18. The Wartime Lifestyle

22/7/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (18)

Nats: 2 Timotius 4:6-8

 

Di dalam usia yang masih muda mana pernah kita berpikir hal-hal yang berkaitan dengan kematian? Wajar hal itu mungkin hanya dipikirkan oleh orang yang sudah berumur di atas 60 tahun, atau 80 tahun. Tetapi fakta realita tidak bisa kita pungkiri terlalu banyak hal yang tak terduga bisa terjadi di dalam hidup ini. Kematian bisa datang kapan saja, kepada siapa saja. Sekuat-kuatnya kita bersiap-siap menghadapi sesuatu yang tak terduga, ketika hal itu terjadi di depan kita, kita harus akui kita juga tidak siap adanya. Tetapi saya percaya setidak-tidaknya orang yang mengerti, orang yang tahu, orang yang prepare, waktu kita tidak siap, kita memiliki jawaban di dalam hal seperti itu, walaupun jawaban itu tidak memuaskan dan tidak mempersiapkan hidup kita, setidaknya itu boleh memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi situasi yang terburuk sekalipun.

Ada seorang menulis, di dalam penjara ada dua orang sedang menanti eksekusi hukuman mati. Yang seorang melihat lumpur di bawah, yang seorang melihat bintang di atas. Lihat ke bawah atau lihat ke atas mungkin tidak memberikan efek apa-apa kepada realita eksekusi yang akan mereka jalani minggu depan. Tetapi setidak-tidaknya cara memandang dan cara melihat itu memberikan pengaruh yang besar bagaimana mereka melewati proses yang ada di depan.

Dalam bagian 2 Timotius 4:6 Paulus mengatakan “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat…” Bandingkan perbedaannya dengan Filipi 1:20-24 yang walaupun sama-sama ditulis di dalam penjara, tetapi di Filipi dia mempunyai pengharapan dia masih bisa keluar dari penjara ini dan dia yakin Tuhan pimpin dan pelihara dia dan memberi waktu untuk dia melayani. Namun di dalam 2 Timotius 4:6 optimisme itu tidak ada lagi. Dia menyatakan satu kenyataan, saat kematianku sudah dekat adanya.

Kalimat apa yang keluar dari mulut kita waktu kita diperhadapkan dengan situasi seperti ini, saat kematian datang ke dalam hidup kita? Kalimat yang keluar dari mulut Paulus adalah kalimat dari seorang yang mengerti dan mengetahui apa yang paling indah dan paling berharga yang ada di dalam hidupnya. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman…” Situasi Paulus di dalam penjara itu sangat menyedihkan. Paulus mengatakan kepada Timotius, “Jika engkau ke mari, bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan bawalah juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu…” (4:13). “Berusahalah ke mari sebelum musim dingin…” (4:21). Paulus berada tersendiri di dalam penjara, hanya Lukas yang mendampinginya. Dia minta Timotius membawa Alkitab dan buku-bukunya karena itulah kekuatan dan sumber penghiburan yang sejati. Tetapi dia juga manusia biasa, yang pada hari itu penuh dengan kesulitan dan setengah mati. Paulus bilang, tolong bawa jubahku, berarti dia kedinginan di dalam penjara. Disiksa, dipukuli, ditelanjangi, itu situasi Paulus. Tetapi di tengah-tengah situasi seperti itu dia tetap mengeluarkan kalimat-kalimat yang begitu agung.

Tiga kalimat terakhir ini muncul dan keluar dari mulut Paulus, pada titik itu dia mengatakan, “I have fought the good fight; I have finished the assignment given to me by the Lord; I have kept the faith.”

