03. The Spirit of Courage and Our Disadvantage

4/3/2012

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Eksposisi Surat 2 Timotius (3)

Nats: 2 Timotius 1:3-12; 1 Timotius 3:17; Kisah Rasul 16:1

 

2 Timotius 3:17 merupakan kalimat yang penting sekali, merupakan core atau inti bagi kita untuk melihat surat 1 dan 2 Timotius. “That’s how every man of God equipped, shaped to do every good works for God.” Demikianlah masing-masing, tiap-tiap manusia Allah, manusia yang bukan saja kepunyaan Allah, tetapi yang juga mendedikasikan hidupnya bagi Allah, manusia yang hidup semata-mata Allah menjadi prioritasnya; Tuhan akan bentuk dia, Tuhan akan pertajam hidupnya, Tuhan akan melengkapi dia supaya dia boleh mengerjakan setiap pekerjaan yang baik, pekerjaan yang agung, pekerjaan yang mulia, pekerjaan yang tidak mungkin hilang sepanjang sejarah. Tidak peduli besar atau kecil pekerjaan itu; tetapi setiap pekerjaan yang dilakukan bagi Tuhan tidak akan pernah hilang di dalam ingatan Tuhan kita.

Apa yang menjadi ingredient, apa yang menjadi bahan mentah yang penting dan perlu bagi pembentukan seorang manusia Allah itu? Paulus bicara bukan soal kita mampu, bukan soal kita berintelektual dan berpendidikan tinggi; bukan tunggu kita kaya baru kita bisa dipakaiĀ  oleh Tuhan. Paulus mengatakan dua hal yang paling penting dan paling hakiki: aku datang kepada Tuhan mempersembahkan hati nurani yang bersih. Tidak perlu yang lain. Hati nurani yang bersih. Itu bedanya, dengan Ananias dan Safira yang datang memberi persembahan kepada Tuhan dalam Kisah Rasul 5. Mereka datang memberi semua yang ada dari harta milik mereka, tanah yang mereka jual dan uangnya dibawa ke Gereja untuk dipertontonkan kepada semua orang, bahwa mereka memberi begitu banyak uang daripada yang lain. Tetapi sayang, pemberian itu disertai hati yang tidak bersih adanya. Maka Petrus bilang, “Buat apa kamu datang memberikan uangmu yang begitu banyak, kalau pun engkau simpan untuk dirimu sendiri, itu tidak salah. Tetapi engkau datang dan engkau bilang engkau berkorban begitu banyak dan memberi semua ini kepada Tuhan, padahal engkau menyembunyikan sebagian untuk dirimu sendiri. Hatimu tidak bersih adanya. Tidak ada gunanya…” Maka waktu Paulus mengatakan di ayat 3 “Aku melayani Tuhan dengan hati nurani yang murni, ini menjadi ingredient penting yang pertama.

Ingredient penting yang kedua adalah bicara bagaimana pentingnya edukasi, bagaimana pentingnya tradisi. Ada bahan mentah yang baik, tetapi itu tidak akan jadi begitu saja. Maka betapa indahnya kalau kita menyaksikan iman yang sehat bertumbuh di dalam diri Timotius dan dia bertumbuh dari pendidikan seorang ibu yang bernama Eunike dan dari seorang nenek bernama Lois. Mari kita melihat sedikit dari latar belakang Timotius ini. Dalam KisahRasul 16:1 dikatakan Timotius mempunyai ayah seorang Yunani dan ibunya seorang Yahudi. Tidak jelas dikatakan berapa panjang usia ayahnya, dan apakah ayahnya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Sampai berapa lama ayah ini membesarkan Timotius, kita tidak tahu. Itu sebab kita tidak bisa spekulasi akan hal ini. Tetapi di dalam 2 Timotius 1:5 Paulus hanya menyebut nama neneknya Lois dan ibunya Eunike, tidak menyebut nama ayahnya dan tidak menyebut nama kakeknya. Apakah sampai Timotius besar, ini menjadi faktor yang malu bagi dia, sebagai seorang hamba Tuhan, ayahnya sendiri tidak pernah percaya Tuhan? Apakah dia dibesarkan oleh ibunya, saking karena ibunya cinta Tuhan, maka ayahnya menceraikan dia? Apakah sampai Timotius besar, dia tahu ayahnya seorang Yunani dan tidak punya kesempatan percaya Tuhan sebab waktu anak ini lahir, ayahnya sudah meninggal? Kita hanya bisa menduga-duga dan tidak pernah tahu kisah sebenarnya. Tetapi yang kita bisa tahu, faktor-faktor ini bisa menjadi suatu hal yang disadvantage bagi Timotius. Aku hanya seorang anak janda, nenek saya juga seorang janda. Ini bisa bikin dia malu, ini bisa bikin dia minder. Itulah sebabnya dua kali Paulus mengatakan kalimat ini, “Jangan malu… jangan malu…” Apapun yang menjadi masa lampau hidupmu, itu tidak boleh menjadi penghambat engkau maju dan berdiri di depan. Kita tidak bicara soal apa yang ada di belakang, tetapi kita bicara apa yang ada di depan, dan segala kemungkinan yang akan Tuhan kerjakan di dalam hidup kita.

