10. Tuhan pakai, Tuhan Lengkapi

13/5/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (10)

Nats: 2 Timotius 2:21; 3:1-10

 

Di dalam suratnya Paulus memberikan api semangat kepada Timotius, seorang hamba Tuhan yang masih muda dan pemalu dengan berbagai disadvantages di dalam hidupnya, anak dari seorang janda yang lemah dan sakit-sakitan, dsb. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah…” (2 Timotius 1:7-8).

Kita tidak boleh kehilangan fokus di sini; Paulus mengajak Timotius juga melihat bagaimana hidup kita fokusnya adalah “we love God more than anything in this life.” Akan ada masa yang sukar, orang lebih cinta uang daripada cinta Tuhan di dalam hidupnya. Itu adalah satu fakta yang ingin Paulus angkat kepada Timotius. Satu fakta tantangan yang berat dan sulit ada di hadapan setiap orang yang fokus ingin hidup mengasihi Tuhan. Namun sekaligus kita pun tidak boleh kehilangan fokus Allah yang memanggil kita, Allah yang memanggil Timotius yang bukan karena dia mampu dan bisa. Banyak kesulitan, banyak kekurangan, banyak ketidak-mampuan dalam hidup setiap kita, tetapi Paulus mengatakan Roh yang memanggil kita, Roh yang tinggal di dalam diri kita adalah Roh yang memberikan kekuatan melampaui segala kelemahan dan kesulitan kita. Allah yang panggil adalah Allah yang akan melengkapi kita; Allah yang melengkapi kita adalah Allah yang akan melindungi dan memelihara kita; Allah yang melindungi dan memelihara kita adalah Allah yang pasti akan menjaga dan menjadikan kita indah dan agung di hadapanNya. Itu adalah point yang ingin Paulus angkat di sini. Tuhan adalah Allah yang setia dan berkarya sepenuhnya dalam hidup setiap orang yang sungguh mengasihiNya.

Walaupun di lain pihak tidak berarti tidak ada tugas, tidak ada responsibility dan tanggung jawab dari Timotius. Maka Paulus kemudian berkata, “Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2 Timotius 2:21). Kalau kita ingin menjadi bejana yang mulia di hadapan Tuhan tidak lain dan tidak bukan satu saja panggilan yang kita kerjakan dan lakukan: always purify your heart. Sucikan hidupmu, kuduskan hidupmu, terus-menerus memiliki attitude seperti itu. Tetapi pada saat yang sama dengan kalimat itu Paulus merubah verb yang dipakai, menjadi bentuk kata kerja pasif yang tiga kali dipakai: dikuduskan, dipandang layak, dan disiapkan untuk melakukan pekerjaan yang mulia adanya. Allah menjadi Subjek yang menyucikan, melayakkan dan menyiapkan kita untuk dipakai bagi pekerjaanNya yang mulia. Ini adalah kalimat yang indah tetapi sekaligus juga menggentarkan hati: Dia mau pakai hidup kita.

Berapa banyak orang datang kepada Tuhan dan diberi begitu banyak bakat dan talenta tetapi dia tidak bersiap hati buat dipakai oleh Tuhan? Pada waktu kita mau dipakai oleh Tuhan, bagaimana perasaan kita kalau Tuhan bilang, ‘Aku tidak perlu engkau’? Di dalam catatan Alkitab di Keluaran 35-36 kita menemukan pada waktu Musa memanggil orang Israel untuk memberi persembahan bagi pembangunan Kemah Suci, itu adalah moment yang paling indah, satu persatu orang datang memberikan barang-barang paling berharga yang mereka miliki untuk berbagian di dalam pekerjaan ini, tetapi kepada orang-orang yang terakhir Musa bilang, “Cukup. Tidak usah persembahan lagi…” Orang yang pikir, biar orang lain dulu, nanti saya belakangan saja, Musa bilang cukup, tidak ada kesempatan lagi.