Voltaire, seorang ateis selama jaya dan hebat, dengan sombong mengatakan ‘nanti waktu saya mati, Alkitab sudah punah dari muka bumi ini.’ Pada waktu dia sekarat dan hampir mati, seorang hamba Tuhan mengunjunginya dan meminta dia bertobat dan meninggalkan Setan. Voltaire sambil bercanda mengatakan, “Saya tidak mau bikin banyak musuh dalam sisa hidup saya…” Maksudnya dia tidak mau bermusuhan dengan Setan. Tetapi di dalam keadaan sekarat, dia menderita setengah mati tetapi tidak mati-mati. Dan di dalam penderitaan itu dia melolong dan berteriak-teriak. Teman-teman baiknya tidak berani datang mengunjungi dan berada di dekatnya karena begitu mengerikan penderitaan Voltaire. Kalimat yang terakhir keluar dari mulut Voltaire adalah, “Saya ditinggal Allah dan manusia, saya akan mati dan pergi ke neraka!” Setelah dia meninggal, suster yang merawatnya mengatakan biarpun dibayar dengan seluruh kekayaan Eropa dia tidak mau terima pekerjaan merawat orang Ateis yang sekarat karena dia tidak tahan melihat penderitaan, ketakutan, lolongan dan kesedihan dari seseorang yang melawan Tuhan waktu dia meninggal dunia.

Charles Darwin, penemu Teori Evolusi, di ujung akhir hidupnya mengeluarkan kalimat ini, “Aku menyesal mengusulkan sebuah teori yang semua orang termakan dan terima itu sebagai fakta. Sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud seperti itu.”

Stalin, yang membunuh begitu banyak orang di Rusia, diceritakan oleh puterinya Svetlana kepada Malcolm Muggeridge, ayahnya waktu dalam keadaan sekarat tiba-tiba duduk mengerang dan berteriak-teriak meninju ke dinding seolah-olah melihat sesuatu, sesudah itu dia mati. Svetlana mengatakan, “My father passed away very difficult.”

What kind of word keluar dari mulut seorang anak Tuhan yang dying?

John Knox dalam keadaan sakit dan sudah tidak bisa berbicara, seorang sahabatnya mengunjunginya dan mengatakan, “What hope do you have now?” Dalam keadaan sakit dan separuh sadar, mendengar pertanyaan itu dia membuka mata sambil tersenyum tangannya menunjuk ke atas, lalu menutup matanya dan meninggal. Temannya mengatakan, “John Knox passed away peacefully.”

Charles Spurgeon dalam keadaan sakit dan sekarat di pembaringannya dikelilingi oleh keluarga dan teman-temannya mengatakan, “Kenapa suara ribut sekali, kenapa begitu banyak kereta kuda datang menjemput saya? Ini adalah hari kemuliaan yang tiba kepadaku…” lalu dia meninggal dunia.

Sir Michael Faraday, seorang scientist Kristen mengatakan, “I rest upon Christ died, rose again from the dead…”

Banyak anak-anak Tuhan meninggal mungkin tidak sempat mengeluarkan kata-kata di akhir hidupnya, tetapi mari kita melihat aspek yang penting, ada nilai yang berarti dan hal yang berharga dan hal yang membedakan dan konsep yang penting kita lihat dan tahu betapa berharga kematian semua orang yang dikasihi Tuhan (Mazmur 116:15).

Saya percaya walaupun kematian tidak gampang dan tidak mudah untuk diterima, kita bisa melihat orang mendapatkan sesuatu yang berarti dan bernilai darinya untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Waktu John Piper didiagnosa menderita kanker, dia pulang dan berdoa kepada Tuhan, “Thank you Lord, for this gift. I don’t want to waste it…” Dia melihat kankernya sebagai satu pemberian Tuhan yang berharga dan tidak mau dia sia-siakan begitu saja. Maka dia tulis satu buklet kecil “Don’t waste your cancer.”

C.S. Lewis menulis buku “The Problem of Pain” setelah mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan dalam hidupnya kehilangan isteri yang paling dicintai. Dan buku ini menjadi berkat yang sangat besar bagi orang di dalam grieving.

