30. Transformasi Hati, bukan Tingkah Laku Agama

Ringkasan Khotbah RECI Sydney, 2/2/2014

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Kitab Keluaran (30)

Nats: Keluaran 23:1-13

 

Allah kita adalah Allah Kebenaran, Allah kita adalah Allah Keadilan. Karena Dia adalah Allah Kebenaran maka Dia adalah Allah yang interest dengan Kebenaran; dan karena Dia adalah Allah Keadilan maka Dia adalah Allah yang interest dengan Keadilan. Allah memberi hukum dan aturan kepada umatNya untuk merefleksikan sifat kebenaran dan keadilan Allah yang menyentuh setiap aspek kehidupan umatNya. Namun kita harus mawas diri dan tidak terjebak kepada jerat aturan dan hukum yang akhirnya membuat kita menjadi farisi-farisi yang kehilangan makna anugerah karena sesungguhnya hukum Allah menyentuh transformasi hati dan bukan tingkah laku agama.

Tuhan memberi 10 hukum di gunung Sinai sebagai satu perjanjian dengan umat Israel yang Tuhan telah bawa keluar dari perbudakan di Mesir, dimana mereka menjadi umat Tuhan dan Tuhan menjadi Allah mereka selama-lamanya, maka Allah yang sudah membebaskan mereka dari perbudakan itu menyatakan siapa Dia dengan 10 hukum itu. Sampai kepada Perjanjian Baru maka 10 hukum itu disimpulkan oleh Tuhan Yesus di dalam dua kalimat agung ini, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-40).

Sepuluh hukum ini kemudian dijabarkan satu-persatu dalam Keluaran 21-22, bagaimana kita memperhatikan hak para budak, bagaimana kita memperhatikan nyawa orang lain, bagaimana kita memperhatikan harta benda milik orang lain, semua itu hal-hal yang berkaitan dengan hidup sebagai umat Allah. Selanjutnya Keluaran 23 begitu indah bicara mengenai apa buktinya dan apa cirinya kalau kita menjadi anak-anak Tuhan yang sungguh mengasihi Tuhan dan mengutamakan untuk menaati firmanNya di dalam hidup kita sehari-hari, di dalam hal-hal yang kecil, yang nampaknya sepele dan tidak kelihatan, yaitu soal bagaimana kata-kata keluar dari mulut kita. Firman Tuhan dengan teliti mengajarkan kepada kita bagaimana kita mempunyai relasi dengan orang lain khususnya berkaitan dengan apa yang benar dan apa yang adil itu di dalam perkataan sehari-hari, di rumah atau dimana saja kita berada. Kadang-kadang kalimat yang keluar dari mulut kita gossip yang nampaknya sepele, itu tidak sepele di mata Tuhan. Ini harus menjadi satu mawas diri bagi setiap kita manusia yang berdosa yang condong memiliki interest kepada gossip dan hal-hal yang tidak benar adanya.

Sherry Snelling seorang journalist menulis di majalah Forbes “The Danger of Social Media” mengangkat beberapa hal. Dia mengatakan, memang ada aspek-aspek yang baik di dalam social media tetapi juga tidak sedikit hal-hal yang kita harus hati-hati. Di dalam social media kita menemukan kurang adanya kesopanan dalam menyampaikan kalimat. Salah satu akibatnya kita bisa mengalami efek secara emosional ketika ada orang berkomentar di luar batas kesopanan. Yang kedua, dia mengatakan “gossip is a natural human instinct.” Manusia yang berdosa menjadikan gossip itu sebagai naluri yang alamiah, sesuatu yang dianggap sama seperti makan atau minum, seolah-olah menjadi kebutuhan sehari-hari. Yang ketiga, banyak orang yang mencoba memenuhi kebutuhannya yang ‘sakit’ untuk menjadi pusat perhatian melalui social media. Ada orang yang bangun pagi sudah komentar apa saja, ekspresikan emosinya apa saja di dalam social media itu. Maka artikel ini mengingatkan banyak orang memiliki unhealthy needs mencari pemenuhannya melalui social media itu, padahal kita menemukan di situ kurang adanya kesopanan dan tempat dimana gossip bisa menyebar tanpa kita bisa lagi menemukan dimana ujung pangkalnya sehingga sulit luar biasa.

