16. Tugas Panggilan Memberitakan Injil

8/6/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (16)

Nats: 2 Timotius 3:14 – 4:5

 

Bagian yang kita baca ini merupakan satu rangkaian penting menjadi “sandwich” dimana ayat 17 adalah core dari satu prinsip bagaimana Tuhan membentuk seorang hamba Tuhan, dan ayat-ayat yang di atas dan di bawahnya mengapit prinsip ini menjadi satu keindahan.

Di perikop ini muncul dua axiom, minggu lalu axiom pertama sudah saya bahas “every man who wants to live a godly life will be persecuted” (3:12). Siapapun dia yang memang mau menjalani hidup yang saleh, hidup yang menjiplak Tuhan, hidup yang godly, ada cost yang harus dibayar. Axiom ke dua “that’s how every man of God equipped, shaped for every good work” (3:17). Ayat ini diapit oleh dua bagian penting bicara mengenai firman. Bagian yang di atas (3:14-16) bicara mengenai the nature of the Bible dan bagian yang di bawah (4:1-5) bicara mengenai ‘the task’ bagi mereka yang memberitakan Injil. Dimulai dengan kalimat “kebenaran yang engkau telah terima…” (3:14) tidak boleh hanya terima saja, engkau harus meneruskan dan memberitakannya (4:1-5). Waktu kebenaran itu kita terima, ada kesulitan, ada penganiayaan dan ada penderitaan yang kita alami. Demikian Paulus ingatkan ‘in good seasons or in bad seasons, preach the Word’ (4:2). Bagian yang di atas bicara mengenai apa fondasi yang membentuk kita, dimana kita mendapat pembentukan menjadi man of God, yang tidak bisa tidak Gereja harus mendasarkannya kepada kebenaran firman Tuhan dengan solid. Kita tidak boleh mendasarkan ajaran kita kepada kesaksian-kesaksian atau hal-hal yang sepele, yang tidak ada gunanya.

Orang Kristen awalnya disebut “People of Book.” Hidup mereka didasarkan kepada firman Tuhan; hidup mereka dipimpin oleh kebenaran firman Tuhan. Paulus memperlihatkan hal ini terjadi pada diri Timotius. “Sejak kecil engkau sudah mengenal kitab suci…” (3:15). Kitab yang engkau baca, yang engkau renungkan, yang engkau hafal sejak kecil, itu bukan buku biasa; itu bukan perkataan manusia. Maka Paulus lanjutkan dengan ayat 16 memberitahukan kepada kita Alkitab yang kita pegang ini bukan pikiran dan tulisan manusia belaka. Pikiran, tulisan dan gaya sastra manusia itu dipakai oleh Tuhan dengan beragam tetapi di belakang semua itu adalah nafas Allah sendiri. Tulisan yang kita baca, kitab yang kita baca, itu adalah firman Tuhan yang memiliki otoritas mendidik kita, menegur kita, mengkoreksi hidup kita, membimbing kita supaya kita hidup menjadi orang yang berbijaksana di dalam dunia ini. Seorang man of God yang sudah dibentuk Tuhan sedemikian, ia dipanggil untuk memberitakan firman itu, in good seasons, in bad seasons. Sentral hidup kita, apa yang keluar dari mulut kita, apa yang mengalir dari hidup kita, kita tidak boleh lupa itu semua pekerjaan pelayanan Injil.

Dari 2 Timotius 1:3-8 Paulus memberikan beberapa prinsip kenapa, bagaimana, apa yang menyebabkan kita ambil bagian dalam pelayanan sebagai anak-anak Tuhan. Apa yang harus ada, apa yang menjadi sekunder; apa yang ada atau tidak ada tidak apa-apa, karena kita percaya itu menjadi lengkap diberi oleh Tuhan dan sesuatu yang kita percaya akan ditambahkan oleh Tuhan kepada kita. Tetapi yang di awal yang harus ada dan tidak bisa tidak ada, itu harus kita miliki baik-baik. Paulus awali dengan kalimat, “Aku bersyukur kepada Tuhan yang kulayani dengan hati nurani yang murni…” (1:3). Dia sedang terbatas oleh empat dinding penjara, tidak bisa leluasa lagi melayani, darahnya sudah tercurah di situ dan dia tahu waktunya tidak banyak lagi (cf. 4:6-7). Yang tersisa padanya hanyalah memori mengingat kembali beberapa pelayanan yang sudah dia kerjakan, dan dari situ keluar hati yang bersyukur. Aku bersyukur kepada Tuhan, aku melayaniNya dengan hati nurani yang murni adanya. Tidak ada pikiran mencari keuntungan diri, tidak ada motif negatif, tidak ada hal tersembunyi di belakangnya.