Waktu orang yang kita cintai meninggal dunia, wajar itu akan mendatangkan dukacita dan grief yang dalam di hati kita. Semakin kita cinta kepada sesuatu dan yang kita cinta itu terhilang, semakin dalam sakit dan lukanya. Kita tidak bisa mengabaikan dan menganggap sepele akan hal itu. Pada waktu kita menghadapi proses dying yang sama, bagaimana kita mendekatinya, bagaimana kita meng-approach-nya? Jangan biarkan itu menjadi tragedi; jangan biarkan itu menjadi hal yang sia-sia dan berapa susah dan sulit kita menghadapinya, biar ayat-ayat firman Tuhan ini memberi kita tuntunan bagaimana sikap orang seharusnya menghadapi dan mendekati proses kematian itu.

Ada dua hal muncul di ayat 6, pertama, Paulus mengatakan “darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan…” Ini adalah ayat yang mengacu kepada persembahan anggur yang harum yang dicurahkan di atas mezbah bagi Tuhan (Imamat 23:13). Paulus bilang hidupku seperti anggur yang dicurahkan di atas mezbah Tuhan. Gambaran ini memberitahukan kepada kita kematian sebagai orang Kristen harus dimengerti sebagai kematian yang berbeda dengan kematian yang lain. Kematian orang Kristen tidak boleh dilihat sebagai satu nasib yang tidak baik dan tidak bisa kita terima. Kematian orang percaya tidak boleh dilihat sebagai satu tragedi waste of life; tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang tidak berarti dan tidak berguna. Mari pada waktu kita melihat hidup ini dan menuju ke arah proses dying, kita mengambil sikap seperti Paulus ini, kematianku berbeda, kematianku adalah satu sacrifice yang aku bawa kepada Tuhan sebagai persembahan yang harum di mezbah Tuhan. Dengan demikian kita tidak melihat bagaimana cara, dimana dan kapan satu kematian itu datang di dalam hidup kita. Satu kematian yang bisa menimpa mama, papa, anak, suami, isteri, di dalam tragedi kecelakaan, atau di atas ranjang dengan peaceful, dimana saja peristiwa itu terjadi, orang Kristen harus melihat dimensi seperti ini. Sekalipun begitu sulit kita menerimanya, sekalipun kita tidak sanggup dan tidak bisa menghadapinya, biar kita berkata seperti Paulus, ketika kematian mendekat, itu adalah satu korban harum di hadapan Tuhan, satu sacrifice kita bagiNya. Itu sebab tidak heran Paulus bisa berkata, biar oleh hidupku maupun oleh matiku Kristus dimuliakan (Filipi 1:20).

Kedua, terjemahan Indonesia menulis “saat kematianku sudah dekat…” dalam bahasa Inggris  dikatakan “the time of my departure has come.” Memakai kata ‘saat kematian tiba’ seolah berarti ini suatu titik akhir, tetapi kalau departure berarti ini adalah satu titik permulaan. Suka tidak suka, rela tidak rela, siap tidak siap, semua orang di dunia ini harus menghadapinya. Tetapi ini adalah Biblical understanding yang harus ditanam dalam-dalam di benak kita. Ini adalah ‘my departure,’ saya pergi, pergi ke mana? Pergi kepada Tuhan yang jauh lebih mengasihi kita daripada suami atau isteri kita. Kita pergi kepada Gembala kita yang agung, yang jauh lebih indah memelihara hidup kita dibandingkan dengan sekuat apapun ayah ibu bisa merawat kita. Dia tidak diambil dari kita, dia tidak dicabut dari kita, dia bukan dipaksa dan direbut dari hidup kita seolah Tuhan itu seperti Joy-killer yang tidak senang ketika kita mencintai sesuatu. Tidak demikian adanya. Kematian adalah kita berangkat, kita pergi ke tujuan yang indah ke hadirat Tuhan yang mengasihi kita. Bagian ini mengajak kita melihat dimensi seperti ini. Ketika kita mengalami dukacita, ketika grief terjadi, ketika ada yang terhilang di dalam hidup kita, selalu ada cercah pengharapan dan sukacita di dalam air mata yang mengalir sebab kita tahu orang yang kita kasihi pergi kepada Tuhan yang jauh lebih sempurna kasihNya.