Yang ketiga, yang unik sekali, Paulus bicara mengenai air mata. Ini merupakan ingredient ketiga yang penting dari hati seorang hamba Tuhan. Ada air mata yang keluar darinya, air mata yang keluar bukan karena menyesali dia lahir dari keluarga yang miskin; air mata yang keluar oleh karena dia memiliki banyak disadvantage yang membuat dia tidak bisa bersekolah di sekolah yang baik, tidak punya uang untuk mendapat baju yang baik seperti anak-anak yang lain; itu bukan hal-hal yang menyebabkan air matanya keluar begitu saja. Paulus melihat air mata itu mengalir dari mata Timotius karena pelayanannya bagi Tuhan, dan itu menjadi satu kesukacitaan bagi Paulus. Inilah harta yang paling bernilai dan paling berharga yang ia bawa kepada Tuhan.

Kemudian Paulus mengingatkan, jangan malu dan jangan minder sebab roh yang Tuhan beri kepada kita bukan roh yang membuat kita minder; bukan roh yang membuat kita takut; bukan roh yang membuat kita kecut. Sampai di sini, muncul pertanyaan, apakah kata “roh” yang Paulus sebut di sini mestinya disebut dengan huruf besar “Roh” mengacu kepada kehadiran Roh Kudus ataukah dengan huruf kecil “roh” yang berarti itu adalah roh kita, semangat kita, spirit kita? Maka di sini kita bicara mengenai the man of God is also the man of Spirit.

Setiap orang yang dilahir-barukan oleh Roh Kudus, yang percaya kepada Tuhan dan bertobat dari segala dosanya, Alkitab menyaksikan Roh Kudus itu tinggal dan diam selama-lamanya di dalam diri orang itu. Ini satu hal yang penting. Maka di dalam Reformed Theology kita mengatakan ketika Roh Kudus melahir-barukan seseorang, Ia tinggal di dalam diri orang itu, keselamatan orang itu tidak akan hilang adanya. Kekuatan iman kita itu bukan kepada subyektifitas iman tetapi kepada obyektifitas daripada iman kita. Kita beriman kepada Tuhan sama seperti kita sedang berada di atas kapal di tengah laut, yang sedang membuang jangkar jauh ke dasar laut. Di atas kapal itu, ombak yang besar bisa membuat kita berpikir mungkinkah kapalku masih kuat adanya? Di atas kapal itu, angin yang bertiup kuat menerpa kita begitu dahsyat sehingga kapal kita oleng, dan itu membuat hati kita kuatir kitab bisa tenggelam. Itulah yang menjadi subyektif iman kita, yang kadang bisa kuat, kadang bisa lemah; kadang iman kita bisa kecewa dan tersandung. Iman itu berfluktuasi, sebab kadang-kadang pengalaman hidup kita, situasi hidup kita, membuat kita bertanya-tanya, bagaimana Tuhan berkarya dan campur tangan di dalam hidupku? Tetapi iman kita yang subyektif itu tidak akan menjadi pengaruh dan penentu kepada iman kita yang obyektif, sebab iman itu memiliki jangkar yang dilabuhkan kepada Batu Karang yang kokoh dan teguh adanya. Kita beriman kepada Yesus Kristus, kita beriman kepada Dia yang sudah mati dan bangkit, yang kata Paulus Ia merupakan janji Allah sejak permulaan jaman, yang akan memelihara hidup kita sampai kepada hari Tuhan. Maka obyektif iman itu yang menjadi kekuatan bagi iman kita. Sehingga orang yang sudah lahir baru, Roh Kudus tinggal di dalam dirinya dan Roh itu tidak akan pernah keluar meninggalkan dia. Alkitab mengatakan bagi orang yang sudah percaya Tuhan, kita tidak bisa menghujat Roh Kudus, namun yang bisa terjadi adalah kita mendukakan Roh Kudus (Efesus 4:30). Iman itu sudah dimaterai hingga hari penyelamatan oleh Roh Kudus. Ia tinggal selama-lamanya di dalam diri kita. Tetapi kita mungkin bisa mendukakan hatiNya, kita mungkin bisa menolak pimpinanNya, kita bisa tidak menjadikan Dia memenuhi hidup kita. Itulah sebabnya Paulus mengatakan biar hidup kita penuh oleh Roh Kudus. Kita mungkin bisa memadamkan apiNya dan kuasaNya dalam kita. Maka Paulus mengingatkan Timotius, kipaslah, bakarlah, kobarkanlah api Roh yang ada di dalam dirimu, sebab Roh itu bukan roh pengecut. Kita bisa mendukakan Roh Kudus, ketika kita tidak taat kepada Dia.

Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Kalau Dia tinggal di dalam diri kita ketika kita percaya Tuhan, maka ini yang terjadi: Roh yang Tuhan beri itu adalah Roh yang memberikan karunia-karunia pelayanan kepada setiap kita. Roh itu adalah Roh yang mengkuduskan kita. Roh itu Roh yang mencelikkan kita sehingga kita lebih mengenal firman Tuhan. Itulah sebabnya setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus Kristus, yang dilahir-barukan oleh Roh Kudus, tidak ada satu pun di antara kita yang boleh mengatakan kita tidak punya karunia pelayanan apapun di hadapan Tuhan. Kalau kalimat seperti itu keluar dari mulut kita, kita itu menghina Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita, sebab Roh yang tinggal di dalam kita adalah Roh yang memberikan karunia-karunia pelayanan. Namun apa yang menyebabkan, apa yang menghambat, sehingga buah dari karunia pelayanan tidak muncul? Jawabannya hanya satu: sebab kita takut. Kita tidak berani, kita tidak stand tall berdiri menghadapi kemungkinan-kemungkinan pelayanan yang ada. Tidak gampang dan tidak mudah, karena pengalaman-pengalaman pelayanan yang kita alami kadang-kadang merupakan pelayanan yang menakutkan; pelayanan yang sangat impossible adanya. Pada waktu kita berada di dalam satu tempat pelayanan yang kita rasa terlalu besar, kadang-kadang kita sudah tawar hati terlebih dahulu dan meragukan, mungkinkah kita bisa mengerjakan hal ini? Tetapi sejarah selalu membuktikan, ada seorang misionari perempuan yang melayani di pedalaman Afrika berpuluh tahun lamanya, dan setelah dia meninggal, pelayanannya hanya bisa digantikan oleh empat orang misionari pria, itu yang kita sebut Roh yang Tuhan beri adalah Roh yang berani dan memampukan serta menyanggupkan seseorang yang rela dan mau. Kita masuk ke pedalaman, kita menemukan ada orang yang terus mengalami sakit berkepanjangan tetapi itu tidak menghentikan dia melayani Tuhan. Tuhan tetap menopang dengan kekuatan yang luar biasa. Kadang-kadang pengalaman pelayanan itu menakutkan. Tuntutan dan panggilan pelayanan itu terlalu besar bagi kita sehingga kita tidak berani melangkah. Kita takut. Ada mungkin sebagian orang yang mempunyai karunia pelayanan yang harus dijalani oleh dia berarti dia harus ganti profesi. Ada sebagian orang; karunia pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya berarti dia harus ganti situasi; ada sebagian orang tertentu karena karena karunia pelayanan yang Tuhan beri kepadanya ia harus mengalami perubahan di dalam pelayanan. Seorang bisnisman yang sukses mungkin meletakkan seluruh jabatan dan karirnya untuk menjadi seorang misionari di pedalaman Afrika. Seorang mahasiswa yang menjadi tulang punggung keluarga untuk membesarkan adik-adik dan mamanya yang janda, dipanggil Tuhan untuk menjadi hambaNya, itu merupakan hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi ada sebagian orang yang berani berdiri menyambut panggilan itu dan mengatakan, “Tuhan, Engkau yang panggil aku, aku percaya Engkau akan mencukupkan dan melengkapi hidupku melayaniMu.” Roh yang ada padamu adalah Roh yang memberikan kuasa, Roh yang memberikan kasih, Roh yang memberikan self-control, sebab Roh itu bukan Roh yang pengecut, Roh itu bukan Roh yang penakut, Roh itu bukan Roh yang melemahkan, bukan Roh yang menjadikan kita merasa tidak mampu. Ia bisa mengerjakan semua itu, yang penting adalah jangan malu, jangan takut, jangan minder di dalam hidupmu.