Kalimat ini menggentarkan hati saya. Tidak gampang dan tidak mudah, ketika Tuhan memproses hidup kita. Tetapi bukan itu saja yang menjadi hal yang penting di dalam hidup kita. Yang menjadi kebanggaan keindahan kita adalah Tuhan mau pakai kita. Berapa banyak orang dengan uang yang banyak yang dia miliki, Tuhan bilang, ‘Aku tidak mau pakai uangmu’? Tetapi berapa banyak di dalam catatan Alkitab memberitahukan kita Tuhan bisa pakai burung gagak untuk menghidupkan seorang hamba Tuhan; Tuhan bisa pakai janda yang paling miskin di Sarfat untuk menghidupkan nabi Elia. Semua itu memberitahukan kepada kita pada waktu Tuhan panggil, Tuhan akan lengkapi. Dan pada waktu Tuhan pakai, di situ kita menemukan keindahan yang muncul di dalamnya.

Saya menyaksikan begitu banyak fakta seperti ini di dalam hidup dan pelayanan saya. Ada anak muda yang datang bersekolah di sini, mamanya hanya seorang tukang jual roti keliling dengan gerobak. Saya gemetar mendengar hal ini. Tukang jual roti gerobak bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri, apakah engkau tidak gemetar? Gemetar karena kita tahu di belakangnya ada sacrifice dari orang tuanya, tetapi gemetar yang paling penting adalah kita percaya Allah yang disembah oleh keluarga ini adalah Allah yang hidup; Allah yang sanggup memelihara.

Pdt. Jusuf Tjitra berpuluh tahun hanya makan singkong, bisa menyekolahkan anak ke luar negeri, itu seharusnya bikin kita trembling; bikin kita gemetar karena kita menyaksikan Allah yang disembah, Allah yang hidup yang ada di belakang pelayanannya adalah Allah yang panggil, Allah yang lengkapi dan Allah yang akan menyertai, dan itu semua adalah janji yang indah dan terbukti adanya.

Kata ini yang dipakai Paulus, Dia yang menyucikan kita, Dia akan pakai kita. Kita gemetar, gemetar sebab banyak orang yang punya, yang mampu, yang bisa, belum tentu Tuhan mau pakai. Tetapi ada yang tidak punya, tidak mampu, tidak bisa, Tuhan pakai dan Tuhan buktikan bahwa yang pakai dia adalah Tuhan yang mencukupkan dan melengkapi kita.

Sdr dan saya yang hadir pada hari ini pasti juga akan takjub dan gemetar di hadapan Tuhan. Kita tidak mampu dan tidak sanggup. Ada di antara jemaat yang saya tahu datang ke kota Sydney hanya membawa uang tidak banyak, tetapi bisa hidup di sini sampai lima enam tahun, sampai hari ini, bukankah itu yang membuat kita harus amazed bahwa Tuhan yang kita sembah itu hidup adanya?

Kita jangan tidak pernah melupakan menghargai pada waktu kita sampai di titik dimana kita ada. Mazmur 145:15 mengatakan “Mata orang yang tertuju kepada Tuhan, Tuhan akan memberi mereka makan pada waktunya…”

Kalau saya menyaksikan pemeliharaan Tuhan, tiga belas tahun lamanya saya sudah tinggal di sini, betapa amazing. Apakah karena saya pernah sekolah di luar negeri? Tidak. Ke Uni? Juga tidak. Papa saya umur 45 tahun sudah kena kanker, umur 56 tahun papa saya meninggal. Selama itu keuangan habis untuk berobat. Saya ditopang sekolah oleh paman saya masuk ke Trisakti. Tetapi Tuhan memanggil saya untuk menjadi hambaNya, sehingga saya berhenti kuliah. Keluarga marah atas keputusan ini. Saya memutuskan untuk berhenti kuliah karena saya tahu tidak ada gunanya membuang uang untuk menyelesaikan kuliah padahal pasti saya akan masuk seminari. Paman saya bilang, kalau memang Tuhan yang panggil kamu, sandar saja sama Dia. Saya tidak janji apa-apa. Singkat cerita, di seminari pernah dua bulan tidak ada kiriman wesel, tidak bisa bayar uang asrama. Saya sungkan, tidak berani turun makan selama dua hari. Pernah tiga hari tidak punya uang beli odol. Masuk kamar, di meja ada satu amplop pemberian orang berisi uang untuk bisa beli sabun dan odol. Sepanjang saya sekolah di SAAT betapa amazing anugerah Tuhan menjaga memelihara saya, dan saya percaya bukan kepada saya saja tetapi juga kepada setiap kita.