Tetapi kalau hal itu akan tiba, biar kita tidak menanti dengan pasif. Kalau itu terjadi pada masa sekarang dalam hidup kita, kita tidak boleh menjadi pasrah. Perkataan Paulus di ayat 7 ini menggetarkan hati setiap kita, biar ini mengingatkan kita kalimat apa yang akan keluar dari mulut kita pada waktu kita berada pada titik itu. Firman Tuhan melalui ayat ini menyatakan satu keindahan yang luar biasa: I fought a good fight. Kalimat ini mengingatkan kita selalu, hidup orang Kristen adalah suatu peperangan; hidup orang Kristen adalah suatu perjuangan; kita tidak boleh pasif di situ melainkan kita menghadapinya dengan satu perjuangan adanya.

Yang pertama, Tuhan panggil kita untuk terus-menerus berperang melawan dosa dan kuasa kegelapan yang selalu mau menarik kita keluar dari jalan Tuhan. Efesus 6:12-18 menjadi ayat yang harus kita ingat baik-baik, peperangan rohani adalah peperangan yang kita jalankan seumur hidup kita. Maka kalimat Paulus “I fought a good fight” ini harus kita mengerti berarti kita berjuang untuk bertumbuh dalam Tuhan; kita berjuang untuk tidak membiarkan dunia ini dengan segala tipu muslihatnya menyeret kita menjauh dari Tuhan. Peperangan kita bersifat offensive tetapi tidak dalam pengertian fisik. Kita tidak pernah memaksa orang dengan cara kekerasan supaya mereka bertobat. Kita tidak berperang jihad dalam pengertian itu, tetapi biar melalui kesaksian hidup kita orang boleh kembali kepada Kristus. Di tengah peperangan menghadapi tipuan si Jahat, ingat pencobaan itu datang dan pencobaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi dia akan menjadi dosa di dalam hidup kita ketika kita jatuh di dalamnya. Kristus pun dicobai, dan pada waktu Dia dicobai senjata yang Dia pakai tidak lain dan tidak bukan adalah firman Tuhan sendiri. Pada waktu Paulus mengatakan I fought a good fight, inilah peperangan dan perjuangan hidupku, mengingatkan kita untuk hidup alert dan waspada terhadap tipu daya dosa dan si Jahat yang bisa mengalahkan hidup kita.

Ralph Winter seorang profesor yang kemudian menjadi seorang misionari mengatakan satu istilah yang penting sekali: Tuhan tidak panggil kita untuk menjalankan satu hidup ‘simple lifestyle.’ Sebaliknya kita harus memiliki mentalitas ‘wartime lifestyle.’ Banyak orang Kristen berpikir kita dipanggil untuk menjalankan simple lifestyle, maksudnya hidup tidak kompleks, hidup yang sederhana dan tidak macam-macam. Pakai baju sederhana, makan sederhana, tidak perlu apa-apa. Kita tidak dipanggil untuk menjalani hidup seperti itu.

Dalam 2 Korintus 12:15 Paulus memperlihatkan satu dimensi bahwa kita bukan orang yang tidak perlu possesion dan harta benda dalam hidup ini. Di sini Paulus mengatakan dia rela memberikan harta miliknya, itu berarti Paulus punya uang, Paulus punya uang, Paulus punya harta, tetapi dia pakai itu untuk pelayanan.

Ralph Winter mengatakanorang Kristen harus punya mentalitas hidup wartime lifestyle, artinya orang yang selalu tahu dia perlu amunisi, dia perlu banyak hal supaya tidak kalah perang. Jangan pikir orang pergi perang cuma perlu pistol dan pelor saja. Perang memiliki jaringan komando yang begitu kompleks. Siapa yang maju dulu sebelum perang? Pasukan komando maju dulu untuk survey, yang lihat dan buat peta. Setelah itu yang bikin jalan dan bangun jembatan maju supaya artileri bisa jalan. Setelah itu bagian logistik yang buka dapur umum bikin nasi bungkus. Jangan pikir perang tidak perlu itu semua. Jangan pikir orang perang, pasukan SEAL datang lalu tembak-tembakan, selesai.