Saya percaya setiap orang yang ambil bagian di dalam pelayanan, orang yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dan masuk ke dalam seminari, mereka menyerahkan diri dengan hati nurani yang murni. Mari kita mencintai dan menghargai orang yang berdedikasi seperti ini, karena pekerjaan menjadi seorang hamba Tuhan bukan pekerjaan karir. Semua orang yang melamar kerja di satu perusahaan pasti mulai dengan negosiasi gaji di depan. Tidak ada orang yang masuk satu perusahaan masuk dulu, kerja dulu, baru boss-nya bilang ini kira-kira gaji untuk kamu. Tetapi saya percaya tidak ada hamba Tuhan yang masuk ke satu Gereja mulai dengan negosiasi gaji lebih dulu. Itu yang kita sebut sebagai bukan pekerjaan karir dalam pengertian mereka tidak ambil bagian pergi masuk ke pedalaman Kalimantan karena mendapat gajinya lebih tinggi di situ daripada di tempat lain.

Maka bagi setiap kita yang ambil bagian melayani, pengurus Gereja, guru Sekolah Minggu, setiap kita yang melayani pasti kita tidak mengharapkan kita mengerjakan pelayanan itu dengan motif mendapatkan sesuatu profit di situ. Justru pada waktu kita committed ambil bagian dalam pelayanan, di situ ada sacrifice kita beri, ada waktu yang kita beri, ada uang yang keluar, ada bakat yang kita kembangkan, ada air mata yang mengalir dari mata kita, ada hal-hal yang mungkin tidak mengenakkan terjadi dalam pelayanan kita. Tetapi semua itu tidak pernah dan tidak boleh menjadi sesuatu yang mengecewakan kita sebab kita mulai dengan awal yang benar, yaitu kita melayani dengan hati nurani yang murni.

Kemudian memory yang kedua Paulus sebutkan “…aku terkenang akan air matamu…” (1:4). Heran sekali, mengingat air mata Timotius, kenapa hati Paulus senang? Ini paradoks. Maksud Paulus di sini bukannya dia senang melihat Timotius susah. Tetapi maksud Paulus, apalagi yang membuat hatinya senang di dalam penjara? Paulus tidak ingat suksesnya, Paulus tidak ingat apa yang sudah dia kerjakan, Paulus tidak ingat apa yang sudah dia dapatkan. Yang dia ingat adalah waktu dia terkenang akan air mata yang keluar dari mata Timotius, sukacitanya menjadi penuh. Ini ingredient yang tidak boleh tidak ada dalam diri seorang yang melayani. Seseorang pernah berkata, “Dia yang tidak pernah mengeluarkan air mata tidak berhak mengasihi…” Orang yang tidak pernah mengeluarkan air mata tidak berhak mengasihi.

Itu sebab kita orang tua yang punya anak remaja umur belasan, biar kita tidak mengijinkan mereka pacara main-main dengan cinta monyet. Kenapa? Karena mereka belum sanggup menghadapi air mata. Celaka kalau dia cinta monyet lalu putus. Terlalu bahaya dan risky karena cinta bukan “hahahihi.” Mereka belum sanggup untuk bisa men-tackle kesulitan dan persoalan hidup. Mengasihi bukan soal kita bisa senang sama senang.