Timotius memiliki psychological disadvantage yang besar dan bisa menghalangi pelayanannya. Tetapi bukan itu saja, melainkan juga ada physical disadvantage pada diri Timotius. Dalam 1 Timotius 5:23, Paulus memberi nasehat kepada Timotius, “Janganlah minum air saja, tambahkanlah juga sedikit anggur berhubung pencernaanmu lemah dan engkau sering sakit.” Ayat ini tidak boleh menjadi satu excuse bagi sdr untuk mengatakan Alkitab menganjurkan kita untuk minum wine. Paulus bilang, minum sedikit saja. Kedua, ingatkan waktu itu air tidak sehigienis sekarang sehingga minum air yang tidak direbus baik-baik waktu itu justru bisa menjadi sumber penyakit. Itu sebab jaman itu minum anggur jauh lebih sehat karena anggur sudah mengalami fermentasi sehingga bakteri tidak bisa hidup di dalamnya. Ayat ini memperlihatkan Timotius secara fisik pun lemah, sering sakit-sakitan. Namun Tuhan bisa memakai orang yang tubuhnya lemah dan sakit, itu tidak menghalangi dia melayani Tuhan. Timotius tidak boleh mengasihani diri, Timotius tidak boleh melihat itu menjadi penghalang baginya. Paulus suruh dia jalan ke Efesus, Paulus suruh dia pergi melayani ke tempat yang jauh. Paulus tidak hanya memberi dia pelayanan yang mudah dan gampang karena badan Timotius soak dan lemah. Paulus sendiri pun tidak self-pity terhadap dirinya sendiri. Paulus sendiri pun tahu tubuh yang lemah dan sakit tidak akan menjadi penghalang bekerjanya Tuhan dengan luar biasa di dalam diri seseorang. Berapa sering kita hanya sakit sedikit, kita sudah mengeluh dan tidak mau mengerjakan apa-apa? Berapa sering kita sudah menjadikan physical disadvantage menjadi excuse kita sehingga menghalangi seluruh anugerah dan karunia Tuhan yang begitu banyak di dalam hidup kita?

“Aku tahu engkau sering sakit…” kata Paulus, tetapi jangan itu menghalangi engkau melayani. Kepada orang seperti ini tetap Paulus mengeluarkan kalimat yang sama: Roh Allah yang tinggal di dalam engkau adalah Roh yang memberikan kekuatan, Roh yang penuh dengan kasih, Roh yang membangkitkan keberanian. Yang perlu engkau lakukan adalah kipas dan kobarkan bara api Tuhan di dalam dirimu itu. Jikalau engkau tidak melakukannya, someday bara itu akan menjadi abu.