Maka sekarang kita mengerti bahwa orang Kristen harus punya mentalitas wartime lifestyle. Maksudnya adalah semua possesions, semua uang dan harta, semua kita pakai dan gali demi untuk mencapai dan mengerjakan sesuatu bagi kerajaan Allah. Kenapa disebut wartime lifestyle? Karena dalam wartime kita tidak lagi berpikir untuk stay tinggal nyaman. Wartime berarti kita terus jalan, kita harus cepat bergerak aktif, tetapi pada saat yang sama tidak berarti kita tidak perlu apa-apa; kita perlu amunisi, kita perlu bekal, kita perlu hitung berapa lama perang ini berlangsung, berapa banyak amunisi yang perlu kita siapkan, berapa banyak makanan yang harus kita bawa, dsb. Dengan kata lain, seperti yang Paulus katakan ini, satu pelayanan misi, satu pelayanan gerejawi, satu pelayanan apapun membutuhkan orang yang berkomitmen, membutuhkan finansial dan biaya, membutuhkan sarana-sarana lain yang membuat pelayanan itu indah dan baik. Itu sebab kalau Tuhan memberi lebih banyak kepada kita, mari kita selalu berpikir apa yang bisa saya pakai untuk pekerjaan Tuhan, apa yang bisa saya sacrifice di situ, apa yang bisa saya lakukan di situ untuk berbagian di dalamnya demi untuk Kerajaan Allah berkembang di dalam dunia ini? Saya percaya itu panggilan kita semua, hidup di dalam dunia ini ‘to fight a good fight.’

Yang kedua, Paulus mengatakan ‘I finish my assignment given to me by the Lord.’ Dalam Ibrani 12:1 penulis Ibrani mengatakan mari kita berlari dengan satu sikap persevere, dengan tekun menjalankan setiap pertandingan yang sudah disiapkan secara spesifik bagi tiap-tiap kita. Tidak salah kita mengerjakan sesuatu dan kita mau yang kita kerjakan itu perfect. Tetapi jangan sampai kita berpikir kita tidak bisa mengerjakan sesuatu yang perfect akhirnya kita tidak mau mengerjakan apa-apa. Tuhan meminta kita mengerjakan sesuatu dengan tekun sampai selesai. Itu jauh lebih penting daripada memikirkan hasil yang perfect. Itu sebab kalimat dari rasul Paulus ini penting untuk setiap kita, have you finish your assignment God gave to you? Masing-masing kita biar bertanya dan bergumul bersama Tuhan, apa panggilan, tugas dan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepadamu? Apa panggilanmu sebagai seorang Kristen, sebagai keluarga Kristen, sebagai bisnisman Kristen, sebagai profesional Kristen, sebagai orang yang melayani di dalam gereja, apapun yang kita kerjakan, mari kita kerjakan itu semua sebagai assignments yang kita kerjakan dengan indah, dengan tekun, selesai semua yang Tuhan percayakan di dalam hidupmu, supaya satu kali kelak pada waktu kita bertemu Tuhan, kita bilang “Lord, I have finished my assignment You gave me…”

Yang terakhir, Paulus bilang walaupun aku sendiri mengalami kesulitan, penderitaan dan air mata, karena iman percaya kepada Tuhan, aku telah memelihara imanku sampai akhir. Kiranya kalimat-kalimat ini menggugah hati setiap kita pada waktu kita berada di garis terakhir, di saat-saat seperti itu kita mengoreksi seluruh hidup kita, adakah kita bilang kepada Tuhan selama saya hidup di dalam dunia ini saya sudah melakukan dan mengerjakan hal yang paling penting dan paling bernilai dan paling berharga bagi Tuhan lebih daripada segala-galanya. Kalau kita menghadapi segala kesulitan dan tantangan biar kita tidak melihat itu sebagai sesuatu yang sia-sia di dalam hidup kita melainkan itu boleh menjadi korban yang indah di hadapan Tuhan. Satu kali kelak pada waktu kita bertemu Tuhan kita boleh dimahkotai oleh mahkota kebenaran karena kita menyelesaikan panggilan hidup kita dengan indah di hadapan Tuhan.(kz)