Pada waktu sdr mengasihi sesuatu berarti seluruh totalitas hidup kita, kita serahkan di situ. Air mata kita akan mengalir di situ karena kita tahu itu adalah cinta dan beban setiap kita diiletakkan di situ. Paulus tidak perlu bilang engkau mencintai dan mengasihi pelayanan. Paulus hanya melihat bukti itu ada dari air mata yang Timotius curahkan. Maka setiap kali berdoa, setiap kali melayani, setiap kali bekerja sama-sama, Paulus melihat dan mengingat air mata itu dan penuhlah sukacitanya. Air mata itu cukup memberitahukan hati dan bebannya ada di situ, cinta dia ada di situ. Maka hati nurani yang murni dan air mata yang mengalir adalah dua ingredients yang harus ada dalam diri seseorang yang melayani Tuhan. Baru sesudah itu bicara soal karunia, soal bakat, soal kemampuan (1:6) dan sesudah itu bicara mengenai bagaimana Tuhan bisa overcome segala kelemahan dan disadvantage yang dia miliki. Paulus tidak memasalahkan karunia yang sedikit, kemampuan yang tidak banyak, itu semua bukan soal yang terutama. Yang penting dua di atas itu sudah ada. Bakat orang main piano, hanya dalam dua menit kita bisa lihat dia berbakat atau tidak. Tetapi mengenal hati orang, mengetahui ada dedikasi atau tidak, itu tidak bisa dilihat hanya dalam dua menit. Orang berdiri mengajar, dalam dua menit kita bisa lihat orang itu ada bakat mengajar, fasih lidah atau tidak. Tetapi air mata dan hati nurani yang murni, itu perlu waktu untuk kita bisa melihatnya, bukan? Bakat, karunia, hal-hal yang ada, itu bukan prioritas paling pertama.

Saya percaya Paulus menata urutan ini dengan indah. First, clear conscious; second, committed heart yang kelihatan dengan air mata di dalam pelayanan. Sesudah itu baru bicara soal praktikal, engkau perlu sedikit berani, biar karunia yang ada itu berkembang; jangan malu karena engkau hanya anak orang miskin dan janda; tidak usah takut walaupun menghadapi tantangan dan kesulitan. Itu hal yang masih bisa ditumbuhkan.

Yang ketiga, dalam Kisah Rasul 20:28 bicara mengenai understanding the important nature of the church. Paulus bicara kepada para pendeta dan penatua dan semua yang melayani, ingat baik-baik Gereja yang kita layani sama-sama itu ditebus dengan darah Anak Allah yang mahal harganya. Gereja kecil di desa, yang jemaatnya hanya sepuluh orang; Gereja besar di kota, yang jemaatnya sepuluh ribu orang, itu tidak menjadi soal di dalam kesadaran kita, kita tahu ini adalah jemaat Tuhan yang dibentuk bukan karena kita mau kumpul-kumpul; yang dibentuk sebab kita ditebus oleh Tuhan, dibayar dengan darah yang mahal harganya. Maka sebelum meninggalkan para penatua di Efesus, Paulus mengingatkan mereka, jaga baik-baik, gembalakan baik-baik, cintai baik-baik, karena yang diserahkan kepada kita adalah Jemaat yang dibayar dengan darah yang mahal.

Yang keempat, barulah kita bicara soal apa yang kita kerjakan dan apa yang kita layani tidak bisa tidak harus seturut dengan firman; firman Tuhan harus menjadi yang utama. Sdr baca baik-baik di pasal 4 Paulus tekankan hanya yang satu itu, bukan? Paulus tidak bilang, rajin-rajinlah besuk jemaatmu, atau yang lainnya, bukan itu tidak penting, tetapi yang harus menjadi fokus dan panggilan setiap man of God adalah melakukan tugas pekerjaan pemberitaan Injil, itu dulu yang paling penting.

John Calvin mengatakan Gereja itu didasarkan, ditegakkan, diberi makan firman, bagaimana kekuatan otoritas dan keagungan dari firman Tuhan itu harus menjadi yang sentral.

Paulus di awal sudah menyebutkan hal yang indah sekali, bersyukurlah Timotius sebab harta yang indah yang menjadi warisan bagimu tidak lain dan tidak bukan adalah firman Tuhan. Ingatlah, dari kecil engkau sudah dipenuhi dengan firman Tuhan. Ingat dan pegang teguh pengajaran yang sudah engkau terima dari muda sampai sekarang.