Maka bagi saya ini merupakan bagian yang penting sekali ketika Paulus bicara mengenai bagaimana Tuhan membentuk, bagaimana Tuhan mempersiapkan, bagaimana Tuhan menjadikan seseorang itu menjadi manusia Allah. Dengan satu contoh yang sangat kontras dibandingkan dengan kita, saya percaya engkau dan saya lebih sehat daripada Timotius. Saya percaya engkau dan saya jauh lebih kuat daripada dia secara fisik. Saya pun percaya dalam berbagai aspek engkau dan saya lebih mendapatkan advantage daripada Timotius. Datang dari keluarga yang stabil, dari keluarga yang tidak terlalu miskin, dan sejujurnya engkau dan saya memiliki terlalu banyak kelebihan dan advantage daripada dia. Maka hari ini biar firman Tuhan memanggil engkau menjadi manusia Allah yang diperlengkapi oleh Tuhan. Bakarlah, kobarkanlah, karunia-karunia yang ada dan Tuhan beri di dalam hidupmu. Tetapi firman Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Timotius, engkau dipanggil juga untuk dipanggil untuk melayani Tuhan dan menderita bagi Dia. Sekarang aku telah dipenjara oleh karena nama Tuhan, kata Paulus. Tidak usah malu karena aku. Tetapi siap-sedialah,kalau suatu hari engkau juga akan dipenjara seperti aku, menderita seperti aku, juga tidak usah malu. Realita pelayanan bukanlah satu medan yang empuk, bukan kondisi yang nyaman, bukan situasi pemandangan yang indah. Medan pelayanan yang ada di luar adalah medan yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan.

Betapa kita gampang tergoda untuk tidak membakar dan mengkobarkan karunia Allah yang ada pada diri kita. Betapa gampang kita mengeluarkan berbagai alasan dan excuses dalam hidup kita. Kita bilang tubuh kita sering sakit, atau kita malu, kita minder, kita tidka punya apa-apa. Dan seringkali mungkin kita juga tergoda untuk akhirnya tidak berani untuk mengobarkan kasih karunia Allah sebab juga di dalam Kekristenan ada segelintir pengkhotbah-pengkhotbah kesuksesan yang memakai penjara Paulus sebagai bahan cemoohan dan tertawaan mereka, membuktikan Roh Kudus tidak ada di dalam diri Paulus dan tidak bekerja di dalam diri Paulus. Sebab kalau Roh Kudus ada di dalam dirinya, tidak mungkin dia mengalami penderitaan dan penjara seperti ini (band. Filipi 1:15-17). Paulus dipenjara karena memberitakan Injil Yesus Kristus, yang lain memakai kesempatan itu untuk menjelek-jelekkan dia, memfitnah dia sebagai hamba Tuhan yang benar.

Kita mengkobarkan karunia Tuhan, kita tidak memilih menderita di dalam pelayanan. Ini penting sekali. Yang benar adalah seperti kata Paulus, aku melayani karena aku memilih untuk menjalankan kehendak Allah. Dan di dalam menjalankan kehendak Allah itu kalau termasuk di dalamnya aku menderita, aku sakit, itu tidak menjadi sesuatu halangan bagiku. Kenapa? Di tengah sakit dan menderita di dalam penjara, di dalam surat ini kita bisa melihat kesukacitaan Paulus begitu luar biasa. “Untuk itulah aku dipanggil sebagai pemberita, sebagai rasul, sebagai guru Injil, dan aku tidak akan malu akan hal itu…” satu pernyataan yang penuh antusias. Sebab apa? Sebab ia tahu ia boleh menerima Injil keselamatan tidak ada sedikitpun unsur kebaikan di dalam dirinya. Injil itu semata-mata sebab kasih karunia Allah diberikan kepadanya. Tidak ada unsur kebaikan dan jasa manusia di dalamnya. Yang ada hanyalah semata-mata kebaikan Kristus yang rela mau mati di atas kayu salib bagi kita. Itu point yang penting yang membawa setiap kita mengerti dengan tuntas mengenai Injil. Yang kedua, Injil yang kita kabarkan adalah Injil yang sudah mematahkan kuasa maut. Itulah sebabnya kita mendapatkan hidup dan kita mendapatkan hidup yang kekal, itu sudah cukup bagi kita.

Biar hati setiap kita berkobar-kobar untuk Tuhan, hati kita terbakar untuk Tuhan, supaya setiap kita boleh menjadi alat yang dibentuk, dilengkapi oleh Tuhan untuk setiap pekerjaan yang baik adanya. Karena itulah tujuan dari Tuhan membentuk kita, supaya setiap kita boleh menjadi manusia Allah, manusia yang mencerminkan sinar kemuliaan Allah makin hari makin besar di dalam hidup kita.(kz)