Keluaran 23 ini merupakan bagian yang penting, ketika kita berbicara tentang kabar bohong, gossip, di dalam struktur aturan-aturan yang begitu banyak dan teliti, berarti bagi Tuhan ini adalah hal yang penting. Ayat 1-3, lalu disambung dengan ayat 6-9 adalah topik yang sama. Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong, janganlah membantu orang yang tidak bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar, janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu, janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum, dan juga janganlah memihak kepada orang miskin di dalam perkaranya.

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong…” (ayat 1a) itu berkaitan dengan relasi personal kita. Kabar bohong sendiri sudah merupakan satu aspek. Kita kadang-kadang bisa tahu hal itu tidak benar, kabar itu sudah bohong, tetapi menjadi berbahaya luar biasa kalau kita lalu ikut-ikutan menyebarkan kabar bohong itu kepada orang lain. Firman Tuhan mengingatkan, “jangan sebarkan,” berarti di situ mungkin engkau bukan sumber pertama yang menciptakan kabar bohong itu, tetapi pada waktu engkau menerima sesuatu, engkau tidak boleh menelannya bulat-bulat, engkau mesti memikirkan apakah ada buktinya, ada dasarnya? Walaupun mungkin kita bisa tahu itu ada benarnya sebagian, tetapi engkau dan saya mempunyai kewajiban untuk tidak menyebarkannya. Maka Tuhan mengingatkan kita untuk mencegah diri kita tidak melakukan hal itu. Dan lebih bahaya lagi jikalau orang sudah tahu itu kabar bohong lantas beberapa menit kemudian dia bersaksi di depan pengadilan menyatakan itu adalah hal yang benar. Jadi pertama-tama, jangan sebarkan kabar bohong. Kedua, jangan ikut membantu orang bersaksi dusta menyatakan yang salah sebagai kebenaran.

Film “A Civil Action” mengisahkan hidup seorang lawyer yang memperjuangkan hak beberapa keluarga yang menjadi korban kehilangan anak-anak mereka karena satu perusahaan membuang limbah sangat beracun di danau setempat. Rekan-rekannya membantu dia bagaimana berjuang membela keluarga-keluarga itu melawan perusahaan yang begitu kaya dan besar itu. Defence lawyer dari perusahaan menawarkan uang damai buat keluarga korban, tetapi lawyer ini mengatakan, “I want to know the truth…” aku ingin mengetahui kebenarannya. Defence lawyer itu tertawa dan mengatakan, “Di manapun juga tidak pernah ada kebenaran, di pengadilan yang ada ialah resembling truth…” Resembling truth mirip dengan kebenaran, cerita yang disusun menjadi kebenaran.

Pada waktu Yesus Kristus ditangkap dan dibawa ke hadapan Pilatus, Yesus mengatakan, “…untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.” Pilatus dengan sinis berkata, “Apakah kebenaran itu?” (Yohanes 18:37-38). Sebab bagi Pilatus, kebenaran adalah sesuatu yang bisa dia rekayasa di dalam pengadilan sehingga itu menjadi kebenaran, sesuatu yang bisa dia reka-reka menjadi kebenaran. Di dalam dunia politik kita mengetahui apa namanya propaganda, seperti Adolf Hitler pernah mengatakan, “If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed.” Kalau engkau mau berbohong, berbohonglah yang besar, dan berbohonglah terus-menerus, lama-lama itu akan menjadi kebenaran.

