus.(kz)