Menjadi orang tua, apa yang kita akan serahkan kepada anak-anak kita? Apa yang paling indah dan paling penting kita beri kepada mereka? Kalimat Paulus muncul, menyebutkan Lois dan Eunike, nenek dan ibu dari Timotius. Kita tidak tahu apakah waktu itu mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia, tetapi Paulus menunjukkan fakta dari kecil Timotius sudah mengenal kitab suci, itu merupakan harta yang paling indah diserahkan dari seorang tua kepada anaknya dan dari anak ini kepada generasi selanjutnya. Tidak ada harta yang lebih indah dan lebih berarti daripada firman Tuhan ini. Kenapa? Karena ayat 16 memberikan alasannya. Ayat ini harus membuat kita sungguh-sungguh mulai menghargai dan menghormati firman Tuhan yang begitu indah dan begitu agung kepada kita yang kita terima ini. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah…”

Dewasa ini banyak orang bertanya apakah betul Alkitab ini firman Tuhan? Dewasa ini banyak orang juga bertanya apakah betul seluruh kitab yang ada di Alkitab ini adalah firman Tuhan? Mungkinkah ada yang lain lagi atau mungkin yang ada ini tidak semuanya firman Tuhan? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan seringkali orang Kristen terjebak untuk membuktikan Alkitab ini firman Tuhan dengan menggunakan external evidence dari luar dipakai untuk membuktikan. Belakangan ini para teolog Kristen mengatakan yang benar adalah bagaimana Alkitab sendiri menyatakan saksinya, menyatakan dirinya adalah firman Tuhan. Kita tidak bisa memakai diri kita untuk menjadi dasar bukti apa yang kita katakan itu adalah benar. Itu sebab tidak ada orang di pengadilan waktu disumpah sebagai saksi tidak bersumpah atas dasar otoritas eksternal yang lebih tinggi daripadanya. Kalau dia adalah orang Kristen maka dia harus bersumpah di atas Alkitab, dsb. Dia tidak bisa bilang dia bersumpah atas dirinya sendiri, karena itu tidak valid. Sehingga waktu kesaksian kita ternyata salah, otoritas itu yang menjadi standarnya. Dalam Ibrani 6:13, “Sebab ketika Allah memberikan janjiNya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri karena tidak ada orang yang lebih tinggi daripadaNya.” Waktu Allah berjanji, Allah memberi firman, kita tidak bisa menuntut bukti eksternal untuk menyatakan janjinya solid atau tidak sebab tidak ada otoritas yang lebih tinggi daripada Allah sendiri. Maka waktu kita approach firman Tuhan, yang kita lakukan adalah saya percaya. Saya tidak bisa menuntut buktikan dulu, baru saya percaya.

Calvin mengatakan biar waktu engkau membaca firman Tuhan ini engkau bisa menemukan dan mengakui sendiri there is a divine quality di dalam firman Tuhan. Sehingga waktu kita membaca Alkitab kita tahu buku ini berbeda dengan karya Shakespeare atau H.C. Andersen karena di dalamnya ada kualitas ilahi adanya.

Maka 2 Timotius 3:16 mengatakan point ini, kenapa Alkitab harus menjadi dasar, kenapa hidup tidak bisa tidak harus ditegakkan dan diterangi oleh firman Tuhan, mengapa penting kepada anak-anak kita harta yang paling berharga kita beri kepada mereka adalah firman Tuhan.

Kata pertama “segala tulisan…” dalam bahasa aslinya hanya memakai satu kata yaitu “graphe” yang sama dipakai Paulus dalam 1 Timotius 5:18 “bukankah kitab suci berkata…” yang kemudian Paulus mengutip ayat dari kitab Ulangan dan kitab Injil Matius dan Lukas. Yang satu dari PL dan yang satu dari PB. Perhatikan baik-baik, berarti dari awal Paulus sendiri menyebut tulisan dan kalimat yang dikutip oleh Tuhan Yesus semuanya adalah kitab suci.

Saya juga mengajak sdr melihat bagaimana sikap Tuhan Yesus mengenai otoritas dari kitab suci. Dalam Matius 22:41-46 pada waktu orang Farisi berkumpul Yesus menanyakan pendapat mereka mengenai Perjanjian Lama dan mereka tidak bisa menjawab. Itu sebab sampai sekarang mereka terus baca kitab Perjanjian Lama tetap tidak bisa melihat Tuhan Yesus karena mata mereka tertutup oleh kebenaran mereka sendiri. Kemudian Tuhan Yesus mengutip mazmur Daud menunjukkan mazmur yang ditulis oleh Daud itu bukan sekedar tulisan syair biasa karena Yesus bilang Daud menulis “oleh pimpinan Roh” (Matius 22:43).