Kita tidak boleh iri dengki kepada anugerah dan berkat yang diterima oleh orang. Kita harus selalu bersyukur terhadap apa yang Tuhan kasih kepada kita, dan itu cukup menopang dan memberitahukan kepada kita, Tuhan yang panggil, Tuhan yang lengkapi, Tuhan yang siapkan, Tuhan yang beri dan Tuhan yang akan menjadikan kita agung dan mulia di hadapan Tuhan. Itu yang harus kita pegang baik-baik.

Jangan malu, percayalah Tuhan yang panggil memberi roh kekuatan kepada kita. Yang kita lakukan cuma satu: kita taat dan tunduk kepadaNya. Dia akan membersihkan kita, Dia akan pakai kita, dan Dia akan melengkapi kita.

Dua aspek ini penting, Paulus bilang, barangsiapa yang menyucikan diri, artinya let your heart focus, tidak ada yang lebih indah, tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih besar daripada yang lain, kecuali Tuhan. That’s it. Selebihnya biar Tuhan yang mengerjakan tiga aspek ini di dalam hidup sdr. Dia sendiri akan menyucikan kita. Mungkin kadang-kadang kita tidak suka, tidak senang dengan cara Tuhan membentuk hidup kita. Mungkin melewati kesulitan, tantangan, air mata, jangan pernah takut dan jangan pernah kuatir, percaya penyucianNya tidak pernah bersalah.

Yang kedua, yang harus bikin kita tremble luar biasa, He wants to use you. Begitu banyak bejana di sana sini, begitu banyak perabot yang lain. Tetapi apa gunanya sendok dari emas, waktu mau dipakai ternyata sendok itu kotor. Lebih baik sendok dari tanah liat, tetapi waktu mau dipakai, sendok itu bersih. Apa gunanya bejana kendi air itu terbuat dari emas dan perak yang indah, waktu mau dipakai masih berdebu adanya? Lebih baik bejana dari tanah liat yang tidak ada harganya menurut pandangan orang tetapi bisa menyimpan air yang bersih dan murni.

Ketiga, be ready for the greatness ministry for God. Hari ini biar hidup kita yang disucikan, dipakai, disiapkan oleh Tuhan. Kita bersyukur kepada Tuhan; kita gemetar di hadapan Tuhan; kita gentar oleh sebab kita tahu Allah yang memanggil, Allah yang melengkapi, Allah yang memakai kita adalah Allah yang sanggup mencukupkan kita untuk melaksanakan tugas yang dipercayakanNya. Kenapa? Sebab pasal 3 memberitahukan kepada kita there will be the darkness seasons in ministry, and there will be the darkness aspects in our lives yang harus kita harus hadapi. Hari-hari di depan, pelayanan-pelayanan ke depan kita akan menghadapi hari yang sukar dan susah luar biasa. Di depan itu ada kabut yang tebal dan gelap, siapa yang berani terobos? Siapa yang berani terus berjalan menuju kepada kebahayaan yang tidak bisa kita ketahui apa yang ada di baliknya? Orang yang takut, orang yang memikirkan diri sendiri, orang yang tidak bersandar kepada kekuatan Tuhan, mereka pasti tidak akan mau maju menghadapi semua itu. Maka pasal 2 merupakan preparation yang penting memasuki pasal 3 dimana Paulus membuka lembaran itu. Di depan pelayananmu akan penuh dengan awan yang gelap adanya. Siapa yang berani terobos? Siapa yang berani maju? Hanya mereka yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan menjadi bejana yang mulia adanya.