Tetapi firman Tuhan tidak mengajar seperti itu dan sekali-kali kita tidak boleh berbuat seperti itu. Tuhan Yesus mengajar kita, “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si Jahat” (Matius 5:37). Hiduplah sebagai anak-anak Tuhan menjalankan apa yang benar dan adil, terutama di dalam relasi perkataan yang keluar dari mulutmu. Dan jangan pikir perkataan itu tidak bisa mendatangkan efek yang merugikan orang. Maka selain firman Tuhan mengatakan jangan sebarkan kabar bohong, jangan mereka-reka hal yang tidak benar; sekaligus Tuhan juga mengkaitkan itu dengan aspek bagaimana kita mengatakan yang benar di pengadilan, kita dituntut di situ mengutarakan apa adanya dan akan ada konsekuensi kalau kita mengatakan sesuatu yang tidak benar sehingga kita lebih hati-hati di situ. Tetapi kadang-kadang di dalam hidup sehari-hari, ketika kita bukan berada di dalam ruang pengadilan, saat kita duduk di sofa, atau di depan komputer, atau sedang chatting dengan orang lain, kita tidak melihat aspek ini menjadi hal yang penting dan serius adanya.

“Janganlah membantu orang yang tidak bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar,” (ayat 1b), dalam terjemahan bahasa Inggris menyebutnya “malicious witness.” Kata ini berarti bukan saja merujuk kepada saksi yang tidak benar, tetapi di baliknya ada hati yang buruk, ada lidah yang bercabang, dan ada perkataan bohong yang keluar dengan segala kelicikannya. Kata ini membuka aspek motivasi ketidak-benaran di dalam diri kita di dalam menyampaikan sesuatu. Itu bukan sekedar mulut “ketelepasan” keluar begitu saja, tetapi mengandung unsur kita ingin orang itu mendengarkan apa yang kita mau dia dengarkan. Jadi di dalamnya ada unsur motif buruk yang menyesatkan melalui kata-kata yang kita keluarkan yang tidak memiliki dasar dan bukti.

“Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya…” (ayat 3) bandingkan dengan kalimat “Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya…” (ayat 6). Dua-dua menjadi balance, jangan memihak, jangan memperkosa hak. Jangan kita membabi-buta hanya karena orang itu lemah, orang itu miskin lalu kita anggap semua di dalam diri dia pasti benar adanya. Tetapi pada saat yang sama Alkitab juga mengatakan orang yang memiliki kekuatan dan kuasa yang besar, hati-hati, jangan sampai dengan kekuatan dan kuasamu itu engkau memperkosa kebenaran dan orang yang lemah dan miskin tidak sanggup bisa membela diri dan membalasnya oleh sebab engkau bisa memutar-balikkan semua yang salah menjadi benar, yang benar jadi salah, dan orang yang lemah itu tidak bisa berbuat apa-apa. Alkitab peka luar biasa bicara akan hal ini: bukan karena dia miskin maka otomatis dia benar, bukan karena dia kaya otomatis dia salah. Keluaran 23:8 mengingatkan kita kalau kita memiliki kekuatan, kemampuan untuk men-judge dan memutuskan sesuatu, lakukan dengan adil dan benar. Bagi orang Kristen yang berprofesi sebagai hakim, sebagai lawyer, mungkin akan menjadi godaan yang besar memutar-balikkan yang benar menjadi salah, salah jadi benar, dan berlaku tidak adil karena ada tawaran suap dan keuntungan diri. “Suap janganlah kau terima, sebab suap membuat buta…” menjadi peringatan yang serius, suap membuat buta mata orang, korupsi membutakan mata orang. Apapun yang kita alami, waktu kita berjalan dengan benar dan adil, mungkin engkau dan saya tidak mendapatkan benefit secara finansial, tetapi ingat itu bukan yang paling penting dan segala-galanya. Karena, ayat 7b di atasnya mengatakan, “Sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.” Allah yang benar dan adil adalah Allah yang sungguh-sungguh memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut kita. Maka sebagai anak-anak Tuhan kita harus waspada dan menjaga diri. Yesus mengingatkan “…apa yang engkau katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang engkau bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah” (Lukas 12:3). Setiap perkataan kita, tindakan kita, apapun juga, kita harus hidup benar dan menegakkan keadilan, sebab Allah kita adalah Allah yang menuntut hal itu menjadi karakter hidup kita sesuai dengan sifat Allah sendiri.