Maka kita tidak debat panjang lebar lagi, waktu sdr pegang Alkitab ini ingatkan baik-baik 2 Timotius 3:16 mengatakan ‘graphe’ ini adalah dinafaskan Allah, sehingga melaluinya dia berotoritas menegur kita, mengajar kita, mendidik kita, memimpin kita dengan bijaksana dan membawa kita kepada keselamatan dalam Kristus. Dua hal yang terakhir ini penting, memimpin kita dengan bijaksana berarti bicara mengenai hidup kita di sini; membawa kita kepada keselamatan dalam Kristus berarti mengenal kebenaran Tuhan. Sehingga tidak usah kuatir, tidak usah ragu, orang-orang yang membenci dan menghina Alkitab, yang datang untuk mencari kesalahan dari Alkitab, mari kita pegang prinsip ini, ini adalah firman Tuhan dan Tuhan bekerja di dalamnya. The point is the Bible itself adalah firman Allah yang memiliki kekuatan dan kuasa merubah hati manusia. Karena itulah setiap kali kita melayani Tuhan, setiap kali kita berbakti, jangan biarkan firman Tuhan tidak menjadi yang sentral di dalam hidup dan ibadah kita.

Maka saya pun memberikan panggilan ini kepada setiap kita, jangan pernah mengabaikan buah hasil dari hidup orang tua yang godly dilihat oleh anak-anaknya; buah hasil dari orang tua yang mencintai Tuhan akan berpengaruh kepada anak-anaknya dan didikan yang tidak henti-henti dari orang tua akan membekas dalam hidup anak kecil dan menjadi berkat yang indah. Prinsip itu tidak akan pernah dilupakan oleh orang Israel dan saya harap orang Kristen juga tidak melupakan dan mengabaikan hal ini.

Dalam Ulangan 32:45-47 Musa mengingatkan orang Israel untuk memerintahkan anak-anak mereka melakukannya juga, “sebab perkataan ini bukan perkataan hampa” bagi mereka. Artinya firman Tuhan ini begitu berharga dan berarti, masakan engkau tidak memberikannya kepada anak-anakmu?

Itu sebab di tengah kesulitan penjara, tetap ada rasa syukur dan sukacita dalam hati rasul Paulus. Ia bersyukur Timotius sejak kecil sudah mengenal kitab suci dan itu membawanya terus bertumbuh dalam iman dan keselamatannya dalam Kristus. Dan sekaligus dia mengeluarkan kalimat, “Always remember those who teach them to you…” Kalimat ini mengingatkan kita akan mempunyai memori akan kehidupan orang-orang yang menjadi panutan di dalam hidup kita. Saya percaya kita ada sampai sekarang tidak terlepas daripada pelayanan yang diberikan oleh guru-guru Sekolah Minggu kita, tidak terlepas dari pelayanan yang diberikan dari banyak orang dalam hidup kita, tidak terlepas dari pelayanan hamba Tuhan yang menjadi contoh dalam hidup kita, dan terutama tidak terlepas dari kehidupan orang tua dan keluarga kita.

Kiranya firman Tuhan yang kita terima ini menjadi dasar yang mempengaruhi, merubah, membentuk, mengarahkan hidup setiap kita. Kiranya setiap kali kita melayani Tuhan tidak pernah lepas dari hati yang murni dan cinta Tuhan, dedikasi dan komitmen yang mengalir dari hidup kita dan kecintaan kita kepada pelayanan sebab kita tahu Tuhan sudah berkorban bagi GerejaNya. Firman Tuhan menjadi firman yang berotoritas yang mempengaruhi hidup kita dan yang kita beritakan sebab ini adalah harta warisan berharga yang membawa orang keluar dari kematian menuju kepada hidup, yang melepaskan orang dari belenggu dosa kepada kemerdekaan di dalam Kristus. (kz)