Anak-anak Tuhan menghadapi tantangan etika dari masyarakat yang semakin melawan Tuhan; kesulitan ekonomi yang makin lama makin susah. Panggilan kita sebagai orang Kristen bagaimana memberikan nilai akan dilihat, bagaimana hidup keluarga Kristen mencerminkan hidup yang cinta kasih yang menjadi contoh kepada dunia di sekitar kita, dsb. Kalau orang Kristen sendiri terus menggunakan segala macam cara duniawi demi untuk bisa hidup estetikanya sendiri, apa bedanya kita dengan orang yang bukan Kristen? Celakalah kita kalau kita adalah orang Kristen yang demi kesehatan diri sendiri membeli pil obat dari Cina yang berisi embryo bayi yang di-microwave. Demi supaya lebih sehat, lebih kuat, lebih muda, jutaan pil dari bayi yang diaborsi dengan paksa, bayi yang karena tidak suka lalu mau dibuang, bayi yang dari orang yang ditawarkan uang pengganti, karena permintaan makin meningkat. Etika yang sudah rusak dari Komunisme seperti itu, lalu kemudian mayat-mayat bayi itu di-microwave, sesudah kering diiris, dicincang, digerus, lalu dimasukkan ke dalam pil. Hati-hati membeli obat seperti itu dari Cina. Satu pertanyaan muncul: apakah demi estetika keindahan akhirnya kita kemudian tutup mata tidak melihat nilai moral di belakangnya yang sangat menakutkan seperti itu? Berapa banyak orang Kristen tidak peduli, pokoknya sendiri mau sehat, mau awet muda, mau kuat, apa saja dilakukan tanpa memikirkan di belakang dari prosedurnya begitu kejam dan kafir adanya? Ada human life yang di-sacrifice di situ. Apa gunanya kita memperpanjang hidup beberapa bulan saja dengan mencangkok ginjal dari orang paling miskin di Srilanka yang menjual ginjalnya supaya anak isterinya bisa makan? Buat apa? Tetapi begitu banyak orang Kristen tidak mau memperhatikan hal seperti ini.

Paulus mengingatkan the battleground tantangan yang dihadapi orang Kristen begitu banyak. Kehidupan yang menantang orang Kristen begitu berat. This is the ministry you will face in front of you. The darkness of cloud mengitarimu. Manusia yang lebih cinta diri daripada cinta Tuhan; orang yang datang ke Gereja melakukan ibadah tetapi memungkiri the power behind the ministry. Tantangan dari luar dan tantangan dari dalam sendiri, itulah dunia kita. Kiranya firman Tuhan ini boleh memberi dorongan dan kekuatan kepada kita.

Kita bersyukur Tuhan yang mencintai kita lebih besar daripada segala-galanya. Itu sebab selaku hamba Tuhan mengapa kemudian Paulus ingatkan Timotius di pasal 3:10, di situ Paulus menambahkan sesuatu dari segitiga mutiara kebajikan yang selalu dia tekankan: iman, kasih dan pengharapan dengan tambahan aspek ke empat. Engkau telah melihat dan membuktikan karena engkau hidup bersama-sama dengan aku. Pertama, my teaching, pengajaranku. Kedua, my lifestyle, cara hidupku. Ketiga, my goal, my purpose, tujuan hidupku yakni di dalamnya ada iman, kasih, kesabaran dan ketekunanku. Tekun, sabar, persistent, hal yang tidak terjadi dalam sekejap mata, membutuhkan cucuran air mata, kesulitan. Kenapa? Supaya melalui semua itu kita bisa memberi kesempatan ada orang yang membangkang kepada Tuhan, mereka sadar dan berbalik. Ada orang yang menghina Tuhan, mereka melihat hidupmu, dan mereka percaya kepada Tuhan. Itulah hal yang terpenting dan terindah dalam hidup ini.

Di tengah kelemahan kita, kekurangan kita, ketidak-mampuan kita, kita boleh dimampukan, dilengkapi, dipakai oleh Tuhan. Hidup kita sampai hari ini sudah cukup membuktikan kepada kita bahwa terlalu ajaib, terlalu besar, terlalu amazing pekerjaan Tuhan menopang kita bernapas sampai hari ini dengan segala kelimpahan yang kita terima. Jangan sampai kita tidak melihat semua itu; jangan sampai kita tidak menghargainya; jangan sampai kita tidak mempersembahkan syukur kepada Tuhan. Di depan tirai telah dibukakan kepada kita, dimana kita hidup, dimana kita ada, kita harus melewati awan gelap yang menghadang di saat-saat menjelang Tuhan datang kembali. Kita tidak peduli, kita tidak takut dan tidak gentar sebab kita tahu di balik dari awan gelap itu ada tiang api Tuhan yang menopang dan memimpin jalan kita. Kita bersedia disucikan oleh Tuhan, disiapkan oleh Tuhan dan dipakai untuk banyak pekerjaan yang mulia dimanapun juga di dunia ini.(kz)