Menarik luar biasa, Keluaran 23:4-5 merupakan dua ayat yang disisipkan di antara perintah Tuhan untuk jangan berkata bohong, jangan bersaksi dusta, bersikap adil dan benar. Kenapa disisipkan di situ? Ayat 4-5 ini adalah ayat yang membalikkan posisi pada waktu engkau yang mengalami situasi diperlakukan tidak adil dan orang itu adalah musuhmu, kalau bukan kita yang menyebarkan kabar bohong, melainkan justru engkau yang menjadi korban fitnah dan kebohongan itu, di tengah kesaksian palsu di pengadilan engkau tidak berdaya membela dirimu, bagaimana sikapmu ketika di tengah jalan melihat orang yang bersaksi dusta itu keledainya sesat atau rebah karena keberatan beban? Maukah engkau menolong dia? Atau engkau bilang, “Karma, karma… syukur, rasain, Tuhan balas dia dengan adil!” Firman Tuhan berkata, kalau engkau melihat musuhmu dalam keadaan seperti itu tolong dan bantulah dia. Siapakah musuhmu? Dia adalah orang yang tidak pernah bertindak melakukan apapun yang baik kepadamu, sebaliknya dia menjadi duri dalam daging, dia orang yang selalu mencari-cari kesalahanmu, dia orang yang menghancurkan dan menggencet engkau berjuang dan berusaha. Bagaimana sekarang engkau memperlakukan musuh yang seperti itu? Ayat ini adalah ayat yang indah luar biasa. Orang yang selalu menuntut benar dan adil bisa jadi terlalu kaku di dalam hidupnya sehingga tidak memiliki hati yang generous. Betul, Tuhan memanggil kita hidup benar dan adil, semua perkataan yang keluar dari mulut harus benar dan adil. Tetapi pada saat yang sama pada waktu kita dituduh dengan tidak benar, waktu kita difitnah dengan tidak adil, Tuhan memanggil kita hidup di dalam anugerah dan kemurahan. Itulah panggilan hidup anak-anak Tuhan. Yesus mengatakan, “Janganlah engkau melawan orang yang berbuat jahat kepadamu melainkan siapa yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu… kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu…” (Matius 5:39, 44). Kita tidak hanya dipanggil untuk hidup adil dan benar, namun kita juga dipanggil untuk hidup murah hati dan beranugerah. Ini adalah level panggilan yang membedakan kita dengan orang-orang tidak percaya, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga… (Matius 5:45-48).

“… janganlah engkau enggan menolongnya, … haruslah engkau rela menolong dia…” (ayat 5), ayat ini berbicara soal respons emosional. Alkitab tidak bicara soal apa yang engkau kerjakan, tetapi Alkitab langsung bicara mengenai dua sikap hati yang menjadi aspek emosional yang kita tahu itulah kesulitan yang menghalangi hati yang berat luar biasa. Menolong adalah action, tindakan, aktifitas yang kelihatan. Bisa jadi engkau tolong dia tetapi di dalam hatimu tidak rela. Selain di satu sisi kita belajar untuk generous, dan kita tahu hidup kita itu perlu untuk menjadi orang yang tahu dengan sadar kadang-kadang orang yang menjadi musuhmu juga perlu pertolongan, mari kita tolong dia. Bersyukur kalau kita mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk menolong orang itu. Tidak gampang dan tidak mudah. Itu memerlukan kasih Allah yang besar.

Ayat ini indah karena di situ mengajarkan kita prinsip dan aturan yang bukan hanya hitam di atas putih, tetapi merefleksikan cinta kasih Allah. Kenapa kita harus terus berbuat baik kepada orang-orang seperti itu padahal orang itu sudah sangat merugikan kita? Sebab kita tahu Allah kita juga adalah Allah yang senantiasa bermurah hati. Engkau pikir engkau telah cukup berbuat baik kepada orang itu, pada waktu dia di dalam kesulitan keuangan sdr bantu, pada waktu anaknya sakit keras sdr menemani di rumah sakit, mendampingi dan mendoakan, jangan kira selama-lamanya dia akan ingat perbuatan baikmu dan jangan kecewa kalau semua kebaikan yang engkau lakukan sirna dilupakan dalam sekejap mata, dan jangan itu membuatmu enggan dan tidak rela membantu orang lagi. Mari kita belajar memiliki hati yang bermurah hati.

Dan tidak berhenti sampai di situ, Keluaran 23:10-13, kemurahan hati itu harus melampaui batas soal teman atau musuh, tetapi murah hati berlaku kepada siapa saja. Enam tahun engkau menggarap tanahmu dan menikmati hasilnya, tetapi pada tahun yang ketujuh tanah itu terbuka bagi siapa saja, hasil dari tanah itu biar bisa dinikmati oleh orang yang miskin. Bukan saja demikian, luar biasa menarik firman Tuhan mengatakan biar tanahmu itu bisa menjadi berkat bagi binatang hutan. Orang Kristen bukan saja dipanggil untuk bermurah hati kepada orang, tetapi kita belajar untuk memahami tidak selama-lamanya yang ada di dalam hidup kita harus kita genggam erat-erat dan eksploitasi terus-menerus bagi kepentingan dan keuntungan diri sendiri. Karena konsep memahami berkat itu banyak selama enam tahun masakan satu tahun kita tidak rela untuk memberi? Enam tahun lamanya Tuhan sudah memberkatimu dengan limpah, masakan satu tahun saja kita tidak memberi? Kemurahan hati yang di-extend kepada budak-budak dan binatang yang bekerja di ladang dan kebunmu bisa melepaskan lelah mereka dengan tidak perlu bekerja di hari yang ke tujuh.

Chick-fil-A restoran fastfood chain di Amerika milik seorang Kristen, yang mengambil keputusan hari Minggu tidak membuka bisnis. Hari Minggu tidak buka toko berarti dalam satu tahun dia kehilangan 20% omset. Tetapi dia tutup toko hari itu biar semua karyawannya bisa pergi berbakti kepada Tuhan, boleh melayani Tuhan, boleh memperhatikan orang susah dan miskin, boleh memberikan bakat dan talentanya bagi pelayanan. Orang-orang seperti ini boleh menjadi orang yang memberi contoh teladan yang indah bagi kita semua.

Biar setiap perkataan, tingkah laku dan perbuatan kita senantiasa menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Biar Tuhan memberikan kita hati yang luas, lapang dan murah hati sebab kadang-kadang kita menghadapi setiap ketidak-benaran dan setiap tekanan di dalam hidup kita. Mungkin kita tergoda mendapat tawaran suap untuk membuat hidup kita lebih enak, tetapi dengan mengorbankan kebenaran. Mungkin kita hidup mengalami kepahitan karena kita senantiasa menjadi korban di dalam ketidak-benaran, tetapi kita mempunyai Allah yang kepadaNya kita bertanggung jawab dan kepadaNya kita berharap. Kita bersyukur karena satu kali kelak kita akan bertemu dengan Tuhan dan di situ yang muncul hanyalah apa yang benar. Sehingga pada waktu kita mengeluarkan ketidak-benaran, kita akan menjadi orang yang malu di hadapan Tuhan dan menerima setiap teguran yang keras dari Tuhan. Biar kita selalu diingatkan kita adalah manusia yang hina dan berdosa adanya, biar kita selalu menyadari betapa seriusnya dosa kita di hadapan Tuhan. Biar di dalam hidup kita menjadi anak-anak Tuhan yang mengasihi Tuhan, mencintai Tuhan dan hidup sepadan dengan setiap anugerah Tuhan.(kz)